

| Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA). Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval. Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini. Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum. Enjoy~!! ![]() |
| Mr. Eleven; General, agak Supernatural? T/PG | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: 13 Nov 2010, 10:23 PM (770 Views) | |
| Lenka | 13 Nov 2010, 10:23 PM Post #1 |
![]()
. intoxicating .
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Chapter: 1 Rating: T/PG Warnings: Slight supernatural, daily words === ” Pagi, Sayang. Ayo cepet sarapan, nanti kamu telat lho. ” Dengan seulas senyum nggak bersemangat, Levi menghampiri ibunya yang sedang mengolesi roti dengan selai strawberry, buah kesukaan Levi. Ia kemudian mencium pipi ibunya. ”Pagi, Ma,” katanya seraya mengikat rambutnya yang hitam panjang. ”Mana kakak?” ”Masih tidur,” ibunya menyerahkan potongan roti yang telah diolesi itu pada Levi. ”Oh...” Levi mengunyah makanannya, nggak lagi berbicara apa-apa. Segigit lagi, dan segigit lagi, sampai ia menghabiskan satu roti. Levi meminum teh dan beranjak dari duduknya. Ia mengambil tas yang sedari tadi terhimpit diantara punggung Levi dan kursi lalu disempangkan di bahu. ”Dah, Ma. Levi pergi dulu,” sahut Levi. ”Dah, Sayang. Hati-hati ya,” balas ibunya. Levi setengah berlari menuju pintu depan. Setelah ia menutup pintu tersebut dan berada di luar rumah, Levi berhenti, menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan keras. "Here we go again...” kata Levi pada dirinya sendiri. “Satu hari lagi untuk gw lewatin…” Levi memperhatikan seluruh kelas dengan bola matanya yang hitam pekat. Ruang kelas itu nggak sunyi, nggak mungkin sunyi. Setidaknya pas pelajaran Fisika, ruang kelas nggak pernah sunyi. Lain lagi kalo pelajaran Sejarah. Dijamin satu kelas pada tewas semua. Eniwei, Levi memperhatikan kelasnya, kelas 1-2, yang cukup ramai. Ada yang lagi sms-an, ada yang nyorat-nyoret di buku catetan, ada yang serius merhatiin pelajaran, sampe ada yang tidur di balik buku cetak Fisika yang tebel itu. Untung yang ngajar Fisika bukan guru killer, jadi anak-anak pada enjoy dah. Pak Umar sih mana ada tampang killer! kata mereka. Yah, namanya juga anak kelas satu, masih bego. Mana tau mereka kalo sebenernya Pak Umar adalah ”agen dalam”-nya BP. Ia bertugas mengamati dan melaporkan bibit-bibit bandel di kalangan anak kelas satu. Senior-senior tuh tau, tapi ogah dong ngasih tau anak kelas satu, apalagi yang sebelumnya pernah kejebak juga. Sebaik apapun senior, pasti juga pengen liat adik kelas menderita sedikit. Ya, balik lagi ke Levi. Levi sekarang sedang melihat ke luar, ke arah taman. Beruntung bangkunya di sebelah jendela, jadi dia bisa kapan saja mengalihkan kebosanan di dalam ruang kelas dengan berkhayal, menerawang. Lagian, Levi udah nyerah tuh sama Fisika dan bertekad bulat nggak bakal ngambil IPA. Levi menghela nafas, merasa bosan dengan dunia. Well, dia nggak benci sama teman-temannya. Mereka semua baik, nggak ada yang ngejekin Levi. Kelasnya asik. Cukup kompak soal nyontek, bolos, en ngeles perpanjangan waktu ngumpulin tugas sama guru. Kehidupan sekolahnya normal kok. Walaupun begitu, Levi tetap saja merasa bosan. Nggak muak, nggak benci, cuma bosan. Levi nggak pernah berharap akan ada bencana alam kaya Day After Tomorrow ato kedatangan alien kaya War of The World. Gile, ngeri aja kali! Tapi, yah, dia cuma berharap ada satu kejadian seru, atau setidaknya satu kejadian yang bisa diingat kembali nanti, dalam setiap hari yang ia lewati. Levi mengetuk-ngetukkan pulpen di atas buku catatan yang terbentang. Ia melirik jam dinding di belakang dan menggerutu saat mengetahui masih 20 menit lagi sebelum bel istirahat berbunyi. Saat ia tengah berbalik, Ingrid mencuilnya. Levi berputar kembali, menatap temannya yang berambut pendek dan bergelombang itu. ”Napa, Ngrid?” tanya Levi. ”Eh, Vi. Lo bawa bekal ato jajan?” “Hah?” dalam batin Levi: ‘Emang penting yah?’ ”Nggak, gw nggak bawa bekal. Ntar gw jajan kok.” “Oce deh. Ntar bareng ya!” Levi kembali menghadap depan, lagi-lagi menghela nafas. Ya ampun... ”Levi pulang...” dengan lunglai, ia berjalan melewati ruang tamu dan langsung ke ruang makan. Meskipun sekarang masih jam 5 dan bukan waktunya makan, Levi membuka rice cooker dan mengambil sesendok besar nasi. Ia kemudian membuka tudung makanan dan melihat apa saja santapan hari ini. ”Udah pulang, Sayang?” ibunya muncul dari dapur. ”Kok loyo?” ”Ah, biasanya juga begini, Ma,” Levi mengambil beberapa tempe tepung lengkap dengan sambal ulek dan sayur kangkung. Dengan tangan yang bebas, ia menambahkan es batu ke dalam tehnya lalu memegang gelas itu dengan hati-hati. Ibunya cuma memutar bola mata melihat tingkah Levi. Udah biasa sih, tapi kan tetap saja agak ngeselin kalo anak baru pulang udah ngambil makanan en ngilang ke kamar sampai pagi. ”Dah, Levi. Sampai besok pagi, Sayang,” canda ibunya seraya melipat kedua tangan di dada, berpura-pura sebal. Levi tertawa, ”Ya, Ma. Sampai besok pagi.” Levi menyeruput es tehnya dan menaiki tangga. Kemudian sunyi setelah bunyi pintu tertutup di atas. Jam digital di kamar Levi menunjukkan pukul 10.56 malam namun Levi belum juga tertidur. Ia bahkan nggak merasa ngantuk sedikitpun. Levi berbaring miring di atas tempat tidur sementara tangannya tetap sibuk memindah-mindahkan saluran televisi, mencari siaran yang kira-kira menarik untuk nanti disambung dengan siaran menarik lainnya. Levi nggak pernah mengerjakan PR, karena ia selalu mengerjakannya di pagi hari sebelum PR itu dikumpulkan bersama anak-anak sekelas. Namanya juga PR, Pekerjaan Rame-rame. Levi lagi asik menonton Fabulous Life di salah satu stasiun televisi swasta saat sebuah suara menggema dalam kamar yang terbilang cukup sempit itu. ”Lo ini nggak pernah belajar ya? Kalo nggak nonton, maen komputer.” “Berisik. Lo sendiri baca buku mulu,” jawab Levi, acuh tak acuh. Levi berbalik dan menemukan pemilik suara tersebut. Seorang cowok, yang mungkin bakal bikin ngiler cewek-cewek, kalo saja dia beneran hidup. Yup, benar sekali. Cowok berambut ’jatuh’, pake kacamata tipis, terbalut kemeja putih nggak rapi dan celana jeans, yang sedang membaca buku tanpa judul seraya bersandar tenang pada kepala tempat tidur di samping Levi ini hanyalah khayalan Levi saja. Setidaknya nggak pernah ada yang bisa lihat dia selain Levi. Dibilang hantu juga bukan, toh nyatanya cowok itu nggak tembus pandang. Levi bisa melihat warna rambutnya yang hitam dan matanya yang cokelat gelap. Dan dia juga nggak punya luka-luka kaya hantu di Sixth Sense. Tapi anehnya, cowok itu selalu muncul di samping Levi tepat pukul sebelas malam. Levi juga nggak ingat kapan atau bagaimana cowok itu pertama kali menampakkan diri, namun yang jelas sekarang kehadirannya sudah nggak asing lagi bagi Levi. Levi terkadang nggak mau mengakui bahwa ia sering tidur larut malam supaya bisa ketemu sama cowok itu. Kalaupun mengakui, ia kemudian meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia cuma ingin ngobrol dengan ’makhluk aneh’ untuk mengusir kebosanan. Cowok itu membalik halaman buku yang bersampul hijau kelabu. Tanpa melirik ataupun mengubah ekspresi, ia bertanya pada Levi, ”Kenapa?” ”Kenapa apanya?” alis Levi bertaut. ”Kenapa liat-liat?” ”Emangnya nggak boleh?” Cowok itu kini menatap Levi, ”Bukannya nggak boleh. Nggak enak tau.” ”Suka-suka gw dong,” Levi menjawab seenaknya. ”Lo ini kan cuma khayalan gw.” Cowok itu terdiam beberapa detik, lalu menghela nafas, menutup buku dan melepas kacamata. Dilipatnya tangan di dada dan ia hanya memandang Levi. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat sampai Levi mengernyit. ”Kenapa liat-liat?” suara Levi terdengar agak kesal. Cowok itu mengangkat sebelah alis, ”Emangnya nggak boleh?” Levi mendengus tertawa mendengar jawaban cowok itu. ”Sialan lo, Val,” katanya bercanda. Oke, Val itu nama pemberian Levi. Tadinya sebutan cowok itu Mr. Eleven, karena jam kemunculannya. Tapi dirasa kepanjangan, Levi memendekkannya jadi Elven, Elv, lalu kemudian Val. Toh Val itu nama yang gampang disebut. Val tersenyum tipis dan kembali mengenakan kacamata. ”Tidur sana,” perintah Val sembari membuka lagi bukunya. Levi merengut, tetapi entah kenapa menurut. Ia mematikan televisi dan memunggungi Val, berusaha tidur. Sebelum ia sempat membayangkan apapun yang dapat membantunya tidur, Levi telah jatuh ke alam mimpi. -END OF CHP 1- |
![]() |
|
| lalaaa | 14 Nov 2010, 09:01 AM Post #2 |
![]()
hold on;
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
woaaaaah! saya sangat sangat sangat enjoy banget bacanya hehehe. mungkin karena narasinya khas omongan anak-anak remaja jaman sekarang, bahasanya nggak baku dan kaku. bikin gampang terhanyut dengan alur cerita. :9 dan - mr. eleven itu... si val... kayaknya, mungkin dia bukan cuma sekedar teman khayalannya si levi deh... menurut firasat saya sih haha. walaupun biasanya firasat saya suka melenceng jauh ohohohoho. /spam |
![]() |
|
| Lenka | 14 Nov 2010, 03:12 PM Post #3 |
![]()
. intoxicating .
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
oh ya? wah kalo gitu syukurlah bahasa anak2 jaman sekarang nggak beda sama 2-3 tahun lalu xD ah ya haha pasti banyak kata nggak baku orz maap xD; kebetulan waktu itu dibuat barengan cerita Diari Louita Pepita yg semuanya baku, akhirnya bikin ini buat pelampiasan ehe~ how should I comment to that, umm....just wait for it? xD /plak tenkyu for the R&R! /bows |
![]() |
|
| Ann-chAn | 3 Jun 2011, 07:22 AM Post #4 |
|
Kirei na koe de
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Walaupun nggak baku, tapi gaya bahasanya enak dibaca. Bikin saya nggak bisa lepas dari cerita ini X3 Aww, saya juga setuju tuh sama lalaa-san, kayaknya bukan sekedar teman khayalan tuh ![]() Ayo update! Ditunggu!
|
![]() |
|
| Rinyuuaru | 22 Jun 2011, 02:39 PM Post #5 |
|
Honored Member
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
lanjut.... Val beneran bikin saya ngiler... #meganelover deskrip-nya keren... saya mau bisa buat kayak begini. Tokoh Levi juga keren. Sayang kurang dikasih penggambaran (apanya?) Hmm, banyak fakta yang bikin saya ketawa. Kayak PR=Pekerjaan rame-rame atau bosen pas pelajaran fisika en tidur. Bener banget tuh itu semua hehehe Ngomong-ngomong, Lenka-san jarang kesini lagi ya? TT^TT Buat lanjutannya dong~ Terimakasih atas kerja kerasnya ya~ Maka |
![]() |
|
| Hana Suzuran | 3 Jul 2011, 10:59 AM Post #6 |
|
Black Pearl
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
Hulla, Lenka-san. Salam kenal!^^ nice story! Kata-katanya ngalir dan enak banget buat dibaca. Saya senyam-senyum sendiri pas baca tentang suasana pelajaran Fisika. Sebelas-dua belas lah ama kelas saya#curcol Dan sekarang saya asli penasaran sama Val! Keep up the good working and update, okie?^^d |
![]() |
|
| Lenka | 18 Jun 2012, 12:51 AM Post #7 |
![]()
. intoxicating .
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
...:') saya seneng banget ada yang mau baca cerita abal ini, makasih semuanya m(_ _ @Ann-chAn terima kasih -///- hmm gimana ya, teman khayalan ato bukan ya~ /disepak @Maka Berarti Levi kurang saya deskrip fisiknya ya lol saya akan perbaiki, terima kasih xD Lol ternyata sekolah memang sama ya dari masa ke masa, dengan sedikit perbedaan = )) Iya saya baru aja balik setelah setahun pergi T^T #plak Terima kasih sudah menyempatkan r n r! xD @Hana Salam kenal, Hana! xD terima kasih, hehe. Dulu saya masuk ke kategori yang gambar2 di buku lho pas pelajaran fisika 8D #gaadayangnanya Nah untuk update...sebenarnya saya sudah buat sampai chapter tiga, tetapi yang sudah diketik di word baru chapter satu /monang /disate Tapi begitu melihat banyaknya yang bersedia r n r, saya jadi semangat buat ngetik cerita itu di word. Semoga saya bisa cepat ngasih update. Makasih semuanya!
|
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:35 AM Jul 11
|
AFFILIATES








![]](http://z1.ifrm.com/static/1/pip_r.png)






7:35 AM Jul 11