

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only. | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (11,068 Views) | |
| Arine | 7 May 2011, 04:46 AM Post #46 |
|
SoruIta love~
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Terlambat/Late Fandom: entahlah Chara: Tebak Ini terlalu larut. Malam sudah terlalu larut dan mungkin toko yang buka pun hanya sedikit, tapi, jika Muri berkeras... "Pergi. Belikan. Nggak mau tau." Mampukah Kei melawan? Yah, walau awalnya Kei juga yang salah. Seharusnya, lelaki ini sudah tahu kebiasaan Muri yang suka ngemil berat ditengah malam, tapi tetap saja mengambil snack-snack dan mi goreng terakhir mereka dari dalam laci makanan dapur. Bodoh? Yap, Kei bodoh. Karena menghadapi Muri yang kehilangan waktu ngemil malam terjadwalnya hampir sama seperti menghadapi raja setan Ryouou dari level 108. Petaka. Mau tidak mau, Kei harus jalan. Jalan keliling kompleks dan mencari toko makanan mana yang buka. Membeli makanan ringan yang mungkin Muri suka (kerupuk, chips, kacang... Kei mengingat-ingat) serta satu dus mi instan. Yah, sekedar jaga-jaga jika saja hal macam ini terjadi lagi. Namun, dunia (atau mungkin waktu) sama sekali tak berpihak padanya. Ketika Kei datang ke salah satu toko langganannya, toko itu tutup. Toko langganan alternatif, tutup. Toko yang kebetulan ia lihat, tutup juga. Sungguh tengah malam memang menjadi saat yang paling menyakitkan untuk mencari makanan. Sedikit putus asa, Kei berusaha mencari toko yang kira-kira buka 24 jam. Walau hal itu agak susah karena seingatnya disekitar kompleks ini jarang sekali ada toko yang buka 24 jam. Paling banter ya 20 jam. ...20 jam jadilah, pikirnya. Sehingga Kei kembali bertaruh pada keberuntungan untuk jalan lagi ke satu toko terakhir yang mungkin masih buka pada jam segini. Mungkin. Dan, oh, betapa indahnya dunia ketika melihat toko itu masih menyala dan terang lampunya. Cukup membuat Kei berharap kalau toko itu masih buka. Hingga ia mendekat dan memeriksa lebih lanjut karena faktor mata minus dan betapa malasnya ia memakai kacamata saat itu. Lalu... Tiba-tiba ada seseorang (karyawan toko, mungkin?) membalik tanda 'buka' menjadi tanda 'tutup' tepat disaat Kei mendekat dan hanya berjarak 1-2 meter dari pintu toko. Reaksi yang Kei tunjukkan sangat dramatis setelahnya, membeku dengan gaya orang yang dikhianati perasaannya, dengan tangan yang masih terangkat diudara, meniru cakar harimau. Terlambat? "Mana?" "..." "Kei, kalau kau tidak..." "Aku beli nasi goreng, lho. Ini saja jadi, ya?" HAH, GaJe... =.= Raja setannya tuh cuma ngarang, okeh? Next: Monokrom/Monochrome |
![]() |
|
| Sanctuary | 7 May 2011, 09:32 AM Post #47 |
|
sleaze //
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Sumbang post yaa. Prompt: Monokrom/Monochrome. Fandom: Ada deh. Chara: Mau tauuu aja. Titik-titik air berhamburan keras ke ukiran kaca bening disampingnya, membuyarkan pandangan diluar. Warna rumput yang semula begitu hijau dan langit yang secerah warna-warna yang ia pakai di kanvasnya, sedikit demi sedikit menjadi abu-abu dan menghilang dalam derasnya hujan. Ia menyadarinya. Ia buta warna. Kemampuannya untuk membedakan merah dan biru menghilang seiring dengan hujan pada hari itu. Ia menunduk, menyandarkan punggungnya yang rapuh ke dinding di belakang seraya perlahan-lahan menyeret seluruh tubuhnya kebawah, dan meringkuk tak berdaya. Semua warna yang membuyar itu, membuatnya begitu takut untuk melihat sekeliling. "Lihatlah sisi baiknya," sebuah suara memecah keheningan yang ia dalami. Ia mengangkat kepalanya sambil bergetar, memandang wajah tanpa warna didepannya yang sedang mengulurkan tangannya. "Kau bisa membuat sebuah lukisan dengan chrome warna yang sama. Hitam dan putih. Monokrom yang indah." Monokrom.. begitukah? Ia menggerakkan matanya ke kanan, kearah lukisan yang belum sempat ia selesaikan. Ia benar. Meskipun semuanya hitam putih seperti foto zaman dulu. Ia menyadari meskipun ia tidak bisa lagi melihat warna pelangi yang indah setelah hujan reda, ia masih bisa menemukan keindahan lain di dimensi baru tanpa warna ini, asalkan ia bersedia mengubah caranya melihat dunia. "Monokrom, ya..?" Ancurr currrr. Maaf kalau kebanyakan >< Next prompt: Asrama/Dormitory. |
![]() |
|
| kuroliv | 7 May 2011, 11:30 AM Post #48 |
![]()
★彡
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: Asrama/Dormitory fandom: ryokubita chara: himeka kinoshita Sakura. Kiku. Bara. Tiga asrama, satu sekolah. Di antara tiga asrama itu, kau mau memilih yang mana? Terus menerus terngiang di dalam pikiran Meka. Dia tak pernah menilik pada dirinya sendiri, dimana tempatnya nanti bernaung. Dirinya juga tak pernah melihat apa saja bakat, kekurangan, serta kelebihan yang ia miliki. Ia hanya melihat satu saja: dirinya sendiri. Benar, Meka hanya melihat dirinya sendiri di balik bola sihir itu, yang memantulkan kerutan-kerutan bocah 13 tahun yang polos dan sama sekali tak memiliki beban. Hidupnya selama ini bahagia saja, tidak seperti kebanyakan anak 13 tahun yang telah mengalami berbagai petualangan maupun pengalaman hidup pahit. Pernah ia berjumpa dengan seorang anak yang telah kehilangan Tousan, atau anak yang mengalami broken-home, atau mungkin anak yang telah dipekerjakan oleh kedua orangtuanya. Semuanya mungkin masuk akal bila ada anak yang mengalami hal itu. Tapi, yea, apakah anak umur 13 tahun sudah mengerti jalan hidup yang pahit itu? Apakah orangtua mereka tidak punya logika sehingga membiarkan anaknya menderita? Ironis memang. Memejamkan mata, berusaha menyentuh bola sihir di hadapannya yang terlihat masih bening dan belum ternoda oleh hitam atau warna-warna lainnya. Ia tidak mengerti dirinya sendiri, bagaimana ia menjalani kehidupannya, dan sebagainya. Ia tidak mengerti arti kehidupan selama ini. Dan... dingin. "Sakura..." Seseorang menyahut, jauh di lubuk hatinya. "Kiku..." Seorang lainnya menyahut. "Tidak mungkin Bara..." Iya, kini hatinya sendiri yang mengatakannya. Ia tidak mungkin masuk ke asrama Bara itu. Lalu apa? Antara Kiku dan Sakura. Merah muda mulai berpendar di bola sihir itu. Membuka matanya, Meka melihat warna merah muda menjadi dominasi di bola sihir. Sakura. Meka memilih asrama itu, untuk orang-orang yang tenang dan menghanyutkan. demi apa ini gagal ._____. ah enggak tau *kabur* Next Prompt: Aorta. (tahu kan? Aorta pembuluh darah berdiameter paling besar itu. bahasa indonesia dan bahasa inggris-nya sama saja.) |
![]() |
|
| Dani | 7 May 2011, 06:29 PM Post #49 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Aorta Fandom: ... Chara: Vin "Aro... Ari... Air... Ara... Ero... Erota," Vin memegangi kepalanya yang cenat-cenut akibat belajar biologi untuk entrance exam universitas. Di ruangan itu ada Mary dan Emily yang sedang menonton TV, serta Stella dan Reon yang bermain monopoli. Serentak keempat orang itu menoleh ke arah Vin saat kata "Ero" terucap dari mulutnya. "Aorta!" sahut Mary dan Emily. "Oh, oke, oke!" Vin mengangguk. Empat orang itu kembali ke kegiatan masing-masing. Kemudian Vin melanjutkan. "Superior vena cava, inferior vena cava, aro... Eor... Ero..." Mereka menoleh lagi, sensitif terhadap kata "Ero". "Aorta!" sahut Reon dan Stella. "Tch. Iya! Iya! Aku tahu! Aku tidak bodoh!" Vin kesal. Empat orang itu kembali ke kegiatan masing-masing. Vin melanjutkan, "Ulang... Vena cava... Ero..." "AORTA!" teriak mereka berempat keki. Vin memelototi mereka, kemudian pergi keluar rumah sambil berteriak, "AORTA, AORTA, AORTA, ERO-- A... E-ERO... AAAAAHHH" Next Prompt: Magazine/Majalah |
![]() |
|
| Sanctuary | 7 May 2011, 10:14 PM Post #50 |
|
sleaze //
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Magazine/Majalah. Fandom: ~ Chara: Hurr ada deh. "I need a refreshing." That huge black man close to a Negro being wags his hand as he yawns. The television isn't coming up with any better news to him other than the similarity between Obama and Osama's name, and neither does his little brother. "No, please. Not Math," He pouted in horror. "I'm stacked with my own absurdity for today." "Aw, Walter!" His brother pouted even louder. Three hours of helping him solving the quizzes certainly made him feel like a fool because he couldn't even figure out a single way to use the formulas accordingly, resulting in heavy feel of regret of not participating in classes while he was in elementary. He bombed the couch with his butt and sighed in chagrin. His hands rummaging through the cupboard beneath the television, searching for magazines or something he can use to fly his mind away from the mess he just made. "Ah," he flutters his short lashes upon finding a thick, ostentatious covered magazine. "It's the December issue of American Demographics. Why haven't I read this before?" "Walter..!" Daniel lent out another pout, seemed hopeless with his Math homework, but his responsible big brother didn't even give a cent. "Where's the rest? ..must be upstairs. I think Selena holds the newest issue too. Better look up for it and jet me up," Says Walter happy as he skips upstairs. Sometimes, he just fancy magazines that much. Edit: Ah iya, makasih Sanich-san udah ingetin ;D Saya ganti karakternya deh, kebetulan ada dari orific saya yg cocok /gapapa kan ya? o.o /plak Next Prompt: Sereal/Cereal. Edited by Sanctuary, 8 May 2011, 10:56 AM.
|
![]() |
|
| Arine | 8 May 2011, 06:46 AM Post #51 |
|
SoruIta love~
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Erota jadi ingat erotis... Prompt: Sereal/Cereal Fandom:___ Chara:.... Clara kebingungan. "Ini... Itu..." Memilih itu memang berat. "Hei, Rick." menyenggol pundak. "Kau pikir, yang mana yang lebih enak? Ini atau yang ini?" menunjukkan dua barang yang dipermasalahkan. Rick hanya mengangkat bahu. "Dirumah, hanya kau yang makan yang macam beginian. Rika, Mario dan aku sama sekali tidak, jadi ya terserah kau." "Tapi, aku kebingungan, nih..." "Kalau begitu, beli saja keduanya." Clara cemberut. "Kalau beli keduanya, bisa sampai berapa lama baru habis?" "Seminggu. Kau kan rakus." Menyikut. Keras, hingga Rick meringis kesakitan. "Rasakan. Dasar tukang ngejek orang." Masih meringis. "...Dasar barbar." Sebelum kaki itu mulai melayang, Rick langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Jadi, beli nggak sih? Kita kelamaan di swalayan cuma gara-gara kau saja, tahu." Kembali berpikir, "Mungkin bagus juga kalau kubeli keduanya, ya." "Dari tadi, kek." Dengan berakhirnya pembicaraan itu, dua kotak sereal super besar, bahkan lebih besar dari kotak-kota sereal biasanya, langsung Clara masukkan kedalam keranjang belanjaan. Yang sebenarnya sudah penuh dengan barang-barang lain.(dan kebanyakan dari barang-barang tersebut adalah bahan makanan) ...Tampaknya bukan hanya Clara saja yang punya perut gentong dirumah. Singkat euy... Next: Hilang/Disappear Edited by Arine, 8 May 2011, 06:47 AM.
|
![]() |
|
| Dani | 8 May 2011, 07:22 AM Post #52 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
XD Prompt: Hilang/Disappear Fandom: ... Chara: Alex & Hazel "Nya~ nya~ nya~" Hazel bersenandung, melihat Alex yang sedang duduk dan berpikir. "Diam," perintah Alex. "Kenapa, meow? Kau kan sayang padaku, kenapa dingin?" Hazel mengedipkan matanya sambil menyeringai. "Kau bukan Reon," jawab Alex kesal. "Reon kan sudah menghilang, nya~ Sekarang hanya ada aku," goda Hazel. "Kau bukan dia!" "Aku punya tubuhnya~" "Aku mau Reon!" "Tapi aku mirip dia, kan? Yeah, minus telinga dan ekor kucing yang merepotkan itu~" "Kembalikan dia!" Alex geram, dia mencengkeram kerah baju Hazel. Hazel tersenyum. "Kupikir kau cuma suka penampakannya. Atau jangan-jangan kau punya fetish terhadap telinga dan ekor kuc--" BUAGH! Alex memukulnya tepat di wajah. "Nya! Kakak memukulku~" kata Hazel sambil memajukan bibirnya. "Kembalikan adikku..." ucap Alex, samar-samar terdengar. "Sudah kubilang tidak ada~ Dia menghilang~ Digantikan olehku!" kalimat itu terdengar ceria. Hazel mengusap pipinya yang baru saja ditinju. Alex terduduk di sofa dan menundukkan kepala. "Kenapa?" "Nya? Kau lupa ingatan atau apa? Kau sendiri yang membunuhnya~!" Alex langsung menoleh dan menatapnya dengan terkejut. Next Prompt: Clock/Jam |
![]() |
|
| Arine | 8 May 2011, 09:09 AM Post #53 |
|
SoruIta love~
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
XDDDDDDDDD prompt: Jam/Clock Fandom: au Chara: aw aw aw aww Tik. Tok. Tik. Tok. Reina menunggu. Tik. Tok. Tik. Tok. Melihat jam didepannya sejenak sebelum kembali menundukkan kepala. Tik. Tok. Tik. Tok. Mulai bosan. "Kau masih disini, Rei?" Tiba-tiba, dari belakang seseorang menyentuh Reina, membuat gadis berambut ikal panjang itu menoleh. "Kaylan." "Belum berangkat juga?" "Eh, kan belum waktunya..." "Apa maksudmu?" Kaylan mengerutkan dahi, menyiratkan kebingungannya dengan jelas. Menulari Reina yang menjadi sama bingungnya karena reaksi Kaylan itu. "Belum waktunya? Ini sudah lewat 1 jam, lho. Bisa habis duluan filmnya kalau kau terus-terusan bengong disini." Kali ini, kebingungan Reina bertambah. "Eh, tapi... tapi... Jamnya..." "Jam apaan? Oh, jam itu?" melihat kearah tunjukan Reina. "Jam itu sudah lama mati, Rei. Sekarang itu cuma jadi hiasan saja disini." Hah? Reina tak mampu menahan raut wajahnya yang berubah drastis. Mengkerut habis-habisan. "Lalu, suara detik jarum jam yang kudengar tadi apa?" Akh, abalabal... Next: Milikku/Mine |
![]() |
|
| Sanich Iyonni | 8 May 2011, 10:05 AM Post #54 |
![]()
|
@Sanctuary-san: Yang Anda tulis itu fanfic bukan? Thread ini buat drabble orific ^_^;; *** Prompt: Milikku/Mine Fandom: whatever Chara: Gue heran sama cewek gue. Dia kok sibuk banget sih tiap harinya? OSIS lah, ekskul lah, les lah, ini-itu. Susah banget ketemu sama dia tiap harinya, padahal kelas gue sama dia kan cuma longkap satu. Yang paling menyita waktu cewek gue itu OSIS, berhubung cewek gue itu wakil ketua OSIS. Tapi meskipun jabatannya "wakil", dia seolah jadi ketuanya beneran, secara ketua OSIS yang benerannya males-malesan gitu. Gue nggak habis pikir, bisa-bisanya ketua OSIS kayak gitu menang pemilu OSIS kemaren. Menang tampang doang kayaknya. Anyway, balik ke masalah cewek gue. Hari ini gue lagi-lagi kalah sama OSIS. Tadi gue SMS dia, "Babe, nanti pulang sekolah kita makan di kantin bareng yuk?" Tuh liat, gue udah baik banget nggak ngajak dia ke mana-mana--cuma ke kantin doang, berhubung gue tahu banget betapa sibuknya cewek gue. Tapi apa coba balesan cewek gue? "Aduh sori Ton, nanti aku harus rapat pensi. Kamu tahu kan, pensi tinggal bentar lagi? Maaf ya Ton, nanti kalo udah selesai pensi kita jalan-jalan deh." Gue garuk-garuk kepala. Bingung. Sebenernya dia milik gue atau milik OSIS, sih? Sejak saat itu, gue bertekad akan mendirikan ekskul terselubung bernama OSIS Haters. Next: Sempurna/Perfect |
![]() |
|
| Dani | 8 May 2011, 10:42 AM Post #55 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Sempurna/Perfect Fandom: ... di FP judulnya Nemesis /blah Chara: Reon & Hazel "Kakak itu sempurna..." ucap Reon, menyandarkan kepalanya di bahu Hazel, kedua tangannya melingkar di kakinya yang ditekuk. "Banyak orang yang menyukainya. Sedangkan aku..." Reon tidak tahu harus menyebut dirinya apa, sampah? Rongsokan? Memikirkan hal itu membuat ekornya bergerak-gerak dengan tidak tenang. Hazel menggigit apel merah di tangannya dan mengunyah, tidak ada yang ingin dia ucapkan mengenai dua bersaudara itu. Reon pun melingkarkan tangannya di lengan tangan Hazel. Jika dilihat secara dekat, mereka terlihat bagaikan saudara kembar, namun Hazel tak punya telinga dan ekor kucing seperti Reon. "Aku... mau tukar posisi denganmu saja," kata Reon. Hal ini membuat Hazel menatapnya dengan aneh, "Serius?" tanyanya. Baru ketika mereka berbicara, terdengar perbedaan di suara mereka. Reon mengangguk. Hazel menyeringai. "Akhirnya~~" Hazel memakan apelnya lagi. Kemudian dia berkata, "Tapi, maaf, aku menolak untuk mengatakan kakakmu sempurna, dia itu cacat mental." Mendengar itu Reon hanya mengedipkan matanya heran. "Di mata orang lain, dia sempurna. Tapi sebenarnya dia sadar kalau dia sendiri cacat," ucap Hazel, menekankan kata 'cacat'. Telinga Reon turun mendengar itu, dia tidak bisa berkata tidak, namun terlalu takut berkata iya. Dia memilih untuk diam saja. "Oh ya, kau bilang tukar posisi, kan? Jangan bingung ya kalau suatu hari kau ada di sini sendirian," kata Hazel sambil menyeringai. Reon terdiam. Di sini? "Dan, ada satu lagi, yang membuat kakakmu terlihat sempurna itu bukan dirinya, bukan orang lain, tapi dirimu." Dua detik kemudian, dia terbangun dari mimpinya, dan melihat wajah Alex di hadapannya tersenyum lembut. "Pagi," ucap Alex. "..." Reon hanya diam, kemudian dia bangkit dan langsung memeluk kakaknya. Alex heran, namun dia langsung balik memeluk adiknya. Next Prompt: Best/Terbaik |
![]() |
|
| Arine | 8 May 2011, 08:23 PM Post #56 |
|
SoruIta love~
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Terbaik/Best Fandom: Ori- Chara: Ori- Ia selalu tahu ia yang terbaik. Ia hebat. Ia cantik. Dan lebih lagi, dia pintar. Semua orang mengaguminya. Semua orang memujanya. Semua orang tunduk dibawah kakinya. Ia bisa meminta apapun pada mereka, walau permintaan tersebut adalah permintaan yang mustahil untuk dikabulkan. Karena dia yang terbaik. Ya. Tapi, karena itulah ia bosan. Kemampuannya, kepintarannya, kecantikannya, itu semua bukan karena ia berusaha mendapatkannya. Itu seperti kehendak Tuhan. Semua dari Tuhan. Bukannya ia tidak mau mensyukuri hal tersebut. Ia bersyukur, sangat malah. ia hanya tidak suka dengan orang-orang sekitar yang memperlakukannya seperti idola, itu saja. Asal mereka memperlakukannya secara biasa, maka itu sudah cukup. "Kau tidak ada apa-apanya." Kalimat menantang dari lelaki berambut cepak itu seperti angin sepoi. "Aku akan mengalahkanmu." Hari itu, untuk pertama kalinya ia tersenyum begitu lembut. Bleh... Next: Merah/Red Edited by Arine, 8 May 2011, 08:26 PM.
|
![]() |
|
| Dani | 8 May 2011, 09:36 PM Post #57 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: Merah/Red Fandom: ... Chara: Vin/Reon "Kenapa warna matamu merah?" tanya Vin. Reon menggeleng. "Tidak tahu," ucapnya. "Kau ini aneh, ya?" tambah Vin. "Hm..." Reon menunduk. "Emily jadi suka padamu karena warna matamu. Dia suka warna merah," kata Vin. Reon hanya tersenyum. "Kupikir itu lensa kontak." "Bu-bukan..." jawab Reon. Dia kembali terdiam. Mau bilang apa dia? Warna mata itu bukan miliknya, dan tidak akan ada orang yang percaya hal itu. Next: Colorful/Penuh warna Edited by Dani, 8 May 2011, 09:40 PM.
|
![]() |
|
| Matsura Akimoto | 9 May 2011, 08:08 PM Post #58 |
|
h i a t u s
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: colorful/penuh warna fandom: original character: wanda. himawan. warning: shonen-ai. .//. "Pelangi itu—" "Memang ada apa dengan pelangi di atas sana?" Wanda menggelengkan kepalanya, menatap Himawan, dan memberinya senyuman. "Ahaha, tidak ada apa-apa, kok—hanya saja, momen ini tepat." Himawan tidak mengerti. Ia hanya bisa melongo pada Wanda yang tubuhnya lebih tinggi darinya—ia hanya bisa mencapai pundaknya, kalau tidak salah. "Momen? Tepat? Ahh, berhentilah menjungkirkan otakku! Kata-katamu selalu berbelit-belit." Himawan menggembungkan pipinya, lalu menatap langit. —di sana sangat colorful; indahindahindah. Himawan teringat sesuatu. Dari atas padang rumput—dan dari bawah pelangi—ini, ia langsung saja menggenggam tangan Wanda. "H—hei, apa yang kau lakukan?!" Wanda tergagap. Himawan hanya nyengir, lalu mencium tangan yang baru saja ia genggam. Dia terkehkeh. "Hari ini kau tampan—" Himawan memelankan suaranya, "—dan aku tidak bohong." Blush! Wanda malu. "Ahh, yah, thanks—" dia menghela nafas, lalu melanjutkan lagi, "—dan hari ini pun kau juga tampan." "Terima kasih. Perasaan kita menggebu, ya—dan... colorful." "Yah, Himawan, kau benar—perasaan kita itu... seperti pelangi di atas." "Oh, iya! Ada satu lagi." "Apa?" "Wanda—" Himawan melompat dan mencium pipinya, "—wajahmu pun colorful jika kucium seperti ini. GYAHAHAHA!!" "Grrr—AKAN KUBANTING KAU DENGAN PLAYSTATION-KU! BERANINYA KAU MEMBUKA AIBKU!!" wanda. himawan. .//. next: burn/membakar |
![]() |
|
| Dani | 9 May 2011, 08:52 PM Post #59 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: burn/membakar Fandom: ... Chara: Alex/Reon "Kakak..." ucap Reon sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Alex dari arah belakang. Alex memegang sebuah foto yang baru saja ditemukannya di bawah bantal Reon. "Jangan... kumohon..." Reon membenamkan wajahnya di punggung Alex, memohon, menangis. Padahal, itu adalah foto Ibu satu-satunya yang dimiliki Reon. Reon terisak sejenak sebelum mengumpulkan tenaganya untuk berkata, "Aku sayang Ibu..." Alex meremas foto itu dan langsung melepaskan pelukan Reon darinya, berjalan ke arah perapian. "Kakak..." Reon mengejarnya dan mencoba untuk menghentikannya. "Ku-kumohon... Tidakkah kakak sayang Ibu?" Tidak ada jawaban. "Aku tahu Ibu tidak menyayangiku. Meskipun begitu, aku... aku..." Alex menepis tangannya, mendekati perapian lagi, dan melempar foto itu ke arah api yang menyala. Membakar hal yang perlu disingkirkan dari rumah itu. Mata Reon membelalak. Dia mundur perlahan, mengusap air matanya sendiri, sebelum berlari ke kamar mereka. Di depan perapian, Alex terdiam. Setelah ini dia mati. Secara harfiah. Reon terbaring di sofa, dengan cahaya redup sinar bulan dari jendela rumah Vin dan Emily, dia memperhatikan sosok orang yang pernah dikaguminya di foto yang selama ini disimpannya. Dia bangkit dan menuju ke arah dapur, mengambil korek api. Dia membakar foto itu, sampai habis. Next: Dim/Redup Edited by Dani, 9 May 2011, 08:54 PM.
|
![]() |
|
| Sanich Iyonni | 10 May 2011, 08:44 AM Post #60 |
![]()
|
Prompt: Dim/Redup Fandom: whatever Chara: Cahaya Ilahi sempat meredup di hatinya. Ya, dia sempat kehilangan arah. Saat masalah melanda bertubi-tubi tanpa henti, keyakinannya goyah. Dia sibuk bertanya, "Kenapa?" Kenapa ayahnya dipanggil? Kenapa ibunya menjadi gila? Kenapa di saat-saat seperti itu, kekasihnya berselingkuh? Kenapa, Tuhan, kenapa? Dia terus berteriak, berharap akan datang sebuah jawaban agar kepercayaannya kepada Tuhan tidak sirna. Dalam hatinya yang paling dalam, dia tidak ingin cahaya iman itu redup dan meninggalkan dirinya dalam kegelapan tanpa arah. Tatkala cahaya tersebut semakin meredup dan meredup lantaran dia tidak kunjung mendapat jawaban dari Tuhan sebagaimana yang ia harapkan, dia menyaksikan sebuah keajaiban. Ibunya perlahan kembali waras setelah mendengar lantunan ayat-ayat kitab suci yang dibacakan oleh seorang perawat di rumah sakit jiwa tempat ibunya berada. Kegilaan ibunya perlahan terkikis. Senyum ibunya yang dulu pernah lenyap kini telah kembali. Air mata ibunya saat mendengar ayat-ayat itu juga menular ke matanya. Kini ia bersyukur karena masih memegang sedikit keinginan agar tidak kehilangan cahaya ilahi di hatinya, meskipun cahaya itu telah meredup sedemikian rupa. Dan Tuhan memberikan bonus padanya... seberkas cahaya lain berwujud manusia yang menjelma dalam sosok perawat itu. Kali ini dia bertekad tidak akan membiarkan cahaya tersebut meredup lagi, untuk selamanya. Next: Punah/Extinct |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:34 AM Jul 11
|
AFFILIATES







![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)






7:34 AM Jul 11