Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Is There Anyway?[chapter 1]; and i don't know what should i do now...
Topic Started: 18 May 2010, 09:01 PM (337 Views)
Deleted User
Deleted User

adakah yg suka, atau setidaknya mengenal tohoshinki?
boleh kan, saya ngotorin forum ini pke ff ttg mereka?
ya?
ya? :P
ini dia,

Title: Is There Anyway? [chapter 1]
Main cast: Salah satu personel Tohoshinki
Genre: Romance, others
Rate: T
hope you enjoy this story!

(buat font yg dicetak tebal, berarti itu isi hati sang tokoh.
font yg dicetak miring utk bhs asing, flashback, dan beberapa gurauan kecil)

[CHAPTER 1- Reason]

“Pa, Papa di mana sih? di sini rame banget, Hana udah cari papa ke mana-mana tapi nggak keliatan juga.”, gadis yang menyebut dirinya Hana itu memasangkan headset lekat-lekat di telinganya.
Terdengar satu jawaban dari seberang sana, tapi Hana tidak bisa mendengarnya.
“Apa pa? Papa di mana? Halo? papa?”
BUKK
Dengan amat-sangat tiba-tiba, ponsel itu terlepas begitu saja. Terlempar jauh, entah kemana. Hana meringis, berbalik badan, menatap punggung laki-laki yang telah menabraknya, yang pergi tanpa peduli dengan kesal. Sekarang satu-satunya alat komunikasi yang bisa membantunya menemukan sang papa di antara desakan orang-orang ini menghilang. Terlempar. Terlempar jauh entah kemana.

~~øØø~~

Ia menatap sekelilingnya ketika sampai di bandara paling terkenal-di Indonesia- itu. Sekilas ia masih ingat pemandangan indah yang dilihatnya saat masih mengudara tadi.
“Jadi ini bandar udara yang katanya terkenal itu..”, gumamnya lebih kepada dirinya sendiri.
Tak ingin berlama-lama, ia segera memakai kacamata hitamnya dan bergegas menuju-entah kemana.
Kacamata hitam, jas hitam, sepertinya dirasa amat penting untuk menutupi keberadaannya dari pandangan orang lain.
Ia berjalan sangat cepat. Ternyata sesuai dugaan, bandara ini ramai sekali. Ia tak mungkin sanggup berada di sini lama-lama. Perjalanan tadi sangat melelahkan. Dan ia merasa sangat butuh istirahat.
BUKK
Bahunya menabrak sesuatu, atau mungkin seseorang? Ah, ia tak perlu peduli. Toh tempat ini sangat ramai, tak akan ada seorangpun yang dapat menyadari keberadaannya.
Tiba-tiba seseorang menariknya dengan kuat, dahinya mengerut karena kaget. Ia berbalik badan, dan, ternyata seorang gadis yang diidentifikasi berusia jauh lebih muda dibanding dirinya.
Bahkan tinggi badannya dapat menjamin hal itu.
“Hey, kau buta ya?! Tidak lihat aku sedang kesulitan menghubungi papaku?!”
Ia mengerutkan alis. Gadis itu sepertinya sedang mengajaknya bicara tapi ia tidak mengerti dengan ucapannya. Mungkin bahasa Indonesia? pikirnya.
Yang terpenting adalah, gadis itu tidak mengenali wajahnya. Ia merasa bisa sedikit bernafas lega. Untuk menghormati hal itu, mungkin ia perlu menyapanya.
Excuse me?”, tanya laki-laki itu dengan bahasa Inggris yang cukup fasih.
Ia bisa melihat guratan heran di wajah gadis itu. Lalu untuk menyairkan suasana, ia bertanya lagi sambil tersenyum.
“Maaf, ada yang bisa kubantu?”, sekali lagi, dengan bahasa Inggris.
“E-ee-eeh….emm….Maaf, kupikir orang Indonesia.”, ia menjawab dengan bahasa Inggris yang kaku namun tetap berirama.
Laki-laki itu tidak menanggapi, masih menatapnya dengan heran.
Gadis itu menggaruk dagunya yang tidak gatal dengan jari telunjuk. “tadi kau menabrakku sampai ponselku terlepas.”, ia tersenyum pahit, “Dan sekarang aku harus menghubungi ayahku untuk menemukannya.”
Ia tidak mengerti.
“Lalu?”, tanyanya.
Gadis itu-yang sebenarnya adalah Hana- mulai kehilangan kesabaran.
“ponselku sekarang hilang dan aku tidak mungkin bisa menemukannya dalam keramaian begini. Aku harus menghubungi ayahku sebelum ia memarahiku.”, jelasnya.
Laki-laki itu mulai mengerti. “Jadi, apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”, tiba-tiba ia menawarkan.
Hana terkejut. Ini pertama kalinya seorang turis asing yang tidak mengenalnya langsung menawarkan sebuah bantuan. Tuhan…apakah dia adalah penyelamat hidupku? batinnya dalam hati
“Hemm…bagaimana kalau kau bantu aku menemukan ayahku? Aku tidak akan meminta ganti rugi. Hanya saja, kalau kau melakukannya itu akan sangat membantu.”
Laki-laki itu mengerutkan alis-lagi. Bagaimana mungkin ia membuang jam istirahatnya demi gadis yang tidak dikenalnya ini? Dan, di negara yang amat asing ini?
“Apa tidak ada pilihan lain?”, ia bertanya sekali lagi.
“Tidak.”, Hana menjawab dengan tegas.

~~øØø~~

Hampir satu jam berlalu tanpa sebuah hasil. Kedua orang-yang nampak seperti pasangan itu- mulai kesal. Sepanjang kebersamaan mereka, tidak satu pun mengeluarkan suara. Atau bahkan, bertanya pun tidak.
“Lama-lama aku jadi berpikir”, si Laki-laki membuka suara. “Jangan-jangan kau melakukan ini hanya untuk bisa dekat-dekat denganku?”, pertanyaan itu terdengar seperti petir yang menyambar saat pertengahan siang bolong di kuping si gadis. “kau sudah tahu kan siapa aku?”, dan dia malah melanjutkan.
“Hey!!! kau pikir aku suka berkeliling di bandara mencari ayahku yang tidak jelas keberadaannya dengan seorang laki-laki asing yang bodoh dan jelek sepertimu?! Memangnya aku mau membuang-buang waktu untuk hal seperti ini?! Apa-apaan kau, kau bilang aku sengaja melakukan ini semua hanya untuk dekat-dekat denganmu?! Memangnya kau siapa?!”, si gadis berteriak, tepat di depan mukanya.
Si laki-laki tinggi yang masih mengenakan pakaian serba hitam itu ikut-ikutan naik pitam.
“OHH!! aku baru tahu kalau di Indonesia ada orang YANG TIDAK TAHU APA-APA sepertimu.“, dia membalas. Memberi tekanan yang kuat pada lima kata terakhirnya. Si gadis masih diam dengan wajah kemerahan sakim kesalnya. “Kau mau tahu siapa aku? Aku ini artis terkenal dari KOREA”, tekanan, sekali lagi.
Si gadis membalas sebelum ia sempat melanjutkan.
“OH? Korea? Memangnya penting? Artis Hollywood, bukan! Artis Indonesia juga bukan! Apa yang bisa dibanggakan dari-JALAN-JALAN- denganmu?”
walhasil, waktu yang seharusnya amat berharaga bagi kedua orang itu terbuang percuma hanya untuk adu mulut di antara mereka.
“Dengar ini baik-baik! Aku penyanyi terkenal dari Korea. Namaku CHOI—-”
“Hana?”
Sebuah suara yang sepertinya adalah panggilan dari surga membuat laki-laki itu menghentikan ucapannya. Kedua orang itu menoleh, menatap seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di depan mereka dengan wajah kelelahan.
Hana, yang langsung tahu bahwa itu adalah papanya segera manghampiri beliau dan meraih barang-barang bawaan yang digenggam laki-laki itu dengan susah payah.
“Ya ampun Pa…. maaf, Hana nggak ketemu-ketemu sama papa…. Hana udah cari Papa ke mana-mana tapi Papa—-”
“Iya… Papa nggak masalah koq. Yang jadi masalah, kenapa bisa terlambat dan malah kenal sama turis gitu? Kamu kenalan dulu sama dia? Siapa namanya?”, tanya papa polos.
Pa, kalo bisa juga aku malah nggak bakal pernah mau kenal sama dia. Batinnya.
“Ceritanya panjang pa… yang jelas dia itu udah nolongin aku nyari Papa.”, akhirnya Hana menjawab.
“Siapa namanya?”
Hana membalikkan badan, menatap laki-laki itu sambil mengisyaratkan sebuah pertanyaan seperti orang menggerutu yang tidak jelas.
Name? Name? Your Name?”, tanyanya penuh isyarat.
Si laki-laki baju hitam itu mendesis pelan “Oh—”, lalu menjawab, “Choikang Changmin”, dengan suara yang sangat pelan namun bisa terjangkau oleh pendengaran Hana.
Hana berbalik lagi menatap papanya.
“Namanya Choi-i-kang– Chang–ngm–min –Pa—”
Choikang Changmin? Koq kayak pernah denger?, batin Hana heran.
“Ooohh….”, papa menghampiri laki-laki itu-Changmin.
“Aku pernah dengar! bukankah kau artis muda asal Korea yang namanya sudah melambung tinggi hampir ke seluruh Asia bukan? Apa itu nama grupmu? Tosho—-”
“Tohoshinki, begitulan kami dikenal di Jepang.”, Changmin tersenyum penuh kemenangan menatap Hana yang diam saja di tempatnya. Seolah-olah mengisyaratkan, ‘tuh kan…bapak-bapak aja tau..’, Hana mencibir.
“Ya, ya. Tohoshinki, aku memang banyak mendengar tentangmu saat di Jepang. Aku baru saja kembali dari sana.”
Changmin dan Hana hanya manggut-manggut.
“Oh! Kebetulan sekali! bagaimana kalau kau sementara menumpang di rumah kami? sepertinya menyenangkan?”, usul itu terlempar begitu saja dari mulut besar papa.
“HAH?!”, respon keduanya, serempak.
“Maaf, paman, tapi aku…”, Changmin berusaha mengelak.
“Sudahlah Changmin, jangan menolak. Coba kau lihat ke belakang.”, papa bersikukuh.
Changmin mengikuti petunjuknya. Ia menoleh ke belakang, dan….
Pers sedang menyaksikan mereka.
Tiba-tiba ia merasa panas dingin. Sepertinya memang tidak ada jalan lain.

~~øØø~~

Dua hari berlalu sejak papa mengizinkan laki-laki asing itu menginap di rumah mereka.
“Jadi, saat ini Tohoshinki sedang tur ke Bangkok?”, papa bertanya di dalam mobil siang itu.
“Tepat.”, Changmin mengiyakan.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Hana hanya bisa manggut-manggut mendengarkan obrolan papa dengan laki-laki asing itu. Ia masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin papanya bisa lebih gaul daripada dirinya sendiri?
Siang itu Changmin mengaku dirinya datang ke Indonesia hanya untuk berlibur. Sedikit waktu yang dimilikinya ketika di Bangkok ia gunakan sebelum jadwal konser menumpuk. Tapi entah mengapa Hana merasa ada yang ganjil dengan pernyataan Changim waktu itu. Untuk apa ia repot-repot datang ke Indonesia jika hanya berlibur? Apalagi dengan waktu yang sangat singkat?
Hana semakin yakin dengan keganjilannya ketika pagi tadi ia mendengar langsung pembicaraan Changmin via telepon dengan seseorang di seberang sana.
Hana menarik napas panjang sebelum akhirnya ia mengangkat gagang telepon itu dan nyaris menekan tuts-tutsnya ketika ia mendengar suara di sana.
“Maaf membatalkan tiba-tiba.”, suara ini? Changmin? “Sekarang ini aku sedang benar-benar ingin berlibur, mungkin kita akan bertemu nanti, Detektif?”
Hana cepat-cepat meletakkan gagang telpon itu di tempatnya. Detektif? Untuk apa Changmin menelepon seorang Detektif?

Ya. Untuk apa Changmin menelepon seorang Detektif? Untuk menyewanya? Kalau benar, untuk apa dia menyewa Detektif? Hana yakin Changmin sedang menyembunyikan sesuatu. Ia mengerti akan hal itu. Apalagi, di Negara yang amat asing ini untuknya.
Tiba-tiba Hana terhenyak, Ya ampun Han, ini bukan urusan kamu! Hana menggeleng-gelengkan kepalanya. Ya, ini memang bukan urusannya.

TOK….TOK…TOK
Suara ketukan pintu dari luar menyadarkan Hana dari lamunannya. Dengan malas ia bergumam, “Masuk”
Changmin muncul dari balik pintu itu. “Ayo siap-siap, nona. Kau harus menemaniku jalan-jalan siang ini.”, ujarnya tanpa basa-basi.
sejenak Hana tertegun. Lagi-lagi sesuatu yang ganjil. Lalu seketika ia merengut kesal. Kenapa harus aku?, tanyanya dalam hati.
“Jangan tanya kenapa. Siang ini aku akan mengganti ponselmu yang sudah kubuat hilang.”, tiba-tiba Changmin berkata seolah mengerti kegalauannya.
Sekejap, Hana mengganti pakaiannya dan sudah berada di dalam mobil bersama Changmin. Pakaian yang ia kenakan tidak ada bagus-bagusnya. Ia tidak mau kalau Changmin tiba-tiba berkata ia sengaja tampil cantik untuk menarik perhatian laki-laki sok keren itu.
“Kita mau ke mana?”, Hana memecah keheningan di antara padatnya jalan raya kota Jakarta saat macet.
Changmin diam saja.
“Kau tahu, mungkin kalau kau bisa bersikap sedikit lebih sopan, aku mungkin akan menghargaimu.”, Hana merasa lelah menghadapi laki-laki itu.
Tiba-tiba Changmin meletakkan sebuah buku di hadapan gadis itu.
Hana melirik dan membaca judulnya: 'IF YOU WANT TO GO TO JAKARTA'. Kalau kamu ingin ke Jakarta? Apa hubungannya dengan pertanyaanku barusan?
“Aku mau melihat monumen nasional.”
Hana terhenyak mendengar pernyataan Changmin barusan. “Monas?! Tadi kau bilang kita mau beli ponsel???”
Changmin tidak banyak bereaksi. Hana sudah tidak sabar. Ia nyaris ingin mengusir Changmin dari mobilnya, berharap laki-laki itu takkan pernah muncul lagi di hadapannya.
Tapi ia tak punya pilihan. Menerima Changmin saat ini adalah satu-satunya pilihan. Meski ia tidak tahu apa yang akan menantinya kelak.
Sebuah keputusan. Sebuah Kecemasan
“Kita beli ponselmu setelah jalan-jalan sebentar. Aku mau kau jadi guideku. Dan sekarang aku ingin kau menunjukkan padaku monumen nasional kebanggaan kalian.”, jawab Changmin tanpa menatapnya.
Hana menarik napas, seakan sesuatu yang amat berat sedang menimpa dirinya.
“Ya, tidak masalah kalau kau ingin aku jadi guidemu, berhubung aku sedang cuti kerja. Tapi, ada satu masalah…”, Hana mem-pause ucapannya. Ia menatap keluar kaca jendela mobil yang tertutup. “Aku tidak tahu jalan ke monas..”, lanjutnya lirih.
Dengan amat sangat tiba-tiba Changmin menghentikan laju mobil. Merasa terkejut, Hana mendengus kesal.
“Kenapa tidak kau katakan sejak awal?”, Changmin bertanya dengan nada putus asa.
“Kenapa tidak tanya dulu padaku?”, balas Hana.
Keduanya diam untuk beberapa lama, memikirkan langkah selanjutnya untuk satu masalah ini. Changmin melirik jam tangannya. Sudah setengah perjalanan, mereka tidak mungkin kembali. Lagipula, Changmin tidak begitu ingat rute jalan yang telah dilewatinya. Ia terlalu sibuk pada stirnya. Ini pertama kalinya ia menyetir di sebelah kanan.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan?”, Hana bertanya.
Changmin mulai menyalakan kembali mesin mobil. “Sudah setengah perjalanan, sebaiknya kita lanjutkan saja.”, ia menjawab.
“Apa? tapi kita tidak tahu arah!”
“Toh nanti pasti ada yang akan membantu kita kan?”
Hana tidak menjawab. Ia hanya bisa diam membiarkan laki-laki itu membawanya pergi menyusuri jalan raya kota Jakarta yang selalu macet dan terasa sesak oleh bau asap knalpot.

~~øØø~~

Satu buah es krim Wall’s Conello Royale tiba-tiba muncul di hadapannya. Sebuah tangan menyodorkan dengan hangat.
“Mau?”
Hana terpaku menatap asal suara. Sosok yang selama ini dianggapnya sebagai makhluk paling menyebalkan itu tengah menyodorkan sebuah es krim. Conello Royale lagi! Batinnya bersorak.
Hana tersenyum meraih es krim itu dan langsung membukanya. Changmin sendiri tanpa perlu disuruh duduk di sampingnya.
Setelah melalui pertengkaran sengit, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk turun dari mobil dan beristirahat sebentar. Mereka duduk di pinggir jalan samping trotoar sambil menatap pemandangan taman-entah taman apa- di depan mereka.
“Kau sepertinya tahu aku suka es krim Wall’s”, Hana bertanya sambil tetap menikmati es krim di tangannya.
“Memang.”, jawab Changmin singkat.
Sesaat Hana terdiam mendengar jawaban laki-laki itu. Ia berusaha mencerna ucapannya, bagaimana laki-laki ini tahu kalau dia memang menyukai Wall’s? Lalu, seakan mengerti keheranannya, Changmin memamerkan giginya seolah ada sesuatu hal yang lucu.
Hana memiringkan alis, masih dengan keheranannya.
“Jangan tanya kenapa aku bisa tahu hal mendetil seperti itu. Kalau kubilang pun, kau mungkin akan marah lagi padaku.”, jelasnya, masih dengan memamerkan gignya yang rapi dan tatapan matanya yang khas.
Untuk sesaat Hana terpaku. Ia seperti tersihir oleh senyum dan tatapan Changmin barusan. Ia tidak menyangka, laki-laki itu sungguh mengejutkan. Meski tadi Changmin mengatakan bahwa mungkin saja ia akan marah, sepertinya hal itu tidak akan membuatnya sanggup memarahi laki-laki itu.
“By The Way, kau bekerja di mana?”, Changmin melanjutkan, sementara Hana tidak mendengarkan, sama-sekali.
Ah, senyumnya itu mungkin saja dia berikan untuk semua fansnya, buat apa merasa tersanjung hanya karena hal itu? Sayang sekali Hana….
Ups??

“Hei?”, Changmin menyadarkan Hana dari lamunannya.
“Ehmm–eh– Kau tadi bilang apa?”
“Aku tadi tanya, kau bekerja di mana? Tadi di mobil kau bilang sedang cuti?“
“Ouh, ya. Aku kerja di perusahaan periklanan, tempatku melayani orang-orang seperti kau dan menejemenmu.”
Changmin manggut-manggut serius. Lalu, lagi-lagi mereka berdua diam untuk beberapa lama. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

~~øØø~~

Tanpa sadar, hari semakin larut dan Hana mulai lelah dengan perjalanannya. Sepanjang perjalanan, ia sudah banyak berbagi cerita dengan Changmin. Sebenarnya, itu adalah salah satu wujud kekesalannya pada Changmin karena laki-laki itu telah menyebabkan semua ini. Sayangnya, ia tidak bisa mengusir atau bahkan membunuh laki-laki itu. Ia hanya bisa membuat laki-laki itu bersabar mendengarkan celotehnya. Berharap Changmin merasa kesal dan memutuskan untuk pergi dengan sendirinya.
Tanpa disadari, Hana meletakkan kepalanya di atas pundak kiri Changmin di dalam mobil. Menganggap bahwa pundak laki-laki itu adalah satu-satunya tempat ia meletakkan segala kekesalan, kemarahan, dan unek-unek lain yang membuatnya merasa amat-sangat lelah.
“Kau tahu, menyenangkan sekali saat mendengarkanmu bercerita.”, tiba-tiba, Changmin mengisi keheningan di antara mereka.
Hana diam saja, ia terlalu lelah untuk merespon ucapan laki-laki itu.
“Aku tidak pernah menemukan gadis yang begitu blak-blakan sepertimu, dan…”, ucapannya terputus.
Hana diam menunggu laki-laki itu melanjutkan ucapannya. Tapi sepersekian menit lamanya, Changmin tetap tidak membuka suara.
Akhirnya Hana menjawab, “Oh, ya? Banyak yang mengatakan seperti itu. Kau sendiri bagaimana? Suka bercerita pada orang lain?”, ia bertanya, masih tetap meletakkan kepalanya di atas pundak kiri Changmin.
Laki-laki itu diam saja.
“Hei, kau mau bercerita padaku? Sejujurnya, tadi siang aku mendengar pembicaraanmu dengan orang yang kau panggil Detektif di telepon.”, tanpa disadarinya, Hana baru saja mengatakan sesuatu yang membuat Changmin terhenyak dan tanpa sengaja menghentakkan kepala gadis itu dari pundaknya menubruk jendela mobil yang tertutup.
JDUG!!
Seketika mata Hana terbuka dan ia amat terkejut.
“Hei, pusing…”, ia merintih sambil terus memijat kepalanya yang benjol sebesar buah anggur.
Changmin diam saja. Laki-laki itu malah mengalihkan pandangannya ke bawah, merenungkan apa yang baru saja didengarnya, dan membiarkan Hana kesakitan dengan luka hasil perbuatannya sendiri.
Hana yang kesal karena laki-laki itu tidak bertanggung jawab dengan perbuatannya segera mengambil buku milik Changmin yang dibiarkan tergeletak sepanjang perjalanan tadi di dalam mobil, dan menghentakkannya dengan amat sangat keras di kepala Changmin.
Laki-laki itu tersentak.
“Terserah kalau tidak mau cerita! Tapi please… jangan memperlakukan orang sembarangan!?”, Hana berteriak di depan wajah laki-laki itu. Sementara Changmin tidak banyak bereaksi mendengarkan ucapannya.
Tiba-tiba, Hana merasa iba melihat Changmin tercenung seperti itu. Ia tahu apa yang dikatakannya tadi adalah salah. Semua itu bukanlah urusannya. Tapi ia benar-benar tidak sengaja. Tadi itu ia benar-benar kelepasan bicara.
Akhirnya, Hana bersedia mengalah. “Maaf, aku–”
“Sejak awal, aku memang tidak datang ke Indonesia hanya untuk berlibur.”, tiba-tiba Changmin menyela. “Bahkan, aku menyewa detektif karena memang semuanya sudah kupersiapkan.”, laki-laki itu berbicara tanpa menatapnya.
“Aku datang untuk menjemput, atau setidaknya menemukan masa laluku. Dia, terbang ke sini.”, lalu Changmin menatapnya. Ada guratan sedih dari tatapan laki-laki itu. Hana bisa menangkapnya dengan jelas. Hanya, ia tidak akan mengerti sampai Changmin benar-benar bersedia membuka seluruh rahasianya. Rahasia yang akan membawa mereka pada satu titik, di mana ‘cinta’ bukanlah sesuatu yang berharga.
Lalu, ia tidak akan bisa berkata-kata. Hanya ada satu pilihan dalam hidupnya, sebelum ia terjerumus semakin dalam. Dan terjatuh, tanpa bisa terbangun lagi.
Di sinilah semua masalah, semua cerita akan bermula. Perlahan, menjadi benang yang semakin kusut.

------->
Continued~
mari direview *ngarep* :$

Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone