Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 3
Hantu Infantrum; ...mau dijadikan RGF berantai?
Topic Started: 8 Nov 2011, 08:53 AM (4,057 Views)
ambudaff
Member Avatar
Reinkarnasi
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
HANTU INFANTRUM

Real Ghost Fiction pertama di forum Infantrum

Diketik atas paksaan Sanich Iyonni dan sylviolin, sambil disoraki embah fleddie melculi dan Dani-sama


-o0o-


Jangan ngeklaim untuk ikut suatu challenge kalo merasa tidak bisa menyelesaikannya.
TTD, Hantu Infantrum.



Abad Kesepuluh.

Di Indonesia memang belum banyak yang menulis. Bisa dikatakan, masih belum ada budaya menulis. Etapi, di abad 21 inipun masih belum banyak yang nulis deng. Paling kebanyakan nulis gaje di tuiter.

Kembali ke budaya menulis. Di benuaku, menulis sudah menjadi budaya. Apalagi kami sesama penulis sudah bisa saling berhubungan. Persis seperti kalian di abad keduapuluhsatu melalui benda yang bernama internet itu.

Kami menggunakan Palantir. Okey, itu yang dipakai di dalam Lord of the Ring oleh JRR Tolkien. Jangan bilang plagiat ya, ini cuma pinjem istilah, biar kedengerannya keren.

Kami saling berhubungan, sesama penulis. Kami membicarakan tulisan-tulisan kami, bagaimana agar bisa lebih baik, bagaimana agar kami tidak macet dalam menulis, dan sebagainya. Sebagian penulis mengusulkan agar ada semacam tantangan menulis. Challenge. Biar ada gairah. Menulis dengan semangat.

Jadi, malam itu aku sedang tak bersemangat menulis, tatkala aku teringat bahwa ada beberapa challenge yang belum aku baca, dan belum aku klaim. Malas-malasan aku mencoba membuka palantirku dan mencari-cari thread pembicaraan challenge, ketika aku merasa bahwa palantirku agar tersendat jalannya.

Mungkin mau hujan deras.

Oya, sekedar mengingatkan, palantir kepunyaanku ini bukan versi terbaru. Bisa dibilang old fashion. Maklum, koin emas kepunyaanku tidak banyak. Jadi yang kubeli cuma palantir second. Yang penting bisa berfungsi.

Kalau hujan lebat seperti ini, jalannya agak tersendat. Mungkin pengiriman sinyalnya kurang bagus, terhalang oleh awan tebal dan petir menyambar-nyambar. Berbeda dengan palantir mutakhir yang sudah tahan segala cuaca.

Tapi, aku sudah terlanjur memasukkan kepalaku ke dalam palantir 1). Malas keluar lagi. Lagipula, aku belum menemukan challenge yang aku cari, yang kuperkirakan bisa menaikkan semangat menulisku lagi. Jadi, aku berusaha terus agar palantirku mau menampilkan thread-thread challenge itu—
.
.
.
.

JDERRRR!

Aku belum pernah mendengar petir sekeras itu. Aku belum pernah melihat kilasannya seterang itu. Aku belum pernah merasakan tersambar petir sebesar itu—

—tentu saja tidak pernah. Paling tidak selama hidupmu. Karena kalau kau sudah pernah tersambar petir sebesar itu, namamu tinggal kenangan.

Dan sepertinya namaku juga akan tinggal kenangan.

Karena dalam beberapa jam kemudian—hujan badai dan petir sudah berhenti saat itu—orang-orang mengerumuni meja kerjaku, menunjuk-nunjuk pada meja kerjaku, menunjuk-nunjuk pada diriku, dan kemudian baru kusadari bahwa mereka menarik jasadku—kepalaku harus dikeluarkan dulu dari palantir

Eh! Menarik jasadku? Lalu, aku ini apa? Bisa melihat semua yang terjadi di meja kerjaku, di kamar kerjaku, tapi tak dipedulikan oleh orang-orang yang semakin banyak berdatangan. Ada tabib, dan kedengarannya dia menyebut-nyebut ‘tak bisa diselamatkan’...

...

Tak bisa diselamatkan bagaimana? Aku tak bisa diselamatkan? Aku mati?

Tapi aku masih mau menulis! Semangat menulisku yang tadinya rendah itu, sedang memuncak! Aku mau menulis! Tentang cinta, tentang prahara, tentang fantasi, tentang~

Tunggu dulu!

Tadi aku kan sedang mencari-cari, mau menulis tentang apa?

Ah ya!

Dan aku sudah berusaha untuk masuk kembali ke dalam palantir, saat aku menyadari, bahwa palantir yang akan kumasuki ini sudah rusak karena sambaran petir tadi. Gosong.

Aku terduduk lemas.

Saat masih hidup aku tak bisa menulis dengan bebas. Sekarang sudah mati juga, tetap saja aku tidak bisa menulis dengan bebas.

Galau, aku galau!

Melayang berputar-putar di sekitar area perumahanku. Tak puas, aku melayang keluar, melayang berputar-putar di area taman di sekitar.

Dan hasilnya, serombongan pengusir setan melakukan serangkaian ritual yang menyakitkanku, dan membuatku terpaksa pergi jauh-jauh.

Bagaimana kalau... melihat palantir punya orang saja ya?

Memang palantir hanya bisa dimasuki orang yang tahu kata kuncinya, tapi kami para penulis sudah berteman akrab, sehingga aku tahu kata kunci dari beberapa palantir teman.

Jadi, aku mencobanya.

Tapi, tenyata para penulis ini juga sudah bersiap meng-exorcist-ku, mengusirku.

Aku kan bukan setan, bukan iblis! Sepengetahuanku, exorcist itu untuk mengusir iblis yang kerjaannya mengganggu manusia. Sedang aku kan bukan setan, bukan iblis, dan aku tidak ingin mengganggu siapa-siapa! Aku hanya ingin melihat dan mencari tantangan menulis apa yang sedang dilaksanakan bulan ini, lalu aku akan menulis. Itu saja!

Tapi rupanya tidak bisa. Manusia menganggap bangsa-bangsa dari alam gaib itu sama saja, akan mengganggu mereka. Maka mereka akan mengusir, akan membuat lingkungan sekitarnya bebas makhluk gaib.

Kalau tiap orang melakukan hal seperti ini, lalu kami makhuk gaib harus tinggal di mana dong?

Aku berkelana ke sana ke mari. Mencari-cari tempat yang bisa didiami. Jangankan untuk menulis, untuk hidup tenang saja susah. Hiks—

Entah sudah berapa abad, ketika aku merasa ingin mencari lagi kesempatan untuk menulis. Jadi, aku mulai mencari.

Dan aku mendapati, manusia sudah memiliki hal yang dinamakan internet. Mereka bisa saling terhubung, kapan saja, di mana saja. Yaiy! Dan tidak banyak titik di internet yang dijaga exorcist! Jadi aku bisa bebas keluar masuk, gentayangan di sini!

Etapi, banyak hal-hal yang... ewww! Manusia-manusia ini kok nggak pada pakai baju ya? Jauh-jauh ah, dari situ! Aku kan mau mencari tempat untuk menulis, untuk mencari ide untuk menulis.

Dan hari ini aku memperolehnya. Alamatnya di zetaboards.com/Infantrum/index. Di situ ada banyak sekali tantangan untuk menulis! Penulis-penulisnya juga banyak, dan sepertinya keren-keren!

Sepertinya beberapa hari—atau minggu atau bulan atau bahkan mungkin tahun—aku akan dengan sukarela terperangkap di sini! Aku akan menulis! Yaiy, setelah berabad-abad, aku akan menulis! Alangkah senangnya!

Kau tahu betapa senangnya aku bisa menulis lagi setelah sekian abad?

Karena itu, jangan menyia-nyiakan kesempatan menulis. Wahai kalian manusia penulis, kalau kalian sudah mengklaim satu Challenge dan tidak menyelesaikannya, aku akan menghantui kalian terus, sampai kalian menulisnya hingga selesai!

Dan aku juga akan menulis! Tunggu aku ya, Challenger, aku akan memasukkan klaim! Ciao!

FIN
Sementara


1) Bayangkan untuk berhubungan dengan orang lain lewat palantir, kita harus masukin kepala di dalam palantir, dan palantir akan bekerja di dalam otak kita, hihi!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
fariacchi
Member Avatar
hanya tinggal nama
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Quote:
 
Wahai kalian manusia penulis, kalau kalian sudah mengklaim satu Challenge dan tidak menyelesaikannya, aku akan menghantui kalian terus, sampai kalian menulisnya hingga selesai!







*brb kabur sejauh mungkin*
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dani
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
di bawah
 
13 users reading this topic (11 Guests and 1 Anonymous)
Members: Dani

Hantunya ikutan!

Wah, gimana nih, mbu... aku sering ngeklaim-ngeklaim doang. *merinding*
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sylviolin
Member Avatar
good bye.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
aku datang ~(' '~)

1.
 
Diketik atas paksaan Sanich Iyonni dan sylviolin, sambil disoraki embah fleddie melculi dan Dani-sama
apanih =)) #plak
aku tak memaksa, hanya meminta dengan paksaan :9 *apa bedanya woy*

2.
 
Etapi, di abad 21 inipun masih belum banyak yang nulis deng. Paling kebanyakan nulis gaje di tuiter.
#JLEBtothemax
;_____;

3.
 
Wahai kalian manusia penulis, kalau kalian sudah mengklaim satu Challenge dan tidak menyelesaikannya, aku akan menghantui kalian terus, sampai kalian menulisnya hingga selesai!
#makinJLEBtothemax -,-
gi-gimana kalo diselesaiin tapi gak dipublish? #eh

owleen, ini misteri yang keren sekali \(^,^)/
fic misteri pertama yang mau kubaca dan berulang ulang kali ~(' '~)
kasian juga ya si hantu itu -_-"

pengen ada sekuelnya deh........... #ngaco
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
ambudaff
Member Avatar
Reinkarnasi
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@fariacchi: dikejar hantunya XD

Dani: yah, ajak ngomong aja hantunya, kali aja ada keringanan XPP

sylv: lha, kan kata Sanich, mau dibikin RGF berantai, ayo pada bikin sekuelnya! #nyengir
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Fleddie Melkuli
Member Avatar


*nerusin sorak-sorak*

untung deh saya gak suka sembarangan klaim challenge. klaim babuseksi sih sering beraaat!
eh tapitapi... kalo gak ada yg nerusin RGF ini, entar hantunya gentayangan terus dong?
:excited:


hantu yang baik,
kamu gak pengen bikin challenge juga? :waves:
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
hansel.
Member Avatar
why-o.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Quote:
 
Galau, aku galau!
=)) =)) =))

Quote:
 
Etapi, banyak hal-hal yang... ewww! Manusia-manusia ini kok nggak pada pakai baju ya?
HUAHAHAHAH =))

Quote:
 
Wahai kalian manusia penulis, kalau kalian sudah mengklaim satu Challenge dan tidak menyelesaikannya, aku akan menghantui kalian terus, sampai kalian menulisnya hingga selesai!
a-astagah =)) *pasang kekkai supaya ga dihantui*

Quote:
 
Tunggu aku ya, Challenger, aku akan memasukkan klaim! Ciao!
^a-apaa? =)) *tepoktepok para challenger*

ambu, ini.. idenya bagus banget ="))
FIN sementara berarti akan dilanjutkan lagi nantinya? yay! :3


...trus.. itu usernamenya sylvi kenapa namanya =)) =)) =))
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sanich Iyonni
Member Avatar


Ardhan-san
 

Quote:
 
Galau, aku galau!
=)) =)) =))


Tadinya saya mau bereaxi seperti ini tapi udah keduluan :P

***

Ambu-san, saya bukan penggemar LoTR. Nonton pun cuma sekali, yang ketiganya doang dan naksir abis sama Legolas si ganteng. Jadi saya gak punya bayangan palantir itu seperti apa. Kayak apa sih? Kayak modem gitu bukan? o_O Tapi kok kepalanya bisa dimasukin ke dalamnya? Beneran saya gak kebayang palantir itu kayak apa..... image please? ;)

Btw saya bertanya-tanya, selama sebelas abad itu si hantu ngapain aja yah? Sebelum dia memutuskan gentayangan di internet? =))

Tapi saya suka banget pesan moral cerita singkat ini! Bahkan orang gaje itu jadi hantu selama sebelas abad cuma karena dia blm kesampean nulis. Hasrat menulisnya sangat mengagumkan! :D Saya nggak mau kalah sama Hantuuuuu!!!

Quote:
 

Jangan ngeklaim untuk ikut suatu challenge kalo merasa tidak bisa menyelesaikannya.
TTD, Hantu Infantrum.


SAYA MAU NUMPANG NAMBAHIN YA, Ambu-san dan Hantu-sama:

Quote:
 
Jangan pernah bikin challenge kalo merasa tidak bisa mengurusnya.
TTD, Moderator Challenge.


-----

Makasih udah menulisnya :D
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Zen.X.F
Member Avatar
Jane Austen's Severus Snape.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Quote:
 
Jangan pernah bikin challenge kalo merasa tidak bisa mengurusnya.
TTD, Moderator Challenge.


*BUANG DIRI KE JURANG* TT____________TT

*mampir cuma buat menggalau* #PLAK
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
ambudaff
Member Avatar
Reinkarnasi
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Ayo, ayo, pada nerusin RGF-nya! Jadiin berantai biar jangan berhantu #eh #hihi

Okey, jadi edisi berikutnya, pesan si hantu itu

Quote:
 
Jangan pernah bikin challenge kalo merasa tidak bisa mengurusnya.
TTD, Moderator Challenge
ya? #nyengir
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dani
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Apa saya perlu bikin kelanjutan dimana hantunya pingin ikut Halloween Challenge karena sangat mewakili perasaannya (?), tapi tahun ini gak ada trus dia ngamuk-ngamuk dan protes dengan cara menggandakan diri sebagai guest? =))

*ditimpuk rame-rame*
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
ambudaff
Member Avatar
Reinkarnasi
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Bikiiiin! Hantu kloning XDD

Zen udah mau nerusin, Dani juga, ayo kita ramaikan RGF!


Edit to Add:
@Sanich: Palantir itu seperti ini
Edited by ambudaff, 9 Nov 2011, 12:10 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ann-chAn
Member Avatar
Kirei na koe de
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
....masalah hantu pun bisa jadi cerita yang, hehehe, konyol gitu ya. Ambu hebat! ;)
Saya ngakak baca cerita ini. Hantunya mengikuti perkembangan jaman booo! Gimana caranya dia ngetik ya...
dan ada promosi terselubung lool =))
Kata-katanya sudah saya terapkan lho, Ambu! Saya nggak pernah klaim selain sudah yakin bisa selesai fanfic-nya! Kecuali sekali, saya klaim di awal tapi nggak pernah bisa menepati janji... *lirik Paradedication* *dikejar faria-san dan sanich-san*

Saya jadi pengen ikutan bikin juga... Bagaimana perjuangan si Hantu untuk bisa ngetik... =))
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Zen.X.F
Member Avatar
Jane Austen's Severus Snape.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Ini saya publish sekuelnyaaaaaaa!

Hantu Infantrum:
Night Patrol


Case 1: The Unfinished Challenge

Rumah besar itu--yah, memang sangat besar. Terletak di tengah-tengah wilayah yang sangat asing dan terpencil, rumah itu mungkin dibangun puluhan atau ratusan tahun yang lalu oleh kerabat raja atau saudagar kaya. Bergaya Belanda dan dikelilingi hutan gelap serta danau yang luar biasa besar, malam itu tampak cahaya memancar dari salah satu jendelanya.

Memang, rumah tua itu kali ini ada penghuninya. Seorang wanita muda--sebut saja Bunga--baru saja memutuskan untuk menyewa rumah di pinggiran Jakarta ini, supaya ia dapat menulis dengan tenang. Ya, dirinya adalah penulis, dan terkadang riuh kota besar membuatnya tak bisa berfokus pada pekerjaan ini.

Malam itu, Bunga memutuskan untuk berendam sejenak dalam bak mandinya sebelum menerjunkan diri ke alam mimpi. Seharian ia sudah penat menulis.

Kamar mandinya tidak luas, tapi kesan tuanya sungguh terasa. Sebuah bathtub berdiri gagah di tengah, dan wastafel berada persis di seberangnya. Bunga meluruskan kaki dan tangannya di dalam bathtub, merilekskan diri, sementara busa-busa tebal menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ia menyandarkan kepala pada sisi bathtub. Berendam di air hangat begini selalu membuatnya mengantuk...

...tunggu dulu.

Sudut matanya menangkap gerakan di dalam kamar mandi itu!

Dan Bunga telah melihatnya, dengan jelas, sejelas-jelasnya. Tepat di seberang bathtub-nya, di atas wastafel batu, terdapat sebuah cermin besar dengan pinggiran berukir perak.

Ada tulisan di cermin itu.

Air mandinya yang hangat telah membuat cermin itu beruap. Dan cermin tersebut telah ditulisi pada uapnya, seolah ada jari tak kelihatan yang menyentuh kacanya untuk menciptakan deretan huruf besar-besar. Bunga terhenyak, jantungnya berdebum-debum menggedor rusuk, dan bulu kuduknya meremang...

Tulisan itu hanya berisi satu kata: SELESAIKAN.

Apa... apa yang diselesaikan?

Ia masih terpaku di tempatnya, sementara busa-busa yang mengapung di permukaan air semakin menghilang, menampakkan air sabun yang cukup jernih walaupun masih sedikit putih keruh. Bunga mencengkeram tepi bathtub dengan pandangan terhantam pada cermin.

Ngeri.

Dan tiba-tiba saja, sesuatu membuatnya menjerit.

"AAAAAAA!"

Ia merasakan kakinya dijerat oleh sesuatu, dari dalam air!

Bunga bergerak ketakutan, menendang, mencebur, membuat air melimpah-ruah dari bak itu, membanjiri lantai. Tidak--kakinya bukan dijerat, melainkan dicengkeram oleh sesuatu, sesuatu yang seperti... tangan.

Tangan dingin, sebeku es, dan sekokoh baja.

Bunga mengira dirinya akan segera mati di tempat. Debur jantungnya sudah tak terkendali, dan ia sudah hampir tak bisa bernapas...

Sebentuk bayangan muncul dari dalam air mandinya. Hitam dan semakin membesar. Kini kepala Bunga sudah terendam dalam air, ditarik oleh tangan-tangan itu, sementara bathtub berdentang-dentang ditendang. Bayangan itu berputar dan semakin terangkat ke permukaan air, semakin tampak nyata.

Ketika mulut Bunga terbuka untuk menjerit, air merangsek dalam paru-parunya. Mencekik.

Sosok itu memiliki wajah putih, dan rambutnya terurai kotor menjuntai menutupi wajah itu...

Ia berbicara dalam gema aneh seperti dari dimensi lain.

"Selesaikan apa yang telah kau klaim."

.

.

.


Malam itu, seorang administrator Infantrum--sebut saja Mawar--sedang online sendirian. Berpatroli. Saat itu pukul tiga pagi, dan jelas saja tidak ada seorang pun anggota forum yang masih bangun pada waktu itu.

Atau setidaknya, begitulah yang disangka Mawar.

Pertama-tama, ia mengecek topik yang dimulai oleh dirinya sendiri. Sebuah challenge. Mawar adalah salah satu anggota Infantrum yang cukup aktif, dan ia juga sedang mengadakan sebuah challenge. Kebetulan, challenge tersebut akan segera berakhir besok malam. Ia berharap semua peserta yang sudah mengklaim prompt masing-masing sudah menerbitkan fanfiksi mereka... namun ia kecewa.

Masih ada satu peserta yang belum menuntaskan klaimnya. Seorang member Infantrum bernama Bunga.

Yah, sudahlah, pikir Mawar. Mungkin, Bunga sedang sibuk dan tidak sempat menyelesaikan fanfiksinya.

Mawar meninggalkan topik challenge-nya dan mulai berpatroli lagi. Namun kemudian ia menyadari ada yang aneh.

Ia melihat sesuatu yang ganjil. Di subtopik challenge. Ia tahu, sekarang jam tiga pagi, dan mestinya ia sedang online sendirian.

Namun kini jelas-jelas tertulis di sana: 7 guests are viewing this topic.

.

.

.


Case 2: The Real Person Abuse

"Selamat datang di Hotel Indah Permai."

Seorang gadis tersenyum sambil memasuki lobi hotel yang kecil dan sederhana itu. Gadis itu--sebut saja Melati--ia memang tidak mengharapkan untuk menginap di hotel mewah dan semacamnya. Lagipula, ini adalah pekerjaannya.

Sejak dulu, Hotel Indah Permai memiliki reputasi yang sangat buruk. Sebagian besar--atau bisa dibilang semua--pelanggan yang pernah menginap di hotel tersebut selalu mengeluh mendapat gangguan. Gangguan berupa suara-suara maupun penglihatan-penglihatan yang menakutkan. Sudah rahasia umum bahwa hotel itu... berhantu.

Dan pekerjaan Melati adalah fotografer alam gaib.

Dia ada di sini sekarang untuk memotret semua penampakan yang kabarnya superseram itu. Sebagai fotografer hantu yang sudah cukup berpengalaman, Melati telah membiasakan diri untuk tidak lagi merasa takut pada hal-hal semacam itu.

Setelah diberikan kunci kamar, Melati menaiki tangga reyot dari kayu yang mengarah ke lantai dua hotel. Ia tidak membawa apa-apa, hanya kamera khusus yang digantung di lehernya dan kunci yang bergemerincing di tangannya. Ia berjalan dengan langkah-langkah kecil hati-hati menuju pintu kamar yang dipesannya: kamar yang konon menjadi kunci misteri bagi seluruh penampakan di hotel tua ini.

Kamar nomor 13.

Selagi ia berjalan, Melati sudah bisa merasakan hawa-hawa yang tidak lazim. Sebagai seseorang yang sudah sering menyusuri jejak-jejak gaib, ia sudah sangat terbiasa merasakan hal-hal seperti itu. Memang, rasa-rasanya ada sesuatu di kamar 13 itu.

Ia tiba di depan pintunya, lalu mengintip lewat lubang kunci...

Dilihatnya sebuah ruangan kecil dengan beberapa perabotan tertata lengkap di dalam. Tidak ada yang aneh dengan ruangan itu, namun Melati terus mengintip dengan mata nyalang, berusaha menemukan keganjilan apa pun, sampai kemudian--ia melihatnya! Ada sesuatu yang bergerak di dalam ruangan itu!

Bayangan. Putih. Melayang.

Melati tersenyum kecil. Ada hantu, ada uang. Bagaimanapun, ini adalah profesinya.

Ia memasukkan kuncinya ke lubang kunci dan memutarnya. Suara keras menggaung di lorong itu ketika kunci diputar, membuatnya merinding.

Didorongnya pintu kamar pelan-pelan ke dalam.

Kamera diangkat setinggi dada, dinyalakan dengan bunyi klik pelan. Benda canggih itu bisa mendeteksi keberadaan apa pun yang memiliki frekuensi dan suhu yang berbeda dari lingkungan normalnya. Melati menyadari benda putih tadi melayang menuju ruangan sempit di sisi lain kamar, semacam ruang rias dengan lemari-lemari berjajar di dindingnya. Benar saja, kameranya berkedip semakin cepat ketika ia berjingkat mendekati ruangan itu...

Bersiaplah, pikirnya. Ini dia.

Setibanya di depan pintu ruang rias itu, ia mulai menjepret. Beberapa kali. Melati mengecek hasil jepretan kameranya, tapi lorong di depan pintu itu tampak bersih dari makhluk gaib.

Lalu pintunya didorong lebar-lebar hingga terbuka.

Gelap sekali di dalam sana. Melati mengulurkan tangan, meraba dinding, mencari-cari sakelar--

--dan menyentuh sesuatu yang dingin.

Ada yang menempel di dinding. Sangat dingin, beruas-ruas...

Seperti jari.

Melati tak gentar. Tanpa kenal takut, ia tetap meraba dinding untuk menemukan sakelar ruang rias itu. Namun, semakin ia meraba-raba, semakin banyak ruas-ruas jari yang terpegang dalam kegelapan. Jari-jari itu tajam di ujungnya, seperti berkuku runcing, dan ujung lainnya buntung—mungkin diputuskan secara paksa...

Kemudian Melati menyadari bahwa deretan jari yang menempel di dinding itu membentuk huruf-huruf... atau membentuk kata? Jangan-jangan ada kalimat yang tertulis di dinding itu?

Ia masih belum menemukan sakelarnya, namun ia sungguh penasaran pada tulisan di dinding itu. Dilangkahkannya kakinya masuk ke dalam kegelapan, dan ia berjalan menyusuri dinding gulita itu, merabai setiap inci jari-jari berbuku-buku yang ditempelkan ke dinding. Dugaannya tepat. Memang ada kalimat yang tertulis di sana!

Akhirnya, Melati mengangkat kameranya dan menjepret ke dalam gelap, tepat ke sisi dinding yang memiliki tulisan. Ia baru saja selesai mengambil gambar ketika suara itu mengagetkannya sampai terlompat.

Tok tok tok!

Ketukan dari pintu di luar kamar 13.

"Maaf, Mbak Melati," terdengar suara seorang pria, yang dikenali Melati sebagai resepsionis di lobi hotel tadi. "Mbak, saya hanya mau ngasih tahu, ruangan ini rupanya sudah dibersihkan oleh para pemburu hantu beberapa hari yang lalu. Di sini sudah nggak ada hantu, Mbak."

Apa? Tidak ada hantu? Tapi... semua yang dialami Melati, semua hawa dingin ini, bagaimana?

Kalau sudah tak ada hantu di sini, apa bayangan putih yang dilihatnya tadi?

Lalu Melati menunduk dalam gelap untuk melihat hasil jepretan kameranya ke dinding tadi--dan tercengang.

Tulisan jari-jari itu berbunyi: "Singkirkan semua yang tidak pada tempatnya."

Dan tiba-tiba tulisan di layar kamera itu menghilang--digantikan oleh sebuah wajah wanita berbaju putih dengan sepasang mata merah membara.

.

.

.


Malam itu Mawar memijat-mijat kepalanya di depan layar komputernya. Ia merasa pusing dan lelah sekali. Bagaimana tidak, sebagai panitia IFA, dia menyeleksi banyak sekali karya yang masuk, namun beberapa di antaranya merupakan Real Person Fanfiction alias RPF. Dia heran sekali, padahal RPF sudah dilarang untuk diterbitkan di fanfiction.net, tapi kenapa masih saja ada orang yang mau melanggar guidelines tersebut.

Ia juga masih memikirkan peristiwa kemarin malam...

Karena Mawar masih heran setelah menemukan tujuh tamu tak dikenal di subtopik challenge, malam itu ia mulai membahasnya dengan sahabatnya sesama administrator--sebut saja Lili--di Twitter. Pembicaraan mereka berdua juga kemudian melibatkan administrator lain, sebut saja Anggrek.

Mawar @Lili aneh banget nih, lagi-lagi saya ngeliat 7 guests tadi malem, itu kesalahan sistem kali ya? O.o

Lili @Mawar saya gatau sih, tapi masa sih kesalahan sistem? Apa jangan-jangan ada yang mau ngerjain forum kita? orz orz orz

Mawar @Lili ngerjain gimana pula? orz lagian mereka kan cuma bisa liat celenj yang finished doang.

Lili @Mawar bisa liat kalo via gugel OwO lama-lama serem ah para guests yang datang dan pergi tanpa diundang ini~

Anggrek RT!!! @Lili: @Mawar lama-lama serem ah para guests yang datang dan pergi tanpa diundang ini~

Mawar @Anggrek @Lili eh eh eh! Saya menemukan kejanggalaaaaan~ #gelundungan

Lili @Mawar @Anggrek hah? Kejanggalan apa? OAO

Mawar @Lili @Anggrek ini, ada yang baru submit entry ke celenj saya. Saya kenal authornya, dia biasanya keren banget kalo nulis. Tapi kali ini penpik dia ancur banget o.o #dibuang

Anggrek @Mawar @Lili e-emangnya hubungannya sama para guests itu apa? ;;w;;

Lili @Mawar @Anggrek oh, penpik punyanya Bunga itu ya? Saya udah liat. Iya emang aneh, kayak nulisnya buru-buru dan kepaksa gitu .___.

Mawar @Anggrek @Lili liat A/N-nya. Masa dia bilang 'semoga dengan fanfic ini tamunya senang'. Apa coba maksudnya?! OAO

Anggrek @Mawar @Lili bentar deh. Saya lagi ol nih sekarang. Coba cek topik fandom screenplay O________O

Lili @Anggrek @Mawar HAH?! 13 guests are viewing this topic?!

Anggrek @Lili @Mawar I-IYA MAKANYA!!! I-ini kan jam 2 pagi!!! wOAOw


.

.

.


Case 3: Spam Patrol

Entah sudah berapa lama ia duduk di perpustakaan itu. Perpustakaan di kampus itu memang buka 24 jam, sehingga ia bisa bebas duduk di sana sambil membaca, belajar, tidur, atau melakukan apa pun selain makan, minum, dan membuat keributan. Gadis semester tiga di fakultas yang tak perlu diumbar itu--sebut saja namanya Krisan--sudah muak belajar berjam-jam. Dia butuh penyegaran sesaat.

Apa yang harus ia lakukan?

Ditariknya laptop-nya mendekat. Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang menurutnya seru.

Laptop yang terhubung dengan Wi-Fi 24 jam itu segera menampilkan halaman home dari fanfiction.net. Segera Krisan membuka akunnya di sana, akun yang sesungguhnya tak perlu dibanggakan karena penuh dengan flame dan selalu dibanjiri PM yang isinya menghujat. Memang, Krisan dikenal sebagai troll di dunia maya. Salah satu area yang menjadi sasarannya adalah fanfiction.net. Dan kali ini, karena bosan, ia akan beraksi lagi.

Ia mulai mengetik sesuatu di Microsoft Word...

"Fandom ini fandom sampah! Semua authornya nggak becus! Pairingnya abal semua! Mati aja kalian!"

...dan diunggahnya file berisi makian pendek itu, diterbitkannya sebuah story dengan judul yang sama kasarnya. Kemudian Krisan tersenyum puas. Tuntas sudah misinya, kini ia tinggal menunggu respon. Semakin banyak yang meninggalkan review, semakin puas hatinya. Meskipun para reviewer itu sudah menceramahinya panjang-lebar sampai jari-jari mereka sakit, Krisan semakin senang dan bangga.

Tapi rupanya, senyumnya tak bertahan lama di wajahnya.

Tap!

Mendadak saja lampu di seluruh perpustakaan padam begitu saja. Tanpa aba-aba. Krisan, yang sudah mematikan laptop-nya, segera diliputi kegelapan yang pekat.

"Sial!" pekiknya.

Dia menunggu selama dua menit dalam diam, berharap listrik kembali menyala supaya ia bisa kembali menekuri buku-bukunya. Namun tidak--lampu-lampu tetap mati Krisan terkurung di tengah perpustakaan yang sangat luas itu, tanpa penerangan, dan tanpa teman.

Ya, sekarang memang waktu dini hari. Tak ada siapa-siapa di sana, bahkan mungkin petugas perpustakaannya membolos seperti biasa.

Merutuk dan memaki-maki, Krisan mulai mencoba berjingkat di antara meja-meja. Tentu saja, sulit sekali karena ada kursi dan rak di mana-mana, dan dirinya entah sedang berada di sudut mana. Ia mulai diserang rasa takut. Ujung-ujung jari tangan dan kaki Krisan terasa membeku ketika ia menyentuh setiap buku di rak-rak itu.

Kelihatannya listrik di seluruh gedung ini musnah karena kerusakan teknis. Dia masih belum bisa melihat apa-apa.

Dan sebuah suara menggema.

Sraaaak.

Krisan terkesiap dan langsung berhenti bergerak. Apa itu?

Srak. Sraaaak.

Krisan tak mau tahu, dan tak mau memikirkannya. Itu pasti cuma suara angin! Lalu ia melihat secercah cahaya dalam jarak pandangnya. Ternyata, sebuah jendela terbuka dan sinar bulan masuk ke dalam ruang perpustakaan. Bagus sekali, setidaknya masih ada penerangan!

Gadis itu segera menghampiri jendela yang terbuka itu--

--dan menjerit sampai telinganya serasa berdering.

"AAAAAARGH!"

SRAAAAAAK! SRAAAAAAK!

Ada sesosok makhluk yang sedang memanjat masuk lewat jendela yang terbuka itu! Makhluk bertubuh seputih kapur dan sangat kotor berselimutkan tanah, dengan dua lubang di tempat matanya seharusnya berada, dan warna merah menyelimuti sekitar bibirnya...

Krisan menjerit, lebih keras. Makhluk itu bergerak sangat lambat dan kaku, namun di depan matanya, dilihatnya makhluk itu memanjat masuk dengan pelan dan pasti, menghasilkan suara-suara menggesek yang mengerikan. Krisan tak bisa menggerakkan kakinya. Tak bisa.

Dan makhluk itu mengangkat wajah kotornya, menatap--tanpa mata--ke arah tempat Krisan berdiri.

Lalu berbicara dalam desis rendah.

"Musnahkan segala yang kotor dan perlu dimusnahkan."

Krisan berhasil menemukan kakinya sendiri dan akhirnya bergerak mundur--

--menabrak makhluk lain yang sama berdesisnya dengan makhluk di jendela itu.

Wajahnya bertemu dengan wajah Krisan. Di bawah sinar bulan yang putih, tampak jelas garis-garis merah darah yang mengalir dari sudut-sudut mulutnya. Matanya yang berlubang membuat makhluk itu bergerak dengan sangat tidak terfokus, namun tangannya yang dingin menggapai-gapai, kakinya menerjang Krisan sementara bibirnya tersenyum merekah menakutkan.

"Musnahkan si penyampah..."

Krisan berlari di sepanjang dinding perpustakaan, dan mendapati lebih banyak lagi makhluk berwajah dan bertubuh serupa mencegatnya di mana-mana. Ia tak bisa lagi merasakan denyut jantung dan suhu kulitnya. Tak tahu lagi mana kanan mana kiri. Ia hanya terus berlari sambil menjerit-jerit, sementara tangan-tangan dingin yang tak terhitung lagi jumlahnya menjambretnya dari dalam kegelapan, berdesis-desis dan menggesek lantai dengan suara ngilu...

Ia yakin ini hanya mimpi buruk... tapi kenapa ia tidak terbangun?

Duak!

Krisan tersandung sebuah kursi dan jatuh menimpa setumpuk buku. Kakinya terkilir, dan ia tak bisa lagi berjalan. Air matanya mengalir ketika dilihatnya makhluk-makhluk berlumuran tanah dan berbau busuk itu menghampirinya, tersenyum berdarah.

"Si penyampah... akan berakhir sebagai sampah."

.

.

.


"Serius. Kayaknya kita bisa bilang ini fenomena Hantu Infantrum. Mereka datang dan pergi secara misterius, dan semakin banyak dari waktu ke waktu."

"Iya, aku setuju. Sekarang kita gimana?"

"Kita nggak bisa melakukan apa-apa kecuali mengawasi forum dengan lebih ketat..."

Mawar dan Lili sedang berbicara lewat telepon malam itu. Ketakutan dan sangat tertekan. Teror para guest yang tiba-tiba saja muncul di Infantrum membuat sebagian besar orang heran. Ada apa ini? Siapa mereka sebenarnya? Apa yang mereka inginkan?

"Kayaknya si hantu juga udah nggak cuma 'menghantui' challenge lagi," kata Lili kemudian. "Dia udah muncul di mana-mana. Mulai dari topik tentang Screenplay, plagiat, dan lain-lain. Terutama topik mengenai pelanggaran-pelanggaran. Kenapa ya?"

"Mungkin hantunya... lagi patroli?" cetus Mawar, lalu tertawa hambar.

"Iya, mungkin hantunya mau ikut membersihkan FFN? Boleh-boleh aja sih kalo gitu," Lili ikut-ikutan tertawa getir.

Setelah pembicaraan telepon itu selesai, Mawar masih memandangi situs Infantrum di layar komputernya. Mengecek semua aktivitas forum. Sampai kemudian ia tiba pada topik mengenai Junk Fic, yang cukup ramai akhir-akhir ini karena membicarakan seorang author yang sedang naik daun bernama Krisan. Konon sang author sudah menerbitkan beberapa entry yang membuat seisi fandom mengamuk. Mawar hanya bisa geleng-geleng kepala.

Dibukanya topik Junk Fic itu untuk melihat kabar terakhir.

Ternyata masih belum ada pos lain dari para member mengenai topik tersebut. Mawar merasa dirinya sudah mengantuk dan ingin offline saja.

Ia sudah hampir menutup halaman itu ketika matanya menangkap sesuatu yang aneh di bagian bawah deretan pos.

Dan kemudian ia membelalak.

Tak percaya.

666 guests are viewing this topic.

.

.

.

FIN
untuk sekuel ini

.

.

.


A/N: Oke, jadi semua pada ngerti kan cerita horor gaje saya? Si Melati di case 2 itu selain berprofesi jadi fotografer hantu, dia juga suka nulis RPF di FFN, gitu. Nah terus di kamar 13 itu memang udah nggak ada hantunya. Hantu yang mengganggu Melati itu adalah Hantu Infantrum. Oke? =))

Dan saya tahu saya sangat semena-mena menulis ini, karena saya sendiri masih punya beberapa karya yang melanggar guidelines di FFN. Hiks, tapi masih belum sempet saya hapus... habisnya menang IFA sih #plak

Maaf kalo jadinya cerita ini kepanjangan, kayaknya saya ini terlalu napsu kalo nulis horor. #digaplok

SEREM NGGAAAAAK? Kayaknya enggak, huhuhu... #kuburdiri #dor
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sylviolin
Member Avatar
good bye.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
parah ini baru serem =A=
aku bacanya gak word-per-word, kalo ada katakata "sesuatu muncul" langsung lanjut ke paragraf berikutnya -,-

yah well, tapi aku ngerti kok apa intinya :)v

..........tapitapitapi
itu bagian si anggrek dkk twit twitan, aku berasa kayak thiea dikloning jadi tiga terus saling mentionan =))) gaya bahasanya khas banget =))) #dibuang

tapi aku puas. yg paling kusuka yang bagian pertama.
entah kenapa itu keren....... owo
jadi ketagihan horror, gimana dong? walau masih takut DDDD: #eh
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
Go to Next Page
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 3


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone