

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Rumah Kita; T rated, Friendship | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 10 Apr 2012, 01:37 AM (694 Views) | |
| Aquamarine | 10 Apr 2012, 01:37 AM Post #1 |
|
Mau Melihat
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
(c) Aquamarine, Tranquil girl April, 10, 2012 Jujur... Apa yang bisa kau remat, kau cecap, kau pulihkan, kau lindungi, kau resapi..., Daripada rumah usang yang terhinggapi oleh urat-urat debu; hisapan-hisapan serangga besar kelabu, yang menuntut tetes demi tetes semangat yang tersisa dari darahmu? Kosong. Tipu. Sepercik helaan napas lagi. Satu busur terbangnya pesawat berbahan kertas--yang mudah tersentuh air Debu. Sesak, perih. Hujam demi hujam pada jantung yang ingin menolak mozaik demi mozaik penghancuran pada pandangan mata. Kau ingin berlari, berlari dan berlari dengan lebih ringan daripada seekor anak rusa kecoklatan yang melewati belukar demi belukar tajam, bunga berduri. Melompat lebih ringan daripada silinder belalang pada sepucuk daun yang memiliki lebar tiada akhir. Terbang bagai kupu-kupu biru-kehitaman sendu yang tak peduli bahwa ia tertanggalkan daripada warna cerahnya, namun menggenggam puisi cinta melankolis yang nampak realistis di dalam dada. Usang. Detak. Usang. Aroma. Usang Detak. Kalau memang ia usang, rumah kita ini memang benar-benar usang... Mengapa kau mendengar semilir detaknya pada telingamu... pucuk demi pucuk aromanya pada hidungmu yang mau dan malu untuk menitik pada kata menganga. Matamu yang teraliri lengket hangat beriringan dengan detak jantungmu, memanggilmu untuk mengalihkan pandanganmu. Lihatlah rumahmu, rumah kita. Yang katanya ialah lukisan jutaan cahaya pada masa lalu, namun telah teranggapkan usang. Lihatlah rumahmu, rumah kita. Yang katanya ialah perteduhan sejumlah hati yang mengasihi dan berbagi warna dan keajaiban Kini ia telah usang. Tempe, Bacem, Kurcaci, Udang! Butuh kata yang lebih sarkastis lagi untuk menerjang kebodohanmu? Tolong buka..., buka kelopak matamu sekali lagi. Kumohon... Aku ingin kau melihat apa yang kami lihat! Rumah ini, Belumlah mati. Rumah ini, Tidak akan pernah usang! Cih, klise... klise Rasionalismemu ingin menang Hatimu ingin bebas merdeka tanpa terikat oleh hujaman palsu kata cinta. Cinta adalah tempayan busuk. Cinta adalah ketika satu demi satu seratmu mewarnai diriku, lalu kau patah dan remukkan semua itu bagai sayap-sayap busuk! Tidak..., Oh, Tidak! Tengoklah! Rumah kita, Bangunan cinta kita, Masih berdiri di sana. Rumah di mana aku menganyam keteguhan dan setia yang tak terlukiskan pada atapnya lewat jemariku yang bergetar dalam keterbatasan manusia. Rumah di mana mereka membangun temboknya lewat dentuman kepalan demi kepalan tangan yang hanya berisikan cinta dan cinta, aku dan kamu Rumah di mana kau menari, meninggalkan tarian di dalamnya yang membuat kami hangat. Dan sebaliknya, kami buatkan dirimu sayap mungil berwarna putih untuk terbangmu, terbang kita. Semua itu belum berlalu. Kita masih beristirahat di sana. Walau kita adalah makhluk yang membayang. Dengan sisa lengkung ujung jemarimu yang memilin-milin sisi karpetnya. Matamu bagai safir merah yang menantikan sentuhan seperti dahulu, dahulu kala. Cinta kami masih ada di sana. Harap kami masih ada di sana! Bagi kalian yang masih ingin menggenggam dayung Bisikkan kami sang abu, yang hanya mampu menguarkan lagu cinta. Tengoklah sekarang. Bunga-bunga baru bermekaran... Seakan mereka ingin menanam jutaan kebun bunga pada halaman kita dengan warna mereka Dengan harapan yang sama Menambah energi kita, Cinta. Tangan-tangan mungil mereka membawa jarum perajut Persis untuk membuat kaus-kaus baru bagi mereka yang merasa dingin Sepasang kasut dan minuman coklat hangat-hangat kuku bagi mereka, pendahulu yang bersedia untuk berbagi tarian. Lihat senyum mereka Sama seperti senyum kami terdahulu Lihat denyut mereka Mereka berdenyut, berdenyut sama untuk rumah kita Namun, di antara sekian juta kata Apalah yang bisa kulakukan dengan seuntai tulisan? Selain kutegaskan Bahwa cinta kami Cinta kami para pendahulu Temanmu bermain ketika kau remaja dan masih mengulum manisan kayu manis, terbelepoti oleh colek pasta gigi Masih ada di belakang punggungmu yang mengilu dan merasa begitu tua Merajut bata, dan wol hangat, Pada udara sekelilingmu, dinding bangunan, taman rumah kita. Denyut kami teristirahatkan di sana. Maka, rawatlah rumah ini Bagi yang masih ingin dan mampu mendayung Harap teruskan cita-cita kami Karena sebuah jiwa, cinta, warna yang menyatu dan tulus Tak akan pernah mati Rawatlah rumah ini Milikilah rumah ini Sama seperti sekumpulan kakek dan nenek, Tante dan Om, Pemuda dan pemudi. Yang bermain seru pada permainan putarannya di halaman pada waktu lampau. Bayang yang tak pernah sesungguhnya terbakar habis menjadi bayang. Abu yang bukanlah abu. Perlihatkan kami kemilau dayungmu yang menyilaukan dan baru, maupun setengah baru. Katakan, lantangkan pada kami bahwa kau adalah cucu-cucu kami yang menyayangi rumah ini Cinta, aku dan kamu di dalamnya Maka tebaskan dayung-dayungmu pada sudut-sudut yang memintal debu. Bukalah pintu-pintu usang yang membutuhkan pencahayaan beserta jendela-jendelanya Tanamlah beberapa bunga berwarna manis di halaman rumah ini untuk mengingat kita Biarkan sinar matahari yang masih kuning tawar, dan pemalu karena baru terbit, untuk menyinari tempat di mana kami beristirahat terakhir kalinya. Ruang keluarga dengan perapiannya yang meninggalkan hangat api, jangan mengubah gambaran ini, Detik, serta segelas wine pada sisi meja, yang telah kami reguk bersama-sama dan kami tawarkan padamu Rasakan rumah ini. Panas, merah, Teduh, dan cahayanya. Hangat dan airmatanya Tawa dan hari lampau, esok dan esoknya Rumah kami |
![]() |
|
| hansel. | 27 Jun 2013, 09:36 PM Post #2 |
![]()
why-o.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
nee. T____________T *komen macam apa ini* |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:34 AM Jul 11
|
AFFILIATES







![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)





7:34 AM Jul 11