

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Last Day; [Original FF] | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 13 Jul 2011, 12:53 AM (494 Views) | |
| dhezshou | 13 Jul 2011, 12:53 AM Post #1 |
![]()
Newbie
![]() ![]() ![]()
|
Details Kata apa yang lebih indah dari Drop-Out? WHOA, sobat, itu jelas bukan kemauanku. Bukan keinginanku. Anggap saja Sekolah Sihir itu melakukan kewajibannya, mengeluarkanku yang sudah tiga tahun berturut-turut tidak naik kelas dan menghasilkan nilai OWL tak memuaskan—kecuali Transfigurasi. Aku cuma nyengir lebar ketika Profesor McGonagall menceramahiku panjang lebar, memperingatkanku berkali-kali, memarahiku, menegurku, menyemangatiku untuk terus mengikuti pelajaran di kelas dan tak patah semangat. Sayangnya kata itu sudah lama menghilang dari kamusku beberapa tahun belakangan ini. Mungkin karena bagiku kelas sudah tak mengasyikkan lagi tanpa Wet, soulmate sejatiku. Aku kangen Duo Singa; geng yang resmi kami dirikan di Tahun Kedua (walau anggotanya cuma dua; siapa kalau bukan aku dan dia?). Kegilaan-kegilaan yang telah kami lakukan sulit untuk berlanjut karena Wet mulai sibuk dengan kegiatan kewanitaannya—bohong, kenyataannya adalah dia jarang terlihat sejak kami pisah kelas. Padahal aku dan dia seasrama. Baru hari ini aku berhasil menemukan batang hidungnya setelah sekian lama, tepatnya di atas Hogwarts Express; Kompartemen #6—yang akan tiba di London sejam lagi. Aku berlari mendekatinya, kurangkul pundaknya dan kutanyakan kabarnya, menyampaikan semua hal yang bisa kuberikan padanya, tertawa, hingga pada akhirnya kuceritakan padanya mengenai lepasnya status muridku terhitung esok hari. Wet menganggapku bercanda. Sahabatku itu tertawa. Namun tawanya yang tadi menggelegar kini berganti dengan teriakan kekecewaan begitu kubilang kata-kataku barusan itu serius. Wet mewek. Dia tidak menangis, tapi wajahnya benar-benar mengerut total. Jelek banget. Aku nyengir lagi, merangkulnya dan menepuk-nepuk punggungnya. Berkata bahwa ia seharusnya senang karena bisa mencari anggota Duo Singa yang baru; mungkin lebih gila dariku dan bisa diajaknya menari India di atas Meja Gryffindor. Wet menggeleng sembari menyedot ingusnya keras-keras, kalimat yang terlontar berikutnya membuatku ikut mewek bersamanya. "Kau yang terbaik, Mate. Tak ada yang bisa menggantikanmu." Waterica Natoki McMoney, aku sayang padamu. Kau sahabat dan soulmate terbaikku. Sampai kapanpun. "By the way, aku juga tahun depan sudah tak di Hogwarts lagi. Jadi rasanya percuma kalau kita tangis-tangisan begini—masih bisa ketemu, kan?" Cengirnya lebar. Aku lupa kalau dia lulus tahun ini. Kurang ajar. *** "...Aria juga tidak melanjutkan sekolahnya di Hogwarts mulai tahun depan. Jangan-jangan kalian berdua janjian?" Dan aku terbahak-bahak mendengar ucapan Ken-Ken. Kutepuk-tepuk pundaknya sembari menghela napas panjang, nyengir padanya. Sobat Asiaku ini sejak menikah (tahun lalu) dengan Linnearia Vineyard jadi mudah curiga pada anak lelaki yang dekat dengan istrinya; padahal aku sendiri terbilang tidak cukup akrab dengan si Aria—cuma kenal wajah gara-gara ia pernah berada di restoran ayahku suatu kali. Ngobrol saja jarang walau Aria sering menginterogasiku soal Ken-Ken. Aku lupa kalau Ken-Ken itu tukang ngambek. "Nehi-nehi! Aku di-Drop Out, Kawan Asiaku tersayang. Kalau Aria kan beda kasus, keluar atas kemauannya sendiri. Beda jauh sekali bak Sungai Amazon!" Ken-Ken tersenyum lebar, kini mengalungkan lengannya di leherku. Kami saling berangkulan dan tertawa-tawa (seperti orang gila, karena saat ini kami berada di tengah lorong Gerbong Dua), Ken-Ken berkata ia menyayangkan kepergianku yang tiba-tiba ini. Bahkan ia mulai membahas pembicaraan kami dulu ketika di Diagon Alley—dulu aku yang ngotot untuk memperbaiki nilai, malah beberapa kali tidak naik dan sekarang keluar dari Hogwarts. Aku nyengir lebar. Yah, yang dulu dan sekarang jangan dibandingkan. Pastinya beda. "Maaf aku tak bisa lulus bersamamu, Ken-Ken! Luluslah dengan nilai memuaskan sebagai gantiku, oke? Dan jadilah suami yang baik untuk Aria," cengirku makin lebar, "berkunjunglah ke restoran ayahku di Liverpool kapan-kapan. Akan kuberikan meja terbaik untuk kalian berdua!" Ken-Ken tersenyum, menarik napas panjang dan melepaskan rangkulannya. Kini tangannya terulur untuk mengajakku bersalaman. Kubalas ulurannya dan menyalaminya, kudengar nada bicara Ken-Ken berikutnya begitu sedih. Aku mewek, begitupun ia. "Dustin. Aria. Dan sekarang kau, Arya. Kalian tega padaku." Kenichirou Winterfield, ini bukan masalah tega atau tidak. Masalah keberuntungan dan takdir, dimana Dewa tak memperbolehkanku berada di Hogwarts lebih lama. Mungkin ini pertanda bahwa aku tak cocok jadi penyihir? Entah. "HOI, sudah jadi suami jangan cengeng!" Terima kasih atas segalanya, Ken-Ken. Kau sobat lelaki terbaikku. *** "Kau bohong." "Tidak." "Bohong." "Sudah kubilang, TIDAK!" "BOHOOOONG!" Sudah kuduga reaksi Hannah akan begini jadinya. Gadis sebayaku itu berteriak kencang, membuat Sandra yang duduk di dekat jendela Kompartemen #11 terlonjak kaget. Aku nyengir padanya, menarik Hannah keluar dari sana dan memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan ini di luar. Terdengar isak pelan darinya seiring dengan gerakannya mendorongku agak sedikit kasar; pertanda bahwa ia tidak suka dengan apa yang barusan kusampaikan padanya. "ARYA BEGO! KENAPA BARU BERITAHU AKU SEKARANG?!" Ujarnya, masih disertai isakan tangis, "Padahal—padahal—uuugh—BEGOOOO!" Dan sekarang ia melempariku bantal yang sedaritadi dipegangnya. Aku mengelak. "Jangan ngamuk, dong!" Ujarku panik, mundur beberapa langkah lagi untuk menghindari serangan berikutnya karena ia meraih bantalnya tadi, "Dan kau tidak perlu semarah itu! A-aku cuma ingin pamit baik-baik denganmu supaya hidupku nanti di luar Hogwarts bisa lebih tenang, dan—" Bantal mendarat di wajahku, menghentikan kata-kata yang baru akan terlontar dari mulutku. Isakan Hannah terdengar makin keras dan membuatku semakin merasa bersalah. Apa waktuku kurang tepat? Aku tak tahu alasan apa yang membuat Hannah sangat terlihat tidak suka kenyataan bahwa aku tak akan satu sekolah lagi dengannya terhitung tahun depan; walau sebenarnya Sandra pernah memberitahukanku sesuatu—yang kuanggap angin lalu. Apa kutanyakan sekarang saja, ya? Kulemparkan bantal itu pada Hannah, menatapnya lurus sembari tersenyum jahil. Aku sebenarnya penasaran mengenai kata-kata Sandra, jadi— "Kau naksir aku, ya?" Dan bukan jawaban yang kudapat, malah si bantal melayang. Gadis itu kembali ke Kompartemen-nya, menutup pintu dengan kasar dan aku tahu untuk menit selanjutnya Hannah tidak akan mau keluar. Sekalipun aku menggedornya dengan paksa. Jangan-jangan— Yah, kalaupun itu benar, thanks a lot, Hannah Littlehat, karena naksir orang sepertiku. Uhui. *** Aku menghembuskan napas panjang memandangi si Raksasa Merah di hadapanku itu. Jelas aku tak akan melupakannya, si Hogwarts Express yang selalu menjadi tumpanganku selama hampir delapan tahun belakangan. Ingatan Fotografisku memungkinkannya untuk terus melekat di dalam otakku seumur hidup; menyimpannya dalam Perpustakaan Memori terdalam dan menjadikannya kenangan manis dalam Lemari Khusus berlabelkan 'Kehidupan Hogwarts'—dimana semua hal yang kualami selama ini di Sekolah Sihir tersebut tersimpan rapi disana. Aku tak akan melupakannya. Mustahil, bukan? Morgan Wilson menepuk pundakku, berkata bahwa aku masih bisa melihatnya lagi nanti. Yeah, nanti, entah kapan. Mungkin kalau aku diselundupkan oleh si Morgan (ingat dia? Pembimbingku di Tahun Pertama?) atau kalau aku sudah punya anak. Rasa-rasanya masih lama—mungkin duapuluh tahun lagi. Entahlah. Tinggal menerobos keluar dari Peron 9 3/4, dan hidupku tak akan sama lagi. Mulai esok aku akan menjalani hidupku sebelum bersekolah di Hogwarts; hanya dengan penambahan wawasanku akan sihir. Usiaku sudah delapanbelas, lagipula. Kutatap nanar Raksasa Merah itu dan berjalan mengikuti Morgan yang mendahuluiku, melihat sekeliling kemudian berhenti untuk merekam baik-baik pemandangan terakhir si Peron Ajaib. Aku ingin kembali kemari—andai aku bisa. Morgan sudah menembus Tiang terlebih dahulu. Sekarang giliranku. Phir Milenge, Hogwarts. Someday. Dan aku mewek untuk kesekian kalinya hari ini ketika menembus Tiang itu. Sial. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
![]() Our users say it best: "Zetaboards is the best forum service I have ever used." |
|
| « Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:35 AM Jul 11
|
AFFILIATES








![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)




7:35 AM Jul 11