Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Satyaharja Mantu; Action/Adventure, Rated T
Topic Started: 20 Nov 2010, 12:02 PM (767 Views)
GunZ
Member Avatar
Can you seize the day?
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Ini dibikin waktu rada kumat mau bikin cerita a la pewayangan :P

=====================

Satyaharja Mantu

Pada suatu ketika, tersebutlah sebuah kerajaan kecil yang bernama Sudira. Raja yang memerintah kala itu adalah Prabu Satyaharja, yang beristrikan Dewi Utami. Dari pernikahannya dengan Dewi Utami, Prabu Satyaharja dikaruniai dua orang putra, Pangeran Pratama dan Pangeran Utara.

Pangeran Pratama, putra pertama Prabu Satyaharja, adalah seorang yang pintar sejak kecil. Ia sangat menyukai seni, terutama seni tulis dan seni pahat. Karena kurang puas menerima pengajaran dari para guru istana, ia senang pergi mengembara dan berguru ke perguruan-perguruan di luar istana untuk belajar ilmu alam. Dalam perjalanannya, Pangeran Pratama mempelajari banyak macam ilmu disamping ilmu alam yang dipelajarinya, termasuk sedikit ilmu pedang untuk sekadar membela diri.

Pangeran Utara, di lain pihak, lebih berbakat di bidang olah raga dan kanuragan. Ia juga mendalami seni musik disamping olah tubuh dan ketatanegaraan, menjadikannya salah satu penabuh kendang paling mahsyur di kerajaan. Pangeran Utara juga tidak terlalu senang mengembara, dan cukup puas untuk tinggal dalam istana menemani kedua orang tuanya.

Suatu hari, ketika kedua pangeran sudah cukup umur untuk mencari istri, Prabu Satyaharja memanggil mereka berdua untuk bertukar pikiran.
"Ananda menghadap, Rama Prabu," ujar Pangeran Utara dan Pratama saat mereka menghadap Prabu Satyaharja.
"Pratama, Utara, putra-putraku yang gagah perkasa," balas Prabu Satyaharja sambil memandang mereka bergantian. "Rama kira sudah saatnya kalian berdua mencari putri yang cocok untuk dijadikan istri. Salah satu dari kalian harus meneruskan pemerintahan kerajaan dariku nanti."
"Saya tidak keberatan bila Utara saja yang meneruskan tampuk pemerintahan, Rama Prabu," Pratama unjuk bicara. "Adik Utara lebih fasih dalam urusan tata negara daripada diriku."
"Aku keberatan, kakak," sela sang adik sambil berusaha tetap sopan. "Aku tidak berani melangkahi hak kakak sebagai saudara tua. Sebagai seorang ksatria, rasanya tidak pantas bila aku memerintah di depan saudaraku yang sama cakapnya dalam hal pemerintahan."
"Perkataan kalian ada benarnya, dan aku juga sulit menentukan siapa diantara kalian yang lebih patut memerintah," ujar sang ayah sambil manggut-manggut.
"Bagaimana kalau hal ini ditentukan melalui sayembara?" potong Dewi Utami yang sedari tadi turut menyimak pembicaraan diantara Prabu Satyaharja dan para putranya itu. "Kebetulan, Raja kerajaan Makalu, Prabu Harjana, sedang mengadakan sayembara guna mencari jodoh untuk putrinya, Dewi Anggrahini. Siapapun diantara kalian yang dapat memenangkan sayembara itu, akan memerintah di kerajaan kita ini saat Rama-mu mangkat nanti."
"Perkataan bundamu ada benarnya juga. Ikutlah kalian dalam sayembara itu, hitung-hitung bisa mempererat hubungan antara negara kita dengan negara Makalu bila salah satu dari kalian bisa menikahi Dewi Anggrahini," timpal Prabu Satyaharja menyetujui usul sang ratu.
"Baiklah Rama Prabu, Ibunda, nampaknya memang begitulah cara paling adil untuk menentukan siapa yang layak memerintah diantara aku dan dik Utara," ujar Pratama sambil manggut-manggut, dan diikuti kata setuju oleh sang adik.
"Kami akan berangkat besok pagi kalau begitu," ujar Utara melengkapi pernyataan sang kakak.

Esok harinya, kedua pangeran pun berangkat dari istana, menuju ibukota kerajaan Makalu. Kedua pangeran itu berangkat dengan bekal seperlunya dan tanpa pengawalan khusus, karena keduanya bermaksud sampai secepatnya ke Makalu.

Kedua pangeran kerajaan Sudira itu pun akhirnya sampai dengan selamat di ibukota kerajaan Makalu setelah melalui perjalanan selama beberapa hari. Keadaan di ibukota Makalu itu sangat ramai, karena pangeran-pangeran dari berbagai kerajaan lain pun telah datang ke Makalu dengan harapan dapat memperistri Putri Anggrahini. Menurut kabar angin, sang putri adalah orang yang cantik, pintar, dan cukup bijaksana, namun juga cerdik dan licik seperti kucing gunung; selama ini, sayembara-sayembara yang diadakan oleh Prabu Harjana belum dapat menemukan jodoh yang mantap di hati sang putri.

Para pangeran yang telah terkumpul itu pun disambut oleh Prabu Harjana dengan sebuah pesta perjamuan di istana. Prabu Harjana pun kemudian berpesan bahwa sayembara akan diadakan besok pagi dan para pangeran agar jangan terlambat. Pangeran Pratama, yang mencamkan pesan Prabu Harjana disamping juga merasakan firasat buruk dalam jamuan ini, memberi tahu adiknya agar waspada dan makan-minum secukupnya saja dan jangan sampai kenyang walaupun makanan dan anggur yang disajikan sangat enak. Sesudah makan dan minum secukupnya, Pangeran Pratama, Pangeran Utara, dan para peserta sayembara pun beristirahat di kamar-kamar yang telah disediakan.

Kewaspadaan Pangeran Pratama pun ternyata membuahkan hasil yang cukup mengejutkan. Hanya setengah dari jumlah para pangeran yang hadir pada hari sebelumnya yang dapat hadir pada pembukaan sayembara, termasuk Pangeran Pratama dan Pangeran Utara. Separuh lagi tidah bisa hadir karena ketiduran dan sakit perut akibat terlalu banyak menyantap makanan enak yang disajikan dalam jamuan mewah tadi malam.

Sayembara itu pun dimulai. Tugas pertama yang harus dipenuhi para pangeran adalah memanah sebuah telur yang diletakkan di seberang sebuah tembok berbentuk segitiga yang tingginya ratusan depa, hanya dengan sekali tembak. Para pangeran mengerahkan berbagai ajian untuk dapat menembak telur itu, diantaranya ada beberapa yang menyerupai Danurweda ciptaan Resi Dorna yang mahsyur itu. Ada pula yang panahnya bisa melengkung memutari tembok. Pangeran Utara menggunakan busurnya memanah melewati puncak dinding segitiga itu. Pangeran Pratama, di lain pihak, mengeluarkan sebuah alat aneh berbentuk mirip sebuah silang dan bersiap menembak dengan segenggam kerikil terpasang di alat tersebut.

Prabu Harjana pun dengan segera menyela tindakan Pangeran Pratama yang aneh itu. "Wahai pangeran dari negara Sudira, Alat apa itu? Dan mengapa kau mengambil segenggam kerikil dan bukan panah? Bukankah kau harus memanah telur di balik dinding itu hanya dengan sekali tembak saja?"
"Saya bukanlah pemanah yang andal, Prabu Harjana, jadi saya mempelajari panahan dengan alat ini. Ini adalah alat perang dari negeri seberang, namanya busur silang," jawab sang pangeran tenang. "Dan perihal segenggam kerikil yang saya gunakan, anda mensyaratkan dengan jelas bahwa telur itu harus terpanah dalam satu tembakan. Anda tidak mensyaratkan hal itu terjadi dengan satu panah, bukan?"
Seluruh hadirin pun terdiam oleh perkataan sang pangeran, kecuali Pangeran Utara yang sudah mafhum akan tindak-tanduk sang kakak. Pangeran Pratama pun menembak, dan beruntung salah satu kerikil tembakannya berhasil memecahkan telur di seberang tembok tersebut.

Sayembara pun mencapai babak pamungkasnya. Seorang pangeran muda usia pun memasuki arena, di mana para peserta yang lulus ujian pertama berkumpul.
"Wahai para pangeran dari seantero mancanagara! Selamat atas keberhasilan kalian karena telah melewati ujian pertama dengan sukses!" Ucap sang pangeran muda usia itu. "Namun perjalanan kalian belum berakhir! Namaku adalah Narakusuma, adik dari Putri Anggrahini yang hendak kalian boyong sebagai istri ke kerajaan masing-masing. Aku adalah rintangan terakhir yang harus kalian lewati sebelum bisa mewujudkan impian kalian memperistri kakakku! Mari! Kalian hanya perlu menjatuhkan aku! Aku tidak akan memukul balik sebelum lawanku memukul!"

Pertandingan pamungkas itu pun dimulai. Satu demi satu pangeran peserta maju menantang Pangeran Narakusuma, namun semuanya kalah dengan mudah. Pangeran Pratama menyimak pertandingan-pertandingan yang berlangsung dengan seksama, sambil memutar otak untuk mencari cara memenangkan pertandingan.
"Kakak, kau tampak bingung," ujar Pangeran Utara yang duduk di sebelah sang kakak.
"Ya, aku terkesan dengan ilmu Narakusuma. Tampaknya semua pukulan yang ia terima dapat ia kembalikan dengan mudah sekali," balas Pangeran Pratama sambil menopang dagu. "Kau tahu ajian apa yang ia gunakan, adikku?"
"Aku pernah mendengar seorang ahli kanuragan yang tersohor karena ajian yang mirip ini," jawab sang adik sambil mengamati salah satu penantang yang harus ditandu turun gelanggang karena luka-luka. "Nama ajian milik ahli kanuragan itu Pring Wesi, setahuku. Katanya tubuh penggunanya akan lentur seperti bambu dan keras seperti besi. Dari cara Narakusuma mementalkan lawan-lawannya, nampaknya ia menggunakan ajian itu, atau turunannya."
"Hmm... nampaknya kau tahu cara mengatasinya, Adikku," ujar sang kakak sambil menepuk bahu sang adik. "Nampaknya kita akan memboyong Putri Anggrahini pulang..."
"Tidak juga, Kak. Ajian Pring Wesi tersohor sebagai salah satu ajian tanpa tanding di dunia persilatan. Walaupun ilmu kanuragan milikku terhitung cukup mumpuni, aku tak yakin bisa menang..." ujar sang adik sederhana. "Ah, namaku telah dipanggil ke gelanggang. Doakan aku, Kakak."
"Doaku dan Ayah-Ibu bersamamu, dik," balas sang kakak sambil tersenyum teduh.

Pertarungan antara Narakusuma dan Utara pun dimulai. Tidak seperti sebagian besar pangeran-pangeran yang langsung merangsek maju, Utara mengulur waktunya. Ia hanya memutari Narakusuma sambil mencari-cari celah yang bisa dimanfaatkan.
"Hng, nampaknya pamor Pangeran Utara dari negara Sudira memang sesuai dengan apa yang sering kudengar," komentar Narakusuma sambil tersenyum simpul. "Ahli kanuragan yang berhati-hati."
"Aku lebih kaget melihat seorang pangeran semuda dirimu menguasai ilmu yang digdaya seperti itu," balas Utara yang berusaha tak terpancing.
"Semuanya hanya hasil latihan," balas Narakusuma, semakin memancing Utara untuk menyerang duluan.
"Mohon petunjuk!" seru Utara sambil akhirnya maju menerkam. Ilmu andalan sang pangeran muda, Tapak Nogo Geni, segera dikerahkan untuk membobol pertahanan Narakusuma. Narakusuma menerima tapak itu dengan sebelah tangan, sebelum mengembalikan sebagian besar tenaga Tapak Nogo Geni yang bersifat panas itu kembali ke tubuh Utara. Utara yang tidak bisa menarik kembali tapaknya segera menguatkan tubuhnya dengan bantuan Ajian Watu Lor agar tenaga pantulan itu tidak melukainya terlalu parah. Benar saja, dengan satu sentakan keras tenaga panas itu menghantam perut Utara, nyaris membuat nyawanya melayang. Utara pun terpental ke arah beberapa ponggawa yang mengawal jalannya pertarungan, namun untungnya luka sang pangeran muda maupun para ponggawa naas yang tertimpa tubuh Utara tidak terlalu berat. Dengan khawatir Pratama langsung menghampiri sang adik.
"Dik, kau tidak apa-apa?" ujar sang kakak sambil menopang sang adik yang batuk-batuk sesak napas.
"Uah... ajiannya betul-betul hebat, kak..." geram Utara sambil berusaha membuat nafasnya kembali teratur. "Hati-hati ketika... melawannya..."
"Sekarang kamu yang doakan aku, ya," balas sang kakak sambil tersenyum.

"Wah wah wah, sekarang giliran sang kakak menuntut balas, eh?" komentar Narakusuma sambil melihat calon lawannya memasuki arena. Beberapa giliran telah berlalu diantara giliran Pangeran Utara dan Pangeran Pratama, namun belum juga ada yang bisa membuat Pangeran Narakusuma bertekuk lutut.
"Tidak ada balas-membalas di sini, Pangeran Narakusuma," balas Pratama sambil tersenyum penuh arti. "Kita sedang di tengah sayembara, semua pasti diberi kesempatan unjuk kebolehan."
"Mari maju, pangeran sulung dari Sudira," ujar sang jawara sambil tersenyum. "Mengalahkan sastrawan seperti anda pasti tidak sulit."
"Oh ya? Banyak yang bilang lidah lebih berbahaya dari pedang," pancing sang pangeran sastrawan sambil tersenyum. "Karena kata-kata sastrawan terbaik sekalipun tidak bisa ditarik kembali bila telah mencapai telinga sasarannya, sedang tebasan seorang ahli pedang bisa ditahan bila belum menyentuh kulit lawan."
"Ah, bertukar kata seperti ini bukanlah keahlianku," geram Narakusuma tak sabar. "Kita akan mulai atau tidak?"
"Sayang sekali, Pangeran," balas Pratama sambil tersenyum. Ikan ini mulai makan umpan, pikirnya. "Apa jadinya negara Makalu ini nanti, saat tampuk pimpinan dipegang raja yang hanya bisa berperang...? Bila raja pergi berperang, selalu terjadi korban rakyat jelata."
"Cukup! Nanti ya nanti!" sergah Narakusuma sambil menahan amarahnya yang meluap-luap.
"Ada hal yang baik dipikirkan nanti... tapi selalu lebih baik bila suatu hal dipikirkan masak-masak dengan waktu yang cukup," timpal Pratama sambil dengan santai berjalan ke arah Narakusuma yang tegak membatu. "HIYAAAT!"
Tanpa perlu pancingan lagi, sekarang Narakusuma yang meloncat maju. Ia terpancing oleh teriakan Pratama yang membahana dan mantap, tanpa sadar maju menyerang sebelum sang pangeran sastrawan itu menyerang. Dengan santai Pratama menghindari pukulan Narakusuma, lalu menyandung sang pangeran muda usia itu dengan kakinya, membuat Narakusuma jatuh terjerembab ke tanah. Hadirin, termasuk Prabu Harjana dan keluarga kerajaan yang menyaksikan sayembara itu, langsung terdiam.
"Bidak anda sudah terkepung, Pangeran Narakusuma," papar Pratama sambil mengulurkan tangan ke arah Narakusuma yang baru saja kalah itu. "Pertama, anda tidak pernah menyerang duluan selama ini, karena anda sudah berjanji untuk itu, namun pada saat pertarungan tadi anda telah cidera janji, jadi anda kalah. Kedua, janji anda itu sebenarnya bukan saja sebuah rintangan sayembara, namun juga untuk memanfaatkan kuda-kuda anda yang diperkuat ajian Pring Wesi. Saya sudah cukup melihat kekuatan kuda-kuda anda... lalu bagaimana mengalahkannya? Sederhana. Kacaukan saja kuda-kudanya. Ketiga, saya yakin hampir semua pangeran yang maju sebelum saya menyerang anda dari depan. Bila saya menyerang dari belakang atau samping, saya cukup yakin saya bisa menang, walaupun tidak semudah dengan memancing anda mencederai janji sendiri itu."
"Anda... benar-benar seorang sastrawan yang hebat," gumam Narakusuma sambil menerima uluran tangan dari Pratama. "Saya mengaku kalah. Ayahanda, inilah jodoh yang tepat untuk kakanda Anggrahini."
"Baiklah anakku Narakusuma! Nampaknya memang dia padanan yang tepat untuk mendampingi kakandamu Anggrahini. Jarang ada orang yang tanggap berpikir dan bersiasat sepertimu, Pangeran Pratama!" ujar Prabu Harjana sambil tersenyum dari kedudukannya. "Undanglah ayah-ibumu ke sini, nak! Aku akan menikahkanmu dengan anakku secepatnya."
"Baiklah, Paduka Prabu. Saya akan segera menulis surat untuk Ayahanda agar segera melawat ke negeri Makalu ini," balas Pratama sambil berlutut di hadapan calon mertuanya itu.

Singkat cerita, Pangeran Pratama pun akhirnya mendapatkan Putri Anggrahini sebagai istri. Saat Prabu Satyaharja turun tahta beberapa tahun kemudian, sang pangeran sastrawan pun naik tahta untuk memimpin kerajaan Sudira. Dibawah kepemimpinan Prabu Pratama, Sudira pun berkembang menjadi sebuah kerajaan yang tidak hanya kuat secara militer, namun juga menjadi pusat belajar para cendekiawan dan sarjana.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Rinyuuaru
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
ehm-kerenbangetnih-ehm

maaf,sebelum me-review mau tanya
1. Apa ya artinya mumpuni, kanuragan, dan digdaya? hehehe

Baiklah ehem,ini review dari Maka.

"Cerita ini sangat berbasis Indonesia. Hal itu sangat baik, hanya saja ketika dimulai cerita , plot-nya tidaklah sebaik prasangka saya. Perihal dua pangeran hendak mencari istri adalah bentuk cerita rakyat yang tipikal, kurang menantang walau cukup menegangkan.

Namun,di sisi lain saya takjub dengan penggambaran setting juga masing-masing tokoh. Tak hanya detil tapi juga mengandung estetika tinggi. Jujur, susah sekali menawarkan cerita yang ada nilai sejarah/budaya."

Maaf kalau ada kata yang salah maupun gaje maupun menggurui maupun sok tahu.

-BURN THE FERVOR OF WRITING_READING FOR INDONESIAN'S AUTHOR. SO THAT'S YOU TOO-
:love:
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
GunZ
Member Avatar
Can you seize the day?
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
'Mumpuni' ama 'digdaya' itu kurang lebih sama artinya, yaitu 'hebat'. 'Kanuragan' itu ilmu silat/beladiri, kira-kira artinya mirip dengan kungfu.

Makasi udah baca yaa~
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone