Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
calmare con tranquillante; Katekyou Hitman Reborn / T / Romance/Hurt/Comfort / (TYL) 6918
Topic Started: 17 Jul 2010, 10:58 PM (610 Views)
double S
Member Avatar
—Eszett, sharasuke
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Title: calmare con tranquillante
FFn: http://www.fanfiction.net/s/6150322/1/
Fandom: Katekyo Hitman Reborn!
Character: (TYL) Rokudou Mukuro & (TYL) Hibari Kyouya
Genre: Romance/Hurt/Comfort
Rating: T
Words: 1.414 (story only)

Summary: "Kau pikir aku akan meninggalkanmu sendiri? Atau kau pikir aku akan membiarkanmu meninggalkanku? Kalau kau berpikir seperti itu, maka aku akan menggigitmu sampai mati, Mukuro," ancam Hibari. TYL 6918. RnR, please!
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Awalnya saya berniat hiatus, tapi justru berakhir menulis fanfic KHR untuk yang pertama kalinya (udah kelihatan kalo hiatusnya gak niat) /plak. Oh ya, kemungkinan arti judul "calmare con tranquillante" itu "menenangkan atau penenang". Pokoknya sejenis gitu lah ., saya gak gitu yakin sih… habis gak pernah belajar bahasa Italia /plak lagi.

Baiklah, selamat membaca! =3
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Disclaimer: tentu saja semua bishie di KHR punya Amano-sensei
-----------------------------------------------------------------------------------------------
.:: calmare con tranquillante ::.
Rokudou Mukuro bergerak gelisah dalam tidurnya. Dahinya berkerut. Peluh membanjiri tubuhnya. Sesekali ia mengerang lirih. Dan siksaan yang ia rasakan di alam bawah sadar mencapai puncak pada detik itu juga.

Ia menjerit. Matanya seketika terbuka lebar. Ia bangkit dan terduduk di atas ranjang. Sebelah tangannya menyangga kepalanya yang berdenyut hebat. Nafasnya satu-dua. Tubuhnya basah karena keringat dingin dan bergetar hebat.

"Eng… Mukuro? Kau kenapa?" laki-laki yang berbaring di samping Mukuro terbangun. Ia ikut bangkit dan duduk di ranjang berseprai putih.

Mukuro menghela nafas panjang; berusaha menenangkan dirinya. Ia menoleh; menatap sosok di sampingnya. Senyuman kecil tersungging. "Ti-tidak ada apa-apa, Kyou-kun."

Detik kemudian, Hibari Kyouya menyalakan lampu kamar; menerangi setiap jengkal ruangan. Hibari mengulurkan tangannya menyentuh pipi Mukuro perlahan. "Kau tampak tersiksa. Ada apa?"

Tak ada jawaban. Yang ada hanya desahan nafas Mukuro yang tidak teratur dan tubuhnya menggigil walau suhu ruangan normal. Iris matanya yang berbeda warna mengecil. Ekspresi ketakutan yang dalam terpatri di wajah laki-laki yang telah melewati enam neraka.

"Mukuro?" tanya Hibari pelan. Ia menarik tangan kanan Mukuro yang menutupi sebagian wajah Mukuro. Manik mata Hibari tepat menghujam Mukuro.

Kekhawatiran mekar dalam diri Hibari. "Kau bermimpi buruk?"

Timbul keheningan yang kaku dan menusuk. Hingga akhirnya Mukuro menatap Hibari dan mengangguk singkat sambil mengulum senyum; senyum terpaksa dihiasi rasa kesepian yang kental. "Ya, Kyou-kun. A-aku mimpi buruk. Sangat buruk," jawab Mukuro.

Kening Hibari berkerut. Laki-laki yang duduk di hadapannya tidak seperti Mukuro yang selama ini ia kenal. Tidak ada nada ceria dalam setiap suku kata yang keluar dari mulutnya. Tidak ada kerlingan menggoda di iris merah ataupun birunya. Yang ada hanyalah sebentuk kehampaan.

Hibari menarik Mukuro ke dalam pelukannya. Menyampirkan tangannya di pundak lelaki yang sedikit lebih tinggi dari dirinya. Mengelus rambut hitam panjang yang tergerai bebas.

Tidak ada bentuk penolakan yang diberikan Mukuro. Setelah keterkejutannya atas sikap Hibari yang tiba-tiba hilang, ia hanya diam dalam dekapan laki-laki yang selalu mengisi jiwa dan pikirannya sejak pertemuan pertama mereka. Merasakan kehangatan sosok yang tak bisa ia sentuh lebih dari sepuluh tahun.

Tak ada suara. Tak ada tanya. Tak ada kata. Yang ada hanya desahan nafas lirih keduannya dan detak jantung yang melebihi kecepatan normal seakan berlomba. Disertai kehangatan yang menguar dari setiap sentuhan di kulit masing-masing.

"Aku... takut, Kyou-kun. Ini pertama kalinya aku merasa begitu takut. Rasanya tak tertahankan," ujar Mukuro kemudian. Suaranya begetar.

Hibari tak menyahut. Ia membiarkan Mukuro menenangkan dirinya. Ia hanya mengelus rambut hitam itu sepenuh hati. Memberikan perhatian lewat sentuhan kecil nan hangat.

"Vendicare begitu... gelap. Begitu tertutup. Begitu dingin. Dan juga sepi..." lanjut Mukuro. "Tubuhku kaku. Hanya sel-sel otakku yang masih berjalan saja yang menandakan bahwa aku masih hidup. Hanya kehidupan yang dialami Chrome yang aku saksikan bagai film tanpa henti dalam benakku yang menjaga diriku tetap hidup. Bahkan kematian rasanya akan lebih baik dari pada siksaan ini menurutku."

Tubuh Mukuro bergetar. Suaranya tercekat. Pandangan matanya mengabur. Ia mencengkaram lengan Hibari yang bebas dengan erat. Sedang jari-jari tangannya yang satu lagi meremas selimut dan seprai ranjangnya.

Sejak bebas dari penjara mengerikan bernama Vendicare, Mukuro selalu bermimpi buruk. Kenangan tak menyenangakan di tempat yang ia habiskan selama lebih dari satu dasawarsa menemani malam-malamnya. Di siang hari yang terik, ia berhasil menghindari bayangan yang mencekik dirinya. Tapi, tidak di malam hari.

Mimpinya tidak pernah sampai membuatnya begitu gelisah dan terbangun di tengah malam hari. Dan ia juga menyembunyikan perihal mimpi-mimpi buruk itu dari Hibari. Ia sama sekali tak mau mengganggu waktu istirahat laki-laki yang paling penting dalam hidupnya. Tapi, tidak di malam ini.

"Jika saja Chrome tidak membagi ingatannya denganku, aku pasti jadi gila," desis Mukuro dengan suara bergetar. "Tempat itu melunturkan kepercayaan diriku. Menghempaskanku ke lautan tanpa ujung. Melemparkanku melewati batas horizon. Menghancurkan keteguhan hatiku. Menyiksaku dalam keheningan abadi."

Hibari mempererat pelukannya. Ia tidak meraskan sakit di lengannya yang dicengkram Mukuro. Ia hanya diam; mendengarkan lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya melebihi apapun –bahkan nyawanya sendiri- berkeluh kesah dan mengadu. Hal yang tidak mungkin Mukuro lakukan selain di hadapan Hibari.

"A-aku begitu takut, Kyou-kun. Aku takut sekali..." isak Mukuro lemah. "Aku takut aku akan berada di sana selamanya. Akan terjebak dalam kesunyian dan terkucilkan seumur hidupku. Aku takut akan terselubung dalam kegelapan tanpa ujung. Setiap malam, ketakutanku menghampiriku dalam bunga tidurku. Mengganggu alam bawah sadarku. Mengendalikan mimpi-mimpiku. Menghantuiku..."

Air mata bergulir di pipi Mukuro. Dan Hibari tahu bahwa laki-laki dalam pelukannya itu menangis. Dan ia juga tahu yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah diam dan mendengarkan dengan seksama.

Justru sifat Hibari yang pendiam dan cenderung anti sosial yang medekatkan mereka berdua. Sifat Hibari yang bebas dan tidak terikat yang menyebabkan sosok Mukuro jatuh berlutut. Sifat Hibari yang tidak mau tahu dan cuek yang membuat Mukuro bisa membuka seluruh bagian hatinya, bahkan yang paling gelap dan dalam di hadapan Hibari. Sifat Hibari yang lebih suka bertindak dan sedikit berbicara yang mengakibatkan hati mereka berdua saling terpaut dan akhirnya menyatu.

Isakan Mukuro mereda. Ia menghela nafas panjang; berusaha meringankan beban di pundaknya. "Aku sangat takut, Kyou-kun. Aku... aku takut tak akan bisa melihat wajahmu lagi. Takut tak akan pernah menatap bola matamu lagi. Takut tak dapat mendengar suaramu lagi. Takut tak lagi merasakan sentuhan hangatmu. Takut... kehilangan dirimu, Kyouya."

Suara Mukuro tenggelam dalam keheningan. Yang segera terpecahkan oleh dengusan Hibari. "Baka!" seru Hibari kesal.

Mukuro mengangkat wajahnya. Menatap Hibari lekat-lekat. Sebelah alisnya terangkat. Ia bingung mendengar seruan Hibari yang ditujukan padanya.

"Kau bodoh sekali! Sekarang kau sudah keluar dari tempat terkutuk itu, kan? Sekarang kau bisa melihat kenyataan dengan kedua matamu, kan? Sekarang kau bisa merasakan kehangatan dan melihat cahaya, kan?" tanya Hibari bertubi-tubi. Manik matanya tak pernah meninggalkan iris berlainan warna milik lelaki dalam dekapannya.

"Dan sekarang, aku ada di sampingmu, kan?" lanjut Hibari lembut. Hibari melepas rangkulannya dan menyentuh pipi Mukuro; menghapus sisa air mata yang membekas.

"Kyou-kun..." bisik Mukuro.

Tatapan Hibari melunak. Ia tersenyum kecil dan berkata, "lagi pula kau tidak hidup di masa lalu. Jadi, biarkanlah masa lalu menjelma menjadi kenangan. Kau juga tak hidup di masa depan. Jadi, biarkanlah masa depan tetap menjadi misteri. Kau hidup di saat ini, sekarang. Jadi, nikmati saja anugrah itu."

"Satu hal lagi, Mukuro..." Hibari terdiam sejenak. Pandangan matanya yang lembut seketika berganti. Ia menghujani Mukuro dengan tatapan tajam. "Kau pikir aku akan melepaskan tanganmu setelah aku meraihmu? Kau pikir aku akan meninggalkanmu sendiri? Atau kau pikir aku akan membiarkanmu meninggalkanku?"

Jeda sejenak sebelum Hibari melanjutkan dengan nada mengancam yang khas disertai dengan pandangan menakutkan, "kalau kau berpikir seperti itu, maka aku akan menggigitmu sampai mati, Mukuro."

Mukuro tertegun. Segala penjabaran Hibari menenangkan jiwanya yang mengamuk. Menghentikan badai hatinya. Menentramkan sanubarinya. Menghapus kegalauan dan prasangkanya. Menyadarkan dirinya yang terlelap dalam mimpi buruk.

"Kufufufufu..." bisik Mukuro memecah keheningan. Mukuro meraih tangan Hibari dan mengecupnya. "Aku tidak mungkin melepaskanmu, Kyou-kun."

Sejak keluar dari Vendicare, Mukuro tidak pernah terlihat bebas dan begitu hidup. Dan detik itu adalah kali pertama Hibari mendengar suara ringan dan tanpa beban milik Mukuro. Dan di detik itu pula, Hibari tahu bahwa Mukuro miliknya -yang direnggut Vindicare dari hidupnya- telah kembali.

Segala kecemasan dan kegundahan Mukuro telah lenyap. Hilang tanpa bekas. Menguap begitu saja. Meninggalkan sosok Mukuro yang Hibari kenal. Sosok Mukuro yang Hibari rindukan selama ini.

Lalu, Mukuro mencium pipi Hibari sambil berbisik lirih, "maaf telah membuatmu menunggu begitu lama, Kyouya…"

Hibari memutar kepalanya; menghindari tatapan Mukuro. Pipinya merona merah saat Mukuro menjilat daun telinganya. Hibari mendesah lirih ketika merasakan bibir Mukuro di lehernya. Detik kemudian, bibir mereka bertemu. Melekat selama beberapa detik yang seolah akan bertahan abadi. Betapa Hibari merindukan Mukuro yang saat ini ada di hadapannya.

Dengan sentakan ringan Mukuro mendorong tubuh Hibari. Menyebabkan Hibari berbaring di bawahnya. Sebelah tangan Mukuro sibuk membuka piyama Hibari, sedang tangan yang lainnya mengelus pipi Hibari penuh perasaan.

Dan Mukuro mendekatkan wajahnya ke wajah Hibari. Bibir mereka nyaris bertemu lagi jika Hibari tidak mendorong tubuh Mukuro sedikit dan berkata, "tunggu."

Dahi Mukuro berkerut. "Ada apa, Kyou-kun?" tanya Mukuro sambil terus melepas kancing piyama Hibari.

"Terlalu terang. Matikan lampunya dulu," jawab Hibari sambil mengernyit karena wajahnya tertimpa cahaya lampu secara langsung.

Setelah tertegun sejenak, Mukuro menekan saklar lampu. Dan senyuman Mukuro adalah ekspresi terakhir yang dilihat Hibari sebelum ruangan menjadi gelap gulita. Juga sedetik sebelum ia merasakan bibir yang ia kenali dengan sangat baik melekat di bibirnya.

"Kufufufufu..." ujar Mukuro disela kecupannya pada Hibari yang bertubi-tubi. "Kyouya, aku mencintaimu..."

Hibari mendesah lirih -tentu saja seksi dan terdengar merangsang di indera pendengaran Mukuro, para seme dan fujoshi manapun- sebagai jawaban.

Dan ruangan dipenuhi suara desahan lirih dan pekikan samar dari bibir Hibari. Yang berpadu dengan helaan nafas lega dan decakan kepuasan dari bibir Mukuro.

.:: finale ::.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Yup, selesai sampai di sini. Kalo, saya teruskan harus masuk ke fanfic rated-M. Lagi pula saya belum siap buat rated-M . /plak. Bayangkan saja sendiri kelanjutannya. Terus, saya harap gak OOC... saya sudah berusaha membuat Mukuro dan Hibari gak OOC .

Awalnya saya sempat bingung, mau 6927 atau 6918, habis ide ini bisa dipake buat kedua pairing itu. Tapi, akhirnya saya putuskan 6918 saja :) Walaupun saya lebih suka Hibari sama Dino sih... Lagi pula 6918 gak jelek-jelek amat kok. Malah kelihatan manis di mata saya XDD~

Kemudian, saya mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang telah meluangkan waktu berharganya membaca fanfic ini. Terima kasih banyak :)

Jadi, sudikah memberikan sedikit review? Dan bersediakan memberikan review di FFn?
Edited by double S, 17 Jul 2010, 11:04 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone