Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 18
Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only.
Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (10,822 Views)
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Comedian/Pelawak
Character(s): Reva dan Dilan

Reva mengetukkan pulpennya di atas kertas yang sejak tadi hanya putih, tidak terisi sama sekali. Otaknya buntu, buntu berlebihan sampai-sampai menuliskan "aku" saja Reva merasa ragu. Sepertinya, masalah Reva kali ini adalah writer's block.

"Rev," panggil Dilan yang sejak tadi hanya 'mejeng di depan pintu ruang kerja Reva sambil memerhatikan kegalauan gadis itu. "Buntu lagi?"

Reva menghembuskan napas panjang tanda putus asa. "Untuk yang kesekian kalinya, gak tau karena apa."

"Mau jalan?"

Kepala Reva spontan menggeleng. "Kayaknya aku gak butuh itu."

"Hmm..." Dilan membalikkan badannya, menghadap ke luar ruang kerja. "Kamu tunggu di sini, sebentar."

Reva mengerjapkan mata saat Dilan tiba-tiba pergi begitu saja dan kembali membawa sebuah bola merah dan tiga bola biru. "Buat apa?" tanya gadis itu saat Dilan mulai 'beraksi' dengan bola merahnya.

"Nih." Dilan meletakkan bola merah itu di hidungnya dan mulai melempar-lemparkan bola biru lainnya ala badut. "Jadi badut ganteng."

Reva mengerjapkan mata. "Apa? Coba ulang?"

"Badut ganteng."

Reva tergelak puas--terlalu puas sampai tubuhnya nyaris terjengkang dari kursi. "Kamu bahkan gak ada mirip-miripnya sama badut!" ejek gadis dengan rambut hitam terurai itu masih sambil tertawa.

"Oke, berarti aku pelawak ganteng karena sukses bikin kamu ketawa."



Maafkan ke'gakjelas'an drabble ini... ;w;

Next Prompt: Televisi
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Televisi
Character : Marie and Lily

Marie Stevens, 26 tahun, penjual roti isi yang masih gemar menonton acara-acara dokumenter lama di televisi. Terutama bila itu menyangkut dunia pertunjukan seni. Mulai dari opera hingga balet.

Tentang balet, malam ini dia tengah menyaksikan persembahan balet bertajuk "Danau Angsa", disuguhkan oleh murid-murid dari sebuah akademi seni ternama di London. Pertunjukan itu berlangsung delapan tahun yang lalu.

Ah, sudah lama sekali. Tapi Marie masih bisa merasakan euforia di panggung itu--meskipun dia tidak punya peran apa-apa pada pertunjukan itu.

Dia masih ingat wajah-wajah yang bersinar di bawah lampu-lampu sorot itu. Dia fokus pada dua pemeran utama ; Sang Angsa Putih, dan Sang Pangeran.

Marie bahkan masih ingat nama mereka.

Liliana Joseph alias Lily sebagai Puteri Angsa Putih, dan Theodore Franklin alias Theo sebagai Pangeran. Dua teman sekelasnya dulu.

Di tengah gemerlap lampu, sorak kagum penonton, dan kemegahan musik orkestra di sekeliling panggung, mereka berdua menyatu dalam lekuk dan gerakan tubuh. Pada adegan di mana Sang Pangeran menggendong Sang Puteri, Marie melihat sorot sayu Sang Puteri berkaca-kaca--bersinar menyaingi kilau tiara angsa pada kepalanya, atau gaun baletnya yang putih bersih. Sesekali jemarinya yang lentik mengelus halus pipi Pangeran, sementara lengannya yang lain mencengkeram kuat pada punggungnya. Seolah badai topan pun tidak mampu memisahkan mereka.

Sang Puteri enggan kehilangan Pangeran.

Namun apa mau dikata. Pangeran berhasil kena tipu daya Angsa Hitam, dan akhirnya meninggalkan Angsa Putih di danau, sendiri.

Rasanya kata 'menunggu ajal' tidak berlebihan untuk Puteri Angsa Putih.

Lily adalah sahabat karib Marie semasa di akademi. Mereka berbagi, bercanda, dan berlatih menari balet bersama--walau harus diakui, kemampuan balet Marie tidak sebanding dengan Lily yang lebih memiliki tekad kuat dan belajar lebih cepat.

Marie pun masih ingat betul, tangisan Lily yang nyaris tiada henti pada suatu malam. Tangisan patah hati.

Lily, gadis yang mengalami trauma pada laki-laki, baru kali itu jatuh cinta pada salah satu sahabatnya.

Lily jatuh cinta pada Theo. Theo yang sudah memiliki kekasih dari kelas akting. Terakhir kalinya, Lily menyaksikan mereka berdua bersenang-senang di acara Masquerade.

Lily, yang sudah bulat menggugurkan harapannya tentang cinta, kemudian keluar dari akademi seni itu, dan menempuh hidup baru. Hidup tanpa Theo.

Lily, yang sudah bertekad untuk hidup tanpa cinta.

Tiba-tiba layar televisi mati. Marie yang terkejut menoleh cepat ke belakang. Seorang gadis seumuran dengannya, berdiri dengan remote televisi di tangan, kostum seksi di tubuh, dan raut sedingin es di wajah.

"Tidak seharusnya mereka menayangkan pertunjukan sampah itu lagi," cetus Lily, kemudian berpamitan pada sahabatnya dan berlalu, bersiap untuk aksi Pole Dancing-nya.

----

(oke ini idenya dadakan bgt haha maaf kalo gaje X_X )

Next Prompt : Gema
Edited by Khi-Khi Kiara, 2 Jan 2017, 06:41 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: gema
Character(s): Reva dan Minerva

"HALO!!!"

Halo... halo... halo....

Sang peneriak mengerutkan kening. "Itu tadi ... gema?"

"Gema adalah pemantulan bunyi yang diterima oleh pendengar beberapa saat setelah bunyi langsung. Tempat-tempat umum terjadinya gema adalah dasar sumur, ruangan kosong, gua, atau semacamnya," ucap seorang gadis pirang dengan lancar tanpa jeda sedikit pun kecuali pada tanda titik. Gadis ini memang memiliki daya ingat fotografis yang jarang dimiliki orang-orang itu, sehingga tidak sulit membaginya untuk menghapalkan buku teks dalam satu kali baca.

"Lalu bedanya dengan gaung, apa?" tanya gadis lain berambut hitam--yang tadi berteriak--sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Gaung juga kan, pemantulan bunyi."

"Gema itu terjadinya sesudah bunyi, kalau gaung itu sebelum," jawab sang gadis pirang. "Itu sebabnya yang namanya gaung biasanya tidak akan terdengar satu kalimat penuh. Saat kau berkata 'Reva', yang akan terdengar hanya 'Va'. Berbeda dengan gema yang akan memantulkan secara utuh kata-katamu."

Sang gadis bersurai hitam yang diketahui bernama Reva itu membulatkan mulutnya, menunjukkan bahwa ia paham maksud sang lawan bicara. "Jadi, Minerva, kalau aku sekarang berteriak ... HALO!!!"

Halo... halo... halo....

Minerva mengangguk singkat. "Itu gema."

next prompt: pita
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt: Pita
Character(c): Lis, Misk, Alfa, Yudhis

"Ngapain kamu perlu pita?" tanya Lis heran. Ia hendak mengambil selimut lusuh di lemari karena selimut di kasur basah ketumpahan sop tadi siang. Sementara adik semata wayangnya, Alfa, merengek-rengek ingin keluar mencari pita.

“Ini sudah malam. Besok pagi saja.” Yudhis, sang pemilik rumah mengusap wajahnya lelah setelah bekerja seharian. Tak banyak pelanggan hari ini. Ditambah kelakuan Alfa yang ribut. Keningnya berkerut-kerut tak suka.

Anak lelaki tujuh tahun itu tak menggubris. Matanya berkaca-kaca, tangannya memukul-mukul meja. “Sebentar saja, ayolah.”

Dengan sigap Misk, kakak tertua, menarik Alfa menjauh. Memeluk untuk meredam suara. Ia berbisik, “Jangan berisik. Nanti Yudhis marah. Kamu perlu pita apa? Besok subuh kucarikan.”

Alfa meronta. “Aku maunya sekarang, Misk.”

Ia menarik leher Misk, mendekatkan bibir di kuping gadis itu, merajuk manja, “Temani aku saja. Sebentar kok.”

Kening Alfa yang bersentuhan dengan pelipis Misk terasa hangat. Gadis itu terkejut. Ia mengerling pada Lis, kembarannya, menyelipkan beberapa keping koin di genggaman tangan.

Mereka menyelinap lewat pintu belakang, Misk membiarkan Alfa menarik tangannya. Masuk ke kebun sayuran Yudhis tanpa penerangan ia tahu sedang berdiri di depan kandang piaraan. Misk mengernyit membayangkan apa yang akan dilakukan Yudhis begitu tahu mereka di sini malam-malam. Ia meragukan Yudhis menyimpan benda semacam pita di sini.

Alfa melepaskan tangannya. Samar-samar Misk melihatnya masuk ke dalam kandang.

“Pita, pita.” Panggil Alfa lirih membangunkan kelinci-kelinci.

Ia terkejut menemukan seekor kelinci dengan pita merah besar terpasang di lehernya. Kelinci itu tergeletak tak berdaya di dekat pintu kandang.

“Misk, ini Pita. Dia sakit sepertinya. Boleh aku bawa masuk ke dalam rumah?”

Gadis itu melotot sekaligus meraup selarik cahaya samar dari teras belakang menerangi bercak merah yang memantul di tangannya. Tubuh Pita terkoyak dalam pelukan Alfa.[]

--------------------------------------

NEXT PROMPT: CANDU
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: candu
Character(s): Reva

Sore itu, Reva sedang merebus sesuatu di dapurnya. Bukan, bukan merebus air. Kalau air hangat sih, dia masih punya dispenser untuk digunakan. Saat ini yang ia rebus bukan hanya air, kok--yang namanya merebus pasti menggunakan air, bukan?

"Mm...." Gadis itu mengambil sebuah benda hijau lonjong yang tengah direbusnya, menekan dua tonjolan yang terdapat pada kulitnya, lalu melahap benda kuning oval yang meloncat keluar dari dalam. "Waa! Panas!"

Dia lupa dia baru saja mengeluarkan benda itu dari air yang bergejolak.

"Tapi ... udah cukup matang, sih," gumamnya sambil mematikan kompor, lalu mengangkat benda-benda hijau itu dengan saringan.

Edamame, benda yang tengah direbus gadis itu.

Dipindahkannya edamame yang baru ia rebus ke dalam sebuah mangkuk, lalu dibawanya ke ruang tengah. Reva duduk di sofa, menyalakan televisi, menggelar selembar tisu di atas meja--untuk kulit edamame, lalu mulai memakan edamame hasil rebusannya sambil menikmati kartun sore--iya, Reva tahu dia kekanakan, masih suka menonton kartun.

Reva terus saja memakan edamame tersebut sambil memindah-mindahkan saluran, mencari saluran yang menyiarkan film lebih tepatnya. Ah, didapatnya sebuah film yang memang ingin ia tonton sejak lama. Berpindah hatilah ia dari kartun ke film action.

Tangan kanan Reva memasuki mangkuk, tetapi tidak ia temukan benda lonjong lagi di sana. Mana edamame-nya?

Reva menoleh, hendak memeriksa isi mangkuk dengan mata kepalanya sendiri.

"Kosong?!" tanyanya kepada diri sendiri. Ia mengalihkan pandang kepada tisu yang ia letakkan di atas meja tadi.

Tanpa ia sadari, tisu tersebut sudah beranak-pinak menjadi tiga lembar, dan ia sudah berhasil membuat tiga gunung sampah kulit edamame.

"Oke, edamame emang over-nyandu." Reva menghela napas. "Rebus lagi, ah."

next prompt: opera
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt: Opera
Character(s): Serattia, Dad




Tia melongok keluar, mengaca pada jendela yang bertitik-titik buram. Entah ia harus bersyukur atau tidak, nanti malam rencana menonton opera terancam batal. Dad masih belum pulang. Jadi ia kembali sendirian.

Sambil mengunyah sepotong croissant, kepala Tia mondar-mandir tak karuan. Matanya gatal ingin menyapu alfabet dalam buku.
Namun, tak satu pun judul di rumah menarik minatnya. Hanya buku-buku dad yang membosankan. Sisanya sudah ia baca semua.

Sebenarnya ada satu judul yang ingin sekali Tia baca. Mungkin belum ada di perpustakaan sekolah yang seringkali telat memperbarui koleksinya. Sedangkan untuk minta uang ke Dad ia tak tega. Toh, itu belum tentu menjadi favoritnya.

Gadis itu masih berselonjor di sofa. Tangannya merayap, menggaruk sofa tanpa arti lalu menemukan remote televisi di sela siku-siku.
Sudah lama ia tak menonton kotak kaca itu. Juga Dad. Lalu tangan Tia tak benar-benar sengaja memencet tombolnya. Matanya langsung terbuka melihat iklan film dari buku kesukaannya akan ditayangkan. Masih dua jam lagi.

Tia berusaha bertahan. Kepalanya tak lagi berlari-lari. Menghibur diri bahwa ini mungkin pengganti opera nanti.

Pintu terbuka beberapa jam kemudian. Dad mengernyit heran melihat kotak kaca bercakap sendiri menonton putri semata wayangnya yang tertidur. Sementara deretan gambarnya tak terlalu familiar untuk Tia menontonnya.

Ah, tumben, opera sabun.

Dad melirik tiket opera tergeletak sambil lalu di meja.[]




Next Prompt: RINAI
Edited by Phia, 9 Jan 2017, 01:41 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Rinai
Character(s): Reva

Langit mendung lagi untuk yang kesekian kalinya hari ini.

"Ah," keluh Reva sambil menyodorkan tangannya ke luar kanopi.

Kebetulan hari ini Reva ada janji temu dengan seorang teman di sebuah rumah makan cepat saji, hal yang membuatnya tidak bisa bermalas ria di rumah. Sayangnya, Reva tidak membawa payung pun jas hujan. Temannya sih, tadi sudah berangkat kerja dengan mobil yang dibawanya. Harusnya Reva ikut serta, tetapi gadis itu tidak enak jika temannya harus mengantar dulu sebelum berangkat kerja.

Gerimis mulai turun. Gawat, batin Reva sambil melindungi kepalanya dengan tas. Ia berlari menyusuri trotoar yang tidak berkanopi sambil berharap akan segera tiba di halte.

Gadis itu tiba di halte dalam kondisi seperempat basah.

Untunglah, tadi itu hanya rinai.

rinai /ri·nai/ n gerimis; rintik-rintik; tetes-tetes (tentang hujan)
Next prompt: Prioritas
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
keumcchi
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt: Prioritas
Character: Langit

Langit Dirgantara, 19 tahun, masih mahasiswa.

Setelah setumpuk tugas dan paper menggenapkan hari yang sial ini--entah kenapa dosen-dosennya kompakan memberi tugas, ia memutuskan untuk libur dulu dari kebiasaannya, yaitu menjadi mahasiswa kunang-kunang (kuliah-nangkring kuliah-nangkring).

Sebelum itu, ada satu hal yang menjadi prioritas utamanya hari ini dan harus dilakukan secepatnya. Bukan melancarkan pendekatan pada gebetan, apalagi mengerjakan tugas yang menumpuk.

Beli makan di warteg.

Bagi anak kost sepertinya, makan sore sudah merangkap makan malam. Karena ia tidak punya waktu untuk cari makan di malam hari, lebih baik beli makan di warteg sepulang kuliah dan makan di sore hari. Dompet senang, perut pun kenyang. Kalau perut sudah lapar, tugas dan gebetan sudah menjadi urutan ke sekian.

Urusan perut memang selalu jadi prioritas utama, bukan?


Next Prompt: Kotak kardus/Box
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt: Kotak Kardus/ box
Character: Misk




Lama sekali sih ....

Misk menopang kepalanya di atas lutut menunggu langkah-langkah kaki datang sambil meneriakkan namanya, kemudian sebelum sang pemilik langkah itu berlalu, ia akan melompat terlebih dulu menuju tembok base dan kembali memenangkan petak umpet ini.

Keheningan kini berteman dengan deru napasnya. Misk mulai bosan berguling di dalam kardus yang cukup lapang. Sebenarnya ini kardus-kardus simpanan Ayah untuk nanti dijual kembali. Ayah kadang menerima barang bekas dari tetangga.

Kebetulan sekali kardus itu terlipat di paling atas tumpukan. Buru-buru ia menggelarnya di emperan samping rumah. Ia menekuk salah satu tutupnya agar tidak mudah terlihat. Masih ada sisa beberapa jengkal di atas kepala Misk menunjukkan betapa besarnya kardus ini. Ia mulai menerka-nerka sebenarnya untuk apa kardus sebesar ini dibuat. Untuk kulkas mungkin?

Mata dan lengan Misk lama-lama terasa memberat. Udara mulai beraroma aneh. Ia mengangkat alis menemukan seekor kucing gemuk tiba-tiba menjejak masuk bergelung dengan santai di bawah hidungnya. Ia bahkan tidak menghiraukan Misk yang lebih dulu menghuni tempat itu.

Gadis itu tidak bisa bergerak. Tidak boleh bersuara. Tapi gerakan si kucing menggesekkan lehernya membuatnya geli. Misk tidak tahan lagi.

Hatsyi!

“Misk ketemu.” Seru seseorang melongok lewat atas kardus.

Misk masih terjebak di dalam kardus.




Next Prompt: SIDIK JARI
Edited by Phia, 19 Jan 2017, 01:45 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Sidik Jari
Character(s): Reva, Dilan

"Hasil penemuan barang buktimu waktu itu," ujar Dilan sambil mengangkat selembar amplop besar tipis lalu menyodorkannya kepada Reva. "Laporan lengkapnya ada di dalam sana. Dan kamu benar, banyak sekali sidik jari di dalamnya."

Reva menerima amplop itu lalu membalas, "Jadi memang pelaku kita ini ceroboh, 'kan?"

"Sepertinya iya, atau dia sengaja menjebak si ceroboh ini agar dia bisa bebas."

"Oh, bisa jadi." Reva membuka amplop tersebut lalu meneliti isinya. Belum sampai ia ke bagian analisis sidik jari, ia bertanya, "Apa sidik jari yang didapat ada di dalam basis data kita, Lan?"

"Ada."

Reva mengerjapkan mata. Ditelitinya kembali barisan tulisan berukuran 10 pt itu sambil mencari dua kata: sidik jari. Dia benar-benar penasaran siapa yang seceroboh itu meninggalkan jutaan sidik jari di TKP.

Dan, jawabannya?

Minerva Grages Brechkovsky..

Next Prompt: Celaka
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Enjoy forums? Start your own community for free.
Learn More · Sign-up for Free
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 18


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone