Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Acaram; K+ rated | Random Coversation
Topic Started: 10 Feb 2017, 05:38 PM (48 Views)
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Acaram oleh reynyah
Summary: Obrolan (tidak) sederhana di antara dua insan berbeda kewarganegaraan yang sama-sama tidak tahu makna suatu kata.
Reva tidak pernah tidak tahu bahwa Minerva amat sangat suka bermain tebak kata.

Bukannya Reva tidak tahu alasannya, tentu saja. Gadis pirang yang berusia setahun di bawah Reva itu adalah satu dari sedikit orang di dunia yang memiliki kemampuan daya ingat fotografis, atau bahasa mudahnya, tidak bisa lupa. Ditambah lagi, selain punya daya ingat yang menakjubkan seperti itu, gadis itu juga hobi membaca. Dan akibat otaknya yang kelewat ajaib itu tidak bisa melupakan apa yang pernah gadis itu baca, bisa dibilang kini Minerva 'kehabisan' bahan bacaan.

Dan hal yang ia jadikan sarana pelampiasan adalah kamus.

Kamus dalam artian yang sesungguhnya, tentu saja.

Seperti saat ini, misalnya. Saat Reva sedang tegang-tegangnya membaca klimaks salah satu novel thriller yang tidak sengaja gadis bersurai hitam itu temukan di perpustakaan, Minerva dengan kalemnya membalik halaman demi halaman kamus bahasa Inggris-Indonesia. Kebetulan gadis Rusia itu belum menguasai bahasa ibu Reva. Selama ini, mereka selalu berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Meski bahasa Inggris Reva dominan logat Sunda dan bahasa Inggris Minerva patah-patah karena logat Rusia yang kental di lidahnya, rupanya mereka dapat berteman baik.

"Reva."

"Apa?" balas Reva dengan nada bicara yang tidak seramah biasanya. Tambahan tidak sopan lainnya, gadis itu juga tidak menatap Minerva saat memberi respons. Masalahnya, bagian novel yang ia baca sedang seru-serunya, nih! Reva tidak akan membiarkan siapapun, meski itu Minerva ataupun Dilan, merusak momen dag-dig-dug yang kerap menjadi favorit Reva saat membaca novel thriller.

"Ada kata yang kurang kupahami, bisa tolong jelaskan?"

Reva menghela napas sambil menutup novelnya―tentunya setelah mengingat halaman berapa yang terakhir ia baca. Tadi Reva baru mencapai kalimat "gadis itu melirik ke belakang.", dan kini otaknya dilanda rasa penasaran yang amat sangat.

Yah, terpaksa ia mengalah dulu demi Minerva yang sedang belajar bahasa. Setidaknya menolong si pirang itu bisa menambah kebaikan Reva―susah payah gadis itu mencari alasan positif.

"Kata yang mana?" tanya Reva sambil menggeser kursinya agar lebih dekat ke kursi Minerva. Supaya ia bisa membaca kata yang dimaksud Minerva dengan lebih jelas juga, sih.

"Ini." Minerva menunjuk sebuah baris yang hanya terdiri dari dua kata. Yah, tentu saja, namanya juga kamus translasi, 'kan?

Eh, sebentar, baris itu bukan terdiri dari dua kata melainkan satu kata yang dipisah menjadi dua―mungkin penanda suku kata.

Aca-ram.

Mati, batin Reva sambil menggigit bibir. Apa pula itu acaram? Reva sama sekali tidak pernah mendengarnya, sungguh!

Tapi kan, mana mungkin dia mengaku pada Minerva kalau dia belum pernah mendengar kata itu? Bisa-bisa Minerva menertawainya habis-habisan sampai matahari terbit keesokan harinya. Lebih parah lagi, bisa-bisa gadis pirang itu akan menceramahi Reva panjang lebar mengenai pentingnya berbahasa ibu dengan baik dan benar.

Minerva bukan orang cerewet sih, dan bukan tipikal humoris yang suka mempermalukan diri sendiri juga. Jadi gadis itu tidak mungkin menceramahi Reva bonus hujan air liur, dan tidak mungkin pula tertawa keras-keras sampai dunia runtuh. Walau begitu, meski kedua opsi yang tadi Reva bayangkan mustahil terjadi, setidaknya opsi yang kedua masih ada peluang terjadi sebesar ... yah, paling lima persen.

"Sebentar," ucap Reva sambil berusaha bangkit dari duduknya. Setelah hening yang cukup panjang ditambah kerut-kerut dahi tanda gadis itu berusaha mencari acaram di dalam otaknya, akhirnya ia buka suara juga. "Aku ... rasanya pernah dengar kata ini." Lebih tepatnya, pernah membaca kata itu satu kali, dari Minerva barusan. "Sebentar deh, aku coba cari dulu di KBBI."

Dahi Minerva spontan mengerut. "KBBI?"

Reva kini telah berdiri dengan sempurna. "Kamus Besar Bahasa Indonesia, Min."

Oke, sepertinya kebiasaan memanggil seseorang dengan suku kata yang kurang enak didengar sudah menjadi hobi, bakat mungkin, bagi Reva. Setelah memanggil atasannya, Dilan, dengan panggilan "Lan" yang kerap diprotes si empunya nama, kini gadis bersurai hitam itu menerapkan perumusan yang sama untuk Minerva.

"Tunggu." Satu kata dari Minerva sukses menghentikan gerakan Reva. "Memangnya di sini ada kabebi atau kamus apapun itu?"

"KBBI," ralat Reva cepat. Sempat-sempatnya pula dia meralat perkataan Minerva yang baru kali ini mendengar kata itu. "Harusnya ada dong, KBBI itu kan semacam kitab wajib yang harus dimiliki di seluruh perpustakaan di Indonesia."

"Hmm ... tapi, Rev?"

Reva menghela napas lelah. Mengapa Minerva terkadangーtetapi kalau dipikir-pikir cukup sering jugaーsuka menguji kesabarannya, sih? "Apa lagi, Min?"

"Sepertinya kau lupa kita sedang berada dimana."

Alis Reva spontan terangkat heran. "Sepertinya kamu yang lupa, Minーwalau rasanya agak tidak mungkin, sih. Kita sedang berada di perpustakaan, kuingatkan kembali."

"Tentu saja aku tahu kita sedang berada di perpustakaan," tukas Minerva diiringi dengusan pelan. Rupanya gadis itu bisa kesal jugaーdan Reva lah penyebabnya. "Maksudku, negaraーlebih bagus lagi kalau kau ingat kotaーyang sedang kita tempati saat ini."

"Tentu saja Tokyo, Jepang. Aku ini tidak bodoh, Min," jawab Reva santai. Gadis itu membalikkan badan, mengarahkan diri sendiri menuju rak kamus yang posisinya dekat dengan mereka. Baru saja gadis itu melangkahkan kaki kanannya, ia segera tersadar. "Ng ... Min."

"Ya?"

"Di Jepang ... tidak mungkin menyimpan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ya?"

Minerva menghela napas pelan. "Itulah yang ingin kukatakan sejak tadi, Reva."

Reva mendengus sebal. Ternyata sejak tadi dia yang bodoh tetapi berlagak sok jenius. Kini malah dia yang malu kepada dirinya sendiri, dan juga kepada Minerva. Gadis bersurai hitam itu akhirnya membalikkan badannya lagi, lalu duduk dengan manis di kursi yang tadi ditempatinya.

"Jadi." Minerva berdeham pelan. Ingin menghapus kecanggungan yang ada, tetapi dirinya pun bukan penentu topik yang baik. "Kamu sudah menemukan arti dari 'acaram'?"

"Hah?" Reva mengangkat sebelah alisnya. "Aku bahkan belum menemukan kamus yang aku cariーkitab ajaib milik bahasa negaraku! Memangnya kamu pikir aku bisa menemukan arti kata yang bahkan tidak familiar di otakku itu hanya karena aku membalikkan badan dan sadar bahwa kita sedang ada di Jepang? Kalau boleh berlagak sok tahu sih, aku bisa!"

Minerva hanya memberi respons dengan mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Memangnya kalau kamu bisa, atau boleh, berlagak sok tahu, kamu akan menjawab apa?"

Reva mengetuk dagunya selama beberapa saat, tampak berpikir keras. Yah, memangnya kalian pikir berlagak sok tahu itu tidak memakai otak? "Acaram ... entah mengapa terkesan seperti 'ancaman', jadi mungkin maknanya juga tidak berbeda jauh. Mungkin, mungkin ya, acaram itu ... suatu kondisi dimana kita tidak merasa diri kita aman dan tentram? Misalnya, saat perang?"

Tidak ada jawaban keluar dari mulut Minerva. Gadis itu ... kelihatan ingin percaya dengan kata-kata Reva, tetapi di sisi lain juga merasa jawaban itu tidaklah benar.

"Kamu tahu tidak, Min?" Reva menghela napas lalu meluruskan kedua tangannya di atas meja. Disandarkannya kepala ke atas dua tangan itu. "Di satu sisi aku merasa seolah aku ini pujangga kelas dunia yang baru saja melahap KBBI, tapi di sisi lain juga aku merasa seperti pejuang kata sok tahu yang hanya bisa berujar tanpa data."

Minerva menopang dagunya dengan kedua tangan. "Lalu kamu mau melakukan apa?"

Reva merengut kesal. Dia memang benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini untuk mengetahui arti kata yang unik itu, tapi dia juga tidak mau sampai harus pulang dulu ke Indonesia hanya untuk alasan yang tidak terlalu urgent, membuka KBBI.

Reva bisa dipenggal Dilan sepulangnya ke tanah air nanti.

"Lupakan dulu soal aracam, deh," ujar Reva sambil mengibaskan tangannya putus asa. "Kita uji ingatanmu saja. Ada berita menarik apa yang kamu baca hari ini?"

"Tidak ada yang menarik sungguhan, sayangnya aku harus mengecewakanmu," jawab Minerva dengan susunan kata yang agak aneh. Harap maklum, bahasa Indonesianya belum lancar. "Oh, tapi aku belum mencek berita di internet. Oh ya, Reva, tadi kamu salah menyebut kata yang kita cari untuk itu."

"Kamu juga salah sebut," balas Reva sambil mengangkat kepalanya. "Bukan mencek, harusnya mengecek. Kalau mau pakai bahasa Indonesia, bukan serapan maksudnya, kamu pakai periksa, jadi memeriksa."

"Oh, begitu." Minerva mengangguk seolah paham―dan dia memang paham. "Tadi kamu salah menyebutkan acaram menjadi aracam."

"My bad." Reva mengetuk kepalanya dengan kepalan tangan kanan pelan. "Habis namanya susah, sih."

"Tidak juga, hanya enam huruf, kok."

"Enam huruf sih enam huruf, tapi kalau susunannya aneh begitu mau bagaimana lagi," keluh Reva. Ia memosisikan dirinya untuk duduk kembali. Dihelanya napas pendek sebelum melanjutkan, "Kembali ke topik berita, tadi kamu bilang apa soal berita menarik hari ini?"

"Tidak ada yang menarik," jawab Minerva, mengulang jawabannya yang tadi. "Tapi aku belum menceーeh, mengecek internet."

Reva mengerjapkan mata. "Belum cek dimana katamu?"

"Internet."

Sang gadis bersurai hitam mengepalkan tangan kanannya lalu menghantamkan kepalan tangan itu ke telapak tangan kiri. "Itu dia, Min!"

Minerva memiringkan kepalanya sedikit. "Apa?"

"Internet!" Reva mengulang kata yang beberapa detik lalu diucapkan oleh Minerva. Ditatapnya iris biru Minerva dengan tatapan penuh binar. "Di era teknologi yang luar biasa ini, KBBI juga sudah punya situs sendiri! Mengapa aku tidak terpikir sampai ke sana, ya?"

Minerva memutar bola matanya.

Reva segera mengambil ponselnya dari saku celana, mengakses internet dengan wi-fi yang terdapat di perpustakaan itu. Untungnya, tidak ada password sehingga dia bebas menghubungkan ponselnya dengan internet.

"Ka ... be ... eh?" Reva mengerutkan dahinya seraya mengetik tautan yang seharusnya membawanya kepada kamus daring tersebut. "Kok, tidak ada, ya?"

Sang gadis pirang menolehkan kepalanya. "Oh ya?"

"Iya," jawab Reva sambil mengatupkan bibir, mengerutkan dahi, dan mengembangkan kedua lubang hidungnya―pose wajib saat ia sedang serius. Tidak ia lanjutkan lagi kata-katanya.

"Memangnya situs kamus bahasa Indonesia yang kata kamu itu ada di server Jepang juga?"

Dheg.

"Min."

"Apa?"

"Aku mau pundung aja."

"Pundung itu ... apa?"

"Pundung itu ngambek, Min."

"Ngambek itu apa?"

Hari ini Reva depresi. Satu, karena tidak berhasil menemukan arti acaram. Dua, karena ketidaktahuan Minerva akan kosa kata nonbaku Indonesia membuat kepalanya semakin penat.

Pada akhirnya, Reva tidak berhasil menemukan arti acaram hingga gadis itu kembali ke Indonesia.

FIN
A/N.

acaram
/aca-ram/ n 1 kl cincin; 2 tanda bahwa suatu perjanjian jual beli telah dibuat; tanda jadi

:love:
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Fully Featured & Customizable Free Forums
Learn More · Register for Free
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone