Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Ia adalah hangatmu; Hetalia Axis Powers | K+ | Angst, Family | Japan & China
Topic Started: 6 Feb 2012, 07:38 PM (324 Views)
Deleted User
Deleted User

Title: Ia adalah hangatmu
Genre(s): Family, Angst
Rated: K+
Fandom: Hetalia Axis Powers
Disclaimer: Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya
Warning: Mungkin hints shounen-ai dan Japan yang OOC. Dan maaf kalau ada kesalahan dalam sejarah aslinya, saya... jujur tidak begitu mengerti sejarah ._.

.

Kau menghunuskan pedangmu perlahan. Kau tidak peduli walau tanganmu bergetar memegang pedangmu. Ini adalah suara rakyatmu―suara yang seharusnya kau dengar sebagai seorang personifikasi negara. Kau tidak boleh mengabaikan suara-suara itu begitu saja, dan kau pun tak boleh seenaknya saja mendengar suara hatimu sendiri.

(―lalu mengapa air matamu mengalir?)

Kau menelan ludahmu, matamu menatap kosong pada pintu berbahankan kayu itu. Kau menggertakkan gigimu kuat-kuat―berusaha menahan luapan emosi dalam dirimu. Kau menutup matamu―dan menghela nafas perlahan.

Aku akan lakukan ini, itu jeritmu. Namun kau tahu hal itu tidaklah mudah untuk dilakukan. Begitu banyak kenangan―begitu banyak kebahagiaan... dan kau mulai berpikir dalam hatimu, setelah ini―akan jadi apa kau? Tanpa semua kebahagiaan lagi―tanpa suaranya yang kadang menenangkanmu ketika kau mimpi buruk. Tanpa tawanya sambil menawarkan segalam macam makanan khasnya. Tanpa―dia, gēgē-mu.

Kau mengeratkan cengkramanmu pada pedang samurai itu lagi, perlahan membuka matamu―menampakkan iris gelapmu. Kau menyeka air mata dari wajahmu, jika kau menangis untuk hal ini―maka kau adalah orang yang lemah.

Pintu itu perlahan terbuka (dan kau tahu siapa orang di balik pintu itu.) Kau memasang posisimu untuk siap menyerang. Ketika seorang lelaki dengan cheongsam merah keluar, ia menyadari kehadiranmu dan wajahnya terlihat cerah seketika. "Ah, ternyata Ržbĕn, aru! Aku kira siapa ketika aku mendengar suara di luar."

"... Chūgoku-san... Maafkan aku..."

Ia menaikkan alisnya ketika melihat pedangmu yang sudah di luar sarung, "Eh? Untuk apa pedang itu, aru?" tanyanya.

Kau menaikkan pedang itu dan menyerang bahunya. Ia refleks menghindar, sehingga seranganmu hanya menggoresnya sedikit. Ia menatapmu serius, tampak peluh mengalir lewat dahinya, "A-apa-apaan kau, Ržbĕn!? Mengapa―mengapa!?" ia mengeratkan pegangannya pada luka di bahunya, mencoba menahan keluarnya darah sekaligus amarah.

Kau menatap matanya lurus, sekali lagi kau mengangkat pedangmu, siap melukai orang yang paling kau sayangi itu (dan sungguh―kau tak sadar setetes air mata mengalir keluar lagi, meninggalkan sebuah garis tipis di wajahmu.)

.
.

Kau berjalan di sekitar pohon bambu itu. Apa kau tersesat? Kau memperhatikan sekelilingmu―dan kau tak dapat mengenali arah, bahkan kau lupa dari mana kau datang. Kau terduduk di antara pohon-pohon bambu itu, mendekatkan lututmu dan memeluknya. Apa kau akan terus ada di sini? Apa akan ada yang menemukanmu?

Apa Chūgoku-san sadar kau menghilang?

Kau terus berpikir dan berpikir―apa mungkin kau akan menemukan jalan pulang? Kau mulai bermain dengan rumput-rumput liar di dekat kakimu. Namun tidak lama kemudian―kau sudah bosan dengan itu. Kau membenamkan wajahmu di antara lututmu. Kau terlihat begitu―

―menyedihkan.

"―bĕn... Ržbĕn!!!"

Kau mengangkat kepalamu ketika mendengar suara familiar itu. Matamu terbelalak melihat wajah lelaki yang sudah merawatmu selama ini, "Chūgoku-san!!" Ia langsung berlari ke arahmu dan memelukmu erat―sangat erat. Kau bisa rasakan seluruh tubuhnya bergetar, entah itu karena cuaca yang dingin atau karena ia mengkhawatirkanmu.

"Apa yang kau pikirkan, aru!? Mengapa kau ke sini sendirian!? Kau―" ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menggertakkan giginya kuat-kuat dan memelukmu erat. Kau hanya terdiam dipeluknya―sampai kau memutuskan untuk memeluknya balik dan memejamkan matamu―merasakan hangatnya pelukannya di bawah udara dingin itu, "Maaf, aku takkan sembarangan pergi lagi..."

.

"Ra-ramai sekali, aru."

Kau berusaha menyelip di antara keramaian itu. Karena tubuhmu sebagai personifikasi negara yang masih kecil, mau agak mudah melewati mereka. Namun justru karena alasan tubuhmu yang kecil itu, kau sulit menemukannya―kau terlalu rendah.

"Chūgoku-san!!" teriakmu, mencoba menarik perhatian lelaki ber-cheongsam itu―namun kau tidak mendapatkan jawaban apapun. Kau mulai panik. Mungkin kau memang bisa melewati lautan manusia ini―tapi tidak akan semudah itu untuk menemukannya. Tubuhmu mulai bergetar―kau takut.

Kau menelan ludahmu, "Chū-Chūgoku-san!!" teriakmu sekali lagi.

Tiba-tiba kau merasa tanganmu ditarik, langsung saja kau menoleh ke orang yang menarikmu. Betapa leganya dirimu ketika kau melihat itu adalah Chūgoku-san sendiri. Ia langsung mendekatimu dan berlutut di hadapanmu, "Maaf, kau hampir saja hilang! Untung kau ada memanggilku, aku jadi tahu kau ada di mana, aru."

Kau mengangguk. Ia berdiri dan menggandeng tanganmu, "Ayo―aku tak ingin kau sampai tertinggal!"

Di kerumunan yang sesak itu, di antara manusia-manusia itu, ada kau―dan Chūgoku-san... Tangannya menggenggam erat milikmu, dan kau hanya mengikutinya dengan senyum tipis, terus berpikir betapa nyamannya tangan kalian yang bersentuhan.

.

Kau duduk rapi di depan meja. Kau sedang mencoba menulis-nulis tulisan kanji yang diberikan Chūgoku-san beberapa hari yang lalu. Kau tiba-tiba menghentikan pekerjaan tanganmu dan menatap kosong kertas itu sejenak. Kau menurunkan kuas yang sedang kau pegang itu dan meletakkannya di meja. Kau menghela nafas panjang. Sudah sekitar dua minggu kau tak bertemu Chūgoku-san, padahal seharusnya bagi kalian yang hidup sangat lama ini―waktu dua minggu bukanlah apa-apa.

Namun ini―mungkin adalah dua minggu terpanjang yang pernah kau rasakan.

Entah sampai kapan lagi baru kau akan bertemunya. Kau meregangkan badanmu dan berdiri. Kau memperhatikan sekitarmu dan melihat sebuah foto terpajang di sana. Kau berjalan mendekatinya dan mengambil frame foto itu. Sebuah senyum tipis terbentuk di wajahmu, di atas foto itu ada kau dan Chūgoku-san (Shinatty-chan pun ada di belakang.)

Tiba-tiba dering telepon menyadarkanmu dari pikiranmu. Kau menurunkan foto itu dan mengangkat telepon yang terletak hanya di sebelah foto itu.

"Moshi-moshi, Nihon desu."

"Ržbĕn, bagaimana kabarmu? Di sini melelahkan sekali, aru!"

Kau membulatkan matamu, "Chūgoku-san! Anda tumben menelepon ke sini?" Terdengar suara tawa kecil dari seberang telepon, "Ya, begitulah. Aku kebetulan sudah lebih tidak sibuk, jadi aku putuskan untuk menelepon rumah. Bagaimana kabarmu? Aku rindu makan makanan rumah, aru!"

Kau tersenyum, "Ya, saya baik-baik saja. Saya akan usahakan untuk membuat makanan khas anda ketika anda pulang," jawabmu.

Ia menghela nafas, "Tapi kau selalu saja berakhir dengan membuat makananmu ketimbang makananku sendiri, aru," ia tertawa lagi. "Haah, sungguh aku rindu rumahku yang hangat."

Kau menutup matamu, ya, kau pun rindu padanya. Rindu pada kehangatan yang ia berikan. Namun kau rasa―mendengar suaranya saja sudah cukup saat ini.
________________________________________
"Shh... gēge ada di sini. Jangan takut... semua akan baik-baik saja, aru..."

Kau terisak dan perlahan mengeratkan pelukanmu pada lengannya, sedikit membasahi bajunya. Ia mengelus kepalamu lembut, "Sudah, sudah... mimpi buruk itu takkan datang lagi. Tidurlah, Ržbĕn..." Kau perlahan menutup matamu, "Chū-Chūgoku...san... tidak akan... pergi... kan?"

Ia tersenyum hangat, "Tidak... aku takkan pergi, aru. Aku akan selalu―selalu di sini..."

.
.

Sekujur tubuhmu penuh luka, begitu pula dengan personifikasi negara di depanmu ini. Punggungnya terluka parah karena ia gagal menghindar dari seranganmu sebelumnya. Ia jatuh berlutut dan nafasnya terengah-engah, begitu lelah menghindarimu.

Tiba-tiba saja ia jatuh terlungkup, namun kau tahu ia masih sadarkan diri―paling tidak hanya tinggal sebentar saja sebelum ia pingsan total.

"Ržbĕn... Kenapa―aru?" ia memulai percakapan walau untuk bernafas saja sulit untuknya. Kau mengepalkan tanganmu erat-erat. "Jawab―Ržbĕn, menga―uhuk!" kalimatnya terpotong oleh batuknya. Perlahan ia semakin lemas dan matanya mulai tertutup.

Kau hanya diam.

Kau tidak berniat untuk membalas (menjawab pertanyaannya terlalu berat untukmu.) Kau hanya membiarkannya―membiarkannya perlahan kehilangan kesadarannya, membiarkannya tetap dalam sebuah tanda tanya besar. Kau menggigit bibirmu, menahan keinginan untuk langsung mendekatinya dan mengobati lukanya, menahan niatmu untuk langsung tertawa dan mengatakan bahwa ini semua hanya bercanda, kau hanya sedang latihan.

"Kau... siapa? Ržbĕn-ku takkan―melakukan... hal ini."

Bodoh. Sungguh, ia bodoh. Ržbĕn-nya ada di sini―di depannya, mencoba melukainya, membuat darahnya merembes keluar. Membuat tanganmu penuh dengan darah segarnya―dan Ržbĕn kesayangannya-lah yang melakukannya, bukan?

Ia sudah tidak berbicara lagi. Kesadarannya sudah hilang. Kau membalikkan badanmu, perlahan kau masukkan pedangmu ke dalam sarungnya. Kau menoleh ke arahnya lagi―hanya untuk memastikan bahwa ia memang sudah tidak sadarkan diri.

Kau perhatikan kedua tanganmu―basah oleh darahnya, darah orang yang telah membesarkanmu. Perlahan kau mengepalkan tanganmu―bahkan darahnya pun hangat, pikirmu. Setiap inci dari dirinya memang selalu menghadirkan kehangatan, eh?

.

Note: (1) gēge: kakak laki-laki dalam Chinese ; (2) Ržbĕn: Jepang dalam Chinese

A/N: Uwaa, maaf kalau gaje. A-apalagi judulnya sangat nggak banget "orz
Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone