Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Bahasa Bunga; One Piece/Hurt/Comfort/K+/Ori AU
Topic Started: 15 Sep 2010, 01:48 PM (805 Views)
Bebobobo
Member Avatar
I'm KHUNYOUNG shipper ♥
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Summary: Bagaikan bunga, mereka pasti selalu dapat menunjukan pesonanya sendiri tanpa perlu penerjemah keelokan mereka.
Disclaimer: Eiichiro Oda
Character: Sanji / Robin
Word Count: 2517

Fanart Bahasa Bunga



Jalanan pertokoan pinggir kota yang asri ini masih seramai biasanya dengan para pejalan kaki yang entah berjalan dengan hewan peliharaan nya, pulang dari kerja, atau sekedar berjalan santai sore biasa. Nampak dari kejauhan seorang pemuda belia berjalan tenang menapaki kaki nya melewati rentetan toko setelah berlari kecil menyebrangi zebra cross dari sisi jalan lain. Sore yang hampir menjelang menuntut sebagian pemilik toko mengemas diri untuk pulang dan kembali lagi esok hari. Misalnya salah seorang pegawai Caffee Perancis yang baru saja dilewati sang pemuda telah memutar notice 'open' menjadi 'close' yang tersemat di pintu kaca depan caffee tersebut. Kini pemuda itu sedikit mengeratkan blazzer hitam yang ia kenakan. Sebuah blazzer hitam dengan badge East Blue Senior High School. Entahlah, sebatang rokok yang terselip di ujung bibirnya tak terlalu menandakan kalau dia pemuda SMA 'biasa'.

"Khikhikhi.." tak jarang beberapa gadis yang berpapasan dengan nya menggumamkan cekikian kecil untuk memuji pesona yang terkuar dari diri sang pemuda. Alhasil sekilas senyum pemuda itu berikan sebagai balasan nya, cukup untuk membuat sang gadis terlena. Ia tetap melanjutkan langkah panjangnya. Namun ia berhenti sejenak di depan sebuah toko cukur rambut saat suara tawa khas yang tak asing ditelinganya menginterupsi.

"Yohohoho, apa kau ingin mencukur rambut, Sanji-san?" seorang kakek-kakek bergaya nyentrik dengan rambut afro nya melambaikan tangan kepada sang pemuda dari dalam toko miliknya tersebut.

"Tidak untuk kali ini, Brook!" pemuda bernama Sanji hanya menanggapi ringan dan melambaikan tangan kembali. Dibenarkan sejenak tas yang terselempang di bahu kanan pemuda tersebut. Mata pemuda itu kini melirik sebuah toko disebelahnya. Sebuah toko yang terlihat teduh. Aroma berbagai bunga mulai menguar sejak dia berhenti disitu. Terlihat beberapa deluxe table flower dan flowers in vase yang terjajar apik di sepanjang pintu masuk toko. Sanji mulai melangkahkan kaki nya kembali. Tujuan nya sudah jelas, toko langganan yang jadi favorit sang pemuda, Hana Florist.

Bahasa Bunga
One Piece / Hurt/Comfort / K+ / Ori AU


'Kring..' sebuah bunyi nyaring terdengar saat sang pemuda memasuki toko. Mungkin bel kecil di atas pintu penyebabnya.

"Sepertinya aku tak perlu mengucapkan selamat datang", terlihat seorang wanita berambut hitam panjang terurai sedang berdiri membelakangi pintu masuk. Sejenak terlihat sekilas wanita tersebut sedang merangkai bunga kering yang tersebar di meja panjang yang biasanya digunakan untuk mengajar kursus merangkai bunga setiap pagi di toko tersebut.

"Apa kau tak suka kedatangan pelanggan tampan?" Sanji mulai masuk lebih dalam dan mengedarkan pandangan nya menjejali isi toko. Sang wanita berbalik, wajah ayu nya tersenyum hangat melihat sosok pemuda yang sangat ia kenal itu baru saja menghembuskan asap rokok yang ia hisap.

"Namun sepertinya bukan untuk pengunjung pembawa asap rokok yang tidak terlalu sehat untuk tanaman tentunya!" Sanji hanya terkekeh pelan dan mematikan puntung rokok nya lalu membuang nya ke ranjang sampah dekat meja kasir, "Baiklah, tidak lagi kan?"

Wanita itu hanya kembali tersenyum dan melanjutkan kegiatan nya yang tertunda. "Lusa kau baru saja membeli setangkai Michaelmas Daisy dan kemarin kau membeli beberapa bucket Rose Thornless. Entah apa yang akan kau beli sekarang.." wanita yang mengenakan baju terusan sederhana berwarna ungu lavender dengan cardigan violet tersebut mulai membuka obrolan kembali. "Coba aku terka berapa perempuan yang telah mabuk kepayang dan sakit hati karenamu. Hmm.. Lebih dari lima kurasa dengan survey pembelian kedua bunga itu minggu ini".

"Tenang saja Robin-chan, kau tak perlu khawatir tentang hal itu.." Sanji membalas singkat, matanya terus mencari –mengelilingi jajaran bunga di florist ternama tersebut.

"Memang apa yang harus aku khawatirkan? Tak ada yang harus aku khawatirkan dari pemuda SMA seperti mu!" kikih merdu wanita yang memiliki panggilan Robin tersebut. Sanji hanya menghela nafas dan ikut tertawa pelan, "Tak salah kalau kau begitu banyak menyimpan Yellow Tulip untuk memberikan nya padaku sebagai perlambang cinta yang bertepuk sebelah tangan".

Robin kini tak terlalu mengindahkan ungkapan sang pemuda blonde, jemari lentik nya kini telah selesai membuat sebuah bucket bunga meja yang cantik. Ia angkat perlahan hasil karya nya itu dan meletakan nya di jajaran rak wadah kreasi merangkai bunga nya.

"Aku sepertinya sekarang sudah lumayan mengerti tentang bahasa bunga.." Sanji mulai menceletuk kembali setelah sekian menit berlalu. "Benarkah ?" Robin masih saja membenahi rak merangkai bunga miliknya.

"Bagaimana kalau aku memberikan setangkai bunga Mignionette ini untuk mu?" Robin manatap Sanji yang kini berhadapan dengannya dan membawa sebuah tangkai bunga Mignionette. Mungkin bunga inilah yang sedari tadi dicari sang pemuda dari awal ia melangkahkan kaki masuk ke toko ini.

"Kemampuanku melebihi pesonaku?" Sanji hanya mengangkat alis nya sambil tersenyum seperti mengisyaratkan 'seperti itulah mungkin'. Robin menarik garis bibirnya kembali menjadi lengkungan senyum. "Tunggu!" langkah jenjang nya berjalan cepat menuju meja kasir. Disentuhnya sebuah vas kaca bening sebagai wadah beberapa tangkai bunga dengan media tumbuh air di samping mesin kasir. Robin melihatnya sebentar sembari tersenyum –menggeser sedikit kedepan vas tersebut dari posisi awal. Sanji mengangkat alisnya kembali, pertanda dia sedikit memproses arti tindakan wanita berparas ayu tersebut.

"Balasan bahasa bunga untukku?" Robin hanya tersenyum kembali sebagai tanda meng-iya-kan pernyataan Sanji.

"Ah, kalau begitu aku tahu artinya!" Mata pemuda blonde itu berbinar-binar seakan membuat bentuk hati menatap tanaman dengan tangkai hijau kecil dan kelopak bunga tipis berwarna ungu dalam vas tersebut. "Pasti artinya kau sangat mencintaiku kan, Robin-chan?"

Robin hanya menggeleng pelan dengan kelakuan pemuda yang lebih muda 9 tahun darinya tersebut, "Kemampuan bahasa bunga mu sepertinya masih kurang".

"Tapi artinya pasti menunjukan kurang lebih seperti itu kan, Robin-chan?" Sanji masih saja berharap wanita tersebut mengatakan 'iya' untuk harapan sekilasnya tadi. Benar saja, sebenarnya Sanji masih belum mengerti berbagai macam arti bunga. Maka dari itu ia ada di sini. Selain dapat menemui wanita yang sudah dikenalnya dari kecil itu, juga untuk sedikit mengerti lebih jauh tentang toko bunga ini. Tentu termasuk mempelajari bahasa bunga.

"Pelajaran untukmu, Delphinium, kau tak boleh mempermainkan perasaan wanita.." Robin mengembalikan vas bunga itu kembali ke tempatnya semula.

"Eh? Aku selalu bersungguh-sungguh mencintai ladies di dunia ini" Sanji mulai membara-bara. Dia kini berpose layaknya pangeran gagah apalagi setelah ia mengambil asal bunga mawar yang ada di sebelahnya dan menggigitnya hati-hati di mulut pemuda blonde itu, sempurna. Tangannya terangkat bagaikan para pujangga dan matanya ia pejamkan, "Oh ladies. Aku hidup untuk melindungimu. Aku hidup untuk menjadi penja-". 'TUK!'

Robin memukul singkat kepala Sanji dengan seikat tusuk lidi kecil yang ia ambil dari meja kreasi bunganya. "Kau masih sekolah, jangan berpikir hal yang tidak-tidak. Belajarlah yang rajin!" Sanji hanya mencibir sejenak sembari mengusap bagian kepalanya yang menjadi korban pemukulan, walau nyatanya tak sakit sama sekali.

"Kau memang tak pernah berubah dari kecil dengan sifat womanizer mu.." Robin melirik sejenak alat penunjuk waktu yang tersemat manis di pergelangan tangan kirinya. "Sudah hampir setengah enam lebih. Ayo bantu aku berkemas untuk menutup toko ini!" dengan arahan singkat Robin, Sanji langsung bergegas untuk membantu merapikan alat dan bahan merangkai bunga kering yang berserakan di atas meja. "Apapun untukmu, Mademoiselle".

Menit-menit selanjutnya diwarnai dengan kikikan tawa diantara mereka. Mereka sudah cukup lama mengenal untuk menciptakan suasan akrab diselingi candaan ringan tersebut. Sampai akhirnya sebuah bel sepeda dari luar menginterupsi kegiatan mereka.

'Kring..Kring' Sanji dan Robin langsung menoleh ke arah luar pintu masuk yang terbuka sehingga menampilkan sosok yang mengenakan sepeda sedang berhenti di depan toko tersebut. Sanji terdiam.

"Robin nee-chan!" gadis berambut oranye dengan perawakan bertubuh kecil itu tersenyum riang sambil melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Sanji terdiam.

"Terima kasih untuk pot tanaman jeruk kecil pemberianmu ini!" Gadis itu masih tersenyum lebar sambil menunjuk pot kecil yang ada di keranjang depan sepeda. Sanji terdiam.

Robin hanya tersenyum sekilas menanggapi luapan semangat dari gadis oranye itu, "Tak masalah, Nami". Sanji masih dan tetap terus terdiam.

"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu. Jaa, nee-chan!" setelah melambaikan tangan nya lagi gadis oranye tersebut langsung bergegas mengayun sepedanya menghilang dari depan toko tersebut. Robin melirik sekilas pemuda blonde disebelahnya. Dia masih terdiam sejak dari tadi. Sudahlah, Robin sudah dapat menerka apa yang akan terjadi selanjutnya dengan pemuda yang memiliki alis 'lucu' tersebut.

"HUWOOOOOOOOGH! Siapa itu Robin-chaaan?" Robin hanya menghela nafas mendapati perubahan kelakuan yang cukup signifikan ditunjukan oleh pemuda tersebut, sesuai praduganya. Kemudian wanita itu hanya tersenyum dan menggeleng pelan melihat Love Hurricane khas sang pemuda. "Dia Nami. Pegawai baru toko buku 'Bellemere', dua toko setelah toko ini"

"Robin-chaaan! Aku butuh bunga yang menandakan 'cinta pada pandangan pertama' yang sangat membara untuknya saat ini!" Sanji tak henti-hentinya meluapkan perasaan nya yang membuncah melihat sosok gadis tadi. Robin kembali tersenyum dan mengambil pot bunga kecil di rak tanaman hiasnya. Entah bagaimana senyum itu terlihat berbeda kali itu. Akhirnya dia memberikan pot bunga dengan tanaman kecil berdaun menyirip panjang tipis dan bunga hampir menyerupai Kamboja berwarna putih semu merah muda kepada Sanji.

"Tunggu pangeranmu ini, Nami-ku sayaaaaaang!" dengan secepat kilat Sanji bergegas mengejar gadis oranye yang sepertinya sudah pergi jauh itu. Robin tersenyum penuh arti, 'Seharusnya dia tahu kalau yang dibawanya tadi adalah Oleander'. Senyuman itu perlahan jadi kikikan pelan, 'Tak apalah, setidaknya aku bisa memperingatkan Nami akan 'keberadaan' pemuda yang akan terus mengejarnya itu'.

Robin kembali melanjutkan acara membenahi tokonya tersebut untuk segera menutupnya. Suasana di luar kini juga sudah mulai meredup. Tangan terampilnya mulai bergerak cepat menandakan ia sudah biasa sendiri mengurus toko ini. Sepuluh menit berlalu dan Robin siap untuk menutup toko bunganya. Ia berjalan mendekati meja kasir sejenak, ingin mengambil mantel di rak bawah meja kasir. Wanita berusia 28 tahun tersebut menjongkokan dirinya sejenak mencari mantelnya.

Dia terdiam seperkian detik, sepertinya dia tak meletakan mantelnya disitu hari ini. Ia kemudian berdiri dan berjalan melewati jejeran rak dengan berbagai label menuju bagian belakang. Matanya mengkilat seakan benar dugaan nya. Mantelnya ia letakan di meja kecil di bagian belakang pojok toko. Tangan nya dengan cepat meraih mantel coklat tersebut sampai akhirnya ia terhenti sejenak menatap sesuatu yang menemani mantelnya terletak di atas meja.

Ia tetap mengambil mantelnya dan melipatnya di lengan bawah tangan kirinya sembari melihat benda lain yang terletak di meja itu. Sedetik kemudian dia menarik sebuah garis lengkung pada bibir ranum wanita tersebut, pandangan nya mulai melembut menatap pot bunga yang terbuat dari bahan anyaman bercat putih itu. Pot yang memuat dua tangkai tanaman menyurupai bentuk bunga Matahari. Ia masih teringat benar bagaimana ia mendapatkan tanaman itu.

Flashback

"Lobin-chan mau jadi pacal Canji? Canji akan melindungi Lobin-chan lho, cueelll!" anak kecil berumur lima tahun merengek menarik seragam sekolah gadis muda yang duduk menemaninya makan es krim.

Siang menjelang sore melatari taman di pusat kota tersebut. Banyak anak kecil berlari kesana kemari gembira ditemani oleh keluarganya. Terlihat seorang gadis SMA dengan anak TK duduk di kursi taman dekat ayunan. Gadis berambut hitam itu hanya tersenyum geli mendengar pernyataan sang anak kecil yang sering ditemuinya di taman ini setiap ia pulang sekolah.

"Sanji, sudah lebih dari puluhan kali setiap kakak menemui mu di sini kau merajuk supaya kakak menjadi pacar mu. Apa kau tidak lelah? Lagian kakak kan lebih tua dari Sanji. Coba lihat teman-teman sepantaran Sanji, mungkin mereka mau jadi pacar Sanji. Namun dari mana Sanji mengerti kata pacaran?" Robin membersihkan sejenak es krim yang belepotan di mulut anak berambut pirang tersebut dengan kertas tisu yang dibawanya.

"Uhm, Canji cuma pingin ngelindungi Lobin-chan. Abisnya Lobin-chan celing nangis mulu di cini!" Robin sedikit tersentak mendengar celotehan anak lima tahun tersebut. Pandangannya menyendu, benar saja, hanya anak ini yang bagaikan mampu mengerti betapa pelik masalah keluarganya. Anak ini bagaikan sudah mengerti dia yang menderita menjadi seorang gadis 'broken home'. Anak yang pandai.. atau terlewat polos? Robin mengelus rambut anak itu sejenak, dia tersenyum lembut.

"Oh iya, Canji punya cecuatu buwat Lobin-chan.." Sanji kecil segera mengaduk-aduk isi tasnya yang berwarna biru tua.

"Talaaaat, Canji ambil ini di taman depan luang bu gulu.." sebuah pot bunga dari anyaman bercat putih dengan bunga menyurupai bunga matahari diberikan Sanji kecil. Mata onyx gadis tersebut membulat sekilas mendapati tanaman pot yang ada di pangkuan tangannya sekarang. Seharusnya dia mengajari Sanji bahwa tindakannya itu salah, mengambil tanpa izin adalah mencuri. Tapi kini lidahnya kelu untuk sekedar berkata.

"Cimpan baik-baik ya Lobin-chan. Ah, cudah waktunya Canji pulang. Lobin-chan gak pellu ngantel Canji, Canji mau belajal belani, kan lumah Canji deket.." Sanji kecil dengan sigap berdiri loncat dari bangku taman akibat kaki kecilnya belum bisa menggapai tanah. "Jaa, Lobin-chan!" anak kecil berambut pirang tersebut langsung lari meninggalkan Robin yang masih terpaku. Sejenak ia alihkan pandangan nya ke pot yang ia genggam. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia tak menyangka dikelamnya hidupnya sekarang masih ada yang bisa menghiburnya, memperhatikannya.. menyayanginya..

End of Flashback

Tangan panjangnya ia ulurkan untuk mengambil pot tersebut. Dia sudah tak menyesali keluarganya yang hancur di masa lalu. Kini ia sudah sanggup berdiri sendiri, dia juga sudah menemukan jati dirinya. Dia tersenyum, entah Sanji mengerti akan semua perlakuan pemuda itu dulu kepadanya atau tidak. Pemuda itu menyadari dampak akan pemberiaan bunga ini kepadanya atau tidak. Ia tak terlalu peduli, ia sangat beruntung mengenal pemuda itu. Pemuda kecil yang dulu selalu dapat mengobati luka hatinya. Ia tak pernah menganggap Sanji sebagai sosok yang biasa. Asalkan pemuda itu tersenyum, dia sudah senang. Seperti yang ia lakukan dulu padanya -sampai sekarang juga.

Bagaikan bunga, mereka pasti selalu dapat menunjukan pesonanya sendiri tanpa perlu penerjemah keelokan mereka. Sanji juga punya arti tersendiri dalam hidup wanita tersebut. Walau hanya arti adik yang sangat ia kasihi, keberadaan pemuda tersebut selalu menentramkan hatinya.

Robin tersenyum melembut sejenak, merasa aneh dengan apa yang selalu ia pikirkan. Memang sangat tak pantas untuk dirinya mungkin. Tapi ia tahu, dia sebenarnya menyayangi sosok pemuda itu sebagai laki-laki yang telah membawa kembali kegembiraannya.

Calendula- "Bergembiralah selalu, Robin-chan.."

.

.

.

"Terima kasih untuk segalanya, Sanji-kun.."

Fin


Hhe. Saya tak punya rumah sendiri, jadi saya post saja fic ini disini.
Saya tahu ceritanya monoton dan biasa aja apalagi fanart nya yang gaje. Tapi ya sudahlah, toh itu fic buatan saya sendiri. Saya senang-senang saja jadinya, hha. #alasan gaje, plak!

Suatu apresiasi besar untuk saya bila ada yang mau berkunjung ataupun dengan baik hati meninggalkan kritik/saran/pendapat-nya. ^_^
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sanna-chwan
Member Avatar
looking at the sky blue eyes
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Uwaa, ada fanart-nya! Di fanfic SanNa-ku di sini jg kuhiasi dgn gambar.
Pengen liat tapi selama masih mudik, ngenet pake hape niy.
Btw, beberapa hal yg kusoroti kemarin bl0m di-edit.
Tapi, yg paham jg cuma yg ngerti fandom siy.
Yg ga ngerti OP mana ngerasa janggal di jarak umur SanRob (tapi alasan ngelesnya bisa diterima siy^^) sama makna panggilan Sanji-kun.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
thepoetry
Member Avatar
Overloaded Leader's Charm | bounty agent ID : Cca
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
uwaaaahhh XDD

apa ini?ini benar2 membuat rasa tersentuh saya semakin menjadijadi :)

buat saya ini fic mu yg paling inspirating deh... Terasa bgt kamu bwtnya ga sembarang bwt...

Saya udah bilang belum saya suka bgt sama kalimat closing fic ini? Uwaaa xp
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Bebobobo
Member Avatar
I'm KHUNYOUNG shipper ♥
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@Eleamaya-san: Hha, itu fanart nya nista kok. Tak terlalu direkomendasikan untuk dilihat.
Eh boleh di edit? Saya kira harus sama dengan fic nya. Ya sudahlah biarlah itu tetap menjadi kesalahan yang dapat mengingatkan saya terus supaya tidak salah lagi. Nanti kalau saya edit kan jadi kelihatan gak ada salahnya, hha #plak, mulai pinter ngeles sana sini

@Etry-chan: Wah rasanya saya tertohok lagi. Berarti dua fic sebelumnya terlihat dibuat sembarangan dong? :blink:
Hha, ya sudahlah, kedua fic itu memang terlihat seperti produk gagal.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
thepoetry
Member Avatar
Overloaded Leader's Charm | bounty agent ID : Cca
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
dan kamu kembali membuat saya tertohok karena berburuk sangka pada pujian tulus saya T T

ah, saya sendiri bingung, memang bagian apa to yg harus d.edit? #kabur #ngeles biar ga terlalu OOT
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sanna-chwan
Member Avatar
looking at the sky blue eyes
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@etry: lho? Berarti yg nyadar kejanggalan-nya cuma saya hahaha.
Ga penting sih sebenarnya. Sayanya az yg rewel karena feeling di ending line-nya berakhir dgn tanda tanya besar.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
thepoetry
Member Avatar
Overloaded Leader's Charm | bounty agent ID : Cca
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
uh, terbukalah aib saya bahwa saya gampang banget terbawa di dalem cerita semacam ini sampai2 untuk memerhatikan detail aja ga sempat ahaha

saya udah terlalu terlena ngebayangin keindahan yg terjadi di antara mereka sih #ditabok
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sanna-chwan
Member Avatar
looking at the sky blue eyes
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Oh, tentu saja saya jg terlena dgn flashback Chibi Sanji. Mood udah SanRob tingkat tinggi, suer, sebelum tiba2 bingung di last line. Cuma itu doang *ga penting bgt*
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
thepoetry
Member Avatar
Overloaded Leader's Charm | bounty agent ID : Cca
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
ah ya, flashback nya memang bagus...
Mungkin memang eleamaya-san harus membiasakan diri soal itu, memang begitulah gayanya bebobobo a.k.a Voc.. #kabur
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
sanna-chwan
Member Avatar
looking at the sky blue eyes
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Saya sudah terbiasa kok. Sudah sangat jauh lebih baik ketimbang fic pertamanya yg membuat bingung hampir semua yg baca.
Cuma, ya itu tadi, saya memang rewel untuk satu hal itu. Contoh, ada fic ZoNa dimana Nami memanggil Zoro dgn Zoro-kun, bahkan Marimo (???). Ada tuh masing2 satu yg kyk gitu. Atau Sanji memanggil Nami dan Robin trbalik. Mood atau feeling membaca saya jd ada sedikit minusnya meski fic itu bagus. Mungkin itu cuma terjadi hanya pada saya, jd maafkan kerewelan saya #plak.

Btw, calendula itu nama bunga yg dikasihkan Sanji ke Robin ya? Artinya, berbahagialah selalu? Saya jd penasaran pengen googling seperti apa wujudnya.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
thepoetry
Member Avatar
Overloaded Leader's Charm | bounty agent ID : Cca
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
ah ya, fic pertamanya memang terkesan absurd. Tapi saya suka2 aja membacanya ahaha. Kalau soal panggilan, itu mgkn jd salah satu yg terabaikan sama saya pas udah terlanjur terbawa sama ceritanya.

Wujudnya calendula juga bisa dilihat di fanart 'Bahasa Bunga' hehe
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Bebobobo
Member Avatar
I'm KHUNYOUNG shipper ♥
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Wah sepertinya saya ketinggalan arus di thread fic yang padahal buatan sendiri ini, cekaceka #plak!

Hha, memang yang line terakhir setelah saya baca lagi itu agak sangat rancu. Malah menimbulkan kesan kalau yang bilang itu Nami-swan-ku tercinta ya? Hha #buagh

Tapi saya rasa juga lumayan ada peningkatan dari segi deskripsi dan format tulisan dari fic sebelumnya. Itu semua berkat saran dan kritik author semua yg datang berkunjung :)
Walau masih banyak salah sana sini juga sih ==a

Wah tapi ending nya Sanji sama Nami apa sama Robin ya? Gak jelas bgt ni fic. Apalagi yang buat deng.. :D
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
thepoetry
Member Avatar
Overloaded Leader's Charm | bounty agent ID : Cca
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
ahah. Emang sebenernya maunya bebobobo-san it gmana ttg line terakhirnya?

Satu2nya kekurangan dari fic menyentuh ini adalah tidak nongolnya seorang marimo berwujud satpam #abaikan. Lol
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone