

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only. | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (11,064 Views) | |
| Silent Afterglow | 30 Sep 2011, 02:43 PM Post #106 |
![]()
Class Zero
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
@^ Minyaaaaaaaaaaaaaaaak~ ![]() Prompt: Kalender/Calendar Fandom: Ori Character: Quartet 20s "26 Maret...26 Februari...26 Juni...21 Oktober..." Dea masih melihat jarinya saat menghitung tanggal-tanggal tersebut. Ketiga orang sahabatnya hanya melihatnya bingung. Gloria pun menepuk pundaknya, "Eh Dea, lu ngapain ngitungin tanggal ulang tahun gue, William ama si beke*?" Mendengar kata 'beke', Ivan segera menghitung sambil nafasnya naik turun. "3...2...1..." dan segera pundung di pojokan. Gloria dan William hanya tertawa terbahak sebelum kembali ke arah Amadea. "Nggak, Glo...Sekarang kan tanggal 30 September...Berarti ulang tahun si Ivan dong?" Si gadis dengan kacamata perak tercenung. "Hmm, iya sih...Tapi emang mau diapain si beke?" William masih mengobrol dengan teman-temannya saat si gadis surai hitam beranjak dan menepuk pundaknya. "Wil, si beke tanggal 21 mau diapain?" Bola matanya yang berwarna hitam berbinar. "Aha. Bentar yah gue ambil kalender, biar sama gue dilingkarin tanggalnya." Gloria hanya mengangguk, lalu menunggu William kembali dari tempat duduknya dan membawa sebuah spidol merah serta kalender meja. "Tanggal 21 ya? Bakal jadi hari sial buat si Ivan, hahahahaha." *: buat orang Sunda mungkin tau. Beke itu lebih dari pendek alias cebol. ...tauk ah, gaje =="" Next up: Kasur/Bed |
![]() |
|
| Ann-chAn | 30 Sep 2011, 04:42 PM Post #107 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Lol, minyaaaakkk~ ![]() Prompt: kasur/Bed Fandom: original Chara: Fransesca/Gamma "Fran!! Cepat bangun!" Gadis yang bergelung di tempat tidurnya itu menolak untuk membuka mata. Ia masih mengantuk, masih ingin melihat kelanjutan mimpi indahnya. Kesal karena tidak digubris, Gamma --pria yang tadi menyuruh Fran bangun--membuka paksa lembaran selimut yang menutupi tubuh gadis itu. "Mmm! Aku belum mau bangun!" "Tidak boleh, Fran! Kau ada janji dengan Tuan Frechordo hari ini, ingat?" "Mmm... nggak mauuu..." "Berhentilah bersikap seperti anak kecil...," desah Gamma. "Ayo--" ucapannya terpotong, karena saat ia menyentuh lengan Fran--berniat menariknya bangun--gadis itu malah menariknya ke tempat tidur. "F-Fran! Apa-apaan--!?" serunya panik. "Gammaaa, coba rasakan. Kasurnya empuk, nyaman kan? Kamu mengerti kenapa aku belum mau bangun, kan?" tanya Fran, setengah bermimpi. Gamma tidak bisa menolak--ya, kasur itu memang empuk, hangat, dan wanginya menyenangkan. Karena ada Fransesca di sana, menularkan keharuman itu hingga ke kasurnya. Gamma mendesah lagi, tapi tidak bergerak. Next: Cermin/Mirror |
![]() |
|
| kuroliv | 14 Oct 2011, 07:58 AM Post #108 |
![]()
★彡
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt : Cermin/Mirror Fandom : BA :"> Chara : G/J *plak* Gilbert Dieudonne menguap ketika bintik retinanya menangkap siluet katedral kuno yang tersohor di seluruh dunia. Hari ini entah hari ke berapa di musim dingin yang merupakan mimpi terburuknya, di mana setiap tahun selalu saja ada kilasan memori lama menguar tak tentu di pikirannya—membuat pemuda empatbelas tahun itu merasakan pening yang berkepanjangan; tidak tahu kapan berakhirnya. Ia lebih tak berselera lagi ketika dijumpainya sosok gadis yang satu tahun lebih tua dari Dieudonne muda ini, sedang memamerkan cengiran lebar karena liburan kali ini bertitelkan gratis; tak keluar uang sekeping pun darinya. Jangan dikira, yang keluar uang adalah dirinya sendiri—karena kalah taruhan Quidditch. Che. Gadis dengan surai pirang menyala itu membawa sebilah cermin portable di tangan kanannya, beserta sarung tangan yang selalu menyelimuti telapak tangan kapanpun dan dengan cara bagaimanapun. Yeah; buat apa Dieudonne peduli dengan apa yang dilakukan oleh Joscelyne Mussete? Semacam ia perhatian saja dengan gadis tersebut. Toh selama ini, tak ada seorang pun yang bisa menghancurkan rasa keras kepala di dinding Dieudonne. "Lama sekali? Kupikir kau tidak jadi datang." Mendengus kesal, lantas pemuda itu menjawab, "sudah beruntung aku datang, kalau tidak—kau berlibur sendiri." Sudah dibayari, kini masih mengeluh juga? Dasar perempuan. Maunya tepat waktu, padahal terkadang mereka juga terlambat karena lama berdandan. Cih. Sebuah timbal balik yang bagus darinya kan? Jadi Mussete bisa tahu apa yang ia rasakan apabila menungguinya terlambat. "Cermin? Buat apa kau membawanya?" Dia jadi merasa durhaka pada seniornya sendiri. Tapi... so-what-lah. Mau mengaku? Dia memang bad-boy kok. "Mmm—untuk melihat beberapa menit sekali, apakah rambutku kusut atau tidak," jeda sebentar, kini Dieudonne mulai menggeleng perlahan melihat sikap seniornya, "dan... apa aku cantik hari ini?" Kalau saja ada minuman yang sedang diminum olehnya untuk saat ini, pasti cairan tersebut akan menyembur dan mengenai wajah Mussete. Dia ini kenapa coba? Sudah terlalu strict pada kebersihan dan kerapian, kini narsis pula. Hening. "Tidak." Akhirnya, kata itu yang keluar dari mulut sang Dieudonne; dan hanya erangan pelan yang dilontarkan Mussete. Ah. Tidak ingat? Jika ada yang bertanya begitu, Dieudonne selalu mengucapkan jawaban yang berlawanan. "Kalau kau tidak cepat, liburan gratismu tidak jadi, nih." *sungkemin PMnya Josie* *plak* Next prompt: Doll/Boneka |
![]() |
|
| Magma Maiden | 14 Oct 2011, 09:55 PM Post #109 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Doll/Boneka Fandom: original Chara: Original, Duplicate ------------------------ Nafas. Beku. Menderu. Berkabut. Tatapan. Tuduh. Berpaling. Membisu. Getar. Gemetar. Penenangan. Penolakan. "Jangan sentuh... aku." "Cate--" "Kamu tidak memberitahuku sejak awal!" Membisu. Tatap. Tuduh. Tunduk. "Cate, maaf..." "Gin, jangan minta maaf." Amarah. Deguk. Tangis. "Aku tahu ini akan menyakitkan bagimu, Cate. Tapi..." "Tapi kita sama, Gin. Kita sama. Tidakkah kamu menyadari?" Membisu. Monolog. "Setiap aksi, setiap reaksi. Setiap kata, setiap perspektif. Beritahu aku, beritahu aku... siapakah yang asli, dan siapa yang peniru?" Geleng. "Aku tidak tahu, aku tidak tahu. Kita hanya sepasang boneka, yang bermain menurut jalinan benang cerita milik entitas berkuasa..." Peluk. Tatap. Senyum. "Gin, jangan pergi. Gunting saja benang-benang itu!" ------------------------- next: Cutter/Cutter |
![]() |
|
| sylviolin | 15 Oct 2011, 03:17 AM Post #110 |
|
good bye.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: cutter > yang ada pisau tajem tajemnya itu kan? ._.v fandom: original chara: no name-_- Sret. Satu garis tercipta. Sret. Satu lengkungan menemani garis tersebut. Sret. Menjadi dua lengkungan dan satu garis. Sret. Dua lengkungan, dua garis. Kamu memandang telapak tangan kirimu yang penuh darah—hasil dari siletan-siletan yang kamu ciptakan tadi. Dua lengkungan, dua garis—sebuah bentuk hati— —apakah dengan ini ia tahu bahwa kamu sungguh mencintainya? next: prompt: God/Tuhan .__.v |
![]() |
|
| Dani | 15 Oct 2011, 03:43 AM Post #111 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: God/Tuhan Fandom: Terbuang (?) Chara: Sebut saja namanya Ardy dan Dyta (...) "Mas, uangnya jatuh," kata Ardy sambil menepuk pundak orang di sebelahnya. "Hah? Saya?" tanya orang itu, Dyta, sambil menunjuk dirinya sendiri. Ardy mengernyitkan dahi dan menjawab, "Iya." Mendadak Dyta memukul Ardy menggunakan tasnya. "SAYA PEREMPUAN!" "Tapi..." "Tapi apa?" "Masa sih...?" Ardy memegang dada Dyta yang nampak rata karena tertutup jaket. Dyta pun melotot melihatnya. Dengan itu, seketika Ardy menarik kedua tangannya. Pemuda itu berbalik dan menutup mukanya menggunakan tangannya itu. Dyta, bukannya marah karena dadanya dipegang, tapi malah heran. "Um... Mas?" Samar-samar terdengar suara yang bergetar, "Y-ya Tuhan... Itu tadi... sangat empuk dan lembut... dada... aku memegangnya..." next Promt: I (huruf i) |
![]() |
|
| Mara Army | 19 Oct 2011, 10:50 PM Post #112 |
|
Infel yor.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: I Fandom: Ori. Chara: Kimihara kyoudai #plak maksud saya Kimihara kazoku. Cerita ini dimulai ketika umurnya baru menginjak delapan tahun, dengan adik yang masih sangat, sangat, sangat belia--mungkin malah belum bisa dibilang belia, mengingat botol dot dan popok masih menemaninya. Kala itu Megami tengah iseng, PR musim panasnya untuk membuat karangan belum selesai sama sekali. Tema karangannya kali ini agak aneh, biasanya anak kecil berpikir untuk menuliskan kartun yang ditonton atau pengalaman, tapi dia-- "Momo-chan!" Megami mendekati adiknya yang tengah tengkurap dengan indahnya di atas kasur, tak lupa sebuah buku besar yang ia dapat dari meja ibunya. "Coba jawab!" Dengan polos, Momo merangkak mendekati Megami dan melihat buku tersebut dengan semburat bahagia. "I...dua...I...tiga..." "Pintar! Kalau yang ini?" Proyeknya adalah: 'Menanyakan aljabar pada adik.' OKE FAIL. BINGUNG ABISNYA. Next Prompt: Biologi |
![]() |
|
| Magma Maiden | 20 Oct 2011, 05:50 AM Post #113 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Biologi/Biology Fandom: ori Chara: Nui, Dre ---------- "Apalagi yang kurang?" Nui menatap ke dalam tas kresek yang dibawanya. "Emm... Kayaknya sudah semua. Balik yuk ke kelas." Dre mengaduk-aduk isi tas, "belum, enak saja! Belum ada tulang sejajar. Dan lihat dua pohon itu," ia menunjuk dua pohon di ujung kebun. "Kita belum punya daunnya!" Alis Nui menghilang ke poninya. "Bercanda ya? Satu-satunya pohon berdaun sejajar di sini cuma pohon kelapa yang lebih tinggi dari gedung sekolah! Dan gila kamu kalau mau pakai daun dari pohon pinus atau cemara di sana; melukisnya gimanaaa???" "Melukis? Bukannya ini buat pelajaran biologi?" "Bukan, dodol! Kan sekarang pelajaran seni rupa! Kita disuruh mengumpulkan daun buat dilukis!" Dre melotot. -------------------- pengalaman pribadi... ![]() next: cotton bud/korek kuping XD |
![]() |
|
| Ann-chAn | 21 Oct 2011, 01:38 PM Post #114 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Cotton Bud/Korek kuping Fandom: ori Chara: ? Gadis berambut panjang itu melempar senyum masam kepada pemuda kurus yang duduk di hadapannya. Demi apa ayah dan ibunya menjodohkannya dengan orang macam ini? Orang yang tidak menyenangkan sama sekali--dalam segi fisik maupun sikap. Sejak kedua orangtua mereka meninggalkan kedua insan ini--untuk mengakrabkan diri, katanya--gadis itu tidak sekalipun merasa nyaman. 'Jodoh' macam apa pemuda itu? Senyum-senyum sendiri sejak tadi, sekedar menjawab "Ya" atau tertawa kecil tanpa peduli apa yang dikatakan olehnya. Masa cowok itu tertawa saat dia cerita tentang kematian kucingnya? Cukup sudah. Gadis itu merogoh sesuatu dari dalam tasnya, lalu berdiri dan melemparkan benda yang tadi ia ambil. "Kau boleh menemui aku lagi kalau telingamu sudah tidak tersumpal kotoran," ujarnya ketus, dan ia berlalu begitu saja. Pemuda itu terdiam, menatap benda di atas meja itu. Sekantong plasik cottton bud... Eaa, gaje sekali! ![]() Next: Surfing/Selancar |
![]() |
|
| hansel. | 21 Oct 2011, 09:26 PM Post #115 |
![]()
why-o.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: surfing/selancar Fandom: trio nista Chara: ez-stella Sebuah tarikan pelan di ujung kaus yang dikenakan dan gumaman lirih sebagai tanda memanggil yang malu-malu. Sang pemuda menoleh, mendapati gadisnya menatap dengan pandangan manis (yang membuatnya ingin sekali memeluk sang gadis dengan erat) sedikit memelas (yang menyimpan udang di balik batu). Pasti ada apa-apa. “Hng?” ia bertanya, satu alis terangkat tinggi. “Ada apa?” “Aku mau itu.” Ez mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk oleh gadisnya dan langsung menjawab singkat, “Nggak.” Pipi digembungkan besar-besar. Iris gelap sewarna arang kini menyorot kesal. “Jahat. Padahal Mino pasti mengizinkan.” Tsk. Ez dapat merasakan emosinya mulai naik. Di saat-saat berduaan dengan gadisnya yang begitu jarang ada, ia tak mengharap akan ada nama lelaki lain yang keluar dari bibir pink cerah tersebut—apalagi nama laki-laki itu. “Ya ya, sayangnya sekarang cowok itu lagi gak ada,” menyahut santai, memendam amarahnya dalam hati. “Lagipula aku yakin dia juga sependapat denganku.” “Hee—kenapa?” “Kamu kan nggak bisa berenang. Kalau surfing, bisa-bisa nanti tenggelam.” “Uuuuuh, kan.. Ez.. menjagaku. Nggak mungkin aku tenggelam.” ... “Kamu manis sekali.” Dekap erat. “T-tapi boleh main selancar kan?” “Sayangnya, tetap nggak.” k-kangen eeeeeez ;;~;; #dor next prompt: alone /sendiri. |
![]() |
|
| sonnet54 | 22 Oct 2011, 05:45 PM Post #116 |
|
Premium Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt : Alone/sendiri. Fandom : Ori Chara : Helen, Aaron. _____________________________ Aaron menatap aneh cewek yang duduk di sebelahnya. Tiba-tiba aja, pas dia lagi menikmati kesendiriannya, seorang cewek yang ia tahu adalah juniornya tiba-tiba mengambil kursi dan duduk di sebelahnya. Semenjak dia datang, cewek satu itu terus menatapnya dengan tatapan...Apa itu? Memuja? Peduli? Atau...Kasihan? Bah! Gak ada yang bisa mengasihani seorang Aaron. Jadi, dikarenakan oleh tingkat arogansi seorang artis baru, Aaron beranggapan bahwa 'tatapan memuja' adalah pendeskripsian yang tepat untuk tatapan cewek tersebut kepadanya. Merasa risih karena hanya ditatap tapi gak diajak bicara, Aaron pun mulai angkat bicara, "Eh, lo ngapain, sih? Dari tadi cuma natap gue terus. Kenapa? Suka, ya?" Cewek itu menaikkan alisnya, kemudian garis mulutnya yang tipis dan membentuk garis lurus pun ia tekukan hingga membentuk huruf 'U' terbalik. Dia menggeserkan kursinya, mendekatkan diri pada Aaron yang malah semakin dekat dia bergeser, cowok itu malah bergeser menjauh. "Apa, sih?!" Sahut Aaron kesal. Semakin kesal Aaron dibuatnya, cewek itu entah kenapa menjadi semakin penasaran. "Kak Aaron...Kok suka banget sendirian?" Tanya cewek itu. Aaron melihat bet nama yang terpampang di seragamnya sebentar lalu menatap kembali cewek tersebut. Helen, ya...Cih, dia dari kelas X-5. "Heh...Lo dateng-dateng terus natap gue selama 10 menit dan sekarang nanya kok gue suka sendirian? Apa gak aneh, tuh?" Aaron memicingkan matanya. Merasa tidak nyaman dengan keberadaan Helen di sebelahnya ketika melihat cewek itu menyeringai aneh. "Habisnya, kalo saya gak nanya, Kak Aaron gak bakal pernah tahu alasan kenapa dia suka banget sendirian. Padahal banyak orang yang mau berteman dengannya. Sayang banget, gak sih?" Aaron mengerutkan dahinya mendengar perkataan Helen kemudian tertawa kecil. "Meh...Jadi gue mesti jawab, ya? Fine...Gue suka sendirian, karena dalam kesendirian itulah gue gak perlu berhubungan dengan dunia munafik ini..." Lalu senyum Helen semakin melebar dan terdengarlah tawa keras di seantero perpustakaan. _____________________________ Maaf gaje... XD Next Prompt : Grudge/Dendam |
![]() |
|
| Ann-chAn | 22 Oct 2011, 07:06 PM Post #117 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Grudge/Dendam Fandom: err...? Chara: ....?? "Jadi? Semua karena dendam?" Perempuan muda yang memandang ke horizon itu mengangguk. "Apa lagi, coba? Kalau aku nggak dendam sama dia, aku nggak bakal berbuat sejauh itu." "Tapi, dendam soal apa sih? Bukannya kamu sudah maafin dia?" teman rambut pirangnya bersikeras meneruskan pembicaraan. Menghela napas, gadis pertama memandang temannya kesal. "Kamu pikir bisa semuda itu memaafkannya?" "Tidak, tapi..." "Sudahlah!" potongnya. "Aku terlalu mencintainya, sampai-sampai akal sehatku sudah nggak bisa bekerja. Dia udah membunuh perasaanku, dan sekarang giliranku membunuhnya. Mudah kan?" Ganti temannya yang menghela napas. "Dendam tidak akan membawa kebahagiaan..." Terlalu gaje. Ya, saya tahu. Dan kayaknya saya udah kebanyakan post di sini ==" Next: Blue/Biru |
![]() |
|
| Silent Afterglow | 23 Oct 2011, 06:31 AM Post #118 |
![]()
Class Zero
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Blue/Biru Fandom: Evidence of Truth Char: Alviss/Colleen Biru. Warna mata si pemuda. Sangat menawan. Biru air, dengan sentuhan warna biru tua di sisi-sisi irisnya. Siapapun yang melihat ke dalam matanya, pasti akan melihat ketenangan dan pengendalian diri yang sangat hebat. Ia tahu. Ia tahu. Warna mata itu bukan hanya dimiliki si pemuda, tapi juga dimiliki oleh adik-adik perempuannya. Tapi entah kenapa -- mata itu sangat menawan baginya. Apalagi saat si pemuda tersenyum. Kelembutan yang terpancar di matanya menghangatkan hati si gadis. Colleen, pewaris tahkta Ikarus Queendom itu pun berhasil ditaklukan oleh Alviss. Next Up: Heart/Hati |
![]() |
|
| Haruki_Irish! | 27 Oct 2011, 07:14 PM Post #119 |
|
abed abed abed
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Heart/Hati (...boleh gak saya artiin jantung aja? Hati kan liver secara medis, anyway #PLAK) Fandom: (?) canak sih, tapi....sudahlah Chara: Theodore Philander Charles; Edward Charles. Chrome by Loris Azzaro. Ujung hidung menyentuh jas hitam halus milik Edward Charles dan seketika itu juga aroma semerbak perfume yang digunakan pria kepala enam itu tercium. Tidak menusuk dan menyosor lantas membuat tangannya refleks menutup hidungnya dikarenakan kaget, lebih seperti senyap yang menyergap, natural namun instan. Aroma familiar itu membuat tubuh pemuda mungil ini merapat ke ayahnya, membiarkan wajahnya terbenam di blazer tersebut. Satu dari sedikit hal yang ayahnya masih expert alih-alih pikun mengerjakannya ialah selera. Jas Giorgio Armani, parfum Chrome keluaran 1996, jam tangan Rolex melingkari pergelangan tangan sang tua Charles. Sisa-sisa keglamoran masa lalu yang masih kerap menempel dalam diri Edward. Sisa-sisa lainnya adalah hal-hal yang tak terlalu menyenangkan: penyakit hati (hepatitis....atau apalah?), serangan jantung mendadak, paru-paru yang terkena flek, et cetera. Gaya hidup para ad man tahun enampuluh-an dengan resiko yang bermain petak umpet sampai nyaris di penghujung waktu. Salah satu alasan mereka berdua berada di kamar rumah sakit yang dominan putihnya adalah gaya hidup masa lampau Edward, menimbulkan serangan jantung ringan—ketiga-kalinya. Theodore tak melihat langsung kejadian itu. Sang ayah sedang berada di agensi Charles-Robert begitu serangan jantung menyergapnya dimana Darla takkan menjelaskan apa-apa untuk saat ini. Kembali menyerusuk ke jas sang ayah, membiarkan ia mencium aroma itu lagi. Menikmatinya. Sifatnya toh relaktatif, lumayan untuk menenangkan degup jantungnya yang berdegup tak konstan selama penungguan di ruang tunggu. Pikiran konyol bahwa 'ayah akan mati' sempat melintas, apalagi melihat umurnya yang tak lagi muda. Hanya sedikit memori—hal apapun—yang bisa ia asosiasikan dengan ayahnya. Piala Clio Award tahun 1961 yang terpajang di ruang kerja (ruang kerja...ruangan yang harus diganti namanya). Jam tangan Rolex yang melingkar di tangan sang pemuda. Yang paling kuat dan membangkitkan ingatannya adalah aroma parfum Chrome yang membawanya ke deja vu. "Dad—you make me worry." Anak laki-laki tidak boleh menangis. Anak laki-laki tidak boleh kehilangan kontrol. Jadi alih-alih memukul-mukuli tubuh ringkih sang ayah dengan kepalan tangan mungilnya ataupun menangis di setelan sang ayah, ia hanya berkata dalam nada terkontrol wajar, meminimalisir membanjiri sang ayah dengan berbagai perasaan yang meluap-luap di ruang tunggu. "It's not good, really—to...make me worry." Berbeda dengan Darla yang mungkin pernah menghabiskan waktu dengan ayahnya dalam masa muda dan masih bersemangat mengikuti perkembangan si kakak perempuannya, ia adalah anak terakhir. Anak yang tak pernah diharapkan. Ibu tak jelas, juga keadaan ayahnya yang boleh dibilang sudah kurang pantas mengurus anak. Ia tak terbiasa membagi momen-momen bersama ayahnya. Ada ingatan-ingatan blur, namun bukanlah sesuatu yang diceritakan di film-film. Happy time, family time. Hatinya tak sebegitu kuatnya terikat dengan hati sang ayah meski memang akan selalu ada ikatan orangtua-anak di sana—konon. Seperti saat ini. Saat ia terbenam dalam pelukan sang ayah, menimbulkan senyum di wajah milik Theodore. galau aish ._____. next prompt: persuasion/persuasi. |
![]() |
|
| sonnet54 | 28 Oct 2011, 02:28 PM Post #120 |
|
Premium Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt : Persuasion/Persuasi Fandom : Ori Chara : Rae, Vera _____________________________ "Kenapa, sih, lo? Galau banget..." Rae mengangkat kepalanya, dilihatnya Vera tengah berdiri di depannya sambil berkacak pinggang, menatap dirinya dengan tampang mau tahu. Rae tertawa kecil, cewek itu memang selalu mau tahu urusan orang. Terutama urusan dirinya. "Gak galau, kok, cuma bingung," Rae kembali menatap lantai. Vera mengangkat sebelah alisnya lalu memutuskan untuk duduk bersila di samping Rae. "Tumben lo bingung...Mang nape? Jangan-jangan lo masih bingung sama tugas bikin paragraf persuasi?" Tebak Vera asal. Rae menatapnya kaget, membuat Vera kembali mengangkat sebelah alisnya. Dan gak pake ba-bi-bu, Rae tiba-tiba mengambil buku latihan B.Indonesia-nya yang terbengkalai di lantai dengan posisi yang gak enak dan hampir dijilat anjing peliharaan tetangga sebelah. "Kok lo tahu sih kalo gue lagi bingung soal bikin paragraf persuasi?" Vera meng-gubrak dengan indahnya. "Ya, Allah...Masa lo gak bisa bikin paragraf persuasi? Gini nih, ya, paragraf persuasi tuh berisi himbauan, mempengaruhi pembacanya untuk berbuat sesuatu. Jadi misalnya, nih...Lo mau bikin paragraf tentang 'menjauhi narkoba', nah, lo tulis di paragraf itu himbauan buat para pembaca supaya gak terjerat narkoba. Gitu aja apa susahnya, sih?" Vera mengibaskan rambut panjangnya, setengah karena kesal, setengah karena narsis. Rae mengedipkan matanya dan kemudian mengambil pulpennya. "Kalo gitu, boleh gak gue tulis himbauan buat seorang Vera supaya milih cowok yang paling pas buat dia, yang siap menerima dia apa adanya, yang gak ngeliat kekayaan atau statusnya aja, yang siap melindungi dia walaupun harganya adalah hidupnya sendiri?" Tanya Rae dengan tampang serius. Vera sedikit kaget mendengarnya, tapi mengira bahwa Rae mungkin hanya ingin menggodanya saja, dia memutar bola matanya. "Oh, ya? Terus, lo menghimbau gue buat jadian sama siapa?" Sekian detik berlalu, Vera yang heran kenapa Rae belum menjawab pertanyaannya pun menoleh, mendapati Rae tengah menatapnya serius dan dalam. Tatapan yang adiktif, membuat Vera tak dapat melepaskan matanya dari Rae. "...Rae?" Rae tersenyum, "Tuh, lo baru aja nyebutin namanya..." _____________________________ Adoeh bo, gaje... >>Next prompt : Fascination/Pesona |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:34 AM Jul 11
|
AFFILIATES








![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)









7:34 AM Jul 11