Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only.
Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (10,982 Views)
Haruki_Irish!
abed abed abed
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Chances/Kesempatan
Fandom: Keluarga gila Kartheiser uhuuy~.
Chara: Adrian Kartheiser ; Charlotte Kartheiser
"...mau coba?"

Senyum timpang Charlotte terukir di wajah cantiknya. Mata birunya menatap lurus warna biru iris Adrian. Tatapan lembut yang tumben-tumbennya dikeluarkan Nona Charlotte yang biasanya tak acuh akan keluarganya. Ah. Tentu saja, ada maunya. Nona ini lagipula untuk apa sok baik-baik pada laki-laki itu kalau tidak untuk sesuatu yang penting?

"Jadi pa-nge-ran?"

Suara tenang yang dikeluarkan Adrian membuat gadis ini gemas. Ini untuk drama kelas, tahuu. Sial sekali, anak laki-laki di kelasnya ogah sekali disuruh bermain peran; katanya lebih baik sekalian bolos saat hari ulang tahun sekolah yang kebetulan memang jatuh pada hari Minggu. Uh. Ia yang menjadi pembuat skenario drama ini sampai harus membujuk anak laki-laki itu, tapi tidak berhasil.

"Iya. Lawan mainmu Cath kok. Cantik, kan?" Lalu tersenyum jahil. "Ini kesempatanmu; kau suka kakaknya Cath, kan?"

Asal saja mengambil konklusi. Dasar Charlotte. Sementara tidak ada perubahan emosi di kakaknya yang nampak tetap diam tak berkesudahan. AAAAH. Ingin rasanya ia bunuh kakaknya ini. Sebal tahu bicara dengan makhluk yang tak ubahnya patung bersuara. Yang tidak punya emosiii, uh. Dan ini kesempatan terakhirnya untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi penulis skenario di depan orangtua kolot mereka daripada melanjutkan voodoo-vodoo bodoh itu.

"Baiklah."

...kalau senang, kenapa kening Charlotte mengernyit heran?
prompt: Below/Bawah
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Haruki_Irish!
abed abed abed
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt:Star/Bintang
Fandom: ..fandomgakjelasorz.
Character: Francis M. Bennet
Dan bintang, seperti objek lainnya; adalah sebuah keindahan yang sangat cantik; titik-titik manik yang menghiasi kain kelam langit. (Dan kau berharap untuk meraihnya dan menghiasi tubuhmu dengan manik-manik berkilat yang selalu menjadi bahan cerita dongeng yang tidak pernah habis.) Sebuah pemikiran konyol, tapi.. siapa tahu. Siapa tahu kalau ia berhasil mengambilnya dan menjualnya, orangtuanya tidak akan perlu ribut memikirkan uang lagi; bisnis mereka akan sukses besar meskipun Great Depression Era masih terasa mencekik sebagian besar kalangan masyarakat Amerika.

Iya, pikiran yang naif.

(..tapi hei, apa salahnya berpikiran naif? Bukankah ayah dan ibunya juga kelewat naif dengan berharap bahwa dengan sihir maka bisnis mereka akan sukses.. semudah itu? Ayolah, ibunya akhir-akhir ini mencoba voodoo.. entah apa maksudnya.)

Bintang-bintang itu memiliki daya magisnya sendiri. Membuat kakinya bertumpu pada satu titik (berjinjit ingin melihatnya lebih dekat), mata keemasannya mencari-cari manik-manik silver itu dengan lebih serius, membuatnya terlupa dengan bunyi krucuk-krucuk perutnya. Jemarinya diletakkan di balkon, mencari keseimbangan.

..dan matanya menangkap sebuah manik bergulir cepat, mengikuti gravitasi, membuat tangannya refleks mengadah ke atas; hendak menangkapnya. Dan sang bintang seakan mendekat

(-untuk kemudian pergi lagi.)

"FRANCIS! Makan malammu sudah siap."

..dan gadis itu berjalan menuju ruang makan keluarganya dengan kecewa.
next prompt: adamant/teguh
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Haruki_Irish!
abed abed abed
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Second/Detik
Fandom: RP tapi crossover (??)
Character: Cari tahu anak saya yang visunya saya pake buat sigava Infant #dilempar
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok T—HACHYUU!

"—jangan bersin begitu tanpa ditutup mulutnya." Sebuah suara sopran yang nyaris emotionless itu terdengar jelas. Wajahnya menatap pemuda berambut coklat brunette itu, lekat. Bukan cinta. Karena toh ia tak menyukai tipe careless macam orang ini. "Kau mau menularkan virus dengan ludahmu yang terbang kemana-mana?" Liur toh bisa menularkan penyakit, itu yang gadis itu tahu. Dan ia tak mau tertular penyakit hanya karena kebodohan kecil semacam ini.

"Oh—H-h—plis, Rodrizgu—h—h,"

—HACHYUU!

Satu detik kembali terbuang demi bersin pemuda itu. Oh, kenapa sih pakai bersin-bersin? Perasaan ia tadi mimpi baik-baik saja (atau tak bermimpi?) dan makan dengan teratur, olahraga yang kurang, tidur berlebih—sudah deh, penting tidak sih membicarakan hal seperti ini sementara ia rasanya ingin bersin lagi? Crap. Mau protes ke siapa, heh? Nasib buruk? Tapi ia sudah mengirimkan 'surat konsumen' berkali-kali dan tetap saja ketidakberuntungan selalu menyertainya.

Bad jokes. Jangan tanya apa pemuda itu berniat menjadi stand-up comedian, karena jawabannya pasti tidak. Dengan gelengan berkali-kali.

(..iya, satu detik terbuang untuk hal tidak penting lagi.)

"Aku pindah tempat baca saja. Membuang waktu saja."

Gadis ini lantas bangkit, frustasi dan depresi setengah mati setelah tepat 150 detik duduk di sebelah pria itu. Setelahnya ia berjalan melewati koridor, tak berniat ingin mencari tahu lagi apakah pemuda itu akan lanjut bersin lagi.
Maafin mama—ih, lagian saya tahu kok Parker gak bakal unyu sama Danna =)). Tapi mama suka Polivia, jadi— *WOY*
next prompt: Rebellion / Pemberontakan.
Edited by Haruki_Irish!, 8 Jul 2011, 04:59 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Haruki_Irish!
abed abed abed
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Heart/Hati (...boleh gak saya artiin jantung aja? Hati kan liver secara medis, anyway #PLAK)
Fandom: (?) canak sih, tapi....sudahlah
Chara: Theodore Philander Charles; Edward Charles.
Chrome by Loris Azzaro.

Ujung hidung menyentuh jas hitam halus milik Edward Charles dan seketika itu juga aroma semerbak perfume yang digunakan pria kepala enam itu tercium. Tidak menusuk dan menyosor lantas membuat tangannya refleks menutup hidungnya dikarenakan kaget, lebih seperti senyap yang menyergap, natural namun instan. Aroma familiar itu membuat tubuh pemuda mungil ini merapat ke ayahnya, membiarkan wajahnya terbenam di blazer tersebut. Satu dari sedikit hal yang ayahnya masih expert alih-alih pikun mengerjakannya ialah selera. Jas Giorgio Armani, parfum Chrome keluaran 1996, jam tangan Rolex melingkari pergelangan tangan sang tua Charles. Sisa-sisa keglamoran masa lalu yang masih kerap menempel dalam diri Edward.

Sisa-sisa lainnya adalah hal-hal yang tak terlalu menyenangkan: penyakit hati (hepatitis....atau apalah?), serangan jantung mendadak, paru-paru yang terkena flek, et cetera. Gaya hidup para ad man tahun enampuluh-an dengan resiko yang bermain petak umpet sampai nyaris di penghujung waktu. Salah satu alasan mereka berdua berada di kamar rumah sakit yang dominan putihnya adalah gaya hidup masa lampau Edward, menimbulkan serangan jantung ringan—ketiga-kalinya. Theodore tak melihat langsung kejadian itu. Sang ayah sedang berada di agensi Charles-Robert begitu serangan jantung menyergapnya dimana Darla takkan menjelaskan apa-apa untuk saat ini.

Kembali menyerusuk ke jas sang ayah, membiarkan ia mencium aroma itu lagi. Menikmatinya. Sifatnya toh relaktatif, lumayan untuk menenangkan degup jantungnya yang berdegup tak konstan selama penungguan di ruang tunggu. Pikiran konyol bahwa 'ayah akan mati' sempat melintas, apalagi melihat umurnya yang tak lagi muda. Hanya sedikit memori—hal apapun—yang bisa ia asosiasikan dengan ayahnya. Piala Clio Award tahun 1961 yang terpajang di ruang kerja (ruang kerja...ruangan yang harus diganti namanya). Jam tangan Rolex yang melingkar di tangan sang pemuda. Yang paling kuat dan membangkitkan ingatannya adalah aroma parfum Chrome yang membawanya ke deja vu.

"Dad—you make me worry."

Anak laki-laki tidak boleh menangis. Anak laki-laki tidak boleh kehilangan kontrol. Jadi alih-alih memukul-mukuli tubuh ringkih sang ayah dengan kepalan tangan mungilnya ataupun menangis di setelan sang ayah, ia hanya berkata dalam nada terkontrol wajar, meminimalisir membanjiri sang ayah dengan berbagai perasaan yang meluap-luap di ruang tunggu. "It's not good, really—to...make me worry."

Berbeda dengan Darla yang mungkin pernah menghabiskan waktu dengan ayahnya dalam masa muda dan masih bersemangat mengikuti perkembangan si kakak perempuannya, ia adalah anak terakhir. Anak yang tak pernah diharapkan. Ibu tak jelas, juga keadaan ayahnya yang boleh dibilang sudah kurang pantas mengurus anak. Ia tak terbiasa membagi momen-momen bersama ayahnya. Ada ingatan-ingatan blur, namun bukanlah sesuatu yang diceritakan di film-film. Happy time, family time. Hatinya tak sebegitu kuatnya terikat dengan hati sang ayah meski memang akan selalu ada ikatan orangtua-anak di sana—konon.

Seperti saat ini.

Saat ia terbenam dalam pelukan sang ayah, menimbulkan senyum di wajah milik Theodore.
galau aish ._____.
next prompt: persuasion/persuasi.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Haruki_Irish!
abed abed abed
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Jejak Kaki/Footprint.
Fandom: (?)
Chara: Theodore Philander Charles, Darla Barbara Charles.
"Kau masih menganggapku seperti saingan, Barbara?"

Gadis berambut brunette yang berada beberapa langkah di belakang sang pemuda brunette berhenti mendadak mendengar pertanyaannya, seperti tersambar petir di siang cerah ini. Jejak kakinya membentuk bekas di pasir pantai, semakin lama semakin dalam. Wanita dewasa itu mengernyit sejenak mendengar pertanyaan bocah cilik berambut coklat (nyaris pirang di bawah sinar matahari yang seakan mengiluminasi cahaya) yang bahkan masih baru mencapai kepala satu tersebut. "Theodore, kau kenapa bertanya begitu?"

Pemuda itu perlahan menoleh ke belakang. Dua bola mata birunya menatap sang kakak dengan jurang perbedaan umur yang terlewat dalam. Mukanya didongakkan, bertemu langsung dengan kedua bola mata biru gadis bernama tengah Barbara yang kini memakai gaun putih bermotif flora kecil, seakan menyidik. "Karena aku...ya, aku merasa kau masih menganggapku saingan. Entah dalam hal apa."

Wanita berambut coklat itu nampak membisu beberapa saat. Manik birunya dilempar ke arah pasir, kanvas luas berwarna kecoklatan nampak begitu jelas di hadapannya. Tapak-tapak kaki orang nampak membekas. Bertemu dengan jejak-jejak kaki mungil milik adiknya—kaki-kaki mungil yang mengingatkannya dengan kejadian beberapa hari lalu saat Theodore dan Thomas, anaknya, mencari sepatu bersama—dimana melihatnya membuat mulutnya seakan terdorong untuk mengeluarkan suara hatinya. Sesuatu yang ia tahan-tahan bertahun-tahun. Fakta yang ia paksa ajak berdamai, namun terus saja menimbulkan dilema batin baginya.

Salah siapa?

Manik biru langit milik Theodore masih menatapnya, sebuah tatapan intens—meski tak terlihat tajam ataupun marah. Seakan ia adalah tersangkanya. Seakan Darla Barbara Charles mempunyai kesalahan tak termaafkan. Jangan tanya bagaimana bola mata itu bisa begitu menguasainya, mendominasinya. Atau mungkin itu hanya perasaannya atau sekalian periodnya? Wanita muda itu sejujurnya merasa keheranan dengan reaksinya sendiri yang persis seperti seorang anak siswa yang tertangkap basah oleh sang guru pengawas saat sedang ada ulangan. Salah siapa?

"Mungkin, Teddy?"

Jawabannya ditelan angin musim panas yang meniupkan kebahagian pada setiap jengkalnya. Bisik itu terdengar makin lemah. Dan disinilah dirinya, merasa seperti seorang anak kecil yang keberatan lolipopnya dibagi. Keberatan ayahnya dibagi. Padahal dia adalah wanita dewasa, seharusnya berpikir secara lebih rasional, konon. "Aku—mungkin itu hanya karena....kaget. Aku tak terbiasa memikirkan bahwa aku akan punya adik, apalagi di umur seperti ini—"

dan berbeda ibu. Bahkan mereka sama sekali tak tahu siapa gerangan ibu dari Theodore Philander Charles! Ayahnya menolak memberitahu. Asumsi terpaksa dibuat...dan asumsinya sungguh tak menyenangkan untuk didengar. Pelacur. Ayahnya, dewasa ini, merupakan orang yang sama sekali jauh dari predikat dewasa. Pelacur bukanlah hal yang aneh untuk disewa ayahnya, sesuatu yang membuat wanita ini berubah menjadi anak remaja labil yang kelebihan hormon. Bukankah ibunya bahkan bercerai dengan ayahnya dengan alasan bahwa ayahnya—konon—berselingkuh dengan seketarisnya? Itu ingatan masa kanak-kanaknya.

"Maafkan aku kalau begitu, Kak."

Bisikan pemuda itu terdengar jelas di telinga sang wanita muda.

Tidak apa-apa. Hanya hatinya yang bisa berbicara begitu. Ia tak yakin ia bisa mengucapkannya langsung.
next: getaway / jalan kabur.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone