

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Selepas Kau Pergi; Rated T, Romance/Songfic | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 30 Nov 2010, 05:26 PM (437 Views) | |
| GunZ | 30 Nov 2010, 05:26 PM Post #1 |
|
Can you seize the day?
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Nggak ada unsur fanfic-nya kecuali lagunya sih... Bener ga ya taruh di sini? DISCLAIMER: Lagu 'Selepas Kau Pergi' itu punyanya Laluna. ===================== Selepas Kau Pergi Selepas kau pergi Tinggallah disini kusendiri Kumerasakan sesuatu Yang tlah hilang di dalam hidupku Andra bangun dari tidur tidak-nyenyaknya malam itu. Matanya dikedip-kedipkan seolah mencari sesuatu yang hilang dari pandangannya baru sejurus yang lalu. Sesosok bayangan yang belakangan ini menghantui mimpinya. “Nita,” geramnya pelan. Tidak ada yang menjawab panggilan itu. Kamarnya membisu bak sebuah ruang harta dalam piramid besar Giza. Penuh kenangan yang berharga, namun tak lebih dari kenangan sepi yang tak dapat berkata apa-apa. “Geh... tepat saat kau akan bergerak maju,” lanjutnya dengan suara malas sambil kembali menggelung dibawah selimut. Dan kamar yang gelap itu pun kembali sepi. Diatas casing minitower yang duduk manis diatas meja, terpampang foto seorang gadis cantik bertampang khas Asia Timur dalam pakaian ungu. Di pojok kiri bawah foto itu tertulis kata-kata “Diana” yang tercoret asal dengan tinta emas. Dalam lubuk hatimu Ku yakin kau pun sebenarnya tak Inginkan lepas dariku Tahukah kau kini kuterluka “Hatsyii~” “Duh, Nita... kamu kenapa? Flu-mu belum sembuh?” tanya seorang ibu setengah umur kepada seorang gadis muda semampai berkulit hitam manis yang duduk di ujung meja makan. Sang gadis bernama Nita itu buru-buru mengelap sisa lendir yang meloncat keluar dari celah bibirnya itu saat ia bersin tadi dengan serbet yang ada dekat tangan kanannya. “Ah, enggak kok Mi, cuma ada merica nyasar ke hidung,” jawab Nita sekenanya sambil menyiapkan sesendok nasi lagi di piringnya. “Oh ya, bagaimana dengan rencana Abah untuk main bowling malam minggu? Kamu ikut tidak?” tawar sang ayah, yang baru saja menelan sesendok sup. “Erh... enggak bisa Bah...” jawab Nita sedikit tersendat. “Lhoo... kita kan udah lama gak main bowling rame-rame...” sela sang ibu setelah menelan sesendok nasi. “Ah, Enyak ini kayak nggak tau aja... kan kak Nita mau keluar ama bang Eros...” sambar sang adik lelaki yang duduk di ujung meja yang satunya sambil tersenyum lebar. “Oo... jadi begitu ya... berarti acara bowling kita harus batal. Ganti acara lain,” ujar sang ayah sambil menelan sendokan kuah sup yang terakhir dari piringnya. “Acara apa, Bah?” tanya sang ibu dengan dahi terkernyit penasaran. “Acara mengawasi kencan Nita,” balas sang ayah sebelum tertawa terbahak disambung gelak tawa susulan dari sang ibu dan adik. Bantu aku membencimu Kuterlalu mencintaimu Dirimu begitu Berarti untukku.. “Lemes amat lu jang, kaya abis gak tidur semaleman aja,” sapa Ardi kepada Andra yang baru saja melemparkan tubuhnya ke atas tumpukan bantal dan karpet yang ada di dalam sekretariat unit mereka itu. “Gak tau aku bang, ujianku kayaknya bakal hancur lebur lagi semester ini,” jawab Andra sambil membantali kepala dengan kedua tangannya. Pandangannya diterawangkan ke arah langit-langit ruangan itu sambil melanjutkan kalimatnya, “Tak tahu lagi aku mau bilang apa ama ortu.” “Alaa... kebanyakan pacaran aja kau! Gimana kabar tuh, Diana... udah diberesi belum?” balas Ardi cuek sambil menyandarkan punggung ke dasar rak buku di ujung barat ruangan. “Gak tau pula aku bang... dia sih udah kasi aku tanda bagus... tapi aku masi agak ragu tanda itu benaran atau tidak...” balas Andra, masih dengan pandangan menerawang ke arah langit-langit. “Eleh, sudahlah! Buang aja jauh-jauh bayangan mantan kau yang itu... lagian kapan tahun lagi kau dapat cewek cantik macam Diana Li yang kau lagi pedekate itu sekarang! Mau tunggu tahun kuda datang lagi? Udah punya anak ama aku lah dia!” balas Ardi sok PD sebelum tertawa terbahak-bahak. Dalam pikirannya, Andra membenarkan kata-kata dalam paragraf terakhir lisan Ardi itu. Namun entah kenapa ada sepotong darah dalam hatinya yang menolaknya. Kau telah mencinta Dan dicintai kekasihmu Ini tak adil bagiku Hilanglah dambaku kala hampa Nita masih terpekur dalam diatas sebuah bangku yang menghadap ke sebuah petak kecil di bagian depan taman sekolah. “Nunggu jemputan, nek? Bengong aje,” tegur salah seorang temannya sambil duduk di sampingnya. “Ya... begitulah, Rin... nggak tau nih kok si Bejo Edan itu lama bener datangnya,” jawab Nita sekenanya. “Yee... Eros udah cakep-cakep kok malah dibilang Bejo Edan. Gue bilangin nih,” ancam gadis semeter kotor bernama Rina itu sambil tersenyum. “Eala... bukan Eros... Bejo Edan itu kan si Leander, adikku! Mentang-mentang si Eros lagi gencar PDKT ama aku aja... nyangkut aja semuanya ke sana,” sembur Nita sambil memukul sahabat baiknya yang selalu bergaya funky itu dengan sebuah pukulan bersahabat. “Yeee... jangan marah gitu dong, nek! Mana gue tau kalo lu manggil adik lu Bejo Edan... eh, tapi ngomong-ngomong, lu ama si Eros gimana? Udah belon? Gue kan mau makan gratis ni bulan ini...” balas Rina sambil menangkis pukulan Nita. “Yah... entahlah, Rin... kok aku rasanya belum yakin bener... terus katanya dia juga belum...” balas Nita sambil memandang sepetak bunga lili putih yang tumbuh di taman di depannya. “Eeuleeeuu... kurang yakin sebelah mana neeek! Eros yang anak orang kaya, siswa teladan, obyek rebutan cewek se-Bandung Raya, baik, murah hati, ringan tangan, trus juga atletis gitu... tunggangannya Toyota Supra anyar oprekan bengkel Gairah Berotot pula... kurang apa lagi sih dia? Dibanding si...” omel Rina sambil bangkit berdiri dari duduknya. “Nggak baik banding-bandingin orang...” potong Nita, “Ah... si Bejo Edan udah datang... aku pulang dulu ya!” Nita pun berdiri dan menyongsong adiknya yang sudah menunggu di seberang gerbang. Beberapa saat berlalu. Rina sudah kembali duduk di bangku tadi sambil memandang petak lili putih yang tadi dipandangi oleh Nita. “Cih... dasar... kenapa sih dulu lu putus ama dia, Ndra...?” tanyanya retoris. Bantu aku membencimu Kuterlalu mencintaimu Dirimu begitu Berarti untukku “So, bagaimana tadi?” tanya seorang gadis rupawan sambil meloncat turun dari platform DDR yang tadi menjadi saksi kepiawaian gadis itu menempatkan injakan kaki-kakinya mengikuti urutan panah yang berjalan di layar. “Impressive. Kau tahu dong, komentarku yang buta ritme ini,” jawab Andra sambil tersenyum lalu menyerahkan jaket dan tas sandang kepada sang gadis berbalut tank-top dan celana jeans yang agak ketat itu. “Oh, aku tak pernah mengharapkan pujian setinggi itu dari 'Master of Hands' Dewanggandra Kusuma,” balas sang gadis setengah-sinistik sambil setengah-membungkuk a la sikap hormat abad pertengahan. “Masih ada yang mau memanggilku dengan gelar bodoh itu ya, bahkan setelah Hendrik ‘mengambil alih’ pusat pertunjukan di sini...” ujar Andra sambil tertawa kecil. “Sure. Kenapa enggak? Toh, kau juga yang mengajari Hendrik dan kawan-kawan... means you’re still greater than him, right?” balas Diana kalem sambil menyeka keringat dengan selembar handuk kecil yang diambilnya dari dalam tas sandang miliknya itu. “Yeah riiight...” geram Andra pendek. “Hey, mumpung kita di sini... mau mencoba gerakan tandem legendarismu itu? Ayolaaah...” sambar Diana sambil bangkit berdiri. Rambut sebahunya yang tampak berkilat di bawah lampu terang game center itu begitu indah. “Hmm~ baiklah kalau itu maumu, tapi... mungkin aku tak secepat dulu lagi... yeah, getting those few extra pounds,” ujar Andra sambil tersenyum dan bangkit. “Hihihi... even those look good in the eyes of a certain somebody that likes you,” bisik Diana sambil tersenyum ke dalam telinga Andra yang sedang bersiap-siap menaiki panggungan yang sengaja dibuat di bawah mesin arked yang mereka maksud. Bantu aku membencimu Kuterlalu mencintaimu Dirimu begitu Berarti untukku.. “Nit... Nita...” “Hwa! Eh... ah... um...” ujar Nita gelagapan sambil berusaha mengumpulkan perhatian kepada sosok arjuna nan rupawan yang berdiri di sampingnya itu. “Ayo, antrean kita sedang maju nih... nanti dipotong orang lho,” balas sang arjuna sambil tersenyum, dengan senyumnya yang bisa melelehkan hati beku seribu gadis rupawan. “Er... well... ayo...” desah Nita agak ragu sambil melangkah maju ke dalam ruangan kecil yang terpasang di ferris wheel itu. “Jadi, bagaimana dengan orangtuamu?” tanya Eros sambil tersenyum dan memandang dalam bola mata Nita. “Er... ya... tadi itu kebetulan saja kok... sepertinya Abah sedang agak stres dengan pekerjaannya... dia sering jalan-jalan entah kemana dengan Umi kalau lagi ada masalah kantor...” balas Nita sedikit terbata, jelas sekali mencerminkan kegugupan. “Oh... bukan, bukan itu kok. Aku cuma agak kuatir, kalau-kalau kamu belum boleh pacaran atau apa...” kata Eros sambil tersenyum. “Pa-pa-pa... er... ah... um... enggak kok! Maksudku... er... aa... dulu... aku sudah pernah kok... er... maksudku pacaran... dan mereka juga nggak keberatan kok...” sembur Nita tiba-tiba, mengagetkan Eros. “Ya, ya... aku ngerti kok. So... kalau begitu...” ujar Eros tenang. Ferris wheel yang mereka naiki perlahan berhenti, tepat memperlihatkan pemandangan malam Bandung yang dipenuhi kerlip lampu. “Eh? Kenapa ini...” desah Nita pelan, namun kata-kata selanjutnya tak terucap, terhenti oleh kata-kata pelan Eros. “Nittaya Maida Hapsari... maukah kamu jadi pacarku?” tanya Eros lembut. “Hoe?” Hanya satu kata itu yang terlontar dari bibir Nita. Lupakanku dalam tidurmu Yang pernah mencintaimu Kau memang tercipta Bukanlah untukku “Itu Nita bukan ya?” gumam Andra sambil berjalan mengikuti sang gadis gacoan barunya itu. Matanya memandang ke tingkat yang sama di seberang mal yang sedang ia jelajahi. Di sana, tampak sang gadis yang ia gumamkan namanya itu sedang menunggu sesuatu di pojokan sebuah distro. Gacoan baru. Ah, bagaimana ungkapan itu bak sebuah kertas amplas yang digosokkan ke ujung syaraf sang pemuda. Well, sure, Diana Anggia Li memang cantik. Cukup cantik untuk melebihi kecantikan dari hampir semua wanita yang bisa terpikirkan oleh Andra saat ini, termasuk Laetitia Casta dan Pamela Anderson yang seksi luar biasa itu. Ada sesuatu dalam tubuh lincah dan lentur sang gadis yang bisa menarik perhatian seorang pemuda dan mengikatnya di sana. Tapi, waktunya bersama Nita mengajarkan bahwa tak hanya kecantikan dan raga jasmani yang bisa membuat dua hati bisa bertaut. Andra dan Nita yang secara fisik bak sisi kiri dan kanan sungai Fly itupun dahulu sempat ditegur guru BK gara-gara terlihat terlalu mesra. Entah apa yang merekatkan mereka saat itu selain cinta. “Gi, tunggu bentar dong,” ujar Andra sambil menggamit tangan sang gadis yang berjalan di depannya. “Ya, ‘sup?” balas Diana sambil berbalik menghadapi sang gebetan. “Ada temenku di seberang sana. Wanna say hi?” ajak Andra sambil menunjuk ke arah Nita dengan jempol tangan kanannya. “Sure, yang cewek itu?” ujar Diana sambil memandang ke arah yang kutunjuk. “Hoo, lumayan juga!” Selepas kau pergi Tinggallah disini kusendiri Kumerasakan sesuatu Yang tlah hilang di dalam hidupku “Andra sudah menemukan jodohnya,” gumam Nita pelan sambil menghembuskan nafasnya. “Bengong aja neeek!” seru seseorang yang sudah dikenal oleh Nita, tepat di samping telinga sang gadis Malang. “Yaaaa~!” balas Nita terkaget-kaget. “Rina! Mentang-mentang kecil ya…” “Hehe~” balas Rina sambil memasang tampang sok suci. “Habis, mikir kok make bilang-bilang. Udah nek, udaaah!” “Udah apanya?” balas Nita agak terganggu. “Udahan ngarep! Andra gak bakalan balik ke kamu deh, pacarnya asoi geboi gitu!” sembur Rina sambil menunjuk hidung Nita. “Jawab aja deh si Eros itu, biar gak gantung kelamaan!” “Iya juga,” gumam Nita sambil memandang menerawang. “Kalau dia bahagia… apa adil bila aku tidak…?” ================= Fic tuwir yang baru selesai setelah 3 tahun diperam ![]() |
![]() |
|
| heizen shibata | 25 Dec 2010, 08:34 PM Post #2 |
|
Unyu-Unyu~
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
haha, ayah gaol, mau ngawasin kencan si anak? boleh saya save cerpen ini? hehe |
![]() |
|
| Matsura Akimoto | 2 Feb 2011, 04:03 PM Post #3 |
|
h i a t u s
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
ayah gahoooolllll. XD boleh saya fave? mwahahahaha. /dibakar |
![]() |
|
| Ann-chAn | 3 Jun 2011, 07:14 AM Post #4 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
...jadi sebetulnya si Nita dan Andra sebetulnya masih mengingat satu sama lain? Tapi keduanya juga sudah jalan sama orang lain? Dan keduanya masih merasa cemburu melihat masing2 jalan dengan orang lain? I feel familiar with this plot.... |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:35 AM Jul 11
|
AFFILIATES







![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)





7:35 AM Jul 11