Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Gradasi; Alice Nine/T/fluff, angst,romance
Topic Started: 21 Dec 2010, 12:08 AM (704 Views)
mesti
Member Avatar
ShouNao Forever
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Summary: Saat-saat bahagia, saat-saat sedih dalam berbagai gradasi rasa..
Disclaimer: Alice Nine bukan punya saya T_T
Pairing: ToraxShou

...................................................................

1. Realita

Gemuruh tepuk dan sorak-sorai terbentang di hadapannya, dihadirkan oleh ribuan fans mereka. Kakinya terkunci di atas lantai panggung dengan sudut pandang 180 derajat. Pendar cahaya lampu menanarkan pandangnya, mengambangkan sejumput tanya dalam hening pikiran.

“Tidak. Ini bukan mimpi, Shou.” Suara tenang di sampingnya memberikan keyakinan yang tak terbantahkan. Suara milik Tora.

Ya, ini bukan mimpi. Budoukan adalah realita yang tengah mereka kecap saat ini.


2. Requiem

Nada-nada tinggi dan rendah mengaliri kesenyapan udara ruang itu, membumbung hingga ke langit-langit. Ia mengatupkan mata, berusaha mencerna kepedihan dan ratapan dalam lantunan suara koor dan denting organ. Perpisahan sebisu keabadian terpantul dalam requiem itu.

Nyatakah adanya..ini?

Di depannya, dua peti kayu membingkai sosok yang amat ia kasihi. Ayah ibunya. Tak selalu akur dengannya, namun mereka adalah orangtua yang tak tergantikan posisinya.

Kenapa keduanya harus meninggalkannya pada saat bersamaan? Dalam kecelakaan mobil yang bahkan tak sempat memberinya firasat, pertanda, atau apapun untuk meneguhkan hati terlebih dahulu?

Wangi bebungaan perlahan merayapi indranya, menjalarkan kehampaan yang mencekik logika. Buram. Apa yang harus ia pahami dari duka yang tengah disodorkan kenyataan padanya?

“Tora-chan..”

Tanpa menoleh pun, ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Shou. Ia juga sudah tahu seperti apa ekspresi khawatir yang tengah menggelayuti paras sahabatnya itu.

Namun ia tak pernah menduga akan merasakan sentakan ringan di tangan kirinya, yang tiba-tiba saja telah memerangkapnya dalam rengkuhan kedua lengan itu. Begitu lembut, menghantarkan kenangan akan hari lalu, saat orangtuanya pertama kali datang untuk menonton live mereka. Saat ia tak dapat menahan luapan perasaannya dan segera menelungkup di lantai. Menangis. Hal yang tak pernah ia kira akan ia lakukan di depan umum. Saat itu pun, Shou berlutut di sampingnya dan merangkul bahunya, berusaha meredakan setiap getar yang ada di sana.

Ya. Ya, benar. Ada juga saat seperti itu. Saat pertama kali ia berdamai dengan kedua orangtua yang menentang karirnya di dunia musik. Ya... bagaimana mungkin ia bisa lupa?

Requiem kembali dan masih saja bergema, memantul pada dinding-dinding dingin ruangan itu. Menemani bulir-bulir bening yang kini mengalir bebas dari pelupuk matanya.


3. Matahari

Sedang apa?

Ia mengirimkan email itu saat matahari baru saja menjajaki langit. Semburat keemasan menyelimuti dedaunan pagi, menari riang dalam lambaian angin. Mengundang kakinya untuk melangkah keluar rumah dan menjenguk keindahan taman terdekat.

Seperti yang sudah ia perkirakan, hingga mentari mulai meninggi di ufuk timur, ia belum juga menerima balasan apapun.

Dikeluarkannya kamera ponsel untuk mengabadikan kecantikan alam di depannya. Disertai sedikit kata-kata persuasif, ia kembali mengirimkan pesan pada orang yang sama.

Kali ini, Tora pasti akan datang ke tempatnya berada.


4. Arah

“Bukan di sini.” Ia bergumam kesal.

“Ya.” Suara di sampingnya menyahuti dengan nada letih.

Sudah hampir setengah jam mereka berjalan menyusuri blok yang sama. Mencari tempat dimana sedianya mereka akan bertemu denga Saga dan Nao, dua orang yang –mungkin- akan menjadi anggota band mereka. Aneh, kenapa sulit sekali menemukan kafe kecil itu?

Sekarang sudah lewat 10 menit dari waktu janjian. Benar-benar awal yang buruk untuk memulai suatu kerjasama.

“Tenanglah, Tora-shi. Kali ini, kita coba ke arah sini?” Optimisme dan keteguhan dalam suara Shou mengembalikan harapannya.

Kali ini, entah mengapa, ia yakin mereka telah menggenggam arah yang benar.


5. Nyanyian

Lucu sekali.

Ia sudah sering mendengar Shou bernyanyi, tentunya bukan hanya di atas panggung atau di studio. Shou rajin melatih vokalnya, bahkan sudah mendekati taraf amat sangat rajin belakangan ini. Tidak aneh memang, karena konser Budoukan mereka hanya sejarak satu bulan lagi.

Tapi pada pukul setengah lima pagi seperti ini? Dan bahkan mata Shou pun jelas-jelas masih terpejam.

“Bahkan di dalam tidur pun kau masih berlatih menyanyi, Shou-kun?”

Kurang tepat bila disebut nyanyian, sebenarnya. Karena syair dan pelafalan Shou terdengar tidak begitu jelas. Lebih mirip gumaman.

Sejenak ia menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan.

Ah, tidak. Ia tidak akan tega membangunkan malaikat di sampingnya. Malaikat-nya.


6. Sakit

Barusan ia tidak salah lihat, kan?

Tora-shi mengernyitkan dahi saat hendak memegang gitarnya. Lalu, pagi tadi, Tora hampir saja menjatuhkan gelas yang tengah ia pegang.

Apa rasa sakit itu kembali lagi?

“Tora-shi.. lenganmu?” Ia bertanya cemas pada sahabatnya itu. Mereka berdua sama-sama tahu, spinal disc hernia bukanlah penyakit yang mudah disembuhkan. Bahkan setelah melewati pengobatan bertahun-tahun.

“Tenang saja, Shou-kun.. Kali ini aku tidak akan memaksakan diri lagi.”

Aku sudah berjanji untuk tidak membuatmu sedih lagi.


7. Ramah

Ia sudah kerap ditatap dengan pandangan takut oleh orang- orang di sekitarnya. Di kereta, di swalayan, bahkan di toko alat musik yang berisi orang-orang dengan dandanan seaneh dirinya. Barangkali karena tinggi badannya. Atau mungkin juga karena perawakannya yang tidak seperti orang Jepang kebanyakan, membuat mereka mensejajarkan dirinya dengan bahaya. Meskipun ia sama sekali tidak melakukan apapun, atau bahkan sekedar berniat untuk melakukan apapun, yang dapat menyakiti orang-orang tersebut.

“Tora-san?”

Ia tidak pernah menyangka akan mendapat sapaan yang begitu ramah, tak tercemari oleh prasangka buruk apapun. Terlebih lagi dari vokalis band lain yang sebelumnya tak pernah bertukar kata dengannya.

“Penampilanmu tadi bagus.” Ada kekaguman yang tulus dalam nada suara itu. Begitu jauh dari kepalsuan.

Sejak saat itu, ia sudah tahu bahwa Shou akan menjadi seseorang yang teramat berarti untuknya.


8. Mawar

“Ini untukmu.”

Mata bulatnya yang sudah lebar menjadi semakin lebar demi melihat benda yang diangsurkan Tora padanya. Buket mawar. Apa ia tidak salah lihat?

“Etoo.. apa maksudnya ini, Tora-shi?” Rangkaian bunga bukan sesuatu yang lazim diberikan kepada teman, bukan?

“Itu...” Rona wajah Tora berubah jadi semerah mawar yang tengah dipegangnya.

Ah, begitu rupanya. Ia mengerti.

Hening sejenak, sebelum akhirnya ia menerima buket itu dan membawanya mendekati wajah. Dikecupnya perlahan kelopak-kelopak bunga yang serapuh dan selembut asa.

“Terima kasih..”


9. Merah

Merah. Merah memagut rel kereta di hadapannya. Merah tergurat pada palang pembatas rel dan jalan raya. Pada pekikan histeris dari orang-orang di kiri kanannya. Pada sudut benaknya yang hanya bisa terpaku menyaksikan sosok tak bernama menghantarkan diri ke dalam pelukan maut.

Kenapa.. Kenapa?!!

Kenapa orang itu harus menghabisi nyawanya sendiri? Kenapa harus saat ini? Kenapa harus tepat di depan matanya?

Kenapa ia tidak dapat melakukan apapun untuk mencegah peristiwa itu terjadi?

Kematian lebih senyap dan bisu daripada serpihan udara musim dingin yang menampari pipinya.

Kenapa..

“Shou!!” Seruan panik dan guncangan di bahunya membuatnya tersentak.

“Kau tidak apa-apa, Shou? Shou?”

“Tora..”

Tora.. Tora..

Bawa aku pergi dari sini. Kemana pun asal bukan di tempat ini.


10. Tawa

Saat ada seseorang yang mengatakan hal yang menyakitkan, Shou hanya akan tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Saat ada masalah menerpa, Shou akan memekarkan senyum untuk menenangkan mereka. Saat harus menghadapi fans dan staff, bahkan yang paling mengganggu sekalipun, Shou tetap akan tersenyum dan mengucapkan kata-kata lembut.

Bukan hanya dirinya, tetapi Nao, Hiroto, dan Saga juga berpikir bahwa Shou terlalu menahan diri. Kenapa tidak marah saat ada hal yang membuat marah? Kenapa harus menahan kesedihan seorang diri, di dalam hati?

Karena itu, ia sangat bahagia bila mendengar suara tawa Shou, seperti saat ini. Lepas, jernih, dan sedikit naif.. daya tarik yang tak pernah membuatnya bosan.

Karena, berbeda dengan senyuman, tawa Shou selalu datang dari dasar hati yang riang.
.............................................................................................

A/N: fic ini saya buat untuk FFC 50 sentences di infantrum. karena nggak kuat nulis 50 tema sekaligus, saya angsur sepuluh tema per bagian deh :sorry: trus karena fic ini dicampur-campur dengan fakta tentang alice nine, kalo ada bagian yang kurang jelas, silakan ditanyakan ^^
pertanyaan, komen, kritikan akan diterima (dan direply) dengan senang hati :happywaves:
douzou~..
Edited by mesti, 21 Dec 2010, 12:59 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Deleted User
Deleted User

Ooo.. harus di post disini juga ya Mesti?
Quote Post Goto Top
 
mesti
Member Avatar
ShouNao Forever
[ *  *  *  *  *  *  * ]
nggak juga sih, keka-chan.. kebanyakan member disini punya akun di FFn sih.. saia nggak punya akun di sana, jadi saia post disini aja (kalo di multi, yg bukan member nggak bisa komen kan?)
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Deleted User
Deleted User

hmm... iya juga sih..
hehe.. Keka juga mau ikutan yg challenge ini
tp masih milih2 fandom yg tepat dulu :P
Quote Post Goto Top
 
mesti
Member Avatar
ShouNao Forever
[ *  *  *  *  *  *  * ]
ohoho~..ayo ikutan FFC nya, keka-chan! mari kita sama2 berjuang ^^
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Deleted User
Deleted User

mana sambungannya mestiiiiii.....?!!!! *nagih* XD
Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Fully Featured & Customizable Free Forums
Learn More · Register for Free
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone