

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only. | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (11,058 Views) | |
| sylviolin | 28 Dec 2011, 04:02 PM Post #196 |
|
good bye.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
@raiha tolong dibaca starternya—atau seengganya baca judul. ini drabble original—orific. bukan fanfic. makasih ._. . . prompt: sky/langit fandom: no fandom chara: aku dan kamu (lagi) . . Kita bertemu di langit, saat kamu menawarkan menu-menu makanan yang harus kupilih di pesawat. Kamu—seorang pramugari—beberapa kali bolak-balik di lorong, dari kokpit ke dekat lavatory untuk menawarkan barang-barang ke penumpang, atau mengantarkan selimut, atau membawakan mainan kepada anak-anak kecil yang ada di penerbangan ini, atauatauatauatau— —yang pasti, setiap kamu melewati bangkuku, kamu selalu berhasil mengalihkan pandanganku dari buku yang menemaniku di penerbangan ini. Entah kenapa. Padahal, kata mereka, aku kutubuku.. .Komitmen kita tercipta di langit. Sejak pertemuan pertama kita, aku—seorang pegawai kantoran yang bergerak di bidang penawaran jasa ekspor—sering menggunakan maskapai penerbangan dimana kamu bekerja sebagai pramugari, jika aku harus pergi ke luar negeri. Dan pada pertemuan kedua, aku tak menyia-nyiakan itu. Aku mengajakmu berkenalan (secara diam-diam tentunya). Saat aku sudah merasa cukup dekat denganmu, aku mengajakmu pergi ke suatu negara yang waktu tempuhnya sekitar tujuh belas jam dari Indonesia. Mengajakmu sebagai penumpang, bukan sebagai pramugari. Dan kamu menyetujuinya—kita pergi ke negara empat musim itu. Dalam perjalanan panjang itu, aku menyatakan keinginanku untuk berhubungan denganmu, dan kamu menerimaku. . .Dan kita berpisah... karena langit. Belum lama kita berhubungan, baru sekitar delapan bulan (itupun kita hanya beberapa kali kencan karena kesibukan kita berdua yang jauh berbeda). Hari itu, kamu akan terbang ke Singapura—tidak jauh, hanya dua setengah jam dari negeri kita. Aku merasa ada yang salah. Aku ingin sekali mencegahmu—bahkan aku sudah mencoba mencegahmu, bukan?—tapi kamu tidak peduli. Kamu adalah pramugari yang berdedikasi kepada pekerjaanmu dan kepada maskapai tempatmu bekerja: jika tidak ada alasan yang benar benar gawat dan darurat, kamu tidak akan menolak jadwal penerbangan. Akhirnya, aku merelakanmu terbang ke sana, walaupun perasaanku sangat-amat tidak tenang. Aku ini pria, aku sangat jarang memberi celah bagi firasat untuk mengatur hidupku. Tapi kali ini... rasanya berbeda. Dan ternyata— —pesawatmu jatuh. Hilang. Tak bisa ditemukan. Kamu juga— —hilang. . .Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu— Selama ini aku tak pernah mengatakannya, bukan? Tapi aku sungguh mencintaimu, walau waktu yang kita jalani bersama belum terlalu lama. Aku tak tahu Surga itu di mana. Kata kebanyakan orang, Surga terletak di atas awan. Tapi, di manapun Surga itu, aku dan kamu—kita—masih bisa melihat langit yang sama, dan masih dihubungkan oleh langit yang sama, bukan? . . . —Aku mencintaimu. haha -__- aku juga gak tau apa ini. orz next prompt: flower/bunga |
![]() |
|
| Deleted User | 28 Dec 2011, 08:25 PM Post #197 |
|
Deleted User
|
prompt: Flower/bunga fandom: - chara: Crystal, Rei Crystal menganga. Wajah oval dengan tahi lalat di ujung mata itu bengong untuk waktu yang cukup lama saat buket bunga hydrangea yang dihiasi aksen loop diberikan padanya. Apalagi yang memberinya si polos Rei. Ya, laki-laki polos itu. Yang tidak mengerti bagaimana cara memperlakukan wanita. Dan hampir seluruh isi kepalanya tercurahkan untuk adik-adik nya. Karena dia pengidap sister complex. Ingat itu. Tapi hari ini benar-benar tidak disangka. Walau yang diberikan cowok itu bukan berlian atau seharusnya mawar merah. Dia tetap senang. Bibir mungil yang dihiasi pewarna peach itu tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Ia terlalu senang karena bunga itu. Hingga ia hampir mengabaikan fakta yang sebenarnya. "Rei!" Cowok yang kini merubah gaya rambutnya jadi jabrik itu menoleh dengan tampang idiot. Crystal mulai berpikir, apakah dia salah memilih orang. "Kalau ingin memberiku bunga. Setidaknya kau beli sendiri!" Crystal membacakan ucapan yang tertera pada kartu di bunga itu. Happy Birthday, Windhy Dari namanya saja, Crystal tahu bunga itu dari siapa. Pasti dari Sou yang notabene menyukai adiknya. Ia pasti tidak rela jika bunga itu sampai ke tangan adiknya, Windhy. Gadis dengan rambut sebahu itu menghembuskan napas panjang. Menerima kenyataan. Oh, tentu saja. Mana mungkin Rei dapat berpikir romantis seperti itu. Apalagi memberinya bunga. Ya, walau hanya sekuntum bunga. -end- Gaje ah.. next prompt: Door/pintu |
|
|
| b e l s | 29 Dec 2011, 03:56 AM Post #198 |
|
Intermediate Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
door/pintu. original fandom. chara: daryl and dorothy. OC. Aku tinggal di rumah yang tak punya pintu. ... atau setidaknya keluargaku malas membangun pintu, jadi kami keluar melalui jendela yang ukurannya satu setengah meter kali satu setengah meter. Benar atau tidak, namun kurasa keluargaku ingin menghilangkan seluruh pintu yang ada di muka Bumi. Ambisi yang bodoh, kan? Haha. Haha. Bahkan pintu hatiku pun mereka hilangkan. "... tapi kutemukan pintu hatimu, tuh." "Itu setelah kuceritakan tentang keluargaku yang kolot itu, kan?" "Tapi aku tulus--!" Tapi memang benar. Daryl berhasil membuka pintu hatiku. Bahkan bukan hanya itu; ia membangun, memperbaiki, menghias, dan akhirnya memasukkan kunci ke dalam pintu hatiku. Setidaknya ada dua hal yang bisa kusyukuri: satu; karena pada akhirnya aku punya pintu. dua; karena Daryl-lah yang membangun pintu itu. "Hm, hm, ya, ya, Bodoh. Tapi ... terima kasih, ya." Setelah itu kukecup dia. ........ neksuuu: Autism/Autis. |
![]() |
|
| sonnet54 | 30 Dec 2011, 10:30 AM Post #199 |
|
Premium Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt : Autism/Autis Fandom : Ori Chara : Nadine, Peter _________________________________ Sore hari itu. aku diharuskan kembali untuk melihat dirinya. Si gadis kecil berparas manis. Rambut hitam panjang melambai dibelai angin. Gaun putih panjang menyelimuti tubuhnya yang mungil. Kaki telanjang tak beralaskan sepatu. Bola mata bulat besar berwarna biru laut melihat ke atas. Wajah putih salju yang selalu kukagumi terlihat sendu. Ada apa gerangan? Dengan perlahan, kelangkahkan kakiku menghampiri si gadis kecil. Mataku tidak terlepas dari sosok dirinya yang menarik nafasku. Langkah demi langkah kuambil tanpa ragu. Menyadari adanya suara langkahku, si gadis kecil menolehkan pandangannya padaku. Kali ini mata itu semakin membulat, menatapku penuh tanya. Bibir mungilnya mulai terbuka, merangkaikan kata demi kata. "Kak Peter? Kenapa kakak menghampiri Nadine?" Ah, Nadine. Aku ingat nama itu. Nama yang sering mengisi relung pikiranku. Aku tersenyum lembut ketika dirinya ikut menghampiriku. Mata biru laut itu terus menatap kedua manik mata ini, membuat hatiku berdebar seiring langkah yang ia ambil. "Kak...Bagaimana hasil di-diag-nos-nosa-nya?" Tanyanya dengan lirih dan terbata-bata. Aku menutup mataku, menahan keinginan untuk berteriak histeris ketika mendengar pertanyaannya. Tapi aku tak ingin membuatnya kecewa karena aku tak berani mengutarakan kebenaran. Karena itu, dengan pasrah, diriku berjongkok dan menjawab, tak lupa untuk tetap menatapnya. "Kau...Memiliki gejala autisme." Mata Nadine kembali membesar, "Au-aut-autis-mm-e? Apa itu, Kak? Aku tidak mengerti..." Dengan segenap tenaga yang tersisa aku kembali menjawab, "Nadine, autisme adalah suatu gejala dimana anak kecil memiliki kekurangan dalam hal berbicara pada sesamanya, dan tak dapat beraktivitas dengan baik seperti anak-anak lain." Nadine kembali menatapku dalam diam. Aku menahan nafasku, menunggu reaksi yang memungkinkan. Kenyataan ini benar-benar menyiksaku luar-dalam. Aku masih tak dapat menerimanya. Nadine, anak berusia 5 tahun, baru akhir-akhir ini diberitahukan bahwa dirinya mengidap gejala autisme. Nadine, si gadis kecil yang ingin kulindungi dengan segenap jiwa ini bernasib sama seperti mendiang kakakku. Nadine! Ketika aku kembali jatuh dalam pikiranku sendiri, kudengar kembali suara lirih yang membuyarkan lamunanku. "Apa itu membuatku...Seperti orang gila?" "Apa?" "Au-au-aut-is-mm-e itu...Apa membuatku menjadi seperti orang gila?" Dengan cepat dan hati yang terpuruk mendengarnya, aku menjawab kembali, "Tidak, Nadine. Kau tidak gila. Kau masih bisa berpikir sehat seperti kakak. Hanya saja kau memiliki hambatan untuk dapat berbicara ataupun menyesuaikan diri dengan sesamamu—" "Bukannya tidak dapat menyesuaikan diri dengan sesama kita itu ciri-ciri orang gila?" Nadine memotong perkataanku. Kali ini matanya yang besar itu mulai berkaca-kaca. Aku menggeleng keras mencengkeram bahunya, ingin meyakinkannya bahwa dia tidak gila. Dia tidak gila. Dia tidak gila! "Kau tidak gila, Nadine! Kau sehat! Pikiranmu masih dapat bekerja dengan baik! Kau tidak gila!" "Kalau begitu, kenapa kakak tak dapat mengatakan bahwa aku ini normal! Normal seperti anak-anak lainnya! Seperti Steve, Max, Caroline, dan anak-anak di panti asuhan! Kalau kau yakin aku tidak gila, sekarang katakan padaku bahwa aku normal! NORMAL! NORMAL!!" Nadine menjerit histeris, dia terduduk lalu dengan keras dia menjambak rambutnya, menutup matanya, dan menendangkan kakinya dengan membabi buta. Betapa besarnya keinginanku untuk berkata bahwa dia 'normal'. Betapa besarnya hasrat ini untuk memeluk tubuhnya yang mungil, berbisik di telinganya bahwa dia 'normal'. Namun, bagaimanapun besarnya keinginan ini untuk menyakinkan dirinya bahwa dia 'normal', aku tetap saja tak dapat mengatakannya. Mendadak lidah ini terasa kelu, tak dapat merangkaikan satu kata sederhana. Normal. "...Kau tidak bisa mengatakannya 'kan, Kak Peter? Akui sajalah! Aku ini a-au-aut-tis! Aku gila! GILA! GILA!" Jeritan itu terus mengiang-ngiang dalam telinga dan pikiranku. Sampai akhirnya dia berlari meninggalkanku. Diriku yang saat ini begitu kubenci. _________________________________ Maaf ya, kesannya jadi gaje bgt en rada gk nyambung! Lagi mampet nih kepala! Dan untuk lebih jelasnya, si Nadine ini punya autisme jenis Asperger Syndrome Next prompt : Horizon/horison |
![]() |
|
| Endorphine | 30 Dec 2011, 10:27 PM Post #200 |
![]()
heartstopper.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Horison/Horizon Original. Emily; Lester. ~ "Emii, apakah mama sekarang berada di balik garis itu?" tanya si kecil Lester polos, berjinjit menatap langit lewat jendela. Telunjuk kecil itu mengarah pada perbatasan antara langit berwarna lembayung dan tanah kemerahan; tertimpa cahaya matahari yang kini mulai membenamkan dirinya di bumi bagian barat. Emily berjalan mendekati adiknya, menyamakan tinggi badannya dengan tinggi badan adiknya. "Hmm? Yang mana?" "Yang itu," jawab bocah kecil itu lagi, memberikan sedikit penekanan. Emily hanya bisa tersenyum melihatnya. Ia merangkul Lester dari belakang dengan penuh kasih sayang, membiarkan adik kecilnya bermain-main dengan imajinasinya sendiri. Sementara permata amber milik Lester melebar, pipinya mengembang seperti buah persik; masih terpaku pada pemandangan yang dilihatnya. "Aku tidak tahu. Bisa iya, bisa tidak," Emily mengacak rambut adiknya. Tersenyum penuh makna. Tapi, aku sama sekali tidak keberatan menyusul keberadaan mama di horison sana. ~ Gaje :3 Next prompt: Reinkarnasi/Reincarnation |
![]() |
|
| Sanctuary | 31 Dec 2011, 03:55 PM Post #201 |
|
sleaze //
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Oooh. Prompt: Reinkarnasi / Reincarnation Fandom: psst. Chara: Silakan dilihat.. "Jangan bertindak gegabah! Itu bukan satu-satunya jalan kelu-" "Ya, ini satu-satunya, Mel." "Itu tidak-" "Lepaskan." "Aku bilang itu bukan satu-satunya jalan keluar!" Aku mendengus kencang, berusaha mengepalkan tanganku erat-erat supaya tidak tiba-tiba melayang ke arah wajahnya yang sekarang mulai memerah itu. Apa sih masalahnya? Lewat pintu belakang lebih praktis menuju ke rumah Giselle. Pintu depan merepotkan karena ada anjing Siberian tetangga sebelah. "Duh, bukan itu maksudku!" Ia menghempaskan tanganku dengan kesal setelah aku menjelaskan alasanku. Oh. Lalu? "Lalu?" Aku mengulangi pertanyaan itu. Entah kedua kali atau sudah keberapa kalinya. Ia selalu membutuhkan waktu agak lama untuk menjawab pertanyaan ini. "Melihat masa lalumu. Apa melihat masa lalumu itu penting?" "Aku perlu tahu aku ini reinkarnasi dari siapa. Kukira Giselle sudah menjelaskannya padamu?" "Su-sudah.. tapi untuk mengetahui pola reinkarnasi, itu bukan satu-satunya jalan keluar, kan? Kau tahu masa lalumu tidak.. tidak begitu ingin kau ingat." "Aku tahu persis itu. Tapi kalau tidak melalui jalur ini, kita bisa kehabisan waktu. Reinkarnasi dariku harus manusia, apapun yang terjadi." "Tapi kalau pendahulumu hewan? Kau tidak bisa merubah apapun meski kau sudah tahu, kan?" "Ya, aku bisa." Ujarku mantap sambil membuka pintu belakang. "Kalau itu benar, maka aku harus mengubah caraku mati nanti." "..! Kau gila-" Langsung kututup pintu belakang saat itu juga sebelum ia sempat mengatakan apa-apa lagi. Next prompt: Soda. |
![]() |
|
| LuthRhythm | 2 Jan 2012, 07:38 AM Post #202 |
|
Saya cinta blackpapillon
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
@atas: itu avatarnya kok ganteng banget ya .////. prompt: soda Fandom: Nature (ori) Chara: Wind Wind adalah pemuda yang tenang. Bisa dilihat dari cara ia bertutur kata, cara ia memecahkan masalah, pun cara ia berjalan. Pembawaannya sangat teratur, sangat jauh dari kata emosi, tetapi tetap cepat dan cekatan di saat yang memang dibutuhkan. Dibesarkan di keluarga yang semuanya bersikap tenang, Wind terbiasa hidup seperti orang dewasa. Namun, selalu ada pengecualian, bukan? Siang yang menyengat layaknya hari ini adalah keadaan yang Wind tidak suka. Karena itu, sepulangnya dari kampus, ia langsung masuk ke kamar kosnya, menyalakan kipas angin, dan duduk tepat di hadapan kipas angin, berharap sang angin dapat melalap habis kegerahan yang melandanya. Beberapa menit terdiam pada tempat yang sama dan dengan wajah yang lega, Wind akhirnya beranjak dari duduknya. Ia langkahkan kakinya pada kulkas mini yang ada di kamar, membukanya, lalu mengambil sebotol soda yang kemudian ia buka tutupnya dengan pembuka botol magnet multifungsi yang tertempel di kulkas biru tuanya. Setelah terbuka, Wind pun kembali duduk di depan kipas angin. Perlahan, ia menegak soda yang berada di tangannya. Glek glek glek-- --satu, dua, tiga-- Ehee~! Sekelompok angin keluar dari tenggorokkannya menimbulkan suara lucu. Wind kemudia terkikik geli. Sekali lagi, (tepatnya berkali-kali lagi) Wind mengulangi hal yang sama, menemukan kebahagiaannya untuk bersikap layaknya anak kecil dalam sebotol minuman soda. . . . aih jadi naksir tokoh sendiri HAHA next prompt: Event |
![]() |
|
| Endorphine | 2 Jan 2012, 06:21 PM Post #203 |
![]()
heartstopper.
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Event. Original. Those! "Meagan, ayo ikut ke festival tahun baru nanti malam!" (meagan, ayo lihat kembang api!) Pupil itu mengecil tatkala kalimat itu terucapkan. Ia mendengar suara teriakan anak kecil; penuh keputus asaan, kesengsaraan, dan penderitaan. Seluruh perasaan teraduk dan bercampur dalam satu teriakan. Warna merah mendominasi pandangannya, menari-nari dalam penglihatannya. Rasanya seperti melihat neraka. Ratusan orang. Anak-anak, pemuda, orangtua; semua terjebak dalam api. Ia bisa melihat dirinya sendiri dalam balutan seragam SMA, memberontak dan dari orang-orang yang mencegah mereka menerabas bara. Memanggil-manggil nama orang tersayang, tak kuasa menahan derasnya air mata. Lalu mata itu meredup, berusaha menetralkan pikirannya. "...Maaf, aku tidak bisa. Kalian berdua saja, ya?" Kemudian berlalu. "Bodoh," ucap Claire sambil menghela nafas, "Kau seharusnya tidak menanyakan itu padanya, Elle. Kau membuat Meagan berlaku psycho." "Hah? Kenapa? Aku salah?" "Kau tidak ingat kalau Meagan kehilangan adik kecilnya setahun yang lalu, di waktu yang sama dan tempat yang sama?" yeah klasik =w=b next prompt: maksud jahat/malevolence |
![]() |
|
| Sanctuary | 3 Jan 2012, 12:44 PM Post #204 |
|
sleaze //
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
@LuthRhythm Iya dong, Izayaa. ;3 Prompt: Malevolence / Maksud Jahat Fandom: xxx Chara: Look. Semakin redup ia rasakan dunia ini. Hari sudah senja. Namun langit tidak bergerak. Dedaunan tidak bergerak. Tubuhnya tidak bergerak. Seketika waktu terhenti. Bukan hanya itu. Orang-orang terjatuh. Atau lebih tepatnya, pergi. Salahnyakah ini terjadi? Senja berganti malam dan dunianya masih tetap bertahan. Salahkah seorang bocah menanam dendam? Dan seketika itu juga ia sadar. Jalanan sudah berubah warna. Coklatkah? Atau merah? Ia tahu, ia perduli dengan semua orang. Semua orang perduli padanya. Tapi ketika titik egois itu memunculkan dirinya kembali, ia terbangun dari kebohongan. Mereka tiada. Begitu pula titik itu. Sejak itulah kehidupannya terhenti di dimensi yang mati. Tidak ada yang bergerak - yang hidup. Selesai sudah. Next prompt: Laut / Sea |
![]() |
|
| LuthRhythm | 3 Jan 2012, 07:06 PM Post #205 |
|
Saya cinta blackpapillon
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
@sanc: .............sejak kapan izaya seganteng itu. ITU TERLALU COOL BUAT IZAYA Dx /mati prompt: laut/sea fandom: Nature (ori) chara: Fire (M) dan Ice (F) . . Seorang pemuda dengan kaus putih dan celana panjang coklat muda yang digulung hingga betis serta seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek putih terdiam di perahu sederhana yang mereka sewa. Sang gadis, Ice, tersenyum memandang laut yang terhampar di hadapannya, sedangkan sang pemuda, Fire, menggerutu tak ada habisnya. "Ayolah, apa sih bagusnya laut?" gerutunya. "Bagus." "Apanya?" "Pokoknya bagus." "Ya, apanya?" "Pokoknya bagus, jauh lebih bagus dari pada wajahmu." Ice mengakhiri dengan nada ketus. Ice melirik Fire dari sudut matanya, menemukan Fire tengah menatapnya dengan mata menajam. "Kau menyebalkan," cibir Fire dengan tangan bertolak di pinggang. "Tapi kau menyukaiku, terima sajalah." Ice mengibas-ngibaskan tangannya pada Fire, mengisyaratkan ia sedang tidak ingin berdebat lebih jauh. Kencan pertama ke tengah laut, cih. Apa bagusnya--gerutu Fire dalam hati. "Kalau kau tidak suka, kau bisa pulang duluan. Berhenti mencibirku dalam hati, aku sudah hafal sikapmu, bodoh," ucap Ice dengan menolakkan tangan di pinggang menghadap Fire. Berteman dengan Fire sejak kecil membuatnya hapal benar tingkah laku sang pemuda. Gerutu dalam hati, selalu marah-marah, tak pernah tidak terbawa emosi, segalanya benar-benar terlambangkan dalam namanya, Fire. Membacanya bahkan semudah membaca surat cinta. "Bagaimana caranya aku pulang duluan, bodoh." "Loncat saja, nanti kau digigit hiu, dijemput tim SAR, lalu diantar pulang kerumahmu walah hanya setengah tubuhmu yang masih bisa diselamatkan," kekeh Ice dengan seringai kemenangan. Meledek Fire tidak pernah tidak menyebalkan. "...kau menyebalkan." "Tapi kau menyukaiku," ujarnya tenang. Ah, kencan yang menyenangkan--imbuhnya dalam hati. . . next prompt: salt / garam |
![]() |
|
| sonnet54 | 4 Jan 2012, 08:16 PM Post #206 |
|
Premium Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt : Salt/Garam Fandom : Ori Chara : Sandy, Grandpa Octavian _________________________________ Sandy, kau pernah bertanya tentang hubungan garam dan dirimu juga anak-anak seusiamu bukan? Mari kakek jelaskan dalam surat ini. Ingatlah proses pembuatan garam. Kumpulkan air laut dalam sebuah tambak di tepi pantai. Dengan sinar matahari, air laut akan menguapkan zat kristal yang terkandung di dalamnya. Lalu oleh para petani garam kristal akan dikumpulkan, dicuci ulang hingga bersih, lalu kembali dijemur. Apa yang kita rasakan ketika kita memakan garam? Asin. Apakah garam memiliki pengaruh positif pada kehidupan kita? Ya. Apakah garam dapat memberikan pengaruh negatif pada kehidupan kita? Ya, dan itu terjadi bila kita mengkonsumsi garam dalam jumlah berlebihan. Kalau kita masukkan konsep garam ke dalam kehidupan, dapat disimpulkan sebagai berikut: Dalam dunia ini pupulasi manusia yang melata di darat tak dapat dihitung jumlahnya secara kuantitatif. Dan di antara semua manusia yang ada, terkumpulah kumpulan manusia dengan berbagai potensi. Kita sering sebut mereka sebagai anak-anak, remaja, generasi baru/muda, pucuk daun muda yang siap bertumbuh dan berkembang. Melihat akan kehidupan yang asin-manis dan penuh dengan kebohongan tragis juga berbagai anomali, menanamkan berbagai hipotesa dan argumen tersendiri dalam pikiran setiap generasi muda. Hal ini dapat memungkinkan terjadinya 'penguapan' dalam kepolosan setiap anak dan remaja dan menimbulkan adanya perdebatan antara 'baik dan jahat'. Kami para generasi tua--yang memiliki pengetahuan akan kehidupan lebih dalam daripada generasi muda--bertugas untuk 'menyaring dan membersihkan' segala pengetahuan jahat yang ada pada pikiran generasi muda. Kami mendidik para generasi muda dengan nilai-nilai positif yang kami ambil dari kehidupan yang selama ini kami jalani, berharap para generasi muda tidak mengikuti sisi buruk kami dan hidup membawa sisi baik mereka sampai mereka tua dan akhirnya mereka menggantikan posisi kami. Para generasi muda memiliki talenta yang dapat dimanfaatkan dengan baik untuk kelanjutan hidup, baik untuk dirinya dan bahkan lingkungan sekitarnya, hal ini saya umpamakan sebagai rasa 'asin' pada garam yang cenderung merupakan salah satu faktor penyedap masakan yang kita konsumsi setiap hari. Namun, bila rasa 'asin' tersebut dimanfaatkan secara berlebihan atau dipengaruhi dengan pelencengan pengetahuan, maka dapat menimbulkan berbagai penyakit yang cenderung merugikan. Dan hal ini berlaku juga dalam kehidupan para generasi muda, bila talenta yang mereka miliki dieksploitasi untuk hal yang tak terpuji dan didasarkan oleh nafsu, potensi itu justru merugikan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, kita harus pintar dalam mengembangkan dan memperagakan talenta kita. Dan itulah alasan mengapa kamu, dan anak-anak seusiamu bahkan sedikit lebih tua darimu diumpamakan sebagai garam. Mungkin penjelasan ini memang berbeda dengan penjelasan yang pernah kau dengar dari orangtua, guru, dan bahkan teman-temanmu dan kemungkinan besar menimbulkan perdebatan ringan, tapi inilah jawaban kakek akan pertanyaanmu. Alangkah baiknya, kamu memikirkan jawaban kakek dan memberikan pendapatmu sendiri. Oh, ya, apakah kamu ingin bertanya juga mengenai gula? Sandy tertawa kecil ketika membaca cuplikan surat dari kakeknya, Oktavian. Cuplikan surat itu ia simpan dalam agendanya dan terus ia baca ketika ia merasa bosan di kelas. Gadis muda itu menggenggam agendanya dengan erat dan kemudian tersenyum simpul. "Bukankah gula dan garam sama adanya? Walau perbedaannya ada pada rasa dan proses pembuatan, dan bila digunakan secara berlebihan akan menimbulkan penyakit. Namun, bila kita hubungkan dengan kehidupan, apakah aku boleh berkata bahwa perumpamaan garam dan gula itu sama, Kek?" Sandy mengangkat kedua bahunya dan beranjak berdiri dari kursi taman yang ia duduki lalu beranjak pergi. "Mungkin untuk selanjutnya, aku harus bertanya tentang hal itu." _________________________________ Hem...Aneh. Tapi ya, sudahlah. XD Next prompt : Salvation/Keselamatan Edited by sonnet54, 4 Jan 2012, 08:17 PM.
|
![]() |
|
| ichi | 6 Jan 2012, 12:15 PM Post #207 |
![]()
honored maiden
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Salvation/Keselamatan Ori Kau dan dia -_____- ;; Dia di sana. Dia di sana. Dia di sana. Baru saja mendorongmu. Mendorongmu dari incaran mobil yang melaju kencang. Merelakan tubuhnya menjadi mangsa. Lalu dia jatuh, berguling menuju tepi jalan yang sepi--sangat sepi. Merah menggenang, perlahan terhapus oleh hujan yang turun menghujam. Engkau berlari mendekatinya, dengan air mata menggenang dan kalbu diselimuti kekhawatiran. Dan dia tersenyum, tersenyum seolah tiada luka dan remuk di tubuh. (dia tak peduli, dia benar-benar tak peduli) "P-pergi ... pergilah...." Dia berkata lemah, menghiraukan merah yang menyeruak keluar dari luka dan sakit yang dihantarkan oleh saraf ke otak. "Tapi, kau--" Engkau belum selesai berkata namun dia menyela, "Tidak perlu. Asalkan--" (dia mencintaimu, dia mencintaimu) "--kau hidup." (karena itu dia mengorbankan nyawanya demi keselamatanmu) --tik. Tik tik. Air mata menitik seiring irisnya yang mulai tertutup sedikit demi sedikit. Engkau menepuk pipinya, memeriksa nadinya, menempelkan telinga di dadanya, meletakkan telunjuk di dekat lubang hidungnya. Dan nihil, tiada hasil. Engkau menatap wajahnya yang tertidur damai. Dan sakitsakitsakitsakit adalah kata yang sesuai. Sesuai untuk menggambarkan apa yang kau rasa ketika menatap matanya (yang tak akan pernah terbuka lagi). Kemudian kau berteriak di antara deru hujan. ;; next; payung/umbrella |
![]() |
|
| Sanctuary | 7 Jan 2012, 06:06 AM Post #208 |
|
sleaze //
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
@LuthRhythm enak aja, Izaya itu tampan D:< /banting kursi /plak Prompt: Payung | Umbrella Fandom: ? Chara: Look ~ Sedia payung sebelum hujan. Itu yang sering ia ucapkan pada anak-anak didiknya di sekolah. Kalimat klise yang tidak begitu diperdulikan anak-anak zaman sekarang. Mereka menyebutnya dengan istilah 'lebay'. Tapi kenyataannya meskipun ia tahu hari ini akan hujan deras, ia sendiri tidak membawa payung ataupun jas hujan. Ia biarkan saja titik-titik besar basah itu mengguyur seluruh tubuhnya. Masa bodoh kalau besok harus absen mengajar karena tubuhnya kurang sehat. Malahan ia sepertinya akan menikmatinya kalau itu benar-benar terjadi. Ia benci payung. Ia benci berjaga-jaga dahulu sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Setelah apa yang telah ia lakukan untuk berjaga-jaga bertahun-tahun silam, berusaha melindungi anaknya di tengah kerumunan warga yang berusaha melarikan diri dari musibah. Ia sudah memasang segala alat pengaman; memberi perlindungan seketat yang ia bisa pada rumahnya, terutama pada anaknya, yang merupakan satu-satunya. Tapi apa hasilnya? Berjaga-jaga sebaik apapun tidak membuahkan hasil yang ia mau. Ia kehilangan anaknya pada saat itu. Apa gunanya berjaga-jaga? Apa gunanya payung? Toh tubuh kita akan tetap basah juga pada akhirnya. Takdir tidak bisa diubah. Apalagi dengan hanya sekedar berjaga-jaga. Namun begitu ia tetap mengingatkan anak-anak didiknya untuk berbuat demikian. Guru macam apa dia. Next prompt: Telepon selular | Cellphone, handphone. Edited by Sanctuary, 7 Jan 2012, 06:06 AM.
|
![]() |
|
| Magma Maiden | 8 Jan 2012, 05:41 AM Post #209 |
![]()
wybu hyna
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt: telepon genggam/cellphone Fandom: ori laah Chara: ------------------------------------------------------------------ Pururiripuripuri na na na la la la... Kaget adalah reaksi pertamanya. Butuh semenit penuh baginya untuk menyadari bunyi aneh itu berasal dari ponselnya. Pururiripuripuri na na na la la la... Deringnya terasa menyakiti kepalanya, apalagi ia baru bangun tidur - tepatnya, tertidur di meja. Terakhir ia ingat, ia melempar ponselnya asal-asalan ke tempat tidur, terbenam di antara pakaian bersih dan kotor dan buku dan kertas-kertas dan... oh ya ampun, ponselnya tak kunjung berhenti berdering! Pururiripuripuri na na na la la la... Menggerutu, ia kembali membenamkan kepala ke lengannya. Tidak ada yang pernah meneleponnya. SMS pun jarang - kecuali operator yang rajin mengiriminya SMS promosi. Dan berhubung saat ini libur panjang, bisa dibilang ia sama sekali tidak ingat punya ponsel. Pururiripuripuri na na na la la la... Menyesal telah menyetel nada dering seaneh dan sebising itu, akhirnya ia menyerah dan bangkit dari kursinya. Diseretnya kaki ke tempat tidur lalu mengacak-acak mencari sumber kebisingannya, mencampur pakaian bau dan wangi dan kertas-kertas dalam prosesnya. Ponsel itu masih berdering menyebalkan. Pururiripuripuri na na na la la la... "AAARRGGHH!" Kesal karena tak kunjung menemukan ponselnya, ia mulai melempar-lempar pakaian dan kertas ke lantai hingga tempat tidurnya bersih dari benda-benda tersebut. Di satu lemparan, ia mendengar bunyi klotak keras dari lantai. Ia menoleh tepat untuk menyaksikan ponselnya terpantul jauh, dalam keadaan masih berdering. Sebelum benda itu meluncur masuk kamar mandi yang terbuka, ia menangkap ponsel itu dan mengerang ketika menemukan retakan di pojok layarnya. Pururiripuripu--"Halo?" "Hei. Baru bangun tidur?" "Tidak," jawabnya setelah menelan ludah untuk menghilangkan tekstur khas suaranya saat baru bangun tidur. Dari semua daftar kontaknya, kenapa harus orang ini yang meneleponnya saat ini, di mana ia baru terbangun lewat tengah hari setelah begadang semalam suntuk? Kenapa harus-- "Mau jalan-jalan?" "Hah? Tumben..." "Aku yang traktir, tenang saja." "Oh. Baiklah. Aku siap-siap dulu..." "Jangan lama-lama. Aku sudah di depan pagar rumahmu." "A..." beranjak ke jendela, ia mengintip dari balik tirai. Seseorang balas melambai kepadanya dari bawah. "Sialan kau," umpatnya pada orang itu, sebelum memutus sambungan telepon dan berlari ke kamar mandi. --------------------------------------------------------- aaaiiiieeee gajenyaaa ![]() next up: kuku kaki/toenails |
![]() |
|
| Dai-kun | 10 Jan 2012, 01:17 AM Post #210 |
|
sun shine!
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Prompt : Kuku Kaki Tokoh : Aria, Ivan ~~ "Kuku kaki kakekku kaku kaku...", ujarmu kala itu, menuruti keinginan kakak kelas yang ingin melucuti harga dirimu di hadapan ratusan, mungkin ribuan, siswa baru di sekolah ini. Aku hanya tertawa sinis, tanpa alasan pasti. Sekedar untuk menghormati lingkungan yang tengah terbahak, mungkin? Atau menertawakan betapa bodohnya kakak kelas penyelenggara orientasi siswa baru yang penyelenggaraan acaranya sungguh membosankan hingga harus mengorbankan salah satu siswa baru untuk menghilangkan kebosanan siswa lainnya? Entahlah. Setelah semuanya selesai, kau kembali ke tempatmu semula. Hey, kala itu iris mata kita sempat bertukar pandang, bukan? Iris birumu... ...mengangkutku ke modus baca-saja dari memori enam tahun lalu, layaknya sebuah mesin waktu. Rasanya kita pernah bertemu, berikrar akan terus bersama hingga ajal menjemput. Namun kau pergi tanpa meninggalkan sehuruf pun kabar untukku, tentang sebab, tentang janji akan pertemuan. "Sumpahnya anak kecil memang semu", desisku sayu di hari kala istanamu kosong tanpa penghuni. Kukubur dalam semua memori, kulanjutkan hidup tanpa melirik balik. Hingga hari ini, tiba-tiba kau kembali... ...namun mengapa iris itu tergores luka? Seakan tawa pun tak bisa menyembunyikannya. Hey, aku tahu, karena dulu kan kita tak terpisahkan? Jangan menipu. "Aria, ya? Kenalin, Ivan.", suaramu memaksaku keluar dari mesin waktu, kembali ke masa kini. Deja vu? "Ah, iya, salam kenal." ...itu bukan dirimu. Bukan, sugestiku mengatakan. Tapi iris itu mengatakan lain... ...hingga aku teringat satu frase yang kau katakan ketika kita bertemu pertama kali. "Kuku kaki kakekku kaku kaku...." ~~~ #fail Next : permainan peran / roleplay Edited by Dai-kun, 10 Jan 2012, 01:18 AM.
|
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:34 AM Jul 11
|
AFFILIATES







![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)








7:34 AM Jul 11