Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Ω; angst; t
Topic Started: 3 Jan 2012, 04:52 PM (1,267 Views)
sylviolin
Member Avatar
good bye.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
warning: pendek, kind of drabble format; nggak dibeta; plotless; timeline loncat loncat dan ngebingungin, aku tau -_-
.
.
Sampai ujung batas takdir;
sampai napas paling akhir;
sampai batu nisan terukir.


(@blindgameagain—dengan sedikit perubahan)
.
.

Sambil menggendongnya di punggungmu, kamu berlari.

Merah mewarnai rambut hitamnya, darah terus mengucur dari bagian kepalanya yang mengalami benturan.

Kamu butuh rumah sakit, segera. Oh, atau setidaknya, klinik.

Tak ada gerakan. Ia hanya bergeming, walau hembusan napasnya masih terasa di belakang telingamu.

Berlari, berlari, berlari.

Jeda antar napasnya semakin panjang, frekuensi napas permenitnya sepertinya semakin sedikit. Sebelum napasnya berhenti...

—tidak. Napasnya tak boleh berhenti.
.
.
Ω
© sylviolin—january 2012
.
.
Putih, putih, putih, putih, put—

Ia diselubungi oleh warna putih. Baju yang telah ia kenakan selama empat hari, cat dinding, sprei, dan seragam seorang perawat yang sedang mengganti cairan infusnya—semuanya putih.

"Belum sadar juga, ya, Tuan?" perawat itu bertanya kepadamu.

"Hu-uh," kamu mengangguk.

"Tuan tak mengantuk? Ini memang ruang VIP, pengunjung boleh menungguinya 24 jam, tetapi... saya sarankan untuk selalu menjaga kesehatan Tuan."

"Terima kasih, Suster."

"Saya keluar dulu, Tuan. Silakan tekan tombol di sisi tempat tidur jika butuh sesuatu."

Perawat itu melangkahkan kakinya menuju pintu, kemudian keluar (meninggalkanmu dan ia di dalam ruang rawat). Kamu kembali duduk di sisi tempat tidurnya, kamu genggam tangan kirinya erat. Memandang botol infus yang tergantung, kamu menghela napas. Berapa tetes—bukan, berapa botol infus lagi yang ia perlukan sampai ia bisa sadar? Atau mungkin, ia tidak akan sadar...

—tidak. Ia harus sadar.
.
.
Karena matamu tak sanggup lagi menahan kantuk, kamu tertidur. Dan kamu terbangun saat merasa tangannya menggenggam balik tanganmu.

"Clara..."

Menatapmu dalam, ia tersenyum. Ah—sudah berapa lama kamu tidak melihat senyumnya, sampai kamu bisa merasa sangat bahagia saat melihatnya lagi kali ini? Kamu merasa sangat tenang saat melihat lengkungan yang tercipta di bibirnya. Tentu saja, rasa itu tercipta karena akhirnya ia sadar dari komanya, bukan?

"Clara... akhirnya..."

Ia menggenggam tanganmu lebih erat lagi. Sangat, sangat, sangat erat—seolah ia takut kamu pergi meninggalkannya.

"Clara?"

"Syukurlah—bisa sampai akhir."

Setelah kalimat itu terucap olehnya, perlahan, genggamannya melemah. Matanya kembali tertutup, dan—

—piiiiiip.
Garis-garis yang biasanya naik turun di monitor Holter kini berubah menjadi lurus. Datar. Tidak ada fluktuasi sama sekali.

"Clara? Clara?" berdiri dari bangkumu, kamu hanya bisa menjeritkan namanya sambil mengguncang-guncangkan bahunya, "Bangunlah! Mengapa kamu tidur lagi, bukankah—"

Matamu menangkap tombol hijau di sisi tempat tidur. Tanpa pikir panjang, kamu tekan tombol itu, berharap perawat dan dokter segera datang. Selanjutnya, detik demi detik yang kamu lalui selanjutnya terasa sangat, sangat, sangat panjang. Kamu hanya ingin tenaga medis cepat datang. Dan sambil menunggu, kamu terus mengguncang bahunya, menepuk pipinya, dan—

"Ya, Tuan?" tanya seorang perawat sambil membuka pintu.

"Dokter. Saya butuh dokter."

Melihat garis nol derajat di monitor Holter, perawat itu langsung keluar ruangan. Beberapa saat kemudian, ia kembali bersama seorang dokter dan satu perawat lainnya, membawa defibrilator dan alat bantuan hidup lainnya.

Seorang perawat menempelkan dua elektroda di dadanya, seorang lagi menempelkan sungkup ambu bag—sebuah alat yang digunakan untuk membantu pernapasan—menutupi hidung dan mulutnya. Sang dokter menatap monitor itu, kemudian ia memberi aba-aba beberapa saat kemudian.

Beberapa kali sudah listrik dihantarkan dari defibrilator itu ke dinding dadanya, tetapi tidak ada perubahan—garis itu masih tetap datar. Rangsangan demi rangsangan terus diberikan agar jantungnya bisa berdetak kembali.

Sayangnya, semua seolah sia-sia.

Dan setelah kejut jantung yang kesekian, dokter itu menginstruksikan kedua perawat untuk berhenti, dan sebuah kata maaf terucap.

Tiga orang berseragam putih itu merapikan alat-alat resusitasi. Kamu hanya bisa diam.
.
.
Satu demi satu orang berbaju hitam berjalan meninggalkan pemakaman itu. Sampai akhirnya, tinggallah kamu sendiri di sana.

Satu tetes air jatuh ke atas kepalamu. Kamu tengadahkan kepalamu—hujan. Bahkan langit pun tahu apa yang kamu rasakan. Langit mewakilimu untuk menangis, karena—entah kenapa—bulir-bulir air matamu seolah tertahan.

Kembali kamu tatap tanda salib di atas tanah itu. Kenangan demi kenangan datang tanpa kamu inginkan—dari saat kamu pertama kali mengenalnya sampai saat terakhir ia ada di dunia, semuanya melintas di pikiranmu.

Hujan semakin menderas; dan kamu tetap bergeming di sana.

Akhirnya, kamu berlutut di sebelah makamnya. Mengusap foto di atas tempat peristirahatan terakhirnya, kamu berkata,

"Terima kasih."
.
.
(Bahkan sampai akhir, hal yang paling ia syukuri di hidupnya adalah bahwa ia dapat mencintaimu.

"Syukurlah—bisa sampai akhir."

Itu kan kalimat terakhir yang ia ucapkan?)

.
.


err, i-ini kalo gasalah yang namanya ambu bag dan defibrilator

dan haha. aku tau ini ngaco....... cuma pelampiasan karena pengen bikin angst, walaupun jadinya gak angst -_-" that's all ._.
dan namanya itu sumpah ngasal =)))
soal kalimat "syukurlah, bisa sampe akhir"... itu kisah nyata... walau nyata tapi dalam mimpi (?) pokoknya gitu -_-" /fail
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone