Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Terima Kasih! Sampai Kita Jumpa Lagi; Ojamajo Doremi/T/Hurt/Comfort
Topic Started: 19 Aug 2011, 07:20 PM (653 Views)
ShiueFha-chan
Member Avatar
Honored Canon OTP! ^^
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Disclaimer: Ojamajo Doremi milik Toei Animation
Fandom/Rating/Genre: [Ojamajo Doremi/T/Hurt/Comfort]
Ringkasan: Versi lain dari Ojamajo Doremi Dokkan episode 51. Sebuah kejadian mengubah segalanya. Apa yang terjadi?
Chara: Doremi H.

Terima Kasih! Sampai Kita Jumpa Lagi
Chapter 1: Selamat Datang, Malaikat Penyelamat

Seorang gadis berambut odango berlari menyusuri jalan menuju sekolahnya, SD Misora. Hari ini, dia beserta para murid kelas 6 lainnya akan mengikuti upacara kelulusan.

Ia berlari, walaupun ia tahu bahwa ia tidak akan mungkin terlambat di pagi yang cerah itu. Pikirannya terus dibayangi oleh sesuatu yang ia rasakan sejak kemarin, saat ia memandangi foto-foto dirinya bersama para sahabatnya...

'Setelah hari ini, mereka akan meninggalkanku sendiri...' pikirnya.

Ia lalu memperlambat laju larinya, kemudian berhenti di tengah jalan.

Tiba-tiba ia memutuskan untuk berbalik, berlari menjauhi sekolahnya menuju ke tempat yang setiap hari ia kunjungi selama empat tahun ini... Maho-dou.

Tapi sebelum ia sampai di sana, sebuah mobil menabraknya!

Si pengemudi tidak sengaja menabraknya, hanya saja mobil itu ingin menyusul truk yang berada di depannya, namun si pengemudi tidak sempat melihat Doremi yang berjalan ke sana dari arah berlawanan.

Si pengemudi, seorang pemuda, keluar dari mobil dan menghampiri gadis yang ditabraknya.

"Daijoubu?" tanya pemuda itu, "Kamu nggak apa-apa?"

"Akh, aku... aku..." Doremi tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Kesadarannya hilang. Ia pingsan.

Dengan sigap, pemuda itu lalu menggendong Doremi dan membawanya ke dalam mobilnya. Ia lalu mengemudikan mobilnya menuju ke Rumah Sakit terdekat.
Setengah jam kemudian, Majorika berjalan melewati jalan itu bersama Lala, yang menyamar menjadi seekor kucing. Secara, Majorika sudah kembali ke wujud aslinya, sekarang ia harus ke sekolah, menyamar menjadi Makihatayama Rika, nenek dari Makihatayama Hana (Hana-chan).

Saat Majorika melihat ada bercak darah di jalan itu, tiba-tiba perasaanya menjadi tidak enak. Langkahnya sempat terhenti di sana selama beberapa menit sampai akhirnya Lala memanggilnya, "Majorika, doushita no?"

"Ah, tidak apa-apa, Lala." Majorika menggeleng perlahan lalu mulai berjalan lagi, "Ayo, aku harus menjadi wali Hana di upacara kelulusannya."
Sementara itu, di kelas 6-1...

Hana-chan memandangi kursi kosong yang berada disebelah kirinya.

'Doremi-mama belum datang,' pikirnya, 'Di mana dia sekarang?'

Momoko menepuk bahu Hana-chan dan berkata, "Doremi-chan pasti akan datang. Jangan khawatir."

"Tapi..."

"Dia pasti terlambat bangun lagi." Momoko tersenyum, "Daijoubu yo, Hana-chan. Aku yakin Doremi-chan akan datang sebentar lagi."

Tapi kemudian, Momoko sadar kalau ia salah. Doremi belum datang juga, padahal upacara kelulusan sudah mau dimulai.
Semua murid kelas enam (kecuali Doremi) sekarang sudah berkumpul di aula sekolah. Kebetulan, tempat duduk para ojamajo di aula tersebut berdekatan, jadi mereka bisa berbicara sebentar tentang ketidakhadiran Doremi.

"Momo-chan, Hana-chan, mana Doremi-chan?" tanya Hazuki, "Harusnya dia sudah ada di sini sekarang."

"Kita juga nggak tahu." Momoko menggelengkan kepalanya, "Biasanya dia nggak pernah setelat ini."

"Aku mau nanya Poppu-chan dulu." Onpu lalu bergegas ke kursi keluarga murid, lalu bertanya kepada Pop yang sudah ada di sana bersama orangtuanya.

"Eh? Doremi belum datang?" tanya Harukaze Haruka, tidak mengerti, "Nggak mungkin. Tadi dia berangkat pagi-pagi sekali."

"Okasan, jangan-jangan... sesuatu yang buruk terjadi sama onee-chan!" seru Pop panik, "Okasan, otosan, panggil polisi... SEKARANG!!!"

Onpu memegang bahu Pop dan berusaha menenangkannya, "Poppu-chan, tenang dulu ya? Pasti ada alasan kenapa Doremi-chan belum datang juga."

Ia lalu berpikir, 'Doremi-chan, dimana kau sekarang? Semuanya sekarang mencemaskanmu. Kau dimana? Apa kamu nggak rela berpisah dengan kami, sampai kamu memutuskan untuk nggak datang? Apa kamu... ah, jangan-jangan... kamu ke...'

Onpu lalu berjalan kembali ke kursinya lalu berkata ke yang lain, "Minna, okasannya Doremi-chan bilang kalau Doremi-chan tadi berangkat pagi-pagi."

"Terus, kenapa sampe sekarang dia masih belum tiba juga?" tanya Aiko.

"Soal itu, mereka juga nggak tahu," kata Onpu, "Tapi aku yakin, kalau sekarang dia lagi ada di suatu tempat."

"Dimana?" tanya Momoko.

"Maho-dou," kata Onpu yakin, "Coba kita tanya sama Majorika dan Lala nanti, kalau mereka sudah datang."

Yang lain mengangguk tanda setuju, setelah itu, mereka kelihatan agak lebih tenang.

Namun saat mereka menanyakan hal itu kepada Majorika, dan menemukan bahwa dugaan Onpu salah, mereka lalu menjadi sangat panik.

"Eh, Doremi tidak datang kemari hari ini?" seru Majorika, "Ah, ojamajo yang satu itu... kemana dia perginya?"

"Ah, jangan-jangan Doremi-chan... diculik!" teriak Hazuki.

"Nggak mungkin, Hazuki-chan." Aiko mendesah, "Dia nggak berasal dari keluarga kaya. Buat apa coba, ada orang yang menculiknya? Nggak ada untungnya."

"Tapi, tapi... bisa aja kan, dia diculik sama orang yang suka menculik anak-anak dan mempekerjakan mereka sebagai pengemis atau pengamen, atau yang terburuk, dipaksa jadi pencopet!" (sebentar. Emang ada ya, pengemis, pengamen, dan pencopet di Jepang?)

"Hazuki-chan, nggak usah terlalu berlebihan gitu," kata Aiko, berusaha menenangkan Hazuki, "Aku nggak percaya kalau Doremi-chan diculik, tapi... mungkin sekarang... sesuatu yang buruk terjadi padanya, makanya... dia nggak datang kesini hari ini."

"Hmm... sesuatu yang buruk... jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa, Majorika?" tanya Momoko, ingin tahu apa maksud perkataan Majorika tadi.

Kemudian, Majorika menjelaskan tentang bercak darah yang ia lihat di jalan tadi...

"Eh, jangan-jangan... itu..."

"Kyaaa... ada yang melukai Doremi-chan, terus bawa kabur dia ke suatu tempat yang menyeramkan!!!" Hazuki memotong perkataan Aiko.

"HAZUKI-CHAN!!!" Aiko berteriak, "Sampe kapan sih, kamu mau berlebai-lebaian? Jangan ngebayangin yang macam-macam!"

"Ah, gomen, Ai-chan." Hazuki memelankan suaranya, "Aku khawatir banget sama Doremi-chan. Perasaanku bener-bener nggak enak."

"Iya sih, tapi... jangan berpikir yang kayak gitu dulu dong. Bisa aja kan, Doremi-chan kecelakaan di tengah jalan, terus..."

"Si pelaku buang dia di luar kota?"

"Bukan itu maksudku! Sudah kubilang, jangan lebai!"

"Iya iya." Hazuki menunduk, "Tapi sekarang, Doremi-chan di mana?"

"Majorika, bisa kita lihat bercak darah itu sekarang?" tanya Onpu, "Siapa tahu itu bener-bener... darahnya Doremi-chan."

"Boleh, tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kita lakukan." Majorika menjentikkan jarinya, kemudian seketika waktu berhenti, dan hanya Majorika, Lala, dan para ojamajo (terkecuali Pop) yang bisa bergerak sekarang.

Majorika mengajak para ojamajo itu ke jalan tempat ia melihat bercak darah itu.

Hazuki menutup matanya, tidak tahan melihat bercak darah itu, "Ah, aku nggak tega melihatnya."

"Kita harus cari petunjuk lain, supaya kita tahu... ini darah siapa," kata Aiko. Ia mencari-cari siapa tahu ada sesuatu yang lain yang tertinggal di sana, yang ditinggalkan oleh si pemilik darah...

Kemudian ia menemukannya. Itu adalah sepotong kecil kain, dan kain itu berasal dari sebuah rompi... berwarna ungu!

Aiko ingat bahwa ia pernah mencari tahu tentang bahan rompi milik Doremi, dan ia yakin kalau itu adalah bahan yang sama.

"Minna, mite mite. Coba lihat apa yang kutemukan," katanya.

"Nani nani?" tanya Hana-chan.

"Kain ini... bahan ini..."

"Ah, itu..." kata Hazuki.

"Jenis bahan dan warna yang sama dengan..." kata Onpu.

"Rompi Doremi-chan!" seru Momoko.

"A-artinya... Doremi-mama..." kata Hana-chan.

Kemudian, mereka berteriak, "INI DARAHNYA!"

"Kyaaa... tidak tidak TIDAK!!!" Hazuki berteriak semakin keras, "Doremi-chan dalam bahaya!"

"Nggak mungkin..." Aiko berlutut di depan bercak darah itu, "Doremi-chan..."

"Minna, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang," saran Onpu, "Mungkin aja ada yang bawa Doremi-chan ke sana."

"Biar aku coba cek dari bercak darah dan sobekan kain ini, siapa tahu aku bisa menemukannya dari sini." Majorika mengeluarkan bola kristalnya, "Wahai bola kristal, perlihatkanlah dimana Doremi sekarang..."

Sebelum mereka melihat apa-apa, tiba-tiba Pop datang dan berkata, "Majorika, jangan gunakan sihir disini. Sebentar lagi okasan, otosan, dan yang lainnya akan datang kemari!"

Ternyata waktu sudah berjalan lagi.

"Akh, baiklah. Mungkin ini yang terbaik." Majorika menyimpan bola kristalnya lagi, "Nanti kita cari tahu lagi sebelum kami pulang ke Majokai. Untuk sementara, jangan katakan pada mereka tentang bercak darah ini, karena kita belum sempat menelusurinya."

"Bercak darah?" tanya Pop, "Apa maksudnya?"

"Kita bicarakan nanti saja, Poppu-chan," kata Aiko, "Lebih baik kita kembali ke sekolah sekarang. Jangan sampai semua orang melihat bercak darah itu."

Yang lain mengangguk, kemudian mereka kembali ke sekolah dengan kepala yang tertunduk. Mereka sangat sedih membayangkan apa yang mungkin terjadi pada Doremi di jalan itu...
Kembali ke Doremi, yang sekarang berada di rumah sakit. Sesampainya di sana, pemuda yang menabraknya langsung membawanya ke unit gawat darurat. Seorang dokter dengan sigap memeriksa Doremi disana, lalu berkata kepada pemuda itu, "Gadis ini harus dioperasi. Dia ini... adik anda, bukan?"

Pemuda itu menggelengkan kepalanya, "Bukan. Dia bukan adik ataupun saudara saya."

"Kalau begitu... anda kenal orangtuanya?"

"Tidak."

"Ini buruk," kata sang dokter, "Kami butuh tandatangan dari keluarga gadis ini."

"Apa yang harus ditandatangani?"

"Surat persetujuan operasi," dokter itu menjelaskan, "Apa anda tahu, siapa gadis ini?"

"Saya tidak tahu. Tadi saya tidak sengaja menabraknya, dan saya tidak menemukan identitas apapun, hanya..." pemuda itu lalu mengambil tas ransel merah milik Doremi, "Dia hanya membawa tas ini."

"Hmm... artinya, dia siswi SD Misora..." kata dokter saat memperhatikan tas itu. Ia membukanya, mencoba mencari apapun yang mungkin bisa membuat mereka tahu tentang keluarga si pemilik tas, tapi hasilnya nihil. Tas itu hanya berisi tempat pensil merah muda yang tak bernama, juga isinya (yang juga tidak diberi nama).

Dan memang, karena ini hari kelulusan, Doremi malas untuk membawa buku pelajarannya, hal sepele yang bisa dibilang dibutuhkan sekarang ini.

Untuk apa lagi, kalau bukan untuk mengetahui namanya...

Dokter itu menghela nafas, "Kelihatannya tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang."

"Operasi dia, dokter," kata pemuda itu, "Biar saya yang menandatangani surat persetujuannya."

"Tidak bisa, anak muda," dokter itu melangkahkan kakinya keluar ruangan, "Silakan anda membawanya ke rumah sakit lain."

"Tapi dia butuh penanganan segera!"

"Ini sudah peraturan rumah sakit. Tidak ada persetujuan keluarga, tidak ada operasi."

"Baik! Aku bisa menanganinya sendiri!" pemuda itu lalu menggendong gadis yang dibawanya tadi dan membawanya kembali ke mobilnya, "Rumah sakit macam apa ini? Keselamatan pasien lebih penting! Kenapa mereka? Apa mereka meremehkan aku, hanya karena aku ini masih mengenakan seragam SMA? Umurku sudah 17 tahun!"

Ia lalu mengalihkan pandangan ke Doremi, yang masih belum sadarkan diri, "Tapi kamu tenang saja, ya? Kelihatannya memang tidak ada cara lain untuk menyelamatkanmu selain... membawamu ke rumahku. Untung keluargaku punya rumah sakit yang berada tepat di belakang rumah. Tadi memang salahku. Kupikir... akan lebih baik kalau aku membawamu ke rumah sakit terdekat, tapi ternyata..."

Ia menghela nafas, "Maaf ya, karena sudah menabrakmu. Apalagi... rumahku sangat jauh dari sekolahmu..."

Tiba-tiba, saat mereka hampir sampai di rumah pemuda itu, Doremi lalu mengigau, "Ujian... teman-teman... ujian selesai... teman-teman pergi... tidak... jangan... aku nggak mau... aku nggak mau ditinggal sendiri... minna... jangan pergi... aku... aku..."

'Ujian?' pikir sang pemuda, 'Berarti gadis ini... anak kelas 6 yang lulus tahun ini, artinya umurnya... sekitar 12 tahun... seperti mendiang adikku... kalau kecelakaan itu tidak terjadi... dan merenggut nyawanya...'

Sesampainya di rumah, pemuda itu langsung membawa Doremi ke rumah sakit milik keluarganya di belakang rumah. Ia memanggil dokter keluarganya dan memerintahkannya untuk menolong Doremi.

"Kenapa tuan muda baru membawanya kesini sekarang?" tanya dokter keluarga yang sudah tua itu, "Ini sudah gawat! Kalau tidak cepat dioperasi, gadis ini bisa meninggal."

"Kalau begitu, cepat operasi dia, dokter!" kata pemuda itu, "Jangan sampai ia meninggal seperti... dokter tahu kan, seperti adikku... Akari..."

"Ah, baik tuan muda," dokter itu lalu bergegas memanggil tim operasinya, lalu mereka membawa Doremi ke ruang operasi.

Si pemuda menunggu di depan ruang operasi. Ia duduk di salah satu kursi disana, dan pikirannya melayang ke kejadian tiga tahun lalu, saat adiknya yang sangat ia sayangi itu pergi...
Seorang gadis berumur 9 tahun bernama Toushirou Akari sedang berlari riang ke rumahnya sambil membawa rapor yang baru saja diterimanya dari sekolah. Tidak, ia tidak bersekolah di SD Misora seperti Doremi dan teman-temannya. Akari bersekolah di SD A (sebuah SD swasta yang kebanyakan muridnya orang kaya). Biasanya sih, ia ke sekolah naik mobil, diantar-jemput supir, tapi kali ini, gadis berambut merah panjang itu ingin pulang dari sekolah itu jalan kaki, ditemani kakaknya yang menjemputnya. Ibu mereka khawatir kalau membiarkan putrinya pulang dari sekolah dengan jalan kaki sendirian, jadi ia meminta putra sulungnya untuk menjemput adiknya di sekolah.

Awalnya, si kakak jemput adiknya sama si supir botak yang biasa antar-jemput adiknya ke sekolah. Tapi karena si adik kesel dan ngancem kakaknya untuk nginep di sekolah kalau si supir botak nggak ninggalin mereka berdua, akhirnya si kakak, Toushirou Hasamaru, menyuruh supir itu untuk pulang duluan.

"Asyik! Aku dapet nilai bagus!" kata gadis itu riang, "Aku bisa minta ke mama, supaya kita sekeluarga bisa pergi ke Disneyland! Tapi... kita perginya ke Disneyland yang dimana ya? Amerika? Hongkong? Atau... dimana ya? Semuanya aja deh."

"Oi, Akari, jangan ninggalin kakak gitu dong," kata sang kakak sambil terengah-engah mengejar adiknya, "Kamu ini cepet banget sih larinya. Kakak capek nih."

"Makanya, onii-chan mendingan tadi pulang aja sama si supir botak. Aku kan udah bilang, aku bisa pulang sendiri."

"Eh, aku nggak enak sama mama. Dia yang nyuruh aku buat jemput kamu." Hasamaru mengeluh, "Ini juga aku masih takut kalau mama marah sama aku gara-gara si supir botak kamu usir dari sekolah."

"Emangnya onii-chan nggak bilang ke mama, kalau keputusanku udah bulat mau pulang jalan kaki sendiri hari ini? Tadi kan aku udah bilang: aku nggak mau dijemput."

"Huh, dasar anak keras kepala. Aku kan juga khawatir kalau kamu kenapa-napa."

"Onii-chan..." gadis itu berbalik dan memberikan senyuman manis pada kakaknya, "Aku janji kok, aku nggak akan kenapa-napa."

Tapi kemudian... pemuda itu tahu kalau apa yang baru saja dikatakan adiknya tadi salah. Sesuatu yang buruk akan terjadi dengannya.

Dan itu terjadi.

Di tengah jalan, mereka melihat seekor anak kucing yang hampir terlindas truk, sampai akhirnya Akari melempar rapornya ke kakaknya, lalu menyelamatkan anak kucing itu...

Tapi imbasnya, justru ia yang mengalami kecelakaan disana. Akari tewas di tempat. Ia meninggal secara tragis.

Hasamaru hanya bisa pasrah. Sejak kecelakaan itu, ia merasa sangat bersalah. Padahal ia berada disana, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan adiknya itu. Apalagi, sejak ayahnya meninggal karena sakit jantung saat ia masih kecil, hanya dialah satu-satunya laki-laki dalam anggota keluarga itu.

Sejak kecelakaan itu, ia hanya tinggal bersama ibu dan para pembantu mereka. Tahun berikutnya, ibunya meninggal karena depresi anak bungsunya meninggal dengan cara yang tragis...

Dan sekarang, ia hanya tinggal dengan para pelayan setianya. Para pelayan setia dari keluarganya yang kaya.
'Jangan sampai gadis ini bernasib sama dengan adikku: tak bisa diselamatkan,' pikirnya, kembali ke masa kini dimana ia sedang menunggu operasi dari gadis yang tak dikenalnya, 'Tapi sebenarnya... siapa dia? Kenapa tadi ia berjalan menjauhi sekolahnya?'

Ia tahu betul, walaupun adiknya dan ia sendiri tidak bersekolah disana, kalau SD Misora masih berjarak beberapa meter dari tempat kecelakaan tadi pagi, tapi ia memperhatikan kalau Doremi justru berjalan berlawanan arah, menjauhi SD Misora.

Ia lalu teringat saat Doremi mengigau di mobilnya tadi.

"Ujian... teman-teman... ujian selesai... teman-teman pergi... tidak... jangan... aku nggak mau... aku nggak mau ditinggal sendiri... minna... jangan pergi... aku... aku..."

'Dia nggak mau ditinggal teman-temannya... kasihan gadis ini...' pikirnya, 'Baiklah, aku akan mengantarnya pulang jika keadaanya sudah memungkinkan. Aku akan bertanya padanya tentang keluarganya, jika ia sudah sadar.'

Lalu terdengar suara pintu ruang operasi dibuka. Sang dokter lalu keluar, dan seketika itu juga, Doremi yang sudah dioperasi dan tidak sadarkan diri dikeluarkan dari ruang operasi.

Hasamaru mendatangi perawat yang keluar bersama sang pasien yang baru dioperasi, memerintahkannya untuk membawa pasien itu ke belakang, ke rumahnya.

"Dokter, operasinya lancar kan?" tanya Hasamaru.

"Iya. Operasinya lancar, tuan muda, hanya... kemungkinan gadis itu harus tinggal bersamamu selama beberapa hari."

"Aku tahu soal itu, dokter."

"Tuan muda, maksud saya... saat ia sadar pun, mungkin ia harus berada di rumah anda sampai..."

"Sampai?" pemuda itu mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi padanya?"

"Tadi, sebelum kami keluar dari ruang operasi, gadis itu sempat bangun."

"Apa? Tapi... kenapa ia pingsan lagi?"

"Tadi ia bertanya, ini dimana, lalu saya menjawab yang sejujurnya."

"Lalu?"

"Saat saya menanyakan nama gadis itu, ia... ia bilang ia tidak tahu. Kelihatannya, gadis itu terkena amnesia."

"Oke, tapi dokter belum jawab pertanyaan saya tadi, kenapa dia pingsan lagi?"

"Soal itu, kelihatannya dia belum sepenuhnya sadar, dan masih berada di bawah pengaruh obat bius yang saya pakai saat operasi."

"Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang ia akan tinggal di rumah saya. Terima kasih, dokter."

Pemuda itu lalu berjalan ke rumahnya di belakang rumah sakit itu. Ia lalu memasuki sebuah kamar besar tempat Doremi berada sekarang. Ia belum bangun.

Hasamaru terus memandangi sebuah tempat tidur besar, tempat gadis itu terbaring disana. Ia teringat akan pemilik lama kamar itu, yaitu adiknya, Akari...

Beberapa menit kemudian, gadis itu membuka matanya. Ia bangun.

"Kau sudah sadar?" tanya pemuda itu.

Doremi tidak menjawab. Ia malah balik bertanya, "Sekarang aku dimana? Anda siapa?"

"Ini di rumahku, dan namaku..." pemuda itu ingin menjawab, tapi ia memutuskan untuk menjawabnya nanti. Ia lalu berkata, "Kata dokter... kau tidak tahu siapa namamu. Apa itu benar?"

Gadis berambut merah itu mengangguk, "Aku tak tahu, tapi... rasanya aku dibuang oleh orang-orang disekitarku."

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Aku tidak tahu, tapi aku merasa kalau mereka menganggapku sebagai gadis pembawa sial, karena itu... mereka meninggalkanku sendiri."

'Kasihan gadis ini. Jangan-jangan... ia disia-siakan oleh keluarga dan teman-temannya, padahal... kelihatannya dia gadis yang baik. Kalau begitu, lebih baik...'

"Kau salah, Akari. Papa dan mama memang sudah meninggal, tapi bukan berarti mereka menganggapmu seperti itu."

"Ah, Akari?" tanya Doremi, "Kau tahu... siapa namaku?"

"Tentu saja, aku kan kakakmu. Masa aku nggak kenal sama adikku sendiri?"

"Tapi, kenapa aku nggak ingat soal kakak?"

"Kamu baru aja kecelakaan tadi, dan dokter bilang, kamu kena amnesia, hilang ingatan." Hasamaru tersenyum, "Tapi syukurlah, diluar itu, kamu nggak apa-apa."

"Oh begitu. Jadi... aku bukan pembawa sial?"

"Bukan, Akari." Hasamaru memeluk Doremi dengan lembut, "Kamu malaikat penyelamat kakak."

'Siapapun kamu, terima kasih telah datang kesini, ke kehidupanku,' pikirnya, 'Aku akan menjagamu dengan baik, dan benar-benar akan menganggapmu sebagai adikku, Akari...'
A/N: Fyuh, akhirnya chapter pendahuluannya selesai juga... (maaf kalau chapter ini panjang dan agak bertele-tele, karena menurutku ini pas untuk dijadikan pendahuluan)

Soal Majorika nggak jadi lihat bola kristal, mungkin kelihatannya agak maksa ya, tapi memang lebih baik Majorika dan yang lain nggak tahu dulu soal keberadaan Doremi.


Hasamaru memang berbohong pada Doremi tentang jati dirinya, tapi sebenarnya, ia tidak bermaksud jahat untuk melakukannya (coba baca bagian terakhirnya sekali lagi). Hasamaru bukan tokoh antagonis. Pada akhirnya, ia menolong Doremi kembali ke keluarga dan teman-temannya.

Oke, kali ini kita sudahi sampai disini. Kalau sempat baca, sempatin review juga ya.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
ShiueFha-chan
Member Avatar
Honored Canon OTP! ^^
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
A/N: He? Belum ada yang Reply? (Review maksudnya) Nggak apalah. Disini boleh double post kan? *puppy eyes*
Disclaimer, Fandom/Rating/Genre, Ringkasan dan Chara: masih sama seperti yang diatas (tapi maaf, rasanya fic ini cuma mau saya publish sebanyak 3 chapter aja deh. Otak saya mentok :P ).
Terima Kasih! Sampai Kita Jumpa Lagi
Chapter 2: Petunjuk dari Rumah Besar

"APA!!!" teriak Pop setelah mendengar penjelasan Majorika tentang bercak darah di jalan tadi, "Kenapa kalian nggak bilang dari tadi, kalau kalian lihat bercak darahnya... onee-chan?"

"Kita nggak mau lihat kamu panik, Poppu-chan," kata Aiko, "Oke, mendingan sekarang kita cari tahu, Doremi-chan dimana. Majorika, coba selidiki lagi posisi Doremi-chan sekarang."

Sekarang, para ojamajo (juga Pop dan tentu saja, terkecuali Doremi) sedang berada di Maho-dou bersama Majorika, Lala, Hana-chan, dan para peri (Dodo terlihat sangat sedih dan tidak bisa menahan air mata yang terus jatuh dari matanya). Seharusnya, mereka sudah pulang ke Majokai beberapa menit yang lalu, tapi karena hilangnya Doremi, mereka memutuskan untuk pulang ke sana nanti, setelah mereka tahu tentang keberadaan Doremi.

Sekali lagi, Majorika mengeluarkan bola kristalnya, "Wahai bola kristal, sekali lagi aku meminta padamu, perlihatkanlah dimana Doremi sekarang..."

Bola kristal itu lalu memperlihatkan sesuatu, kondisi dalam sebuah rumah besar, di sebuah lorong, di depan pintu sebuah kamar mandi...

"Apa ini?" tanya Aiko, tidak mengerti, "Majorika, jangan bercanda. Kita mau lihat Doremi-chan dimana, bukan mau lihat..."

"Tenang dulu sebentar. Doremi pasti ada di rumah itu," kata Majorika, "Kita harus lihat apa yang terjadi di rumah besar itu, dan apa hubungannya dengan Doremi."


Dan memang benar, rumah itu milik keluarga Toushirou, tempat Doremi berada sekarang. Setelah keadaanya agak pulih, Hasamaru menyuruhnya untuk mandi, dan itu sebabnya bola kristal itu memperlihatkan pintu kamar mandi tersebut (bola kristalnya sopan juga ya, nggak mau kasih lihat si orang yang dicari dalam keadaan bugil).

Kemudian terlihat Hasamaru berjalan ke depan pintu kamar mandi itu dan memanggil salah satu pelayannya, "Natsuko."

"Iya, tuan muda," kata sang pelayan, "Ada yang bisa saya bantu?"

"Siapkan makan malam untuk saya dan adik saya."

"Adik? Tapi... adik anda bukannya..."

"Dia yang sedang mandi di dalam. Apa kau masih belum mengerti juga?"

"Rasanya mereka nggak ada hubungannya dengan urusan kita," kata Onpu, "Mana Doremi-chan?"

Mereka sempat mengalihkan perhatian dari bola kristal Majorika, sampai akhirnya mereka mendengar si pelayan berkata, "Jadi... tuan muda benar-benar ingin menjadikan gadis itu sebagai... pengganti adik anda?"

"Gadis?" tanya Momoko, "Jangan-jangan maksudnya..."

"Iya. Jadi mulai sekarang, panggil dia nona Akari, mengerti?"

"Saya tidak tahu," kata si pelayan, "Tapi saya rasa ini tidak benar. Anda tidak sepantasnya berbohong mengenai jati diri seseorang. Anda tidak sepantasnya berbohong kepada gadis itu dengan mengatakan kalau dia adik anda."

"Jati diri?" tanya Pop, "Apa onee-chan... kehilangan ingatan?"

"Itu bukan urusanmu," kata Hasamaru dingin, "Aku sangat yakin ini yang terbaik untuknya saat ini. Lagipula... kita tidak tahu siapa keluarganya dan di mana ia tinggal."

'Lagipula, justru lebih baik jika keadaanya seperti ini,' pikirnya, 'Kalau nanti justru, keluarganya itu yang akan membuatnya sedih.'

"Baiklah, tuan muda. Saya hanya memberi saran, dan... bukan wewenang saya untuk melarang tuan muda melakukan hal itu. Itu terserah tuan muda jika... memang gadis itu mengingatkan anda pada adik anda."

"Hei, ngomong-ngomong, mana gadis yang mereka bicarakan?" tanya Hana-chan, "Kenapa belum keluar juga, sih? Hana-chan kan pengen tahu, dia itu Doremi-mama atau bukan."

"Onii-chan, ada apa sih, ribut-ribut?" seorang gadis berambut merah panjang keluar dari kamar mandi yang tadinya tertutup. Ia hanya mengenakan sebuah handuk baju (atau jubah mandi?) berwarna merah muda, "Tadi onii-chan lagi ngomongin apa?"

"DOREMI-CHAN!" teriak para ojamajo yang melihatnya melalui bola kristal Majorika. Tidak salah lagi, itu memang Doremi.

"Tapi, kenapa dia melepas ikat rambutnya? Dan... kenapa dia manggil pemuda itu... onii-chan?" tanya Hazuki.

"Kamu nggak dengar apa kata pemuda itu ke pelayannya tadi?" kata Aiko, "Aku benci mengatakan ini, tapi... kelihatannya Doremi-chan benar-benar kehilangan ingatannya. Dia hanya tahu kalau pemuda itu... pemuda itu adalah kakaknya."

"Hei, kami nggak punya kakak," protes Pop, "Apa-apaan pemuda itu? Kembalikan onee-chan ku. Dia itu bukan adikmu, dia itu kakakku tahu!"

"Poppu-chan..." kata Onpu, "Pasti pemuda itu nggak tahu soal itu. Aku rasa... Doremi-chan mengingatkan pemuda itu kepada sosok adiknya yang telah tiada, makanya... dia bisa melakukan hal itu."

"Itu kan suatu kebohongan namanya," kata Momoko, "Kita harus datang ke rumah itu dan memberitahukan kenyataannya kepada Doremi-chan. Majorika, apa kau bisa mendapatkan alamat rumah ini? Kita harus kesana sekarang."

"Biar kucoba," Majorika memejamkan matanya dan berkata, "Baiklah, sekarang... katakan pada kami... dimana rumah itu..."

Beberapa detik kemudian, secarik kertas bertuliskan alamat rumah itu muncul dihadapan mereka.

"Coba kulihat alamatnya," Hazuki mengambil secarik kertas itu lalu membaca alamat yang tertulis disana, "Rumah keluarga Toushirou, pemilik dari RS C... ah, aku tahu tempatnya!"

"Hontou?" tanya Pop.

Hazuki mengangguk, "Rekan kerjanya papa pernah masuk rumah sakit itu, dan katanya, rumah pemilik rumah sakit itu ada di belakang rumah sakit itu sendiri. Kita bisa minta papa untuk mengantar kita kesana."

"Kalau gitu, ayo kita pergi kesana sekarang!" kata Onpu.

"Chotto matte, minna," kata Hana-chan, "Boleh nggak, Hana-chan ikut kesana? Hana-chan nggak mau pulang ke Majokai sebelum pamit sama Doremi-mama."

"Eh, Hana-chan..." jawab Momoko ragu, "Kamu yakin mau ikut? Bukannya..."

"Soal Majokai, biar kami aja yang urus," kata Majorika, "Kelihatannya, jadwal kepulangan kami harus diatur ulang. Aku akan minta izin kepada Jou-sama, dan akan membicarakan tentang hal ini juga."

"Tolong ya, Majorika," Hana-chan menggenggam tangan Majorika, "Hana-chan mau ketemu Doremi-mama dulu."

"Ingatkan Doremi tentang semuanya, ya?" kata Lala, "Jujur saja, kami juga tidak bisa kalau harus pulang tanpa bilang selamat tinggal padanya."

Hazuki, Aiko, Onpu, Momoko, Pop dan Hana-chan mengangguk, lalu mereka pergi ke rumah Hazuki.

Secara kebetulan, di tengah perjalanan menuju rumah Hazuki, mereka bertemu dengan Kotake, yang tertunduk lesu, seperti habis melakukan sesuatu yang sia-sia.

"Lho, Kotake-kun? Ini kan udah malem. Kok kamu belum pulang?" tanya Hazuki, "Perasaan tadi kamu pulang duluan deh, dari sekolah."

"Akh, aku... aku..."

"Aha, cari Doremi-chan, ya?" kata Momoko menggoda Kotake.

"Eh, iya sih," kata Kotake, "Apa kalian udah tahu, dia dimana?"

"Ngg... kita belum tahu pasti sih, tapi..." Aiko mencari kata-kata yang tepat, lalu menambahkan, "Tadi tantenya Hana-chan bilang kalau... beliau sempat lihat ada anak muda yang pulang ke rumahnya bareng sama seorang gadis yang mirip Doremi-chan."

"Eh? Tapi kok... tantenya Makihatayama nggak mastiin kalau itu Doremi?"

"Beliau nggak sempet nanya ke pemuda itu, soalnya si gadis lagi nggak sadarkan diri."

"APA? NGGAK SADARKAN DIRI?" teriak Kotake mendengar perkataan Aiko yang ternyata disengaja untuk menggodanya, "Aku boleh ikut kalian nggak?"

'Oho, akhirnya ketahuan juga ya, Kotake... kamu perhatian juga sama Doremi-chan,' pikir Aiko, lalu ia berkata, "Kenapa kamu mau ikut kita? Bukannya kamu seneng ya, kalau Doremi-chan nggak ada?"

"TENTU AJA NGGAK! Justru aku nggak mau dia kenapa-napa. Apalagi... kalau pemuda itu udah menyentuhnya, dan..."

"Eh, Kotake-kun sampe mikir yang kayak gitu aja," kata Momoko, "Tapi kamu tenang aja. Tantenya Hana-chan bilang sih, kelihatannya pemuda itu baik."

"Hah, baguslah," Kotake menghela nafas, "Tapi... aku boleh ikut kalian kan?"

"Boleh aja sih," kata Onpu, "Tapi kenapa kamu mau ikut? Apa kamu mau ngeledek dia lagi?"

Kotake menggeleng, "Justru aku khawatir. Aku takut kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya."

'Ternyata kalian berdua sama aja ya, Doremi-chan, Kotake-kun. Sama-sama saling perhatian,' pikir Hazuki, "Oke, Kotake-kun, kamu boleh ikut, tapi kita ke rumahku dulu, ya? Kita minta diantar papa kesana."

Kotake mengangguk, lalu mereka pergi ke rumah Hazuki.
Sementara itu, di ruang makan rumah keluarga Toushirou...

"Onii-chan, kok baju-bajuku nggak ada? Aku terpaksa pake bajuku yang ini lagi deh," kata Doremi, "Rompinya kan sobek. Walaupun bajuku yang ini sudah dicuci, tapi kan..."

"Kalau rompinya nggak dipakai, nggak apa-apa kan?" jawab Hasamaru, "Onii-chan kan nggak nyuruh kamu buat pake rompi itu lagi."

"Iya sih..." Doremi lalu membuka rompinya, "Tapi... rasanya ada yang kurang kalau aku pake kaus, celana pendek, sama kaus kaki ini... tanpa pake rompi ini..."

"Ngg... begitu ya?"

"Eh, onii-chan belum jawab pertanyaanku."

"Pertanyaan apa?"

"Kenapa dikamarku nggak ada bajuku sama sekali? Bukannya aku tinggal disini?"

"Eh, soal itu..."

"Hasamaru-kun, aku datang," seorang gadis berjalan masuk ke ruang makan, "Boleh kan, aku makan malam disini sama kamu."

"Ah, boleh kok, Manda-chan."

Manda lalu mengalihkan pandangannya ke Doremi, "Lho, tapi kamu..."

"Oh iya, sekarang kan... harusnya Akari lagi nginep di rumahmu ya? Ehehe..." potong Hasamaru, "Manda-chan, hati-hati dong, jagain Akari. Kamu bukannya jagain dia, malah ngebiarin dia jalan-jalan sendirian. Akhirnya, dia malah kecelakaan. Hilang ingatan pula."

"Eh, Hasamaru..."

"Onegai, Manda-chan..." bisik Hasamaru. Ia lalu membisikkan semua yang terjadi dihari itu kepada Manda.

"Oh, jadi begitu ceritanya? Baiklah," bisik Manda, lalu ia berkata, "Gomen ne, Akari. Aku malah nggak nemenin kamu olahraga pagi ini, jadi kayak gini deh."

"Eh? Aku... olahraga pake baju ini?" tanya Doremi, tidak yakin, "Onii-chan, dia ini siapa?"

"Dia pacar onii-chan. Namanya Manda," kata Hasamaru, "Dia sering banget ngajak kamu nginep di rumahnya."

"Oh..."

Tiba-tiba, Doremi memegang rambutnya yang panjang.

"Akari, ada apa?" tanya Hasamaru.

"Onii-chan, aku kegerahan," kata Doremi, "Aku ikat rambutku dulu, ya?"

"Oke, tapi jangan lama-lama, ya? Sebentar lagi makan malamnya siap."

"Baik, onii-chan," Doremi lalu bergegas masuk ke kamar Akari dan mengikat rambutnya dengan ikat rambut miliknya. Anehnya, walaupun ia lupa tentang jati dirinya, ia masih bisa mengikat rambutnya seperti biasa (diikat dengan cara dibagi dua, lalu digulung menyerupai dua buah bola - gaya rambut odango).

Saat ia kembali ke ruang makan, Manda menyadari sesuatu: ia pernah melihat Doremi sebelumnya.

"Maaf menunggu lama," Doremi menarik kursinya lalu kembali duduk disana, "Aku nggak biasa kalau rambutku nggak diikat."

"Eh... nggak apa-apa kok," kata Hasamaru dan Manda bersamaan.

'Ternyata kau berbeda dengan adikku dalam hal ini,' pikir Hasamaru, 'Akari nggak pernah suka kalau rambutnya diikat.'

'Kalau rambutnya diikat begini... kayaknya aku pernah lihat dia di... ah iya. Kalau nggak salah dia itu... yang ada di toko tempat aku beli coklat tahun lalu...' pikir Manda. Rupanya dia salah satu pelanggan Maho-dou yang beli coklat valentine disana tahun lalu.

Kemudian, datanglah tiga orang pelayan yang membawa makan malam mereka, "Tuan Hasamaru, nona Manda dan nona... Akari, ini makan malam anda hari ini."

"Arigatou, Natsuko," ujar Hasamaru.

"Ah, ini... steak kan?" tanya Doremi yang matanya terbelalak melihat makan malam yang ada di piringnya, "Ini daging apa?"

"Eh, daging sapi matsuzaka," jawab pelayan itu.

"Ah... aku suka ini," kata Doremi, "Ayo, onii-chan. Kita makan sekarang."

"Ngg... baiklah. Itadakimasu!"

'Kelihatannya dalam hal ini... kau juga berbeda,' pikir Hasamaru lagi, 'Akari lebih suka makan ikan tuna atau salmon, dan ia nggak terlalu suka daging sapi.'

"Wah, rasanya udah lama aku nggak makan steak seenak ini," ujar Doremi.

Saat mereka selesai makan malam, tiba-tiba bel pintu berbunyi.

"Biar aku yang buka pintunya," Doremi lalu berdiri dan bergegas ke pintu depan. Ia membukanya dan melihat siapa yang datang...

"DOREMI-CHAN!" ternyata mereka adalah Hazuki dan para ojamajo lainnya, juga Kotake.

Hazuki, Aiko, Onpu, Momoko, Pop, dan Hana-chan memeluk Doremi, saat mereka tahu kalau ia yang membukakan pintu untuk mereka.

"Eh, maaf tapi... kalian siapa ya?" tanya Doremi, "Kayaknya kalian salah orang deh. Namaku bukan Doremi, tapi Akari."

"Onee-chan, jangan percaya sama orang asing. Kamu itu Doremi, kakakku," kata Pop, "Aku nggak akan lupa sama kakakku sendiri."

"Ehm, sebenarnya kalian siapa sih?" tanya Doremi tajam, "Kalian penipu, ya?"

"Kita bukan penipu, Doremi-chan," kata Hazuki, "Kita kesini mau jemput kamu."

"Nggak. Itu nggak benar. Kalian jangan bohong. Buktinya apa, kalau kalian berkata jujur?"

"Wajahmu, ikat rambutmu, kausmu, celana pendekmu, kaus kakimu..." Aiko lalu melihat sekeliling dan menemukan sepatu Doremi disana, lalu ia mengambil sepatu itu dan mengangkatnya, memperlihatkannya kepada Doremi, "Juga sepatu ini."

"Satu lagi, Doremi-chan. Kamu pasti sengaja nggak pake rompi ungumu, kan? Karena rompi itu sobek," kata Onpu.

"Darimana kalian tahu tentang hal itu?"

"Kami ini sahabatmu, dan dia ini adikmu, Poppu-chan," kata Momoko, "dan... dia Kotake-kun, salah satu teman kita di sekolah."

"K-kalian jangan bohong!" Doremi berlari ke ruang makan, "Onii-chan, ada orang yang mencurigakan!"

"Doremi, matte!" teriak Hana-chan. Ia, juga yang lain, ikut berlari kedalam.

"Doushita no, Akari?" tanya Hasamaru.

"Onii-chan, tolong aku! Ada yang ngaku-ngaku kenal sama aku!"

"Siapa?"

"Kami!" teriak Pop, "Maaf ya, onii-san. Dia ini bukan adikmu, tapi kakakku!"

Hasamaru terpaku sebentar, lalu berkata, "Ngg... Akari..."

Pop yang nggak bisa menahan amarahnya lagi lalu melompat dan menampar Hasamaru, "JANGAN GANTI NAMA KAKAKKU! NAMANYA BUKAN AKARI, TAPI DOREMI!"

Tapi kemudian, setelah melihat itu, Doremi malah menampar Pop, "JANGAN BERLAKU SEPERTI ITU KEPADA ORANG YANG LEBIH TUA DARIMU!"

Pop yang kaget menerima reaksi kakaknya lalu menangis, "Nani yo? Kenapa onee-chan seperti itu padaku? Kita memang sering bertengkar, tapi onee-chan nggak pernah nampar aku kayak gini."

"Ah, aku..."

"Oh, baiklah. Sekarang aku nggak peduli, onee-chan mau percaya sama aku atau nggak. Aku nggak peduli, onee-chan mau pulang atau nggak. Aku nggak suka onee-chan yang seperti ini. Aku... aku hanya menyukai onee-chan yang lama. Onee-chan yang menyayangiku, dan nggak akan pernah menyakitiku hanya gara-gara orang asing!"

Pop lalu berlari keluar rumah itu.

Doremi sempat terdiam selama beberapa menit, sampai akhirnya...

"Po... Poppu..." bisik Doremi, lalu ia berlari mengikuti Pop, "Poppu, matte!"

"Doremi-chan!" Hazuki, Aiko, Onpu, Momoko, Hana-chan dan Kotake mengikuti mereka.

Hasamaru dan Manda terdiam disana dan saling memandang.

"Kelihatannya aku sudah melakukan hal yang salah," kata Hasamaru.

"Baiklah. Nggak ada jalan lain selain mengatakan yang sebenarnya," Manda memberi saran.

Hasamaru mengangguk, kemudian mereka ikut keluar rumah.

Diluar rumah, Doremi mengejar Pop, lalu memeluknya. Kelihatannya ini hal pertama yang diingatnya, kalau Pop itu adiknya, "Poppu, maafkan aku."

"Nggak mau! Lepaskan aku!" Pop mendorong Doremi supaya menjauh darinya. Sialnya, Doremi malah terjatuh setelah kepalanya terbentur dinding.

"Doremi!" Kotake lalu berlari lebih cepat dan menghampiri Doremi, "Kamu nggak apa-apa?"

Doremi tidak bisa menjawab. Benturan itu membuatnya kehilangan kesadaran.

"Ah, onee-chan!" seru Pop, "Onee-chan, gomen. Aku memang marah sama onee-chan, tapi bukan berarti aku mau lihat onee-chan seperti ini."

Kotake lalu menggendong Doremi, dan Hasamaru menyarankan untuk membawanya ke kamar Akari, "Kita bawa dia kedalam."

Yang lain mengangguk tanda setuju, termasuk Pop yang awalnya tidak menyukai Hasamaru.

Kotake lalu membaringkan Doremi diatas tempat tidur Akari, sementara Hasamaru menelpon dokter keluarganya, menyuruhnya untuk datang.

Saat dokter itu datang, Hasamaru, Manda, para ojamajo lainnya dan Kotake menunggu diluar kamar sementara sang dokter memeriksa keadaan Doremi didalam kamar tersebut.

Hasamaru lalu menceritakan tentang kecelakaan tadi pagi, dan akhirnya ketahuan kalau gadis yang ditabraknya tadi pagi benar-benar Doremi.

"Maaf ya, semuanya," kata Hasamaru, "Aku nggak bermaksud jahat. Kupikir... kalian akan menyia-nyiakan dia..."

"Kami mengerti kok," kata Hazuki. Ia lalu menceritakan tentang rencana masa depan mereka yang mungkin membuat Doremi merasa sedih.

"Jadi... seperti itu keadaanya?"

"Iya."

"Onii-san, gomen ne," kata Pop, "Aku terlalu emosi, habisnya... onee-chan..."

"Nggak apa-apa. Aku ngerti kok. Justru harusnya aku yang minta maaf. Nggak sepantasnya aku ngaku-ngaku kalau kakakmu itu... adikku..."

Mereka tetap menunggu disana, sampai kemudian sang dokter keluar dari kamar itu...
A/N: Ya, inilah chapter kedua di fanfic ini (tadinya sih, mau dibikin lebih panjang, tapi nggak jadi gara-gara takut endingnya jadi nggak karuan). Rasanya nggak bagus kalau Doremi baru ingat tentang yang lain waktu Hana-chan udah balik ke Majokai...

Di chapter ini, aku nulis kalau ada beberapa hal yang masih diingat Doremi walaupun dia hilang ingatan, misalnya tentang kebiasaannya mengikat rambutnya dan juga rasa sukanya pada steak (bakalan jadi aneh kalau Doremi tiba-tiba jadi nggak suka makan steak)

Hmm... kayaknya untuk fans KotaDore pasti masih ngerasa ada yang kurang di chapter ini. Tapi tenang aja, di chapter 3 akan lebih banyak KotaDore-nya.

Soal Pop yang menampar Hasamaru, mungkin kelihatannya bikin Pop jadi agak OOC ya? (secara, Pop nggak pernah melakukan kekerasan secara sadar). Tapi menurutku, itu mungkin aja terjadi (siapa sih yang rela kalau kakaknya atau adiknya diakui sebagai keluarga dari orang lain?)

Oke, fanfic ini kita sambung ke chapter depan, ya? Jangan lupa lho, ditunggu reviewnya.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone