Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Terjebak Mesin Waktu; ONESHOT, Rated T, Adventure, Fantasy, a bit Romance
Topic Started: 13 Jul 2013, 06:40 PM (535 Views)
Fei Mei
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Warning: GAJE, dibuat sekitar 2 tahun lalu.
.

.

~Terjebak Mesin Waktu: 'Akhirnya aku menemukanmu'~
by Fei Mei
.

.


Vemei Misaki berjalan dengan malas ke ruang kelas sejarah sihir, pelajaran selanjutnya setelah pelajaran bahasa latin. Sejarah sihir sebenarnya merupakan pelajaran kesukaan Vemei sekaligus pelajaran yang sering membuatnya mengantuk. Ada banyak cerita legenda dan perang-perang yang seru yang diceritakan gurunya dikelas itu. Sayangnya, suara Shiaki-san yang terlalu merdu sering membuat murid-muridnya mengantuk. Pernah juga sesekali Vemei nyaris terlelap.

Vemei sangat terkenal dengan rambutnya yang berwarna biru panjang mata ungu kelabunya. Penampilannya sangat aneh jika dilihat oleh komunitas non-penyihir, terutama saat mereka melihat matanya. Tetapi bagi komunitas penyihir, penampilannya itu biasa saja.

Dia bersekolah di sekolah sihir Wasusai yang letaknya di daerah Jepang. Para guru melatih penyihir-penyihir muda berumur 13 sampai 17 tahun dari seluruh dunia, dan ini adalah tahun terakhir Vemei. Meski letaknya di Jepang, murid yang datang lebih banyak yang berasal dari luar Jepang.

“Sekolah kita tidak akan kelihatan oleh orang biasa,” ucap Kepala Sekolah setiap kali membacakan pidato awal tahun.

Setelah melangkahkan kaki dengan gontai beberapa kali, akhirnya ia pun sampai di ruang kelas sejarah dan disambut ramah oleh Shiaki-san. Vemei duduk di sebelah sahabatnya, Rena Farearth, lalu ia membuka buku teks.

“Oke, saatnya pergi ke alam mimpi…” gumam Rena pada Vemei dengan pelan dan setengah menguap.

“Nah, di bab baru ini kita akan belajar tentang relasi penyihir dan ninja di tahun 1800an. Seperti yang kalian ketahui, relasi keduanya agak dingin saat ini, tetapi bukan berarti keduanya masih bermusuhan seperti dulu,” kata Shiaki-san.

“Dulu keduanya sering berperang. Saat itu istana sihir diperintah oleh Viona Katoji, sang ratu agung yang lembut dan cinta damai. Sedangkan kerajaan ninja dipimpin oleh Hunter Mondray, raja yang egois dan diktator.

“Awalnya tidak pernah ada perang sebelum Mondray naik tahta. Sejak ia menjadi raja, ia menghabisi seluruh penyihir yang menginjak tanah kekuasaannya. Ketidaksukaan Mondray akan penyihir membuat sang raja ingin memusnahkan semua penyihir, sekalipun mereka ada di tanah mereka sendiri. Perang besar pertama di antara keduanya pun dimulai. Raja Mondray membawa pasukannya menyerbu istana Katoji.

“Perang itu usai ketika –,“ Shiaki-san berhenti.

Nada suaranya yang seakan sedang mendongeng berhasil membuat beberapa anak laki-laki mendengkur cukup keras. Hanya ada beberapa anak saja yang masih bisa bertahan dari rasa kantuk, salah satunya Vemei.

“Ehem! – Perang usai ketika Mondray berhasil membunuh ratu Viona. Putri Vanessa Katoji pun menggantikan ibundanya. Ia membuat perjanjian perdamaian dengan Mondray. Perjanjian yang disebut dengan Perjanjian Somnium itu berisi bahwa tidak boleh ada perang lagi. Penyihir yang melewati batas negara sampai ke tanah ninja akan dibunuh oleh tentara penjaga Mondray. Hal yang sama berlaku pada rakyat Mondray. Kalau ada ninja di tanah penyihir, tentara Katoji yang akan membunuhnya.

“Kemudian ,“ Shiaki-san berhenti lagi, ada seorang anak lagi yang mendengkur keras.

“ – Kemudian, saat Putri Katoji dalam bahaya, ia diselamatkan oleh Vemei Bryory, istri dari Throul Bryory,” kata Shiaki-san mengakhiri ‘dongeng’nya.

“Nah!” Shiaki-san setengah berteriak, membangunkan murid-muridnya yang terlelap.

“Sekian untuk hari ini, anak-anak, bereskan buku kalian dan kalian boleh pergi ke kelas berikutnya,” ujar Shiaki-san lagi.

Vemei keluar dari kelas bersama Rena, menuju kelas pelajaran pilihan. Sepanjang jalan, Vemei memikirkan nama Vemei Bryory. Nama depannya sama. Sebenarnya, selain mata ungu kelabunya, nama panggilnya itu juga membuat gadis ini terkenal. Nama Vemei adalah nama yang langka. Mungkin karena itulah orangtuanya memberi ia nama Vemei.

Pelajaran pilihan Vemei dan Rena adalah teknik mesin. Berhubung Kikarin-san tidak dapat hadir, murid-murid diharapkan dapat menyelesaikan tugas mereka, mesin waktu, yang harus dibuat tanpa sihir.

Tugas ini sudah dikerjakan selama berbulan-bulan. Satu kelompok hanya terdiri dari dua orang. Vemei dan Rena giat mengerjakan tugas ini, dan malah sebenarnya mereka sudah selesai kemarin malam. Kini mereka tinggal mengetesnya.

“Pegang ini,” kata Rena sambil memberikan alat seperti remot televisi.

“Kalau sudah sampai disana, tekan yang hijau, itu akan membawamu kembali kesini. Kalau ada apa-apa, tekan yang merah, supaya kita bisa berkomunikasi. Oke?” kata Rena dijawab anggukan kepala Vemei.

Vemei berdiri diatas mesin waktu mereka. Rena mengatur ke masa kapan sahabatnya akan dikirim. Ketika tercetak angka 1872 di atas computer, cahaya hijau menyelimuti gadis berambut biru itu. Seakan tersedot cahaya silinder itu, Vemei pun hilang dari tempat itu.

.

.

.


Pendaratan Vemei kurang mulus. Ia terjatuh dari ketinggian 5 meter dan jatuh ke sungai yang agak dangkal. Buru-buru ia keluar dari sungai dan melihat sekelilingnya, sambil merogoh sakunya, mencari remot yang diberikan Rena tadi.

Padang rumput. Hanya ada beberapa pohon disana dan sungai yang tidak lebar. Tahun 1872, di masa itulah ia ada sekarang, di masa pemerintahan Putri Vanessa Katoji, 140 tahun yang lalu.

Berarti Vemei Bryory juga hidup di masa ini?’ tanya Vemei dalam hatinya.

Gadis itu pun mulai menekan tombol hijau pada remotnya, tetapi tidak ada yang terjadi. Ia tekan sekali lagi, dan ia masih ada di tempat itu.

Bagus sekali. Dan yang kutahu, tidak ada sihir antarwaktu,’ benaknya lagi.

Kini Vemei menekan tombol yang merah. Wajah cemas Rena tampil di layar remot. Gadis berambut biru itu dapat merasakan bahwa ada yang tidak beres. Baik di tempat ia berdiri sekarang, maupun di tempat Rena.

“Apa yang terjadi? Tombol hijaunya tidak berfungsi!” kata Vemei setengah berteriak.

“Mesinnya ada yang hangus! Sepertinya aku salah memasangkan kabel atau apa itu kemarin!” kata Rena takut.

“Jadi..?” tanya Vemei pasrah.

“Tunggu, aku akan coba betulkan, panggil guru mungkin. Eh, maaf Vemei, aku tidak teliti semalam. Aku –“ dan kata-kata Rena terputus. Remot yang dipegang Vemei pun rusak karena air. Dan sialnya gadis bermata ungu itu tidak membawa tongkat sihirnya. Dengan kata lain, ia harus berusaha memakai sihir tanpa tongkat yang cukup sulit.

Di tengah kepasrahannya, tiba-tiba ia mendengar langkah kaki berat, dengan baju zirah, mengarah padanya. Ninja-ninja. Tentara garis batas Mondray yang merupakan ninja berlari menuju Vemei sambil membawa tombak, busur, panah, dan kunai. Sebagian malah sudah ada yang melempar shuriken.

Saat gadis itu terdiam sambil bingungnya melihat gerombolan ninja yang hendak menyerbunya, seekor Pegasus perak datang kepadanya. Tanpa pikir panjang, Vemei pun naik ke punggung kuda terbang itu dan si Pegasus pun dengan cepat terbang meninggalkan lapangan.

Tidak lama kemudian, sampailah Vemei di depan istana yang besar berwarna perak. Di menara tertinggi ada lambang negeri sihir, yakni 2 pedang panjang menyilang dan ditengahnya ada bintang emas. Istana itu dikelilingi taman yang hijau, setelah itu ada pasar dan rumah-rumah. Vemei berdiri di depan pintu utama kastil.

Masih mengagumi pintu besar yang indah itu (karena berlapis emas), tiba-tiba pintunya terbuka. Darisana keluarlah seorang gadis berambut biru panjang, mengenakan gaun cantik berwarna merah muda. Kulitnya putih bersih. Tangan kanannya mengenggam tongkat sihir, dan mahkota putri menghiasi kepalanya. Lalu…

“Astaga!” pekik Vemei.

Satu hal yang tidak terpikirkan oleh Vemei, yang seakan membuatnya lupa bernafas, adalah gadis yang dihadapannya itu memiliki wajah yang sama dengannya. Tidak hanya wajah, tetapi juga rambut bitu panjang dan mata ungu kelabu. Semua mirip, seakan pinang dibelah dua.

Inikah Putri Vanessa? gumam Vemei dalam hatinya ketika ia melihat mahkota putri yang ada di kepala gadis di hadapannya. Ia mengingat kata-kata di buku sejarah sihirnya, bahwa “Putri Vanessa Katoji tidak pernah mengenakan mahkota ratu, bahkan ia tidak mau dinobatkan sebagai ratu pengganti mendiang Ratu Viona Katoji”.

“Sepertinya Blair sampai disana tepat waktu,” kata gadis yang ada di hadapan Vemei sambil tersenyum dan membelai kepala Blair si Pegasus. “Aku Vanessa. Siapa namamu?”

“Vemei,” jawab Vemei.

“Menarik sekali. Rupa dan suara kita sama. Tetapi aku tak pernah ingat pernah bertemu kau sebelumnya. Nah, masuklah, Vemei. Pelayanku akan menyiapkan baju ganti, soalnya bajumu basah, kau bisa masuk angin,” kata Vanessa.

Vemei pun masuk ke dalam bersama Vanessa. Yang mengejutkan adalah, Vanessa sama sekali tidak mencurigainya. Bertanya ia darimana dan sedang apa pun tidak. Sang putri sangat ramah dan baik hati, seperti yang pernah Vemei baca di buku sejarahnya.

Setelah berganti pakaian, Vemei pergi ke ruang tamu bersama 2 orang pelayan Vanessa. Disana sang Putri telah menunggunya, masih dengan senyum ramah yang khas.

“Duduklah, Vemei,” kata Vanessa. “Clovitch, ambilkan kami minum, tolong,” pinta Vanessa pada seorang pelayan.

“Nah, Vemei, apa yang tadi kau lakukan di tanah lapang itu, hm?” tanya Vanessa. “Melewati perbatasan itu sangat berbahaya.”

“Aku, uh, aku tidak tahu. Tiba-tiba aku mendarat di sungai –benar-benar jatuh ke sungai. Aku naik ke daratan dan tak lama kemudian ninja-ninja itu datang…”

“Itu karena kau yang seorang penyihir berdiri di atas tanah mereka. Tidakkah kau tahu bahwa aku dan Hunter Mondray sudah menandatangani Perjanjian Somnium, dengan sungai itu sebagai batas wilayah?” tanya Vanessa.

“Eh, yah, aku tahu,” jawab Vemei. Tentu saja ia tahu. Belum sampai 1 jam yang lalu Shiaki-san memberitahunya tentang perjanjian tersebut.

“Ada 1 hal yang masih mengganjal pikiranku, Vemei… Kau datang darimana?” tanya Vanessa penasaran.

Nah, ini dia pertanyaan yang ditakutkan oleh Vemei. Dia harus menjawab apa? Dia pasti akan disangka orang aneh kalau ia bilang berasal dari masa depan. Tetapi ia tidak pandai berbohong.

Akhirnya Vemei memutuskan untuk menceritakan hal yang sebenarnya, tentang mesin waktu yang membawanya ke tempat itu. Vemei pun memperlihatkan remotnya yang rusak pada Vanessa. Yang melegakan Vemei adalah, sang putri percaya padanya.

“Kau datang ke masa yang salah. Hubungan antara penyihir dan ninja saat ini terlalu tegang. Mungkin seharusnya temanmu mengirimmu ke masa beberapa tahun sebelum kau dilahirkan saja, pasti tidak akan ada perang di masa itu. Dan karena wajah kita sama, pastilah para ninja tadi mengira kau itu aku,” jelas Vanessa.

“Nah, karena sekarang kau terjebak di masa ini, kau harus siap menghadapi segala sesuatu yang mungkin akan terjadi,” kata Vanessa.

“Jendral Lance!” panggil si Putri, Jendral pun datang ke hadapannya dengan tegap. “Ini Corry Lance, pemimpin pasukan kerajaanku. Dia akan mengajarimu cara bertarung dan bertahan. Dan kau akan baik-baik saja, Vemei, percayalah. Dan kita akan sama-sama mencari cara agar kau bisa kembali ke masamu, ya?” kata Vanessa dengan sangat ramah.

Dan jadilah sejak saat itu Vemei berlatih dengan Jendral Lance di istana. Karena tidak mahir menggunakan tombak, dan juga tidak membawa tongkat sihir, Vemei memilih senjata untuk menyerang dari jarak jauh seperti senapan atau panah. Ia pun belajar untuk mengendalikan elementalnya tanpa menggunakan tongkat sihir. Dengan susah payah ia diajarkan oleh Vanessa, Lance, dan beberapa angkatan darat kerajaan.

Minggu-minggu berlalu dan Vemei masih terjebak di tahun 1872. Untungnya, kedua kerajaan –ninja dan penyihir- tidak panas, masih dingin, sehingga Vemei tidak perlu khawatir tentang perang. Tetapi tetap saja, setiap hari ia berdoa agar bisa pulang ke tempat Rena.

.

.

.


3 bulan berlalu sejak kedatangan Vemei ke istana Vanessa. Vemei sangat pasrah karena tidak bisa kembali ke masanya, tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan bisa kembali ke tempat sahabatnya. Vanessa pun tidak menemukan cara untuk memulangkan Vemei.

Kini gadis itu telah menjadi kepala pasukan elemen api, deretan ketiga pasukan pertahanan istana. Jendral Lance sangat puas akan hasil kerja ‘murid’nya itu. Hanya dalam 3 bulan dan Vemei sudah mahir menggunakan elemen api tanpa tongkat sihir. Kini gadis berambut bitu itu sudah siap kalau harus berperang melawan ninja-ninja di negeri seberang.

Suatu hari, krisis makanan melanda negeri penyihir. Mau tak mau, rakyat harus pergi ke tanah seberang untuk membeli makanan. Tetapi jika demikian, mereka akan melanggar Perjanjian Somnium. Melihat banyak penduduk yang mulai lemah, Putri Vanessa mengirim surat pada Raja Mondray untuk meminta ijin agar rakyatnya bisa membeli makanan di pasar di negeri ninja.

Segera setelah dikirimnya surat itu, dan ketika Jendral Lance sudah memastikan bahwa surat Vanessa sudah sampai di tanah seberang, rakyat negeri penyihir mulai berbondong-bondong memasuki wilayah tetangga mereka. Dan seketika itu juga, bau amis mulai tercium dari arah wilayah perbatasan. Ternyata ninja-ninja suruhan Mondray telah menghabisi penyihir-penyihir yang datang untuk membeli makanan di tempat mereka.

Hunter Mondray mengaku ia sama sekali tidak pernah menerima surat dari Vanessa. Dan seperti yang Vemei baca di buku sejarah sihirnya, Raja Mondray adalah raja yang licik. Mondray pun memberi titah kepada prajurit-prajuritnya untuk maju berperang. Vanessa pun mengerahkan pasukannya, termasuk Vemei. Ya, ini akan menjadi perang Vemei yang pertama.

“Tangkap dia, tangkap yang berambut biru!” seru seorang dari pasukan ninja.

Vemei langsung mengerti. Tentara suruhan Mondray mengira ia adalah Vanessa. Jendral Lance pun paham juga, ia berlari untuk menyelamatkan Vemei. Namun naas, pemimpin barisan Mondray sudah berhasil menangkap Vemei.

Carson Bryory, orang yang menangkap Vemei di medan perang, langsung memasukkan ‘Vanessa’ ke dalam sel tahanan di istana. Ia pun memanggil anaknya untuk datang ke tempat itu.

“Kau jaga dia, Throul. Jangan sampai si Putri Vanessa kabur. Aku mengandalkanmu, Nak,” kata Carson pada putranya sebelum pergi.

Throul Bryory, pemuda berambut coklat berantakan dengan mata hijau itu menatap Vemei lurus-lurus. Kemudian ia keluar dan masuk lagi sambil membawa roti dan segelas air. Disodorkannya pada Vemei.

“Jangan khawatir, aku tidak seperti ayahku, aku tidak akan menyakitimu. Kau makanlah ini, ya?” kata Throul. “Namaku Throul, umurku 17 tahun. Mungkin kita seumuran?” tanya Throul.

“Dengar, mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku bukan –“

“Bukan Putri Vanessa,” kata pemuda itu memotong kata-kata Vemei. “Aku tahu. Meski kalian mirip, tetapi aku bisa melihat perbedaan antara kau dan dia.”

“Kalian pernah bertemu?” tanya Vemei.

“Tidak, tapi aku pernah melihat fotonya. Omong-omong, siapa namamu?”

“Vemei Misaki. Dengar, kalimatku yang pertama masih belum selesai! Aku – “

“Kau bukan dari masa ini,” potong Throul lagi. “Tapi kau hebat, belum lama disini sudah jadi pemimpin barisan.”

“…Kau ini bisa membaca pikiranku, ya?” tanya Vemei.

“Aku punya indra keenam.”

.

.

.


Selama berhari-hari Vemei dikurung dalam sel tahanan. Throul selalu memberinya makan dan minum, menemani gadis itu meski dari luar sel. Keduanya kini bersahabat. Throul benar saat ia berkata bahwa ia berbeda dengan ayahnya. Meski Carson orang yang kejam dan tidak menyenangkan, Throul malah orang yang sangat baik hati. Bahkan pemuda itu tidak suka pada fakta ayahnya adalah pengikut setia Mondray.

Vemei bisa mencium bau amis darah yang berasal dari medan perang di luar tempat tahanannya. Perang di antara pasukan Penyihir dan Ninja masih berlangsung, tambah parah mungkin. Bahkan sepertinya Carson dan Mondray sudah tahu bahwa Vemei bukan Vanessa, lalu berniat membunuh Vemei.

Throul pun akhirnya berhasil mencuri kunci sel tahanan sahabat barunya itu. Dengan susah payah, mereka mengendap-endap keluar dari kerajaan Ninja, berusaha jangan sampai terlihat oleh pasukan Mondray.

Pemuda berambut coklat berantakan itu pun ikut kabur bersama Vemei. Butuh waktu berjam-jam sampai mereka akhirnya sampai di kerajaan Penyihir dengan selamat. Vanessa menyambut baik keduanya, dan ia sangat khawatir pada Vemei.

Hunter Mondray yang tahu bahwa tahanannya telah kabur bersama dengan anak dari pemimpin barisan pertahanannya, langsung menghukum mati Carson. Raja Mondray langsung member titah pada pasukan yang lain untuk berperang melawan pasukan penyihir di kerajaan Vanessa. Mereka pun berangkat ke kerajaan berwarna perak itu.

“Mereka datang!” seru Throul di ruang tengah kerajaan Vanessa.

Berkat indra keenam Throul, Vanessa dan Lance bisa mengetahui kapan saatnya mereka bersiap-siap untuk perang. Perang besar. Itulah yang ada di penglihatan pemuda itu.

Tetapi tidak ada yang bernama Vemei Bryory disini. Bagaimana caranya perang bisa usai?’ pikir Vemei. Ia mengingat bahwa dalam sejarah, Vemei Bryory-lah yang akan membawa kemenangan bagi kerajaan Penyihir.

Throul mengamankan Vanessa dan Vemei di istana. Sedangkan Lance menyiapkan seluruh barisan perangnya. Vanessa menggunakan mantra pelindung untuknya, Vemei, Throul, dan Lance. Vemei membawa senapan hijaunya, dan Throul membawa beberapa kunai dalam tasnya. Kemudian Raja Hunter Mondray pun sampai ke halaman istana itu.

Saat Mondray dan beberapa orang pasukannya sudah masuk ke istana, Throul pun keluar dari tempat persembunyian dan menyerang pasukan ninja Mondray. Diikuti rasa cemas bercampur nekad, Vemei pun juga keluar, meninggalkan Vanessa yang masih ada dalam ruangan.

“Nah, ini dia si palsu!” kata Mondray begitu melihat Vemei.

Dengan gesit Mondray langsung melempar 4 buah shuriken ke arah gadis itu. 3 shuriken berhasil lolos, tetapi sebuah shuriken berhasil menggores pipi kanan Vemei hingga berdarah. Serangan Mondray yang begitu cepat membuat Vemei hanya bisa terus-terusan menghindar dan tak bisa menyerang. Tongkat sihirnya tertinggal di tahun 2020, sehingga ia tidak bisa mengeluarkan sihir secepat Mondray mengeluarkan jutsu-jutsunya.

“Ini dia yang kutunggu!” seru Mondray dengan mata yang fokus ke arah belakang Vemei.

Vemei pun memutar kepalanya. Matanya terbelalak seperti akan keluar begitu melihat Putri Vanessa ada disana. Vanessa keluar dari ruangan, hanya seorang diri, tanpa pengawal.

Agnyastra!” seru Vemei mengeluarkan elemen apinya kepada Mondray.

Hunter Mondray yang tadi sempat lengah karena kehadiran Vanessa, kini terjebak lingkaran api besar buatan Vemei. Tidak lama setelah itu, tubuh Mondray langsung gosong dan ia pun tewas dilahap api.

Perang besar telah usai. Menurut buku sejarah sihir Vemei, seharusnya tidak ada perang lagi sejak kematian Raja Mondray. Yang masih mengganjal pikiran gadis itu, Vemei Bryory tidak muncul menyelamatkan Putri Vanessa Katoji. Dialah –Vemei Misaki-lah yang menyelamatkan sang putri.

8 tahun berlalu sejak kemenangan kerajaan Penyihir. Kedua negeri sudah berdamai dibawah kekuasaan Putri Vanessa. Benar-benar tidak ada perang lagi.

Jendral Corry Lance masih memimpin barisan depan pertahanan. Throul pergi entah kemana. Sedangkan Vemei masih di istana, membantu Lance. Gadis malang itu masih belum menemukan cara untuk pulang ke tahun 2020, masih terjebak.

Tahun 1880, kini Vemei sudah genap tinggal di istana selama 8 tahun, mungkin lewat beberapa minggu. Usianya kini sudah 25 tahun. Bagaimana kabar Rena? Bagaimana dengan orangtuanya? Banyak pertanyaan yang menghantui pikirannya.

Throul tiba-tiba datang kembali ke hadapannya. Ia masih memiliki rambut coklat yang berantakan. Tubuhnya tegap dan berotot. Wajahnya masih ramah seperti terakhir kali Vemei melihatnya. Dan kini pemuda itu mengajukan pertanyaan yang nyaris membuat jantung Vemei berhenti berdetak.

“Maukah kau menikah denganku?” tanya Throul.

Karena berpikir bahwa ia tidak mungkin bisa kembali ke masanya, Vemei pun menerima lamaran pria tampan itu. Sebulan kemudian, namanya resmi berubah dari Vemei Misaki menjadi Vemei Bryory. Mereka menikah di istana Vanessa yang besar. Vanessa pun sangat senang akan pernikahan keduanya.

Seminggu setelah pernikahan, ada gempa besar di negeri itu. Lubang distorsi tiba-tiba muncul di halaman belakang rumah Vemei dan Throul. Yang mengejutkan adalah, Rena Farearth, sahabat Vemei, keluar dari lubang itu.

“Pergilah, Mei, aku tahu kalau kau selalu ingin pulang ke tempat asalmu,” ucap Throul.

Vemei masuk ke dalam lubang distorsi bersama Rena. Seketika itu juga ia dikelilingi cahaya hijau silinder, seperti saat pertama kali ia akan datang ke tempat itu. Saat ia membuka kedua matanya, ia ada di laboratoriumnya dan Rena. Ia dan sahabatnya berdiri di atas mesin waktu buatan mereka.

Gadis berambut biru itu sangat terkejut melihat kalender disana. Tanggal 26 Juli 2020. Dengan kata lain ia hanya pergi selama 2 hari. Padahal ia ada di istana selama 8 tahun.

“1 menit disini sama dengan 1 hari disana. Aku juga baru tahu tadi pagi…” kata Rena.

Vemei pun menarik nafas lega. Hari segera berganti menjadi tanggal 27 Juli 2020. Pagi yang cerah, tetapi pikiran Vemei masih kosong karena terlalu lama meninggalkan sekolah. Begitu ia memasuki sekolah, ia langsung mendengar gosip bahwa akan ada murid baru.

Gadis itu tidak peduli akan gosip panas tersebut, tetapi jantungnya berdetak kencang ketika ia melihat siapa si murid baru itu. pemuda berambut coklat berantakan yang wajahnya amat sangat familiar untuknya.

“Namaku Throul Veja,” katanya ramah dihadapan Vemei dan teman-temannya. Kemudian ia membisik sesuatu pada gadis berambut biru itu, katanya, “Dan kau pernah mengenalku sebagai Throul Bryory, pemuda yang pernah terjeabk di masa lalu dan diangkat anak oleh Carson Bryory.”

Kini semua menjadi jelas di pikiran Vemei. Dia-lah Vemei Bryory yang disebut-sebut dalam sejarah. Dan Throul Bryory, yang sebenarnya adalah Throul Veja sebenarnya juga terjebak di tahun 1872, di hari yang sama dengan Vemei tetapi jatuh di tempat yang berbeda. Throul memang adalah penyihir, tetapi ia juga bisa menggunakan jutsu, sehingga ia berpura-pura menjadi ninja di negeri Throul sampai akhirnya ia dapat kembali ke tahun 2020.

.

.

~END~

.

.
Edited by Fei Mei, 13 Jul 2013, 06:52 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone