Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Ominaeshi-Hime [Part 1]; Fandom: Natsume Yujincho | Rating: K | Genre: Supernatural, Friendship | to be continued
Topic Started: 12 Jun 2011, 01:24 PM (570 Views)
Deleted User
Deleted User

Disclaimer: Natsume Takashi & Natsume Yujincho (c) Yuki Midorikawa; Ominaeshi-Hime & plots (c) skybraver
Fandom: Natsume Yuchincho
Rating: K
Genre: Supernatural, Friendship
Summary: Musim gugur, beberapa tahun lalu, saat Natsume Takashi masih duduk di sekolah dasar. Sepulang sekolah, ia bertemu dengan Youkai baik hati. Mereka mengobrol dan berteman. Tetapi musim gugur hampir berakhir...
Characters: Natsume Yujincho & Ominaeshi-Hime


.:: Ominaeshi-Hime ::.


Musim Gugur, beberapa tahun yang lalu…


Dia selalu melihatnya, di bawah kubah jingga keunguan langit sore di tepi jalan melandai yang selalu ia lalui setiap pulang sekolah: seorang wanita muda, pakaian yang dikenakannya biru langit dengan aksen kehijauan dan berbahan ringan, rambutnya kemerahan tertimpa cahaya mentari yang senja dan berkibar lembut tertiup angin di penghujung musim gugur. Wajah wanita itu berpendar sewarna dengan langit yang ia pandangi, yang melatari wilayah pedesaan, jauh di luar garis ibukota Jepang. Natsume berhenti beberapa langkah jauhnya dari wanita itu—usianya, ia taksir, tak lebih dari tiga puluh tahun, tapi jelas bukan remaja, membiarkan kawan-kawannya berjalan melewatinya bahkan tanpa tahu dan ingin diketahui bahwa salah satu teman seperjalanan mereka ini tertinggal. Berbebat syal merah maroon dan menyandang tas sekolah di bahu kirinya, Natsume memaku dirinya di jarak itu, di antara jalan di sisi kanannya dan pagar kayu setinggi dada di sisi kirinya; dan tempatnya berpijak adalah tanah berumput jarang yang tak tertutup aspal, selebar hanya dua tapak kaki manusia dewasa.

Ia, dalam rasa penasarannya, memiringkan kepalanya beberapa derajat. Dia tak punya banyak pertanyaan tentang figur anggun yang tengah disaksikannya. Sepintas saat mata biru cemerlang Natsume Takashi menangkap gadis-gadis berseragam sekolahnya melintasi wanita itu, dan tak merespon keberadaannya, hanya satu perrtanyaan yang timbul dalam benaknya: youkai?

Ya, Natsume memiliki keistimewaan, yang dalam berbagai situasi menjebaknya. Dia bisa melihat apa yang orang lain tak bisa lihat: Yokai—sering disalahartikan sebagai Hantu, yaitu makhluk selain manusia yang tinggal dan membangun komunitas di Bumi yang sama dengan para manusia. Sebagian Yokai berpenampilan manusia, setidaknya mendekati manusia. Sebagian yang lain berpenampilan monster. Sebagian dari mereka berukuran sangat kecil, bahkan Natsume bisa menggenggam dan mengantongi mereka ke mana saja. Sebagian dari mereka berukuran besar sekali, sebesar rumah Natsume atau bahkan lebih. Sebagian dari mereka ada yang harus diwaspadai karena tabiat dan kekuatan yang mereka miliki. Sebagian sisanya amat lemah, atau ada yang sangat kuat, tetapi ramah pada manusia pada yang bisa melihat mereka.

“Indah…” Natsume mengejap. Pemuda itu spontan menoleh ke kanan kirinya, mengetahui sudah tak ada siapa-siapa selain dia dan Youkai perempuan itu, dan mengertilah ia bahwa yang terakhir disebut ini yang mengeluarkan suara: sosok itu akhirnya bergeming, memalingkan mukanya dari pemandangan bak lukisan seorang maestro, menemukan Natsume. Matanya sipit segaris, bibirnya melengkungkan senyum lembut, “Kau bisa melihatku, ya?”

Natsume berjengit. Dia sudah siap lari sekuat tenaga, mengira Youkai perempuan itu hendak menyerangnya seperti Youkai-Youkai lainnya setiap usap mengujarkan kata itu… tetapi niatnya itu runtuh seketika, melihat Youkai perempuan itu hanya diam memandangi reaksinya. “A-ah,” tergagap, membeku sesaat dalam keterkejuan dan keheranannya, Natsume kemudian tertawa. Ternyata, Youkai perempuan itu tidak berbahaya seperti yang dipikirkannya beberapa detik lalu.

“Selamat sore,” katanya kemudian, memberanikan diri mendekati Youkai itu, sampai jarak di antara mereka tinggal sekitar setengah meter. Natsume merapat ke pagar kayu tua dan agak lapuk, yang antar batangnya diikat oleh tali-tali yang sudah berserabut kasar. Berdirinya agak timpang karena tanah yang melandai. Hembusan angin lebih kuat, lebih sejuk, dari yang selama ini dirasakannya, langsung menerpanya, menerbangkan rambut di depan dahinya. “Anginnya keren!” Secara naluriah, ia merasakan dorongan keakraban kepada Youkai wanita itu dan melanjutkan bertanya, “Makanya Neechan suka di sini ya?”

Terdengar dengus disusul kikik tawa teredam. Natsume menoleh dan melihat Youkai itu tengah mendekap mulutnya sendiri, bahunya berguncang pelan naik-turun, wajahnya makin memancarkan aura kehangatan. Neechan—nyata sekali ia tak pernah mendengar panggilan itu ditujukan padanya. Hanya manusia yang biasa menggunakannya, untuk memanggil perempuan yang lebih tua darinya. Panggilan Natsume yang diberikan oadanya ini, tampaknya menggelitiknya. Tetapi ia tak membencinya…

“Apa?” wajah Natsume berubah merah padam. Dia mendongak, memandang galak Youkai wanita itu dan menemukan kecantikannya mengalahkan semburat merah langit senja di belakangnya. Sejenak mata mereka bertemu, dan Natsume sontak menjatuhkan pandangannya ke tanah, salah tingkah.

Saat itulah, dia menemukannya—di atas tanaman bersemak, bunga-bunga kecil tumbuh bergerombol, warna kuning terangnya tampak bersahabat: satu dari tujuh bunga musim gugur, Ominaeshi. Natsume segera melupakan tawa Youkai itu yang berangsur menghilang, mungkin ia tertarik gelagat Natsume ini. “Hm, aneh. Kenapa Omenaeshi tumbuh di sini, ya? Tidak kesepian? Bukannya di sini tidak ada bunga-bunga lain, ya?”

Natsume memandang ke atas lagi, ke wajah Youkai perempuan itu, meminta persetujuan, dan kembali mendapatkan senyuman. “Ominaeshi ini juga berpikir demikian, kau tahu? Di sini, di tepi jalan ini, dia tak punya teman. Kanan kirinya hanya rerumputan hijau jarang-jarang, yang tak bisa diajak bercengkerama. Pemandangan favoritnya, adalah langit senja,” sambil berkata begitu, Youkai wanita itu menengadah, kembali membuat pandangan memuja pada warna jingga keunguan yang dibuat oleh matahari. “Warna yang indah. Ominaeshi tak bisa berhenti mengaguminya. Dan adalah sebuah keberuntungan, di bawah langit yang ia sukai, akhirnya, ia menjumpai seseorang yang bisa diajaknya bicara.”

Youkai perempuan itu mengerling Natsume, memberinya pandangan berjuta makna. Natsume melebarkan matanya, merasakan pipinya panas seolah terbakar.

“Siapa namamu?” Youkai itu bergerak, mencondongkan tubuhnya ke arah Natsume, yang hanya lebih rendah sekepala darinya. Wajahnya diliputi keingintahuan.

“Natsume Takashi,” sahutnya, mengurai senyum sekadarnya. Ada hal lain yang mengusik benak Natsume di saat yang sama. Sekonyong-konyong, ia memahami: jawaban Youkai perempuan itu, gestur tubuhnya yang begitu anggun, kaki telanjang sang Youkai yang bertemu langsung tanaman semak Ominaeshi.

Youkai itu tak berkata apa-apa, barangkali ia tahu Natsume sedang, sekali lagi, mempelajari sesuatu. Ia menaikkan sedikit alisnya, saat Natsume akhirnya membuka mulutnya dan menyeletuk—tampak puas, mengetahui dugaannya benar. “Anda… Ominaeshi-Hime—Dewi Bunga Ominaeshi?” Kata tepat yang menggambarkan detil persisnya, adalah Youkai Bunga Ominaeshi.

Ominaeshi-Hime tersenyum lebar sekali sampai matanya, yang sudah segaris, menghilang. Dia berkata riang, “Betul!”

Begitulah pertemuan pertama Natsume dengan Ominaeshi-Hime, dilatari langit senja yang semakin meremang dan kemudian berubah menjadi hitam malam. Natsume harus berlari-lari pulang mengejar makan malam dan mendengar celoteh cerewet ibunya—yang saat itu, tentu, masih hidup—mengetahui putranya pulang terlambat. Dia berjanji dalam hati, dia akan lebih sering mengunjungi Youkai kesepian itu, menjadi temannya. Atau barangkali menggali dan memindahkan semak Ominaeshi itu ke sudut halaman rumahnya, agar hubungan Ominaeshi-Hime bisa bercengkerama dengan Youkai penghuni lemari bajunya. Rasanya akan menyenangkan. Besok, Natsume akan menanyainya. Ia harus.

Natsume tidur nyenyak malam itu. Tak menyadari, peristiwa alam yang begitu krusial sedang terjadi. Angin bertiup makin dingin, waktu malam mulai semakin panjang dibanding waktu siang. Dan ia membutuhkan sepasang kaus kaki wol tebal di bawah selimut futonnya. Penghangat ruangan mulai sedikit demi sedikit digunakan… musim dingin datang sebentar lagi… waktu bermainnya bersama Ominaeshi-Hime, mungkin tak lama lagi.



- to be continued -
Quote Post Goto Top
 
Sunny-chan
:)
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Salam kenal! Fanficnya bagus! :D saya penasaran ama kelanjutannya,
update kilat! :D
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone