Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
PUZZLE; Action/Friendship, T
Topic Started: 24 Jun 2011, 12:00 PM (308 Views)
Ejey Series
Member Avatar
miss you ♥
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
PUZZLE
created by Ejey Series
~Prelude

Alviss membuka paksa matanya yang terasa berat, menegakkan tubuh dan meregangkan kedua tangannya seraya mengerang pelan. Pemuda berambut dark blue itu mengerjap-ngerjapkan matanya, mengumpulkan separo kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi sekaligus membiasakan diri dengan cahaya mentari pagi yang menyusup lewat ventilasi kamarnya. Ia bangkit dari tempat tidurnya, menyibakkan gorden dan membuka kedua daun jendela.

Aneh. Sepertinya hingga kemarin, langit masih didominasi oleh warna kelabu. Matahari pun seolah malu-malu untuk menampakkan cahayanya. Tapi hari ini langit begitu biru, meski satu-dua gumpalan awan masih terlihat mengarungi langit. Matahari tak lagi bersembunyi di balik kepungan awan, tak lagi segan memancarkan cahayanya yang menghangatkan seluruh makhluk. Ada apa ini?

Alviss menepuk dahi. Kenapa ia bisa lupa hal remeh seperti itu? Wajar saja kalau hari ini langit jadi begitu biru. Sekarang kan sudah musim semi! Ia menghirup napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara musim semi yang segar. Alviss terpaku di jendela selama beberapa menit, menikmati atmosfir musim semi yang amat ia rindukan selama musim dingin. Tapi ketika angin berhembus ke wajahnya dan membuatnya menggigil kedinginan, ia buru-buru menutup jendela dan membungkus dirinya dengan jaket hitam kesayangannya.
Di saat sama, hidungnya menangkap wangi yang mengundang liur dari lantai satu. Alviss mengendus-endus udara, mengidentifikasi wangi yang ditangkapnya ini. "Kalau hidungku tidak salah, ini pasti wangi pancake." gumamnya dengan senyum terkembang.

Wangi itu terus menggelitik hidungnya, seolah mengundangnya untuk segera keluar dari peraduannya dan turun ke ruang makan, menikmati sepiring pancake yang lezat dengan olesan selai apel sembari ditemani secangkir teh hangat. Alviss terkekeh, akan sangat tidak bijaksana apabila ia menolak godaan yang satu ini. Maka ia membiarkan wangi itu menuntunnya sampai ke ruang makan.

"Oh. Selamat pagi, Al." Seorang pemuda berambut dirty blonde dan berperawakan bak model catwalk itu menyapa Alviss yang baru saja sampai di ruang makan dengan ekspresi kegirangan.

"Selamat pagi. Oh! Benar tebakanku!" ujar Alviss girang begitu melihat tiga piring pancake yang masih hangat terhidang di atas meja. Ia menduduki kursi yang paling dekat dengan pintu kemudian langsung meraih garpu dan pisau.

"Hei, kalau kau mau makan, setidaknya tunggu Rion dulu." tegur Shion, pemuda berambut dirty blonde itu seraya menuangkan teh Assam ke dalam tiga cangkir yang berjejer rapi di atas meja. Shion, yang kelihatannya seperti model kelas dunia ini adalah sahabat terbaik Alviss. Mereka pertama kali bertemu ketika umur mereka enam tahun dan selalu bersama sampai sekarang. Mereka sebaya dan sekelas. Shion pandai memasak dan mengurus urusan rumah tangga, sehingga teman-temannya selalu menyindirnya dengan sebutan 'Ibu'. Tapi Shion sendiri betah-betah saja tuh, disebut begitu oleh teman-temannya.

Alviss merengut. "Kenapa aku harus menunggu dia? Dia saja tidak pernah menungguku, kok." Ia mengetuk-ngetukkan pangkal garpunya ke meja, pertanda ia sudah tidak sabar untuk memuaskan cacing-cacing dalam perutnya yang sedari tadi sudah berontak minta diisi.

"Tenang saja, kurasa dia akan turun sebentar lagi." ucap Shion, meletakkan secangkir teh di sebelah piring Alviss.

Ternyata ucapan Shion menjadi kenyataan. Tak sampai dua menit setelah Shion berucap demikian, seorang gadis bertubuh tinggi dan berambut merah panjang datang menyerbu ke ruang makan. "Apa sarapanku diambil Alviss lagi?" tanyanya dengan napas terengah-engah. Sepertinya Rion habis berlari dari kamarnya di lantai dua supaya jatah sarapannya tak diambil oleh Alviss.

"Tenang saja, semua dapat, kok." kekeh Shion.

Rion menghela napas lega, sepertinya usahanya berlari kemari tidak sia-sia. Dengan hati girang, ia duduk di hadapan Alviss. "Hmm! Pagi ini pancake, ya? Wanginya enak sekali! Mungkin aku sudah kenyang hanya dengan mencium wanginya." celetuk Rion seraya mengambil pisau dan garpu. Rion adalah satu-satunya gadis di rumah ini, sekaligus yang paling muda. Ia lebih muda satu tahun dibanding Alviss dan Shion. Berbeda dengan Shion, Rion tidak pandai memasak dan mengurus rumah tangga--bahkan ia menganggap dua hal itu adalah musuh besarnya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kau berikan saja pancake-mu padaku?" kekeh Alviss, menunjuk jatah pancake Rion dengan garpu.

"Enak saja! Punyaku ya punyaku, punyamu ya punyamu! Dasar Alviss rakus!" Rion menjulurkan lidahnya sembari menjauhkan piringnya dari jangkauan tangan Alviss.

Alviss mengerang. "Siapa yang kau sebut rakus? Itu berlaku untukmu juga, kan?"

Shion menghela napas. Inilah yang terjadi setiap kali waktunya sarapan tiba. Well, mungkin mustahil mengharapkan Alviss dan Rion akan berhenti beradu mulut setiap kali mereka bertemu di meja makan. Mereka sudah melakukan ini sejak mereka pertama kali bertemu sembilan tahun silam. Rion suka mencari masalah dengan orang lain, sedangkan Alviss mudah sekali terpancing emosinya. Jadilah hubungan mereka bak minyak dan air, tak bisa disatukan.

"Sudah, hentikan itu." Leraian yang lebih terdengar seperti perintah itu mengalihkan fokus Alviss dan Rion. Mereka kompak menoleh ke arah Shion yang tengah menyesap tehnya dengan anggun. "Kalau kalian mau bertengkar seperti itu terus, aku takkan melarang. Tapi sebagai gantinya, tak akan ada sarapan, makan siang dan makan malam untuk kalian selama seminggu." imbuhnya.

Sorot mata kaget langsung dilontarkan oleh dua personal itu. Seminggu tanpa makanan lezat buatan Shion? Itu sama saja dengan neraka! Alviss dan Rion saling melempar pandang dan akhirnya mereka pun menyerah.

"Maaf..." ujar Alviss dan Rion berbarengan.

Shion memamerkan senyum lebarnya. Ia memang tahu betul bagaimana caranya memanfaatkan 'kekuasaan' yang dimilikinya. "Bagus. Nah, sekarang ayo sarapan." Ia pun meraih garpu dan pisau, kemudian mulai mengiris pancake. Alviss dan Rion--yang masih agak takut dengan ancaman Shion barusan--terpaksa berdamai untuk sesaat dan kembali berkutat dengan sarapan masing-masing.

Sudah hampir sepuluh tahun berlalu sejak Alviss tinggal bersama Shion dan Rion di rumah yang diberikan sang Kakek padanya. Dulunya, Kakek Alviss yang merupakan seorang presdir perusahaan roti ternama juga tinggal bersama mereka bertiga. Tapi semenjak perusahaannya bertambah besar, sang Kakek memutuskan untuk tinggal di luar negeri dan mempercayakan rumah ini pada Alviss dan kedua temannya--yang sudah dianggap sang Kakek sebagai cucu-cucunya sendiri.

Rumah mereka bukanlah rumah yang mewah. Rumah mereka hanya rumah biasa berlantai dua dengan halaman yang tidak terlalu luas. Lantai duanya hanya diisi oleh tiga kamar tidur--kamar Alviss, Shion dan Rion--beserta satu tempat lapang untuk menonton televisi atau mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan di lantai satu, ada satu kamar tidur, yang dulunya ditempati oleh sang Kakek, dapur, ruang tengah, ruang tamu, dan ruang makan yang berbatasan langsung dengan halaman belakang. Semua ruangan itu menyatu dalam satu lantai, tak ada dinding yang berfungsi sebagai penyekat, kecuali di dapur.

Alviss senang diberi kepercayaan oleh sang Kakek untuk menempati rumah itu dua tahun yang lalu, ketika ia lulus SMP. Baginya rumah itu adalah tempat terhangat yang pernah ditinggalinya, selain rumah orang tuanya. Ditambah lagi dengan kehadiran Shion dan Rion yang menambah marak suasana, membuat Alviss makin mencintai rumah itu. Tak apa baginya walau harus bertengkar dengan Rion setiap pagi, yang penting rumah tidak sepi, karena Alviss tak pernah suka kesunyian.

"Huah, aku kenyang sekali!" seru Rion girang sembari menepuk-nepuk perutnya. "Shion! Masakanmu memang paling top!" Ia mengacungkan kedua jempolnya pada Shion yang tengah membereskan piring-piring mereka.

"Seperti yang diharapkan dari Ibu kita." kekeh Alviss.

"Yah, memang harus ada yang berperan sebagai ibu di sini. Kalau tidak, kalian pasti sudah mati kelaparan." ujar Shion, membawa tumpukan piring dan cangkir ke dapur.

"Aku mau nonton TV aah." Rion bangkit dan berpindah ke ruang tengah dengan langkah ringan, duduk di sofa lalu menyalakan TV. Ia menekan tombol-tombol saluran TV, mencari acara yang asyik untuk ditonton. Tapi sepertinya tak ada satupun yang memuaskan hatinya. Maka dengan hati kesal, ia mematikan TV dan berguling-guling di sofa.

"Hei, kenapa kau berguling-guling nggak jelas begitu?" tanya Alviss, keheranan melihat tingkah aneh Rion.

"Aku lagi berpikir, tahu! Berpikir!" ujar Rion gusar, masih berguling-guling.

"Baru kali ini aku melihat orang berpikir seunik kau." desah Alviss.

"Eh, Al. The Alchemist sudah rilis belum?" Gadis itu mendadak merubah posisinya menjadi bersila.

Alviss mengangkat bahu. "Entahlah. Setahuku, The Alchemist sudah dipastikan rilis musim semi ini, hanya saja belum ada tanggal pastinya."

Kalau Alviss dan Rion ditanya apa ada persamaan di antara mereka, pasti mereka berdua akan menjawab 'tidak' dengan cepat dan lantang, walau sebenarnya jawaban mereka salah. Tampaknya mereka tak menyadari, ada satu hal yang mana mereka benar-benar sehati, seiya, dan sekata, yaitu game. Benar sekali, Alviss dan Rion adalah gamers tingkat tinggi. The Alchemist yang mereka bicarakan tadi pun adalah game konsol yang mereka idam-idamkan sejak setahun yang lalu.

Rion mendengus. "Aku sudah tidak sabar!" jeritnya, menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. "Aku baca di internet, katanya The Alchemist itu keren sekali! Pokoknya The Alchemist punya segalanya yang harus ada di game perang! Kaaah, aku penasaraaaan!"

"Ya! Aku juga dengar itu! Katanya The Alchemist bakal jadi game perang abad ini, kan!" Alviss mengimbuhi, terdengar jelas rasa antusiasme di sela-sela nada bicaranya. Rion mengangguk-angguk girang, ekspresi polos yang ditampakkannya benar-benar seperti seorang bocah yang sebentar lagi akan mendapat segunung lolipop.

"Oh ya, ngomong-ngomong soal perang, di internet juga beredar berita tentang Cristal War, lho! Benar-benar heboh, deh!"

Antusiasme di wajah Alviss mendadak lenyap. Sebagai gantinya, yang menghiasi figur tampan itu adalah kerutan berlipat di dahi serta raut muram yang selaras dengan suasana hatinya kini. Cristal War. Dua kata keramat yang seolah menaburkan garam di atas luka hati Alviss--yang mungkin tak pernah mengering meski satu dasawarsa telah berlalu--serta membangkitkan kembali rasa dongkol dan gelisah yang terkubur jauh di balik rangkanya.

Rion mengernyit, bingung melihat perubahan ekspresi Alviss yang begitu mendadak. "Ada apa, Al? Kok tiba-tiba wajahmu jadi muram begitu?" tanyanya dengan kepala dimiringkan.

Pemuda berambut biru gelap itu memilih untuk mengabaikan pertanyaan Rion dan pergi ke kamarnya. Masih dengan kebingungan di wajahnya, kedua mata Rion mengikuti sosok Alviss yang menaiki tangga dengan langkah cepat. Dan ketika sosok pemuda itu menghilang di balik tangga, suara pintu dibanting menghantam gendang telinga Rion.

"Ada apa sih, dengannya?" dengus Rion.

Shion keluar dari dapur dan bertanya, "Hei, kalian bertengkar lagi, ya?"

"Kami tidak bertengkar, kok! Alviss saja yang aneh! Waktu aku bilang 'ada berita tentang Cristal War di internet', dia langsung muram seperti itu! Kutanya 'ada apa', dia malah tak menjawab dan pergi ke kamar!" Rion menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala.

Shion menghela napas. Kalau benar seperti itu, wajar saja Alviss jadi muram, ucapnya dalam hati. "Rion, kau tak ingat ya, apa yang terjadi sepuluh tahun lalu?"

"Sepuluh tahun lalu? Memangnya ada apa--" Mendadak Rion membekap mulutnya dengan kedua tangan. Ia melirik Shion dengan tatapan bersalah, sedangkan Shion membalasnya dengan sebuah anggukan.

"Aku lupaaaa! Aku benar-benar lupaaa! Kau harus percaya, Shion! Tadi itu aku benar-benar lupa, bukannya sengaja!" seru Rion panik. Mungkin ia harus membenturkan kepalanya ke tembok untuk menghapus kebodohannya barusan. Meski peristiwa itu terjadi enam tahun silam dan tak berkaitan langsung dengannya, tak seharusnya ia melupakan hal sepenting itu! Dasar bodohbodohbodoh!
.
.
.
Alviss menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangan kanannya menutupi kedua belah matanya, sementara tangan kirinya mencengkram seprai begitu erat, seolah-olah ia ingin mencabik seprai itu menjadi sobekan-sobekan kecil.

Sepatah makian terlontar dari bibirnya. Makian yang ia lontarkan untuk dirinya sendiri, atau lebih persisnya, untuk kebodohannya. Ya, tentu saja ia bodoh, karena masih tak bisa mengendalikan rasa dongkol dan gelisah yang muncul bersamaan dari dalam hatinya setiap kali mendengar frasa Cristal War disebut. Padahal sudah enam tahun berlalu, tapi kenapa ia masih tak bisa mengeyahkannya?

Mulut pemuda itu terbuka sedikit, seakan hendak mengatakan sesuatu. Lama ia terdiam, tenggelam dalam pergulatan batinnya atas gagasan yang dipikirkannya tadi. Sesaat kemudian ia mengembangkan senyum kecut. Benar-benar kecut.

Apa yang tadi ia pikirkan? Ia tak bisa mengeyahkan rasa dongkol dan gelisah itu? Hahaha, bukankah yang sebenarnya terjadi adalah, ia tak pernah mencoba untuk mengeyahkan kedua rasa yang telah menghantui jiwanya itu?

Ya, karena ia terlampau takut untuk menyentuh rasa dongkol maupun gelisah itu. Ia melarikan diri dari
kenyataan bahwa Cristal War telah merenggut orang-orang yang disayanginya...

Ia pengecut.
.
.
.
Prelude/End
A/N: aaah, gajegajegaje!!! eniwei, ini chapter 1 dari orific yg sedang saya kerjakan. capek banget, mesti ngubah-ngubah chapter 1 terus. hafiuh. sebenernya chapter 1 di atas masih ada sambungannya, tapi saya hapus gara-gara saya mikir alurnya bakal bergerak lebih cepat dari perkiraan saya kalo saya tambahin ceritanya. oya, soal judul, itu juga masih sementara/plak/soalnya saya masih nggak tahu mesti ngasih judul apa.

last, buat siapapun yang baca cerita ini, tolong kasih kritik sebanyak-banyaknya, ya. saya bener-bener nggak pede sama cerita ini.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Mara Army
Member Avatar
Infel yor.
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Okeee~ saya mampir dan akan memberi review tak bermutu.

Saya ga pernah komentar diksi, diksi anda bagusnya terlalu sih. *plak*

Oya, menurut saya (menurut saya lho, jangan diambil serius) harusnya Alviss nyebut nama Shion duluan sebelum anda memasukkan nama Shion di narasi. Biasanya karakter utama menjelaskan karakter lain lebih dulu daripada narasi kan? Di bagian perkenalan karakter Rion juga, harusnya mungkin dikasih jeda 'seorang gadis bertubuh tinggi dan berambut merah panjang datang menyerbu ke ruang makan. --itulah Rion'

Overall ceritanya menjanjikan kok, saya pikir semacam hack//G.U soalnya si Alviss dan Shion itu gamer.

Yak, sekian review tak bermutu saya ^^

Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ejey Series
Member Avatar
miss you ♥
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Makasih udah mau review cerita gaje saya. Hehe.

Oke, nanti saya perbaiki lagi deh. Sebenernya ide gamer itu saya dapet mendadak pas ngetik. Dan ng, yg gamer itu Rion, bukan Shion.

Oya, menurutmu, di bagian akhir itu alurnya terlalu cepet nggak?
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Mara Army
Member Avatar
Infel yor.
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Bagian akhir?

Nggak juga kok, malahan itu cliff hanger yang bagus, bikin orang penasaran apa yang bakal terjadi selanjutnya plus apa kenyataan dari 'Cristal War'. Kalo dari segi timeline, memang agak terlalu cepat, tapi itu ngejelasin awal konflik kan? Jadi saya rasa biasa aja ^^
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ejey Series
Member Avatar
miss you ♥
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Nee, dengan begini, saya bisa lanjut ke chapter 2 deh. Makasih yaa :D
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone