Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Airplane; General/Drama, T
Topic Started: 15 Nov 2010, 05:55 PM (472 Views)
Sekar.Nasri
Member Avatar
---
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Airplane
sekarnakula

Posted Image


Awalnya, kau hanya sebuah pesawat di langit.
Kau hanya terbang melintas begitu saja di atas kepalaku.
Kau tak pernah aku anggap.


Pertemuan kita kentara sekali tidak disengaja. Andaikata aku tidak dipaksa Ibu untuk ikut menjemput Ayah di bandara, aku pasti takkan bertemu denganmu. Yeah, mungkin aku harus berterimakasih pada kedua orangtuaku.

Kau, saat itu, adalah seorang bocah laki-laki berumur 12 tahun yang sedang menjemput ayahmu; sang pramugara yang pulang setelah bekerja satu minggu lamanya di Australia. Sementara itu, aku adalah gadis ingusan yang satu tahun lebih muda darimu, yang datang ke bandara Soekarno-Hatta untuk menjemput ayahku; jurnalis majalah petualang yang sudah melakukan observasi satu bulan lamanya di negeri Kanguru.

Jadi, sudah dapat ditebak bahwa pertemuan kita terjadi sebab ayah kita bertemu pada penerbangan kembali ke tanah air. Tapi ternyata, itu bukan pertemuan biasa. Selain faktor kebetulannya, ayah kita adalah sahabat sejak SMP yang kemudian terpisah saat kuliah dan baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun lamanya.

Ah, macam klise sinetron yang didramatisir saja.

Maka terjadilah perkenalan antar keluarga, yang kemudian dipersempit lagi konteksnya menjadi perkenalan antar kedudukan; istri dengan istri, anak-anak dengan anak-anak. Ibuku berkenalan dengan ibumu, dan di lain pihak, aku dan adik laki-lakiku berkenalan denganmu dan adik perempuanmu. Melakukan hal yang biasa dilakukan saat berkenalan; tersenyum palsu sambil berjabat tangan dengan apati, sebab aku dan kau sama-sama tidak peduli dengan satu sama lain.

Di kemudian hari, aku menyesal karena memberikan kesan pertama yang buruk terhadapmu.

.

.

Kemudian, kau menarik perhatian mataku.
Kutolehkan kepalaku ke angkasa dan melihat kau, sang pesawat.
Tapi kupikir, kau hanyalah pesawat kertas.
Pada akhirnya, kau akan terkoyak—terkoyak dari pikiranku.


Kusangka, pertemuan di bandara itu takkan berlanjut. Ternyata, itu salah.

Ayahku dan ayahmu sama-sama tak mau menyia-nyiakan kesempatan lagi. Pertemuan itu dimanfaatkan baik-baik oleh mereka untuk saling mengontak, dan pada akhirnya mengadakan pertemuan—yang entah sengaja atau tidak—setiap satu minggu sekali (kecuali jika ayahmu punya jadwal penerbangan pada akhir pekan). Tentu saja kita, para keluarga, ikut diajak. Ada saja tempat yang menjadi meeting point dan ada saja yang kita lakukan bersama-sama. Yang paling sering adalah menonton bioskop bersama. Mungkin pengaruh ayahku dan ayahmu yang mantan anggota teater. Toh, aku, kamu, dan yang lainnya juga tak menolak—kita suka film, kok.

Dengan pertemuan rutin itu, aku jadi sedikit lebih memerhatikanmu. Pandanganku saat itu hanyalah pandangan pada umumnya—pandangan yang biasa orang lemparkan kepadamu. Kau itu tinggi, putih, pintar, sayang kepada adik...intinya, harus diakui, kau itu keren. Ah, aku jadi ingat ketika salah satu pramusaji di restoran tempat kita makan bersama mengantarkan makan dan berkata padamu, "Mas, si Mbak yang duduk di meja sana bilang si Mas ganteng."

Eh, mungkin perkataan itu pula yang menyebabkanku berpandangan demikian. Aku juga tidak akan berpandangan lebih dari itu. Toh, kau juga tidak memberikan pandangan apa-apa terhadapku. Kau, kan, terlalu sibuk menjaga adikmu dan bermain dengan adikku.

Aku, di matamu, hanyalah seorang teman bagi adikmu dan seorang kakak bagi adikku.

.


.

Tapi, ternyata kau adalah pesawat yang sesungguhnya.
Kau pesawat yang besar, membuatku memberikan pandangan yang lebih.
Aku masih mencoba mengabaikanmu.


Tiga tahun berlalu sejak pertemuan pertama kita. Ujian Nasional yang dipercepat membuatku harus bersiap lebih dini. Alhasil, kemana-mana, buku bank soal selalu menemaniku. Bahkan di saat menunggu film sekalipun, aku masih menyempatkan diri untuk meladeni soal matematika.

Membosankan, memang. Tapi untuk bidang studi matematika, aku benar-benar berusaha keras untuk mendapatkan nilai seratus, sebab kulihat semua orang-orang yang satu tahun lebih tua daripadaku selalu mendapat nilai sempurna dalam pelajaran ini. Guruku juga sudah mewanti-wanti bahwa matematika setiap tahunnya menjadi bidang studi termudah pada Ujian Nasional. Namun tetap saja orang lemah eksakta sepertiku butuh usaha ekstra kelas.

Lihat saja; aku terhenti di pertanyaan bangun datar.

Ugh, semua hal-hal ini membuatku frustasi. Ingin rasanya aku kembali ke toilet—padahal aku sudah ke toilet sebelumnya agar bisa konsentrasi belajar!

Aku menutup buku. Sudahlah, aku menyerah. Persetan dengan angka-angka menyebalkan ini. Kalau aku tidak berhasil di ujian matematika nanti, aku masih bisa mengandalkan nilai bahasa Indonesiaku yang kurasa akan jauh lebih baik. Aku memang bagus dalam mata pelajaran itu.

Aku baru saja akan mengambil satu gumpal berondong ketika aku mendengar suara laki-laki berkata, "Belajar untuk UN, ya?"

Aku menarik kepalaku kembali dan hampir menahan napas. Tak kusangka kau mengajakku bicara.

"Uh...iya."

"Perlu bantuan?"

Belum aku menjawab, kau sudah bangkit dan duduk pada tempat kosong di sebelahku. Hei, sebentar—bukankah tadi ada adik perempuanmu di sebelahku? Eh, tunggu—bukannya tadi juga ada yang lain? Kemana mereka semua—semuanya ke toilet?!

Kau mengambil pacarku—buku bank soal—dari pangkuanku, kemudian membuka halaman yang kubatasi dengan pensil. Kau menautkan alis. "Matematika?"

"Begitulah," jawabku seadanya, yang kau respon dengan gumaman kecil. Kemudian, aku menambahkan, "Oh, ya. Kau...dapat nilai matematika berapa pada UN?"

"Seratus."

Terkutuklah kau.

"Soal yang kau lingkari ini, ya?" tanyamu sambil menunjuk soal nomor 21. "Yang ini emang agak panjang, sih. Keluar juga di UN tahun lalu. Jadi, ini pakai prinsip kesebangunan. Kita anggap ini sebagai trapesium sebarang. Panjangin PQ sampai memotong KN di R dan memotong LM di S. Nah, karena P dan Q titik tengah LN dan KM, jadi R dan S memotong KN dan LM di titik tengahnya dan garis PQ akan sejajar KL dan NM. Terus, gandakan trapesium KLMN, putar 180° dan himpitkan menurut sisi LM sehingga terbentuk jajargenjang KN’K’N. Udah, deh, tinggal masukkin angkanya ke rumus RR'= RP + PQ +QQ'+Q'P'+P'R'."

Butuh waktu yang agak lama untuk menyerap penjelasan berbusa-busa darimu. Semua itu tak hanya karena otakku yang lemah dalam menyerap hitungan, tapi juga karena terdistraksi. Terdistraksi dari sikapmu, juga ekspresimu ketika menjelaskan.

Entah kenapa, saat itu jantungku berdebar lebih kencang.

Dengan gugup, aku mengangguk dan mengucap terima kasih. Karena pengumuman studio dimana kita akan menonton film sudah bergema, segera setelah yang lain tiba, kita masuk. Dan langkahku masih terasa kaku.

Di kemudian hari, nilai Ujian Nasional matematikaku jauh lebih bagus dari nilai bahasa Indonesiaku, meski bukan angka yang sempurna seperti yang kau dapat.

.

.

Rupanya, kau sekuat rangkamu yang terbuat dari besi dan baja.
Kau senyaring suara dengungan mesinmu.
Eksistensimu begitu melekat di pikiranku.
Aku menyerah—aku tak bisa mengabaikanmu.


"Sumpah, so sweet banget. Iri, deh."

Aku tersenyum puas. Komentar yang dilayangkan sahabatku lewat chatting yang sedang kami lakukan itu benar-benar membuat hatiku mencelos, sama seperti pertama kalinya aku membaca isi link yang kuberikan kepada temanku tersebut. Link yang berisi ucapan selamat ulang tahun via Facebook darimu.

.

Rizki Firman Alamsyah Sher, selamat ulang tahun yaa! Semoga selalu sukses dan apa yang diinginkan tercapai. Ditunggu traktirnya, hehe =D

.

Aku tak menyangka kau akan menuliskan ucapan ulang tahun seperti itu. Tidak—malahan, aku tak pernah menyangka kau akan menuliskan hal seperti itu. Hal yang benar-benar terlihat ramah, setelah sekian lama kita hanya saling berbicara dengan nada dingin dan kaku.

Aku mendengar ibuku memanggil, sehingga kuputuskan untuk mengakhiri konversasi dunia maya. Setiap langkah yang kuambil dari kamar menuju mobil begitu ringan—ah, bahagia ini benar-benar membuatku melayang. Aku pun tak bisa berhenti tersenyum dalam perjalanan menuju bioskop. Tentu saja hal itu sebab aku akan bertemu denganmu, mentraktirmu sesuai permintaanmu dan yang telah kujanjikan.

Setelah bersalaman dengan orangtuamu, aku dan adikku berjalan menuju ke game center bioskop, tempat yang orang tuamu katakan sebagai tempat dimana kau dan adikmu menunggu. Dan benar saja; aku langsung menemukan sosok semampaimu di tengah segerombolan orang yang sedang menonton duel dua orang pada arcade game fighting. Aku dan adikku mendekatimu, kemudian kau menantang adikku untuk mengalahkan si petarung hebat pada arcade tersebut. Adikku menyanggupi dan segera duduk di sebelah sang juara bertahan, sementara aku dan kau berdiri tak jauh dari sana. Ya, hanya kau dan aku—adikmu bermain salah satu permainan cewek yang sedang beken.

Sejenak, aku sibuk memerhatikan pertarungan yang sedang dilakoni adikku—hei, pertandingan itu sangat seru sampai aku tak bisa meluputkan pandangan dari layar. Tapi kemudian, sebuah tangan terulur di hadapanku, menghalangi pandanganku ke layar, sehingga aku terpaksa menoleh.

Napasku tertahan begitu melihatmu tersenyum dan mengajak berjabat tangan. Aku makin kaget ketika kau berkata dengan suara sopranmu,

"Happy birthday."

Tanganku tergerak sendiri untuk menjabat tanganmu yang terulur. Setelahnya, ia yang sibuk memandang layar, melihat pertandingan yang belum juga usai.

Sementara, aku sendiri terpatung tak memercayai "hadiah" yang baru saja kudapat. Hadiah yang tak bermateri, namun cukup membuat kedua pipiku memanas.

.

.

Tapi seiring dengan bergantinya rona langit, kau berubah.
Kau menjadi pesawat yang melesat di malam hari dengan lampumu.
Kau terlihat seperti bintang jatuh, dan aku tertipu karenanya.
Aku sudah terlanjur melafalkan harapan kepadamu
Kupikir kau dapat mengabulkannya.
Namun kau malah menggantungkannya.


Aku tak menyadari bahwa waktu terus berjalan.

Perjalanan kali ini bukanlah menuju bioskop tempat kita akan bertemu. Perjalanan ini akan membawaku ke rumahmu, dengan tujuan yang amat kontras dari biasanya.

"Nggak nyangka, ya." Kudengar ayahku berbicara. "Ternyata lima tahun itu cepet banget."

Tak ada komentar.

"Nggak kerasa kalian udah besar," lanjut beliau. "Nggak kerasa juga si Rizki udah tumbuh besar."

Tolong jangan sebutkan namanya, Ayah...

"Perasaan baru kemarin kita ketemu dia di bandara. Waktu itu dia masih kelas 1 SMP, kan? Sekarang dia udah mau kuliah aja."

Aku menahan sakit yang mulai tertoreh di hatiku.

"Iya. Dia hebat lagi, bisa tembus masuk Akademi Pilot di Ceger." Ibu seakan memerluas luka yang ada di hatiku. "Dia mau ngikutin jejak papanya kali, ya—sama-sama kerja di pesawat."

"Tapi sayang, ya, sekolahnya boarding. Kamu nggak bisa main lagi sama Rizki lagi, deh, Sal."

Aku tahu pernyataan itu ditujukkan kepada adikku, dan harusnya adikku yang merasa sedih atasnya. Tapi mengapa aku merasa baru saja ada yang membubuhkan garam di atas luka-luka hatiku, yang membuatku makin sedih sekaligus pedih?

"Nah, kamu juga nanti kayak Rizki ya, Sher," Ibu menepuk bahuku—puji Tuhan beliau tak menyadari betapa kakunya tubuhku. "Rajin belajar mulai dari sekarang biar dapat universitas yang bagus kayak dia."

Aku tak merespon. Aku terlalu sibuk untuk menahan nelangsa selama perjalanan berlangsung. Untungnya, aku cepat tiba di rumahmu dan melihatmu. Harusnya, aku merasa makin sedih karena takkan melihat sosokmu dalam waktu yang amat sangat lama. Tapi, entah kenapa dengan senyum menawanmu, luka-luka di dalam diriku mulai tertambal.

"Congrats, ya." Aku mengulurkan tangan, dan kau menyambutnya hangat. "Semoga sukses di kuliah nanti."

"Thanks banget, ya, Sher," kau kembali tersenyum.

"Yah, berarti kita nggak bisa nonton bareng lagi, dong?" Aku berusaha mencairkan suasana dengan tertawa, meski terdengar terpaksa—namun kau tetap ikut terkekeh. "Kalau udah jadi pilot, ajak aku keliling dunia gratis, ya."

Kau kembali tertawa. "Sip, deh. Tunggu aja, ya."

Aku tersenyum. Dalam hati, aku menunggu saat-saat itu, dimana kau akan membawaku berkeliling melihat dunia dengan pesawat yang kau kendalikan. Aku akan menunggunya.

Kemudian, terdengar suara bel bergema dan kau pun refleks menengadah. “Aku aja yang buka!” serumu sambil berjalan meninggalkanku. Jumlah orang yang menghadiri pesta syukuran sekaligus perpisahanmu rupanya cukup banyak sampai memersempit pandanganku—aku hanya bisa melihat apa yang kau lakukan melalui celah yang agak kecil. Aku melihat kau membuka pintu dan seketika itu juga, wajahmu berubah sumringah. Aku menangkap sesosok perempuan di hadapanmu, dengan sebuah bungkusan di tangannya.

Tapi apa yang terjadi setelahnya membuat luka di hatiku kembali menganga.

Kau memeluknya.

.

.

Kemudian, kau hilang dari pandangan mataku.
Mendarat di suatu tempat yang jauh dari tempatku berpijak.


Aku mendengar dari ibumu bahwa kau sudah masuk asrama sejak seminggu yang lalu, dan kabarnya kau sangat senang berada di sana. Aku benar-benar bersyukur karena kau menemukan kebahagiaan lain.

Aku bahagia karena kau bahagia, meski mungkin wajahku saat ini terlihat pilu. Aku memang sedih karena ayahku harus menjalani tugas lagi ke Kalimantan selama lima hari, tapi bukan karena itu wajahku terkesan lemas. Hal itu sebab aku berdiri di tempat yang sama seperti saat kita bertemu lima tahun yang lalu.

Bandara Soekarno-Hatta.

Ayahku melambai sebelum akhirnya masuk untuk check-in, sementara aku, ibuku, serta adikku memutuskan untuk makan siang sebelum akhirnya pulang. Tatkala aku melangkah keluar, aku menengadahkan kepala ke langit yang biru di atas sana. Tepat saat itu, kulihat sebuah pesawat menukik naik ke atas awan.

Saat itulah, aku teringat akan dirimu. Tentang segala kenangan yang telah terkemas apik di dalam benak, juga tentang luka hati yang sudah terobati. Ingatanku kemudian melayang kepada hari dimana aku berpisah denganmu, dimana aku memintamu untuk membawaku terbang mengelilingi dunia setelah kau menjadi seorang pilot yang hebat.

Ketahuilah, aku masih akan tetap menunggunya.

.

.

Kini, aku tak bisa melepaskan pandangan dari langit.
Sebab aku ingin melihat sebuah pesawat kembali terbang di sana.

Mungkin saja, suatu hari nanti, kau akan kembali melintas di atas kepalaku.



Notes: Done at November 15th 2010, 05:01 PM, with 2047 words and full of abalism—still, proud of it (:

Jadi, saya tergoda untuk buat bikin orific lagi setelah mengeksplor subforum ini—ya ampun, ternyata saya pernah publish karya gak mutu saya di sini, lol. Lagi-lagi saya buat cerita analogi. Err, ceritanya selain terinspirasi dari lagu B.o.B. dan Hayley Williams yang berjudul sama, tokohnya terinspirasi dari sosok nyata HAHA. Ada beberapa fakta yang asli, tapi 85% fiksi. Formatnya terinspirasi dari fanfic keren buatan Evey yang Summer Time Has Gone dan sudut pandangnya terinspirasi dari orific awesome Dilia yang Mulai dari Sini.

Tadinya mau dibuat novel, tapi saya gak tau cara manjanginnya, jadi dibuat short story aja. Karena terlalu frontal dan gampang ditebak jika dikirim di majalah, mending saya post di sini aja. Gak papa deh gak dapet duit—tapi dapet review. Anda semua berkenan mereview, kan? :D
Edited by Sekar.Nasri, 17 Nov 2010, 06:06 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Haruki_Irish!
abed abed abed
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Ah, ini keren tahuuuuuu~~.
Saya suka puisinya, cantik. Plus analoginya yang kereeeen. ^^ . Saya cinta lah pokoknya. I-intinya mah saya gak bakat ngomentarin.

Yah, lagian, kalau saya yang buat, kerasa banget bau plagiarismenya -__-. Intinya, well done :)
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Vecalen-20
Member Avatar
Si es campur yang berisi berbagai ras *plak* :D
[ *  *  *  * ]
T_T Hua.. Ceritanya menyentuh hati, trus kenapa cowoknya mesti suka cewek lain sih.. Pengen saya hajar!
*dihajar Sekar*
Tapi keren kok! ^^ Keep writing! :D
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
thepoetry
Member Avatar
Overloaded Leader's Charm | bounty agent ID : Cca
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
ah, saya kembali dibuat 'teriris-iris' nih...
kenapaa dia harus suka sma orang lain ya. Ah, memang kadang perasaan yang ga disampaein begitu mungkin ya...

perumpamaan 'pesawat'nya juga, bagus, tapi jadi makin bikin saya sighed membacanya...hehe.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sekar.Nasri
Member Avatar
---
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Ru: Kyaa, makacih Ruu~ <33
lol, kok malah gak bakat ngomentarin? ;p

Vecalen: Jangan dihajar dong, kasian dia :P
Anyways, makasih banyak yaa~ ;D

thepoetry: Sebenarnya tadinya endingnya gak akan dibuat dia suka sama orang lain. Tapi berhubung ada kejadian mendadak sebelum saya melanjutkan ceritanya, saya pikirin alternate ending. Lagi, saya suka yang angst/tragedy kok ;p
Makasih yaa udah membaca :)
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ameria
Member Avatar
Ideas for puns?
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Orific remaja dengan sudut pandang yang menggambarkan cinta bertepuk sebelah tangan, saya rasa warga Infant sudah tertular virus ini :p

Hebat juga si 'aku' ini, perasaannya bertahan sampe bertahun-tahun gitu, padahal orang jaman sekarang paling cuma bertahan beberapa bulan :-/ *sotoy detected*

"Ketahuilah, aku masih akan tetap menunggunya."
Kata-kata yang menunjukkan betapa kuat perasaan si 'aku' ini. Keep writing!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sekar.Nasri
Member Avatar
---
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Ahaha, mungkin karena member di sini sama-sama sedang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan? ;p

Yeah, kadang saya juga merasa si "aku" ini sangat setia. Orang dapat dengan cepat melupakan cinta lama dan mendapatkan cinta baru, meski ia belum mengenal pasti si cinta barunya ini. Tokoh "aku" memang punya prinsip bahwa "jangan menyerahkan cintamu begitu saja pada orang yang belum kamu kenal baik." :)
#lirikybs

Anyways, thanks for the comment! (:
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Rinyuuaru
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
well done, senior Sekar...
dari judul fic-nya aku inget somethin, eh ternyata bener B.O.B sama hayley.

Fave aja deh *lho?*


Awalnya, kau hanya sebuah pesawat di langit.
Kau hanya terbang melintas begitu saja di atas kepalaku.
Kau tak pernah aku anggap.

Kemudian, kau menarik perhatian mataku.
Kutolehkan kepalaku ke angkasa dan melihat kau, sang pesawat.
Tapi kupikir, kau hanyalah pesawat kertas.
Pada akhirnya, kau akan terkoyak—terkoyak dari pikiranku.

Tapi, ternyata kau adalah pesawat yang sesungguhnya.
Kau pesawat yang besar, membuatku memberikan pandangan yang lebih.
Aku masih mencoba mengabaikanmu.

Tapi (Namun) seiring dengan bergantinya rona langit, kau berubah.
Kau menjadi pesawat yang melesat di malam hari dengan lampumu.
Kau terlihat seperti bintang jatuh, dan aku tertipu karenanya.
Aku sudah terlanjur melafalkan harapan kepadamu
Kupikir kau dapat mengabulkannya.
Namun kau malah menggantungkannya.

Kemudian (Lalu), kau hilang dari pandangan mataku.
Mendarat di suatu tempat yang jauh dari tempatku berpijak.

Kini, aku tak bisa melepaskan pandangan dari langit.
Sebab aku ingin melihat sebuah pesawat kembali terbang di sana.

Mungkin saja, suatu hari nanti, kau akan kembali melintas di atas kepalaku.

.
.
Ada banyak pengulangan kata di puisi-nya ,but you know i love it ^_^

sankyuu,maaf komen gaje =))
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ann-chAn
Member Avatar
Kirei na koe de
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Bagus banget. Saya suka!
Udah, itu aja.
Nggak sanggup memberi review banyak2, saya udah speechless.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums. Reliable service with over 8 years of experience.
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone