Welcome Guest [Log In] [Register]
Welcome to Inuyasha World Forum. We hope you enjoy your visit.


You're currently viewing our forum as a guest. This means you are limited to certain areas of the board and there are some features you can't use. If you join our community, you'll be able to access member-only sections, and use many member-only features such as customizing your profile, sending personal messages, and voting in polls. Registration is simple, fast, and completely free.


Join our community!


If you're already a member please log in to your account to access all of our features:

Username:   Password:
Add Reply
  • Pages:
  • 1
milikku~
Topic Started: May 30 2009, 01:23 PM (663 Views)
Mizuryuu Atha
Member Avatar

Global Moderator
BRAAKKK!!!

Cagalli memukul meja kerjanya sendiri dan menyandarkan punggungnya ke kursinya. Ia lelah mengurusi laporan-laporan yang tak kunjung selesai yang masih bertumpuk di depannya. Ia mengurut dahinya yang mulai terasa sakit gara-gara kurang tidur akhir-akhir ini.

Cagalli berjalan ke arah jendela dan memandang langit di luar. Bulan purnama dan kawan-kawan setianya bersinar di langit yang kelam. Tampak langit di sekeliling bulan tidak berwarna hitam, tapi agak biru.

Athrun...

Cagalli langsung teringat pada mantan bodyguard-nya itu. Entah sekarang ia ada di mana. Mungkin sekarang dia bahagia bersama Meyrin....

Tiba-tiba pintu di belakangnya terbuka.

“Cagalli...?”

Cagalli menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Ia melihat seorang pria berambut hijau yang mengenakan seragam militer Orb berpangkat Kolonel. Ia terus berjalan mendekati Cagalli.

“Ada perlu apa?” tanya Cagalli.

Orang itu hanya menggeleng, “... Tidak... Aku hanya ingin memastikan kau tidak bekerja terlalu keras seperti kemarin lusa.”

”Jadi, kau ingin aku melakukan apa?”

”Tidur sekarang.”

”Masih banyak laporan yang belum kuselesaikan dan aku harus menyelesaikannya sekarang,” Cagalli kembali ke meja kerjanya.

”Tapi kau harus istirahat.”

”Aku akan istirahat kalau semuanya sudah selesai.”

”Tapi Cagalli...”

”Chris...,” Cagalli meletakan jari telunjuknya di bibir Chris. ”Aku janji akan istirahat setelah semuanya selesai. Oke?”

”Janji?”

”Janji.”

Chris menepuk kepala Cagalli. ”Aku akan kembali lagi nanti. Dan aku harap kau sudah selesai, dan sudah naik ke tempat tidurmu.” Chris tersenyum pada Cagalli.

”Kuusahakan!” Cagalli balas tersenyum.

”Aku pergi dulu, ya?” Chris mengecup keningnya sebelum ia meninggalkan ruangan representatif Orb itu. Sementara Cagalli kembali mengerjakan tugasnya yang masih belum selesai.

Sekitar dua jam kemudian—sekitar pukul 1 lewat tengah malam—Cagalli hampir menyelesaikan tugasnya, ketika Chris kembali menemuinya.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Sedikit lagi,” jawab Cagalli tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas di tangannya.

“Masih cukup banyak menurutku.”

“Aku akan segera selesai kalau kau berhenti menggangguku.” Tampang kesal Cagalli keluar.

”Baiklah, terserah. Tapi aku ingin memberitahumu, kalau tadi aku sudah berbicara dengan Senator yang mengadakan rapat besok.”

”Heh...? Kau bilang apa padanya?”

”Aku minta supaya rapat besok diundur selama beberapa jam. Jadi kau punya sedikit waktu untuk istirahat. Nah, sekarang lepaskan kertas itu dan istirahatlah.”

”Tidak!” Cagalli menjauhkan kertas itu dari tangan Chris yang hendak mengambilnya. ”Aku akan selesaikan ini supaya aku tidak perlu memikirkan apapun lagi besok.” Cagalli kembali berkutat dengan tugasnya.

”Tapi... apa kau tidak lelah?”

”Aku tidak apa-apa, keluarlah.”

”Aku akan menunggumu di sini sampai kau selesai.”

”Apa?”

”Ada sesuatu yang bisa kubantu? Seperti memijat punggungmu, mungkin?”

”Tak usah...”

”Tak apa-apa, kau pasti lelah. Aku sendiri tidak keberatan.” Chris beranjak ke belakang Cagalli dan mulai memijat punggungnya.

”Nng... Chris...”

”Teruskan saja pekerjaanmu.”

Cagalli tidak menjawab dan hanya mengerjakan apa yang dimintanya dengan wajah agak panas karena Chris begitu dekat dengannya. Dan beberapa saat kemudian, Cagalli menyelesaikan tugasnya.

”Sekarang cepat tidur. Akan kubangunkan kalau nanti kau tidak bangun-bangun. ”

”Iya, iya, aku tidur sekarang!” Cagalli berjalan ke tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya. Chris mengikutinya dan duduk di sebelahnya. Ia menyelimuti Cagalli dan berkata, ”Kau tahu? Kau bekerja begitu keras setiap harinya.”

”Ng... Lalu...?”

”Itu tidak baik untuk kesehatanmu...”

”Aku tahu...”

”Lalu kenapa masih kau lakukan?”

”Karena aku tidak punya pilihan lain.”

”Kau tidak bisa tidur larut malam terus seperti ini. Malah kadang-kadang kau tidak tidur seharian penuh.”

”Aku melakukan semua ini untuk negaraku.”

”Kau butuh istirahat, jangan memaksakan dirimu terus...”

”Chris—”

”Aku akan minta kepada dewan pemerintah supaya bisa memberimu waktu luang sehari saja. Kau bisa memanfaatkan waktu itu...” Chris kemudian berhenti begitu melihat Cagalli sudah terlelap lebih dulu. Tak heran, ia memang bekerja keras hari ini. Bukan hanya hari ini saja, tapi setiap hari juga. Chris ingin melakukan sesuatu untuk tuan puterinya ini supaya ia tidak begitu lelah. Dibarutnya helaian rambut pirang puteri itu dengan penuh perasaan sayang. Ia menatap wajah tenang Cagalli yang tengah terlelap.

”Aku tidak akan membiarkanmu terus seperti ini...” Perlahan diciumnya kening Cagalli. Kemudian ia segera meninggalkan kamar itu.

“Cagalli…?”

“…Ng…?”

“Ayo bangun… Sudah siang…”

“…Masih terlalu pagi untuk bangun…,” protes Cagalli sambil kembali meringkuk di tempat tidur.

“Sudah pukul 9.”

Cagalli tak bergerak, dan sedetik kemudian ia berteriak,” JAM 9!!!!?????”

“Yup! Jadi sebaiknya kau cepat bersiap.”

“Chris, kalau aku sampai terlambat datang ke pertemuan jam 10 hari ini akan kubunuh kau!!!” Cagalli berlari ke kamar mandi, meninggalkan Chris yang masih duduk sambil tersenyum di sisi tempat tidur Cagalli dan sudah memakai seragam lengkap.

Cagalli segera mengumpulkan semua laporan yang dibutuhkan untuk rapat kali ini, kemudian segera keluar, bersamaan saat Chris mencegahnya pergi.

“Kau mau ke mana?”

“Pertanyaan bodoh apa, itu!?”

”Maksudku, kau tidak sarapan dulu?”

”Tidak ada waktu lagi!!” Cagalli melanjutkan langkahnya.

”Ingat apa yang kukatakan kemarin?”

Cagalli berhenti. ”Apa...?”

Chris menggelengkan kepalanya. ”Kau ini... Makanya jangan bekerja sampai sekeras itu... Kemarin aku sudah bilang kalau pertemuan hari ini diundur, kan?”

”... Benarkah itu...?”

”Tadi aku sudah bertanya lagi. Pertemuan hari ini bukan jam 10, tapi jam 11,” jawab Chris sambil tersenyum.

”Be... Begitu rupanya...”

”Jadi, sekarang kusarankan kau sarapan dulu... Meskipun mungkin sudah terlalu siang.” Chris mendekati Cagalli dan mengajaknya ke ruang makan. Di sana mereka berdua menikmati sup jagung untuk sarapan mereka.

“Kau masih ingat apa saja yang kukatakan kemarin malam?”

”.. Ummm... tidak... ” Cagalli menggelengkan kepalanya. Chris hanya tersenyum.

”Kalau bisa sebaiknya kau minta waktu bebas, meskipun hanya sehari saja. Kau tidak seharusnya bekerja seperti itu tiap hari. Aku ingin membawamu keluar sesekali. ”

”...Tapi... ”

”Usiamu baru 19...”

”20 dalam waktu lima bulan ke depan.” Cagalli mengingatkan.

”Baik, 20 dalam waktu 5 bulan. Dan usia itu terlalu muda untuk seorang representatif, Cagalli. Kau seharusnya menjalani kehidupanmu seperti gadis seumurmu pada umumnya.”

”Tapi aku...”

”Aku tahu kau peduli pada negara ini. Tapi aku tidak ingin kau jadi tidak peduli pada dirimu sendiri.”

”Chris...”

”Kalau begitu aku yang akan tanyakan.”

”Biar aku saja.”

”Baiklah.”

”Dan kalau aku punya hari bebas, maukah kau menemaniku?”

”Tentu. Aku akan ada di sisimu kapanpun kau membutuhkanku.”

”Terima kasih...” Cagalli tersenyum pada Chris.

“Nah, kalau kau sudah selesai, sebaiknya kita segera pergi.”

”Baiklah!” Cagalli segera menyelesaikan sarapannya. Mereka berdua segera pergi menuju ke gedung Parlemen Orb.

”Athrun... Sebuah kejutan kau datang kemari tanpa memberitahu kami,” ujar Kira melihat kedatangan sahabatnya ke rumah peristirahatannya itu yang tanpa berita terlebih dahulu.

”Ya... Aku merasa sepi di rumah, jadi aku kemari.”

”... Meyrin...?”

”Dia sedang bersama Lunamaria di PLANT. ”

”Bagaimana hubunganmu dengannya?”

”Biasa saja...” Matanya menatap jauh ke arah lain.

”Ara....” Lacus tiba-tiba muncul dan bergabung dengan mereka berdua. ”Athrun... Kau tidak bilang kau akan datang hari ini...?”

”Kejutan!” ujar Athrun tersenyum.

”Akan kubuatkan teh untuk kita. Tunggulah sebentar...” Lacus pergi ke arah dapur.

”Kalian tidak keberatan kalau aku menginap di sini selama beberapa hari?”

”Bicara apa kau Athrun? Tentu saja boleh! Kau bisa gunakan ruangan di sebelah sana,” Kira menunjukkan tempat yang dimaksudnya, yang terletak di samping ruang tamu.

”Thanks, Kira.” Athrun merebahkan dirinya di sofa, sementara Kira duduk di seberangnya.

”Maaf membuat kalian menunggu!” Lacus kembali dengan teh dan tiga cangkir di atas nampan. Ia meletakkannya di meja dan menuangkan tehnya.

”Bagaimana Athrun?” tanya Lacus mengenai tehnya.

”Rasanya pas.”

”Ya... Tapi waktu itu kau memasukkan garam ke dalam tehku....,” Kira mengingatkan Lacus sambil tersenyum.

”Maaf, aku tidak sengaja.” Lacus menempelkan telapak tangannya, meminta maaf pada Kira.

”Hee... Untung tidak terjadi saat ini padaku,” Athrun tersenyum lega.

”Sudah, jangan diingat lagi!” Wajah Lacus merah padam.

”Lihat, wajahmu memerah.” Kira memperhatikannya dan tersenyum.

”Kira...!”

”Dan kau kelihatan manis.”

”Berhenti, Kira! Aku malu!”

Athrun terus memperhatikan mereka berdua, kemudian terpusat pada Kira, seperti baru saja menyadari bahwa wajahnya sangat mirip dengan saudara kembarnya, sehingga membuat ingatan Athrun melayang pada Cagalli.

”Bagaimana rasanya bisa pulang lebih cepat dari biasa?” Chris bertanya pada Cagalli yang duduk di sebelah kursi pengemudi yang ditempatinya.

”Aku mersa bebas!” Cagalli berseru lapang. Chris tersenyum melihatnya.

”Kita akan menemui kakakmu, ya?”

”Adikku. Aku lebih tua darinya!” Cagalli mengoreksi.

”Oh, ya, tentu. Tapi bukan tak mungkin kalau dia itu lebih tua, kan? Kurasa dia lebih dewasa, dan lebih sering melindungimu.”

”Tidak benar! Aku yang lebih tua!”

”Baik, aku mengerti. Tapi...”

”Apa lagi...?”

”Tampaknya saudaramu itu tidak begitu menyukaiku.”

”Kira hanya terlalu mengkhawatirkanku saja. Dia pikir aku masih tidak bisa menjaga diri, makanya dia tidak suka aku bersama dengan orang yang dia tidak kenal baik.” Cagalli menahan rambutnya yang berkibar-kibar tertiup angin. ”Kalau dia sudah mengenalmu, pasti dia akan lebih ramah.”

”Tapi... Menurutku dia benar. Kau masih tidak bisa menjaga diri.”

”Bicara apa, kau!?” seru Cagalli.

”Bercanda, aku cuma bercanda!” Chris mengelak. ”Dia satu-satunya keluargamu?”

”Ya, saudara kandungku. Tapi aku punya banyak teman yang sudah kuanggap keluargaku sendiri. Kisaka Murrue-san, Mwu-san, Miriallia, Lacus...” dan Athrun, tambah Cagalli dalam hati.

”Siapa itu...?”

”Apa? ”

”Itu... yang sedang bersama anak-anak di pantai?” Chris menunjuk ke arah pantai. Terlihat anak-anak yang diurus Kira bersama dengan Lacus, Ibu angkatnya, dan pendeta Malchio., bermain dengan seseorang yang lebih dewasa dari mereka.

”Mungkin itu Kira. Aku akan menemuinya,” Cagalli memalingkan wjahnya ke arah Chris. Chris mengangguk dan menghentikan mobil yang membawanya bersama Cagalli berhenti di dekat situ.

Cagalli turun lebih dulu. Karena Kira selalu mengajak anak-anak bermain saat senja di pantai dan karena jalan itu cukup jauh dari pantai ia tidak melihat jelas orang itu dan hanya menyangka itu Kira.

Cagalli berlari menuruni tangga menuju ke pantai. Dan begitu ia tiba di bawah, ia dapat melihat dengan jelas bahwa itu bukan Kira. Tapi orang lain berambut biru sepanjang bahu yang sekarang menjadi violet karena tertimpa cahaya matahari senja, yang sangat dikenalnya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan orang itu. Tapi Cagalli masih dapat mengingat wajahnya dengan jelas.

”Ah, Cagalli-neechan...!!” seru salah seorang anak yang sedang bermain meninggalkan kelompoknya begitu melihat Cagalli. Mendengar ada yang menyebut nama itu, semua anak mengalihkan perhatian mereka dari Athrun dan berlari ke arah Cagalli.

”Kenapa kau baru sekarang kemari!?”

”Kami semua merindukanmu!”

”Kira selalu bilang kalau kau terlalu sibuk setiap kami menanyakanmu!”

”Ayo main dengan kami dan Athrun!”

”Ayo main! Ayo main!!” semua anak berseru riang. Cagalli tidak sempat menjawab pertanyaan mereka. Dan kemudian Athrun mendekati mereka.

”Cagalli baru saja tiba, jangan menyerangnya dengan pertanyaan dan permintaan kalian seperti tadi,” Athrun menjelaskan kepada mereka dengan sabar.

”Tapi kami sudah lama tidak main bersama.”

”Aku yakin kalian tahu kalau Cagalli sangat sibuk. Jadi sebaiknya kalian biarkan dia beristirahat sebentar. Aku ingin bicara dengannya.” Cagalli mendengar semua itu, dan membuatnya memandang ke arah Athrun. Athrun tersenyum pada protes anak-anak itu, dan mengalihkan pandangannya pada Cagalli. Akan tetapi ia melihat seseorang yang tidak dia kenal, berdiri di samping Cagalli.

”Apa kalian masih ingat aku?” Chris memanggil semua anak-anak yang sedang memberengut itu.

”Chris-niichan!!” mereka semua kembali bersemangat.

”Bagaimana kalau kita bermain seperti saat terakhir kali kita bertemu?”

”Yeah!! Ayo main!!!” mereka semua bersorak.

”Kurasa kau ingin berbicara dengan temanmu ini. Biar aku yang mengurus mereka.” Chris berkata pada Cagalli.

”Chris-niichan! Chris-niichan!”

”Aku datang!!”

Cagalli memperhatikan Chris yang sibuk dengan anak-anak, tak menyadari Athrun mendekatinya.

”Lama tak bertemu... Cagalli...”

”Hmmm.... Sudah berapa lama, ya...?”

”Sekitar dua tahun... Aku rasa kau sudah banyak berubah...”

”Sepertinya begitu...” Mereka berdua tersenyum, namun terasa ada sesuatu yang menghalangi mereka, membuat keduanya merasa jauh. Athrun terpikir untuk bertanya mengenai pria yang datang bersama Cagalli itu, tetapi Cagalli bertanya lebih dulu.

”Di mana Meyrin?”

”...Oh... Dia sedang berada di PLANT, bersama kakaknya...”

”Begitu...”

Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Keadaan mereka sekarang ini seakan membuat mereka merasa asing satu sama lain.

”Bagaimana keadaanmu?” Athrun tiba-tiba bertanya.

”Hah... Aku baik-baik saja.”

”Apa kau masih sering bekerja terlalu keras seperti dulu?”

”Ti... tidak, tentu saja!”

”Dulu kau selalu bekerja hingga larut malam. Setiap kali aku memperingatimu kau selalu bilang kalau kau tidak punya pilihan lain dan harus melakukan semua ini untuk Orb. Benar, kan?”

”Kau masih ingat rupanya?”

”Tak ada satupun yang tidak kuingat mengenai dirimu...”

”Athrun...?”

Mata Athrun yang berwarna hijau zamrud menatap lurus ke arah mata Cagalli yang berwarna keemasan.Seolah mencari sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Cagalli sendiri terpaku pada Athrun yang menatapnya dengan tajam.

”Cagalli, aku...”

”Cagalli!”

Cagalli mengalihkan pandangannya, begitu juga Athrun.

”Kurasa kita tidak bisa membiarkan mereka terus di sini. Hari semakin petang.” Chris menunjuk pada anak-anak yang kelelahan.

Athrun melihat ke arah rumah Kira. ”Sepertinya kita sudah mengambil tempat untuk bermain yang letaknya cukup jauh, ya?”

”Bagaimana kalau mereka ikut ke mobilmu saja?” tanya Cagalli pada Chris.

”Lalu kau?”

”Aku bisa berjalan dari sini. Kasihan mereka kalau harus berjalan dengan keadaan lelah seperti itu.Sebaiknya kau bawa saja. Aku tak apa-apa.”

Chris melihat ke arah Athrun sebentar. ”Kau yakin tak apa-apa?”

”Aku ingin kau selalu mempercayaiku.” Cagalli tersenyum ke arah Chris, sementara Athrun memandang Cagalli dengan heran.

”Baiklah. Ayo anak-anak. Kita kembali dengan mobilku. Kalian pasti lelah.” Chris mengajak anak-anak supaya mengikutinya. Mereka kembali bersemangat, meskipun tidak sebesar tadi.

”Ayo, kita juga ke sana.” Ajak Cagalli pada Athrun.

Selama beberapa saat mereka berjalan tanpa bicara. Tiba-tiba saja Athrun memecah keheningan di antara mereka berdua.

”Boleh aku bertanya?”

”Apa?”

”Orang itu... siapa?”

”Chris, dia orang yang sekarang menjadi bodyguard-ku.”

”Begitu...” Pantas saja, sepertinya dia mengenal Cagalli cukup dekat.

Atau mungkin terlalu dekat.

Biasanya seorang bodyguard akan memanggil Cagalli dengan nama resminya jika berada di tempat umum, pikir Athrun.

”Dia... menjagamu dengan baik?”

”Dia hampir seperti Kira. Dia selalu memperhatikan apa yang boleh kulakukan dan yang seharusnya tidak kulakukan.”

Athrun sedikit iri, bukan, cemburu... Pada Chris yang bisa terus bersama Cagalli dan memperhatikannya.

”Kenapa, Athrun?”

”Ah... Tidak... Tak apa-apa...” Athrun baru saja menyadari betapa lamanya ia tidak mendengar Cagalli memanggil namanya.

”Oh, ya... Meyrin bagaimana?”

”Apa?” pertanyaan itu mengagetkan Athrun.

”Hubungan kalian... Sudah sejauh mana?”

”Ti... tidak begitu jauh... Kami... masih...”

”Masih apa...?”

”Saling mengenal...” Athrun tidak suka membicarakan Meyrin bersama Cagalli.

”Cagalli...!” Chris menyambut Cagalli di teras depan rumah Kira.

”Di mana anak-anak?”

”Di dapur, membantu Lacus-san. Menyiapkan makan malam. Aku sudah bertanya pada ka... saudaramu kalau kita akan menginap di sini.”

”Dia adikku!”

”Baik, baik! Maaf, aku lupa.” Athrun memperhatikan mereka berdua yang tampak begitu akrab. Cagalli sekarang tersenyum pada Chris, senyumnya berbeda dengan senyum yang ditunjukkannya pada Athrun saat di pantai tadi. Saat Athrun termangu di belakang Chris dan Cagalli, Kira muncul dari balik pintu.

”Cagalli... Selamat datang...,” Kira menghampiri Cagalli.

”Kira!” Cagalli melompat ke arah Kira dan memeluknya.

”Ya, ya... Kau sudah lama tak kemari... Aku juga sangat merindukanmu,” ujar Kira menanggapi pelukan saudaranya yang pastinya sangat merindukannya juga.

”Benarkah kami boleh menginap di sini?”

”Jangan becanda, tentu saja boleh!! Ayo masuk, Lacus mungkin sudah selesai menyiapkan makan malam untuk kita semua. Ayo, Chris, Athrun!”

”Baik,” jawab Chris sopan sembari mengikuti Kira dan Cagalli. Athrun hanya diam dan mengikuti mereka.

”Cagalli...!” Lacus menghampiri Cagalli dan memeluknya. ”Kau juga ada di sini rupanya.”

”Mereka memberiku libur selama satu hari hingga besok, jadi aku ingin menghabiskan waktuku di sini bersama kalian.”

”Harusnya kau libur lebih sering lagi. Jangan hanya satu hari saja. Setidaknya satu minggu,” Kira mengomentari.

”Aku tidak akan bisa libur selama itu! Sekarang ini pun tugas-tugasku pasti sedang menungguku!”

”Tapi kau tidak bisa memaksakan dirimu terus, kan?” Kira mendekati Cagalli dan membelainya.

”Aku tahu. Karena itulah aku di sini.”

”Aku kira kau tak akan pernah minta waktu untuk bebas tugas. Kau orang yang sangat kompeten dalam bekerja, Cagalli,” ujar Lacus.

”Bukan aku. Chris yang memintanya.” Cagalli memandang ke arah Chris, diikuti oleh Kira, Lacus dan Athrun.

”Saya hanya berpikir kalau Cagalli juga butuh—sangat membutuhkan—istirahat. Karena itu, saya sengaja meminta waktu untuknya, karena mungkin bagi Cagalli, libur selama satu hari saja akan sangat berarti. Selain itu, kalau bekerja tanpa henti, bisa-bisa ia jatuh sakit. Saya hanya menghindari hal itu. Maafkan kalau saya terlalu ikut campur, Kira-san. Tetapi sebagai body guard Cagalli, saya merasa harus melakukan sesuatu untuknya selain dari melindunginya saja,” jawab Chris.

Kira terdiam sesaat, kemudian menyahut, ”Tak apa-apa. Aku justeru sangat berterima kasih. Ini memang sesuatu yang sangat diperlukan oleh Cagalli. Aku senang kau sangat memperhatikannya. Aku bisa mempercayakannya di tanganmu, bukan?”

”Tentu saja, Kira-san.”

”Baiklah. Aku minta kau jaga Cagalli baik-baik. Dan tolong jangan panggil aku seperti itu. Aku tak mau ada jarak di antara kita. Panggil aku Kira.”

”Terima kasih banyak... Kira...”

”Biasa saja. Aku ingin kita berteman,” Kira tersenyum.

”Baik.”

”Benar kan kataku?” ujar Cagalli pada Chris.

”Mmmh, ya, benar...,” jawab Chris sembari tersenyum.

”Ayo, kita ke ruang makan. Athrun, kau jangan sembunyi terus. Ayo!” seru Kira memanggil Athrun.

”Ah... Ya...,” Athrun mengikuti mereka ke ruang makan. Biasanya Kira tidak akan mudah mempercayai seseorang, apalagi jika menyangkut Cagalli. Hanya dengan satu langkah saja Chris bisa mendapatkan kepercayaan Kira.

Hanya dengan satu langkah..., yang dulu bahkan tidak bisa ia lakukan.

Athrun mengangkat wajahnya. Dilihatnya Chris menatap ke arahnya.

”Kita belum berkenalan... Aku Chris von Schlűter, kalau anda tidak keberatan,” Chris mengulurkan tangannya.

”Athrun Zala. Panggil aku Athrun.” Athrun membalas jabatan tangannya, dan menatap tajam mata Chris.

”Ada apa?” tanya Chris, bingung.

”Tidak...”

”Chris, Athrun!” Cagalli menghampiri mereka. ”Apa yang sedang kalian lakukan?”

”Kau tak mengenalkanku pada temanmu ini, jadi aku mengambil inisiatif sendiri untuk bertanya padanya.”

”Oh, maafkan aku. Sekarang kau sudah mengenalnya?”

”Ya, sudah.”

”Kalau begitu, sekarang waktunya kita makan. Ayo, kalian berdua!” Cagalli menggenggam tangan keduanya, kemudian ia tersenyum ke arah Chris. Athrun sedikit menyayangkannya. Ia ingin Cagalli tersenyum padanya. Hanya padanya.

”Kau tak apa-apa. Athrun?”

”Ah.. Ya, tentu saja,” Athrun mencoba tersenyum.

”Rasanya kau sering sekali melamun hari ini. Apa yang kau pikirkan?”

”Tidak..., tak apa-apa...”

”Kalau begitu jangan murung terus. Oh, ya. Kuharap kau bisa akrab dengan Chris.” Cagalli kembali memalingkan wajahnya dan tersenyum pada Chris. Kenapa Cagalli selalu menyebut-nyebut Chris?

Sebaiknya dia pergi saja!

”Cagalli, kemari!” Kira meminta Cagalli supaya duduk di sebelahnya. Cagalli menurut.

Dan Chris duduk di sebelah Cagalli. Atrhun berharap dialah yang duduk di sana. Ia duduk di sisi lain di sebelah Chris.

Selama makan malam Kira terus bertanya pada Chris mengenai Cagalli selama ia tidak bisa mengawasinya. Dan Chris menjawabnya dengan jujur, membuat Cagalli tersudut.

TBC.........................................................................................................................................
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kikyo
Member Avatar
桔梗 の 巫女
Administrator
Iieee ~

knapa Athrunq jadi kayak gitu ! ? /ohmad

kejam'na . . . /ohcry

ya udah,
lanjutin yach. . . /ohlalala
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sesshomaru
Member Avatar

Admin User
Bagus, bagus..
Lanjutin. /ohdrink
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kikyo
Member Avatar
桔梗 の 巫女
Administrator
Mizu-chan, lanjutin donkz...
Penasaran nich apa yang akan terjadi pada Athrunq... /ohblush
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Tomoyo
Member Avatar

Hanyō
Wuaw~
puanjang bwanget boo~
q baca dulu ya. /ohlalala
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kikyo
Member Avatar
桔梗 の 巫女
Administrator
Masih menunggu... /ohdrink
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Syaoran
Member Avatar

Hanyō
Nani !? /ohwth

apa2an ini !? /ohvoodoo

Athrun, bunuh aja Cagalli yang gak setia itu ! ! ! /ohmad
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kikyo
Member Avatar
桔梗 の 巫女
Administrator
Stuju ! ! ! ! ! !

Akhirnya, ada juga yang sependapat denganku... /ohcry

*jabat tangan dengan Syaoran
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sesshomaru
Member Avatar

Admin User
Ceritanya berdasarkan apa nih? Gundam Seed or Gundam Seed Destiny?
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kikyo
Member Avatar
桔梗 の 巫女
Administrator
@Sessho-kun: dua2'na sama aja 'khan???
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sesshomaru
Member Avatar

Admin User
Beda donk... /ohdrink
kalau di GS Athrun memang sama Cagally, jadi Athrun pantas marah...
kalau di GSD, Athrun jadian ma Meyrin, jadi Athrun pasti gak marah Cagally ma cowok lain.... /ohdrink
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kikyo
Member Avatar
桔梗 の 巫女
Administrator
@Sessho-kun: uwaa~
hati2 Sessho-kun, kamu bisa mati dibunuh Mizu-chan...
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
shisui
Member Avatar
Hanyō no Kaichō - 1st
Kaichō
bagus ni tapi agak panjang juga baca 15mnit saya hojoohohoh
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kikyo
Member Avatar
桔梗 の 巫女
Administrator
Mizu-chan~ Mana lanjutannya..?? :ngancam:
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kazumazu Tokugawa
Member Avatar

Hanyō
Ini yang di FFN yh?
Kok g dilanjutin?
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
Go to Next Page
« Previous Topic · Kohaku's story · Next Topic »
Add Reply
  • Pages:
  • 1

Shiva created by Sarah & Delirium of the ZNR