Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,902 Views)
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Kipas Angin
Fandom : Undertale (c) Toby Fox
Warning(s) : AU/Semi-canon, older-female!Frisk, slight SansxFrisk
Characters : Papyrus, Sans, Frisk

"SANS! BAGAIMANA INI?" gema teriakan si tengkorak jangkung membahana di seisi ruang tamu. Padahal si empunya nama, tengkorak pemalas berjaket biru, berada tepat satu meter dari belakangnya. Tidur santai di atas sofa empuk, dengan satu lengan menggantung ke lantai.

"Heh?" Sans yang lubang matanya baru tertutup separuhnya terpaksa menepis rasa kantuknya karena panggilan sang adik. "Ada apa lagi, Pap?"

"KIPAS ANGINNYA RUSAK LAGI! LIHAT! BALING-BALINGNYA TIDAK MAU BERGERAK SEDIKITPUN!"

"Hoh. Coba putar saja baling-balingnya. Nanti juga jalan lagi," Sans menguap.

"KAU SAMA SEKALI TIDAK MEMBANTU, SANS!" Papyrus terus menggerutu, "ALAT INI PENTING UNTUK CUACA PANAS SEPERTI SEKARANG, KAU TAHU!? CEPAT BANTU AKU MEMPERBAIKINYA!"

"Ya, ya, sebentar..." mau tidak mau Sans harus bangkit dari sofa singgasananya. Dia juga tidak mau, melihat saudara satu-satunya itu mengeluh kepanasan. Cuaca di dunia luar memang sangat berbeda dengan kelembaban udara di Dunia Bawah Tanah. Khususnya tempat tinggal mereka dulu, Kota Snowdin yang selalu penuh salju. Di permukaan bumi tempat manusia bermukim, cuaca kerap tak menentu. Kadang dingin, kadang panas. Walaupun tidak sepanas Hotlands, tetap saja mereka harus berusaha beradaptasi.

Sans mengambil botol oli kecil dan melumurkannya pada satu bagian mesin kipas angin. Merepotkan, memang. Mereka seharusnya membeli AC. Sayang seribu sayang, isi dompet tidak mencukupi. Bahkan Frisk, sahabat manusia mereka, sekaligus duta bagi bangsa monster, rela bekerja sambilan di bar Grillby's demi menutupi hutang Sans yang menumpuk.

Sans menekan tombol "On". Baling-baling kipas berputar seperti biasa. Papyrus girang.

Lima detik kemudian, salah satu dari ketiga baling kipas patah. Papyrus berteriak lagi. Sans menghela napas lelah. Kini waktunya untuk mencari sebotol lem.

Di laci tidak ada. Di kolong sofa tidak ada. Di balik karpet tidak ada. Di tempat sampah tidak ada. Di lemari (yang biasanya berisi tulang-tulang dan seekor anjing pengganggu) pun tidak ada. Sans menggaruk-garuk batok kepalanya.

Pintu rumah terbuka. Seorang gadis manusia berambut lurus sebahu dan berponi rapi masuk, masih mengenakan seragam pelayan. Seperti biasa, dia berniat menikmati waktu istirahat siang di rumah tengkorak bersaudara.

Akhirnya ada orang yang bisa ditanyai.

"Lem?" Frisk ikut bingung, "Rasanya baru kemarin kau habiskan, Sans. Kau merekatkan kasur sobekmu ke ranjang kayu dengan semua isi botol itu. Dasar."

"Ah. Aku lupa," Sans hanya nyengir, sementara Papyrus tak habis kesal dengan tingkah sembrono kakaknya.

Terlanjur kepanasan, Sans meraih selembar kipas lebar dari bawah sofa, mengipasi diri sendiri. "Hmm, baiklah. Kau tenang saja Papyrus. Akan kucarikan alat lain."

Beberapa saat Sans menatap Frisk, lalu dengan 'iseng'nya berceletuk, "Hei. Mau kukipasi? Dahi dan lehermu basah semua oleh keringat, tuh."

Frisk membalas dengan sorot sinis pada mata sipit dan bibir tipis yang sedikit dimajukan, juga pipi yang tanpa disadarinya bersemu merah. Sans terkekeh.

"Ada waktu kosong malam ini, Frisk?"

"Mau kencan? Boleh saja, selama kau tidak menambah daftar hutangmu."

----

Sans selesai memperbaiki kipas angin. Benda itu pun berfungsi lagi seperti sedia kala--dengan tambahan satu sarung tangan merah di antara dua baling kipas.

Sepertinya seseorang harus mencuci sarung tangan kesayangannya yang kotor oleh debu.

"SAAAANNSSS!"

-------

(oke ini idenya ngaswag dan garing sekali haha-- :''D )

Next Prompt : Leaf / Daun







Edited by Khi-Khi Kiara, 3 Jan 2017, 10:49 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Bocah Petualang
Fandom : Undertale (c) Toby Fox
Warning : Canon/Alternate Canon
Characters : Asriel Dreemurr, Chara

Asriel Dreemurr. Sang Bocah Petualang. Dewa Penguasa Alam. Begitu bocah monster itu memproklamirkan dirinya.

Dia bukan lagi monster penghuni Dunia Bawah Tanah. Bersama keluarganya, kini dia adalah penduduk resmi di sebuah desa ladang gandum. Manusia-manusia desa yang lain menyambut keluarganya dengan ramah.

Dia bukan lagi bocah cengeng seperti kata saudara angkatnya, Chara. Mau jatuh sesakit apapun, dia akan tetap bangkit dan melangkah tanpa setitikpun air mata.

Dengan berbekal ransel gemuk (berisi peta dan beberapa potong pie hangat buatan ibunya), serta scarf bercorak pelangi di leher yang membuatnya tampil layaknya pahlawan super, anak lelaki itu tak lelahnya berkelana ke manapun dia suka. Melewati padang rumput dan gurun, menerobos hutan hujan, hingga menikmati gugus bintang di langit malam bersama semilir angin yang mengayun lembut, menyentuh bulu-bulu putih dan daun telinganya yang panjang.

Betapa bahagianya dia menikmati setiap detik di dunia luar. Bebas. Lepas.

Sementara Chara tetap setia mendampinginya. Anak manusia itu sangat mengenal Asriel. Dia tahu Asriel pasti akan membutuhkan bantuan, setangguh apapun dia. Saat dia tersesat karena tak bisa membaca arah mata angin, atau nyaris terperosok ke dalam semak berduri, atau ketika butuh teman bicara hanya untuk mengisi kesunyian malam.

Sesekali Chara mengajak Asriel bercanda. Dia berlari mendahului Asriel, hingga sejauh tiga meter di depannya. Dengan gelak tawa ceria Asriel mengejarnya.

Di hadapan mereka adalah bayangan sebuah gunung tinggi.

Asriel mengenal gunung itu. Tapi... gunung apa ya, namanya?

Semakin jauh mereka saling berkejaran, semakin dekat pula mereka dengan gunung itu.

Oh, iya! Gunung Ebott!

Tunggu dulu.

Untuk apa Chara berlari ke sana?

Rasa takut dan cemas mulai merayapi tubuh Asriel. Dia berusaha mencegah Chara.

Dia tidak ingin terjun ke kawahnya.... 'kan?

Memasuki celah gua pada sisi gunung dan berpijak pada tepi kawah, Asriel melihat sosok Chara tersenyum padanya sebelum menghilang. Berpejam mata, dan terjun.

Asriel tidak yakin apa itu senyuman tanda bahagia atau sedih.

Asriel terus berlari mengejarnya, ikut terjun ke dalam kawah gunung.

----

Sampai pada dasar gunung, Asriel tersentak, menemukan dirinya terkungkung dalam kegelapan. Dia menunduk lesu.

Hanya gemerisik lambaian rerumput hijau dan bunga-bunga emaslah satu-satunya simfoni pemecah sunyi.

Dia harus bangun--ah. Untuk apa? Meneruskan mimpi konyolnya sebagai bocah petualang di dunia manusia?

Chara? Untuk apa memanggil dia? Toh dia sudah ada di dekatnya. Tepat di bawahnya. Di dalam gundukan tanah berbunga yang ditempatinya. Berbaring. Tidur lelap.

Dia bukan lagi bocah monster kambing bertitel pangeran Asriel Dreemurr.

Kini, dia hanya setangkai bunga emas payah tanpa jiwa, tumbuh dengan nama "Flowey" sebagai satu-satunya identitas mutlak.

------------

Next Prompt : Pilar
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Lilin
Fandom : Shingeki no Kyojin (c) Hajime Isayama
Warning : Canon-related, possibly OOC
Character : Armin Arlert

Jarang ada yang tahu dengan hobi rahasia Armin di kala malam.

Untuk menghilangkan penat setelah menyerap banyak hal dari buku-buku koleksinya yang menumpuk, atau bertarung melompat tebas sana-sini melawan raksasa-raksasa jahanam, atau berdiam dalam tangis di tengah hiruk pikuk prajurit yang bolak-balik membawa mayat, Armin memasang banyak lilin di lantai kamarnya.

Semuanya menyala terang, pada awalnya. Kemudian oleh Armin ditiup satu per satu.

Mulai dari yang paling pinggir, di kiri : Thomas.

Lalu berlanjut ke yang di sebelah kanannya : Marco.

Setelahnya berpindah pada sisi kanan. Ditiupnya empat lilin sekaligus : Gunther, Erd, Oluo, dan Petra. Di tengah empat lilin itu masih menyala sebatang lilin, lebih pendek dari yang lain.

Terus seperti itu hingga menyisakan barang sedikit lilin saja yang masih memiliki bara api.

Armin fokus pada tiga lilin pada barisan paling depan : Tiga sahabat dari Shiganshina.

Armin menutup mata. Dahinya mengkerut. Dia tahu, tidak ada yang mampu menerka apa yang akan terjadi di esok pagi. Atau di beberapa jam ke depan. Atau satu jam kemudian.

Tapi dia berusaha keras untuk mencari gagasan, strategi, apa saja agar umat manusia menang dari penjajahan terkutuk ini.

Dia pastikan, tidak ada lagi lilin yang harus dia tiup di malam-malam berikutnya.

Dia pastikan, tiga lilin di depan itu tidak pernah padam sampai akhir.

-------------

Next Prompt : Pecah



Edited by Khi-Khi Kiara, 9 Jan 2017, 12:54 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt : Foundation (Make-up)
Fandom : Undertale (c) Toby Fox
Characters : Chara, Frisk
Warning (s) : Modern!AU, Older-Female Frisk and Chara, Mental-illness issue, possibly OOC

Setiap perempuan memiliki kecantikannya masing-masing. Demikian kata pepatah.

Tentu. Semua wanita cantik punya keunggulan sendiri pada fisik mereka. Tidak ada yang serba sempurna. Ada yang bangga dengan bentuk tubuh ideal a la gitar Spanyol. Ada yang tampil memukau dengan kulit kecoklatan yang eksotis. Ada pula yang mampu menjerat perhatian orang dengan sorot mata bundar bersinar dan pipi yang merona bagai mawar mekar.

Yang terakhir disebut itu adalah Chara Dreemurr. Puteri angkat keluarga Dreemurr yang kaya raya. Model merangkap perancang busana.

Soal mata, jangan ditanya. Mata bundar dengan iris hazel berbias merah itu sudah didapatnya sejak lahir. Bagaimana dengan pipinya yang bersemu merah jambu? Jelas, dia tidak pernah lupa berdandan untuk memulai hari. Tak perlu terlalu 'meriah' dengan maskara atau eye-shadow. Cukup bubuhkan bedak foundation tipis, blush-on, sedikit eye-liner, dan lipstik berwarna bening pada bibirnya yang lebih tebal di bawah. Tak lupa dia semprotkan parfum segar asli Perancis pada tengkuk leher dan lipatan pakaiannya.

Tidak. Kecantikan tidak melulu soal atribut fisik manusia.

Sesungguhnya banyak yang dianugerahi paras lebih cantik dari Chara. Namun hanya segelintir yang memiliki kecerdasan, kecakapan dan pancaran karisma yang sedemikian rupa. Sikapnya yang berani, tegas, cerdik, dan mampu mengontrol diri dengan begitu elegannya, membuat Chara tampil sebagai panutan. Banyak wanita--terutama para asisten butiknya--yang ingin menjadi kuat sepertinya. Tak heran bila banyak pria yang meliriknya. Sampai ada desas-desus bahwa kakak angkatnya sendiri, Asriel, ikut menaruh hati padanya.

Lain Chara, lain pula Frisk.

Di suatu sore Chara mengunjungi Frisk, menepati janjinya untuk mendandani sahabatnya itu secara cuma-cuma. Frisk hendak tampil sebagai panitia acara donasi di sebuah Panti Asuhan bersama seorang duta. Chara mengerahkan semua yang dia bisa. Membawa senjata berupa perangkat make-up dan penata rambut.

Frisk seorang gadis muda yang kurang suka berdandan. Dia kerap mengeluh sering dituding sebagai laki-laki oleh orang lain. Mungkin karena raut wajah orientalnya yang tirus? Atau cara berpakaiannya yang lebih kelaki-lakian--dengan ciri khas jaket hoodie bergaris dan celana jeans? Entahlah. Padahal dari segi sikap, Frisk tidak setomboi itu. Feminim dan penuh sopan santun, bahkan lebih lemah lembut ketimbang Chara.

Chara menggariskan pensil khusus pada daerah mata Frisk sehingga bingkai matanya yang sipit dan sayu nampak sedikit lebih besar. Kemudian melapisi kulit wajahnya dengan bedak foundation, menaburi sedikit blush-on, mengoleskan lipstik, dan seterusnya. Untuk rambut, Chara hanya perlu mencatokinya agar lebih bersinar, lalu diberi cairan vitamin. Frisk sudah punya rambut lurus yang indah, berkilau dengan warna cokelat gelapnya. Tak kalah dengan rambut ikal Chara yang berwarna cokelat kemerahan, terulur panjang hingga punggung.

"Maaf kalau aku merepotkanmu, Chara."

"Jangan sungkan begitu. Aku senang melakukan ini. Kau ingat? Aku sempat bekerja magang di salon sewaktu kuliah."

Sebenarnya bukan hanya itu alasannya. Mari anggap saja ini sebagai salah satu tanda terima kasih Chara, atas pertolongan Frisk ketika dia pingsan di pinggir jalan, beberapa tahun silam.

Bisa dibilang, Frisk adalah satu-satunya sahabat di masa sulitnya dulu.

Setelah selesai, Chara menggiring Frisk ke depan cermin besar. Frisk terkesima.

"Lihat, Frisk? Kau lebih cantik dari yang kau bayangkan!" puji Chara tanpa dibuat-buat, tepat pada belakang punggung Frisk, "Sudah kubilang, kau itu sudah cantik. Tanpa perlu lihat fisik atau harta, kebaikan hati dan empatimu yang besar itu sudah membuatmu lebih dari cantik."

Frisk tersipu.

"Kau aktif betul membantu banyak orang, padahal kau sendiri sedang susah. Benar-benar. Determinasi yang kau miliki itu sangat langka di dunia ini. Aku iri padamu."

Frisk berterima kasih, sekaligus heran. Seorang Chara iri pada gadis biasa sepertinya?

Sementara Frisk pergi ke kamar untuk memilih pakaian, Chara duduk menunggu, sambil meminum obat anti-depresannya diam-diam--Frisk tidak boleh tahu. Hampir saja Chara melewatkan jam rutin obatnya.

-----

Lima menit kemudian, Frisk berdiri di hadapan Chara dengan blazer hitam plus celana panjang. Rapi dan maskulin.

"Frisk? Kau bilang kau tidak ingin disangka cowok lagi..."

-----------------------

(maaf kalo kepanjangan haha. Dan lagi saya kurang tahu banyak soal tata rias, jadi maaf kalau ada yg ngawur X_X )

Next Prompt : Crescendo
Edited by Khi-Khi Kiara, 9 Jan 2017, 08:39 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
@Phia : beuh keren-keren semua kok. Ide-idenya simpel tapi bawainnya cakep~ :happywaves:


Prompt : Pigura
Fandom : Undertale (c) Toby Fox
Warning : Canon, Headcanons, Spoilers
Character(s) : Frisk, Chara

------------------------------------------------

Sunyi mengungkung sejak pertama kali kaki-kaki kecilnya menginjak "Rumah Baru" yang kosong itu. Hampa. Dinding-dindingnya pucat. Namun di sana tersimpan banyak kenangan yang menghangatkan sekaligus mengiris batin.

Kini Frisk berdiri di dalam sebidang kamar. Kamar anak-anak. Dua ranjang. Dua boneka. Dua pasang sepatu. Secarik kertas bergambar bunga emas pada dinding di sebelah salah satu ranjang.

Frisk memegang sebingkai pigura. Diamatinya foto itu.

Foto keluarga. Ayah dan Ibu monster berdiri berdampingan dengan senyum damai. Di depan mereka, sang anak lelaki beserta saudara manusianya menampilkan senyum ceria sambil memegang rangkaian bunga emas. Wujud kebahagiaan tak terhingga.

Yang ada di dalam pigura itu sangat berbanding terbalik dengan kisah yang baru saja didengarnya.

Sang anak manusia, anak angkat yang tersayang, menderita sakit keras lalu meninggal dunia.

Sang Pangeran menyerap jiwanya yang tertinggal, menggendong mayatnya sembari menembus lapisan penghalang Bawah Tanah. Dia kembali ke istana dengan luka di sekujur tubuh, lalu mati meninggalkan abu.

Sang Raja ingin kembali memulai perang, membalas perbuatan bangsa manusia. Sang Ratu tidak setuju. Mereka cekcok, hingga Sang Ratu pun memilih pergi dari istana, menyendiri di Reruntuhan.

Sebuah keluarga yang tercerai berai.

"Kau sudah tahu apa yang terjadi padaku, 'kan, Kawan?"

Sebuah suara lagi-lagi mampir pada gendang telinganya.

"Manusia-manusia itu, mereka menghancurkan segalanya."

Frisk mulai takut.

"Tapi kau manusia yang spesial. Kau tahu itu," bisikan itu kian mengeras, "Kau tahu apa yang harus kau lakukan, benar?"

Frisk ingin menjawab, tapi tenggorokannya tercekat, serasa ada duri di dalamnya.

"Tolong," suara itu melirih, "Selamatkan kami."

Selamatkan. Tapi dengan cara apa? Mengorbankan jiwa sendiri pada Sang Raja--sehingga beliau mampu membobol sihir penghalang itu dan membebaskan umatnya? Atau, membunuh semua monster untuk melepaskan penderitaan mereka?

Frisk menolak untuk menoleh ke belakang. Sudah pasti, wujud dan wajah ruh anak manusia itu tak semanis yang ada di pigura foto.

------------------------

Next Prompt : Lonceng
Edited by Khi-Khi Kiara, 9 Jan 2017, 07:54 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone