

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Alchemist Atelier; Adventure/Supranatural T | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 23 Jun 2011, 11:52 PM (304 Views) | |
| Mara Army | 23 Jun 2011, 11:52 PM Post #1 |
|
Infel yor.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Alchemist Atelier Rating: Teen/PG-15 Genre: Adventure/Supranatural / Part I. Alchemist Ring I – Alchemy and the Beginning Di dunia ini hanya dikenal dua tempat, bumi dan langit. Di langit ada sebuah kota yang sangat maju, sementara di bumi terdapat dunia biasa—peradaban yang terbilang normal—seperti kehidupan selama ini. Tetapi selain ada juga bagian dunia yang biasa, ada pula bagian dari dunia, yang dekat dengan langit—yang mempunyai kesamaan dengan langit, yaitu praktik ilmu alkimia dan sihir. Ilmu yang sudah ditinggal lama sekali di zaman pendahulu, kembali dipelajari oleh orang-orang sekitar sana—membuat peradaban kota itu lebih terbilang ‘maju’ daripada lapisan dunia yang lain. Kota langit itu diberi nama Rakuen, yang secara harafiah berarti surga, sementara kota bumi itu bernama Rakugaki. Suatu hari di kota langit, bulan April 2008. Seorang gadis dengan tinggi semampai dan rambut hitam legam yang dibiarkan tergerai tengah berbenah diri di dalam kamarnya. Gadis itu selama ini tinggal dengan kakak tirinya di Rakuen. Mulai tanggal 9 April keesokan harinya, gadis belia itu harus meneruskan jenjang pendidikan di sebuah sekolah menengah yang bernama sama dengan nama kota itu, serta tinggal di sebuah asrama putri bernama Aragaki. Barang yang tak lupa ia bawa selain tas pakaian dan tas sekolah adalah tongkat panjang dengan ornamen sayap putih diatasnya dan juga kotak berisi biola tua yang sejak dulu terus disampingnya. Ia tengah siap memakai pakaian sekolahnya—seragam bertipe sailor berwarna putih dengan dasi hitam, beserta seluruh peralatannya dan hendak melakukan sihir dasar alkimia yaitu Teleportation—sihir berpindah tempat—di sebuah landasan suci yang dianggap sebagai pembatas langit dan bumi—yang dapat dicapai dengan jalan kaki dari rumahnya. “Sudah siap, Nina?” seorang wanita yang lebih tua memasuki kamar tempatnya berada, ia memiliki rambut pirang yang tertutup topi beret putih. Gadis itu mengangguk, “Ya kak.” “Sebenarnya kau tak perlu ke Rakugaki lho?” wanita yang disebut-sebut kakak itu menepuk bahu Nina. “Aku tahu kau lahir disana, tapi kalau kau butuh belajar banyak alkimia, kau sudah ada di Rakuen.” “Sudah berapa kali kubilang kak...” Nina menghela nafas. “Aku kesana untuk mencari tahu tentang keluargaku, aku tidak ingat banyak tentang kota itu, hanya satu temanku yang kuingat—Natsume, dan aku tidak ingat orang tuaku.” Sang kakak menaikkan alisnya. “Yah, semuanya terserah padamu sih...” ia terhenti sejenak. “Aku juga toh bukan kakak kandungmu, hanya seseorang yang punya hubungan jauh denganmu,” Mata hitam gadis itu meratap kakinya. “...Tetap saja kau orang yang berarti. Aku sudah merepotkanmu selama tujuh tahun ini.” “Tidak masalah,” sang kakak tersenyum. “Kau sosok adik yang baik. Sudah tujuh tahun sejak aku mengambilmu dari panti asuhan itu, eh?” “Terima kasih,” ia tersenyum. “Aku pasti akan mengirim surat pada kakak,” “Sudah, cepat pergi. Matahari keburu tenggelam!” “B, Baik. Selamat tinggal, Nodoka-san.” Mentari mulai tenggelam ketika ia akhirnya sampai di tempat yang ia tuju. Gadis itu sampai di sebuah taman umum pada senja hari. Gadis yang tak kenal arah pun berjalan menyusuri sisi kota—hanya dengan bantuan peta asrama yang sudah dilampirkan di pamflet sekolahnya. Burung-burung terbang dengan riang, sayup angin musim semi menemani langkahku yang kebingungan di bawah langit senja bulan April. Sesaat ia mengitari air mancur taman dari balik semak-semak, mendadak ia melihat sesosok asing yang sepertinya terus melihat sekeliling. “Hoo… disitu ya?” sahut seorang cowok berplester dari dekat air mancur. Nina pun tersentak. Ia memperhatikan seragam cowok—gakuran—tersebut. Mereka dari sekolah berlogo sama dengannya, dan kebetulan Nina memakai seragamnya juga saat ini. “Hah…?!” Nina mengeluarkan tongkat warisan ibunya, yang berlogo sayap putih. Seraya mengejapkan mata dan mengeluarkan beberapa sihir angin tak berguna—yang dimentahkan oleh tembok sihir sang pemuda. Nina berhasil terpojok di dekat pohon. “O, oh? Hanya cewek, kok?” cowok berplaster itu diam. “Kupikir kau Mo—“ “MINATO!” mendadak seorang cowok dengan potongan rambut yang jabrik melompat dari balik mereka seraya melantunkan sebuah mantra. “Spiral Reverse!” “Mo, Mori, tunggu, jangan!” CRASH Angin berkumpul di satu titik dan menuju ke arah target dengan kencang, membuat sang gadis dan cowok berplester terpental dengan beberapa ranting pepohonan. Nina merasa ia terbang di udara, pekikannya memecah keheningan senja sebelum akhirnya ia ditangkap oleh cowok yang melepas sihir ke dirinya tadi. “Fuuh, selama—“ PLAK, Nina refleks menamparnya. Gadis itu langsung memposisikan diri dan merapikan pakaiannya. “A—Aww, ke, kenapa kau menamparku!?” “Ma, maaf, refleksku berlebihan.” Nina hanya bisa tertawa paksa. “Aku bukan cowok nakal kok, aku takkan melakukan apa-apa!” cowok itu mendengus. “Maaf, aku tidak tahu kau ada disana. Memang taman bukan tempat bagus untuk berduel yah...” Mendengar itu Nina hanya tersenyum diam, “Emm, apa kau tahu jalan menuju asrama Aragaki?” “O, oh. Kau murid baru ya? Siapa namamu dan darimana asalmu?” “Eh? Fujiwara Nina,” jawabnya pendek. “Aku dari Rakuen.” “Kanzato Mori,” balasnya. “Rakuen? Wow, jauh juga. Baiklah, kuantarkan ke Aragaki sebagai tanda maaf.” Cowok itu memberikan jempol kepada Nina. Setelah itu mereka berdua meninggalkan taman air mancur—melupakan cowok berplester tadi yang entah dimana adanya. / Pada kenyataannya, asrama itu berada dekat dengan taman, cukup berjalan kaki lima menit. Lampu-lampu kota tengah menyala menandakan hari sudah malam, dewi malam sudah bersinar penuh menambah terangnya jalanan aspal. “Sampai disini ya? Sampai jumpa!” Mori bersegera kabur setelah mengantar Nina. Nina melempar senyum kepada cowok tadi—cowok yang aneh, pikirnya. Setelah itu ia menatap bangunan tinggi dengan label kecil ‘asrama Aragaki’ di pinggir pintu. Ia pun membuka pintu besar dan meratapi lobi dengan sofa yang tengah berisi satu orang. Mendengar ada orang masuk, gadis berambut pirang pendek dikuncir samping yang tengah membaca buku di sofa pun menengok ke arah pintu, iris coklat dibalik kacamata hitamnya berhenti ketika melihat Nina masuk. “Permi...si?” “...K, kau Nina...kan?” “Jangan-jangan kau...” Nina terdiam. “Natsume?” “NINAAAAAA!!” Gadis itu langsung melompat ke pelukan Nina. “Haha~ sudah lama kita tidak ketemu~” Ya, gadis inilah Natsume Chinami—teman terdekat Nina yang masih berada di memorinya tujuh tahun lalu sebelum ia pindah bersama kakak tirinya ke Rakuen. Gadis itu selalu ceria dan easygoing, bagaikan mentari fajar yang menandakan mulainya hari yang baru, ia juga pede dan supel sehingga tidak asing lagi ia akrab dengan orang lain. “Yah sudah 7 tahun di panti itu~” Nina tertawa kecil melihat kelakuan sahabatnya itu. “Bisa tolong lepaskan aku?” “Hehe, sori.” Natsume nyengir. “Shizuka-senpai! Orang barunya sudah datang nih~” “Wah, wah selamat datang!” seseorang gadis bertubuh tinggi turun dengan terburu-buru dari lantai atas, karena embel-embel senpai, dipastikan orang ini adalah kakak kelas Natsume dan juga orang yang direspek sahabatnya yang agak-agak aneh itu. “Aku Kazami Shizuka, ketua asrama ini, salam kenal Fujiwara-san.” “Ah ya, salam kenal dan mohon bantuannya, senpai!” Nina menunduk hormat. “Tidak perlu seformal itu, Fujiwara-san,” senyumnya pada adik kelasnya itu. “Kau sekamar dengannya kan, Natsume? Biarkan dia istirahat saja untuk hari ini,” Nina kembali membawa barang-barangnya mengikuti temannya ke lantai dua, mereka menuju kamar yang ada di tengah-tengah, tepat di samping mesin minuman otomatis. “Nah ini kamarnya, lumayan kan?” Natsume membuka pintu, memperlihatkan ranjang susun, meja belajar, meja kayu kecil yang berada di atas karpet bersama bantal duduk serta ada lemari dan beberapa peralatan pribadi Natsume. “Yak, kamar yang bagus.” Nina memuji. “Kau tinggal sendirian?” “Yap! Kebetulan saja tidak ada yang mendaftar lagi untuk masuk asrama ini!” ucapnya dengan pede. Malam itu pun berlalu dengan perbincangan para gadis. Fujiwara Nina tidak sabar menanti hari baru untuknya, esok hari. / Keesokan harinya, Rakugaki Gakuen Setelah upacara pembukaan dan tetek bengek kepala sekolah, Nina menuju ke papan pengumuman mencari kelasnya sebelum melapor kepada wali kelasnya mengenai mutasi dan berkas-berkas yang harus ia tangani. Ia menuju papan pengumuman yang sudah sepi dan melihat kenyataan yang membelalakkan mata, Kelas 2-5 – Wali Kelas : Kasuragi Aisha -Fujiwara Nina -Kanzato Mori -Harima Minato ... ‘A-Aku sekelas dengan dua orang itu!?’ pikirnya dalam hati ketika melihat dua nama itu—cowok yang berduel malam kemarin. “A-ah, sepertinya kita bertemu lagi ya...” suara familiar terdengar di belakangnya. Begitu ia melihat asal suaranya, seorang cowok berplester tengah berdiri di belakangnya dengan secercah senyum. “Maaf soal kemarin ya...” “Tidak apa-apa kok, kan kamu dan Mori-kun tidak sengaja.” Nina menggelengkan kepalanya. “O-Oh ya, aku Fujiwara Nina, Minato-kun.” “Hmph, baguslah.” Cowok itu memaksakan senyum. “Nama lengkapku...yah, kau pasti sudah lihat kan? Harima Minato, street alchemist. Jangan segan panggil aku kalau kau bingung ya, Fujiwara!” Minato pun meninggalkan gadis itu—tapi Nina tampaknya belum kehabisan tamu—ada seorang gadis seumuran dengannya langsung menghampirinya, rambut pirangnya panjang diikat dua, ia tersenyum bisnis pada Nina, ia mengenakan jaket menutupi seragam sailornya. “Menarik, kau tampaknya sudah kenal dengan Minato dan Mori ya, Fujiwara Nina-san?” tatapan gadis itu setajam senyumnya. “Si, siapa?” Nina terhenyak. “Namaku Miyazaki Kyoko, aku sekelas denganmu.” Ia memperkenalkan diri dengan santun. “Aku ingin mengundangmu ke workshop-ku, kau tertarik? Terserah saja sih, aku tidak memaksamu. Masih banyak workshop lain.” Workshop adalah sebuah hal yang tak terpisahkan dari alchemist—tempat mereka meramu segala ramuan yang diperlukan, merancang senjata, membuat item—itulah multifungsi Workshop. “...Aku ikut, Miyazaki-san” terima Nina—ia tak suka menolak tawaran orang lain—walaupun semisterius dia. “Baiklah~ tolong ikuti aku!” Kyoko menjentikkan jarinya. “Panggil saja aku Kyoko seperti yang lainnya, oke?” / Asap mengepul dari kuali besar di tengah-tengah ruangan kecil di pojokan lantai satu gedung Workshop. Dua cowok yang sudah ada disana terus terang harus kaget dengan anggota baru yang dibawa teman kecil mereka tersebut—tak lain adalah Nina—dan kedua cowok tersebut adalah Minato dan Mori. “Ah, hahah! Kupikir kalian bertiga teman akrab jadi kubawa dia kemari!” Kyoko tertawa. “Kami cuma tidak sengaja bertemu kemarin, yaaah, kejadian ini hanya kebetulan, kan?” Mori nyengir. “Berarti tinggal satu orang lagi agar Workshop kita aman, kan?” Nina bertanya-tanya. “Ah, maaf Fujiwara. Workshop kami memang kekurangan orang, hehe...” cewek pirang itu menjelaskan. “Kami sudah menempel pengumuman dan menyebarkan selebaran tetapi...ya, nihil.” “Bagaimana kalau hari ini kami berdua mencari member?” usul Minato. “Kalian bersih-bersih saja, dan kau yang sudah membawa Fujiwara kesini sebaiknya menjelaskan tentang sekolah ini padanya, Kyoko-chan!” Kyoko tersenyum dan memberi jempol pada mereka berdua. “Oke, serahkan padaku! Kalian harus berhasil!” “Osh!” sambut Mori seraya meraih pintu keluar. Kehidupan Fujiwara Nina sebagai alchemist baru saja dimulai, di Rakugaki Gakuen. / Bersambung. ...aneh ternyata ya~ Ini cerita udah lama banget, pas saya masih kelas 7, akibat obsesi saya sama alchemist wkwkwk. Saya udah ada cerita ini sampai chapter 30-an, pendek-pendek semua (karena itu berasal komik ngasal) tapi saya edit lagi biar plotnya nyambung. Yah sekian deh, entah dilanjutin apa nggak. |
![]() |
|
| Rinyuuaru | 24 Jun 2011, 06:34 AM Post #2 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Lanjut lho,, harus lanjutt lho. Kenapa? Soalnya masih banyak hal yang saya bingung di cerita ini. Contoh, alkemi? Apa sama kayak fullmetal alchemist? Mohon penjelasan di chapter berikut yaa hehehe Aku pikir tokoh utamanya orang Indonesia, hwoo marganya fujiwara =w= Penasaran sama ciri-ciri fisik-nya Minato-kun sama Mori-kun~ ayayaya Maaf banyak nanya Terimakasih atas kerja kerasnya~ Maka |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:35 AM Jul 11
|
AFFILIATES







![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)




7:35 AM Jul 11