Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,128 Views)
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: lollipop
Fandom: Pandora Hearts
Chara: Oz x Alice
Matahari bersinar terik. Oz keluar dari Mansion Sharon sambil melihat sekelilingnya, dan tak lupa tangannya mengibas-ngibas udara panas. Tak lama, manik emerald-nya menangkap kehadiran seorang gadis di bawah Pohon Maple, dan menghampirinya dengan semangat.

Duduklah Alice, nampak nyaman menggelesor sambil mengemut sesuatu seperti... lollipop?

"Hai, Alice!" sapa Oz riang.

Alice menoleh cuek. "Oh, hai, Oz!"

Dengan santai Oz duduk manis di samping Alice. "Sedang makan lollipop?" ujarnya sambil mengerling mulut Alice yang mengulum sesuatu.

"Yap."

"Tumben? Biasanya kau hanya makan daging, Alice?" Oz bertanya heran.

Alice menatap Oz sesaat, mengeluarkan lollipop dari mulutnya, dan berkata polos, "Oh, Kak Sharon memberikannya padaku. Katanya, ini lollipop buatan Gil dan ditambahkan ekstrak Shirloin Steak. Kau mau, Oz?"

Alice tak perlu bertanya. Karena Oz sedang terbaring sweatdrop di sampingnya.
(maaf gaje :sorry: )

Next Prompt: Petir.
Edited by Beatrixmalf, 3 Apr 2012, 06:56 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: bounce/melambung
Fandom: Percy Jackson
Chara: Poseidon&Percy J.
Note: saya jadi inget mainan game di nokia jadul saya dulu ehehehe jadoel


Percy menatap kosong istana megah yang menjulang tinggi di depannya. Seharusnya ia bangga, atau kagum, atau hal lain yang seharusnya dilakukan ketika kau mengetahui istana itu adalah milik ayahmu; yang berarti milikmu juga.

Tapi tak ada. Percy hanya menemukan kekesalan, ia memang sedang badmood hari ini, karena untuk pertama kalinya, kencannya dengan Annabeth gagal.

Seekor kuda laut berenang melintasinya. "Hei, Seahorse!"

Kuda Laut itu tampaknya terganggu. Ia menoleh. "Yang kau maksud aku, bocah?"

Percy mengangguk. "Ya-- aku tidak mengetahui namamu, jadi, ya gitu deh. Eng, begini. Kalau kau tidak repot, aku kepingin bertemu ayahku."

Kuda Laut itu mengedik kesal. "Aku Horus. Sini, lewat sini."

Dan ketika Kuda Laut itu berenang lagi, Percy dengan tak sabar mengikuti di belakangnya, memasuki pintu masuk yang megah.
.

.
Sebelum mengutarakan maksudnya, Percy membungkuk sesaat, sambil mengucapkan basa-basi tentang keadaan laut yang tenang, betapa gagah Poseidon di singgasananya, dan betapa sempurnanya kumis ayahnya yang berbeda tampilan hari ini.

"Jadi, Perce..." Poseidon mengeluarkan suara beratnya, dan menatap Percy, dari kepala sampai ke kaki. "Ada apa? Tak biasanya kau mengunjungiku."

"Apa salah jika aku mengunjungi Ayah?"

"Tidak, tapi aku cukup curiga dengan maksud terselubungmu."

Percy merasakan mukanya merona, lalu ia berkata dengan gelisah. "Eng, gini, Yah. Aku--ingin kau menambah kemampuan ekstra-ku sebagai anakmu, dengan yah...penyimpangan elemen di laut."

"Lalu?"

"Eng, gini... hari ini, Annabeth melihat sekawanan hippocampus. Dan tidak biasanya, ia berkata jika aku bisa memantul-mantul dan mengambang seperti hippocampus yang lucu itu, betapa indahnya kencan kami. Aku hanya diam, tapi aku tak mau derajatku direndahkan disamakan dengan hippo."

"Lalu?"

"Aku boleh minta kemampuan? Kemampuan memantul-mantul di atas air?"

Hening.

Poseidon tidak menyangka, Percy bisa kehilangan akal sehatnya dan bersedia bersusah-payah menghampirinya ke rumahnya di Samudera Pasifik hanya untuk.....

Mendapatkan kemampuan memantul-mantul seperti bola.

Dan tentu saja, itu hanya sebagian kecil yang akan dilakukan anaknya karena Percy tampaknya--sedang merasakan euforia cinta monyet antara Demigods.

"Baik, Perce. Kau bisa mendapatkannya esok."

FIN.


Saya tau endingnya gaje. Sumpah, humor gagal.
Next prompt: Phobia/Fobia.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
tadinya saya mau ngambil promptnya kyou-san yang bebek tapi keduluan doll orz /DOR
Prompt: Bubur/porridge
Fandom: Naruto
Chara: Sasuke x Sakura.
Warn: AU


Matahari baru saja beranjak menuju peraduannya. Bersiap duduk nyaman di singgasananya, dan memberikan cahaya supernova yang akan menghangatkan banyak insan.

Tak jauh di bawah Sang Surya, tersebutlah sebuah rumah mungil nan imut yang berwarna kuning pucat, dan jika dilihat sepintas, suasana rumah itu tampak senyap.

Tapi tidak, jika kau menelitinya lebih jauh dan memasang telingamu dengan seksama.

"AKU TIDAK MAU!" suara melengking seorang gadis merengek-- sekaligus berteriak, terdengar dari ruang tamu. Ia Haruno Sakura, seorang gadis--tidak--wanita, yang tengah hamil muda.

Di hadapannya terdapat seorang pemuda berpostur tegap dan necis, wajahnya yang tampan tampak gemas sekaligus letih. Penampilan pemuda itu tampak sangat kontras dengan bubur yang terangkat di tangannya.

"Sakura," Uchiha Sasuje bergumam dengan sabar, berkata kepada istrinya yang sedang mengalami sindrom ibu-ibu hamil. "Buburnya sudah hampir dingin, kau selalu bilang padaku kita tidak boleh membuang-buang makanan, kan?"

Sakura mengerang. "Sasukeeee, pengecualian terhadap makanan iblis itu. Aku tidak suka bubur, kau tahu itu!"

Sasuke mencoba menjelaskan lagi, kendatipun penjelasan yang terucap dari bibirnya itu sudah beratus kali dikatakannya sejak tadi. "Bubur itu enak, Sakura. Kandungan gizinya tinggi. Cara makannya juga sangat mudah, mudah sekali malah. Dan yang terpenting, ini bermanfaat bagi bayi kita."

Sakura dengan tatapan memohon menatap Sasuke. "Jangan. Kumohon jangan paksa aku menyantap makanan menggelikan itu. Lebih baik aku disuruh berjalan 5 kilo ke Kedai Hinata!"

"Tidak," Sasuke berkata lebih tegas, walaupun hatinya cenat-cenut melihat serangan-manik emerald-maut dari Sakura. "Begini saja, tutup hidungmu."

Sakura tampak tak yakin. "Aku tidak bakal mengecap rasanya, kan?"

"Tidak," Sasuke berhenti sebentar. "Tapi kau harus cepat-cepat minum setelahnya."

Sakura memejamkan matanya, seakan dirinya harus melewati rintangan berat padahal ia hanya disuruh... Makan Bubur. Demi pantat Tobi!

"Oke," lalu Sakura memencet hidungnya keras-keras.

Sasuke langsung menyurukkan sendok bubur itu tanpa ba-bi-bu.


"Hoek," Sakura mengeluarkan isi perutnya, dan Sasuke mengelus-elus bahu istrinya dengan khawatir. Sakura berhenti sejenak, lalu muntah lagi.

Tak berhasil. Sakura langsung muntah begitu bubur itu menyentuh indra pengecapnya. Padahal bubur itu sangat penting bagi bayi mereka. Sakura sedang radang tenggorokan, dan ia hanya ingin makan salmon--tapi saat ini mereka hanya punya bubur, dan Sakura benci--oh, punya dendam kesumat--dengan bubur.

Sasuke hampir keabisan ide, tapi dia segera mendapat ide cemerlang.

"Sakura, bagaimana kalau begini..." dan Sasuke membisikkan idenya pada Sakura. Efeknya langsung terlihat. Muka Sakura merah padam.

"A- aku..."

Haup. Sasuke menyendokkan sesendok penuh bubur ke dalam mulut Sakura. Ekspresi Sakura langsung berubah mual, tetapi Sasuke buru-buru mendekatkan wajahnya, lalu mencium lembut bibir Sakura.

Glek.

Berhasil! Sasuke berhasil! Itu pertama kalinya bubur itu menelusup masuk ke kerongkongan Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya, lalu membuka bibirnya lagi, "Sasu.."

Haup. Sendok kedua. Dan seperti kali pertama, isi perut Sakura kembali naik lagi, tapi pikirannya langsung teralihkan begitu Sasuke menyentuhkan bibirnya lagi.

Dan begitu terus selanjutnya.

Sakura tidak pernah tahu Sasuke selicik ini. Atau--sejenius ini.

Tapi, Sakura pun harus mengakui, tampaknya kebenciannya pada bubur akan hilang jika saja Sasuke terus menghadiahkannya kecupan... untuk masing-masing suapan.

Fin


FLUFF GAGAAAAL ;A;
Next prompt: Lilin
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Surgery/Operasi
Fandom: Hunger Games
Chara: Peeta M x Katniss E.
Warn: Peeta's POV


Aku merasakan jantungku berdetak sepuluh kali lebih keras dan cepat dari biasanya. Tak kuhiraukan tanganku yang sudah nyaris kebas dicengkram oleh Katniss, istriku.

"Tidak, Peeta," Katniss memohon. Ia tampak rapuh, ketakutan, dan panik, keringat sebesar biji jagung meluncur turun di pelipisnya. "Kumohon."

Aku menelan ludah dengan susah payah, seraya tetap berlari. Memang cukup sulit menyambangi gerakan tempat tidur dorong -aku tak tau istilah kedokterannya- yang sedang didorong panik oleh 3 suster. Tapi ini Demi Katniss. Dan demi anak kami yang akan lahir.

"Tidak akan, Katniss," ucapku, mengeratkan genggamanku. "Tapi pada akhirnya, kau harus menghadapinya sendiri."

Katniss tercekat. Pupilnya melebar, lalu mengecil kembali. Tubuhnya mulai bergetar hebat. "Kalau aku tidak berhasil..."

"Kau pasti berhasil," tukasku, tegas. Ruang Operasi sudah di depan mata, dan aku mencium keningnya. "Berjuanglah demi anak kita, Sayang."

Dan hal terakhir yang kuingat adalah, ranjang dorong Katniss dibawa pergi, dan aku menggelesor duduk di depan dinding yang dingin.

Aku merasa seperti berada di Hunger Games lagi.


Katniss pernah berkata padaku, bahwa ia takkan pernah mau mengandung anak di rahimnya. Ia tak mau; karena bagaimanapun, Hunger Games nantinya akan merenggut anak kami, dan bisa-bisa anakku dan Katniss akan bermain dalam permainan terkutuk itu.

Tapi itu dulu. Sekarang Hunger Games sudah tidak ada lagi. Runtuh bersama kematian Snow, tetapi hal itu tidak meruntuhkan trauma Katniss. Kengerian dan Trauma itu telah membusuk dalam diri Katniss, dan mungkin hanya bisa diruntuhkan oleh gempuran yang keras.

Aku sudah putus asa. Kukira aku setidaknya akan memiliki seorang keturunan, tetapi trauma Katniss-lah yang menghalanginya. Dan sebenarnya, aku tidak pernah mengeluh, walaupun aku sangat menginginkan keberadaan seorang anak. Yang terpenting adalah aku sekarang bersama Katniss, terikat cinta, terikat hati, apalagi yang kurang?

Namun, suatu malam, Katniss terbangun dari tidurnya, dan tiba-tiba ia menangis. Menangis, dan tak berani menatap mataku.

.
.

Flashback

"Peeta," dia berbisik, merengkuhku semakin erat. Aku heran, tentu saja, dan mengelus rambutnya. "Kau masih disini. Kau masih hidup."

"Ya, Katniss," aku berbisik pelan, menengadahkan wajahnya. "Katniss, kau baik-baik saja? Mimpi buruk lagi?"

Katniss mengangguk tanpa suara. Ia memalingkan wajahnya dari wajahku.

"Kau mau menceritakannya?" tanyaku hati-hati.

Sesaat Katniss terdiam, lalu ia membenamkan wajahnya. Lalu, perlahan-lahan... dari balik bantal, aku dapat mendengar ia menceritakan mimpinya, walau suaranya kedengaran teredam.

Ia menceritakan bahwa aku baru saja meninggalkannya. Katniss berkata bahwa aku pergi karena... karena, yah- dirinya begitu egois, tidak mau mengandung anaknya. Katniss bilang aku tampak begitu tersiksa, dan Katniss merasa dirinya sangat licik.

"Katakan padaku, Peeta," Katniss mengangkat wajahnya, manik kelabunya tampak pedih. "Apa kau sangat menginginkan anak?"

Aku tercekat; bingung akan menjawab apa. Akhirnya, aku memilih mengatakan yang sejujurnya. "Ya, Sayang. Tapi kalaupun kau tidak mau, aku tidak akan pernah, meninggalkanmu."

Apa yang terjadi selanjutnya benar-benar berada di luar dugaanku. Tiba-tiba Katniss mencium bibirku, dan aku bergumam di sela-sela ciumannya yang err- tidak biasa.

"Katniss?" aku merengkuh pipinya. "Kau baik-baik saja?"

Katniss tampak merona, dan entah kenapa sorot matanya begitu tegas. "Lakukan, Peeta. Aku akan mengandung anakmu. Lakukan apa yang kau mau."

Dan Katniss kembali mencium bibirku, lalu malam itu berlanjut menjadi malam yang tak terlupakan-- dalam hidupku.
.
.
Dan sekarang, Katniss sedang menjalani operasi kelahiran pertamanya. Kelahiran anak kami, aku membatin dengan perasaan tak menentu.

Rasanya peristiwa itu sudah berlalu sejak berabad-abad lalu. Sekarang yang kurasakan hanyalah kegelapan, kepedihan, dan ketakutan.

Bagaimana kalau ternyata aku salah? Bahwa ternyata akulah yang licik-- menginginkan semua ini tanpa peduli keadaan Katniss? Bagaimana... bagaimana... kalau Katniss tidak selamat, dan ini semua karena salahku..?

Seakan menjawab pertanyaanku, pintu Ruang Operasi terbuka.

Aku tak mendengar suara bayi, dan aku juga tidak dapat mendengar suara Katniss. Dadaku bergemuruh, pikiran buruk mulai menghantuiku.

Tapi, tunggu dulu.

Katniss ada disana.

Seakan tidak pernah berubah dari posisinya, ia tetap terbaring di ranjang dorongnya, memeluk buntalan kecil yang dibalut handuk. Aku bergerak dalam gerakan lambat, berlari ke ranjangnya, mencium apa yang bisa kucium dari wajah Katniss.

Katniss tertawa. "Kita berhasil, Peeta! Kita berhasil," pekiknya, dan aku tidak pernah melihatnya sebahagia ini.

Ya. Kita berhasil, Katniss. Dan selamat datang...

Putri Mellark yang pertama.

Fin.


Next prompt: Pathetic/menyedihkan.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Starving/Sangat Lapar
Fandom: Harry Potter
Chara: Kakek Nenek aku mihihi Draco Malfoy x Hermione Granger.


Draco menatap Asrama Ketua Murid yang dipenuhi bungkusan-bungkusan makanan. Tidak hanya itu, pantry pun penuh dengan beberapa macam makanan yang habis, setengah habis, atau In-Progress alias tengah dimakan.

Dan diujung sana, duduk manis di atas sebuah kursi bar yang ada di depan pantry, terbekatilah Hermione Granger. Gadis kutu buku, manis, pintar, agak-bergigi-besar, Muggle-Born, dan gadis itu—tidak, bukan gadis setelah apa yang mereka lakukan beberapa bulan yang lalu—tengah menyantap paha kalkun yang berminyak.

Draco memucat. "O—oke. Kau...Hermione Granger?" tanyanya shock. Sangat aneh mengetahui bahwa Hermione Granger, yang notabene adalah gadis--wanita baik-baik dan selalu jaim, sedang rakus-rakusnya melahap segala makanan—seperti Kucing diberi air, eh, maksudnya kucing diberi ikan asin.

Hermione menoleh dengan bibir yang sedikit berminyak. "....err—ya, ini aku. Ada masalah?"

Draco mengambil langkah panjang-panjang menghampiri Hermione. "Ini semua... kekacauan ini... kau yang membuat?"

Hermione mendengus. "Secara teknis, aku tidak membuat kekacauan, Draco. Tapi yeah, secara harfiah, aku yang membuat bungkus-bungkus makanan ini berserakan, aku sangat lapar."

Draco menatapnya seakan wanita itu gila. "Aku masih tidak percaya kau Hermione Granger yang asli."

"Oh, Demi Merlin," Hermione memutar bola mata dan menyingkirkan piringnya. "Tidak, dengar—entah mengapa akhir-akhir ini aku sangat lapar, dan makan dua porsi saja tidak cukup... aku harus makan setidaknya lima porsi."

"Kau yakin tidak ada yang salah pada perutmu?"

"Aku rasa—" Hermione berhenti berbicara, wajahnya memucat. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung berlari meninggalkan Draco. Draco, setengah bingung dan hampir mati karena keanehan yang dialaminya hari ini—akhirnya memutuskan untuk mengejarnya.

"Hoi, Hermione! Tunggu!"

Ternyata Hermione pergi ke kamar mandi. Setengah melemparkan dirinya ke wastafel, gadis itu memuntahkan seluruh makanannya. Draco, dengan tenang mendekati Hermione dan mengelus-elus punggungnya.

"Pergi, Draco," usir Hermione lemah. "Nanti kau geli."

Draco mendengus. "Tidak, kau tenang saja. Muntahkan saja kalau tidak enak," diam sejenak. "Kau kebanyakan makan, sih."

Hermione mendelik, lalu buru-buru memalingkan mukanya lagi dan mengeluarkan isi perutnya.

"Aku harus mengecek kalender. Aku baru saja membaca tentang penyakit-penyakit yang menyerang tubuh seseorang sesuai tanggalnya, dan... aku takut ini penyakit," jelas Hermione.

Draco hanya mengangguk, dan berjalan di belakang Hermione menuju Ruang Ketua Murid.


"Nah, mari kita lihat," Hermione membuka buku tebal yang ada di lengan kirinya. "Sekarang tanggal..."

Hermione membeku.

Draco dengan penasaran mengamati tanggal di kalender dan wajah Hermione. "Ada apa? Apa kau mendapat penyakit yang parah?" tanyanya cemas.

Masih hening.

"Hermione."

Hening.

"Hermione?"

Hening.

"Hermione!"

Hermione tersadar dari pose-membeku-seperti-patung-Michaelangelo dan menatap Draco kosong. "Sekarang tanggal 25 Maret..."

"Lalu?" Draco bertanya bingung, masih tidak mengerti.

"Draco, aku tidak sakit apapun," Hermione menjelaskan panik. "Makan, tidur, muntah-muntah, tampak tak bersemangat..."

Hermione kehilangan kata-kata, sementara Draco menunggu.

"Draco, menstruasiku terlambat 3 minggu."


Apakah satu kalimat tadi bisa menandaskan keanehan yang terjadi hari ini, Draco Malfoy?


baaaaah!
Next Prompt: Falcon/Elang :3
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Manik / Beads
Fandom: The Hunger Games
Pairing: Peeta x Katniss


Kelabu menggantung di cakrawala Distrik Dua yang tidak bertepi. Beragam burung yang menghuni distrik yang mulai subur ini, bermigrasi ke tempat peristirahatan mereka untuk berkumpul dari kelamnya malam yang akan bersemayam disana.

Di tepi padang rumput—ah, tidak—tepatnya kuburan, terpatrilah rumah mungil yang memancarkan cahaya hangat, serta desahan napas tiga orang. Dan tak lama kemudian, waktu memang beterbangan dengan cepat—senja berganti malam, malam berganti larut malam, tetapi cahaya rumah itu masih bersinar.

"Peeta," seorang wanita berkepala tiga, dengan surai bergelombang brunette tak tercela, menatap suaminya dengan manik kelabu yang mengantuk. Katniss Everdeen berdiri di ujung tangga. "Kau tidak tidur?"

"Oh, halo, Katniss," Peeta menoleh sejenak dan menghentikan pekerjaan tangannya. "Apa anak kita sudah tidur?"

"Sudah," Katniss menguap, menghampiri Peeta dengan penasaran. "Kau tidak menjawab pertanyaanku, Peeta. Mengapa kau tidak tidur?"

Peeta tak menjawab, terdiam sejenak. "Aku sedang membuat sesuatu," katanya.

Katniss—walaupun telah dikuasai rasa kantuknya—perlahan menghampiri suaminya dengan penasaran. "Apa yang kau buat..?"

"Ah," Katniss segera paham begitu melihat material yang tersembunyi di balik tubuh Peeta. Di lantai ruang tamu, bertebaran manik-manik berbagai warna yang sebagian besar telah teruntai di sebuah benang—dan sebuah bandul mockingjay juga tergeletak disana. "Kau akan membuat liontin?"

Peeta tampak sedikit tersipu. "Yeah. Ini untuk Mellark baru kita," Peeta tersenyum lembut. "Aku harap bayi kita menyukainya, dan ia akan selalu mengingat perjuangan Tributes yang tidak mudah."

Katniss tersenyum sendu, bernostalgia akan masa lalu-nya yang pahit. "Ia akan menyukainya. Ini indah sekali."

—Dan mereka, terduduk semalaman—diiringi dengan bunyi manik-manik yang menggelinding, berusaha membuat satu lagi tanda mata. Ya, tanda mata ini dibuat dengan manik-manik (atas perumpamaan mutiara, mewakili Finnick), benang (atas Wiress yang selalu setia dengan benangnya), Mockingjay (atas pin yang mewakili Katniss), huruf P kecil (atas pengorbanan seorang Peeta), dan semua material yang bersatu dengan cinta kasih (yang mewakili mereka semua karena telah bertahan sampai akhir, dengan cinta.).

Fin


:")
Next prompt: Fingers / Jari
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Sacrifice / Pengorbanan
Fandom: Avengers
Characters: Iron Man/Tony Stark ROBERT DOWNEY JR!!!!!!!!<3 :fg1:


Beberapa relasi Tony Stark—Sang Iron Man—mengatakan bahwa pahlawan mereka itu sebenarnya tak memiliki hati. Dalam konteks harfiah, mungkin saja hal itu benar, mengingat bahwa beberapa komponen tubuh Tony hanya terdiri dari besi dan pelbagai kabel elektrik nan penuh komplikasi, dan mungkin hatinya juga terbuat dari komponen itu.

Namun—kala Captain America memaki Tony penuh kebencian; "Kau egois, tak punya hati! Pernahkah kau memikirkan kepentingan orang lain sekali saja, Stark?" Tony hanya membeku.

Di satu sisi, ia akan membantah pernyataan itu. Siapa bilang ia tak pernah mementingkan orang lain? Nyatanya ia menjadi superhero andalan masyarakat—

Tidak, bahkan hal itu hanyalah wujud dispensasi Tony untuk menyalurkan kekurangannya.

Dan Tony jadi bertanya-tanya.

Apakah ia pernah mengatasnamakan kepentingan orang lain? Benarkah menolong orang itu—hanyalah pelampiasan dari kekurangannya untuk membuat jantung besi ini berguna? Lalu—pengorbanan apakah yang pernah ia lakukan untuk orang lain?

Dan saat Para Chitauri menyerang bumi dengan perlbagai gada baja dan cakar besi melalui Portal Tesseract—ketika mereka berkata bahwasanya Chitauri akan sirna ketika Portal ditutup—

Sekali ini, Tony akan melakukan pengorbanan.

Dan apabila ia gugur, maka Tony ingin namanya diingat sebagai Iron Man yang mementingkan kepentingan orang lain—di atas kepentingan pribadi.


Next Prompt: Bleeding/Berdarah

Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: get well soon/cepat sembuh
fandom: The Kane Chronicles (Egyptian Mythology)
chara: Sadie/Walt/Anubis.
.
.

Suasana ruangan di Nome Kedua Puluh Satu, New York, nampak senggang. Beberapa murid memutuskan untuk tidur lebih awal untuk menghibur diri mereka dari kemuraman. Bahkan Carter Kane; yang notabene adalah pemimpin mereka—tidak dapat menahan diri untuk menggalau di kamarnya.

—Bagaimana dengan Sadie Kane? Jangan salah, bukan berarti gadis itu cukup ceria untuk menghadapi semua ini. Walt pingsan tadi sore, Apophis hampir bangkit (jika saja Isis tidak turun tangan untuk menyegel) dan Amos serta Zia masih tidak memberi kabar. Dan di sinilah ia, di balkon yang menghadap Manhattan—yang kata Amos, memiliki dewa dan dewi lain. Mungkin Dewa Dewi Yunani? Ia toh juga tak peduli.

Mungkin Sadie sudah gila, namun ia hanya bergumam. "Duat Bridge is falling down, falling down, falling down, Duat Bridge—"

"Sadie."

Sadie terlonjak mendengar melodi bariton yang sangat familier di belakang tubuhnya, dan serta merta ia berbalik.

"Anubis!" dan kau tahu apa yang akan terjadi bila Sadie kita bertemu pangerannya.

"Sadie," Sang Dewa Pemakaman dan Orang Mati berdeham. "Maukah kau membawaku ke Walt?"

.
.

"Dia... jatuh pingsan tadi sore. Aku tak tahu mengapa, yang jelas..." Sadie kehilangan suaranya. Secara naluriah, gadis itu menggenggam tangan Walt, dan ekspresi Anubis bertambah muram dari biasanya. "Kesehatannya memburuk. Kau tahu—Kutukan Sialan Tutankhamen itu."

Anubis bungkam, namun ia melangkah ke sisi lain Walt yang tidak ditempati Sadie. "Kau tahu, Sadie. Jika saja Walt mau melakukan sihir, ia akan mengambil jalanku."

Sadie menghapus air matanya. Anubis menahan keinginannya untuk memeluk Sadie—karena ia tahu ia tak pantas. "Mengapa?"

"Aku tak tahu. Tapi, Sadie, tujuanku ke sini bukan untuk menyampaikan itu."

"Lantas?"

Anubis menghela napas. "Sadie... aku—er—mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menyembuhkan Walt."

Sadie masih diam.

"Tapi," katanya hati-hati. "Kau harus ikut ke Negeri Orang Mati bersamaku. Aku tak bisa menjelaskan caranya disini, dan ada taruhannya untuk itu."

"Aku ikut," jawab Sadie mantap. "Apa taruhannya?"

.
.
—"Kau harus menjaga Walt tetap hidup, yang berarti, kau harus bisa mantra duplikat. Dan Sadie... kau, harus meninggalkan rasa sayangmu untuk Walt dan mengucapkan cepat sembuh kepadanya. Kau mengerti kan?"—
.
.

Selama sesaat yang menyiksa, Sadie melihat sorot ketidakrelaan dalam manik Anubis, tetapi pemuda itu menutup matanya ketika Sadie mencium bibir Walt seraya berkata, "Cepat sembuh." lirih.

Dan begitulah, bagaimana kisah cinta segitiga mereka dimulai.




ish. gaje T_T

Next Prompt: Amorphous/Tak Berbentuk.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Fireworks/Kembang Api
Fandom: Percy Jackson The Olympians jadi pengen grgr liat gicchan pake fandom ini:') /ngek
Chara: Luke Castellan x Thalia Grace
.
.

Thalia Grace terperangah, menatap langit di atasnya dengan bibir ternganga.

Sementara di sebelahnya, Luke Castellan tersenyum pongah, merasa menang karena mampu membuat darah daging Zeus itu kehilangan kata-kata.

"Luke—astaga," Thalia menatapnya dengan pandangan tak percaya. "Inikah yang kau maksud? Peristiwa penting yang tak boleh kulewati?"

Luke tertawa renyah. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengacak surai gadis yang lebih pendek darinya, lalu ia berkata ringan, "Memangnya kenapa? Seorang demigod juga harus merasakan euforia tahun baru, Thalia—apalagi banyak atraksi hebat yang dilakukan di teritorial ayahmu."

Wajah Thalia menggelap. "Aku tak peduli pada ayahku," bantah Thalia keras, dan sebagai jawabannya, langit langsung menggelap.

Luke mendesah. "Santai saja, Thalia. Jangan membuat Zeus marah dan menghancurkan langit tahun baru ini. Lagipula aku tidak membicarakan ayahmu, aku membicarakan tentang menikmati hidup."

DAN mereka memang sedang menikmati hidup. Seminggu berkutat dengan segala monster dan makhluk mitologi—membuat Thalia dan Luke merasakan indahnya surga di bukit di Ibukota Amerika ini; menikmati dunia yang berada dalam penghujung tahun.

"Lalu apa rencanamu di sini? Hanya memandangi langit malam? Apa kau tak punya usul yang lebih bagus? Misalnya ikut makan gratis, hm?"

Luke mendengus menghina. "Kau benar-benar tidak up-to-date, Thalia. Aku bilang aku menunggu atraksi hebat; aku menunggu kembang api."

Thalia memutar bola mata. "Kembang api? Umurmu berapa, Luke?"

Tapi hanya semilir angin yang menjawab pertanyaan Thalia. Gadis itu menajamkan pendengarannya, lalu sayup-sayup teriakan para manusia menembus gendang telinganya. Hitungan mundur sudah dimulai.

Lima.

Empat.

Tiga.

Dua.

Satu.

.
.

BLAR!

.
.

Laser cahaya aneka warna melesat ke kanvas kelam di langit. Meledak; membentuk supernova junior, dan Thalia tak bisa menahan pekikan kagum yang keluar dari bibirnya. Demikian juga Luke. Pemuda itu bergeming, diam, tapi ada binar bergulir di maniknya.

.
.

Dan Luke benar. Mereka berdua patut menikmati hidup, bahkan kalaupun dunia sedang berada di ambang kiamat.




LUKE! LUKE! GRAAAAARRR :fg1: /PLAK

Next Prompt: Shadow/Bayangan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Beatrixmalf
Member Avatar
menghilang dari peradaban
[ *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: multifaset/multifacet
fandom: The Infernal Devices
chara: Will H./Tessa G.


Wajah itu nampak pias bermandikan cahaya bulan. Mutiara biru laut itu terlihat sendu, mengerling tak berminat kepada pemandangan di pekarangan bawah--sekaligus stela bercahaya yang dimainkannya di jemari.

Will Herondale menghela napas lelah. Hatinya remuk redam, nyaris tak tersisa emulsi oksigen kebahagiaan di dalam hatinya--tapi ia masih bertahan.

Bertahan.... dari segala problema. Problema yang tak berujung. Multifaset dan infiniti. Tanpa batas.

Dan mungkin karena cinta. Tessa. Asa.
.
.
Cahaya bulan hampir tersingkap sepenuhnya, bersih dari sapuan awan kelabu. Dua sejoli yang bercumbu di bawah sana, dua orang yang sangat dicintai Will (dan siapa lagi kalau bukan Tessa dan Jem?) menautkan kedua tubuhnya, dan Will memalingkan wajahnya.

Ia menunduk memandang stela itu.

Yang berubah menjadi bintang multifaset--sejalan dengan apa yang dihadapinya saat ini.
.
.


galau ;w;
next prompt: infinity/tanpa batas
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today.
Learn More · Sign-up for Free
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone