Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only.
Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (10,976 Views)
sonnet54
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Alone/sendiri.
Fandom : Ori
Chara : Helen, Aaron.
_____________________________

Aaron menatap aneh cewek yang duduk di sebelahnya. Tiba-tiba aja, pas dia lagi menikmati kesendiriannya, seorang cewek yang ia tahu adalah juniornya tiba-tiba mengambil kursi dan duduk di sebelahnya. Semenjak dia datang, cewek satu itu terus menatapnya dengan tatapan...Apa itu? Memuja? Peduli? Atau...Kasihan? Bah! Gak ada yang bisa mengasihani seorang Aaron. Jadi, dikarenakan oleh tingkat arogansi seorang artis baru, Aaron beranggapan bahwa 'tatapan memuja' adalah pendeskripsian yang tepat untuk tatapan cewek tersebut kepadanya.

Merasa risih karena hanya ditatap tapi gak diajak bicara, Aaron pun mulai angkat bicara, "Eh, lo ngapain, sih? Dari tadi cuma natap gue terus. Kenapa? Suka, ya?"

Cewek itu menaikkan alisnya, kemudian garis mulutnya yang tipis dan membentuk garis lurus pun ia tekukan hingga membentuk huruf 'U' terbalik. Dia menggeserkan kursinya, mendekatkan diri pada Aaron yang malah semakin dekat dia bergeser, cowok itu malah bergeser menjauh.

"Apa, sih?!" Sahut Aaron kesal. Semakin kesal Aaron dibuatnya, cewek itu entah kenapa menjadi semakin penasaran.

"Kak Aaron...Kok suka banget sendirian?" Tanya cewek itu. Aaron melihat bet nama yang terpampang di seragamnya sebentar lalu menatap kembali cewek tersebut.

Helen, ya...Cih, dia dari kelas X-5.

"Heh...Lo dateng-dateng terus natap gue selama 10 menit dan sekarang nanya kok gue suka sendirian? Apa gak aneh, tuh?" Aaron memicingkan matanya. Merasa tidak nyaman dengan keberadaan Helen di sebelahnya ketika melihat cewek itu menyeringai aneh.

"Habisnya, kalo saya gak nanya, Kak Aaron gak bakal pernah tahu alasan kenapa dia suka banget sendirian. Padahal banyak orang yang mau berteman dengannya. Sayang banget, gak sih?" Aaron mengerutkan dahinya mendengar perkataan Helen kemudian tertawa kecil.

"Meh...Jadi gue mesti jawab, ya? Fine...Gue suka sendirian, karena dalam kesendirian itulah gue gak perlu berhubungan dengan dunia munafik ini..."

Lalu senyum Helen semakin melebar dan terdengarlah tawa keras di seantero perpustakaan.

_____________________________

Maaf gaje... XD
Next Prompt : Grudge/Dendam

Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sonnet54
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Persuasion/Persuasi
Fandom : Ori
Chara : Rae, Vera
_____________________________
"Kenapa, sih, lo? Galau banget..."

Rae mengangkat kepalanya, dilihatnya Vera tengah berdiri di depannya sambil berkacak pinggang, menatap dirinya dengan tampang mau tahu. Rae tertawa kecil, cewek itu memang selalu mau tahu urusan orang. Terutama urusan dirinya.

"Gak galau, kok, cuma bingung," Rae kembali menatap lantai. Vera mengangkat sebelah alisnya lalu memutuskan untuk duduk bersila di samping Rae.

"Tumben lo bingung...Mang nape? Jangan-jangan lo masih bingung sama tugas bikin paragraf persuasi?" Tebak Vera asal.

Rae menatapnya kaget, membuat Vera kembali mengangkat sebelah alisnya. Dan gak pake ba-bi-bu, Rae tiba-tiba mengambil buku latihan B.Indonesia-nya yang terbengkalai di lantai dengan posisi yang gak enak dan hampir dijilat anjing peliharaan tetangga sebelah.

"Kok lo tahu sih kalo gue lagi bingung soal bikin paragraf persuasi?" Vera meng-gubrak dengan indahnya.

"Ya, Allah...Masa lo gak bisa bikin paragraf persuasi? Gini nih, ya, paragraf persuasi tuh berisi himbauan, mempengaruhi pembacanya untuk berbuat sesuatu. Jadi misalnya, nih...Lo mau bikin paragraf tentang 'menjauhi narkoba', nah, lo tulis di paragraf itu himbauan buat para pembaca supaya gak terjerat narkoba. Gitu aja apa susahnya, sih?" Vera mengibaskan rambut panjangnya, setengah karena kesal, setengah karena narsis. Rae mengedipkan matanya dan kemudian mengambil pulpennya.

"Kalo gitu, boleh gak gue tulis himbauan buat seorang Vera supaya milih cowok yang paling pas buat dia, yang siap menerima dia apa adanya, yang gak ngeliat kekayaan atau statusnya aja, yang siap melindungi dia walaupun harganya adalah hidupnya sendiri?" Tanya Rae dengan tampang serius. Vera sedikit kaget mendengarnya, tapi mengira bahwa Rae mungkin hanya ingin menggodanya saja, dia memutar bola matanya.

"Oh, ya? Terus, lo menghimbau gue buat jadian sama siapa?"

Sekian detik berlalu, Vera yang heran kenapa Rae belum menjawab pertanyaannya pun menoleh, mendapati Rae tengah menatapnya serius dan dalam. Tatapan yang adiktif, membuat Vera tak dapat melepaskan matanya dari Rae.

"...Rae?"

Rae tersenyum, "Tuh, lo baru aja nyebutin namanya..."
_____________________________
Adoeh bo, gaje...
>>Next prompt : Fascination/Pesona
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sonnet54
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Autism/Autis
Fandom : Ori
Chara : Nadine, Peter
_________________________________

Sore hari itu. aku diharuskan kembali untuk melihat dirinya.

Si gadis kecil berparas manis. Rambut hitam panjang melambai dibelai angin. Gaun putih panjang menyelimuti tubuhnya yang mungil. Kaki telanjang tak beralaskan sepatu. Bola mata bulat besar berwarna biru laut melihat ke atas. Wajah putih salju yang selalu kukagumi terlihat sendu.

Ada apa gerangan?

Dengan perlahan, kelangkahkan kakiku menghampiri si gadis kecil. Mataku tidak terlepas dari sosok dirinya yang menarik nafasku. Langkah demi langkah kuambil tanpa ragu. Menyadari adanya suara langkahku, si gadis kecil menolehkan pandangannya padaku. Kali ini mata itu semakin membulat, menatapku penuh tanya. Bibir mungilnya mulai terbuka, merangkaikan kata demi kata.

"Kak Peter? Kenapa kakak menghampiri Nadine?"

Ah, Nadine. Aku ingat nama itu. Nama yang sering mengisi relung pikiranku. Aku tersenyum lembut ketika dirinya ikut menghampiriku. Mata biru laut itu terus menatap kedua manik mata ini, membuat hatiku berdebar seiring langkah yang ia ambil.

"Kak...Bagaimana hasil di-diag-nos-nosa-nya?" Tanyanya dengan lirih dan terbata-bata. Aku menutup mataku, menahan keinginan untuk berteriak histeris ketika mendengar pertanyaannya. Tapi aku tak ingin membuatnya kecewa karena aku tak berani mengutarakan kebenaran. Karena itu, dengan pasrah, diriku berjongkok dan menjawab, tak lupa untuk tetap menatapnya.

"Kau...Memiliki gejala autisme."

Mata Nadine kembali membesar, "Au-aut-autis-mm-e? Apa itu, Kak? Aku tidak mengerti..."

Dengan segenap tenaga yang tersisa aku kembali menjawab, "Nadine, autisme adalah suatu gejala dimana anak kecil memiliki kekurangan dalam hal berbicara pada sesamanya, dan tak dapat beraktivitas dengan baik seperti anak-anak lain."

Nadine kembali menatapku dalam diam. Aku menahan nafasku, menunggu reaksi yang memungkinkan. Kenyataan ini benar-benar menyiksaku luar-dalam. Aku masih tak dapat menerimanya. Nadine, anak berusia 5 tahun, baru akhir-akhir ini diberitahukan bahwa dirinya mengidap gejala autisme. Nadine, si gadis kecil yang ingin kulindungi dengan segenap jiwa ini bernasib sama seperti mendiang kakakku. Nadine!

Ketika aku kembali jatuh dalam pikiranku sendiri, kudengar kembali suara lirih yang membuyarkan lamunanku.

"Apa itu membuatku...Seperti orang gila?"

"Apa?"

"Au-au-aut-is-mm-e itu...Apa membuatku menjadi seperti orang gila?"

Dengan cepat dan hati yang terpuruk mendengarnya, aku menjawab kembali, "Tidak, Nadine. Kau tidak gila. Kau masih bisa berpikir sehat seperti kakak. Hanya saja kau memiliki hambatan untuk dapat berbicara ataupun menyesuaikan diri dengan sesamamu—"

"Bukannya tidak dapat menyesuaikan diri dengan sesama kita itu ciri-ciri orang gila?" Nadine memotong perkataanku. Kali ini matanya yang besar itu mulai berkaca-kaca. Aku menggeleng keras mencengkeram bahunya, ingin meyakinkannya bahwa dia tidak gila. Dia tidak gila. Dia tidak gila!

"Kau tidak gila, Nadine! Kau sehat! Pikiranmu masih dapat bekerja dengan baik! Kau tidak gila!"

"Kalau begitu, kenapa kakak tak dapat mengatakan bahwa aku ini normal! Normal seperti anak-anak lainnya! Seperti Steve, Max, Caroline, dan anak-anak di panti asuhan! Kalau kau yakin aku tidak gila, sekarang katakan padaku bahwa aku normal! NORMAL! NORMAL!!" Nadine menjerit histeris, dia terduduk lalu dengan keras dia menjambak rambutnya, menutup matanya, dan menendangkan kakinya dengan membabi buta.

Betapa besarnya keinginanku untuk berkata bahwa dia 'normal'.

Betapa besarnya hasrat ini untuk memeluk tubuhnya yang mungil, berbisik di telinganya bahwa dia 'normal'.

Namun, bagaimanapun besarnya keinginan ini untuk menyakinkan dirinya bahwa dia 'normal', aku tetap saja tak dapat mengatakannya. Mendadak lidah ini terasa kelu, tak dapat merangkaikan satu kata sederhana.

Normal.

"...Kau tidak bisa mengatakannya 'kan, Kak Peter? Akui sajalah! Aku ini a-au-aut-tis! Aku gila! GILA! GILA!" Jeritan itu terus mengiang-ngiang dalam telinga dan pikiranku. Sampai akhirnya dia berlari meninggalkanku.

Diriku yang saat ini begitu kubenci.
_________________________________

Maaf ya, kesannya jadi gaje bgt en rada gk nyambung! Lagi mampet nih kepala! Dan untuk lebih jelasnya, si Nadine ini punya autisme jenis Asperger Syndrome

Next prompt : Horizon/horison




Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sonnet54
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Salt/Garam
Fandom : Ori
Chara : Sandy, Grandpa Octavian
_________________________________

Sandy, kau pernah bertanya tentang hubungan garam dan dirimu juga anak-anak seusiamu bukan?
Mari kakek jelaskan dalam surat ini.

Ingatlah proses pembuatan garam. Kumpulkan air laut dalam sebuah tambak di tepi pantai. Dengan sinar matahari, air laut akan menguapkan zat kristal yang terkandung di dalamnya. Lalu oleh para petani garam kristal akan dikumpulkan, dicuci ulang hingga bersih, lalu kembali dijemur.

Apa yang kita rasakan ketika kita memakan garam?

Asin.
Apakah garam memiliki pengaruh positif pada kehidupan kita?
Ya.
Apakah garam dapat memberikan pengaruh negatif pada kehidupan kita?
Ya, dan itu terjadi bila kita mengkonsumsi garam dalam jumlah berlebihan.

Kalau kita masukkan konsep garam ke dalam kehidupan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Dalam dunia ini pupulasi manusia yang melata di darat tak dapat dihitung jumlahnya secara kuantitatif. Dan di antara semua manusia yang ada, terkumpulah kumpulan manusia dengan berbagai potensi. Kita sering sebut mereka sebagai anak-anak, remaja, generasi baru/muda, pucuk daun muda yang siap bertumbuh dan berkembang. Melihat akan kehidupan yang asin-manis dan penuh dengan kebohongan tragis juga berbagai anomali, menanamkan berbagai hipotesa dan argumen tersendiri dalam pikiran setiap generasi muda. Hal ini dapat memungkinkan terjadinya 'penguapan' dalam kepolosan setiap anak dan remaja dan menimbulkan adanya perdebatan antara 'baik dan jahat'. Kami para generasi tua--yang memiliki pengetahuan akan kehidupan lebih dalam daripada generasi muda--bertugas untuk 'menyaring dan membersihkan' segala pengetahuan jahat yang ada pada pikiran generasi muda. Kami mendidik para generasi muda dengan nilai-nilai positif yang kami ambil dari kehidupan yang selama ini kami jalani, berharap para generasi muda tidak mengikuti sisi buruk kami dan hidup membawa sisi baik mereka sampai mereka tua dan akhirnya mereka menggantikan posisi kami.

Para generasi muda memiliki talenta yang dapat dimanfaatkan dengan baik untuk kelanjutan hidup, baik untuk dirinya dan bahkan lingkungan sekitarnya, hal ini saya umpamakan sebagai rasa 'asin' pada garam yang cenderung merupakan salah satu faktor penyedap masakan yang kita konsumsi setiap hari. Namun, bila rasa 'asin' tersebut dimanfaatkan secara berlebihan atau dipengaruhi dengan pelencengan pengetahuan, maka dapat menimbulkan berbagai penyakit yang cenderung merugikan. Dan hal ini berlaku juga dalam kehidupan para generasi muda, bila talenta yang mereka miliki dieksploitasi untuk hal yang tak terpuji dan didasarkan oleh nafsu, potensi itu justru merugikan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, kita harus pintar dalam mengembangkan dan memperagakan talenta kita.

Dan itulah alasan mengapa kamu, dan anak-anak seusiamu bahkan sedikit lebih tua darimu diumpamakan sebagai garam. Mungkin penjelasan ini memang berbeda dengan penjelasan yang pernah kau dengar dari orangtua, guru, dan bahkan teman-temanmu dan kemungkinan besar menimbulkan perdebatan ringan, tapi inilah jawaban kakek akan pertanyaanmu. Alangkah baiknya, kamu memikirkan jawaban kakek dan memberikan pendapatmu sendiri.

Oh, ya, apakah kamu ingin bertanya juga mengenai gula?


Sandy tertawa kecil ketika membaca cuplikan surat dari kakeknya, Oktavian. Cuplikan surat itu ia simpan dalam agendanya dan terus ia baca ketika ia merasa bosan di kelas. Gadis muda itu menggenggam agendanya dengan erat dan kemudian tersenyum simpul.

"Bukankah gula dan garam sama adanya? Walau perbedaannya ada pada rasa dan proses pembuatan, dan bila digunakan secara berlebihan akan menimbulkan penyakit. Namun, bila kita hubungkan dengan kehidupan, apakah aku boleh berkata bahwa perumpamaan garam dan gula itu sama, Kek?"

Sandy mengangkat kedua bahunya dan beranjak berdiri dari kursi taman yang ia duduki lalu beranjak pergi.

"Mungkin untuk selanjutnya, aku harus bertanya tentang hal itu."
_________________________________

Hem...Aneh. Tapi ya, sudahlah. XD

Next prompt : Salvation/Keselamatan

Edited by sonnet54, 4 Jan 2012, 08:17 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sonnet54
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Uranium
Fandom : ???
Chara : Vira, Revon
__________________________________________

Vira menatap cowok jabrik di sebelahnya dengan tatapan risih. Dari tadi cowok satu itu yang terkenal dengan aksi nekatnya menembak guru matematika yang paling cantik di sekolah itu lagi sibuk menggaruk-garuk rambutnya yang penuh ketombe dan alhasil banyak ketombe berjatuhan dan mengotori kertas ujian kimia yang lecek gara-gara dicengkeram dengan penuh emosi dari awal mulai ujian sampai sekarang.

Dan, bahkan sekarang dia kelihatan sudah siap untuk buang hajat di tempat.

Karena kesal-risih-marah-benci-jijik yang bercampur aduk jadi satu dalam hatinya, Vira pun berdiri dari tempat duduknya dan berkacak pinggang, tidak peduli dengan tatapan pengawas ujian dan teman-teman sekelasnya. Dengan suara keras, dia berseru, "Apes banget, ya, gue sebangku ama lo! Bisa diem, gak?! Gue jadi gak bisa konsen neh!!"

Revon yang lagi ngeden ria akhirnya menghentikan aktivitasnya dan menatap Vira bego, "Sori, Vir...Nomor 45 susah banget! Daritadi gue mikir gak udah tau ciri-ciri jawabannya tapi yang spesifiknya gak ketemu-ketemu!"

"Ya, itu karena lo-nya aja yang kagak belajar, autis!"
"Bukan gitu! Ini emang susah!!"
" 'Mang apaan sih soalnya?"

Revon menghela nafas dan berkata, "Gak perlu dibaca soalnya yang pasti gue tau kalo zat kimia ini nomor atom-nya 92. Lambangnya U, terus punya 92 proton dan 92 elektron. Inti zat yang satu ini mengikat sebanyak 141 sampai dengan 146 neutron, jadi terdapat 6 isotop zat. Terus isotopnya itu bersifat radioaktif. Zat kimianya apa, ya, Vir?"

Dengan tampang cengo, Vira menjawab, "...Uranium."

Revon terlihat sedang berpikir sebentar lalu menjetikkan jarinya dengan tampang senang, "Oh, iya! Bener juga! Thanks, ya, Vir!"

Ketika Revon mengambil pulpennya dan menulis jawabannya. Vira masih berdiri mematung di tempatnya sampai-sampai pengawas ujian pun datang menghampirinya dan merobek kertas ujian Vira dan Revon yang nggak terima kertas ujiannya robek karena dia memberi tahu jawaban pada sesama peserta ujian.

Revon memang gak pernah gak bikin cengo seorang Vira.
__________________________________________
Ciri-ciri uranium didapat dari Wikipedia

Next prompt : Antagonist/Antagonis
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone