

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Feeling Different; Tragic/Friendship, T, Death | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 23 Nov 2010, 10:01 PM (358 Views) | |
| SoaringCrow | 23 Nov 2010, 10:01 PM Post #1 |
|
Premium Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Ada yang bilang apabila tiba-tiba tingkah seseorang berubah, pasti akan ada saja suatu hal yang terjadi. Misteri yang tak terpecahkan, tak seorangpun dapat memberikan teori akurat mengenai gejala tersebut. Sebuah vision yang diwahyukan, pandangan sekelebat yang nampak begitu nyata, perasaan tak yakin dan was-was--merupakan salah satu hal yang dirasakan pada saat-saat itu. Seperti dalamnya galaksi, tak ada seorangpun yang dapat mengukur tingkat kenisbiannya. Seberapa nyatakah dalamnya galaksi dan luar angkasa? Seberapa warasnyakah kita apabila mempertanyakan kejanggalan mistik yang begitu akrab dengan lingkungan manusia ini? Tak ada yang tahu, pastinya. Ini bukan urusan kita, para manusia. Keberadaan lebih tinggi yang mengatur segala hal-hal itu. Tapi ini terlalu kejam. Ini terlalu menyakitkan. Apakah kenyataan suatu hal yang begitu menyakitkan? "Lo kelihatan kurang sehat..." "Masa'?" jawab si pemuda, menutup pintu mobilnya--ringan seperti biasa, sifatnya itu. Dhea memutar tubuh Ajo. Mata si gadis menggambarkan ekspresi yang tak karuan, sungguh tak terbaca. Si pemuda tidak mengerti, ada apa dengan anak ini? tanyanya dalam hati. "Kenapa 'sih lo, Dhe?" "Jo, lu tuh keliatan ga enak badan gitu! jangan maksain diri, kenapa?" "Maksain diri apa? Gw ga kenapa-kenapa 'kok! Lo yang kenapa harusnya!" bentak balik Ajo, menghardik teman masa kecilnya. Dhea berjalan menjauh dari si pemuda, mengapit lengan kanannya. "...Jo... iya, sori... gue yang salah." Ajo pertamanya terheran-heran, tapi kemudian dia tersenyum. "Oi, jadi down gitu." dia menghampiri si gadis dari belakang. "Ga papa, 'kok. Gue seneng diperatiin ma lo." Si pemuda berkaos hitam itu mendaratkan telapaknya di kepala Dhea, mengacak-ngacak rambutnya. "Iye dah, gue istirahat dulu. Emang agak pegel 'sih nih pundak..." "...Ke kantin bentar, yuk. Kuliah gue masih satu setengah jam lagi." ajak si gadis. "Ya iye masih lama, 'lah. Orang lo gue yang anterin, juga!" balas si pemuda, mulai berjalan sambil bergurau. "Coba kalo naek angkot, pasti lo udah harus di lokal ngedengerin ocehan si kodok dosen lo itu, hehe." "Gitu-gitu bu Pastri gak pelit nilai, lo tau 'kan?" "...Iye 'sih. Cuma bacotnya itu ga nahanin banget, Dhe..." "Lo-nya aja yang males itu 'mah." Sampai saat itu Dhea tidak menyadari, bahwa itu adalah hari terakhirnya bisa berbincang-bincang, bergurau seperti biasa dengan sahabat baik sedari masa kecilnya, Ajo. "Si Yongki gimana, Dhe?" mulai tanya si pemuda, setelah menyeruput cappucino cream pesanannya. "Si brengsek itu? Ya, baeklah! Selingkuh mulu!" "Wes, sante, chick... Gitu-gitu si Yongki sayang ma lo 'kok. Gue tau." "Apaan? Lo mau sok jadi peramal sekarang, hm?" "Hahaha, kagak 'kok. Si Yongki sendiri yang ngomong ma gue." Ajo bisa melihat semburat merah nan tipis di kedua pipi mulus milik Dhea. Dia tahu hubungan kedua sahabat masa kecilnya itu sedikit tersendat, karena sifat Yongki yang agak sering bermain mata dengan gadis lain. Tapi, Ajo tahu--di dalam hatinya, kalau keduanya saling menyayangi walau bagaimanapun juga keadaan mereka. "Ya, udah lo baek-baek aja ma si Yongki, ye. Peratiin terus Fesbuk-nye, hehe." Dhea ikut tertawa. "Ah, elo Jo... itu 'sih pasti, donk. Tu anak kalo gak maen poker, pasti nge-download bokep... kalo gak ngegodain friend-nya yang baru-baru..." Ajo tertawa balik dengan geli. Dia bilang, kalo gak buka bokep bukan Yongki lagi namanya. Tapi dia terdiam, dan menatapi taman terbuka di cafe tempat mereka bersantai. "...Gue yakin, Yongki bisa ngebahagiain lo, Dhe. Jaga dia juga buat gue, ya." "...Jo?" "...Gimanapun juga, lo berdua orang yang paling gue sayangin..." "...Jo, lo 'kok ngomong gitu?" tanya Dhea sedikit khawatir, merasa teringat akan sesuatu. Tapi, masalahnya dia tidak tahu apa itu. "...Jo, lo aneh hari ni... sumpah..." Ajo menguap lebar. "Gue ngantuk, pinjem bahu lo bentaran donk, Dhe." "...Jo..." ujar si gadis, membiarkan bahunya ditimpa kepala si pemuda. "Ape?" "...Abis ni lo kemana...?" "Ke rumah Sara. Kenape?" "...Gak. Salam buat Sara, ya. Cepet sembuh gitu kata gue..." Si gadis tidak mendapat jawaban apa-apa dari Ajo. Tersentak, si gadis menggoyangkan bahunya yang menjadi alas kepala si pemuda. "...Jo!?" ia lalu lambat laun mendengarkan dengkur si pemuda yang tengah terlelap. "...Ah, dasar lo ini, ya... bikin jantungan aja..." Si gadis terdiam, merasakan napas si pemuda yang meniup-niup pelan lehernya. Dia berdiam untuk sesaat ini. "...'Dah, Jo." "Oke, see you ntar sore, ya Dhe..." "...'Dah, Jo..." "...Iye, congek. Gak denger jawaban gue, ye...?" "...Jo... ntar malem ke rumah gue, ya. Bokap gue dinas, nyokap gue lagi keluar kota. Gimana...? Jo...?" Ajo memangkukan tangannya, berpikir. "Hm, oke lah. Gue punya cd film baru, pinjem kemaren sore. Nonton bareng kite, nyok!" "...Ga usah kasih tau Yongki, ya Jo... Gue punya kejutan buat lo..." "...'Kok? Iyelah... tapi ulang tahun gue bukannya masih lama, ye?" "Bukan ulang tahun lo, dongo." "Apaan mangnye?" "Rahasia." "Ah, elo Dhe... haha. Okelah, ciao sist..." sahut Ajo memasuki mobil, dan langsung menyalakan mesinnya. "Jo, lo yakin ga mau nunggu bentar lagi biar kita barengan perginya ke rumah Sara...?" tanya si gadis, merasa was-was akan keberangkatan sahabatnya. "Janganlah Dhe. Gue gak mau rekor nilai A lo jadi rusak gara-gara pengen buru-buru keluar kelas si kodok." si pemuda memasukkan gigi mobilnya, dan kembali menatap mata si gadis. "See you, sist." ujarnya tersenyum terang. Melihat mobil Ajo menjauh, si gadis bergumam kecil. "...Lo emang selalu nganggep gue adek lo sendiri, ya... gak lebih. ...Tapi, lo emang yang terbaik, Jo." usainya, dengan lambaian kecil ke arah mobil Ajo melaju. -- -- "...Ajo tuh sahabat terbaik gue..." Si gadis balas mengangguk. "...Gue juga..." "Ayo, Dhe..." Kali ini si gadis menggeleng, masih membenamkan wajah ke kedua telapak tangannya. "Gue ga mau pergi darisini, Yong... Lo duluan aja..." jawabnya terisak-isak. "Dhe, ga enak sama keluarga Ajo..." "'Dek Yongki..." balas seorang ibu berkerudung hitam yang berkabung, menahan bahu dan mengangguk lembut pada si pemuda. "'Dek Dhea..." Masih belum bisa menghentikan deras air mata-nya, Dhea mengalihkan pandangannya pada seorang wanita paruh baya yang ikut berjongkok di sebelahnya. Mata si ibu juga basah oleh air mata, namun ia tersenyum--sebuah senyuman yang tulus. "Mama Ajo..." "...Kamu masih menangis?" tanya si ibu, menatap kembali mata berlinang Dhea. Si gadis terdiam dan menatap makam di depannya. "...Ajo itu lebih dari temanku. Ajo itu lebih dari sahabat--dia sudah seperti pengganti kakak kandungku yang sudah lebih dulu berpulang... lebih dari itu malahan... Ajo itu... Ajo..." ia mulai terisak, Dhea tak bisa lagi menahan derai kesedihannya--kembali mmebenamkan wajahnya di kedua telapak. Si ibu menatap langit, mengamati tiap-tiap awan yang berarak. "...Ibu sungguh sedih kehilangan Ajo, dek Dhea. Tapi... ibu merasa lega dan... bangga..." Dhea kembali mengangkat kepalanya. "Ibu bangga karena memiliki putra yang begitu bisa diandalkan dan selalu berbakti kepada kedua orang-tuanya." "...Tapi kenapa air matamu tak bisa berhenti begitu...? Kau sedih juga 'kan?" tanya si gadis, melipat alis matanya. "...Karena dia hanyalah permata titipan Tuhan pada kami..." Dhea tak bisa menahan rasa keterkejutannya. "...Dia anugerah terindah, sekaligus harta yang tak ternilai bagi kami. Tapi... kita hanya manusia, dan cepat atau lambat... kita akan kembali. Itu yang menciptakan air mata dan senyum ini." "Mari kita relakan kepergian Ajo, dek Dhea..." lanjut si ibu, mengusap air matanya. "Ajo akan merasa bahagia ketika tidak melihat air matamu. Mama jamin Ajo pasti sedang bersedih karena melihatmu seperti ini." Si ibu berdiri dan mulai melangkah menjauh. Tapi, sebelumnya ia menepuk bahu Dhea. "Tetap ceria seperti biasanya, dek Dhea..." Bagaimana bisa aku ceria, bahagia, dan bersenang-senang ketika kehilangan kamu Jo, batin Dhea meradang. Aku tahu bakalan terjadi sama kamu, tapi gue ga bisa nyampeinnya. Lagipula gue gak percaya yang kayak gituan, tapi... lo udah ga ada. Apa yang harus gue lakuin, Jo. Gue gak bisa kehilangan elo... Ko elo ninggalin gue, 'sih?! Gue gak ngerti, tapi ini terlalu menyakitkan, Jo... kenapa, kenapa harus elo...? Kenapa?! "...Dhe." "Ajo...! ...Yong-ki..." Gadis itu meletakkan telapaknya di atas tangan Yongki yang menepuknya di pundak. Ia merabanya untuk sesaat. "Yongki... kita tidak bisa bertemu dengan Ajo lagi... aku... aku..." "Ajo minta ma gue untuk ngejaga elo, Dhe. Sebagai kakak dan sebagai cowok lo... kata si taik tu..." "...Oh...Ajo, apa lo juga ngerasain... kalo hari ni bakalan datang? Ajo...?" rintih si gadis semakin berduka. "...Dhe, ada yang mau gue sampein ma lo." sahut Yongki, pelan dan lembut. Dia meraih bahu Dhea, dan perlahan memeluknya. "Gue bakalan terus ngejaga lo, demi lo sendiri dan demi Ajo--sahabat sekaligus abang kita juga..." "Oh...Yongki... gue gak rela Ajo ninggalin kita begini..." rengek Dhea di bahu pemuda berambut gondrong tersebut. "...Dhe... gue rasa ini waktunya gue berhentiin sifat mata keranjang gue." ucap Yongki, semakin mengeratkan kepitannya. Dia mulai terisak, mulai merasakan rasanya kehilangan suatu hal yang begitu berharga. - - - - - -FIN --- Ini first attempt aku di sini. Have you enjoy it? good, i'm glad to hear that
|
![]() |
|
| Ann-chAn | 3 Jun 2011, 07:18 AM Post #2 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
........ ![]() Perasaan Ajo dan Dhea bener2 terlukiskan di sini. Good job. Matinya si Ajo kenapa tuh? |
![]() |
|
| SoaringCrow | 11 Jun 2011, 12:06 PM Post #3 |
|
Premium Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Halo. muup dah lama ga kesini. makasih dah meluangkan waktu membaca cerita abal ini. btw, aku emang ga ngejelasin matinya si ajo kenapa, tapi alasannya sukurlah klo aku bisa menggambarkan citra mereka berdua dengan cukup baik. oh y, kebetulan banget. waktu itu aku ngirimin PM ke username Annasthacy Chashyme di FFn: secara random aj sebenarnya sih ![]() ga taunya itu kamu! ahahah. cek PM y kk
|
![]() |
|
| Rinyuuaru | 22 Jun 2011, 02:25 PM Post #4 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Hwalah... kata-kata awalnya rumit banget. saya mabok. hehehe Tapi muangstab! Walaupun saya ngga terlalu suka alasan meninggalnya. Untung ngga diceritain #lho? hehe kalau mati tabrakan sudah lumrah sih. *peace Mungkin... Yang dirasakan Dhea itu semacam firasat ya? Alurnya agak kecepetan di bawah. Angst-nya kurang berasa, menurut saya. Yongki-nya juga belum banyak diceritain. Kesannya cerita ini malah AjoDhea. Mungkin.. (lagi) di tengah-tengah, kecemasan Dhea ditambah lagi, ngga langsung ke bagian Ajo meninggal. Jadi bisa ngasih shock besar bagi pembaca. Terimakasih atas kerja kerasnya ya~ Maka |
![]() |
|
| SoaringCrow | 25 Jun 2011, 09:22 PM Post #5 |
|
Premium Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Ya ampun, makasih banyak Maka ![]() Yang pertama itu emang sengaja aku masukin sebagai pembuka, karena takdir memang tidak ada yang tahu. Dan yang menetukan cuma Tuhan, bukan? Yup, itu emang sengaja aku percepat alurnya. Aku cuma mau ngeliatin gimana hubungan Ajo dan Dhea yang sebenarnya. Mungkin kamu dah bisa nebak sekaran, 'kan, perasaan Dhea ke Ajo itu apa? Hehe. Si Yongki juga sengaja gak banyak aku masukin, coz nanti jadinya malah panjang banget lagi? Pokoknya, Yongki berubah, dan akan menjalankan amanah Ajo.
|
![]() |
|
| Rinyuuaru | 26 Jun 2011, 08:58 PM Post #6 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Nyah nyah... Maka kasihan sama Yongki TT^TT Tapi kalau author-nya mau begitu yaa nrimo aja deh hehe Makasih juga penjelasannya~ |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:35 AM Jul 11
|
AFFILIATES







![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)






7:35 AM Jul 11