Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Beyond The Memories; Aku hanya ingin memaafkan diriku... bolehkah?
Topic Started: 8 Oct 2010, 08:14 PM (309 Views)
Minayaki
Member Avatar
Happy life with you~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Ayah...

Aku rindu padamu...

Kau tidak akan pernah tahu betapa irinya aku melihat banyak temanku dengan bangganya bercerita tentang hebatnya ayah mereka,

Sementara aku hanya bisa menunduk sedih memandang tanah di bawahku dan mengubur kisah bahagiaku tentang bagaimana rasanya memiliki seorang ayah,

Aku tahu, meski kau sering menyakiti hati ibu, menyakiti hati kami, dan menimbulkan banyak tanggapan kekecewaan dari pihak keluarga lain, aku tetap percaya kau selalu mencintai kami dengan caramu sendiri...

Aku percaya

...dan akan selalu percaya.

OoO

Aku berdiri di sini, diam tanpa suara, bisikan angin terus menemani. Kutatap nanar pusara di hadapanku, sebuah pusara yang terlihat rapuh dan usang. Tentu saja usang, karena pusara itu telah ada sejak 11 tahun yang lalu. Saat aku menyadari betapa aku mencintaimu di usiaku yang sangat muda saat itu, kau pergi... selamanya, tanpa memberikan sedikit penjelasan tentang betapa kau mencintaiku. Aku juga belum sempat mengatakan aku sayang padamu, karena selama ini aku tahu aku telah menunjukkan banyak ekspresi padamu, termasuk yang paling sering kulakukan, ekspresi yang menunjukkan betapa aku membencimu karena kau tak ada saat aku membutuhkanmu...

Sekelebat memori terlihat di hadapanku, semua keadaan sekitarku berubah. Pemandangan sebuah pusara di hadapanku berubah menjadi pemandangan sebuah taman yang ramai penuh gelak tawa anak-anak yang bermain di sana. Sesekali tampak canda beberapa orang dewasa di sekitar mereka yang memandangi dengan bahagia anak-anak mereka.

Namun aku melihat pemandangan yang berbeda pada seorang gadis cilik berambut hitam dan bermata sebiru langit yang sedang duduk menyendiri memandangi anak-anak lain seusianya di taman itu. Pandangan matanya yang nanar terlihat bertolak belakang dengan keindahan warna matanya yang seharusnya secerah langit itu.

...
“Ibu, ayah mana? Kenapa aku tak punya ayah seperti yang lain?” tanya gadis kecil itu. Sang ibu hanya bisa menatap sedih padanya, rambut hitamnya yang tergulung lembut melambai perlahan saat ia menggeleng pelan.

“Syaki punya ayah kok, bukankah Syaki sering menemuinya saat liburan dan hari besar datang?” Tanyanya lembut seraya membelai rambut hitam gadis yang ada dihadapannya.

Gadis itu menggeleng keras, “Dia bukan ayah Syaki! Dia tak bisa apa-apa! Dia bahkan tak tinggal bersama kita kan? Dia tak bekerja ibu! Aku mau ayah yang lain! Aku benci dia!” Teriaknya, tangannya terkepal kuat, rasa sakit mulai terasa pada kedua tangan itu, tapi sakit yang lain lebih mendominasi, sebuah sakit yang berpusat di dadanya.

Anisa, sang ibu, hanya bisa menatap penuh luka gadis kecilnya, ia tak menyangka sebegitu bencinya gadis cilik itu pada ayahnya, padahal Fikri, sang ayah sudah berusaha memperbaiki kesalahannya, meski ia sekarang terbaring sakit di rumah salah satu kerabat miliknya, tapi ia sudah banyak berubah, yah walaupun begitu, wanita berambut hitam itu tahu hatinya masih terluka karena ketidakpedulian suaminya dulu. Betapa banyak airmata yang keluar untuk laki-laki itu, betapa banyak yang telah dikorbankan dan betapa terlukanya sang gadis cilik yang merupakan putri mereka satu-satunya karena tidak bertanggungjawabnya ia akan tugasnya sebagai seorang kepala rumah tangga. Meski mereka satu atap, namun tak ada satupun di antara Anisa dan putri mereka yang merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang lengkap.

“Syaki ingin ayah... yang lain...”Anisa mendudukkan dirinya dihadapan gadis kecilnya, kini mata mereka beradu, “Syaki sayang... jangan membenci ayahmu seperti itu...jangan biarkan kebencian menguasai dirimu...” Ucapnya sambil mengusap pelan rambut gadis kecil miliknya.

...
Aku melihat gadis kecil itu lagi, ia terlihat berada dalam sebuah sekolah sekarang, meski suasana di sekitarnya berbeda, namun pandangan sedih itu terus terlihat. Ia kembali berada dalam kesendirian saat sekitarnya membicarakan dengan bangga sang ayah yang bekerja untuk keluarga mereka.

“Ayahku jarang di rumah di pagi hari, tapi begitu sore ia akan pulang membawa beberapa cemilan untukku” Ucap seorang anak perempuan berambut hitam itu.

Seakan tak mau kalah, anak laki-laki di sampingnya ikut membanggakan ayahnya,”Ayah selalu membawaku dan kakak ke taman bermain saat hari minggu dan hari libur!”

“Ayahku selalu membelikanku baju baru saat ia datang dari luar kota...”

“Kalau aku....” dan beberapa macam ayah lain yang terdengar oleh telinga mungilnya, hatinya kuyakin dipenuhi rasa amarah akan ayahnya yang tak bisa apa-apa itu. Seorang ayah yang hanya bisa menyakiti ibunya dan dirinya. Ya ampun, ia bahkan tak pernah tahu bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah!

Air mata mulai mengenangi matanya. Ah, aku tahu gadis kecil, aku mengerti itu, rasanya ingin aku mengusap kepalamu dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Bahkan seketika kurasakan sakit yang sama yang pernah kurasakan dulu, yah, dulu sekali.

Bayangan gadis itu yang berada di sekolahnya menghilang dan berganti dengan cepat sebuah pemandangan ia berada dalam sebuah ruangan dimana banyak orang di dalamnya.

“Kasihan ya, padahal Syakira masih di sekolah dasar...”

“Wah, padahal Anisa masih sangat muda ya, kasihan sekali”

“Mereka sekarang tinggal berdua ya?”

Bisik-bisik itu terus terdengar, mereka benar-benar keterlaluan sampai tetap saja bergosip sementara sang tokoh sedang berada di dekat mereka. Bahkan dengan tampang kasihan mereka memandangi gadis pirang itu dengan tatapan iba.

Tidak!

Bukan itu yang diinginkan gadis itu!

Rasanya ingin kuteriakkan kata-kata itu, mereka tak mengerti apa-apa mengenai gadis itu, gadis kecil itu tak peduli dengan apapun pendapat mereka mengenai dirinya yang masih terlalu muda untuk ‘ditinggalkan’ karena sebenarnya ia sudah terbiasa dengan keadaan dimana ia memang merasa ia hanya memiliki sang ibu. Namun yang sekarang berada dalam hatinya bukan itu...

Sama sekali bukan...

Gadis kecil itu hanya menatap nanar keadaan sekitarnya, hatinya hancur, bukan karena ia tak punya ayah lagi, tapi karena ia tak pernah sempat mencintai sang ayah. Ia hanya sempat memberinya tatapan benci, dan ia menyesali semua itu.

Ia berjalan lesu menuju kamarnya, kemudian menutupnya perlahan, aku mengikutinya ke dalam. Gadis kecil itu terduduk dengan pundak yang mulai bergetar. Ya ampun... gadis itu harus merasakan luka di usianya yang sangat muda. Ingin kurangkul dirinya dan mengatakan bahwa ia tak salah, ia tak perlu menyalahkan dirinya dan akupun merasakan kembali luka yang telah kukubur dalam di hatiku sejak dulu. Yah... sejak dulu.

“A-Ayah... aku minta maaf...” Ucapnya parau, kedua tangannya kini menutupi wajahnya yang berair karena butiran airmata yang tak henti jatuh dari mata birunya itu.

Pundaknya bergetar, mencoba menahan sakit yang dirasakannya, “Maaf... Syaki... sayang ayah kok... Aku selalu sayang padamu...” Ucapnya tak henti di sela-sela tangisnya.

Ah~ gadis itu, ingin kurangkul pundaknya, mengatakan bahwa perasaannya pasti telah sampai. Ia hanya sedikit melakukan kesalahan dengan membenci sang ayah, dan itu wajar karena ia tahu perasaan itu, ia tahu ia hanya kecewa pada sikap ayahnya yang pernah menyakitinya.

...
Gadis itu menepis tangan yang berusaha menyentuhnya lembut. Seketika itu pandangan mata laki-laki pirang yang ada di hadapannya itu memperlihatkan luka, namun ia tetap berusaha menunjukkan pandangan penuh kasih pada gadis miliknya, putri kesayangannya yang pernah ia abaikan.

Hari ini seperti tahun kemarin, ia hanya sendirian menemui sang ayah. Ibunya belum sanggup bertemu dengannya. Sisa-sisa luka yang diberikan laki-laki itu belum sepenuhnya sembuh, ia tahu ia suatu saat nanti akan menemuinya karena sebenarnya ia masih mencintainya. Namun, ia harus memastikan gadis kecil miliknya tidak melakukan hal yang sama. karena itu, disinilah ia, kembali menemui sang ayah meski dengan hati yang penuh kebencian.

“Syakira, boleh ayah memelukmu?” Tanya Fikri sembari menatap lembut gadis kecilnya. Gadis kecil itu menatap penuh kebencian, meski begitu ia tahu laki-laki itu tetaplah ayahnya bagaimanapun bencinya ia. Karena itu, ia biarkan tubuh kecilnya dipeluk erat sang ayah. Kemudian ia juga menyadari, meski ia membencinya, ia selalu merindukan kehangatan pelukan ini. Perlahan, airmatanya mulai memenuhi kedua bola mata berwarna biru itu, oh.. betapa ia rindu pelukan ini. Namun, tangannya tak sedikitpun terangkat untuk memeluk balik tubuh sang ayah dan akhirnya menyisakan duka baru pada laki-laki yang kini berada di kursi roda itu. Yah, kenyataan bahwa anaknya tak lagi menginginkannya...

...
Gadis itu semakin terisak, pundaknya bergetar. Ia merasakan pedih yang sangat, luka itu menganga lagi. Luka yang sama saat sang ayah meninggalkannya dan ibunya, ketika ia menjadi orang tua yang tak bertanggungjawab. Bukan, bukan ini yang diinginkannya, aku tahu ia selalu menginginkan keberadaan kedua orang tuanya yang bersama dan tidak berpisah. Meskipun berkali-kali ia mengatakan ia membenci ayahnya, ia tahu ia sangat merindukan kehangatan kasih sayangnya dan sekali lagi, ia terluka karena merasa bersalah belum sempat mengatakan cinta pada ayahnya.

Tanganku terlurur, berusaha untuk menggapai pundaknya yang bergetar, ingin kubelai ia, menenangkan hatinya yang penuh luka. Namun, aku tak punya banyak keberanian. Aku merasa tak begitu kuat dan seketika itu juga sakit menghampiriku. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku berdenyut sakit. Terutama sakit yang berasal dari dadaku. Benar, aku memahami sakit ini, sakit yang juga dirasakan gadis kecil yang ada di hadapanku kini. Dadaku menghangat, kurasakan banyak yang ingin keluar dari sana, semua kata yang ingin terucap, aku harus mengakhiri luka ini segera.

Aku terduduk dengan lutut bertumpu pada tanah. Aku menatap tubuh kecilnya yang terus begetar, aih~ betapa sakitnya, aku mengerti sakit itu gadis kecil. Kuulurkan tanganku untuk memeluknya dalam kelembutan, “Tak apa-apa” Lirihku tertahan. Isaknya terhenti sesaat, tak lama kemudian kurasakan tangan kecilnya mulai melingkari leherku, ia memelukku. Kurasakan kehangatan mulai menjalar ke dalam tubuhku, rasa sakit itu perlahan menghilang. Beberapa saat kemudian, aku melepaskan pelukanku, kemudian aku menatapnya lembut, kurasakan banyak keberanian yang ditimbulkan saat kehangatan ini menghampiriku. Aku membuka mulutku untuk mengucap pelan semua yang ingin kukatakan sejak dulu.

“Semua akan baik-baik saja. Tak perlu menyalahkan dirimu untuk semua yang terjadi. Kau telah memberikan yang terbaik, kini waktunya kau bahagia... jangan khawatirkan apa-apa lagi...

Aku akan baik-baik saja... terima kasih untuk selama ini...” Ucapku padanya, gadis kecil itu sejenak terdiam kemudian bibirnya menyunggingkan senyum yang bahagia, dan perlahan-lahan bayangannya mulai menghilang dan berbaur pada udara di sekitar

‘Yah, semua akan baik-baik saja, gadis kecil...
Kembalilah, dan sekarang kau pantas bahagia,
Luka itu jangan dibiarkan menganga lagi,
Aku merasakan itu semua dan aku ingin memperbaikinya, gadis cilik,
Engkau... yang merupakan diriku di masa lalu... tenanglah... jangan khawatir lagi...
Aku akan baik-baik saja..’

“Maafkan aku, ayah. Andai kau tahu betapa aku mencintaimu ... Ayah”... sebulir air mata jatuh dipipiku, rasa sakit yang telah menjalar sedari dulu itu menghilang, seandainya aku bisa lebih jujur dari dulu, sakit ini takkan menghantuiku selama 11 tahun. Sakit karena rasa bersalahku.

Rasa bersalah karena aku tak pernah mengatakan betapa aku mencintainya, karena rasa benci itu telah mengakar sejak dulu...

Sekarang, biarkan aku... memaafkan diriku sendiri yang telah lama menanggung rasa bersalah ini.
Edited by Minayaki, 8 Oct 2010, 08:17 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ann-chAn
Member Avatar
Kirei na koe de
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
T_T
Huaaaa, cerita ini sedih sekali! Saya like! Like! *nyari2 tombol like kayak di fb*
Hiks hiks hiks, amanat cerita juga jelas sekali.....
Good Job, Good Job!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Sunny-chan
:)
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Fanficnya bagus! Saya hampir nangis gara gara baca orific ini T,T bikin lagi dun +plak+
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Rinyuuaru
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Cerita yang menyentuh, Minayaki-san ^^
*nyari-nyari orangnya dimana*

Flashback-nya juga digambarkan dengan baik. pengembangan karakternya juga lumayan. Opening-nya sudah bisa mewakili perasaan karakter. Sayangnya banyak kata-kata dari tokoh 'aku' yang sudah dewasa itu pada 'aku' yang masih kecil. Jadi (maaf) saya agak bosen denger kata-kata yang sama. Secara keseluruhan, ini angsty yang bagus. Apalagi endingnya. Wah, saya suka banget sama kata-kata Syaki.

"Sekarang, biarkan aku... memaafkan diriku sendiri yang telah lama menanggung rasa bersalah ini."

Hwaduh... Rasanya dalam sekaligus puitis! Saya kagum sangat sama kata-kata ini. Memberikan impact yang luar biasa di hati saya sebagai pembaca.

Terimakasih atas kerja kerasnya~
Maka
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today.
« Previous Topic · Original Fict/ Fiksi Orisinil · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone