

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Biru yang Tak Nampak; [T - Suspense/Hurt/Comfort] Akankah Indonesia tetap ada? | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 17 Aug 2011, 03:06 PM (417 Views) | |
| Zerou | 17 Aug 2011, 03:06 PM Post #1 |
|
liburannya pengangguran
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Sebenarnya cerpen ini sudah cukup lama dipost, tapi pingin aja post lai di sini #disambit ------------------------------------------------------ Biru yang Tak Nampak Creator: Kobayakawa Zerou Tribute: My country, Indonesia Langit biru. Warnanya selalu sama setiap kau mencoba menatapnya. Arak-arakan permen kapas berlari pelan mengikuti arus angin. Kicau kumpulan aves menari dalam saluran pendengaranmu, tengah mengisi sunyi dengan musik tak beratur bersama kerik insekta di sela-sela tanaman hijau. Berbaring nyaman di atas padang rumput hijau, mengikuti alur drama semesta. Punggungmu terasa sedikit geli, rerumputan segar memanjakanmu dengan ujung bagiannya. Bayang dedaunan menutup sebagian awakmu, melindungimu dari sengat mentari di puncak pentasnya. Kau menyukai kedamaian menyejukkan yang diciptakan semesta, merenungkannya dalam satu kedipan lama agar keagungan Tuhan meresap sepenuhnya, menjadikan batinmu nyaman dengan kesederhanaan alam. Bertempat tinggal di daerah tropis adalah hal paling menyenangkan bagimu. Kau tidak menyukai udara beku ketika musim dingin menyapu kota dengan kristal putih meski kau merindukan kelembutan gunungan salju. Itu setengah tahun yang lalu ketika orangtuamu mengajak berlibur ke salah satu negara di daratan Eropa dan kau mengenal istilah 'White Christmas'—hari bersalju di malam Natal (walau kau tak pernah merayakan hari kelahiran Yesus Kristus itu). Desember paling dingin yang pernah ada, kau berharap tak merasakannya lagi, kau punya problem kesehatan mengenai dingin. Helaian daun menari ketika menuruni tangga angin, jatuh berirama menghujani awakmu. Menyadarkan lamunan singkat tentang masa lampau, sejumlah ingatan manis berkeliaran sejenak di benakmu. Selembar warna yang menguning yang menutup wajahmu kau raih, mengangkatnya tinggi-tinggi dan menerawang. Iris kecoklatan milikmu menatap jauh, berkonsentrasi pada hal yang menjadi mimpimu. Sekelebat rangkaian tujuan masa akan datang berputar dalam kepala. Mengubah nasib negeri menjadi lebih baik, menjaga keelokan lukisan sempurna Sang Esa dan membangun megah kehidupan yang damai. Kau tak ingin kerusuhan meluluhlantakkan kebersamaan bangsa tempat di mana kau tumbuh (negeri besar dengan ribuan pulau, etnis, kultur dan bahasa, yang tak tereksploitasi dengan benar. Pulaumu Jawa, kulitmu sawo matang, bahasamu bahasa Indonesia, tapi Amerika budayamu, kau tak merdeka, kau masih terjajah, lebih ganas daripada saat dikuasai Belanda). Berita pagi lagi-lagi melayangkan cerita pendek mengenai drama teror yang mengguncang jantungmu (kau tak pernah senang dengan teror, bom dan perang). Kabar-kabar menyakitkan berlarian tiap hari, entah membahas intrik vital region, tawuran, pangan yang mencekik leher atau isu yang mempermalukan negerimu. Terkadang pembicaraan tidak penting dalam dialog pembawa acara plus narasumber membuatmu terhenti sejenak dan berpikir,Kok tiap hari beritanya sama terus?. Sebenarnya kau tak paham betul bahkan seratus persen tak mengerti (berita kadang hanya rangkaian plot penipuan, tak sepenuhnya mengumbar kebenaran), kalau saja pria setengah baya pengasuhmu diam tak menjelaskan apapun pada anak yang tahun depan akan menuntut ilmu di sekolah menengah pertama. Satu simpulan kau dapat, negeri ini terkikis perlahan, lambat-lambat digerogoti hingga lapuk dan hancur. Gerombolan putih kapas bergoyang keras, musik sang bayu menghentak tajam. "Kenapa yang ada cuma tawuran, teror, korupsi ya? Kenapa lebih sering berita buruk daripada menyenangkan kalau soal Indonesia? Ribut mulu adanya," gumammu masih terus terbius,"Bukannya lebih baik tiduran begini sambil menenangkan hati, 'kan hati jadi tentram nyaman, ketimbang tawuran atau perang yang cuma bikin sakit." Sakit batin juga sakit fisik, perang hanya menimbulkan masalah baru, pikirmu kembali. Kau cinta damai, kau mendeklarasikan hal tersebut di panggung kelas, teman-temanmu tak menganggap serius (kau terlalu sering mengumbar kebohongan demi senyum sahabat-sahabatmu). Berakhir gelak tawa karena cuping telingamu memerah ditarik guru Matematika paling sangar—menurutmu (kau salah satu biang keributan di sekolah walau nilai ujianmu tak bermasalah). Kau tersenyum geli mengenang kejadian tiga bulan lalu. Memejamkan mata kembali, kau menggali ketentraman di antara hiruk pikuk kekejaman hidup. Tempat ini lokasi yang paling kau sukai, tempatmu bermain bersama bocah-bocah lain, juga tempat kamu melupakan sejenak masalah negeri ini (kau peduli karena kau kelak—semoga—menjadi orang paling penting di negara kepulauan terbesar ini. Mimpimu tinggi, melebihi puncak yang kau pandang). Kau tergoda oleh rayuan semesta, tubuhmu berhasrat menemui domba-domba pengantar lelap. Tak peduli, deru nafasmu teratur, telah terbawa jebakan domba nakal yang menghasutmu. Kau tertidur. Dan melupakan janji membahas persaingan di hari ulang tahun negerimu (negara cinta damai menolak perang—menjinjing senjata untuk pertahanan, tengah memperjuangkan bebas dan dalam cengkraman kehancuran—tak ada yang menyadari, tak ada yang mengacuhkan, semua mata terpejam karena sinar yang terlalu terang), tiga puluh menit lagi pertemuan di tempatmu mencipta peta baru dengan liur. Kau tak pernah menyangka, hari itu adalah terakhir kau mampu tersenyum sepenuhnya. Angin semilir, awan berarak. Langit biru, kau selalu menyukai warna itu. ------------------------------------- "…il…" "…gil…" "Agil Kuncoro! Kau dengar aku?" Kelopak matamu membuka secepat kau tersadar dari mimpi buruk, tubuhmu tersentak mundur menyentuh sandaran kursi. Jelas terlihat kau terkesiap oleh panggilan suara sopran yang merasuki lubang pendengaran. Kau mengerjap pelan, mengumpulkan kesadaran agar kau hidup sepenuhnya, mengatur degup jantung yang terpacu kencang. "Apa?" responmu singkat, kau akui kau tak tahu apa yang membuat si pemanggil menampakkan ekspresi kesal. "Aku tahu kamu lelah, tapi paling tidak saat rapat jangan tidur, Gil," ujar temanmu menunjukkan kekhawatiran juga sedikit amarah (kau melalaikan peringatan menjaga ragamu sendiri, hei pejuang bangsa yang runtuh). "Tidur?" "Yeah, kau tertidur di tengah rapat dan sekarang semuanya sudah pulang." Diedarkannya pandanganmu pada sekeliling, hanya kursi-kursi lapuk dan meja-meja tua yang hampir ambruk digoncang peledak (lantai akan amblas, kaca tipis tinggal serpihan, dinding retak tak beraturan, langit-langit terbelah terbang bersama aliran udara, tak ada perlindungan apapun di atas kepalamu). Kau tak menyukai ini. Udara hanya berbau mesiu, yang tak juga hilang akibat penggunaannya setiap waktu. Awakmu pula memakai pewangi itu, begitu tajam menusuk penciuman. Pakaianmu lusuh, sedikit tercampur anyir juga peluh yang meresap kuat, menorehkan jejak tak termaafkan. Kau mengembalikan tatapan pada rekanmu. "Berapa lama aku tertidur?" tanyamu. Kau tak bisa mengira-kira putaran jarum panjang sudah berpindah berapa jeda, jam dinding telah tergolek tak berdaya pada tembok yang retak. "Mungkin tiga jam, tidak. Kira-kira dua jam dua puluh menit." "Selama itu?" "Yep, rapat sudah selesai satu jam yang lalu. Karena keadaan sedang stabil, kubiarkan saja kau tidur." "Hei, Sekar. Kau ceroboh, harusnya kau bangunkan aku begitu rapat selesai. Bagaimana kalau ada serangan?" "Saat itu juga aku akan menjungkirbalikkan kursimu, Agil." Seulas senyum tertarik dari sudut bibirmu, kau kagum dengan 'keberingasan' teman seperjuanganmu, gadis sangar (statusnya belum berubah walau empat tahun lagi akan berkepala tiga) yang tak ragu akan membabat habis orang yang menghalanginya. Kau bersyukur mengenal dan berteman baik dengannya, setidaknya kau salah satu orang yang mampu menjinakkannya (tampangnya menawan, alisnya runcing—siap menusuk jika kau melawan, seringainya bagaikan iblis dari neraka, aura hitamnya menusuk diam-diam dari belakang). "Ayo kita keluar dari gedung ini, aku punya firasat tempat ini akan hancur," ajakmu pada perempuan berkuncir kuda (helai rambutnya lebat, khas karakter kuat tergambar pada penampilan). Firasatmu selalu memunculkan kebenaran, yang sayangnya nasib naas menjadi prioritas pertama dalam bayangan nyatamu. Kau berdiri, mengambil rifle yang tersender di sebelahmu dan meninggalkan tempat duduk lapuk yang rayap pun tak sudi menggerogotinya. Kau berjalan lambat, koordinasi otakmu tak mau berkompromi. Kau melangkah lunglai sejenak, pandangan mengabur tak fokus memperlihatkan jelas bayangan pada retina. Jemarimu reflek mengunci sebelah matamu, kau tak bisa menahannya lagi. Ada yang salah dengan tubuhmu, sadar bahwa hidupmu tak lebih panjang dari tali pengikat sepatu, jerat tambang seakan mencekik leher. "Kau tak apa?" tanya Sekar menyadari keanehan sistem koordinasi tubuhmu. Ia tak tahu apa yang tengah menggerogoti awak kecil yang makin mengurus. Kau tersenyum letih,"Tak apa, kurasa aku hanya kurang istirahat saja." Sekar mengerutkan alisnya, ia tak yakin dengan jawabanmu, kau terlalu sering melayangkan kata-kata bodoh tanpa makna (ingatkah kau adalah seorang pembohong di masa lampau? Meski hanya untuk memunculkan gelak tawa di antara pemirsa di sekelilingmu, silat lidah yang kau perlihatkan adalah dusta). "Jangan bohong!" "Aku baik-baik saja, Sekar. Kau tak perlu khawatir," ujarmu sembari menatap tajam temanmu, meyakinkan bahwa kau sehat. Nyala membara masih berkibar dalam pandanganmu, menyampaikan makna bahwa dalam jiwamu masih tersisa semangat juang (merah putih telah tercoreng, bendera sakral kebanggaanmu robek karena ego bangsamu). Perempuan itu mendesah, ia sangat tahu sifat keras kepalamu. Dia melangkah maju mendahului tanpa menoleh ke arahmu. "Aku tak mau tanggung jawab kalau kau mati karena serangan jantung." Kau tersenyum kecut, egomu sendiri yang meminta agar tak seorang pun mengorek kondisi tubuhmu sebenarnya. Dengan gontai kau mengikuti langkah rekanmu perlahan. Menuruni anak tangga demi anak tangga, seakan menghitung mundur usiamu yang makin digerogoti oleh waktu. Peluh mengucur pelan, mengalir lambat di atas pori-pori tipis yang membalut tulangmu. Wajahmu memucat, sebelah tanganmu kembali menutup sebagian parasmu. Di balik lensa kecilmu, retina mengaburkan jarak pandang sesaat. Nafasmu memburu. Kau menghentikan aktivitas kakimu, menyenderkan tubuh ke dinding terdekat dan kau mencoba menstabilkan sistem awakmu. Partner setiamu telah lalu, tak menghiraukan kakimu yang sulit dikendalikan. "Pihak Eropa akan menyerang lagi, kau harus lebih hati-hati. Aku yakin kau akan selamat, Agil. Tapi, dengan keadaanmu sekarang kau harus—". Sekar berujar dan mencoba melirikmu, namun kau tak ada di balik punggungnya. Ia berdecak, segera mengambil langkah cepat untuk menemui laki-laki paling keras kepala yang pernah ia kenal. Kau menghirup udara dan melepasnya perlahan, metode yang tetap sama semenjak kau dikenalkan dunia oleh Tuhan. Penerapan ini sering berhasil untuk penyakitmu yang kumat, meski tak sepenuhnya memberi kesegaran selayaknya manusia sehat jasmani. Sekilas dalam pusat kendali tubuhmu melintaskan selapis memori sebelum usiamu beranjak lima belas tahun, kenangan sepuluh tahun silam. Pandanganmu melayang, fatamorgana masa lampau menghalangi penglihatanmu. Biru langit melebur bersama putih permen kapas di atas sana, hembusan angin membelai lembut, harum hijau rerumputan, kesegaran alam merasuki jiwa. "Agil!" Tersentak. Panggilan barusan menyadarkanmu kembali dari bayangan tak nyata. Pupilmu melebar, menyaring daerah sekitar dan semenit selanjutnya retinamu menangkap bayang rekanmu. Parasnya tak nampak baik, teraduk antara geram, secuil lelah dan biru pucat yang tak kau sukai. Ritme nafas partner-mu tak selaras, senada dengan engah yang kau hembuskan sesaat lalu. Jemari gadis itu mencengkram tulang lenganmu yang hanya berbalut daging tipis, sekilas kau terlihat terjengit menerima tekanan rekan terpercayamu (kau selalu bangga dengan kinerja teman tim militermu, melempar confetti sebagai perayaan keberhasilan kalian—kau hanya tersenyum getir, tak ada hal yang bisa dibanggakan dari perang. Kau ingin merdeka dan damai, seperti akhir kisah putri malang yang diasuh ibu tiri). "Ayo, aku tak mau kamu hanya jadi sampah yang tak berguna untuk perjuangan ini." Sekar menarik tubuhmu yang hampir terkulai lemas. Ia tahu, kau selalu mendambakan puncak yang terlampau tinggi, yang tertutup bayang-bayang hitam. Kau tak pernah cocok dengan pergelutan dunia yang sembari menenteng senjata (kita berperang untuk hidup, mempertahankan hal tak abadi dan rapuh). Matamu tertuju pada dinding-dinding retak, jejak-jejak kobaran api masih tersisa di setiap sudut bangunan tua itu. Lembaran kertas menguning masih kokoh melekat walau separuh telah hilang terbakar. November 2017. Ayahmu pernah bercerita, dunia hanya memutar balik apa yang pernah ada, menari dengan stagnan seperti rotasi Bumi. Kisah semasa kecil terikat pada otak kananmu, kau tak pernah sekalipun mencoba melupakan sejarah-sejarah penting. Perang selalu mengacaukan segala, perbedaan membutakan nurani makhluk Tuhan yang serakah. Tak ada zaman tanpa perang, buku sejarahmu selalu menuliskan tentang kebrutalan manusia itu. Sungguh, kau hampir membuang rangkaian angka paling penting, hari di mana kekacauan tersebut dimulai kembali. November 2010, tiga bulan setelah kau bersuka cita akan hari jadi negerimu, bunyi terompet berkumandang, negara tetangga yang serumpun mengacungkan senapan (letupan kembang api pembuka bertebaran di angkasa, berjoget ria seakan salah satu jenis musik tengah berputar). Bulan memancarkan cahaya bersama suara dentuman serta jeritan memilukan di sela-sela hujan abu dan serpihan bata yang terlontar (sinarnya merah menyala, melebur dengan cipratan darah yang melayang). Sang mega menitikkan air mata guna menyapu kehancuran (mengapa harus ada yang bernama perang?). Sedikit lagi, beberapa langkah kecil akan mencapai penantian yang tak berujung. November neraka tinggal hitungan hari, empat belas tahun tak cukup untuk menyelesaikan apapun. Kau sama seperti kampung halamanmu, saling menghitung mundur deretan angka-angka keramat yang membawa ajal (negerimu hanya bersisa nama, pembela tanah Eden telah menyatu dengan darah yang tertumpah sia-sia. Indonesia, nama itu hampir terlupakan, negara kepulauan kini terendam samudera, hijau zamrud yang bertahan terjajah kembali. Tentara pejuangmu bergerilya, menusuk diam-diam sebagai Nusantara yang tersembunyi). "Sebentar lagi..," gumammu, gadis yang lebih tua darimu itu mengerti apa maksud ucapanmu. Tak ada yang akan melupakan hari paling buruk yang pernah ada (negerimu hilang berkat taburan abu memabukkan dan kepulan asap menyesakkan menghujani bumi ibu Pertiwi. Negara adikuasa, bangsa yang tergiur kekayaan negerimu di masa lampau juga negeri tanah serumpun menginjak kasar pulau yang tak berdaya). (Di mana Indonesia?). Kalian berjalan keluar, yang menembus sudut mata pertama kali adalah hamparan tanah pasir, tampak jelas kegersangan menyelimuti seluruh belahan dunia. Sumber kehidupan di wilayah tenggara telah raib, Tuhan sudah menarik segala kenikmatan yang seharusnya tetap kau rasakan. Bangunan-bangunan megah telah rata dengan tanah, hijau kelembutan berubah menjadi cokelat kering menggenaskan. Hiruk pikuk kota metropolitan terkubur di antara puing-puing reruntuhan tak berarti. Tenda-tenda usang tengah berdiri, sebagian orangmu bersiaga, menunggu perintah melancarkan gumpalan peledak ke arah musuh. Pria mengangkat senjata, wanita menanti derita orang-orang yang tiba akibat hantaman peluru. Anak-anak hanya mengucurkan air mata (atau tertawa tanpa derita sembari berlarian mengelilingi tenda), para orangtua yang telah uzur lebih banyak berdoa, mengharap keluarga mereka terlindungi dengan keberuntungan (Tuhan tahu apa yang kita inginkan, tapi Tuhan memberikan apa yang tak pernah kita pikirkan) dan lamat-lamat terdengar sesenggukan sesekali, di hadapan seonggok daging yang tak berwujud terbungkus kain putih. Kau teringat akan keluargamu (Ibumu telah berpulang sepuluh tahun lalu dalam momen goncangan kemurkaan Bumi, ayahmu mati bersama kakakmu di antara hantaman radiasi bom atom empat tahun silam, kau hanya diam terpaku, tanpa menyadari setetes air membasahi wajah). "Kabarnya di wilayah selatan nyaris dikuasai orang-orang kulit pucat itu," sahut Sekar memecah keheningan memilukan, parasmu kentara memperlihatkan kerinduan dan gadis itu mampu meraba kegundahan hatimu. Kau memalingkan wajahmu ke arah perempuan itu, raut mukamu berubah. Kau telah menduga, cepat atau lambat pertahanan kalian akan terkikis oleh hal yang bernama kekuasaan, manusia tak pernah puas dengan kondisi yang ada. Daerah selatan merupakan kampung halamanmu, bagian kecil dari negerimu yang masih mendoakan kemakmuran. "Tapi, semuanya baik-baik saja, keadaan di sana masih bisa dikendalikan. Kau tak perlu khawatir," timpalnya cepat-cepat, ia jua sangat tahu kau mencintai tempatmu dilahirkan,"Setidaknya lebih baik daripada tempatku yang sudah dijajah lagi oleh Kompeni." Iris hitam pekat itu tertuju pada sekumpulan mayat busuk, anyir menguar tak mempengaruhi kepekaan, indera penciuman kalian telah rusak karena perang. Tatapan syahdu terlintas sekilas di raut muka gadis itu, pedih merasuk dalam lorong-lorong gelap nurani yang beku. Ingatan kecil masa lalu perempuan berkuncir kuda itu bergoyang dalam kepala, nasibnya tak lebih baik daripada kisahmu (Sekar kecil terbahak bersama teman-temannya di panti, ia sendiri, menertawakan kisahnya yang miris. Ayahnya pergi ke alam kubur, ibunya membuangnya—ia bukan anak yang diinginkan, hanya sebuah ruh yang turun ke dunia untuk merasakan kepahitan hidup. Dan segalanya berakhir ketika sang mega berubah, ketika birunya telah memudar). "Tak apa." Gadis itu terlonjak, gumamanmu menghancurkan lamunan sesaat tentang jati diri rekanmu. Diputarnya kepala ke arahmu sambil memaparkan ekspresi terkejut. "Walaupun kampung halaman kita sudah tidak ada, tak apa, masih ada aku. Aku akan menemanimu selalu..," ujarmu seraya menunjukkan garis melengkung di wajahmu yang melembut (yang telah lama tak kau perlihatkan, rupamu terlalu sering menampilkan dusta hingga kau hampir melupakan apa itu perasaan), kemudian dilanjutkan dalam kata-kata lirih, hampir tak terdengar,"Walau aku tidak akan bertahan lama…" Garis-garis kemerahan timbul, menari sembari memoles tipis wajah rekanmu. Tak biasanya kau mengatakan hal-hal romantis, rayuan gombal atau sejenisnya dan gadis itu pun terlihat kacau untuk mencerna serangkaian kata menggelikan di telinganya. Kalian terdiam lama, seakan menikmati sunyi di antara kekacauan yang tak jua berakhir. "Jangan ucapkan hal konyol macam itu!" balasnya setelah lama terpaku sembari memukul pelan lengan kirimu—walau sebenarnya membuatmu terhuyung kehilangan keseimbangan. Kau tertawa renyah akan reaksi gadis itu, kau akui itu bukan hal biasa yang bisa kau lihat setiap saat. Sekar memalingkan muka kembali untuk menyembunyikan raut wajahnya yang memperlihatkan semburat merah muda. Iris gelapmu masih saja tertuju pada tingkah si perempuan sangar. Sudah lama kau tak tertawa lepas seperti itu. Gadis tersebut mendengus—yang sepertinya tengah mengatur suasana sukmanya yang menggeliat tak teratur, rona pipinya sungguh menggoda pemuda yang lebih muda satu tahun darinya. Ia tampak kesal dengan reaksi tawamu yang tak jua mereda. Namun, dia memunculkan segaris tipis melengkung ketika memandang sosokmu terlihat lebih hidup daripada sebelumnya. Kau menyadari itu, kau tak pernah sesenang ini, kekejaman perang membuatmu menampik segala kebahagiaan yang mencoba menghampiri. "Terima kasih," ujarmu setelah puas menghamburkan seluruh perasaanmu dengan leluasa, kali ini kau benar-benar bersyukur bertemu wanita muda itu. "Untuk apa? Aku tak melakukan sesuatu yang sampai membuatmu harus mengucapkan terima kasih 'kan?" "Untuk apapun, semua hal yang kudapat darimu sejak pertam—" Suara dentuman gumpalan mesiu menghantam bumi, memotong serangkaian kata yang seharusnya tersampaikan untuk rekanmu. Refleks kalian mengalihkan fokus ke sumber ledakan barusan berkoar, gedung lapuk yang menjadi markas hancur dan menyisakan puing-puing bangunan berjatuhan juga terlontar tak tentu arah, bagai musik dansa mengalun gembira. Orang-orang terkejut dan berlarian—berusaha menyelamatkan diri, menghindari malaikat kematian yang tak memperlihatkan daftar si penerima ajal. Kepanikan berputar dalam wilayah tanggung jawabmu. Seorang pemuda berbaju militer berlari menuju tempat kau berdiri. "Kolonel! Pihak Barat menyerang lagi!" Kalian sadar apa yang terjadi. Deru tembakan meletus terdengar dari arah timur. Asap kelabu juga butiran pasir menguar akibat debam peledak sedikit mengaburkan pandangan. Musuh melancarkan serangan tanpa jeda, tak memberi kesempatan untuk mengelak. Rentetan serangan beruntun menghujam tanahmu yang rapuh (Bumi Pertiwi hanya menangis, menanti kedamaian yang tak pasti). "Ungsikan orang-orang! Kita harus melindungi mereka!" Pemuda tadi menggerakkan tangan kanannya hormat menandakan ia segera melaksanakan perintah atasannya. Sekar dan kau berlari menuju lokasi baku tembak. Kakimu melangkah lebar, berlari sekuat tenaga meski kepayahan mengendalikan tubuhmu yang semakin menolak berpindah. Sekar melirikmu sesekali, tak tega membiarkanmu bertempur dalam kondisi awak tak meyakinkan, tapi ia ingat egomu terlampau besar untuk mendengar nasehatnya. Kalian mengambil posisi begitu sampai di lokasi dan mengikuti irama selongsong peluru yang saling memojokkan. Kau segera memberi komando setelah mengetahui situasi. Tubuh kalian berlindung di balik karung-karung pasir—yang terus berjuang menahan besi kecil berisi bubuk penghancur bersarang pada raga para pejuang siap mati. Meriam melontarkan peledak, terkikik senang memperoleh tugas mematikan. Granat kecil mengarah ke salah satu prajuritmu, mengoyak awak kasar dan cepat—melumat habis tak berbentuk, memperlihatkan cairan merah mengucur bebas hingga memandikan merah bagi rekan seperjuanganmu lainnya. Wajah kalian memucat, tak lupa amarah membakar nurani. Sekar berusaha menenangkan dirinya, setidaknya untuk saat ini. "Agil…" Kau masih terpancang pada senjatamu, berkonsentrasi agar tak terjadi kecelakaan walau gemetar merasuki saraf-saraf motorik. Namun kau memperhatikan setiap aksara yang keluar dari sela bibir gadis itu. "Hiduplah, lebih lama untuk negeri ini." Kau hanya tersenyum getir mendengarnya, harapan kosong rekanmu seperti angin lalu dalam penjara di pulau tak berpenghuni (doanya untukmu, untuknya dan negeri kalian, sebuah impian hampa menyesatkan yang tak mendapat kepastian). Pelor-pelor panas yang siap menjadi benalu di onggokan daging terhenti, pion-pion musuh meletakkan senapan. Alismu menyerngit, mereka berlarian mundur. Kau mendongakkan kepala, burung-burung baja mengerumuni angkasa, warna metalnya memantulkan kemilau mentari yang separuh terhalang awan abu-abu, tengah bersiap menjatuhkan bola-bola hitam perusak. Mungkin ini akan berakhir, pikirmu. Kau menatap langit, terbius oleh warna kelabu yang abadi, menciptakan delusi menyakitkan yang terlupakan. Pesawat musuh bagai aves-aves kecil yang menyuarakan kehidupan. Warna gelap menyesakkan seakan bertransformasi menjadi biru menentramkan, kayu-kayu mengering memunculkan dedaunan hijau nan damai, orkestra serangga yang tak hentinya melantunkan nada memukau dan kau merasakan kembali kesejukan di tengah ilalang yang menari. "Agil, ayo lari!" seru Sekar mengingatkanmu untuk berlindung, ia merasakan hal terburuk dalam hidupnya akan terjadi,"Yang lain berlindung!". Semua batalion barisan depan serempak mematuhi perintah, menyelamatkan diri, menyebar ke seluruh penjuru arah dan mengungsikan rakyat yang rapuh. Dalam ragamu memutar gerak lambat frame-frame usang yang berdebu di sudut lemari ingatanmu (bocah-bocah naïf berlarian, bermain bersama, menari, mengumandangkan lagu-lagu ceria dan seulas senyum tanpa dosa bertengger di setiap wajah-wajah lugu. Tertawa, menikmati hari-hari tanpa beban di antara hamparan padang kembang yang bermekaran. Sang mega biru berdongeng bersama gerombolan kapas putih, sentuhan lembut bayu mengelus pipi, gemercik air membawa ke alam mimpi. Kau tak pernah mau melupakan kebahagiaan sesaat itu, angan-anganmu yang terkubur bersama tulang-tulang putih membusuk dalam tanah). "Jangan diam saja, ayo lari!" Kau bergeming, delusi seakan telah menguasai kesadaran. Sekar menarik lenganmu, kau tetap terpaku, retinamu terus menatap baja-baja terbang. Fokusmu telah berpindah, masa lampau memabukkan menyeretmu, memohon kau menemaninya. Sungguh, kau tak peduli apapun kali ini. Suara teriakan mundur terabaikan, dibiarkan menggema tanpa sahutan (biarlah jerit melebur bersama denting memilukan yang abadi, biarlah tanah Eden menyatu dengan angkasa yang menangis, biarlah hitam dan merah menguasai jagad raya, kedamaian yang didambakan tak selalu bermakna kebahagiaan). Birunya menyejukkan, membawa ketentraman. Nyanyian alam terlalu merindukan. "AGILl!" Kau menyukai langit biru bukan? ~The End Edited by Zerou, 17 Aug 2011, 03:15 PM.
|
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:35 AM Jul 11
|
AFFILIATES







![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)




7:35 AM Jul 11