Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai; Rated K-M; Original Fiction only.
Topic Started: 24 Mar 2011, 06:17 PM (11,062 Views)
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt : leader / pemimpin.
fandom : orijinal.
chara : orijinal juga kok :>
Dua orang. Di dalam ruangan tertutup.

Salah satu dari mereka menyimpulkan kurva di wajahnya, sedangkan yang lain memasang wajah kebingungan. Akhirnya, sebuah suara memecah segalanya, "apa yang kau suka dariku?" tanya entitas kebingungan tersebut, seraya memamerkan gigi rapinya. Salah tingkah, apalah itu namanya.

"Kau memiliki jiwa pemimpin—" Namun pintu serta merta terbuka, seseorang masuk.

...

Awkward.

Sosok yang baru saja masuk itu menyahut, "—pemimpin hatinya Gema."
apaan ini geje .___.

next prompt : eyes/mata
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ejey Series
Member Avatar
miss you ♥
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt : eyes/mata
fandom : original
chara : Seiran & Olive
Sudah sejak lama Seiran penasaran dengan bola mata violet milik Olive. Di manga ataupun anime, bola mata violet sudah biasa. Tapi ini dunia nyata. Tak ada yang memiliki iris berwarna violet alami.

"Matamu itu... kau pakai soft lens?" tanya Seiran pada suatu hari, ketika ia sudah tak bisa lagi membendung rasa penasarannya.

"Ya. Memangnya kenapa?" Olive balas bertanya.

"Bisakah kau lepas soft lens-mu? Aku ingin lihat warna matamu yang asli."

"Boleh saja." Olive melepas soft lens-nya dan menaruhnya di atas saputangan dengan hati-hati. Ternyata, di balik lapisan berwarna violet itu, tersembunyi sepasang iris cokelat keemasan yang berkilat cemerlang. Seiran menatapnya takjub.

"Kau punya mata cokelat keemasan yang indah. Kenapa kau harus menyembunyikannya dengan soft lens? Lagipula daya penglihatanmu normal-normal saja." Seiran tersenyum, menyentuh ekor mata kekasihnya dengan lembut.

Olive tak menjawab. Tapi keesokan harinya, tak ada lagi soft lens violet yang menyelubungi mata cokelatnya.
next prompt : windows/jendela
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: window/jendela
fandom: original
characters: aku (/kereatif)

--

Aku selalu menunggu.

Entah di sekolah, di rumah, di jalanan, di trotoar - aku selalu menunggu.

Di rumah, aku akan menoleh keluar jendela, memandangi langit biru yang membentang beserta gumpalan-gumpalan awan di sekitar, bergerak perlahan mengikuti hembusan angin. Di sekolah, aku akan menatap jendela-jendela kelas dari kejauhan, mendapati teman-teman sekelasku yang berlarian di koridor tertawa begitu kencang. Di jalanan, aku akan memerhatikan kendaraan-kendaraan yang lalu-lalang melalui jendela metro mini, melihat anak-anak kecil menengadahkan tangan seraya menyanyikan lagu yang tidak mampu kudengar. Di trotoar, aku akan melihat sekilas ke arah jendela-jendela bangunan yang ada di sekitarku, memandangi bagaimana bayangan diriku terpantul di permukaannya, lalu berlari sembari berpikir, aku masih menunggu.

Aku tak tahu apa yang kutunggu. Mungkin aku menunggu langit biru itu mengeluarkan retakan dan berubah warna menjadi merah. Mungkin aku menunggu koridor yang teman-temanku lalui terbelah dan mereka terjatuh ke dalam jurang. Mungkin aku menunggu kendaraan-kendaraan itu bertabrakan satu sama lain, anak-anak kecil itu berlarian ketakutan, dan nyanyian mereka berganti menjadi teriakan. Mungkin aku menunggu jendela-jendela itu retak, pecah, dan pantulan diriku pun ikut terjatuh bersama kepingan-kepingannya.

Mungkin aku menunggu sebuah akhir. Mungkin aku menunggu sebuah penutupan.

Atau mungkin, mungkin, aku menunggumu. Menunggu seseorang untuk membuka salah satu dari berjuta-juta jendela tersebut, membiarkan mentari dan angin dan hujan masuk ke dalam ruangan yang pengap ini. Menunggu engkau untuk mengulurkan tangan, kemudian berkata, "Ayo pergi."

Ayo.

--
..............abstrak sekali......
prompt: bone/tulang
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ann-chAn
Member Avatar
Kirei na koe de
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: bone/tulang
Fandom: ori
Chara: James (sebagai Aku)

Aku tidak mengerti mengapa dia harus berpenampilan seperti ini. Aku tahu lebih dari siapapun, betapa cantiknya ia. Rambutnya yang hitam. Matanya yang hijau cerah, dalam dan penuh makna. Ha, aku bahkan sudah jatuh cinta padanya yang seperti itu!

Hanya saja, dia yang ada di sana saat ini tidaklah demikian. Tidak lagi hijau bersinar mata itu. Tidak lagi ada surai gemerlap seperti malam tanpa bulan. Bibirnya juga tidak menyunggingkan senyum. Datar, tidak ada emosi. Tidak ada ekspresi. Aku sudah kehilangan dia yang kucinta.

Dan kau tahu? Yang kulakukan hanyalah menatap seonggok tulang-belulang, satu-satunya yang bersisa dari ia, selain memori dalam otakku.

Next: forest/hutan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Silent Afterglow
Member Avatar
Class Zero
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Forest/Hutan
Fandom: Sebut saja ARA
Char: Schmidtke Twin
Warning: Ada hint twincest.
Matahari masih tinggi ketika si pemuda rambut kuning jerami itu menarik adiknya keluar dari rumahnya.

"Eeeh? Hide-and-seek?" Olivier tertawa. "Tentu saja." Liz menaikkan alis. "Tapi - tapi, Papa dan Mama tidak ada kan? Nanti mereka mencari-cari lagi?" sanggah Liz pada kakak kembarnya. "Tenang saja," Olivier kemudian mengusap rambut adiknya jahil. "Nggak bakal dicari Pop dan Mom kok. Aku jamin!" Liz terdiam, lalu tersenyum lebar. "Kalau begitu ayo! Aku juga bosan di rumah, nggak bisa ngapa-ngapain." Dua bersaudara berusia 10 tahun itu pun kemudian saling bergandengan tangan, lalu memasuki hutan di sebelah timur rumah mereka.

"Kak, jauh amat hutannya, nanti keburu sore loh!" sahut Liz tak pelak membuat Oliv menaikkan alisnya. "Habis, itu kan yang paling dekat. Kalau main di padang rumput besar begini, ketahuan dong?" Liz merengut. "Terserahmu deh, Kak." Olivier tertawa. "Sebentar lagi kok, tenang saja!"

Matahari dengan cepat turun ke peraduannya, langit senja mulai menggelap. Olivier dan Liz masih juga belum mencapai hutan, namun terlalu jauh untuk kembali ke rumah.

"Kak," Liz beringsut mendekati Olivier. "Aku takut," bisiknya.

.

Oke buat Shina saya pinjam Liz orz.
Abal, yeah.
Next up: Shame/Malu
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sekar.Nasri
Member Avatar
---
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Shame/Malu
Fandom: True Colors (segera di toko buku terdekat, insya Allah :B)
Characters: Viridian, Cerise
Warning: Future-fic

Dia tidak pernah merasakan hal ini dalam waktu lama. Terakhir kali ia merasakannya adalah ketika masih ada Viona; masih berada dalam kelasnya, masih melukis bersamanya, dan masih tersenyum kepadanya. Sekarang, gadis itu telah melayang ke nirwana, dan Viridian pikir ia tidak akan pernah merasakan hal ini lagi. Tapi ternyata ia salah.

Hal yang tengah dirasakannya membawa begitu banyak dampak, dan itu jelas mengganggunya. Pertama, lidahnya mendadak kelu; ia tidak sanggup mengucapkan barang satu katapun untuk membuka konversasi pada hari yang cerah itu. Kedua, jantungnya mulai berdetak dalam sebuah irama abstrak, dengan volume yang lebih kencang daripada biasanya hingga ia dapat mendengarnya sendiri. Dan yang ketiga, yang paling ia benci dari segala dampak yang mengimbasnya, adalah kedua pipinya yang terasa panas.

Malu. Viridian Milano Putra malu.

Alasannya? Ia tak dapat memastikan. Yang pasti, sedari tadi, obsidiannya yang tajam tak sanggup untuk beralih dari dara yang duduk di depannya. Dara yang sudah dikenalnya selama berbulan-bulan, dan menyandang predikat gadis yang cukup menyebalkan. Normalnya, Viridian akan bersikap cuek tiap bersama gadis itu. Tapi kali ini, atensinya tercurah sepenuhnya pada dia yang tengah mengutak-atik telepon dalam genggamannya.

Terlalu penuh hingga gadis itu menyadarinya dan menengadah sambil mengernyitkan dahi.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?"

Jangan bilang—

"...hei, apakah pipimu benar memerah atau penglihatanku yang salah?"

—dia jatuh cinta lagi?


trololololol.
Next prompt: Astronaut/Astronot
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ann-chAn
Member Avatar
Kirei na koe de
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Astronot/astronaut
Fandom: ???
Chara: aku /dor
Aku mencari-cari setitik cahaya di tengah padang kegelapan. Ya, aku bisa melihat bola-bola di kejauhan, tapi bukan yang semacam itu yang kucari. Sesuatu yang lebih... berkilau.

Bennet, temanku yang juga bertugas jaga, menegurku. "Hoi, jangan melamun saja. Perhatikan parameternya."

"Iya, iya. Aku nggak melamun kok," kataku membela diri.

Dia mendengus. "Terus, apa yang kamu lihat di luar? Toh nggak ada yang bisa dilihat di angkasa luar kayak gini."

Aku terdiam cukup lama. Dengan hati-hati aku melepaskan sabuk pengamanku, dan menjejak kuat agar melayang-layang di udara. Aku menunjuk keluar jendela besar yang terletak cukup tinggi. "Tugas kita adalah mencari. Aku pun, hanya mencari sesuatu. Sesuatu yang berharga. Yang sudah hilang sejak bertahun-tahun lalu..."

Ya, astronotku yang tidak kunjung kembali. Astronotku, yang menemukan dunianya sendiri dalam kegelapan angkasa ini. Astronotku yang kucinta, menghilang.

Eaa, gaje banget sih.
Next: Suara/sound
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
b e l s
Member Avatar
Intermediate Member
[ *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: suara/sound.
fandom: ori.
chara: Cadine.

Kuputar bola mata. Ke sana kemari. Pupilku menampilkan ruangan bercorak serba putih dan seorang pria berjas putih. Penglihatanku baik sekali. Setidaknya organ tubuh inilah yang bisa kuandalkan selama nyaris separo hidupku.
Hidungku menahan napas sekali-kali, menahan segala aroma dan oksigen yang hendak masuk dalam saluran pernapasanku. Ergh, tak bisa kusangkal, bau obat itu memang menjijikkan.

Beeeeep.

Sekejap kemudian ponsel slide di genggamanku bergetar. Tanpa basa-basi kubuka, bisa kuterka siapa gerangan yang mengirim pesan singkat.

Mum.
Nov 11/11/2011. 09:08.
B e r d o a l a h , C a d s . S e t e n g a h j a m l a g i M u m s a m p a i .


Aku tersenyum. Bagus, deh. Ternyata masih ada yang mendukungku. Padahal kukira Mum takkan mau menengokku. Pekerjaan kan anak emasnya.

Cadine.
Nov 11/11/2011. 09:10.
T r i m s , M u m .


Setidaknya, untuk ketiga kali, Mum mengunjungiku. Setidaknya, ada senyum yang bisa kuukir di hari operasi menyebalkan ini.
Mm, menyebalkan? Tidak juga, sih. Kalau menyebalkan, kenapa aku mau menjalaninya?
Pria berjas putih itu pada akhirnya berbalik dan menyerahkan sesuatu padaku. Tetap kutahan senyumku. Hatiku berdebar-debar.

'Tutup matamu. Akan kami suntikkan obat tidur. Setelah kau bangun, kau akan mendengar sesuatu lagi.'

Kupatuhi. Dengan harapan dapat segera menyongsong ke pelukan Mum, dan tentu mendengar suara merdunya.
Kemudian kucoba pejamkan mata. Sebentar lagi, dapat kudengar banyak suara. Sesaat lagi, tuli ini akan sembuh....

Namun, dalam hitungan menit--ya, MENIT!--dapat segera kudengar lagi sebuah suara.

BUM!!!

Ya, SUARA! KERAS SEKALI! Wow, cepat sekali kerja dokter ini! Tapi suara itu ... kenapa sungguh keras sekali? Bahkan masih terngiang-ngiang di kepalaku. Dan mengapa ... firasatku mengatakan bahwa operasi ini tidak berhasil?
Belum selesai, banyak suara-suara keras lainnya yang menyusul. Membuat kepalaku pening, karena ... suara-suara itu menjerit keras sekali!

"KYAAAAAAAAAAAAA!!! KYAAAAAAAAAAAAAA!!!"

"ANGKAT TANGAN! WAHAI, PENDUDUK KOTA GAZA! INILAH AKIBAT DARI DOSA KALIAN!"

Aku tak bisa bangkit. Pun melihat tak berani. Tanpa memfungsikan panca inderaku pun aku tahu, kota ini telah menjelma menjadi medan perang.

... Dan tepat sedetik kemudian peluru menghujam jantungku.



thanks to: guru pkn yang udah kasi video liputan" perang gaza ._.

next prompt: Angle/Sudut
Edited by b e l s, 24 Nov 2011, 05:12 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Chyka
i love you. shall i destroy you? ♥
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: angle/sudut
fandom: Ballad of Two Halves (proyekan gak jadi-jadi orz)
characters: Kristoff Hallen dan Katelyn Hammerick
warnings: hints of violence.



Lihatlah, sayang, dunia tak lagi berada dalam genggamanmu sekarang.

Kristal kelabunya memperhatikan bagaimana darah perlahan mulai terciprat dari sudut mati kamera pengawas di ruang kerja sang Tuan, seringai puas perlahan mengembang pada paras pucatnya kala satu dua ritem ketukan mengenai pintu ruang kerja dan getarannya merambat lewat udara kosong. Dara dengan surai gelap yang tersanggul rapi itu mempersilahkan siapapun yang telah mengetuk untuk masuk. Pintu dari kayu oak itu berderit kecil ketika dibuka, dan menampilkan sosok seorang pemuda di awal usia 20 dengan pakaian formal—jas gelap dan kemeja putih yang ternoda darah. Sang gadis memperhatikan bagaimana pemuda itu berjalan dari ambang pintu menuju meja kerjanya, mempersempit jarak diantara mereka dengan mata yang terbakar kilat amarah yang sudah dia duga sebelumnya.

Oh, Krist sudah menemukan kejutan kecil yang Kat persiapkan untuknya, eh?

Senyum merekah bagaikan kelopak mawar di musim panas, meradiasikan keceriaan yang dipalsukan dengan mata yang berbinar senang—seakan dia memang sudah memastikan kalau Kristoff Hallen akan datang padanya. Dia berdiri dengan tangan yang terbuka, seakan hendak mengundang pemuda itu dalam pelukan. "Kristoff, lama tidak jumpa. Apa gerangan yang membawamu—"

Sambutan itu terpotong oleh satu pisau yang melayang kearahnya, nyaris menggores kulit yang melapisi nadi utama di leher, dari tempat Kristoff Hallen berdiri. Matanya yang berbentuk seperti almond itu membulat kaget sementara bilah tajam pendek itu sudah bersarang nyaman di pigura foto yang tergantung di belakang sang dara, menusuk potret diri yang tengah mengembangkan senyum dengan manisnya. Dia masih berada dalam keadaan kelewat kaget untuk menyadari kalau kini pemuda dengan surai kelam itu sudah berjongkok diatas mejanya, wajah hanya berjarak beberapa milimeter dari parasnya (dan Tuhan, Katelyn bersumpah bahwa ia bisa merasakan deru hangat nafas Kristoff membelai pipinya, spasi antara bibirnya dan Krist begitu pendek hingga Kat tergoda untuk menghapus spasi itu—) dan Katelyn melihat Kristoff menyeringai. Ada dingin yang memberatkan tertempel di kulit leher, Katelyn jelas kenal apa itu.

"My dear Katelyn." Lelaki itu berbisik, membiarkan suaranya menggema dalam pikiran sang Nona Hammerick yang kini entah bagaimana telah berada dalam rengkuhan Tuan Hallen, badan terperangkap jerat kedua tangan kokoh. "Kau tetap mudah disudutkan seperti dulu-dulu ya, Lyn kecil?"

Karena bagaimanapun juga, takdirmu adalah berada dalam sudut mati kamera.

semoga promptnya kerasa...... atau nggak? .__.
Next prompt : posesif/possessive
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Propto
Member Avatar
Newbie
[ * ]
prompt: posesif/possessive
fandom: RP IndoOlympians
characters: Alexander Clermont dan Arriane Clermont




Terkadang rasanya tak wajar apa yang dirasakan oleh Alexander Clermont terhadap saudari kembarnya. Bukannya ia merasakan sesuatu yang terlarang seperti cinta—karena dengan memikirkannya saja ia merasa aneh—namun rasa tak ingin kehilangan yang keterlaluan hingga mengganggunya.

Jemarinya menekan tuts piano secara bergantian, memainkan lagu Nocturne dengan lancar tanpa matanya teralihkan ke hal-hal lain selain ke piano yang berada di hadapannya. Seperti biasanya jika ia sedang fokus melakukan itu, hampir tak akan pernah ada sesuatu yang berhasil mengalihkan atensi dan konsentrasinya, terkecuali satu orang. Hanya mendengar suaranya, mendengar gelak tawanya, kepalanya mengangkat dan tak memperhatikan jemarinya bergerak ke mana. Ya, pengaruh seorang Arriane Clermont baginya memang seperti itu karena ia begitu merasa tergantung padanya. Jemarinya seketika itu juga berhenti memainkan piano begitu melihat gadis bersurai pirang itu masuk bersama teman-teman wanitanya, tertawa bersama membicarakan sesuatu entah apa.

Ia merasa iri melihat ia harus membagi Arriane dengan orang-orang itu, karena ia ingin memiliki Arriane hanya untuk dirniya sendiri sebagai kakaknya. Namun ia tahu hal tersebut adalah sesuatu yang amat egois di pihaknya. Ia ingin Arriane selalu berada didekatnya, sekarang pun ia berharap Arriane menghampirinya dan setidaknya menanyakan apa yang sedang ia lakukan. Tapi tunggu—Arriane tak seharusnya berada di sini karena ini adalah kelas khusus bagi yang mengambil spesialisasi di bidang Piano, sementara Arriane adalah pemain biola. Dan kenyataan itu mendadak membuatnya semakin berharap gadis itu akan menghampirinya. Dan ya, gadis itu ternyata langsung menghampirinya dengan senyum terpulas di wajahnya.

"Alex, nanti aku mau bermain dengan Isabella, jadi kita tidak akan pulang bareng."

Alex cemberut, sesuatu yang biasa dilakukannya semenjak setahun yang lalu disaat usianya mencapai 7 tahun. Belakangan ini Arriane sering sekali bermain bersama Isabella, sehingga mereka rasanya jadi jarang melakukan sesuatu bersama.

"Tidak boleh, aku mau main denganmu."

Terkadang, bukan, seringnya—ia menyerah pada egoismenya.



Kayaknya prompnya gak kerasa ya .---.
Next prompt: Victory/Kejayaan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
hansel.
Member Avatar
why-o.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: victory/kejayaan.
fandom: proyek nanowrimo taun depan (...) princess of serendip.
chara: ashton/esther ;;;;;
Ini kemenangan baginya, bukankah begitu?

Ia berhasil menghabisi iblis yang memberinya kehidupan, menghembuskan nyawa dan menghalau maut yang seharusnya menyapa saat ia masih bayi—dengan pengorbanan dari kedua orangtua yang terpaksa merelakan jantung mereka. Pedangnya berhasil menusuk pusat kehidupan pangeran iblis tersebut, menyebabkan detaknya terhenti seketika, dan sang empunya rubuh ke tanah dalam hitungan milisekon. Ini adalah kejayaan yang diimpikan, yang telah menjadi ambisinya selama bertahun-tahun.

Namun mengapa—
Menatap tubuh yang bersimbah darah di dekat kakinya, Esther terdiam. Tubuhnya menggigil ketakutan, sepasang maniknya terbelalak tak percaya. Bilah pedang yang masih berlumuran cairan kental berwarna gelap, cairan kehidupan sang lawan, terjatuh tanpa dipedulikan akibat tangan yang tak lagi mampu menggenggam gagangnya. Sang gadis terjatuh dengan lemas, jemari merayap dengan gemetar dan menyentuh muka lawannya yang kini telah sepucat susu.

—rasanya.. menyakitkan?
Di tengah gegap gempita kawan-kawan yang bersorak riang merayakan kemenangan, kerumunan yang berbangga hati dapat mengamati bagaimana sang pangeran dari dunia iblis berhasil ditaklukkan, raungan marah dari iblis-iblis yang tersisa dalam peperangan.. Esther menjerit, menangis sepenuh hati, menyesali kepergian Ashton. Dua buah anak sungai terbentuk di pipi, tak henti mengalirkan kristal bening.

Ia berhasil meraih kejayaan, yang dibayar dengan separuh jiwanya.

Karena sang pangeran iblis yang mengambil nyawa kedua orangtuanya adalah entitas yang paling dicintainya.
;;;;;; /belom mulai bikin aja udah ngebunuh ashton /penulis macam apa ini /dzing

next prompt: bubble/gelembung? :-?
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Silent Afterglow
Member Avatar
Class Zero
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Bubble/Gelembung
Fandom: Belum dikasih nama.
Character: Tyllis Twin
Warning: Twincest.
Kehidupan seorang Cross Flindel Tyllis adalah seperti gelembung.

Gelembung itu dengan cepat datang, namun juga pergi dalam sekejap mata. Ditiup angin, ia pergi dengan angin sebagai transportasinya. Cross pun seperti itu. Archadia selalu mencari kakaknya itu, namun tidak ia temukan. Tiap kali menemukan tanda-tanda keberadaannya, secercah harapan muncul, namun dengan cepat pupus. Ia sudah putus asa. Gelembung, gelembung. Ia sangat rapuh. Pecah sekali disentuh, bahkan dengan sentuhan yang paling lembut sedikitpun. Sama seperti Cross. Di luar, si pria surai perak itu nampak kuat dan tegar. Namun di dalam, ia sangat lembut. Hatinya sangat rapuh. Archadia selalu mengingat saat lengan kakaknya melingkari lehernya sementara sang kakak perlahan-lahan tertidur, Archadia bisa merasakan keraguan dan kekhawatiran.

Kini dalam rengkuhan penuh kasih dari sang kakak, Archadia hanya bisa tersenyum puas. Gelembung, selalu memiliki kemungkinan untuk kembali. Dan didapatkan oleh yang empunya, yang memilikinya. Ya, mereka berdua saling memiliki, meskipun jarak memisahkan mereka.

"Aku...Menyayangimu."

Mata si gadis makin berat. Tidak sanggup lagi menolak bantal yang empuk, si surai cokelat segera tertidur pulas, kepalanya terjatuh lembut dalam lengan sang kakak yang kuat. Si surai perak hanya mengamati dalam diam, kristal hitamnya memancarkan kelembutan yang tersembunyi sementara ia merengkuh sang gadis dalam pelukannya erat. Ia tidak terlalu cakap dalam berkata-kata. Namun satu ons perbuatan mencerminkan satu ton perkataan, bukan?

Membisikkan sesuatu, lalu menutup matanya. Kedua saudara itu tertidur dalam damai.
Abaaaaaaaal.

Next up: Academy/akademi
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ann-chAn
Member Avatar
Kirei na koe de
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Academy/akademi
Fandom: RPF (Acacia of the World)
Chara: Ann, Nishiki *sujud ke PM-nya Nishiki*

"Nicchin! Coba ke sini sebentar!" suara Ann yang penuh urgensi membuat Nishiki mau tidak mau bergegas mendekatinya.

"Apaan?"

"Ini, ini! Coba lihat." Gadis itu menunjuk kertas yang ia genggam. "Magia Academiae, menerima pendaftaran murid baru. Wah! Akhirnya mimpiku kesampaian!"

Sementara temannya tersenyum girang, Nishiki malah mendengus. "Tiap tahun Akademi itu kan menerima ratusan murid baru. Kenapa ribut sekali sih? Lagian mimpi apaan, kamu kebanyakan mengkhayal, Ann."

Ann mengerucutkan bibir. "Akademi ini satu-satunya di seluruh dunia. Mimpiku sejak dulu ya masuk Magia Academiae, lalu setelah lulus menjadi seperti ayahku!" Melihat Nishiki hanya mencibir, Ann menambahkan, "Tentu saja, dalam mimpiku, aku masuk ke Magia Academiae bersamamu~"

Rona merah yang menghiasi wajah anak lelaki cilik itu sudah sanggup memancing tawa Ann.

*sujud lagi ke PM-nya Nicchin* Kayaknya agak OOC deh =="
Next: wire/kabel
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
hansel.
Member Avatar
why-o.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: wire/kabel
fandom: princess of serendip. atau serendipity aja ya? :-? atau princess of no luck (...) *dibuang*
chara: ashton/esther lagi dongs :>
"ASHTON, JANGAN KESANA!"

"Kenapa?"

"Aku membuat jebakan untuk para demon, akan ada kabel tebal yang akan melilitmu jika kau salah melangkah."

"Kabel?"

"Yap."

"Kenapa kabel?"

"Kau pernah lihat demon nggak sih? Kalau tali biasa, demon-deomn itu bisa dengan mudah merusak talinya dengan taring atau kuku mereka. Kalau kabel, setidaknya akan mencuri waktu cukup lama hingga aku bisa menyerang dan membuat luka yang cukup parah. Atau bahkan sekalian membunuh mereka sehingga--"

Sang pemuda mencondongkan tubuhnya dan mengecup sekilas bibir sang gadis dengan cepat, membungkamnya dengan gestur kasual seolah hal ini adalah sesuatu yang biasa dilakukan. Esther otomatis merasakan wajahnya memanas tak keruan, memastikan parasnya kini semerah tomat busuk, dan tergagap-gagap.

"Akhirnya kau berhenti bicara juga."

"A-APA-APAAN?!"

"Aku tak suka kau membicarakan demon terus menerus."

Ashton mengedipkan matanya dan kembali melangkah menjauhi sang gadis yang hanya dapat membuka-tutup bibirnya layaknya ikan yang kehabisan napas. Dua detik kemudian terdengar suara keras, teriakan kaget, dan Ashton merasakan tubuhnya terlilit oleh kabel berdiameter luar biasa besar. Sekuat tenaga ia meronta, ikatannya tak bergeming sedikitpun.

Kali ini ganti Esther yang tergelak.
.///////////. #apakamula

nextprompt: worse/lebih buruk
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Dani
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: worse/lebih buruk
Fandom: fanfic2 buatan Danielle Roberts dan Viviane Octania di fictionpress eheheh...
Charas: Kimura Dani/Mizuhashi Asuka
"Tidak ada yang lebih buruk di dunia ini selain kehilangan Asuka..." ucap Dani sambil menghela napas. Memeluk Asuka yang menyandarkan kepala di dadanya.

"Ada," kata Asuka.

"Hm? Apa?" tanya Dani sambil mengernyitkan dahi.

"Hal yang lebih buruk dari kehilangan Asuka adalah terus-terusan bersama Dani," jawabnya, membuat Dani terjatuh ke lantai.
next prompt: Beethoven
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
Learn More · Sign-up for Free
Go to Next Page
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone