

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only. | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (11,065 Views) | |
| Mara Army | 18 Sep 2011, 12:20 AM Post #91 |
|
Infel yor.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Chrome/Krom Fandom: Bebas? Char: Athena B.F dan Athen S.F Kadangkala, sang adik kembar heran melihat, mendengar atau bahkan mengucap ulang titah dari kakaknya. Ditangannya pasti sudah ada benda tajam dengan kemilau perak itu di tangan kakaknya dan tangan jenjang kakaknya itu mengulurkan benda tersebut tepat ke tangan kirinya, padahal, semua pisau sudah disita dari dekatnya oleh para penghuni rumah. Bukan hanya pisau, semua yang dapat menyayat walaupun hanya selembar kertas, semuanya diambil dari Athena. Ajaibnya, Athena selalu menemukan mainanbaru. "Ini," senyum sang kakak memudar. "Siksa aku, Athen." Athen melihat bayangan dirinya sendiri di benda tersebut, tidak, itu bukan pisau perak biasa. Perak, tidak, emas? Bukan, emas itu agak kuning...benda apakah yang melapisi benda tajam ini? Tunggu, sepertinya Athen ingat sesuatu... Ah...kromium, pisau itu berlapis kromium, ya, benda mahal. Athen tahu darimana pisau ini berasal. "Kakak, ini..." "Ya, itu milik ayah," Athena tertawa kecil. "Tidak apa-apa kan pisau ayah ternodai darahku sedikit?" "Apa kakak tidak dimarahi?" Err, gaje kah? Next Prompt: bebas/free |
![]() |
|
| Magma Maiden | 20 Sep 2011, 11:51 AM Post #92 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Bebas/Free Fandom: ori Chara: X , D ------------ "Pergi, katamu? Aku, pergi dari dunia ini?" X kaget mendengar reaksi D saat ia mengajaknya pergi. Perjalanan yang telah ia lalui demi menyelamatkan D menjadi sia-sia begitu wanita itu menolak ajakannya. "Mereka mengurungmu di sini, D. Memenjarakanmu. Tidakkah kamu ingin pergi keluar? Kembali ke rumah di mana kami semua menanti dirimu?" D mengerjap. Lalu tersenyum sinis. "Tidak X. Aku menghargai usahamu mencariku demi membawaku pulang, tapi... tidakkah kamu mengerti?" X tetap diam. "Aku bebas di sini, X. Aku bebas. Ini duniaku. Milikku. Ini rumahku sekarang." X tahu bahwa usaha brutal akan dibutuhkan kalau ia tetap ingin menyeret D pulang. --------- Next prompt: Sketch / Sketsa |
![]() |
|
| Ann-chAn | 20 Sep 2011, 05:32 PM Post #93 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Sketch/Sketsa Fandom: original Chara: Arina, Chandra ----------- Gadis dengan rambut kecoklatan itu tampak sibuk di meja belajarnya. Tangannya berulang kali menggoreskan pensil tajam ke atas kertas. Sesekali terhenti, mengetuk-ngetuk meja dengan frustasi, lalu dilanjutkan dengan meremas kertasnya sampai membentuk bulatan yang akhirnya menjadi penghuni tempat sampah. Kertas baru, menggores lagi, dan dibuang lagi. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya, Arina menghempaskan punggungnya di sandaran kursi sambil menghela napas keras. "Argh! Kenapa sih menggambar itu sulit sekali?" Bola mata Arina bergerak menuju kalender yang terpasang di atas meja belajarnya. Tinggal sebentar lagi... kurang dari seminggu, dan dia belum menghasilkan progress sama sekali. Tanpa sadar tangannya memilin-milin rambut panjangnya. 'Sulit sekali... padahal kalau main piano atau bernyanyi, aku bisa. Cih, aku buatkan lagu baru untuknya saja...' batinnya gelisah. Tapi tak sampai sedetik kemudian, dia menggelengkan kepalanya keras-keras. 'Tidak! Tidak! Itu terlalu biasa, sudah banyak lagu kukarang untuknya...' "Kamu nggambar apa sih, Rin?" Arina terlonjak, dan refleks menutupi kertasnya yang sudah terisi setengah. "N-nggak! Bukan apa-apa kok Kak..." Chandra mengernyitkan kening sedikit. "Kakak nggak boleh tahu?" "Nanti...," Arina tersenyum. "Kalau sudah waktunya, aku kasih liat ke Kakak." "Janji?" "Yup! Pasti." 'Tentu saja... karena sketsa wajahmu ini kubuat khusus untuk ulang tahunmu... Chandra...' lanjut Arina dalam hati. ------------ Euh, panjang? Next: Menunggu/Waiting |
![]() |
|
| Silent Afterglow | 20 Sep 2011, 07:47 PM Post #94 |
![]()
Class Zero
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Menunggu/Waiting Fandom: Evidence of Truth Character: Fortner Family Warning: Ada hint incest. Si gadis menenggelamkan kepalanya dalam pelukan sang kakak. Kristal hijau si pemuda meredup, sementara tangannya membelai surai kecokelatan adiknya. Merasakan air mata yang hangat merembes melalui pakaiannya, si pemuda tak bisa menahan air matanya. Bukan -- ini bukan soal gender. Toh ayahnya saja menitikkan air mata saat ibunya meninggal. "Kak, kau membiarkannya terlalu lama menunggu." Si pewaris pria nama Fortner ini segera menoleh, dan melihat dua orang adiknya -- Gwendolyn dan Esmeralda. "Kak Griselda..." bisik si gadis dengan rambut keriting - Esmeralda. "Kau memang setia. Jika aku jadi dirimu, belum tentu aku mau menunggu Kak Al pulang." Griselda hanya terdiam, sementara ia perlahan-lahan mengangkat kepalanya. "Esmeralda, kau tahu? Aku lelah menunggu." Kristal birunya lalu beradu pandang dengan kristal hijau si pemuda. "Kenapa kau lama sekali?" bisiknya pelan. "Kau tahu...Menunggu itu melelahkan." Next Up: Flash Disk |
![]() |
|
| suzu | 24 Sep 2011, 11:16 AM Post #95 |
![]()
ganteng
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Flash Disk Fandom: Original Chara: Vide, Ariel, Nadia Warning: Hint shonen-ai "Iya nggak, nih?" "Ogah! Nanti kenapa-kenapa..." "Ayolah, Vid. Sekali ini aja. Lagian emangnya kenapa sih, nggak bakal kenapa-kenapa, kok..." "Etdah Riel, sekali gue bilang nggak ya nggak kenapa, sih!" "Gue paksa lo!" "Tunggu Riel--gyaaaaa!" BRAK GUBRAK GABRUK "Apaan sih, kalian ini? Ribut banget, emangnya kalian lagi ngapa... in..." Kalimat Nadia terputus. Matanya yang terlindungi oleh lensa itu melebar, memperhatikan dua orang teman laki-lakinya yang kini tengah berada dalam posisi yang... membuat orang berpikir macam-macam. Ariel tengah memojokkan Vide, tangannya mencengkram tangan Vide yang berada di atas kepalanya. "...maaf, gue ngeganggu. Gue bakal segera keluar kok, silahkan lanjutin lagi," Nadia membungkuk kikuk, kemudian bersiap-siap ngacir untuk membiarkan kedua temannya yang diam-diam ia comblangkan untuk 'bersenang-senang'. Vide langsung melepaskan diri dari Ariel. "Eh--bentar! Bentar Nad, aduh ini nggak kayak yang lo pikirin kok!" Vide panik, mukanya merah padam. Ariel hanya bisa cengar-cengir. "...masa'? Tapi... posisi kalian... aduh kayaknya Pak Ziko bener deh." Pak Ziko bilang, waktu istirahat Ariel sama Vide selalu makan berdua dengan mesra. "NGGAK!" "Jelasin." Vide membuka telapak tangannya yang tergenggam, memperlihatkan sebuah flash disk mungil yang ternyata ia lindungi dari makhluk tanpa modal bernama Ariel. "Ariel mau minjem flash disk, tapi gue nggak mau soalnya gue takut flash disk gue jadi virusan, tapi nih orang maksa..." "Bah, itu mah lu doang yang kelewat penakut, laptop gue bersih kok." Nadia kecewa. Yah, kirain Pak Ziko bener. "Nih, pake flash disk gue aja." Ariel menerimanya dengan senang hati. "...tapi banyak 'data' berbahaya dalemnya, ati-ati jangan sampe nyasar di folder yang salah ya." Vide dan Ariel memucat seketika. apaan ini kepanjangan pula =_=" next prompt: skin/kulit |
![]() |
|
| Mara Army | 24 Sep 2011, 11:50 AM Post #96 |
|
Infel yor.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Skin/Kulit Fandom: Blood Tunes Chara: Arsenbach sisters Warning: a...agak shoujo-ai, incest pula Kurumi jelas heran terhadap gelagat kakaknya yang dari kemarin seperti menyembunyikan sesuatu, terutama, di sekitar bagian kerahnya. Kakaknya dan ia memang berbeda sekolah, jadi di sekolah sama sekali ia tidak bisa melacak kakaknya, ia homeschooling sih di rumah dengan tutor Nagihiko. "Mi~ku~ru!" ia dengan paksa menarik kerah baju Mikuru hari itu juga. Termakan penasaran adalah masalah utama yang ia hadapi. Dan gadis kecil itu langsung menyesali hal tersebut. Bekas merah, bukan hanya satu, tengah ada di kulit leher mulus kakaknya itu, seketika membuatnya kalut dan panas seketika. Mikuru yang kaget tak sempat berkutik untuk membela atau melempar adiknya itu ke tempat lain yang lebih aman. "Ku-Ku-Kurumi! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" tergagap, Mikuru menarik kerah bajunya yang masih tertahan Kurumi yang membatu. "Ne, neesan, kau--" air mata mulai menggenangi iris kelabunya, sang kakak merasa kalap sendiri. Sepertinya akan lama menjelaskan pada Kurumi kalau kulitnya tergores paku di ruang OSIS, bukan karena perilaku wakil ketua OSIS atau Mai. ...Oke, gaje. Next Prompt:Nyeri (atau mungkin sakit)/Pain |
![]() |
|
| Magma Maiden | 24 Sep 2011, 03:40 PM Post #97 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Nyeri/Sakit/Pain Fandom: ori Character: Xelryu -------- Sakit. Rasa sakit adalah sapaan pertama yang diterimanya ketika ia membuka mata dan mematikan weker yang sudah berdering selama lima menit itu. Xelryu hanya ingat ia sibuk mengerjakan paper semalam dan langsung terlelap karena kelelhan, tapi... Ia tidak bisa menjelaskan rasa sakit yang muncul ini. Bukan sakit fisik. Hatinya, hatinya yang sakit--entah mengapa. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan mimpi panjang barusan...? Di mimpi itu ia melakukan perjalanan yang sulit dan berbahaya, namun ketika orang itu sudah berada di hadapannya... ia malah terbangun. Xelryu mencengkeram dadanya. Sakit. Tampaknya rasa sakit itu akan terus menemaninya sepanjang sisa hari ini. ---------------- next: plester luka/bandage |
![]() |
|
| Hana Suzuran | 24 Sep 2011, 10:14 PM Post #98 |
|
Black Pearl
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Plester luka/bandage Fandom: Original Character: Karina -------- Ia mengusap telapak tangan kirinya dengan tangan yang satu lagi. Matanya menerawang jauh menembus cakrawala. Ia terdiam, berpikir. Apakah ia sudah melakukan hal yang salah? Perlahan, gadis itu, Karina, menghela napas pelan. "Apakah begini lebih baik?" gumamnya pelan. Ia memutar telapak tangannya supaya bisa melihat sesuatu yang menempel di sana. Sebuah plester dengan warna cerah menempel di sana, menutup luka gores tangannya. "Aku memang bodoh. Seharusnya aku tidak usah berharap banyak padanya. Seharusnya aku tidak pernah mendampratnya bersama kekasih barunya," ingatannya kembali memutar memori akan sosok lelaki yang begitu dicintainya dengan sepenuh hati. Tak terasa, bulir-bulir bening turun perlahan di pipinya. "Tapi, kenapa? Kenapa harus sesakit ini?" Barulah ia sadar bahwa plester itu hanya mengobati luka yang terlihat saja. Tapi luka di hatinya takkan bisa ditutup dengan plester apa pun. Luka itu akan tetap terbuka dan membekas di hati yang rapuh itu. -------- Kenapa jadi cerita gaje begini? Oke, next prompt: Pemburu/Hunter |
![]() |
|
| Ann-chAn | 25 Sep 2011, 11:55 AM Post #99 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Hunter/Pemburu Fandom: Original Chara: Vidia R. Soubrugh Seratus tahun aku menunggu. Dengan sabar? Tidak, kurasa tidak bisa disebut sabar. Karena aku sangat menanti datangnya hari ini--di mana aku bisa bertemu dengannya lagi. Setelah seratus tahun hidup dalam pencarian, seratus tahun hidup dalam pemburuan... Akhirnya aku menemukan mangsaku. Begitu lama aku memendam keinginan untuk membunuh jauh di dalam hati. Dan hari ini aku bisa mengakhiri perburuanku, dan mengeliminasi mangsa yang satu ini. Karena aku hidup sebagai pemburu. Err, aneh ah. Next: Mailbox/kotak surat |
![]() |
|
| Magma Maiden | 25 Sep 2011, 12:01 PM Post #100 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: pemburu/hunter Fandom: ori Character: Xolruel, 'Kaisar' ------------------ Ia adalah pemimpin seluruh Pemburu di Tanah Manusia. Naga yang paling ganas sekalipun akan tunduk di hadapan kakinya. Setiap kali ia berderap menyeberangi Padang-Padang Amatar, alam seolah sunyi--ikut melebur bersama derap sang tunggangan dan deru napasnya. Angin bahkan tak berani bergerak dari tempatnya menyaksikan ketika Xolruel merunduk di antara rerumputan, panah terpasang di busur dan mata terpancang pada seekor griffin. Tidak ada yang tidak bisa diburu olehnya--entah itu hewan, monster, artifak sampai wanita cantik... Tapi baru kali ini ia terlibat dalam perburuan yang begitu sulit; bukan karena buruannya itu adalah Kaisar Muda yang menguasai Empat Kerajaan; namun karena ia tidak sanggup harus menyeret adiknya sendiri kembali ke istana hanya untuk kembali memaksanya duduk di meja dan mendengarkan pelajaran Sejarah Tanpa Manusia dari guru yang ceramahnya bisa membuat naga paling ganas sekalipun tertidur pulas. Menghela napas pelan, Xolruel memerintahkan para pelayan mengecek setiap celah dan ceruk di istana. Kaisar Muda ini harus segera ditemkan kalau ia tidak ingin jadwal kencannya kacau. ------------------- next: PR/homework |
![]() |
|
| Hana Suzuran | 25 Sep 2011, 01:40 PM Post #101 |
|
Black Pearl
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: PR/Homework Fandom: Original Character: Adinda ------- Jari-jari lentik itu menekan tombol-tombol pada keyboard dengan cepat. Wajahnya terlihat menikmati apa pun yang sedang diketiknya. Ya, ia sedang asyik mengobrol dengan teman sekelasnya melalui suatu situs jejaring sosial. Beberapa saat kemudian, jemarinya berhenti mengentik. Ia menunggu balasan dari temannya sambil membuka situs lain. Lima belas menit kemudian, temannya membalas pesannya dengan: "Sori ya, Dinda! Lain kali kita lanjutin lagi :)" Dinda mengerutkan dahinya bingung. Tumben sekali. Temannya itu tak pernah berhenti mengobrol di tengah jalan dengannya seperti ini, kecuali...... Ia kembali mengetik sesuatu sebagai balasan. "Emangnya kenapa?" Lima menit kemudian, temannya kembali membalas: "Lha, kan ada PR dari Mr. Hari! Itu lho, translate halaman 35 sampai 40. Banyak banget, Din! Mana besok udah dikumpul lagi! Kamu udah ngerjain?" Saat itu juga ia melihat jam dinding di atas tempat tidurnya. Pukul 10 malam. Ia melengos. Sepertinya malam ini ia harus begadang, karena ia sama sekali belum mengerjakan PR dari guru killer-nya itu. Ah, sepertinya ia harus mulai mengurangi jatah bermain internet. --------- Next Prompt: Mermaid/Putri Duyung Edited by Hana Suzuran, 25 Sep 2011, 01:41 PM.
|
![]() |
|
| Magma Maiden | 26 Sep 2011, 05:51 PM Post #102 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Mermaid/putri duyung Fandom: ori Chara: The mermaid herself ------------------------------------------------------------------------------------------ Ah, bulan di atas air memang indah. Bulat keemasan, pantulannya beriak-riak mengikuti sapuan gelombang laut. Sedikit demi sedikit, ia akan mendaki langit, kemudian bertahta di puncaknya; menatap dunia bak mata yang tak pernah berkedip. Ah, ingin sekali jemari ini menjangkaunya. Jemari yang hanya tahu asinnya lautan dan tekanan di kedalaman yang tak tertembus cahaya. Jemari dengan selaput di sela-selanya, hanya tahu dingin kerasnya sisik ikan dan belaian rumput laut. Jemari yang berpendar temaram di bawah lentera. Ah, lentera. Kristalisasi cahaya bintang yang berayun-ayun pelan dalam kotak kaca. Puluhan jumlahnya, memandu makhluk darat di perahu menemukan tujuannya. Dari tempatnya mengamati, lentera-lentera itu tampak seperti cerminan langit; bak bintang di tengah laut. Bergerombol, berkelompok, berhati-hati agar tak satupun lentera terpisah dari konstelasinya. Ah, lentera yang mengapung sendirian. Perahu yang terpisah dari konstelasinya. Makhluk berkaki di atasnya pasti tertidur... Diiringi suara kecipak pelan, sosok berekor ikan itu lenyap dari balik batu tempatnya mengintai perahu-perahu berlentera. Waktunya makan malam. --------------------------------------------------------------------------------------------- next: ulang tahun/birthday |
![]() |
|
| Ann-chAn | 26 Sep 2011, 06:23 PM Post #103 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Happy birthday/ulang tahun Fandom: original Chara: Vidia/Frechordo "Kau ingat ulang tahunmu?" Kaget karena tiba-tiba ditanya begitu, wanita dengan surai perak itu hanya bisa mengucapkan sepatah kata yang sangat tidak elit, "Ha?" "Kau ingat kapan ulang tahunmu?" ulang Frechordo sabar. Vidia tidak langsung menjawab. Tampaknya ia masih menimbang-nimbang untuk menjawab atau tidak. "...aku masih ingat kapan aku lahir, tentu saja. Tapi untuk menyebutnya ulang tahun... kurasa sudah tidak cocok." "Kenapa?" "Karena aku sama sekali tidak beranjak dari 'waktu ini'." "Ingin merasakan ulang tahun lagi?" "Apa maksudmu?" "Ulang tahun bukan hanya soal memperingati hari lahir... tapi juga pesta! Ayolah, kau butuh hiburan." Vidia menghela napas, tapi matanya menyiratkan kegembiraan. "Terserah padamu saja, Ferc..." Tambah gaje ![]() Next: Orange/Jeruk |
![]() |
|
| Silent Afterglow | 27 Sep 2011, 05:40 PM Post #104 |
![]()
Class Zero
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Orange/Jeruk Fandom: ...ori? Character: Quartet 20s (Gloria, Ivan, Amadea, William) "EH WOI, BALIKIN DOMPET GUE!" Ivan hanya cengar cengir ketika ia mendapatkan dompet putih milik si gadis bersurai hitam, lalu bola matanya yang bulat badam berbinar nakal. "Gue pinjem dompet lu yah!" Dan ia segera berlari, meninggalkan Gloria, Dea dan William yang shock. Ketiganya masih agak linglung ketika si gadis yang mengenakan kacamata silver itu berdiri. "Woi, bantuin gue ngejer si Ivan! Itu di dalemnya ada duit!" "...Duit buat apa, Glo?" tanya William bingung, sementara di tangannya ada semangkuk spagetti. "Duit buat apa? Buat jajanlah!" sahut si gadis cepat, lalu menyambar lengan temannya yang mengenakan kacamata kuning. "Ayo Dea, buru temenin gue ngejer si Ivan!" "Lah Glo, lu ribut amat sih, emang itu duit buat apa sih? Kok kayaknya penting bener?" tanya Dea, sementara ia tergopoh-gopoh mengikuti langkah panjang si kacamata silver. Gloria menoleh, horor di wajahnya. "Buat beli jeruk!" ...oke. gaje =="" Next Up: Minyak/Oil |
![]() |
|
| Ann-chAn | 30 Sep 2011, 04:52 AM Post #105 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Minyak/Oil Fandom: RPF Acacia of the World Chara: ....saya pinjem Trif ya. Dan Ann. "Ann-chaaan~" Suara happy-go-lucky yang memekakkan telinga, membuat semua orang menoleh. Termasuk gadis dengan rambut hitam panjang yang merasa namanya dipanggil. "Trif! Tumben sekali kita bertemu di luar cafe. Habis belanja?" sapa Ann, melirik tas belanjaan yang dibawa Trifoi. "Iya. Yang namanya logistik di cafe kan, harus diisi ulang juga. Lumayan, bisa jalan-jalan." Ann mengangguk-angguk. "Sepertinya berat. Sini kubantu," ujarnya sambil mengambil salah satu tas belanjaan Trif. Dan... memang sangat berat, pemirsa! "T-Trif... Ini isinya apa saja? Kok... berat... sekali...??" "Oh, itu? Isinya.... MINYAK." Ann jawdrop. "Minyak? Sebanyak ini?" "Iya, minyak~" jawab Trif, masih dengan aura happy-go-lucky, dan mulai berjalan meninggalkan Ann yang masih facepalmed. Hubungan yang aneh, mereka berdua itu ;-/ ![]() Next: Kalender/Calender |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:34 AM Jul 11
|
AFFILIATES







![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)









7:34 AM Jul 11