

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only. | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (11,063 Views) | |
| Hana Suzuran | 28 Oct 2011, 04:09 PM Post #121 |
|
Black Pearl
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Fascination/Pesona Fandom: Original Chara: Febry, Tama ----------------- Mata coklat itu terus menatap ke arah yang sama. Hanya ke satu tempat. Apa yang dilihatnya terlihat jelas di iris matanya. Benar. Ia tak bisa berhenti menatap. Seakan kalau ia memalingkan wajahnya, ia merasa ada yang hilang. Tama. Ya, dia orangnya. Pemilik nama itulah yang sudah membawa si pengamat--Febry--berada jauh di alam angannya. Bagaimana tidak? Ada sesuatu yang selalu membuat Febry tak bisa berpaling setiap lelaki itu berada di dekatnya. Pesona. Benar. Pesona yang dimiliki Tama bagaikan gravitasi yang mampu menariknya untuk tetap memperhatikannya. Segala hal yang ada pada diri lelaki itu memiliki pesona yang memikat bagi Febry. Senyumnya, cara bicaranya, sikapnya. Ah, pokoknya semuanya! Dan satu hal yang diangankan Febry hanyalah... Agar pesona itu hanya menjadi miliknya seorang. ------------------- Ck, gajenya -_____-"" #ngumpetdibawahmeja. Next Prompt: Hair/Rambut |
![]() |
|
| Ann-chAn | 30 Oct 2011, 06:31 PM Post #122 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Hair Fandom: ori, sampai sekarang ga punya judul Chara: Vidia, Aishvera Gadis kecil itu bersenandung sembari menyisir rambut gadis kecil lainnya. Ia menyentuhnya dengan lembut, seakan rambut itu akan rusak bila diperlakukan salah. Si gadis yang sedang disisiri hanya menunggu sambil membaca sebuah buku tua. "Vidia, sayang?" "Ya, Vera?" "Kenapa rambutku tidak bisa perak seperti rambutmu ya...?" gumamnya sambil terus menyisir rambut Vidia. "Perak kan aneh... Aku lebih suka hitam, seperti rambutmu!" Aishvera menggeleng. "Rambutmu indah sekali kok. Seperti sinar bulan." "Kalau begitu, rambutmu seperti langit malam." Mereka saling bertukar pandang dan terkikik. "Kita saling melengkapi," cetus keduanya bersamaan. Imutnyaaaa mereka saat masih kecil =w= Next: Jejak kaki/footprint |
![]() |
|
| Haruki_Irish! | 30 Oct 2011, 08:22 PM Post #123 |
|
abed abed abed
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Jejak Kaki/Footprint. Fandom: (?) Chara: Theodore Philander Charles, Darla Barbara Charles. "Kau masih menganggapku seperti saingan, Barbara?" Gadis berambut brunette yang berada beberapa langkah di belakang sang pemuda brunette berhenti mendadak mendengar pertanyaannya, seperti tersambar petir di siang cerah ini. Jejak kakinya membentuk bekas di pasir pantai, semakin lama semakin dalam. Wanita dewasa itu mengernyit sejenak mendengar pertanyaan bocah cilik berambut coklat (nyaris pirang di bawah sinar matahari yang seakan mengiluminasi cahaya) yang bahkan masih baru mencapai kepala satu tersebut. "Theodore, kau kenapa bertanya begitu?" Pemuda itu perlahan menoleh ke belakang. Dua bola mata birunya menatap sang kakak dengan jurang perbedaan umur yang terlewat dalam. Mukanya didongakkan, bertemu langsung dengan kedua bola mata biru gadis bernama tengah Barbara yang kini memakai gaun putih bermotif flora kecil, seakan menyidik. "Karena aku...ya, aku merasa kau masih menganggapku saingan. Entah dalam hal apa." Wanita berambut coklat itu nampak membisu beberapa saat. Manik birunya dilempar ke arah pasir, kanvas luas berwarna kecoklatan nampak begitu jelas di hadapannya. Tapak-tapak kaki orang nampak membekas. Bertemu dengan jejak-jejak kaki mungil milik adiknya—kaki-kaki mungil yang mengingatkannya dengan kejadian beberapa hari lalu saat Theodore dan Thomas, anaknya, mencari sepatu bersama—dimana melihatnya membuat mulutnya seakan terdorong untuk mengeluarkan suara hatinya. Sesuatu yang ia tahan-tahan bertahun-tahun. Fakta yang ia paksa ajak berdamai, namun terus saja menimbulkan dilema batin baginya. Salah siapa? Manik biru langit milik Theodore masih menatapnya, sebuah tatapan intens—meski tak terlihat tajam ataupun marah. Seakan ia adalah tersangkanya. Seakan Darla Barbara Charles mempunyai kesalahan tak termaafkan. Jangan tanya bagaimana bola mata itu bisa begitu menguasainya, mendominasinya. Atau mungkin itu hanya perasaannya atau sekalian periodnya? Wanita muda itu sejujurnya merasa keheranan dengan reaksinya sendiri yang persis seperti seorang anak siswa yang tertangkap basah oleh sang guru pengawas saat sedang ada ulangan. Salah siapa? "Mungkin, Teddy?" Jawabannya ditelan angin musim panas yang meniupkan kebahagian pada setiap jengkalnya. Bisik itu terdengar makin lemah. Dan disinilah dirinya, merasa seperti seorang anak kecil yang keberatan lolipopnya dibagi. Keberatan ayahnya dibagi. Padahal dia adalah wanita dewasa, seharusnya berpikir secara lebih rasional, konon. "Aku—mungkin itu hanya karena....kaget. Aku tak terbiasa memikirkan bahwa aku akan punya adik, apalagi di umur seperti ini—" —dan berbeda ibu. Bahkan mereka sama sekali tak tahu siapa gerangan ibu dari Theodore Philander Charles! Ayahnya menolak memberitahu. Asumsi terpaksa dibuat...dan asumsinya sungguh tak menyenangkan untuk didengar. Pelacur. Ayahnya, dewasa ini, merupakan orang yang sama sekali jauh dari predikat dewasa. Pelacur bukanlah hal yang aneh untuk disewa ayahnya, sesuatu yang membuat wanita ini berubah menjadi anak remaja labil yang kelebihan hormon. Bukankah ibunya bahkan bercerai dengan ayahnya dengan alasan bahwa ayahnya—konon—berselingkuh dengan seketarisnya? Itu ingatan masa kanak-kanaknya. "Maafkan aku kalau begitu, Kak." Bisikan pemuda itu terdengar jelas di telinga sang wanita muda. Tidak apa-apa. Hanya hatinya yang bisa berbicara begitu. Ia tak yakin ia bisa mengucapkannya langsung. next: getaway / jalan kabur. |
![]() |
|
| mesti | 30 Oct 2011, 10:10 PM Post #124 |
![]()
ShouNao Forever
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Gateaway/Jalan Kabur Fandom: ori Chara: ?? Rindu. Langit biru mengerlingnya dengan semburat kasih. Rona cerah itu... begitu menggoda untuk diarungi dengan kepakan sayap bebas. Seperti dulu. Seperti saat ia belum lagi ditawan oleh ruang sempit bernama sangkar ini. Pemiliknya memang selalu menyediakan makanan dan minuman, serta tempat berteduh, untuknya. Tanpa pernah lalai satu kali pun. Sang pemilik pun selalu tersenyum riang tiap kali ia menyanyikan terima kasih dengan kicauan manisnya. Tapi bentangan biru jauh, jauh di atas sana masih saja merenggut hatinya ke arah yang salah, sangat salah. Rindu rindu rindu rindu rindu. Semakin hari, ketidakpuasan itu semakin besar dan menjelma menjadi kegelisahan. Obsesi. Bagaimanapun, ia harus kembali pada langit birunya, pada kebebasan yang menjadi makna eksistensinya. Bila tidak, ia akan gila. Gila. Siapa yang bilang hewan tidak mungkin menderita tekanan jiwa dan mati karenanya? Ia pun mulai menghitung-hitung. Sekali dalam beberapa hari, bila tempat makannya sudah kotor, sang pemilik akan membuka pintu sangkar untuk mengeluarkan wadah itu. Hanya sekejap, tak berapa bilangan detik, tapi bila ia berusaha terbang keluar secepat-cepatnya dalam jangka waktu itu... Jalan kabur - dan juga kemungkinan berhasil - nya tidaklah besar, namun ia sudah bertekad untuk mencoba. Next: Anxiety/Kegelisahan;Kecemasan |
![]() |
|
| sylviolin | 30 Oct 2011, 10:49 PM Post #125 |
|
good bye.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: kecemasan (tapi fail ini faaaaiillll ;w;) fandom: nggak ada chara: kau dan dia (?) Saat ini kau berada di terminal 2E, menunggu dia yang akan pulang dari Singapura. Tik tak tik tak. 10:50. Kau menghela napas. Saat menantikan sesuatu—apalagi orang yang kaurindu—waktu memang berjalan terlalu lambat, ya. Kau memainkan handphone-mu. Beberapa saat setelah mengutak-atik benda kecil itu, kau melirik lagi ke jam besar itu. 10:53. Jadi dari tadi hanya tiga menit? Tiga menit? Kaukira sudah satu jam, atau dua jam, atau mungkin tiga jam. Tapi ternyata— —tiga menit? Hai, waktu, bisakah kau berjalan lebih cepat? Bergeraklah ke angka 12, jarum panjang—dan ke angka 11, jarum pendek! Menurut jadwal, pesawatnya akan mendarat jam sebelas. Pandanganmu beralih ke orang-orang yang lalu-lalang. Bandara memang tak pernah sepi, ya. Kau melirik lagi ke jam besar itu. 10:57. Tiga menit lagi. Tiga menit lagi. Tiga menit lagi. Kau terlalu—terlalu apa? Kau takut ia tak seperti dulu lagi? Atau kau takut ia kecewa saat melihatmu yang sedikit-banyak telah berubah setelah tiga tahun berpisah? 10:59. Satu menit lagi. Semoga semua baik-baik saja, semoga sikapnya tak berubah, batinmu. "Pesawat AA 101— Sudah mendarat, ya? "—dari Singapura tidak akan mendarat. Setelah tiga puluh menit menara pengawas tidak mendapatkan kontak dari kokpit pesawat AA 101, saat ini telah diketahui bahwa pesawat AA 101 mengalami kecelakaan." Salah dengar, itu bukan pesawat AA 101. "Sekali lagi kami ulangi— Tolong. Tolong. Tolong. Bukan AA 101. Bukan. "—pesawat AA 101..." Dan kau tidak mampu mendengar apapun lagi. kok fail ya? mana cemasnyaaaaaaa ;;w;; next: live/hidup |
![]() |
|
| Magma Maiden | 31 Oct 2011, 01:56 AM Post #126 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: live/hidup fandom: ori ori ori chara: Kembara, Kaisar ---------- Kembara bukanlah batu besar yang diam. Ia kerikil kecil yang bergulir selemah apapun angin berembus; selemah apapun semesta bergetar. Meski tubuhnya sedang diam, pikirannya tenggelam dalam kembara tak berujung - tanpa awal dan akhir. Dan Kembara tak ingin kembaranya berakhir, karena hanya dengan mengembaralah ia bisa merasa hidup. Sebanyak mungkin mencecap rasa semesta, sebanyak mungkin menghirup aroma angkasa. Pindah pindah berpindah, bukan pohon yang menetap bertumbuh berbuah. Kembara tidak mau dan tidak bisa mengikatkan akarnya pada bumi, ada begitu banyak yang bisa dilihat di luar sana! Tapi itu semua sebelum Kembara bertemu Sang Kaisar. Kaisar bagaikan magnet - setiap hal kecil pada dirinya jauh lebih menarik daripada fenomena semesta yang menawan atensi para kutubuku. Jejak-jejak tualangnya memusat pada Kaisar, jalur-jalurnya mengorbit bak planet terhadap mataharinya. Bagi Kembara, Kaisar adalah pusat kembaranya, hidupnya dan segalanya. Maka, ketika semesta mencabut Kaisar dari sisinya, Kembara meninggalkan 'kehidupan'nya dan mengejar jejak samar magnetnya tanpa ragu... entah ke mana. Kembara hanya ingin merasakan hidup... ------------- ga jelas ih ![]() next: box/boks #bekasUTS |
![]() |
|
| ichi | 31 Oct 2011, 05:40 PM Post #127 |
![]()
honored maiden
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: box/boks fandom: ori chara: dia // Satu boks. Dua boks. Satu dua tiga tumpukan boks membentuk menara, tinggi hingga menyentuh langit-langit gudang. Begitu tinggi hingga timbul pertanyaan, 'Bagaimana caranya mengangkut benda-benda berat itu dan menyusunnya sedemikian rupa?' Sret sret sret. Terdengar suara grafit beradu dengan kertas putih. Dia--gadis dengan surai merah panjang menyentuh pinggang--mendata satu-satu boks yang tiba. Menuliskan apa isinya, berapa jumlahnya, dan akan dikirim ke mana. Menara boks tidak hanya satu dua, tiga empat bahkan puluhan jumlahnya. Karena itu, dia harus fokus untuk menulis, sebelum lembur dan menginap semalaman di gudang pengap bau amis basah terpaksa ia lakoni. Tulis tulis tulis. Terus menulis. Abaikan mereka yang telah pergi. Tulis tulis. Abaikan momen-momen kehilangan yang berputar dalam kepala ini. Tulis tulis. Abaikan bulir-bulir air mata yang berjatuhan di pipi kemarin. Tulis tulis-- --trak. Pensil bertabrakan dengan lantai. // ... gaje ;w; prompt: fallen leaves/daun berguguran |
![]() |
|
| hansel. | 31 Oct 2011, 10:34 PM Post #128 |
![]()
why-o.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: fallen leaves/daun berguguran Fandom: chess game (proyek nanowrimo taun lalu /sobs) Chara(s): Narren/Alice “Dari yang saya pelajari saat sekolah, negara tropis.. tak memiliki autumn—err, musim.. gugur? Benar?” Sang pemuda mengangguk membenarkan. “Di sini kita cuma punya musim hujan dan musim kemarau. Walau nggak ada bedanya juga sih. Musim hujan, teta[ saja Jakarta kayak neraka bocor. Musim kemarau, hujan tetap turun dan bikin banjir.” Menggeleng dengan prihatin. Lalu terkesiap saat menyadari ia baru saja mengoceh panjang lebar dalam bahasa Indonesia dengan kecepatan yang pasti sulit ditangkap lawan bicaranya. Benar saja, Alice memandangnya dengan tatapan kosong yang menandakan ia kebingungan. “Rain season?” Kepala digerakkan, membentuk sudut dari keadaan semula. “Kema—rau?” Lidahnya terbata-bata mengulang kata yang sanggup ia cerna dari Narren. “Err—well, it’s.. complicated.” Sang gadis berusia sepuluh tahun mengangguk kecil meski masih belum sepenuhnya memahami. Setiap kali Narren berkata seperti itu, laki-laki yang lebih tua darinya tersebut takkan membuka mulut untuk menjelaskan—dengan alasan tidak mampu. Alice menyadari sepenuhnya bahwa bahasa Inggris bukanlah keahlian Narren, sama seperti dirinya yang masih terbengong-bengong menghadapi bahasa Indonesia. “Lalu kenapa.. ada dedaunan berguguran, jika tidak ada musim gugur?” Alice mengendikkan kepala pada sekelilingnya. Jalanan yang ia susuri bersama Narren sore ini nampak dipenuhi oleh daun-daun kering berwarna kecokelatan. Keresak lembut terdengar setiap kali ia melangkah dan menginjaknya. “Eh, ya, anggap saja kemarau itu autumn versi Indonesia,” Narren mengangkat bahu dengan santai. Tak mau repot. Lagi Alice mengangguk. Angin besar mendadak bertiup, menggoyangkan dahan yang rapuh dan menghujani bumi dengan lebih banyak lagi daun yang berguguran. Sang gadis memejamkan matanya dan menunduk untuk melindungi diri hingga angin berlalu. Setelah beberapa saat, ia membuka matanya dan menemukan Narren terkekeh sambil menatapnya. “What’s wrong?” Sang pemuda menggeleng. Tangan terulur, menyentuh surai pirang milik sang gadis dengan lembut dan mengacak-acaknya. “Rambutmu penuh daun.” pedo!narren -////- #eaah next prompt: tears/airmata |
![]() |
|
| Ann-chAn | 1 Nov 2011, 06:16 PM Post #129 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Tears/Air mata Fandom: Belum punya judul Chara: James/Stella Wanita muda itu menatapnya lekat-lekat, iris hijaunya menembus ke dalam jiwa James. Tanpa ia sadari, jantungnya sudah berdebar kencang. Apa yang ada di hadapannya kali ini, setara dengan lukisan terindah sepanjang masa. Suatu karya seni yang baru kali ini ia lihat--bahkan mungkin, inilah satu-satunya kesempatan untuknya. Tiap butir kristal bening yang menetes dari sudut mata itu membuat batin James tergetar. Meski ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu meneteskan air mata, tapi ia bersyukur. Bersyukur dapat mengenal Stella yang sedang menangis. Bersyukur dapat menyentuh butir air yang berharga itu. Stella membiarkan jemari James menelusuri pipinya. Ia diam saja saat pemuda itu berusaha meraih setetes air matanya yang akan jatuh. Begitu nyata. Padahal eksistensinya sendiri tidaklah nyata. Baik James maupun Stella tahu apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Keduanya sepakat dalam diam, untuk menjadikan butiran air mata itu sebagai bukti pertemuan mereka berdua. Oke, kayaknya saya jadi punya ide buat ending cerita ini deh ![]() Next: Bahasa/Language |
![]() |
|
| Dani | 2 Nov 2011, 09:47 AM Post #130 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Bahasa/Language Fandom: Original, baru muncul di What A Good Dat doang =D Chara: Kimura Dani, Mizuhashi Asuka Pagi cerah, temperatur pas, sudah sarapan, dan ketika Asuka memasang sepatunya, mendadak Dani memeluknya dari belakang. "Baka! Lepaskan! Aku mau berangkat sekolah!" Asuka memukul-mukul tangan Dani yang melingkari tubuhnya. "Mnnngg... ayo belajar bahasa tubuh," igau Dani dengan suara yang terdengar jelas bahwa dia baru saja bangun tidur--dan langsung main peluk. "Kau ini kenapa sih? Lepaskan aku! Uuuh!!" Asuka meronta ketika tangan Dani masih tetap dalam posisinya. "Katanya, dunia serasa milik berdua kalau pakai bahasa tubuh," ujar Dani sambil merebahkan kepalanya di pundak Asuka. "Argh! Kau ini tidur! Ayo bangun! Dani!! Nanti aku terlambat sekolah!" teriak Asuka. "Nggg... Asuka..." Dani pun melorot ke lantai, dengan Asuka masih d tangannya. Kini tidak hanya tangannya yang melingkar tubuh Asuka, tapi juga kakinya. "AAAH!!! Lepaskan! Lepaskan! Aku tidak peduli bahasa tubuh! Hari ini aku ulangan bahasa Jepang! Dani!!" "Nng... mending nanti kau ikut aku kuliah Hukum Internasional... Zzz..." kata Dani yang langsung tertidur. "TIDAAAAAKKK!!!" Keesokan harinya Asuka harus nengikuti ulangan susulan. Prompt: University/Universitas |
![]() |
|
| hansel. | 2 Nov 2011, 01:11 PM Post #131 |
![]()
why-o.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: University/Universitas Fandom: trio nista Chara: stella/ez “Ogah.” “Tapi,” gadis bersurai ikal menggerakkan kepalanya, meneleng sedikit, membentuk sudut beberapa derajat. “—kenapa?” “Ajak aku ke tempat bermain, dengan senang hati. Ajak aku ke tempat pendidikan? Jangan harap.” “Tapi masa’ aku datang sendirian ke Universitas itu,” Stella mulai merunduk, nadanya terdengar muram. “Yang mau daftar memang aku. Tapi kan.. takut sendirian masuk ke Universitas itu. Banyak mahasiswa, nanti aku juga bisa nyasar.” Ia mendongak lagi, menatap Ez dengan pandangan yang berkaca-kaca. “Temenin. Ya?” “...j-jangan pakai puppy eyes attack.” Sang gadis merengut, ngambek. “Ya sudah, aku minta tolong Mino saja.” Kata sihirnya diucapkan. “OKE, OKE! Aku temani,” Ez menukas keras, mendecak kesal setelahnya. Sampai mati juga ia takkan sudi melepaskan Stella untuk bersama dengan Mino, berdua saja. Lebih baik dia menekan rasa sebalnya dan menuruti permintaan gadisnya tersebut-meski harus menginjakkan kaki dalam gedung yang menguarkan aura tidak menyenangkan. “Ayo! next prompt: rain/hujan |
![]() |
|
| Dani | 2 Nov 2011, 03:55 PM Post #132 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Rain/Hujan Fandom: kisah nyata (?) Chara: Kimura Dani, Mizuhashi Asuka Warning: shonen-ai dan sugestif. "Nggg... hujan..." keluh Asuka sambil tiduran melingkar di sofa seperti anak kucing yang merana. "Enak kan kalau hujan?" tanya Dani yang kini duduk di sampingnya sambil meminum susu hangat buatannya. "Dingin..." kata Asuka. "Kalau begitu merapat padaku saja," usul Dani. "Tidak mau! Kau curi-curi kesempatan kan?" "Bukan. Kau bilang dingin, aku kan cuma mau menghangatkanmu," ujarnya sambil tersenyum aneh. "Berhenti mengucapkan kata-kata sugestif!!" "Sugestif bagaimana? Aku kan biasa saja." "Diam!!!" Dani langsung terdiam, menikmati segelas susu perlahan, dan menatap ke jendela yang ditabrak oleh tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit. Ruangan sunyi sejenak. "Dani?" panggil Asuka. "Hm?" Dani menolehkan kepalanya. "Aku minta susu..." kata Asuka pelan sambil bangkit dari posisi tidur melingkarnya ke posisi duduk. Dani pun tersenyum dengan senyuman yang langsung berubah menjadi seringai. "Tentu!" Dia langsung meminum susu dari gelasnya, namun tidak ditelan. Kemudian dia mendekati Asuka yang bingung dan menempelkan bibir mereka. Dia mendorong Asuka hingga terbaring di sofa dan membuka bibir anak laki-laki itu dengan bibirnya. Air susu yang ada di dalam mulutnya kini beralih tempat. Asuka tersedak. Dan mau tak mau harus menelannya. Dani sempat membantunya dengan memasukkan lidah ke rongga mulut Asuka sebelum dia melepaskan ciuman. "Uhuk! Uhuk! Puah!! Apa-apaan itu?!" bentak Asuka sambil mengelap sisa susu yang ada di bibirnya dengan lengan piyamanya. "Hujan susu. Hahaha..." Dani tertawa. Next Prompt: Female/Wanita |
![]() |
|
| Magma Maiden | 2 Nov 2011, 06:09 PM Post #133 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: female/wanita fandom: ori chara: Leya, Nyar --------- "Leya...?" Sekumpulan anak laki-laki yang sedang berlarian mengejar si kulit bundar mendadak berhenti bermain. Kepala-kepala menoleh ke satu orang - satu-satunya anak perempuan di lapangan - yang baru saja menjerit keras. Leya berdiri mematung, menunduk menatap ujung kaus kaki putihnya yang ternoda merah. Anak lelaki di dekatnya langsung berteriak-teriak. "Leya berdarah! Leya berdarah!" Dengan segera Leya tenggelam dalam kerumunan orang-orang yang memperhatikan jejak darah dari kaus kaki hingga ke balik rok seragamnya. Salah satu anak perempuan menarik lengan Leya. "Ayo ke toilet," katanya. Yang ditarik menurut saja. ... "Mens?" "Iya, Leya. Namanya menstruasi. Itu berarti Leya sudah jadi seorang wanita, bukan anak-anak lagi." Leya manyun. "Nggak mau, Nyar! Aku nggak mau jadi cewek! Nanti aku nggak bisa main bola lagi!" "Gundulmu main bola!" Nyar menjitak kepala temannya. "Jadi cewek bukan berarti nggak bisa main bola lagi, tahu!" Wajah Leya berubah cerah. "Aku masih bisa main bola?" "Iya, tapi--" sebelum Nyar menyelesaikan kata-katanya, anak itu sudah melesat pergi dari toilet, tidak diragukan lagi kembali ke lapangan melanjutkan permainannya yang tertunda. ---------- next: street lamp/lampu jalan |
![]() |
|
| kuroliv | 3 Nov 2011, 04:46 PM Post #134 |
![]()
★彡
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt : street lamp / lampu jalan. fandom : orijinal. chara : orijinal :> Menunggu taksi. Seseorang, berdiri dalam hening, dengan sebuah lampu jalan berdiri tegap di sana. Sorot cahayanya terkadang redup, terkadang terang. Tak jelas arah dan tujuannya. Seketika, sebuah kisah menguar dalam heningnya. Kau tahu, cinta telah lama dia tinggalkan, di jalanan malam, dalam sebuah penantian tanpa henti. Jika tak percaya, di sana, kau bisa bertanya pada seorang perempuan tua yang menyusun duka dalam bakulnya. Perempuan itu tahu di mana cinta dia tinggalkan. Juga pada laki-laki yang duduk di sudut jalan, yang bernyanyi dalam diam, dalam mata yang tak lagi menemukan di mana warna cahaya. Hanya kelabu, lirihnya. Mungkin, sampai kini, kisah-kisah yang dinyanyikan laki-laki itu juga masih sama, tentang masa lalu yang tak pernah kembali. Juga tentang rindu yang selalu terjatuh, genggaman selalu merasa asing dalam jemarinya. Lagu laki-laki itu selalu ikut mendesak, di antara deru mesin mobil, di antara reriungan penjaja malam. Lara. Seorang laki-laki yang memang tak pernah sempat mengenal warna dalam matanya. Tapi, jika kau bertanya, dia juga tahu di mana cinta telah ditinggalkan. Lalu, taksi pun tiba. "Kau tahu," seorang yang lain seolah memecah kisah itu dalam dinginnya udara, "arah kita sama, bisakah aku turut serta?” katanya, lalu melangkahkan kaki ke dalam taksi. Seseorang, masih berdiri di dalam hening, diam-diam mengerling pada lampu jalan yang terbahak riang; siapa tahu lampu jalan tahu ke mana arah yang hendak dituju. next prompt: twilight/senja |
![]() |
|
| b e l s | 3 Nov 2011, 07:30 PM Post #135 |
|
Intermediate Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: twilight/senja. fandom: original. chara: no name. Waktu itu hari Minggu. Ini kebetulan. Duduk di bangku panjang biasa, menerawang langit-langit. Kalau dipikir, seharusnya hari ini tubuhku terbaring di atas ranjang sembari jemariku memainkan iPad baru pembelian ibu. Atau tidak, kalau lagi rajin-rajinnya, kuhadiri misa pagi dan menghabiskan waktu setengah hari di gereja. Tapi tidak, aku di sini. Di bangku panjang sekolah. Tempat penghabisan hari libur terburuk selama hidupku. Tanya kenapa aku ada di sini? Tidak tahu. Ya, aku di sini. Di sekolah yang sepi ini--kontras dengan kesehariannya yang ricuh dan berisik. Sepi. Di sini. Tidak ada siapa-siapa--paling cuma pedagang, dan kami berdua. Dan kami berdua. Dia menatapku, sekarang. Aku tahu. Aku tidak menatapnya balik. Kalau menatapnya balik, kami akan saling bertatapan, dan tolong jangan hancurkan momen diam terbaik sepanjang hidupku. "Yes. I can see the beautiful crepuscule here. Senja indah sekali, ya." Dan kusadari cepat atau lambat aku pasti akan menatapnya--dan saat itu adalah sekarang. Aku menatapnya, dengan telepon genggam di tangannya. Aku yakin seratus persen, suara seksi yang berbicara bahasa Inggris itu adalah suaranya. Dan kuyakin si penerima suara seksi itu adalah yang berkomunikasi dengannya di telepon tadi. Sayang sekali. "... Ya. Twilight. Crepuscule. What a beautiful sight," bisikku kecil. Keciiil sekali. Kemudian ia berdiri, berjalan. Melewatiku. Hendak pergi, pastinya. Mana mau terus duduk di sana pada hari Minggu. Tapi begitu ia berjalan sepuluh meter dari tempatnya tadi, entah aku salah lihat atau apa--atau bahkan salah dengar; ia menoleh ke belakang, tatapannya menembus tatapanku, dan mulutnya bergerak, dan suara seksinya terdengar. "Thanks for the best twilight I've ever seen." Ini kebetulan, aku percaya. HAHA APA INI Orz. next prompt: leader/pemimpin |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:34 AM Jul 11
|
AFFILIATES







![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)











7:34 AM Jul 11