Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,853 Views)
Latifun Kanurilkomari
Member Avatar
Newbie
[ * ]
Prompt: Blood/Darah
Fandom: Record of a Fallen Vampire
Chara: Akabara Strauss, Cynthia (1st Black Swan)
_____________________________________________________________________________________________________

"Akhirnya aku menemukanmu... Akabara Strauss!"

Akabara mengalihkan pandangannya dari rembulan yang bersinar indah. Matanya yang sewarna dengan Ruby menatap sosok seorang gadis berpakaian ksatria dan berambut hitam legam yang panjang. Gadis itu menyilangkan lengannya, seakan hendak melindungi tubuhnya dari serangan apapun yang akan tiba.

Akabara tidak bergerak, sang Raja Vampire itu hanya memandang dingin sosok gadis yang ada di hadapannya. Matanya kembali ia arahkan untuk memandang rembulan.

"Kau...beraninya kau mengacuhkanku!"

Gadis itu langsung menyerang dirinya, tetapi Strauss dapat menangkis tangan gadis itu. Entah kenapa, Strauss tidak tahu, tetapi instingnya yang tajam mengatakan bahwa lengan gadis itu bukanlah lengan biasa. Ada hal yang berbahaya yang terkandung pada lengan itu.

Benar saja.

Strauss melihatnya,pada punggung tangan gadis itu tergambar sebuah angsa berwarna hitam dan lengannya dihiasi tato berwarna hitam yang melilit tangan. Strauss dapat merasakannya, itu bukanlah tato biasa, ada sihir yang terkandung di tato angsa hitam itu.

Gadis itu terus menyerang tanpa henti, sementara Strauss terus menangkis. Terlihat sekali gadis itu hendak membunuhnya, akan tetapi bahkan kekuatan sihir dan kecepatan gadis itu tidak sebanding dengan dirinya. Strauss terlihat meneliti kekuatan sihir gadis itu yang terlihat abnormal saat lengan gadis itu hendak menusuk jantungnya. Secara refleks, Strauss langsung mengeluarkan kekuatan sihirnya untuk melindungi dirinya. Gadis itu terpental jauh.

"Siapa kau?" Strauss bertanya dengan suara dingin.

Gadis itu mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Aku adalah Cynthia Saberhagen, Black Swan yang pertama, dengan kekuatan ini aku akan membunuhmu Akabara Strauss," jelas Cynthia sambil menyilangkan lengan di depan wajahnya, memperlihatkan tato angsa hitam yang ada di tangan dan lengannya.

Akabara Strauss paham, ini akan menjadi pertarungan pembunuhan. Strauss tak ingin melukai dan membunuh siapapun, akan tetapi sepertinya gadis ini siap membuang nyawanya untuk membunuh dirinya. Cynthia menyerang, Strauss menangkis. Pertarungan yang tak akan pernah berhenti hingga salah satu dari mereka mati, meskipun tentu saja , level Strauss jauh diatas gadis bernama Cynthia itu.

Tak akan pernah berhenti. Dengan berat hati, Strauss mengeluarkan kekuatan sihirnya, menghentikan serangan Cynthia untuk selamanya. Membunuh gadis itu. Strauss tak ingin membunuh dan melukai siapapun. Apapun yang dilakukan oleh Raja Vampire itu telah terencana dan terorganisir dengan baik. Ia tak ingin ada nyawa yang hilang secara sia-sia. Akan tetapi, demi melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang Raja, langkah ini sangat penting untuk dilakukan.

Cynthia bersandar lemah pada batu besar di belakangnya. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tangan gadis itu berada di perutnya, seakan hendak menahan darah yang mengalir dari sana. Strauss menatap gadis itu dengan penuh penyesalan.

"Setidaknya... aku... sudah... melaksanakan... kewajibanku... pada... ibuku, Maria Saberhagen," gumam gadis itu melemah.

Strauss masih menatap Cynthia dengan rasa sedih. Tak seharusnya gadis ini mati karena dirinya.

"Jangan memasang... wajah seperti itu, wahai Raja Vampire. Aku tak... pernah membenci dirimu," gumam Cynthia.

"Maafkan aku," gumam Strauss.

"Justru aku... yang harus meminta... maaf. Setelah aku mati, gadis lain yang terpilih oleh 'Black Swan' ini akan muncul kembali... dan akan berusaha membunuhmu," Cynthia menatap mata Ruby milik Strauss.

"Selamanya... kau akan terus... dipaksa untuk bertarung dengan kami, para Black Swan. Hingga suatu saat nanti... seorang Black Swan akan mampu... membunuhmu dan Sang Ratu,"

Pandangan mata Cynthia menggelap, gadis itu menghembuskan napas terakhirnya sambil tersenyum.

Strauss menatap tangannya dan menggenggamnya dengan kuat. Sampai kapan ia harus menjalani kehidupan yang penuh dengan darah ini. Mungkin untuk selamanya,hingga seorang Black Swan mampu membunuh dirinya, Strauss harus menjalani kehidupan yang penuh dengan darah.

Strauss kembali menatap rembulan yang bersinar pucat.

"Apakah sang rembulan akan memberkati jalanku yang penuh dengan darah ini, Stella?" gumam Strauss sedih.

Angin dingin berhembus dengan lembut.
______________________________________________________________________________________________________

X_X wow... apakah ini?

Next promp: Wind/Angin
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Latifun Kanurilkomari
Member Avatar
Newbie
[ * ]
Prompt: Smile/ Senyuman
Fandom: Vocaloid
Chara: Kagamine Rin x Kagamine Len
__________________________________________________________________________________________________

Suram.

Itulah satu kata yang menggambarkan diriku. Tepatnya,bukan aku yang mendeskripsikan diriku dengan satu kata itu. Akan tetapi orang-orang disekelilingkulah yang seenaknya saja mendeskripsikan diriku dengan kata itu. Seorang gadis yang suram, pendiam, tak terlalu suka bergaul dan lebih suka dikelilingi oleh tumpukan buku. Well, apakah itu salahku kalau aku adalah sosok yang tidak terlalu pintar bergaul dan lebih memilih buku?

Hmm, mungkin beberapa persennya memang salahku juga karena tidak mau berusaha untuk bergaul. Hey, bukannya aku tidak mau bergaul. Akan tetapi mereka lebih memilih untuk menghindar dariku daripada harus terlibat denganku.

Nerd Book Girl. Itulah julukan mereka untukku.

Aku melangkah memasuki gerbang sekolah sambil menenteng koleksi buku-buku perpustakaan baru yang telah kucap. Lapangan basket pagi ini cukup ramai, padahal sekarang baru pukul 6 pagi sementara kelas dimulai pukul 8 pagi. Beberapa anggota klub basket sudah mulai bermain, mendribble bola dan mencoba memasukkannya ke gawang lawan. Selain itu beberapa anak perempuan yang berdiri di tepi lapangan berteriak-teriak histeris. Entah apa yang mereka teriakkan tetapi aku yakin mereka adalah para fangirls anggota klub basket.

Aku terus berjalan melintasi lapangan basket, mencoba tidak peduli pada keributan yang dihasilkan oleh teriakan para anak perempuan tersebut. Aku terus berjalan pelan, berhati-hati dengan tumpukan buku yang kubawa hingga-

BRUKK

Pandangan mataku menggelap.

.

.

.

"Hmm," erangku perlahan.

Aku membuka mataku perlahan, mendapati suasana putih yang menenangkan. Selain itu hidungku mencim bau alkohol yang tidak terlalu tajam.

"Ah, syukurlah kau sudah sadar,"

Sebuah suara menyadarkanku hingga aku menolehkan kepalaku perlahan ke arah sumber suara. Aku bisa melihat seorang pemuda berambut blonde cerah dan bermata sapphire indah, wajahnya tampak cemas sekaligus lega.

"Kamu... siapa?" gumamku pelan.

Pemuda itu mengangkat alisnya, tampak heran.

"Kau tidak mengenalku?"

"Memangnya kau orang terkenal?" gumamku lemah, masih merasa pusing.

Pemuda itu tertawa terbahak.

"Yah, sebenarnya aku juga memang orang terkenal sih. Tapi bukan itu maksudku. Kita sekelas, apa kau tidak kenal semua teman sekelasmu?"

Aku hanya bisa mengerutkan alisku.

"Aku Kagamine Len, kelas XI-2," ujarnya memperkenalkan diri. Aku hanya mengangguk pelan.

"Dan kamu Kagamine Rin kelas XI-2 juga kan?" lanjutnya.

Ah, aku baru ingat. Kelasku memang ada dua murid yang bernama Kagamine, yaitu aku dan satunya lagi pastilah pemuda ini. Hanya saja kami tidak memiliki hubungan darah.

Aku mencoba bangkit, rasa pusing di kepalaku sudah tidak terlalu terasa.

"Hei, jangan bangun dulu. Tadi kepalamu terkena bola,"

Aku mengingat-ingat peristiwa yang terjadi sebelum tiba-tiba pandanganku menggelap. Sesaat aku teringat semuanya. Aku menoleh panik, mencoba mencari dimana buku-bukuku.

"Bukuku...," gumamku panik.

"Ah, kalau tumpukan buku itu sudah kuletakkan di perpustakaan. Aku melihat cap perpustakaan-,"

Aku tidak mendengar ucapan Len. Aku langsung bangkit dan berlalri pelan menuju perpustakaan. Aku dapat mendengar Len yang berlari mengejarku tetapi aku tidak mempedulikannya. Saat aku telah tiba di depan perpustakaan aku langsung menghambur masuk. Aku menghampiri meja petugas perpustakaan dimana diatas meja itu terdapat setumpuk buku yang cukup tinggi. Aku mengecek jumlah buku tersebut, syukurlah tidak ada yang hilang.

"Ya ampun, kau lebih peduli pada buku dibandingkan kesehatanmu ya?" Len telah tiba di sampingku, napasnya agak terengah.

"Karena aku sangat mencintai buku," gumamku sambil tersenyum lega. Aku memandang Len dengan tatapan terima kasih.

Sesaat Len terdiam dan tak berkata apapun.

"Terima kasih telah mengantarkan semua buku ini," gumamku sambil masih tersenyum. Akan tetapi Len masih belum mengatakan apa-apa.

Tangan pemuda itu terjulur pelan menuju wajahku, jari-jarinya menyentuh pipiku. Sesaat aku bisa merasakan wajahku memanas, mataku juga menangkap sebersit warna merah tipis di pipinya.

"Aku...," gumam Len. Aku menunggu apapun yang hendak diucapkan Len.

"Kau gadis yang aneh!" ujarnya sambil menarik kedua pipiku.

"Aduh...aduh...aduh...," aku hanya bisa meringis kesakitan karena kedua pipiku ditarik. Len melepaskan kedua pipiku dan berjalan keluar perpustakaan.

"Aku sudah minta izin pada guru jam pelajaran pertama bahwa kita izin. Lebih baik kau istirahat dan masuk di jam pelajaran kedua," ujarnya tegas sambil keluar dari perpustakaan.

"Terima kasih...," gumamku meringis, masih merasakan sakit di kedua pipiku.
.

.

.

Kagamine Len menutup pintu perpustakaan dan bersender di pintu tersebut. Wajahnya memerah dan tangannya menutup bibirnya.

"Tadi apa sih yang kupikirkan?" gumamnya kecil.

Pikirannya kembali terbayang pada sosok Rin yang tersenyum dan menatap dirinya dengan lembut. Entah kenapa ekspresi gadis itu tadi sangat....euh....susah diungkapkan tapi... ekspresi Rin tadi sangat... mempesona?

Jantung pemuda itu berdetak kencang.

"Sepertinya dekat dengan gadis itu tidak baik untuk jantungku," gumamnya pelan sambil berjalan menjauhi perpustakaan.

__________________________________________________________________________________________________

Senyumnya kerasa 'gak sih? Ya sudahlah...

Next prompt: Matamu/ Your Eyes
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Latifun Kanurilkomari
Member Avatar
Newbie
[ * ]
Prompt: Soil/Tanah
Fandom: Ada Apa Dengan Cinta (yah...tapi di FFn ini masuk Misc. Movie sih...)
Chara: Rangga, Cinta dan Limbong di pasar buku Kwitang
___________________________________________________________________________________________________

Cinta memelototkan matanya, menatap Rangga dengan tatapan marah bercampur terhina.

"Perempuan kayak gue? Perempuan kayak gimana 'tuh maksud loe?"

Rangga hanya terdiam, tidak membalas. Akan tetapi tatapan mata pemuda bermata elang itu telah menjelaskan semuanya. Menatap sang gadis dari atas, ke bawah, kembali lagi ke atas. Tampaknya sang gadis telah menangkap pandangan meremehkan yang dilontarkan oleh pemuda itu. Karena setelahnya sang gadis langsung mundur beberapa langkah, menjauhi pemuda itu.

"Rugi gue buang-buang waktu sama loe!"

Sang gadis langsung menjejakkan langkahnya dengan berat dan kesal. Sesekali dihentakkan langkahnya pada tanah yang dijejakkannya. Sang gadis tak dapat menumpahkan kekesalannya, tentu saja karena saat ini dirinya berada di Pasar Buku Kwitang yang ramai. Sungguh memalukan jika ia menumpahkan segala sumpah serapahnya di tempat seramai itu. Akan tetapi jika dirinya tidak mengingat gengsi, tentulah ia sudah menumpahkan buah karya sumpah serapahnya pada pemuda itu.

Akan tetapi, batin sang gadis telah dipenuhi dengan berbagai cercaan. Buah dari emosi yang tak mampu ditumpahkannya.

'Perempuan kaya gue? Apa sih maksud dia? Dan tatapan matanya itu? Menghina banget! Dia pikir dirinya siapa? Dasar cowok sok keren! Sok sastrawan!'

Cinta melangkah sambil sesekali menghentakkan langkahnya, perasaan marah dan emosi masih memenuhi dirinya.

'Emang bener banget! Rugi gue mau pergi sama dia! Kenapa juga gue mau-maunya pergi sama dia?'

Sang gadis melangkah dengan langkah yang besar, menghindari lubang besar pada jalan aspal dan menghindari tabrakan dengan orang lain.

'Sebentar gue pikir dia cowok baik, ternyata dia emang cowok yang 'nyebelin! Tipe cowok yang harus dihindari!'

Cinta berjalan - setengah berlari untuk menghindari tumpukkan buku-buku bekas yang dijajakan. Sesekali anak-anak rambutnya bergerak mengikuti gerak tubuhnya. Hembusan angin pelan juga tak ketinggalan mempermainkan anak rambutnya. Meskipun gadis itu telah menghentakkan kakinya dengan sebal, emosi dalam dirinya tak juga surut.

.

.

.

"Kau perhatikan ya, Rangga. Kalau sampai ia menengok kemari, itu berarti dia mengharap kau mengejarnya! Kau perhatikan!"

.

.

.
'Kok 'tuh cowok 'gak ada ngejar sih? Minta maaf kek! Ngapain kek!'

Perlahan sang gadis mulai melambatkan langkahnya, merasa penasaran akan tetapi gengsi yang tinggi masih bermain.

Noleh? Enggak? Noleh? Enggak?

Cinta mulai merasa bimbang. Hatinya bingung antara pilihan menoleh ataukah tetap mempertahankan gengsinya?

Menoleh? Mau ditaruh dimana harga dirinya?

Gak noleh? Dirinya penasaran juga, apakah cowok bermata elang itu merasa bersalah karena telah membuat dirinya marah atau tidak?

Hatinya mulai bimbang, akan tetapi rasa penasaran lebih menguasai dirinya.

'Gue noleh, tapi gue bakal pasang muka cemberut. Dengan begitu harga diri gue gak bakal jatuh-jatuh amat,' pikir Cinta. Merasa senang dengan idenya sendiri.

Sang gadis menghentikan langkahnya sambil memasang wajah cemberut. Helaian rambutnya bergerak searah dengan gerak tubuhnya. Akan tetapi yang dilihat gadis itu sangat menyebalkan. Ia hanya melihat cowok itu masih menatap kepergiannya dengan wajah datar.

Mengecewakan.

Sang gadis kembali menghentakkan kakinya dengan sebal ke tanah. Kembali melangkah dengan langkah yang lebar dan lebih sebal daripada sebelumnya.

'Bodoh! Kenapa juga gue 'ngarapin dia bakal ngejar gue!'

"Mati aja loe sana! Dasar cowok sombong!" desis Cinta dengan sebal.

.

.

.

"Ayo kejar cepat! Kau jadi laki-laki, bagaimana?"

__________________________________________________________________________________________________

^_^ hahai...aye rindu banget sama pilem ini. Nanti aye mau coba masukkin ke FFn juga deh. Btw... prompt Tanah/Soilnya dapet gak? :music:

Next prompt: Serpihan/Pieces
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone