

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Hand; Hanya ada satu dari sepasang... untukku... | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 29 Jun 2011, 10:21 PM (383 Views) | |
| Deleted User | 29 Jun 2011, 10:21 PM Post #1 |
|
Deleted User
|
Mom masih mengoceh tentang segala hal kecil yang kulakukan, ketika Dad datang dan menemukan bahwa tidak ada satupun kalimat dari Mom yang meresap ke dalam otakku. Dad tahu, tapi dia hanya tahu. Tidak ada hal yang lebih berarti lagi yang dapat dilakukannya selain menyaksikan Mom menyalakan sebatang rokok dan membakar permukaan kulitku dengan satu-satunya hal yang Ia cintai di dunia ini. Sakit rasanya, tapi aku tidak keberatan. Memang hanya ini yang dapat membuat wanita di depanku ini merasa bahagia. Hanya setiap luka di tubuh ini yang mampu membuatnya tetap bertahan hidup, walaupun tanpa air, makanan dan uang. Di akhir hidupnya, Ia akan meninggal dengan senyuman, ketika aku menanggalkan setiap kain yang melekat di tubuhku dan menunjukan setiap warna dan bentuk-bentuk hasil karya seninya di masa lalu. Pada saat itu, aku akan dengan senang hati melakukannya. Bisa dibilang, semacam simbiosis mutualisme pertama dan terakhir yang bisa kami berdua lakukan. Ia meninggal dengan tenang, dan aku melanjutkan hidup yang bebas. Tapi itu nanti. Sekarang, biarkan Ia memuaskan dahaganya dulu sebelum tidur malam ini. . . . "J-Jade, aku bawa ini untukmu," laki-laki rapuh itu menghampiriku dengan sebuah kotak putih di tangan keriputnya. "Trims, Dad," sahutku seceria mungkin. Kusambar kotak itu dari tangannya secepat kilat sebelum rasa sakit ini menjadi luka yang membusuk dan mencemariku lebih jauh lagi. "Biar kubantu, Jade." "Tidak usah, Dad. Aku bisa melakukannya sendiri," jawabku sembari menjelajahi isi kotak untuk menemukan sebotol antiseptik dan pil penghilang rasa sakit. Aku masih belum selesai, ketika isakan itu terdengar lagi. Sekali lagi. Betapa lelahnya aku. "Tolong biarkan aku membantumu. Aku tidak pernah melakukan apapun sebagai seorang ayah selama ini," bisiknya parau. "Baiklah," kukembalikan lagi kotak itu ke tangan yang sama. Tangan keriput yang bergetar hebat. Tangan yang dulu digunakan untuk memotong steak dari daging sapi terbaik dan akhirnya berakhir di beranda rumah ini, menggenggam kapas yang sama setiap malam. Dad mulai mengambil napas untuk bicara. Aku tahu benar apa yang akan Ia katakan setelah ini, topik yang selalu sama setiap malam, ketika wanita yang paling kami cintai itu tengah tertidur lelap, jauh dari jangkauan. Tapi aku tidak akan memotong kalimat itu sedikitpun, karena aku tahu hanya ini yang bisa membuatnya merasa lebih baik: membuatnya menganggap dirinya sendiri tidak hanya diam, ketika anak gadis satu-satunya itu disakiti tepat di depan matanya. "Kau tidak harus melakukan ini seumur hidupmu, Jade. Aku punya kerabat di California, aku yakin Ia bisa merawatmu dengan baik," ujarnya. Tangan itu mulai menyusuri permukaan lenganku, mengusap-usap epidermisku dengan lembut seperti yang Ia lakukan pada malam-malam panjang lainnya. "Aku tidak akan meninggalkanmu dengannya disini, dan aku juga tidak akan melakukan ini seumur hidupku. Ketika Ia mati..." "Itu waktu yang lama," airmata mulai menetes di pipinya. "Kubilang, aku tidak akan meninggalkanmu disini sendirian. Kau mengerti? Aku anakmu, bukan orang asing," balasku. Kupaksa kedua bola mata yang mulai memanas ini untuk diam dan tidak banyak berulah. "Dengarkan aku, Jade. Kau masih punya masa depan. Kau mengagumkan, anak yang baik dan penyayang. Dunia akan menghukumku jika aku masih mengurungmu dalam perangkap yang sama." "Akan kusuruh dunia untuk tidak menghukummu." "Tolong, Jade. Dengarkan aku sebagai ayahmu. Kalau kau meninggalkanku sendiri disini, bukan berarti kau anak yang kurangajar. Semua orang tahu hal itu," Ia menghentikan tangannya tepat di atas luka yang paling baru. Matanya memandang wajahku lekat-lekat, lebih sungguh-sungguh dari biasanya. "Tentu saja aku anak yang kurangajar kalau aku meninggalkanmu, Bodoh. Semua orang tahu itu," balasku dengan tawa yang mencibir. Sengaja kubuat agar Ia berhenti membujukku untuk pergi. Tapi, rasa sayangnya tidak dibatasi oleh suara cibiran saja. "Justru kau yang kurangajar jika tidak ingin memenuhi permintaan ayahmu sendiri. Kau kurangajar padaku kalau kau lebih memilih tidak diangap kurangajar oleh orang-orang lain. Yang kita bicarakan ini hidupmu, Jade. Tolong aku." "LALU KATAKAN PADAKU APA YANG HARUS AKU PERBUAT?! APA SEMUA YANG AKU LAKUKAN BELUM CUKUP?!" Gejolak panas dari perutku tiba-tiba menyembur keluar begitu saja. Larva panas mengalir dari mata dan ledakan-ledakan terucap dari mulut. Aku melebur. Kedua manusia yang hidup di rumah ini memang tidak pernah bosan menyiksaku. Ada seorang seniman yang gemar melukis dan mengukir di atas kulitku dan ada juga seorang lain yang menuntutku untuk selalu melakukan hal yang benar. Aku tidak terima kalau harus melakukan hal yang benar. Aku sudah melakukan kesalahan seumur hidupku, dan kuharap aku bisa berenang dalam kesalahan itu selama-lamanya. Aku tidak ingin bebas. Aku tidak ingin bebas sendiri. "IYA! SEMUANYA TIDAK CUKUP BAGIKU! KAU PIKIR AKU PUAS MELIHATMU DISAKITI SETIAP HARI?! KALAU KAU INGIN TAHU, JAWABANNYA TIDAK! AKU INGIN KAU TERTAWA SEPERTI DULU SAAT SEMUANYA MASIH BAIK-BAIK SAJA, SAAT SEMUANYA BELUM TERBONGKAR. AKU TIDAK AKAN PERNAH PUAS KALAU HIDUPMU BELUM BAHAGIA. TIDAK AKAN PERNAH!" Sekali lagi, aku tidak ingin bebas sendiri. "Aku tidak mau... sendirian." "Kau tidak akan sendirian kalau kau melakukannya untukku, Jade." Tangan itu kini mulai menelusuri punggungku, memeluk, melakukan apa saja agar segalanya menjadi lebih baik buatku. Satu-satunya tangan itu Ia dedikasikan untukku, agar berada di tempat yang sama setiap kali aku merasakan sakit. Untuk tetap berada di tempat yang sama ketika aku merasa sendirian. Kini kuberikan tangan yang sama untuknya, tangan yang juga akan selalu berada di tempat yang sama ketika Ia terluka. Akan kubawa jauh... jauh dari tempat ini agar Ia tidak lagi terluka. . . . BAK! huahahahaha ini post pertama, saya deg degan bikinnya :p semoga bisa menghibur semua yang ada disini :)))))))) tapi kalo agak gagal saya minta maaf, kalo agak mirip mirip sama punya orang saya minta maaf jugaa, soalnya saya belom liat semua cerita yang ada disinii :'''( tolong reviewnya kalau ada yang salah atau tidak berkenan di hati, saya masih amatiraan u.u ohiya promosi dikit, di FFn penname saya Cherr106 kalo maudicek boleeeee #ditimpukin ![]() |
|
|
| Mitama | 30 Jun 2011, 06:59 PM Post #2 |
![]()
Hand-freezing morning
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Uuuhhhh... Kejam amat ibunya. Cerita ini malah ngingetin aku ke novel (atau buku?) A Child Called it. Tapi di buku itu si ayah sama sekali nggak berkutik. Eh, tanya dong, kalo 'ia' itu awalannya huruf besar ya? Jadi harusnya 'Ia'? Atau ... gimana? Maap pertanyaan gaje ...
|
![]() |
|
| Deleted User | 3 Jul 2011, 07:47 PM Post #3 |
|
Deleted User
|
@mitama: saya... gaktau hihihi tapi waktu sd sama guru Bahasa Indonesia diajarinnya begitusihh |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
![]() Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today. Learn More · Sign-up for Free |
|
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:35 AM Jul 11
|
AFFILIATES











![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)
...


7:35 AM Jul 11