Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only.
Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (11,056 Views)
Arine
Member Avatar
SoruIta love~
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Genesis
fandom: Scarlet Vampire/Original story (Ending Part)
characters: Silvana, Garlent, Edgar, Pristine


Ia hanya ingin dia bangkit.

Bangun. Apapun.

Menginginkan wanita itu untuk hidup kembali. Menginginkannya untuk dirinya sendiri. Walau itu terdengar aneh, karena kali pertama ia bertemu dengan wanita itu, hal yang paling ingin ia lakukan adalah membunuhnya.

Ed sudah berkali-kali mengatakan padanya, tidak ada yang bisa dilakukan. Wanita itu telah memutuskan untuk pergi. Selamanya. Tertidur dengan tenang diatas tempat peristirahatannya di peti kayu oak tua dalam bangunan gotik terbengkalai ditengah hutan. Ia sudah memutuskannya, wanita itu, karena ini adalah saatnya ia untuk mati.

Karena ia telah cukup lama hidup di dunia ini. Waktunya telah habis. Bahkan kadaluarsa.

"Pasti ada cara."

Ed hanya mengangkat bahu, lelah memberi tahu. Jika memang berkeras, ya sudahlah. Manusia memang keras kepala.

"Tugasku hanya mengawasinya. Dia sudah ma- pergi, jadi tugasku berakhir disini." Lelaki berambut pirang panjang itu melambaikan tangan, memberi salam terakhir. Garlent masih juga menggenggam tangan putih yang kini tak bergerak dan lunglai, masih tidak bisa merelakan untuk segera berpisah dengan wanita pucat berambut platinum disampingnya.

Sekali waktu, ia angkat tangan itu hingga menyentuh sebelah pipinya, merasakan betapa kaku sekaligus lembut tangan Ana yang semakin pucat dari waktu ke waktu.

Wanita ini tidak akan kembali lagi.



"Menyerah berharap?"

Ed hanya tersenyum manis ketika Garlent melemparkan tatapan tajam padanya. Ah, ia tidak salah berkata begitu. Itu namanya sarkasme. Seperti yang suka lelaki kaku ini lakukan dan ia hanya melakukan sedikit pembalasan.

"Tidak."

"Tapi, kau meninggalkan Ana--"

"Hanya sementara."

"...Kepala batu."

"Biarkan."

Ed mendengus. Tahu kata-katanya tidak akan didengar lagi setelah ini. Satu-satu mengikuti langkah Garlent yang panjang dengan sesekali lompatan kecil, walau tanpa melompat pun ia dapat menyusul Garlent dengan mudah.

"Mau kemana kau?"

"Kenapa kau mengikutiku?"

"Tak ada hal lain yang bisa kulakukan sampai ada perintah lain dari atas. Jadi, daripada bosan,-"

"Aku pergi bukan untuk bersenang-senang, kau tahu."

"Aku tahu." Ed menarik topi hitamnya dan menyeringai. "Tapi kau berusaha untuk menghidupkan seorang vampire yang memutuskan untuk mati. Dan kebetulan vampire itu dalam pengawasanku, dan aku tahu kemungkinan yang ingin kau wujudkan itu hampir mendekati mustahil." Kini langkah mereka telah sama, dan Ed mencari celah untuk bertatap muka dengan lelaki kaku disampingnya ini secara provokatif, menghasut malah. "Dan Silvana pasti tidak akan suka dengan apa yang ingin kau lakukan. Karena sejak dulu, ia selalu ingin untuk segera mati."

Garlent, yang sekalipun kaku dan dingin, tidak sebegitu mudah terprovokasi dengan kata-kata tajam Ed. Bukan hanya karena terbiasa, tapi karena ia juga tahu, apa yang dikatakan Ed adalah benar. Ana pasti tidak akan ingin lagi bangkit sekalipun ada cara untuk membuatnya hidup kembali.

Ana telah lama menginginkan kematian itu. Garlent mengetahuinya. Itu dapat terlihat dari pertama kali ia melakukan upaya pembunuhan pada wanita itu.

"Aku tahu."

Tapi, bukan berarti ia harus menyerah bukan? Ia hanya ingin untuk bisa berada, sekali lagi, dengannya. Apa itu pengharapan yang sangat muluk?

"Sangat muluk."

Ed dan lidahnya yang tajam. Yah, ia sudah terbiasa juga, sih.

Daerah yang mereka lalui dengan segera berubah ramai, membuat mereka saling berdesakan dan saling mendorong agar mendapat tempat untuk berjalan. Garlent menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat dimana ia bisa beristirahat dan mengisi tenaga untuk beberapa saat. Ditengah upayanya untuk mencari tempat istirahat, tatapannya bersirobok dengan seorang gadis muda yang menatap kearahnya.

Gadis muda yang sangat kecil, bahkan mungkin umurnya tak lebih dari 13 tahun. Gadis itu menatapnya dengan intens, seakan mengenalnya, yang tanpa ia mau ia pun melakukan hal yang sama. Dan ketika ia menyadari persamaan yang terlihat jelas pada anak gadis itu...

"Edgar, coba kau lihat kesini."

Ed yang awalnya melihat ke arah lain, dengan malas menuruti perkataan Garlent. mendapati anak gadis yang sama, walau anak itu tidak membalas pandangannya.

"Oh, itu Genesis. Jenis yang sama dengan..." Ed terbelalak.

"Silvana?"

Bagai tahu apa yang Ed katakan, anak gadis itu langsung mengalihkan pandangan dan berlari. Menembus kerumunan dan menghilang. Refleks, dan sedikit terpengaruh oleh kata-kata Ed, Garlent ikut menggerakkan kedua kakinya dan berlari mengejar.

Pristine, Genesis baru yang dengan wajah yang sangat mirip dengan Silvana, bagai memintanya untuk segera berlari mengejar anak gadis yang dengan cepat menghilang diantara kerumunan itu.


Promosi nih ceritanya saya. Walau ini hanya versi sementara plus ngasal plus plotnya cepet yang mentah-mentah saya ketik dari visualisasi dalam kepala saya. Nama Garlent sama Edgar juga nama sementara.

Kalau ngga berhalangan, cerita ini bakal saya buat jadi komik dan beberapa page-nya bakal siap Juli atau Agustus mendatang.


Prompt: You
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: You
Fandom: Inescapable Future
Chara: Aorin, Xarkhan
----------------------------------------------------------------------

"Eh? Kau mau pergi lagi, Aorin? Baru semalam datang dan siang bolong sudah mau pergi? Kemana?"

"Ke, ke Orkhant--"

"Aah~"

"Bu, bukan begitu! Aku mau mengecek Pilar di sana. Komunikasi dari Luar agak terganggu akhir-akhir ini--jangan menatapku seperti itu!"

"Pipimu merah, Aorin--"

"DIAM!"

...........

'Aorin menuju ke sana. JANGAN KE MANA-MANA'

"Xarkhan, kenapa senyum-senyum?"

"Aku tidak--kembalikan ponselku, Auglur!"

"Wah, wah... jadi ini alasannya mengapa kita berhenti berburu begitu cepat? Sudah kuduga. Tapi bukannya baru minggu lalu Aorin ke Orkhant?"

"Dia cuma mampir--aku bahkan tidak tahu dia datang... jangan nyengir!"

"Memangnya ini rahasia ya? Seluruh Kekaisaran sudah tahu--"

"Cuma para Umbrien!"

"--kalau ada sesuatu antara kau dan Aorin. Ya, Kaisar-ku, seluruh Kekaisaran! Tinggal tunggu waktu sampai salah satu Ratu kelepasan ngomong di pesta... kita tahu seberapa cepat gosip merebak di Kekaisaran."

"Tutup mulut dan suruh para pengawal bersiap kembali, Auglur!"

Auglur beranjak mematuhi perintahnya, dengan cengiran lebar masih terpasang bangga di wajahnya.

-------------------------------------------------

ke, kebayang gak si prompt-nya, un? :writes:
next: dentist / dokter gigi
Edited by Magma Maiden, 18 Mar 2012, 09:13 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
LuthRhythm
Member Avatar
Saya cinta blackpapillon
[ *  *  *  * ]
Prompt: Dentist
Fandom: Nature
Chara: Fire / Air / Ice

.
.


"HAHAHAHAHAHA!"

Pada siang itu Fire tertawa terbahak-bahak. Air hanya mengikutinya dari belakang dengan wajah berpikir dan tangan menutupi salah satu pipinya. Kedua bocah itu, satu laki-laki dan satu perempuan, sedang berjalan ke rumah Ice.

"AKU MEMANG JAGOAAAN!" teriaknya penuh kebanggaan.

"Kau kan membuat anak tadi menangis, jagoan apanya?" Air memandang Fire dengan alis terangkat.

"Tentu saja jagoan. Anak tadi aku tolak, padahal dia sangat menyukaiku. Aku sudah mematahkan hati dia hingga menangis, aih, dia pasti sangat mencintaiku." Fire terkekeh geli. Kedua tangannya ia silangkan di belakang kepala sebagai bantalan. "Omong-omong kau kenapa pegang pipi melulu, sih?"

Air menghela napas, "aku habis dari dokter gigi, dia mencabut gigiku, rasanya aneh..." keluh Air.

"Oh."

Selanjutnya, hening menyelimuti mereka hingga beberapa menit setelahnya, Air bertanya.

"Hey, Fire. Kalau dokter yang mencabut gigiku dan membuatku menangis karena gigi dipanggil dokter gigi, apa berarti kau yang membuat anak tadi menangis karena hati dapat dipanggil dokter hati?"

krik. Dan suasana pun kembali hening karena keduanya sibuk berpikir.

.
.


APA INI *banting kasur*

next prompt: Jangan bergerak! / Freeze!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sylviolin
Member Avatar
good bye.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: freeze/jangan bergerak
chara: Kyou dan Tobi (?)
fandom: original :3
p.s: buat yang baca, ini terserah tobi mau dianggep tobi chara naruto apa mau dibayangkan sendiri wujudnya (?) soalnya aku masukin orific owo/ kalo mau ngebayangin tobi chara naruto, disclaimernya belongs to masashi kishimoto :'D

.
.

"Jangan bergerak!"

Kyou terdiam. Siapa dia sampai berani memerintahkan Kyou untuk menghentikan gerakannya? Namun, walaupun berpikir seperti itu, Kyou tetap menaati perintah kata-kata Tobi. Kyou yang biasanya tidak bisa diam di satu tempat, sekarang berdiri diam, seolah ada sesuatu yang membekukannya.

Tobi berjalan mengelilingi Kyou.

'Jadi, apa yang akan dilakukan lollipop orange ini sih? Mengelilingiku berkali-kali. Aku merasa diamati...' batin Kyou.

Kyou terus menghitung. Sudah dua puluh kali Tobi berputar-putar mengelilingi Kyou, tapi Tobi tidak berhenti juga. Apa yang sedang ia cari dari gerakan mengelilingi itu? Apa yang ingin ia amati dari Kyou?

Sampai akhirnya di putaran ke-23, Tobi berhenti. Tiba-tiba secara ajaib (?) muncul lollipop jeruk busuk di tangan kanannya dan pohon toge baru tumbuh di tangan kirinya. Ia menyodorkan kedua benda itu ke depan Kyou sambil berkata,

"Selamat ulang tahun!"

Kyou, yang telah membeku setelah tadi diperintahkan Tobi, makin membeku setelah disodorkan kedua hadiah itu.

.
.

.______________.
jangan bunuh aku.........

next: putus/break up
/DOR
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
himura kyou
Member Avatar
► A ▼ ► A ▼
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: breakup/putus
fandom: ??
chara: Say dan Yang (saia dah lupa mana yang cewe mana yang cowo orz)

Hari ini cuaca cerah, matahari megah, dan pelangi tujuh warna tercurah. Hari yang indah, sampai pemuda itu berteriak kencang di depan muka kekasihnya.
.
"KITA PUTUS!"
.
Sang gadis terbengong. Ia putar kembali memori tadi pagi. Kekasihnya masih mesra hingga lima detik terakhir tadi. Matanya seketika membasah.
.
"A-ada apa, Yang?"
"Aku ga mau jadi pacarmu lagi, Say!"
"Kenapha, Yhank? Ghennapha?!"
.
Suara si gadis memparau di tengah isak tangis. Reflek sebelah tangannya berusaha menghapus kumpulan air yang memenuhi kelopak matanya. Namun tanpa terduga, si pemuda menyambar tangan mantan(?) kekasihnya dan menggenggam jemari yang gemetar itu dengan lembut.
.
"Aku ga mau jadi pacarmu lagi, Say. Karena aku mau jadi suamimu saja."
.
Sang gadis kembali terbengong dan terlalu takjub untuk menghiraukan air mata dan air hidung yang membanjiri wajahnya, ia bahkan tidak sadar pemuda yang baru saja melamarnya itu kini sedang dilempari kain gombal oleh seluruh penghuni kafe yang mereka tempati.

woke, mari muntah berjamaah. blargh orz
next prompt: dramatic/dramatis
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Kencana
Member Avatar
Riiiiinnn.....
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Dramatic/Dramatis


"Sayangku, aku tak bisa hidup tanpamu."
"Sayang, aku juga."
"Maukah kau mati bersamaku?"
Sebuah anggukan. "Tentu saja."
Alunan musik yang syahdu menambahkan efek dramatis.

"Huh! Sinteron lebay!"

-PIP-

Riri mematikan acara TV yang baru saja ditontonnya. Kakanya, Umi, yang sedang asyik menonton melongo sejenak. Gerakannya mengusap air mata dengan tissue berhenti sejenak. Sedetik kemudian, barulah ia sadar dan langsung ngamuk nggak terima.

"Kamu... sedang asyik-asyiknya nonton juga! Sini, balikan remotenya!" Umi berusaha meraih remote control yang dipegang sang adik.
Tapi Riri lebih gesit. Ia menyembunyikan remote control itu dibaliknya. "Kak, aku ini baru saja menyelamatkan satu jam yang berharga dalam hidup Kakak. Daripada nonton sinteron yang lebay dan serba dramatis kayak gitu, mending nonton ini, nih!"

Riri menyodorkan DVD film '300' karya Zack Synder yang terkenal suka memasukkan adegan sadis di filmnya. Umi merinding jijik. Sebagai cewek, selera adiknya itu emang aneh. Gimana nggak? Riri menyukai film action yang penuh baku hantam nan sadis. Dan sutradara favoritnya adalah Zack Synder. Pernah sekali Umi menemani Riri nonton film Zack Synder. Sepanjang film, Riri meringis ngilu. Nggak jarang, sesekali ia nutup mata saat ada adegan sadis.

"Iihh.... ogah deh! Apa bagusnya film sadis kayak gini?"
"Eh, Kakak! Di film ini ada adegan roman & dramatisnya lho!"
"Masa?" Umi melongo nggak percaya.
"Iya. Saat pembantaian, adegannya dibuat slow motion biar ada kesan dramatisnya gitu. Juga scene percintannya hot abis."
"...."


Next prompt: pregnant/hamil
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ann-chAn
Member Avatar
Kirei na koe de
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: pregnant/hamil
Chara: ???

"Sayang, aku mau makan pencit."

Lelaki itu berhenti menulis, dan menoleh kepada istrinya yang tengah menatapnya dengan pandangan anak-kucing-memelas. Mata beningnya dibuka lebar dengan alis hampir bertaut, dan bibir tipisnya sedikit dikerucutkan.

'Masalah, nih.'

Lelaki itu berusaha menjelaskan dengan sabar, "Sayang, bulan-bulan begini sih belum musim pencit, apalagi mangga. Liat tuh, pohon mangga di depan rumah aja belum ada bunganya."

"Iya sih..." Dia bersyukur dalam hati bahwa istrinya setidaknya masih mau mengerti. "Tapi... pengen banget nih... Rasanya tuh, kalau nggak makan pencit aku nggak bisa makan yang lain."

"Ah, itu kan cuma rasanya. Dilawan dong. Harus bisa, biar nanti anak kita nggak manja."

Istrinya menggaruk bagian belakang kepalanya pelan. "Ngg, iya juga ya... Duh, iya deh, aku usahain." Dia mengecup pipi lelaki itu. "Terusin nulisnya tuh, deadline menunggu."

Lelaki itu menghela napas. Masa-masa hamil memang menyusahkan.

apaan =="
Next: kopi/coffee
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
himura kyou
Member Avatar
► A ▼ ► A ▼
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: kopi/coffee
fandom: ???
chara: yang jelas bukan Mas Heru.

"Buk, bikinin kopi dong. Kopi arabica ya."
Sore-sore duduk santai membaca teenlit di teras rumah memang paling enak sambil minum kopi arabica bagi si bapak, apalagi sehabis hujan begini pasti makin terasa lebih nikmat. Tapi tidak bagi istrinya. Perempuan itu berdiri di samping suaminya dengan berkacak pinggang dan bergeleng-geleng.
.
"Bapaaak.. Bapak. Sudah dibilangin kita itu cuma punya kopi tubruk. Gimana to Paaaak... Pak."
"Lho? Jadi kemarin waktu aku minum kopi arabica itu apa?"
"Lho? Itu kan Bapak minumnya waktu namu ke rumah temen, trus minta dibungkus plastik pake sedotan. Ya ampun, Paaak..."
.
Dan keduanya semakin larut dalam argumen hingga putri mereka yang belum genap lima tahun datang menghampiri dari luar pekarangan rumah. Ia tidak terlalu mengerti apa yang sedang dibicarakan ayah dan ibunya selain kata 'kopi'. Hatinya gembira, betapa kebetulan adalah hal yang sangat indah sekali.
.
"Bapak, Ibu, mau minum kopi? Ini tadi aku bikin sendiri waktu main ke rumahnya Heru."
Sebuah gelas plastik disodorkan olehnya. Bapak dan ibunya takjub dan kagum melihat putrinya yang pintar. Si bapak pun luluh dan tidak lagi ngotot ingin kopi arabica. Dicobanya seteguk, lalu muntah, kemudian pingsan.
.
"Ya ampun! Bapaak!? Nduk, kamu kasih kopi apa bapakmu ini?!"
"Tadi aku sama Heru main masak-masakan. Habis hujan gini jalan di depan rumah Heru banyak lumpurnya. Jadinya mirip banget ma kopi kan?"
Senyum bangga memancar di wajah bocah polos itu, berharap akan mendapat pujian.
Namun sirine ambulans yang menjawab.

next prompt: weird/aneh
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: weird/aneh
fandom: after apocalypse - ori
chara:



Noirae tampak kesal, ikatan bandananya lebih berantakan dari biasanya. Orbus melamun, tatapannya menerawang entah ke mana; bahkan sambil duduk pun ia tetap terlihat jangkung. Kol duduk di seberang Noirae, menatap wanita muda itu dengan matanya yang besar dan gelap; lendir masih menggantung di ujung hidungnya. Gina memainkan tanah dengan ujung jarinya, membuat pola-pola aneh. Matanya masih membengkak akibat menangis semalaman dan tubuhnya bau. Dua hari terakhir ia habiskan dengan berlari menghindari sisa-sisa perompak yang mengejarnya.

Orbus berdiri. "Ada kota kecil di dekat sini, Noirae. Kita bisa istirahat di sana."

Noirae memelototinya. "Kau pikir kita bisa masuk ke dalam kota dengan bocah-bocah aneh ini?"

"Aku bukan bocah."

"Terserah. Tapi kau tetap saja aneh, Gina. Dan kau sendiri, Orbus, mau kau apakan rambut ungu begitu?"

Kol mendadak merapat ke lengan Gina dan mulai menangis. Gadis itu menghela napas. Seorang bocah bisu, gadis penghuni desa terisolir, pria berambut ungu dengan tubuh jangkung dan wanita muda galak. Cuma rombongan sirkus yang akan menerima mereka dengan tangan terbuka.



next: uranium
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sonnet54
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Uranium
Fandom : ???
Chara : Vira, Revon
__________________________________________

Vira menatap cowok jabrik di sebelahnya dengan tatapan risih. Dari tadi cowok satu itu yang terkenal dengan aksi nekatnya menembak guru matematika yang paling cantik di sekolah itu lagi sibuk menggaruk-garuk rambutnya yang penuh ketombe dan alhasil banyak ketombe berjatuhan dan mengotori kertas ujian kimia yang lecek gara-gara dicengkeram dengan penuh emosi dari awal mulai ujian sampai sekarang.

Dan, bahkan sekarang dia kelihatan sudah siap untuk buang hajat di tempat.

Karena kesal-risih-marah-benci-jijik yang bercampur aduk jadi satu dalam hatinya, Vira pun berdiri dari tempat duduknya dan berkacak pinggang, tidak peduli dengan tatapan pengawas ujian dan teman-teman sekelasnya. Dengan suara keras, dia berseru, "Apes banget, ya, gue sebangku ama lo! Bisa diem, gak?! Gue jadi gak bisa konsen neh!!"

Revon yang lagi ngeden ria akhirnya menghentikan aktivitasnya dan menatap Vira bego, "Sori, Vir...Nomor 45 susah banget! Daritadi gue mikir gak udah tau ciri-ciri jawabannya tapi yang spesifiknya gak ketemu-ketemu!"

"Ya, itu karena lo-nya aja yang kagak belajar, autis!"
"Bukan gitu! Ini emang susah!!"
" 'Mang apaan sih soalnya?"

Revon menghela nafas dan berkata, "Gak perlu dibaca soalnya yang pasti gue tau kalo zat kimia ini nomor atom-nya 92. Lambangnya U, terus punya 92 proton dan 92 elektron. Inti zat yang satu ini mengikat sebanyak 141 sampai dengan 146 neutron, jadi terdapat 6 isotop zat. Terus isotopnya itu bersifat radioaktif. Zat kimianya apa, ya, Vir?"

Dengan tampang cengo, Vira menjawab, "...Uranium."

Revon terlihat sedang berpikir sebentar lalu menjetikkan jarinya dengan tampang senang, "Oh, iya! Bener juga! Thanks, ya, Vir!"

Ketika Revon mengambil pulpennya dan menulis jawabannya. Vira masih berdiri mematung di tempatnya sampai-sampai pengawas ujian pun datang menghampirinya dan merobek kertas ujian Vira dan Revon yang nggak terima kertas ujiannya robek karena dia memberi tahu jawaban pada sesama peserta ujian.

Revon memang gak pernah gak bikin cengo seorang Vira.
__________________________________________
Ciri-ciri uranium didapat dari Wikipedia

Next prompt : Antagonist/Antagonis
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
biaaulia
Member Avatar
Newbie
[ * ]
Prompt : Antagonis
Fandom : Ori loh, Ori
Chara : @shinichishirou, @dimasaraide

Cetuk cetuk meja, lalu kembali memperhatikan sang sahabat yang asyik menjajah XBox di apartemennya. Dengan seenak jidat tiba-tiba nongol di depan pintu dengan cengiran lebar, sambil membawa CD game RPG yang 'nggak-Dimas-banget', yang diklaimnya berasal dari bungkusan marun polos yang dua hari lalu tergeletak di atas meja ruang tamunya. Yang ternyata adalah hadiah dari tunangan tercinta. Pantas saja dibawa kemari. Dikira Shinichi akan cemburu.

Cemburu karena Dimasnya diambil sih, iya. Haha.

"Elo nggak pantes banget masuk rumah gw bawa-bawa kaset game begituan, di saat image lo di mata semua orang itu penjahat kelamin," meneguk kaleng bir yang nyaris selalu tersedia di kulkasnya, ia kembali mengecek layar BlackBerry miliknya, bicara sambil lalu, "Biarin," balas yang bersangkutan tanpa menengok dari layar televisi, "Kayak lo nggak pernah gini aja kalo dikasih kado yang 'nggak-Shin-chan-banget' dari Himesama tercinta elo itu," ia melirik sekilas, lalu nyengir boyish (yang menurut setengah populasi wanita di kampus adalah killer smile si lucky bastard), "Gw kira lo bakal cabut malem ini sama dia, makanya gw bawa kunci cadangan gw. Siapa tau elo nggak ada."

"... Kunci cadangan gw kasih biar bisa nitip-nitip bawain kalo barang gw ada yang ketinggalan, Hota-chan. Elo ngomong kayak elo simpenan gw aja," Shinichi merinding jijik, melempar bantal pada cowok di depannya itu, "Lagian, gw sama elo kan sama. Sama-sama PK. Sama-sama antagonis. Sama-sama lucky bastard."

"Bedanya, target gw semuanya cewek. Target elo kadang-kadang kan sebaliknya. Kayak gw, misalnya."

Dalam seketika, kaleng cola yang diminum Shinichi berpindah tempat. Ke kepala Dimas.


H-3, lalu gw bikin fanfic. HAHA /lempar meja/
@dimasaraide adalah karakter fiksi milik @arraraide. Bukan milik saya, dan digunakan tanpa ijin yang punya = )) #digampar

Next : Emoticons
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Nama Saya Putri
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt: Emoticons
Fandom: Ramona dan Sangkar dalam Elegi (original)
Tokoh: Ramona dan Sangkar
"Lo tahu emoticons gak?"
Sore itu mendung, mendung yang rapuh. Kulirik perempuan di hadapanku yang tengah menghabiskan untaian mi kuah terakhirnya; slurp.
Ia melihat ke arahku dengan tatapan heran. "Ya jelas tahulah."
"Oke, kalau lo tahu emoticons sekarang gue tes lo deh." Jari-jariku membentuk 'dua' ke samping dan 'tiga' menghadap dua.
"Kalau ini, lo tahu gak artinya apaan?"
Ditaruhnya garpunya di pinggir mangkuk dengan dentingan khas, ting. Ia menatap lekat-lekat jariku. "Hati?"
"Yap."

"Cih," katanya mengambil -kali ini sendoknya- dan menyeruput kuah sisanya. "Semua orang juga tahu kali itu hati."
Aku menatapnya, sedikit malu. Terkadang aku tak suka dengar nada bicaranya yang (sok) angkuh itu.
"Nah, sekarang giliran gue," katanya setelah mi kuahnya tak bersisa lagi. "Kalau ini?"
Ia mengangkat dua jari telunjuknya dari tangan kanan dan kirinya. "Kalau gue tambahin lengkungan di bawah jari 'sebelas' gue ini, apa artinya?"
"Senyum?"
"Tepat. Kalau yang ini?" Ia memposisikan jari-jarinya sama dengan posisi jariku tadi. "Lo tahu ini."
"Itu hati."
Kali ini hanya anggukan. Tak ada kata. Ironis. Jemari tangan kanannya membentuk sebuah cekungan. "Kalau ini?"
"Itu bukannya 'U' ya?"
"Yap. Jadi, pesan yang gue mau sampein ke lo tau gak? Kan lo pintar?"
"Sangkar, yang pintar itu lo bukan gue. Yang juara kelas itu lo bukan gue. Lo tahu gue."
"Ramona, ini bukan eksakta. Kalau lo ngerti, berarti lo pintar. Coba, apa maksud gue barusan?"
Lama aku berfikir sampai akhirnya aku tersenyum lebar dan, "Lo pasti mau bilang hati lo lagi senyum kan?"
Sangkar, dengan segala kepolosannya berhasil membuat Ramona, lelaki berumur sama dengannya, jatuh mental dengan satu kata saja.
"Bego."
next: uang
Lama tak bersua. Hadeh gua jadi curhat colongan di sini==" /dor
Well, setelah hiatus yang sangat sangat parah, saya memberanikan diri saya kembali menulis; entah itu di ffn/fp, gua gak peduli. atau mungkin menulis udah bukan bakat gua lagi ya? hadeh /dordor
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
neolavender
Member Avatar
In the search of Paradise, the elephant went through hell.
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Uang/Money
Fandom: UNKNOWN
Tokoh: Derpina?
Hijau itu laksana mata air bagi Derpina karena hijau melambangkan uang, yang ia curi dari kas negara, yang tak akan pernah habis berjatuhan di kakinya yang diindahkan oleh sepatu hak tinggi merah. Terlalu tinggi terbang di angkasa akhirnya tak pernah sempat lagi lihat wajah lesu petani dan buruh-buruh di desa Kalimantan atau Papua. Fungsi fundamental uang seharusnya menjadi satuan hitung dan alat tukar, bukan penimbun kekayaan atau modal jabatan. Tapi Derpina sangat haus dan ia tak butuh air mineral atau jus jeruk. Yang ia butuhkan hanya uang dan uang saja. Ia tahu dengan itu ia akan bisa membeli beratus galon wine kalau mau.

Karena itu Derpina tak peduli meski ia harus masuk ke dalam ruangan di balik jeruji berukuran dua meter persegi karena ia tahu cepat atau lambat, layaknya bermain Monopoly Portable di dalam laptopnya, ia akan keluar dari tempat itu. Entah dengan melempar dadu double maksimal tiga kali, atau membayar jumlah uang yang telah ditentukan. Bagi Derpina, keadilan pun tak luput dari jerat maut kertas hijau kecil bernama uang.

Lagipula pada dasarnya uang itu bermata dua, dasar dari segala hal dan pembatas dari hal lainnya. Kalau tak berhati-hati digunakan, niscaya rugi sendiri pada akhirnya. Ironis, ia baru menyadari fakta itu setelah ia tahu ia tak bisa membeli nyawa Derp tersayangnya yang telah dipanggil oleh bank akhirat.
Yak, saya kesal karena saya otaku tak bermodal #apahububungannya

Anyway, next prompt is Jakarta.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Koryuusei
Member Avatar
Calm the lost souls of darkness, and guide them to heaven! Moon Shadow Magatama!
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Jakarta, mbo
Fandom : Em... entahlah, yang jelas ori
Chara : Smithus dan Frida

Siang yang panas, sang bule nyasar dari Latin, Smithus, sedang berjalan-jalan menggunakan BMW bajaj. Sampailah dia di tugu tercinta di Jakarta, Monas. Ia memeriksa HP CranBerry tercintanya, dan tertulis nama 'Frida' di layarnya. Lalu ia menelpon orang tersebut.

"Halo, Frida. Kau ada di mana? Katanya mau janjian di sini."

"Oh, aku masih di jalan, Smithus. Sebentar lagi aku sampai" kata Frida.

"Ya udah, aku tunggu."

***

"Ya Allah Ya Robbi, ini udah jam 8 malam, tapi Frida masih belum datang. Dimana dia?" tanya Smithus hampir teriak (sampai terdengar di seluruh Jakarta). Dengan rasa kesal, ia menelpon kembali Frida, sang kecengan. "Halo, Frida, kau ada di mana?"

"Eh, Smithus, ada apa, nih nelpon? Aku lagi di rumah, nih."

"Rumah? Tunggu, gimana dengan janjian kita di Monas?"

"Janjian? Kau tidak pernah membicarakan soal itu kepada saya. Mungkin kau ngigo, kali. Ya udah, sampai besok, ya." Dan telpon pun terputus.

"NOOOOO!!!" Teriak Smithus sampai terdengar ke Luar Jakarta.


It's totally fail



Next Prompt: CorelDraw aja, deh.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
neolavender
Member Avatar
In the search of Paradise, the elephant went through hell.
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: CorelDraw
Fandom: Original
Tokoh: Blabla, Tralala
"Sialan, guru itu. Seenaknya saja menyuruh kita mendesain yang aneh-aneh begini. Aku yakin besok ia juga takkan menilai satupun desain kita." Keluh Blabla kesal. Guru killernya itu memang hobi sekali menindas dan menyengsarakan anak. Tugas akan diberikan bertumpuk-tumpuk dan akan dinilai asal olehnya.

"Hei, jangan begitu. Kalau nilai kita jelek, kita takkan lulus." Tralala berusaha untuk menenangkan temannya. Sudah dua jam keduanya terpaku di warnet dekat sekolah. Mereka tak punya aplikasi CorelDraw yang menjadi materi utama tugas kali itu, jadi mereka harus rela pergi ke warnet. Di sela kesibukannya itu, Tralala menguap lebar.

"Kau sudah ngantuk, ya?" Tanya Blabla yang merasa tak enak hati. "Padahal kau sudah membuatnya tapi aku malah menghilangkan datanya. Maaf, ya..."

Tralala tersenyum. "Tak apa. Lagipula yang itu masih belum di-edit."

Namun Blabla tetap khawatir. "Begini saja, deh. Aku yang akan menyelesaikan tugasmu ini. Tinggal border line, kan? Aku bisa mengerjakannya dengan cepat." Jelasnya.

Tralala awalnya ragu. Namun setelah ia pikir, ia juga harus cepat pulang jika tak mau ibunya mengomel yang aneh-aneh. "Kau serius? Aku memang harus pulang cepat, sih..."

Blabla mengangguk. Dengan itu, Tralala setuju untuk membiarkan temannya menyelesaikan tugasnya dengan satu alasan: Blabla harus menyelesaikan tugas desain logo miliknya dulu. "Huft, lelah sekali. Tanganku pegel..." keluh Blabla. Sejam kemudian ia habiskan untuk menyelesaikan desain logo miliknya. Ia membuat logo maskot chibi; berhubung ia seorang otaku berat. Setelah selesai, barulah ia melanjutkan tugas milik Tralala. Namun sesuatu yang aneh terjadi.

Dari sudut dekstop nya keluar sebuah animasi aneh. Matanya besar dan ia memakai pakaian yang lucu. Butuh beberapa detik sampai Blabla menyadari... bahwa animasi itu adalah gambar logo maskot nya. "Eh?! A-apa, ini? Apa aku salah program?"

Tanpa disangka-sangka, maskot itu menjawab. "Salam kenal, tuan. Nama saya Chibi. Saya bertugas untuk membantu semua kesulitan Anda." Ucap Chibi sambil memberikan hormat dan sebuah senyum.

Blabla hanya bisa melotot. Lalu melakukan head desk.

To be continue...
Ahaha, apa ya yang barusan itu :/ yah biarlah, mumpung saya lagi seneng ngetik...

Next prompt is Dekade/decade.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
Learn More · Sign-up for Free
Go to Next Page
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone