Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only.
Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (11,069 Views)
hansel.
Member Avatar
why-o.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: clouds/awan-awan
fandom: itudeh.
chara: .////. siapa lagi?

Berbaring sambil menatap langit itu menyenangkan, sang gadis baru menyadarinya. Luasnya biru yang terkembang hingga ke seluruh penjuru yang dapat ditangkap oleh manik cokelatnya terasa dingin, tenang dan mempesona. Apalagi dengan hiasan, sapuan warna putih di beberapa tempat—yang membuat senyum miliknya terkembang kala menebak-nebak bentuk dari awan-awan tersebut.

Ada wortel. Kelinci. Gajah. Juga sesuatu yang mirip jerapah atau kursi, tergantung melihatnya dari sudut mana. Serta balon—atau lollipop, terserahlah, mana saja boleh. Ritsu baru saja akan menebak potongan awan yang terakhir ketika wajah seseorang menghalangi pandangannya.

“—Kau baik-baik saja, Ritsuka?”

Otomatis cengiran lebar terkembang di wajahnya. “Ohayou, Rii,” sahutnya riang, masih belum bangkit dari rerumputan. “Ada apa? Mau ikut melihat awan?”

Sang pemuda menghela nafas, mendudukan diri di sisi sang gadis—raut wajahnya kini terasa… entah, lega, sepertinya. “Kau baik-baik saja rupanya,” ucap Rii, jengkel. “Lain kali jangan tidur di tengah taman sendirian.” Ia mengalihkan pandangan ke samping, membuat wajahnya tak terlihat dari arah Ritsu. “Kukira kau kenapa-napa.”

“Hmm, Rii mencemaskanku?” goda Ritsu, terkekeh senang. Rona merah mewarnai pipinya.

“…Iy—”

OH! Awan yang itu mirip pedang bambu! Eh, Rii tadi mau bilang apa?”

Pemuda Bara itu hanya mampu menatap keki.

ya. bagus. terus aja galau, la.

next prompt: cat/kucing
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dani
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Ini seakan prompt-nya menyindir chara saya. =A='

prompt: cat/kucing
fandom: ndak ada judulnya
chara: kakanda alexander & reon
Ibu tidak pernah merawat Reon, sepertinya wanita itu tidak menyukai anak laki-lakinya yang cacat, memiliki telinga dan ekor kucing, itulah mengapa Reon diberi nama yang aneh. Ketika kecil, Alex heran kenapa dia disekolahkan sementara adiknya tidak.

Ibu selalu pilih kasih, memberi Alex apapun yang dia mau. Sementara, di ujung mata, terlihat Reon yang mengintip dari balik pintu, ekor kucingnya bergerak-gerak, sedih terpancar di matanya.

Ibu tidak menyayangi Reon, Alex tahu. Ketika dia sudah agak dewasa nanti, dia berjanji akan menyayangi dan membahagiakan adiknya, lebih dari apa yang Ibu berikan padanya.

Ibu tidak mempedulikan Reon, Alex melihat Ibunya tidak mempedulikan Reon yang sedang berbicara padanya. "Heh, ayo pergi," bisik Alex sambil menggandeng tangan adiknya, menariknya ke kamar.

Ibu menyakiti Reon, mata Alex melebar ketika Ibunya memarahi dan memukul adiknya. Sementara adiknya hanya terdiam dan pergi ke belakang rumah. Ketika menghampirinya, dia melihat Reon menunduk dengan mata berkaca-kaca. Alex pun berlari ke kamarnya dan membereskan barang-barang miliknya dan milik adiknya. Dia tidak tahan melihat adiknya dicampakan.

Ibu masih tetap saja sama, Ibu meneleponnya, menghawatirkannya, tapi tidak untuk Reon. Dia tidak mau bertemu Ibunya, tidak mau Reon bertemu Ibu mereka.

Alex menyayangi adiknya, dia bekerja untuk Reon meskipun usianya baru menginjak angka 19, dan baru saja kemarin mengundurkan diri dari bangku kuliah--teman-temannya bilang dia gila. Setiap pulang, Reon akan menyambutnya. Empat tahun hidup berdua, setidaknya dia dapat melihat Reon bahagia.

Semuanya, apapun, akan dilakukan demi kucing tercintanya, Reon.
o.o panjang kayaknya

next prompt: floor/lantai
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
hansel.
Member Avatar
why-o.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
^ memang mau nyinggung situ :excited:

prompt: floor/lantai
fandom: ...
chara: fleksibel(?) (˘ ⌣ ˘)

Ubin terasa beku di kulitnya. Bahkan di bagian yang tertutupi helai-helai kain masih saja merasakan betapa dingin lantai di ruangan ini. Tubuh kecilnya menggigil perlahan. Gemeletuk giginya terdengar pelan, berusaha diredam oleh sang bocah. Walau setelah dipikir-pikir, takkan ada yang mendengarnya—ada yang mendengar pun, tak mungkin ada yang mau menolong. Jadi untuk apa ia menutupinya?

Ingin rasanya ia bangkit dari bawah sini, meraih jaket miliknya yang teronggok di atas meja tak jauh dari tempatnya berbaring, dan mencari tempat yang lebih hangat. Tapi jika ia berdiri, orang-orang itu, manusia-manusia kejam yang seharusnya berstatus kawan sekelasnya itu, pasti akan mulai memukulinya lagi, mendorongnya hingga jatuh ke lantai yang keras—seperti tadi. Jadi untuk apa ia berusaha bangkit?

Lantai ini, yang dingin dan beku, yang sunyi dan tak pernah mengucap kata—adalah saksi mata dari kekerasan yang ia alami selama jam-jam istirahat yang mengerikan. Sudut yang biasa, lantai yang biasa, gadis kecil ini telah bersahabat dengan mereka semua. Mungkin bahkan terkadang sang lantai akan memeluknya dengan hawa dingin yang menggigit tulang, menghalau segala ketakutan dan kegelisahannya. Tubuhnya masih tetap gemetar kedinginan, namun anak hawa itu mulai tenang. Ia akan menutup matanya, menikmati kelembutan yang diberikan oleh sang lantai—

—hingga namanya diteriakkan dengan kasar, menandakan penyiksaan akan dimulai kembali.

next prompt: rabbit/kelinci
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dani
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: rabbit/kelinci
fandom: ...
chara: claire & alex
Claire mengelus kelinci di pangkuannya sambil tersenyum. Akhirnya dia bisa pulang di rumahnya dan mengelus kelincinya.

"Kau tahu, apa akibatnya jika membawa anakku pergi?"

Claire mendongak, melihat ayahnya yang kini sedang duduk di ruangan lain, dengan Alex di depannya. Alex hanya menunduk dari tadi tanpa menatap ayahnya. Claire tersenyum, sepertinya dia akan mendapatkan kelinci lagi untuk diperangkap. Namun kelinci yang baru ini akan lebih membuatnya bahagia, dia yakin.

"Maaf, tidak," jawab Alex, keringat menetes dari dahinya, berbicara dengan ayah Claire membuatnya gugup, sebelumnya dia tidak pernah seperti ini berbicara pada orang itu.

"Aku sudah menjodohkan anakku," ucap pria itu sambil melihat Alex, pemuda yang biasanya berani melawannya kini hanya menunduk pasrah. "Kau membawanya kabur di saat yang tidak tepat."

"Ya," jawab Alex singkat.

Claire memeluk kelincinya, tersenyum lebar.

"Calon suaminya membatalkan perjodohannya, dan kau, kau akan bertanggung jawab," ucapnya.

Tidak ada jawaban dari mulut Alex. Claire memejamkan mata sambil menghela napas bahagia. Memeluk kelincinya dengan erat.

"Kau harus menikahi anakku," kata ayah Claire.

Alex berdiri sambil membalikkan badannya, "Baik," ucapnya tanpa menatap sedikitpun ke arah pria itu seraya pergi tanpa mengucapkan salam.

"Haha," Claire tertawa kecil, tidak sia-sia dia kabur bersama Alex. Sebentar lagi, dia akan membuang kelinci di tangannya.
next prompt: Royal Wedding/Pernikahan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ejey Series
Member Avatar
miss you ♥
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: wedding/pernikahan
fandom: --entahlah--
chara: heira & kevin.
Hari ini Heira tak henti-hentinya tersenyum. Tunggu, dia tersenyum bukan karena sudah gila, tapi karena hari ini adalah hari yang paling dinantinya sepanjang hayatnya. Ya, hari ini adalah hari pernikahannya dengan Kevin, sang kekasih.

Gaun putih telah dikenakan, mahkota indah dan kerudung pun telah disematkan di kepalanya. Buket mawar putih telah ia genggam erat-erat dengan tangannya yang sedikit gemetaran.

Sang ayah tercinta menuntun Heira berjalan menuju altar, di mana sang (calon) suami telah menunggunya. Jantung Heira berpacu liar ketika Kevin menoleh kepadanya dan melempar senyum lembut.

Heira akhirnya sampai di altar, dan kini ia berdiri berdampingan dengan Kevin. Oh, betapa kencangnya debaran jantung Heira saat itu!

Sang pastor datang, dan tibalah saat pengucapan janji sehidup-semati.

"Kevin Redlaquer, bersediakah engkau menerima Heira Feldgrau sebagai istrimu untuk kau kasihi, kau hormati dan kau dukung dalam suka dan duka?"

"Aku bersedia."

"Heira Feldgrau... bersediakah?"

"Aku bersedia."

Kini mereka berdiri berhadap-hadapan. Kevin membuka kerudung Heira. Kini ia bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. Cantik sekali.

Jantung Heira berdebar makin kencang, ia serasa ingin pingsan. Inilah saat yang paling membuatnya gugup. Wajah Heira menjadi merah padam ketika Kevin mendekatkan wajahnya, hendak mencium Heira. Bibir mereka semakin dekat, dan...

BRUK!

Heira terjatuh dari tempat tidurnya. Matanya mengerjap-ngerjap, kaget. Ia bangkit dan bergumam dengan sedikit kecewa, "Ternyata tadi cuma mimpi..."
gaje amit =.="

next prompt: hand/tangan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dani
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: hand/tangan
fandom: ...
chara: claire & reon
Alunan piano terdengar dari dalam ruangan musik. Sang pianis dan gurunya terlihat menghayati denting-denting piano yang mengalun merdu. Di tengah keindahan musik itu, tiba-tiba terdengar nada fals yang muncul.

"Bukan begitu, Reon," kata sang guru, Claire.

"Ha? Ma-maaf, selip," kata Reon, menghentikan permainannya.

Claire langsung menyentuh jari-jari Reon dan mengatur posisinya. Wajah Reon langsung memerah dan tubuhnya merinding. Dia dapat merasakan napas Claire di dekat telinganya.

"A- Kak- tapi... Tanganmu..." wajah Reon semakin memerah. Tangan Claire terasa begitu lembut.

"Hm," hanya itu tanggapan Claire, wajahnya tidak menampakkan ekspresi yang berarti.

"Aku tidak bisa bermain sebagus Kak Alex," ucap Reon sedih, wajahnya masih merah.

"Kau bisa," kata Claire.

"Kak Alex itu gary stu," Reon memajukan bibirnya.

"Begini," ucap gadis itu, tidak menanggapi Reon, tapi setelah itu tangannya menepuk dan membelai rambut Reon. Tangan itu menyentuhnya dengan lembut.

"Kak Claire..." Reon memejamkan mata. Hal ini membuatnya malu.

"Reon."

Terdengar seseorang memanggil, Claire dan Reon menoleh ke arah pintu dimana suara itu berasal. Terlihat Alex berdiri di sana. Seperti biasa, Alex akan menjemput Reon di tempat lesnya sepulang dari kerja. Tapi, hari itu kedatangannya terlihat mengejutkan bagi Claire dan Reon. Claire langsung menjauh dari Reon.

"Kakak?" Reon menatapnya, "Sebentar, kan biasanya setengah jam lagi."

Alex terus menatapnya. Mendadak Reon gugup.

"Ya," Reon langsung saja berdiri dan berjalan ke arah kakaknya. Dia melambaikan tangan ke arah Claire sebelum keluar dari ruangan itu.

"Senang bersama Claire, Reon?" tanya Alex.

Reon menatapnya, "Iya," dia tersenyum sambil mengangguk. Kemudian Alex tersenyum balik padanya, senyum yang terlihat kejam. Sejak itu, Reon menyadari, jawabannya salah.
next prompt: dangdut
=A=
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dai-kun
Member Avatar
sun shine!
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt : Dangdut
Tokoh : Ahmad, Yudi, Wak Haji, Wanda
Warning : M-rated, Contains sensitive topic (LGBT Rights) and slight gore
~~
#fail

~~

#fail

~~

Next : Penyesalan
Edited by Dai-kun, 30 Apr 2011, 10:58 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
himura kyou
Member Avatar
► A ▼ ► A ▼
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: penyesalan
fandom: ??
chara: Say & Yang


"Happy Anniversary, Yang~!"
"Happy Anniversary, Say..."
Keduanya berpelukan. Peringatan hari jadi ikatan kasih mereka dirayakan dengan begitu romantis di sebuah kafe yang sangat mendukung suasana mesra di antara dua insan muda tersebut. Tawa renyah senantiasa menyertai wajah sang gadis yang dipenuhi rona merah. Tak henti-hentinya ia berceloteh mengenang masa-masa yang telah dilaluinya bersama sang kekasih hingga hari ini.
Namun hanya senyum getir dari sang pemuda yang menanggapinya.
.
"Ada apa, Yang?"
Tatapan mata kekasihnya tampak kosong, seperti menewarang begitu jauh, membuat sang gadis sedikit khawatir.
"Gapapa kok, Say..."
Gelengan kecil dari pemuda itu tak cukup meyakinkan. Sang gadis mulai cemas.
"Tapi kamu kok keliatan lesu gitu, Yang? Sakit?"
Sekali lagi pemuda itu menggeleng pelan.
.
"...Bukannya aku menyesal sih, Say.."
Sang gadis tercekat. Menyesal? Di hari jadi mereka?
"Mendengar ceritamu tentang hal-hal yang sudah kita lewati, aku jadi teringat hari waktu aku nembak kamu, Say."
Sang gadis tertohok. Menyesal di hari penembakan??
.
Pemuda itu mendesah, kemudian menatap kekasihnya yang sedang shock.
"Kalau saja di hari itu aku nembak kamu di tempat yang lebih layak, bukan di depan toilet umum di samping parkiran warung tegal..."
Keheningan melanda, namun tertutup oleh alunan merdu lagu yang dimainkan penyanyi kafe tempat mereka berada sekarang.
Keduanya mematung, hingga petugas satpam terpaksa pura-pura batuk untuk memperingatkan mereka bahwa kafenya sudah mau tutup.


next prompt: gaya/style
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dani
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: gaya/style
fandom:...
chara: mary & vin
"Aku akan menghadapi gadis itu," kata Mary pada Vin. Baru saja mereka membicarakan Alex dan Claire yang sejak kemarin mengganggu mereka dengan cara mengejar-ngejar mereka dimanapun mereka bertemu.

"Kenapa harus kau? Memang kau bisa apa? Menjambaknya?" hina Vin sambil menjotos kepala Mary.

"Aww! Itu sakit, bodoh!" Mary mengelus benjolan di kepalanya. "Aku bisa melakukan apa saja padanya! Kau tahu kan, keahlianku meramal itu dapat menghasilkan sesuatu juga!" ucap gadis itu.

Vin mengacak-acak rambutnya yang dicat berwarna oranye sejak SMP itu. "Bullshit, kau tidak akan bisa melawan gadis itu, dia terlihat mengerikan, bodoh."

"Mengerikan apa? Dia itu tidak punya style saja, jadi dia tampak mengerikan. Lihat saja pakaiannya yang selalu berwarna hitam dan merah tua, dan juga roknya selalu berwarna ungu tua. Ih, tidak punya style!" Mary memajukan bibirnya. Tangannya mencoba menepis tangan Vin yang dari tadi mengacak-ngacak rambut panjangnya.

"Kalau dia tidak punya style, lalu kau apa? Kau selalu pakai pakaian senada yang warnanya cerah semua. Hidupmu tidak berwarna!" kata Vin.

Mary memukuli tangannya.

"Aduh!" Vin memberikan geplakan terakhir di kepala Mary sebelum menjauhkan tangannya.

"Awh! Bodoh! Jangan hina aku, ya! Lagi pula untuk apa kau mendukung musuh kita? Dasar bodoh!" balas Mary.

"Aku tidak mendukungnya, hanya kau saja yang tidak logis!"

"Sudahlah, aku pergi!" kata Mary sambil turun dari atas sofa dan beranjak keluar dari rumah pemuda yang merupakan temannya sejak kecil itu. "By the way, kau tidak punya style! Pakailah baju yang keren sedikit!" teriak Mary.
next prompt: move/gerak
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kencana
Member Avatar
Riiiiinnn.....
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: move/gerak
Fandom: Ori
Chara: Jill & Kiki



"Kiki...." panggil Jill, sang adik ke kakaknya.

"Hmm....?" sahut Kiki cuek, tanpa mengalihkan pandangannya dari Nintendo DS miliknya. Jarinya dengan sigap memencet tombol, menghindari jebakan dem jebakan. Sesekali, tangan kirinya mengambil keripik kentangnya untuk dilahapnya. Kapan lagi dia bisa santai seperti ini kecuali saat liburan sekolah?

Jill mendesah melihat kelakukan kakaknya tercinta yang memang pecandu game itu.

"Kamu jangan main game terus, dong. Sesekali, lakukanlah kegiatan yang memelukan banyak gerak. Gimana kalau kita keluar untuk jogging?" ajak Jill.

"Hah? Ogah ah! Kamu dari dulu tahu 'kan aku tidak suka kegiatan yang memerlukan banyak gerak."

"Kalau terus seperti ini, nanti kamu gemuk, lho!"

"Nggak apa-apa. Sekarang nggak ada yang kutaksir kok. Tambah gemuk dikit bukan masalah," jawab Kiki cuek, lalu melanjutkan main. Sialnya level selanjutnya terlalu sulit ia tamatkan sehingga game over. Kiki mendecak kesal, lalu bangkit berdiri

"Lho? Mau ke mana?" tanya Jill heran. Masa secepat sudah berubah pikian?

"Ke rumah teman. Mau minta petunjuk darinya untuk menamatkan level ini," jawab Kiki santai sambil melambaikan DS-nya.

Jill melongo memandangi kepergian kakaknya.


Next prompt: Honeymoon/Bulan madu
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dani
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Honeymoon/Bulan madu
Fandom: Kemarin saya publish di FP namanya Nemesis, sekarang tak berjudul lagi /lol
Chara: Mary & Emily
"Ah, andai Vin bisa secepatnya menikah dengan Roy!" kata Mary sambil memegangi kedua pipinya.

Emily menolehkan kepalanya ke arah gadis berpenampilan aneh itu. Rambut panjangnya dicat oranye, dan pakaiannya tidak pernah tidak berwarn pink. Padahal waktu kecil teman kakaknya itu tidak seaneh ini.

"Aku ingin jadi wedding organizer mereka. Oh ya, mereka bagusnya bulan madu dimana, ya?"

"Sudahlah, kakakku tidak gay!" kata Emily.

"Kalau bulan madu, akan kuikuti mereka pastinya, hihihi...." Mary mengikik sendiri.

"Mereka tidak akan menikah."

"Oh, coba Reon ada bersama mereka! Mereka bertiga... ahahaha! Threesome!" Mary tertawa.

"JANGAN BERFANTASI!" teriak Emily keki.
Next prompt: Sea/Laut
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sanich Iyonni
Member Avatar


Prompt: Sea/Laut
Fandom: whatever
Chara: Key dan Fence




Pasir, ombak, angin, matahari. Laut. Semuanya terlihat sempurna.

Kalau saja hati Key tidak galau.

Pertempuran ini sudah hampir mendekati akhir, dia tahu benar akan hal itu. Sebentar lagi mereka akan tiba di markas Cheese. Dan itu hanya berarti satu hal saja.

Mendesah, Key membenamkan wajah di lipatan lututnya. Walaupun di depan yang lain-lain dia tak pernah menunjukkan kecemasannya, sesungguhnya dia sangatlah khawatir. Bagaimanapun juga, pemimpin Cheese adalah.......

Rahang Key mengeras. Tapi kalau tidak demikian, Season Country tak akan pernah kembali merdeka.

Ombak berdebur pelan, suaranya menggelitik gendang telinganya. Key mengangkat wajah dan terkejut saat mendapati seseorang sudah duduk di sampingnya.

"Fence?"

Pemuda yang kehilangan emosinya itu tentu saja tidak berkata apa-apa. Key memandanginya sesaat, lalu akhirnya mengeluarkan senyumnya yang biasa.

Fence jelas berbeda dengan Lock ataupun teman seperjalanannya yang lain--yang pasti akan mengatakan sesuatu dalam situasi seperti ini--tapi Key selalu merasa bahwa Fence sangat istimewa, meskipun dia hanya seperti patung hidup karena kutukan itu.

Terkadang Key lupa, Fence ikut dalam perjalanan ini untuk memulihkan emosinya kembali. Fence sudah menjadi bagian dari mereka semua--bagian dari dirinya.

Ombak bergulung lagi, masih sama lembutnya.

"Aku suka laut. Di negeriku tidak ada laut," Key mengalihkan pandangan ke hamparan air yang membentang. "Warna biru-hijaunya sangat indah. Seperti matamu, Fence."

Tentu saja Fence tetap diam, tanpa reaksi, tanpa ekspresi. Tatapannya yang kosong jatuh ke laut, mengembara entah ke mana. Kecemasan lain menyergap Key tiba-tiba. Bagaimana kalau sampai akhir pun aku tidak bisa membuat emosi Fence terisi lagi?

Buru-buru diusirnya pikiran itu. Dia yakin, suatu saat nanti mata aquamarine Fence tidak akan hampa lagi. Pasti kelak akan terisi penuh dengan semangat hidup, layaknya lautan ini.

"Terima kasih karena sudah menemaniku, Fence. Dengan adanya kau di sini saja, sudah lebih dari cukup."

Key pun menyandarkan kepalanya ke bahu Fence.




f(-_-;;)
Maaf kalo kepanjangan.

Next: Arloji/Watch
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: arloji/watch
fandom: ryokubita
chara: himeka kinoshita, makoto niriyu (/.\)
warning: abstrak .___.

Waktu itu... seperti apa?

Waktu itu... apakah akan terulang?


"Makoto-yah!"
"Ne? Tumben sekali kau memanggilku seperti itu?"
"Ngg... ya, hanya terpikir saja, aku ingin melihat reaksimu."
"Ahaha~"

Lalu, sang pemuda mengacak rambut gadisnya dengan tawa yang biasanya. Iya, yang biasanya.

Tik. Tik. Tik.

"Makoto-yah!"
"Ne?"
"Ah... ya, kau berubah!"
"Apanya?"

Masih saja, usapan lembut lagi-lagi diberikan sang pemuda pada gadisnya.

Tik. Tik. Tik.

"Makoto-yah!"
"Berhenti memanggilku seperti itu, Himeka."
"Ne, kenapa?"
"Aku benci panggilan itu, apalagi kau yang mengucapkannya."

Tik. Tik. Tik.

Apakah ini... waktu?

Atau... karma arloji yang gadis itu berikan pada sang pemuda? Kau tahu, gadis itu tahu, pemuda itu tahu. Mereka tak sejalan, mereka tak ada pada sisi yang berhimpitan. Hanya karena waktu, hanya karena sebuah arloji.

ngik, abstrak. well, cuma saya yang tahu. *dibalang*

Next prompt: Ice/Es.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dani
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Ice/Es
Fandom: ...
Charas: Reon/Stella
"Es krim~" ucap Stella. "Es~" Matanya berkaca-kaca menatap Reon yang tengah menjilati es krim cone rasa pisang miliknya.

"Ah! Jangan!" Reon menjauhkan es krimnya dari jangkauan Stella saat gadis itu mengelap keringat di dahinya ke baju Reon.

"Panas~ Aku mau es~" kata Stella.

"Belilah sendiri," Reon berusaha melindungi es krimnya.

"Aku tidak punya uang, habis dipinjam Mary!" keluh Stella.

"Beli sendiri, Stella!" Reon menjilat es krimnya, Stella mendorongnya hingga terbaring di atas kursi panjang di depan rumah itu.

"Minta!" Stella kini berada di atas Reon, tangannya mencoba merebut es krim itu.

"Tidak ma-GYAAAAH!!!" Reon berteriak ketika Stella menarik ekornya dengan kencang.

"ES KRIIIIMM!!" dan Stella berteriak ketika es krim di tangan Reon melayang.

Pluk!

"Aaaa..." Stella manyun ketika es krim itu mendarat di muka Vin yang sedang lewat.

Vin merasakan dingin krim yang menetes di wajahnya, dia melihat Stella dan Reon dengan geram.

"KALIAAAAANNN!!! SUDAH BERBUAT YANG TIDAK-TIDAK, MELEMPARIKU DENGAN ES KRIM? TCCCCHHH..." teriak Vin.

Stella tersenyum, "Mau kami bantu bersihkan?"

Beberapa menit kemudian...

Emily memasuki halaman rumahnya sambil memakan es krim stroberi, namun begitu dia sampai, es krim di tangannya terjatuh ke tanah. Cairan kental dingin meluber. Kaget melihat wajah kakaknya sedang dijilati oleh Stella dan Reon.

"HAAAAAHHH???" Emily melotot.

"EM!! JANGAN BIARKAN MEREKA MENJILATI TANAH!" teriak Vin.
Next prompt: Green/Hijau
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sanich Iyonni
Member Avatar


Prompt: Green/Hijau
Fandom: whatever
Chara: Si Eike sama si Lekong




Aih, hari ini rupanya eike harus pake baju ijo. Eike kesel deh, kenap-se sih kemarong eike lupa nyuci baju merah eike? Merah lebih menggoda bo'. Biasanya kalo eike mangkal pake baju merah, lebih banyak dapet dokunya.

Pokoknya besok eike harus inget untuk belenjong baju merah lagi. Nanti eike ajak si Martini, doi kan paling demen diajak belenjong.

Terpaksa deh hari ini eike pake baju ijo dulu. Moga aja ada yang kepincut.

By the way on the busway, eike nggak suka warna ijo lho. Kamyu pasti penasaran kan, kenap-se eike nggak suka? Padahal kata guru ngaji eike dulu, waktu eike masih sekolah, ijo itu warna surga. Eits, pada nggak percaya eike pernah ngaji? Jangan salah bo', dulu eike pernah menang lomba ngaji se-RT lho! Dulu, pas eike masih jadi lekong...

Eh, sori dori mori bow, eike udah dipanggil tuh. Eike harus buru-buru capcus. Biar nggak keabisan!

***

"Ka--kamu cantik banget!"

Mata lekong di depan eike itu hampir melotot, ngeliatin eike dari atas sampe bawah.

...ih, eike jadi merinding sendiri, deh.

Tapi eike kan profesional. Eike usap dagunya lembut sambil merayu, "Makasih Sayang. Kamyu juga ganteng."

"A--aku suka banget sama baju kamu! Warna ijonya bagus!"

Ebuset, lekong ini polos banget ya. Baru pertama kali eike ketemu sama yang kayak begindang.

"Jadi kamyu sukanya cuma sama baju eike?" eike pura-pura marah. Biasa, jual mahal gitu lho.

"Sa--sama kamunya juga. Ta--tapi baju kamu beneran bagus! Warna ijonya kayak seragam Werder Bremen, klub bola favoritku!"

.....................

Eike nggak tahu mau ngomong ap-se. Sialan nih lekong! Eike kan jadi inget masa lalu eike waktu masih jadi lekong kayak dia!

Dulu eike juga mau jadi pemain bola! Bahkan eike pernah hampir main di final kejuaraan sepak bola junior tingkat kota. Tapi gara-gara eike kepeleset di lapangan rumput yang becek di GOR, eike diketawain satu stadion. Kebayang kan, giman-se malukunya eike? Temen-temen eike juga ngejek eike terus setelah itu. Bikin eike merekah sama lekong! Lekong tuh brengsek!

Makanya eike milih jadi waria aja.

"M--mbak? Kok bengong?" lekong yang tadi nanya.

Eike merapikan tas, terus berdiri.

"Eike mau capcus!" kata eike sengit. Eike langsung tinggalin lekong itu sendirian. Boam ah. EGPCC! Eike nggak mau jalan sama lekong kayak gini!




GAJE ABIS. oTL

Daftar Kosakata sebenernya gak penting:
*Eike = aku
*Doku = duit
*Belenjong = belanja
*Kemarong = kemarin
*Lekong = laki-laki
*Capcus = pergi
*EGPCC = Emang Gw Pikirin Cuih Cuih
*Merekah = marah
*Maluku = malu


Next: Terlambat/Late





Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Create your own social network with a free forum.
Learn More · Register Now
Go to Next Page
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone