

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only. | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (11,057 Views) | |
| hansel. | 10 Jan 2012, 05:40 AM Post #211 |
![]()
why-o.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: permainan peran / roleplay fandom: (aduh lupa dulu saya kasih judul apaan ya? :|) chara: ashton/esther. "Kita lakukan uji coba!" "...hah?" "Kau, pura-pura jadi si demon. Sementara aku, tetap menjadi aku, pemburu demon paling hebat yang akan mengalahkanmu," tak menyadari bahwa ekspresi wajah lawan bicaranya tiba-tiba berubah kaku, Esther melanjutkan ucapannya dengan cepat sembari mengacungkan bilah pedangnya ke arah Ashton. "Kita uji coba, supaya aku tahu apa yang harus kulakukan nanti saat akhirnya bertemu dengannya. Hitung-hitung latihan pedang juga." "Tidak," sahutannya terdengar dingin. Sepasang kristal hitam yang biasanya bersinar cemerlang kini malahan nampak begitu keruh seolah digelayuti mendung seperti langit di luar sana. "Jangan ajak aku kalau kau ingin bertingkah bodoh." Tungkainya bergerak, melangkah pergi dari tempat ini. Meninggalkan sang gadis di belakang punggung. Ini bukanlah permainan peran. Ashton mengumpat dalam hati. Demon yang dicari-cari oleh Esther memang dirinya. - Esther terpana, tak mampu berkata-kata, dengan dada yang berdenyut menyakitkan. Baru kali ini Ashton menanggapi sikapnya dengan begitu kasar. Pedangnya terjatuh dari genggaman yang melonggar lemas, berdenting nyaring tatkala bertemu dengan lantai batu. Bulir bening mulai meleleh dari sudut mata. ngik. kenapa jadi galau .___. *eluselus ashton* *brb blending esther* #plak next prompt: bridge/jembatan. |
![]() |
|
| LuthRhythm | 11 Jan 2012, 03:45 PM Post #212 |
|
Saya cinta blackpapillon
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: bridge / jembatan fandom: nature ori chara: fire ice *** Siang yang panas, seorang gadis, Ice, bermandi peluh di sekujur tubuhnya. Karena panas? Tidak juga. Lalu, karena apa? Ice menggeser kakinya sedikit demi sedikit, inci demi inci, dengan sisa-sisa segenggam keberanian yang sebenarnya hanya tersisa beberapa butir kecil di genggaman maya. "Penakut," celetuk Fire, kekasihnya sekaligus temannya sejak kecil dengan menyebalkan. "Di...diam ka-kau... be-berengsek..." Suaranya goyah, bergetar hebat, peluh masih terus menerus keluar dari sela porinya. Oke, mereka kini sedang berada di sebuah jembatan yang terlihat sangat rapuh (namun entah kenapa tertulis 'aman' di papan depan jembatan). Jembatan kayu bapuk dengan tali-tali bapuk!--batin Ice dalam hati. Ice masih menggeser kakinya sesenti demi senti dengan pegangan erat pada tali yang sebelumnya ia kutuk karena bapuk, sedangkan Fire berjalan dengan santai di sampingnya tanpa berpegangan, berniat meledek sekaligus berlagak keren di hadapan sang kekasih yang karap kali memarahinya tiap ia memiliki pendapat yang agak emosional. "Penakut." Fire memancing amarah, lagi. "Cih." Ice tidak meladeninya, ia lebih peduli pada hidupnya saat ini karena itu ia hanya berkonsentrasi pada kakinya dan penyebrangannya yang semoga selamat. Memangnya apa yang dia harapkan? Berloncat-loncatan di atas jembatan bapuk ini, hah?--oke, ternyata diladeni oleh Ice, dalam hati. "HEYYYEAAAAHHH!!!" pekik Fire disampingnya sambil loncat-loncat tanpa henti. "FIREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!" teriak Ice ketakutan. Peluhnya masih membanjiri, keringat dingin yang tak henti-henti keluar dari setiap pori. Fire berhenti meloncat mendengar teriakan Ice. "Apa?" tanyanya dengan cengiran menyebalkan. KRAK! Sontak Fire memeluk Ice yang segera memegang tali lebih erat. "...su-suara apa tadi?" Fire bertanya basa-basi. Sudah jelas itu adalah suara sesuatu yang berhasil patah karena loncat-loncatannya tadi. Ia tidak tahu apa, yang jelas sesuatu telah patah. "...kita akan mati, Ice... aku menyayangimu, sungguh..." Ice tidak memiliki tenaga untuk membalas ucapan Fire. Yang jelas ia masih menggeser kakinya sedikit demi sedikit sembari memegang tali dengan lebih erat dari pada sebelumnya. Hingga akhirnya, ia sempatkan diri untuk berbicara: "Kalau kita mati, kutendang kau ke dasar neraka." ...dan Fire pun ketakutan. *** ini gak jelas -____-" next prompt: Bantal / Pillow |
![]() |
|
| Endorphine | 11 Jan 2012, 08:25 PM Post #213 |
![]()
heartstopper.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
bantal/pillow original adam; luke Usia Luke yang mulai memasuki fase pertumbuhan benar-benar membuat kakaknya kewalahan. Adam sering berharap agar orang tua mereka cepat pulang dari pekerjaan masing-masing. Karena--serius, Luke itu bocah kecil yang sangat manja, untuk anak umur empat tahunan. Masih suka ngompol, merusak barang rumah kemudian menangis, sering mewek minta dibuatkan susu, tidak terhitung. Adam sendiri terkadang tidak mengerti apa yang diinginkan oleh adiknya itu, karena yah, rasa keibuannya tidak sekuat perempuan, bukan? Satu yang Adam sukai dari Luke, kelakuannya menjelang tidur. Luke masih belum berani tidur di kamarnya sendiri sehingga setiap malam, bocah bermata biru itu selalu 'numpang' tidur di kamar kakaknya. Dirinya seringkali mengklaim bantal satu-satunya di ranjang Adam, kemudian menyuruh sang kakak untuk tidur tanpa bantal. Mau tidak mau, Adam harus menuruti kemauan adiknya tidur tanpa bantal namun masih satu ranjang dengannya; atau dia akan merasakan neraka satu malam mendengar tangisan Luke yang menggelegar semalaman penuh. (walau begitu, Adam tahu kalau ulah 'klaim' bantal ini tidak akan berlangsung lama, mengingat Luke selalu membuang bantalnya di tengah malam dan tidur tanpa bantal dalam dekapan Adam sendiri) Mimpi buruk? Berterima kasihlah pada bantal. pedoshota :9 #GAKGITUJUGA next prompt: air lemon/lemonade |
![]() |
|
| hansel. | 12 Jan 2012, 10:31 AM Post #214 |
![]()
why-o.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: air lemon/lemonade fandom: serendipity? chara: ashton, esther. Esther menghela napas, kelelahan akibat latihan pedang yang baru saja berlangsung antara dirinya dan Rainier. Punggungnya direbahkan pada rerumputan yang terasa menusuk-nusuk geli. Peluh mewarnai wajah, dan tubuhnya terasa lengket--dengan pakaian yang dikenakan kini menempel erat dan membentuk lekuk tubuhnya yang... well, datar. Sinar mentari yang terik memancar kuat dari puncak kuarsa langit, membuatnya gerah. "Mau?" Sebuah suara membuat kelopak matanya yang sempat tertutup membuka. Sepasang kristal kecokelatan menangkap pemandangan pemuda seusianya yang membawa gelas berisi cairan kekuningan, dengan embun menghiasi sisi luar kaca--menandakan air yang berada di dalamnya memiliki suhu yang lebih rendah daripada sekitar. Senyum terkembang lebar di bibir sang gadis, dan ia bangkit untuk duduk. Tangannya langsung saja meraih gelas yang diulurkan dengan penuh syukur. Benar dugaannya, kulitnya kini terasa sejuk begitu ersentuhan dengan kaca yang berembun. Tanpa membuang waktu, ia meneguk cairannya, merasakan kesejukan menyapa tenggorokan yang kering. "Enak. Ini apa?" Pertanyaan seingkat sebelum sang gadis melanjutkan kegiatannya meminum likud encer tersebut. "Air kencing kuda." Sontak Eshter menyemburkan air dalam mulutnya. "Sari lemon biasa kok," Ashton terkekeh riang tanpa dosa. Pedang yang berada di sisi tubuh kini berpindah ke dalam genggaman tangan, siap menebas pemuda di hadapan. <3 next prompt: shooting star / bintang jatuh. |
![]() |
|
| Dai-kun | 12 Jan 2012, 06:54 PM Post #215 |
|
sun shine!
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt : shooting star/bintang jatuh chara : Bunda, Lintang, Bintang ~~ Semesta jumantara telah berubah warna menjadi hitam, meninggalkan seorang anak manusia yang terdiam, menangis di hadapan sebuah makam. Ia tepekur sejak matahari masih tinggi, tak lagi sanggup menangis, air matanya telah kering. Peluknya erat pada sebuah nisan di sana, layaknya peluknya pada kenangan bersama orang yang dikubur didalamnya. Tak terlepaskan. "Bintang..." Bisik hangat penuh kasih sayang dari seorang wanita di balik tubuhnya pun tak ia hiraukan. Ia mematung di hadapan makam itu, seakan mengharap si mati akan kembali hidup. Baru setelah si wanita tua memeluknya hangat, anak lelaki itu berbalik. "Bunda, kenapa Lintang pergi duluan?", tanya Bintang. Sang ibu tersenyum, tangannya menunjuk langit, seakan memberi isyarat Bintang untuk menatap bintang yang berkelipan di sana. Sebuah bintang jatuh melintasi andromeda, dan ibunya pun mulai bercerita. "Lintang ingin kamu seperti bintang jatuh, Bintang", bisiknya. "Minggu lalu kamu tak ikut ke rumah sakit, ya?" Bintang mengangguk, malu. Jika saja ia tahu bahwa itulah saat terakhirnya untuk bertemu saudara-kembar-beda-sifatnya itu, ia takkan menghabiskan waktunya di mal. Ah, sudahlah. Nyawa manusia adalah rahasia Ilahi, bukan? Manusia, sekalipun peramal dengan ekspektasi dan tingkat akurasi hebat, takkan bisa memperkirakan kapan sebuah nyawa akan habis masa berlakunya dan kembali ke haribaan Sang Pencipta. "Lintang cerita pada Bunda, katanya ia ingin kau seperti bintang jatuh. Meski kau jatuh, sakit dan merintih, kau akan dapat memberi harap pada mimpi-mimpi yang mengantri ingin jadi nyata... Kau boleh menangis malam ini, tapi jangan sampai mentari menangkapmu sembab besok pagi..." Bintang terdiam. "Dan Lintang titip pesan untukmu. Ia minta maaf tak pernah menceritakan tentang penyakitnya. Ia pun menitip surat pada Bunda, dan Bunda belum membukanya. Katanya, surat itu hanya untukmu" "Ah, Lintang. Kau licik, tahu. Aku sudah tahu apa yang ada di dalam surat itu.", pikir Bintang. Namun akhirnya Bintang luluh dengan tawaran surat itu dan mengizinkan tangannya digandeng sang Ibu, menuju rumah mereka. "Aku juga mencintaimu, Lintang. Izinkan aku menjadi bintang jatuhmu, yang selalu memberi harap akan mimpimu di sana..." desis Bintang dalam hatinya. ~~ #fail #ceritanyaincest next : suara / voice |
![]() |
|
| hansel. | 13 Jan 2012, 01:44 AM Post #216 |
![]()
why-o.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: suara / voice fandom: serendipity. chara: ashton/eshter. . "Jangan pergi!" "Kau gila?! Tidak dengar suara jeritan minta tolong yang tadi, Ash?" "Justru karena aku mendengarnya, makanya aku melarangmu pergi." "Jangan bercanda. Ada orang yang buuh bantuan kita!" "Itu bukan suara manusia. Itu demon yang berpura-pura!" "...bagaimana kau tahu?" "Aku bisa mengenali suara demon. Dia jelas-jelas mencoba menangkap orang yang tertipu oleh suaranya." "Wah, kau hebat." "Karena itu, Esther, kau--" "Tapi aku tetap harus pergi." "--HAH? Kau tak memercayaiku?" "Percaya kok. Tapi mungkin saja ada orang lain yang masuk dalam jebakan itu kan? Aku harus menyelamatkan siapapun yang terperangkap. Kalau bisa sih sekalian membasmi demon itu. Makanya, aku harus pergi." ... "Tsche." Ashton menghela napas, kesal. "Aku ikut." Bayangkan, seorang pangeran demon membantu hunter untuk menangkap demon. Andai almarhumah ibundanya mengetahui hal ini, sang ratu demon itu pasti akan bangkit dari kubur dan menghantui Ashton dengan cercaannya. Masalahnya, ia tak bisa begitu saja membiarkan Esther berkeliaran di hutan seorang diri pada malam hari. Gadis itu.. berharga, baginya. Sigh. (〃∇〃) next prompt: mystery/misteri |
![]() |
|
| Endorphine | 29 Jan 2012, 06:38 PM Post #217 |
![]()
heartstopper.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
mystery/misteri original kau dan misteri (?) Suara yang tanpa hentinya menjawab ulang seluruh ucapan yang kau dengar benar-benar menjadi sebuah misteri. "Aku benci kamu." (aku sayang kamu.) . "Silahkan. Pergi saja sana." (jangan tinggalkan aku.) . "Aku tidak butuh keberadaanmu." (aku tidak mau kehilangan dirimu.) . "Salah ya, kalau aku bertindak sesukaku?" (salah ya, kalau aku tidak ingin kau menderita?) ...Namun kau tidak menghiraukannya. Kau bersikeras pada dirimu sendiri; bahwa semua ini hanyalah imajinasi belaka. Bukan sebuah misteri, bukan pula sebuah masalah yang perlu kaucemaskan. . Tapi kau tahu dengan pasti; kalau suara tanpa asal itu bukanlah permasalahannya. Yang menjadi sebuah misteri tanpa ujung adalah-- --apa yang membuat suara itu terus menghantuimu? /gegulingan ih gaje muheuhuahsiaheadasdjkhaskdha next prompt: senja/sunset |
![]() |
|
| Magma Maiden | 29 Jan 2012, 09:55 PM Post #218 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: senja/sunset fandom: 33 vs 7,000,000,000 judul sementara, un chara: Eiar ----------------------------------------------- Eiar menyukai waktu senja. Aku bisa mengetahuinya dari caranya menatap kaki langit; dengan mata melebar dan bibir sedikit memisah. Dan kedua tangan (ya, ia ambidextrous) yang biasanya menarikan kuas nonstop berhenti. Kepalanya tegak, wajah terarah ke tepi barat dunia, seolah mengantar bola gas raksasa itu pergi menghangatkan belahan dunia yang lain. Lima belas menit adalah waktunya berhenti Melukis untuk menghargai momen bernama senja. Dari lukisan-lukisannya, kami tahu ia sangat menyukai momen senja--meski apa yang ada di kanvas tak sesuai dengan apa yang ada di depan mata: senja di atas deretan pohon cemara, senja di lembah berbunga, senja di kota metropolitan, senja dari jendela kamarnya... Sementara senja yang kami tahu hanyalah matahari merah yang murka di atas bumi gersang, menandai permulaan dua belas jam melawan milyaran zombie. 33 orang, dan hanya Eiar seorang yang ingat seperti apa senja sebelum semua kegilaan ini dimulai. ----------------------------------------------------------------------------------- arrr~ gaje, un. next up! newlyweds/pengantin baru |
![]() |
|
| hansel. | 2 Feb 2012, 11:54 PM Post #219 |
![]()
why-o.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: newlyweds/pengantin baru fandom: serendipity :"| chara: rainier, eshter, ashton. // "Selamat menempuh hidup baru!" Eshter memaksakan lengkung senyumnya tetap terukir sempurna di bibir, dengan pipi yang mulai pegal menahan ekspresi tertahan. Jemari terentang lebar, mengulurkan buket bunga cantik yang dirangkai khusus untuk sepasang pengantin baru di hadapan. "You are the best, sist," Rainier menepuk pelan puncak kepala gadis yang jauh lebih muda darinya tersebut, mengacak pelan surainya. Sementara sang istri meraih dengan lembut hadiah yang diberikan, tertawa kecil membaca secarik kertas yang terselip di antara tangkai, lalu tersenyum sumringah, "Terima kasih banyak~" Eshter tersenyum untuk terakhir kalinya dan berbalik, berlari menyongsong pemuda lain yang menanti di bawah bayang pepohonan tak jauh dari tempat pesta. Menabrak, lalu memeluk, menyembunyikan wajah di dada lawannya. Ashton melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang sang gadis, membawanya lebih dekat, membagi kehangatan. Eshter terisak pelan. Cinta pertamanya baru saja runtuh. // dan saya masih suka rain/esh ; ; #nggakusahcurhatdeh next prompt: story/cerita |
![]() |
|
| Arine | 12 Feb 2012, 12:47 PM Post #220 |
|
SoruIta love~
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Ikutan lagiiiii...!!! #berisikplak prompt: story/cerita fandom: chara: Ilham, Dahlia ... Pelarian mereka menghantarkan mereka menuju puncak bukit. Mungkin ia hanya lelah untuk berlari dan tidak ingin lagi menghindar, dan gadis itu juga sudah berkata 'berhenti' begitu nyaring padanya. Mungkin hanya karena genggaman eratnya yang membuat gadis itu berteriak dan berkata demikian. Tapi, yang manapun, mereka telah berada disebuah tempat yang baru. "Il-Ilham?" Matanya melebar menatap langit diatas mereka. Putih, putih. Putih yang menutupi biru pastel diatas sana. Wajah berlumur lumpur dan darah itu tampak melega, sedikit demi sedikit, dari tampang kerasnya yang takut bahwa pasukan negara Reak akan mengejar mereka lagi. Walau menghindar juga bukan pilihan yang bijak. Ia telah membawa pergi putri mahkota kerajaan itu. Kejahatan terlarang. Tingkat tinggi. Hukuman mati adalah pasti. Tapi, Dahlia adalah adiknya, bagaimana bisa mereka menghukum seseorang yang hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya? Kerajaan itulah yang mengambil adiknya darinya. Dan ia hanya mengambil apa yang menjadi haknya. Karena begitulah ia bekerja. Namun... "...Kau benci harus keluar dari kerajaan itu, Lia?" tanyanya pelan. Adik yang tengah menatap langit, sama sepertinya, mulai mengarahkan mata ambernya padanya. Pandangan polos yang telah lama ia rindukan. "Tidak." jawaban yang tegas. "Aku bersamamu sekarang. Dan begitulah kita seharusnya dari sepuluh tahun yang lalu jika saja aku tidak dibawa pergi oleh Nini. Kau mencariku selama ini, Kak?" Perlahan, ia mendekat. Membawa gadis berbaju renda itu ke pelukannya. "Selalu." Gadis cantik berambut emas dan berenda merah muda. Lelaki besar dengan baju zirah dan pedang baja. Namun, cerita mereka bukanlah cerita biasa dimana seorang lelaki dan perempuan bertemu dan memadu cinta. Walau apa yang ada dan menyatukan mereka adalah perasaan itu juga, sekalipun dalam konteks yang berbeda. "Kita tidak akan terpisah lagi." Ya. Cerita mereka berbeda. Karena ia adalah sang kakak dan gadis ini adalah adiknya. Adik yang berusaha ia cari hingga menyeberang samudera dan melintasi berbagai benua. Adik yang merupakan belahan jiwanya. Adik, yang sampai kapanpun, adalah dunia baginya. ... prompt: threesome/tiga orang/ bertiga/ melakukan sesuatu bertiga |
![]() |
|
| Ann-chAn | 16 Feb 2012, 09:21 AM Post #221 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: threesome/bertiga Fandom: belum ada namanya :') Chara: Ferc/Vidia Tampak seorang wanita muda sedang duduk bersama seorang lelaki dengan rambut merah. Di hadapan mereka terhampar tumpukan kue-kue ringan serta dua cangkir teh beserta satu teko keramik yang terlihat sangat mahal. Wanita bersurai perak itu menatap piring-piring kue yang sangat menggoda. “Ayo dimakan, Vidia,” ujar si lelaki riang. “Ada banyak nih.” “Aku bisa lihat kalau ada tumpukan kue di sini, Ferc,” tukas Vidia. “Dan justru itu yang membuatku ragu. Untuk apa hidangan sebanyak ini? Kan hanya ada kita berdua.” Frechordo ikut-ikutan menatap kue-kue itu. Tangannya mengelus dagu, dahinya mengernyit sedikit. “Kurasa para maid di dapur menganggap hubungan kita patut dirayakan, jadi mereka menyiapkan banyak sekali kue untuk waktu minum teh ini,” gumamnya, dengan senyum lebar di wajah. “Ayolah, makan saja, daripada hasil kerja keras mereka terbuang begitu saja.” Vidia mengambil sebutir macaron dan menggigitnya. “Walaupun kumakan, tetap saja akan bersisa.” “Iya sih,” jawab Frechordo sambil menyesap tehnya. “Sebaiknya kita panggil Fran dan menghabiskannya bertiga.” “Bertiga?” “Ya, bertiga. Gamma sedang tidak ada di rumah.” Frechordo mengerling pada Vidia, wanita yang telah merebut hatinya itu. “Tapi... saat ini aku ingin berdua saja denganmu. Tiga orang itu terlalu ramai,” bisiknya tepat di telinga Vidia, membuatnya sedikit merinding. Tangannya pun mulai mengelus tangan Vidia yang masih memegang sisa macaron. “Baiklah, baiklah! Aku mengerti, jadi berhentilah merayuku.” Frechordo menyeringai senang. Apa ini. Prompt: hamil/pregnant |
![]() |
|
| hansel. | 27 Feb 2012, 10:56 PM Post #222 |
![]()
why-o.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: hamil/pregnant fandom: serendipity series chara: biasa ' '/ "Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Penting." "Hng?" "Aku hamil--" Esther menyemburkan air dalam mulutnya, membelalakkan mata, dan tak mampu menahan teriakan kaget, "HAH?!" "--tapi bohong." Cengiran dan kekeh kecil yang lolos kian membuat sang gadis naik pitam, "JANGAN BERCANDA YANG ANEH-ANEH!" Tangannya mencengkeram senjata yang tadinya bertengger di tempatnya dengan tenang. "KAU MAU MEMBUATKU TERKENA SERANGAN JANTUNG!?" Ashton terbahak sampai batuk-batuk. Ia berusaha menghindari sabetan pedang yang diayun oleh lawan bicara. "Maksudnya kucingku! Yang hamil dia! Berhenti menyerangku, heh!" Meringis geli, "Aku tadinya mau menawarkan salah satu bayinya untukmu." "OGAH!" nextprompt: hug/peluk? |
![]() |
|
| sylviolin | 27 Feb 2012, 11:11 PM Post #223 |
|
good bye.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: hug/peluk fandom: nggak tau =))) chara: tak bernama .__. . .Halo, kamu. Kamu tahu? Dibanding genggaman tangan atau sebuah ciuman, aku lebih suka pelukan. Kamu pernah dipeluk secara nyata? Aku belum. (Ah—sebenarnya sudah, tapi beberapa tahun yang lalu. Aku sudah lupa rasanya.) Aku hanya membayangkan, dipeluk itu rasanya seperti—entahlah, aku tak mengerti bagaimana mendeskripsikannya. Erat, tapi tak menjerat. Kuat, tapi tak mengikat. Jika kamu memeluk seseorang, rasanya seolah kamu tak ingin dia lepas darimu. Dan dengan itu, berarti kamu menginginkan kehadirannya, membuatnya merasa bahwa ia ada—ia bukan sekedar bayangan maya. ... Jadi... maukah kamu berbagi pelukan denganku? Tertanda, —aku. . ."Hai! Apa kabarmu? Lama kita tak berjumpa!" seruku ceria saat akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya, setelah bertahun-tahun tak bersua. Ia diam. Ia berjalan menghampiriku, tapi tak menjawab kata-kataku. Dan tiba-tiba— —tak ada hal lain yang bisa kurasa, kecuali hangat. Sebuah pelukan tanda perjumpaan kembali yang menenangkan hati. . . . . . . .BUANG AKU. abis promptnya sih ;w; . . next: rabbit/kelinci please? :3 |
![]() |
|
| musukocchi | 4 Mar 2012, 05:11 AM Post #224 |
|
—hey, Wolfram! I love you!
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: rabbit/kelinci fandom: Dandelion ![]() chara: Si Manis Warning: daily language, bahasa yang nggak terlalu formal. .___. << dia lagi galau --------------------------------------------------------------------------------------------- Pernahkah kau meluangkan waktu untuk berpikir sejenak, wahai Tuanku yang tak beradab? Oh, aku tau, kau tak mendengarkan aku. Atau barangkali tak mengerti bahasaku. Ya, tak perlu terkejut. Karena kau adalah manusia sedangkan aku adalah kelinci. Jelas, bukan? Namun aku heran, kenapa kelinci lebih beradab dan berpikir rasional ketimbang kau bangsa yang tak tau diri. Oke? Mungkin aku terlalu frontal, tak mengapa. Lagipula kau tak mengerti bahasaku, bukan? Bahkan mungkin kau menganggapnya sebuah ke-imut-an belaka apabila kelinci bercuat-cuat seperti ini. Hah, annoying. "Kau imut sekali, Si Manis~! Sini-sini aku cium--" Ingin sekali aku mencakar mukamu kala tubuhku jatuh ke dalam pelukanmu. Jujur saja, aku ini sudah dewasa. Enggak banget kalau digendong-gendong seraya ditimang-timang, aku sudah dewasa, oke? Oh oh, aku terlalu emosian. Sebenarnya bukan itu inti permasalahan yang ingin aku jabarkan untuk engkau wahai bangsa yang menjunjung tinggi HAM walau pada akhirnya hanya sebuah formalitas belaka. Haha, benar, 'kan? Yang ingin aku tekankan di sini adalah: keegoisanmu dan kekejamanmu terhadap kaumku dan tak terkecuali sebangsaku yaitu hewani. Kandang kayu mahoni yang luasnya tak lebih dari 20x30 sentimeter menjadi tempat kami bersemayam selama seumur hidup. Eh salah, bukan kandang namun kurungan lebih tepatnya. Dengan besi-besi metal yang mengitari sekelilingnya. Apa itu yang kau sebut tempat tinggal? Apa itu pantas kami miliki? Enggak banget deh. Oh please, c'mon. Kami juga makhluk ciptaan Tuhan yang menuntut kehidupan yang layak. Bisa nggak, dibebaskan saja gitu. Nggak perlu dikurung segala. Kecuali kami adalah napi seperti makhluk sejenis kalian yang berbuat kejahatan itu. Nah, itu sih pantas. Aku ingin sekali dapat melompat-lompat kegirangan di luar tanpa ada dinding penghalang yang membatasi langkahku. Menjilati bulu-bulu yang mulai berguguran tanpa harus khawatir akan bau tak sedap dari balik jeruji besi. Kalau kau menamai dirimu penyayang binatang, penyayang kelinci, kau patut menanamkan ucapanku ini baik-baik di otakmu. Ingat! Nggak perlu deh menamai kami imut-imut kalau pada akhirnya hidup kami sengsara. Kami cuma butuh pemilik yang pengertian, titik! Epilog Duar! Duagh! Broar! "Permirsa, di sini saya melaporkan secara langsung dari pusat kota. Dikabarkan seluruh kelinci dari segala penjuru kota berprilaku ganas dan menyerang kota. Sampai sekarang tidak ada yang tau penyebabnya--ah ah! tolong! Saya dikejar--" ------------------------------------------------------------------------------------------------------- nggak berhenti ketawa, gaje beneeer. Ini sebenernya lebih tepat disebut curhatan daripada drabble terinspirasi dari kelinci-kelinci saya yang lebih sering dikurung di dalam kandang daripada dilepaskan. Oke, kandangnya emang cukup luas, tapi tetap saja nggak bebas untuk mereka. Bahkan pernah suatu saat ngga dikeluarkan hingga berminggu-minggu karena kesibukan kami sekeluarga, sampe ada seekor kelinci yang mati. u-ukh, di situ saya nyesel kali terus saya minta maap buat cilpi kalo prompt-nya nggak sesuai. Saya lagi galau, btw ![]() next prompt: enigma Edited by musukocchi, 4 Mar 2012, 05:14 AM.
|
![]() |
|
| Chyka | 16 Mar 2012, 11:46 AM Post #225 |
|
i love you. shall i destroy you? ♥
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
prompt: enigma fandom: rpf indoolympians characters: Camellia Pendragon dan Drew Anderson (...PMnya Drew, pinjem ya 8D #plak) Another characters that mentioned belongs to their respective PMs :] Bagi Drew Anderson, setelah waktu berlarian selama mungkin pun, Camellia Pendragon tetaplah sebuah enigma yang (mungkin) tak akan pernah bisa dia pecahkan. Drew mengenal gadis itu sudah lama sekali, semenjak kedatangannya ke bukit blasteran entah berapa tahun yang lalu. Theresa, begitu dia biasa memanggil Camellia, selalu saja bisa membuatnya kelimpungan. Entah karena lakunya yang tidak biasa atau fakta mengapa hanya sang Skotlander yang mampu membuatnya merasa kelewat nyaman dan menanggalkan eksterior kaku (..selain Vienna Morgenstern, jauh sebelum gadis dengan senyum riang itu datang dan menghias mimpi-mimpi tanpa wangsit Drew dengan wajahnya). Kadang pun Drew akan menatap langit-langit kabinnya dan bertanya-tanya, alasan apakah yang membuatnya tetap menjadi sahabat Camellia Pendragon—mungkin dia memang masokis, mungkin mereka memang sudah ditakdirkan oleh para Moirae untuk bersama, mungkin— —tapi dia tak tahu, dan Drew sama sekali tidak menyukai ketidaktahuannya. Pemuda itu hanya tahu, kalau kau sudah mengenal seseorang setelah sekian lama seharusnya kau sudah tahu banyak hal tentang mereka. Seperti antara dia dan Daniel. Seperti dia dan Charlotte. Seperti dia dan Reyna. Tapi pada Theresa, well, Drew sendiri ragu kalau dia mengenal gadis itu sebaik sang dara mengenal dirinya. Gadis itu misterius, dengan ragam ekspresi yang tak pernah bisa Drew artikan dengan gamblang, a riddle wrapped up in an enigma. Tapi Thee selalu mengenal Drew, selalu mengetahui apa-apa yang dia rasakan (dan pikirkan, dan ketahui, dan, dan—). Rasanya tidak adil karena seharusnya Drew juga mengetahui hal-hal sebanyak yang Theresa ketahui tentang dirinya. Dia keberatan, sangat. Namun sekarang ia tak keberatan lagi. Karena kini Drew tahu alasannya bertahan selama ini menjadi satu yang bisa mengatasi keadaan hati sang nona yang selalu terombang-ambing, masih menyandang status sahabat dan (barangkali) orang yang paling dipercayai Theresa di perkemahan. Alasannya adalah, Drew harus bisa menenkripsikan enigma yang bernama Camellia Theresa Pendragon sebelum orang lain berhasil melakukannya. yay fail!attempt to write this for so long orz ; ; next prompt: genesis :3 |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:34 AM Jul 11
|
AFFILIATES








![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)







7:34 AM Jul 11