Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,922 Views)
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: leader/pemimpin
Fandom: Quenta Silmarillion
Chara: Anak-anak Feanor
----------------------------------------------------------------------------------------------

"Maedhros tidak akan kembali."

Maglor mendapati jemarinya mati rasa, tubuhnya seketika menegang. Mata kelabunya terarah pada Amras, yang setelah mengucapkan kata-kata itu wajahnya seketika memucat. Si bungsu buru-buru menundukkan pandangannya, menggumamkan maaf. Namun maaf pun tidak bisa menyembuhkan atmosfer tenda yang dirusak pernyataan barusan:

Maedhros tidak akan kembali

Efeknya mulai bermunculan. Lengan Celegorm sesekali menghentak, seakan siap untuk memukul sesuatu namun sasarannya terlalu rapuh. Wajah Caranthir memerah, jelas menahan murka. Jemari Curufin yang sibuk memeriksa pedang mendadak berhenti. Amrod menatap kembarannya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan bisu.

"Jangan biarkan mereka menahan Maedhros!" sembur Caranthir, kursinya terjatuh saat bangkit berdiri. "Maedhros tidak akan menyetujui syarat mereka andai kau yang ditahan Morgoth!"

"Tapi syaratnya terlalu berat," kata Amrod dengan suara bergetar. "Kita tidak mungkin meninggalkan perang dan pindah menjauhi Angband ke selatan. Kita terikat pada sumpah."

Kalimat terakhir Amrod menyembunyikan fakta lain: kita terikat pada Silmaril.

Buku-buku jari Celegorm memutih di kursinya, siap menahan Caranthir kalau amarahnya lepas. "Lalu apa yang akan kita lakukan? Pasukan kita belum sepenuhnya pulih dari pertempuran. Memaksa mereka maju melawan Morgoth sama saja dengan membuang nyawa."

"Mereka siap membuang nyawa demi Raja Noldor," desis Curufin tajam. "Tidak sepertimu, Maglor."

Celegorm memejamkan mata, menahan diri untuk tidak menampar Curufin. "Curu--"

Caranthir tertawa mengejek.

"Diam, Caranthir," kata Maglor tiba-tiba. Ia menoleh pada Curufin, "kau tidak salah, aku bisa saja memerintahkan kita semua berbaris ke Angband dan mati di tangan Vala sialan itu. Tapi aku yakin Maedhros tidak akan melakukan hal itu di posisiku sekarang."

"Jadi kau--"

"Curufin, dengarkan aku."

Bagi kelima adiknya Maglor seolah menjelma menjadi sosok yang sesuai dengan nama yang diberikan ayah mereka: Kanafinwe, 'sang pemimpin'. Caranthir dan Curufin menahan diri untuk tidak memotong Maglor lagi.

"Dengan Maedhros ditahan hidup-hidup, Morgoth punya jaminan bahwa kita tidak akan menyerangnya," ia menjelaskan, menatap satu persatu mata kelima adiknya. "Kalau Maedhros mati, tidak ada lagi yang bisa menahan kita dari Angband. Tapi jangan lupa kalau Morgoth itu Vala. Pasukan kecil kita tidak akan mampu melawan semua Orc dan Balrog Morgoth."

"Kita akan... diam saja...?" tanya Amras.

"Kita menanti," Maglor berdiri. "Maedhros akan kembali hidup-hidup."

"Kaum Valar mengabaikan kita."

"Kalau Valar mengabaikan kita, Caranthir," Maglor membuka pintu tenda. "Maka berdoalah semoga Eru Iluvatar belum melupakan kita." Sebelum seseorang sempat berbicara lagi, Maglor keluar dari tenda, melangkah mantap ke arah utusan Morgoth.
----------------------------------------------------------------------------

adakah yang tahu fandom ini?
next up: buttons/kancing
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
bahkan RPFnya JKT48 sudah mulai bermunculan
Prompt: El Nino
Fandom: Silmarillion
Chara: Maglor
----------------------------------------------------

Pantai lagi.

Sejujurnya, Maglor sudah muak melihat pantai. Ia benci menyaksikan tepi daratan tenggelam di balik atap kediaman ikan-ikan. Ia benci mendengar ombak yang pecah di antara karang. Ia benci mencium wangi khas lautan--semua mengingatkannya pada hari itu.

Hari di mana ia terbebas dari ikatan Sumpah dan tiga permata yang merenggut keenam saudaranya. Dan laut juga mengingatkannya akan rumah. Rumahnya di Tirion, di Valinor yang telah hilang.

Tapi malam ini tidak. Maglor mendekati lautan tanpa ragu, mendengarkan amukan badai El Nino. Langkah kaki telanjangnya mantap di menuju tubir karang, matanya menatap awan gelap yang bergulung-gulung di langit.

Angin memecah ombak-ombak, memanggil... memanggil...

"Haruskah aku kembali?" bisik Maglor. El Nino, Manusia menyebutnya, namun Maglor tahu bahwa Manw dan Ulmo mengirim badai ini untuk menjemputnya.

"Tidak ada kapal yang akan membawaku ke sana... tidak ada..."

Tidak ada kapal yang akan membawa Maglor. Maka satu-satunya jalan hanya lewat Aula Mandos. Senyum Maglor merekah.

Di tengah guyuran deras hujan, Maglor menjatuhkan diri ke lautan di bawahnya. Bagi mata Manusia, yang terlihat hanya sesosok tubuh kurus ditelan ombak, namun Oss menyambutnya dan membawanya pulang ke pantai Aman.
---------------------------

aneh un.
next: fan / kipas angin
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: KOWAWA
Fandom: Silmarillion!
Chara: Caranthir, Ambarussar twin
-------------------------------------------------------------------------------

Hidup setelah kembali dari Mandos memang sulit. Apalagi ketika Manw memerintahkan mereka berenam mencari saudara mereka yang hilang di Middle-Earth--yang omong-omong, sekarang sudah dikuasai manusia. Setiap hari--bukan, setiap detiknya mereka berubah. Ras yang bergulir cepat dan tidak menghargai kedamaian berlama-lama di satu waktu.

Keenam pangeran Noldor memang ksatria dan pejuang hebat, pemberani dan mematikan. Butuh puluhan orc untuk menjatuhkan satu di antaranya--dan itupun dipastikan akan membawa orc sebanyak mungkin bersamanya. Namun untuk menjatuhkan Caranthir The Dark hanya butuh benda pipih persegi berwarna gelap yang bercahaya dingin.

"Gargh!" Caranthir membanting benda pipih itu--yang disebut Maedhros sebagai 'ponsel'--ke lantai. Ini ponsel kedelapan belas yang berakhir di tangan mantan penguasa Thargelion. Ponselnya sudah berdering sejak sejam yang lalu, telepon dari Curufin, yang menguasai teknologi manusia secepat kelahiran dan kematiannya dan senang 'menguji' kemampuan teknologi Caranthir.

"Sampah Morgoth!" umpatnya sambil menginjak remah-remah si ponsel. Masa bodoh Maedhros menceramahinya lagi untuk yang kedelapan belas kalinya. "Sampah Manusia! Huh!"

"KOWAWA!"

Caranthir menghentikan siksaannya. Kedengarannya seperti suara burung, tapi Caranthir tak mungkin tidak mengenal suara si kembar.

"KOWAWA!"

Jepret!

Caranthir menemukan si bungsu Ambarussar di balik tembok dengan kamera di tangan. Jelas sekali mereka baru saja memotret Caranthir.

"Ngapain kalian?"

Menyeringai lebar, kedua Ambarussa mencericip nyaring. "KOWAWA!" kemudian berlari meninggalkan Caranthir yang terbengong-bengong. Si kembar cepat sekali menyerap kebudayaan manusia, dan nyaris setiap hari Maedhros menambahkan kosakata baru usulan mereka di kamus bahasa manusianya.

Merasakan kemarahannya mereda, Caranthir mengambil sapu dan membersihkan sisa-sisa ponselnya, sembari menghibur diri dengan mengingat momen Celegorm dikejar serombongan gadis remaja yang memanggilnya "Legolas!!"
-------------------------------------------------

KOWAWA itu apa si?
next up: exile / pengasingan
Edited by Magma Maiden, 2 Mar 2012, 03:22 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Message/pesan
Fandom: Quenta Silmarillion
Chara: Nerdanel
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Nerdanel sulit melupakan momen itu. Ia sedang mendampingi Ratu Indis mengatur persiapan jamuan untuk Fanor dan Fingolfin--akhirnya mereka berhenti bertikai dan Fanor akan kembali ke Tirion. Namun di tengah kesibukan tiba-tiba sang Ratu menjerit nyaring dan pingsan, tangan kanannya mencengkeram dada di atas jantungnya. Nerdanel dan Anair segera memanggil penyembuh dan membawa sang Ratu ke kamarnya.

"Ibunda Ratu... apa gerangan yang terjadi?"

"Oh putri-putriku..." Ratu Indis merengkuh Nerdanel dan Anair ke dalam pelukannya. "Aku khawatir sesuatu terjadi pada Raja di Formenos."

Nerdanel menatap saudari iparnya. Anair sama bingungnya seperti dirinya. Formenos di utara yang jauh merupakan sebuah kota-benteng, lagipula di negeri kaum Valar, bahaya apa yang akan terjadi?

Jawabannya datang setelah Penggelapan dan kematian Dua Pohon. Ratu Indis pingsan lagi, dan saat beliau terbangun, keringat dingin deras mengucur di dahinya. Belum pernah Nerdanel melihat mertua tirinya sepucat itu. Semua orang memang panik setelah Penggelapan, namun tak ada yang efeknya seburuk beliau.

Di tengah kekacauan itu, pesan datang dari Formenos, dibawakan oleh sulung Nerdanel sendiri.

"Raja dibunuh...!"
.
.
.
Pernikahan bukan sebatas ucapan janji atas nama Eru, namun sekaligus penyatuan fisik dan spiritual. Tidak heran Ratu Indis tampak begitu menderita ketika di saat bersamaan tubuh Raja Finw hancur di tangan Melkor.

Sejak Valar mengasingkan kaum Noldor, Nerdanel terus berdoa semoga pesan itu tidak pernah datang--atau setidaknya tertunda, mengingat Middle-Earth dan Valinor dipisahkan Samudra Raya. Namun sesering apapun Nerdanel berdoa, ia tahu Fanor sedang berderap menuju ajalnya.

Hanya sesaat sebelum Matahari dan Bulan siap berlayar di Langit, pesan itu tiba secepat angin Manw. Rasa terbakar lahir dari ujung kakinya, merambat naik dalam irama lambat, menyiksa setiap senti kulit dan daging dan mendidihkan pembuluh yang dilaluinya. Para penyembuh tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menemaninya menjerit-jerit kesakitan. Dan ketika rasa pedihpanasperih itu mencapai jantungnya, Nerdanel hampir percaya bahwa ia akan mati saat itu juga.

Ia bahkan belum pulih, masih gemetaran di pelukan saudari-saudari iparnya--Anair dan Earwen--ketika Eonw mengabarkan berita dari Mandos.

"Balrog Morgoth mengirimnya pulang. Roh Fanor sudah tiba di Aula Mandos."
----------------------------------------------------------------------------

next: stepmother / ibu tiri
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Ghost/hantu
Fandom: Silmarillion
Chara: Finarfin
-------------------------------------------------------------------

[Third Age 265]
Finarfin tidak bisa tidur. Ia sudah berjalan-jalan mengitari seluruh kediamannya, istana Noldor yang besar, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda kantuk yang tiba. Ia masih ingin berjalan-jalan, namun kalau orang lain melihatnya tentu akan menimbulkan pertanyaan. Hanya ada satu tempat di mana ia bisa berjalan-jalan tanpa terlihat, dan sialnya, tempat itu adalah bekas rumah kakak sulungnya, Feanor.

Tapi tidak ada alasan untuk takut pergi ke sana, kan? Empat ribu tahun-matahari telah berlalu sejak rumah itu terakhir berpenghuni. Istri kakaknya, Nerdanel, sekarang tinggal bersama orangtuanya. Feanor dan putra-putranya masih di Aula Mandos, dan masih lama sekali sebelum salah satu dari mereka diizinkan keluar dari sana.

Dengan pikiran itu, Finarfin mengambil kunci dan pergi ke rumah kosong kakaknya. Suara langkahnya bergema di rumah itu. Mata biru Finarfin mengenali setiap barang-barang yang tertinggal--milik siapa dulunya, dan masa-masa di mana pemiliknya menenteng benda itu ke mana-mana: tabung panah, busur tua, harpa, mainan kayu--

DANG! TRANG!

Finarfin nyaris melompat karena kaget. Ia mengira telah menjatuhkan sesuatu, piala logam atau semacamnya, namun tidak ada barang yang berpindah dari posisinya--

Crrrsssss... DANG! TRANG!

Suara itu lagi! Dan desis yang mendahuluinya itu terdengar seperti bunyi air mendidih. Finarfin melesat ke dapur, namun dapur sama kosongnya seperti ruangan lain.

DANG!

Suara itu terus berulang dengan ritme konstan, gemanya membuat Finarfin gemetar. Tidak salah lagi, itu suara palu yang menghantam landasan--bunyi yang tak pernah absen dari rumah Feanor selama kakaknya itu masih hidup. Dengan jantung berdebur kencang, Finarfin keluar dari pintu belakang menuju bengkel kerja kakaknya yang terpisah dari rumah utama.

Tidak... tidak mungkin Feanor sudah Dihidupkan kembali. Mandos bilang ia tidak akan Dihidupkan sampai Akhir Dunia. Enam putranya mungkin akan Dihidupkan lebih cepat, namun tidak secepat ini... tidak mungkin...

Finarfin tercabik antara ingin kembali atau terus maju untuk mengungkap si pandai besi misterius yang bekerja di bengkel Feanor. Tidak ada pandai besi yang berani mendekati rumah Feanor... dan kalau bukan begitu, jangan-jangan roh api Feanor melarikan diri dari Mandos...? Memantapkan hati, ia melangkah pelan-pelan mendekati salah satu jendela yang berembun akibat panas perapian dan mengintip ke dalam.

Sang Raja Noldor menahan diri untuk tidak memekik kaget--sosok di dalam bengkel itu sangat menyerupai kakaknya semasa hidup. Rambutnya, gerakan tangannya, caranya memegang penjepit... sayang sekali Finarfin tidak bisa melihat wajahnya, pria itu memunggunginya. Si pandai besi misterius yang mirip Feanor itu begitu menyita perhatiannya sampai ia tidak menyadari bahwa dentang palu tak lagi terdengar di udara.

Pria di dalam bengkel telah berhenti bekerja dan sekarang, balas menatapnya. Ia buru-buru meletakkan palunya dan keluar dari pintu. Menjauhi jendela, Finarfin berusaha menyamarkan perasaannya yang berkecamuk--kaget, takut, bingung--sebelum si pandai besi misterius muncul di hadapannya.

"Yang mulia," pria itu berlutut dan menunduk. Ketika ia mengangkat wajahnya lagi, Finarfin tersentak akan kemiripannya dengan Feanor--tanpa satu ciri khasnya: pandangan mata yang menyala-nyala. Lagipula, Feanor tidak akan pernah berlutut di hadapannya--meski sekarang ialah Raja Noldor.

"Berdiri, wahai Noldo," perintah Finarfin. "Apa yang kau lakukan di bengkel kakakku Feanor?"

Pria yang mirip Feanor itu tampak kaget. "Yang Mulia, maafkan ketidaksopanan hamba, tetapi ini adalah rumah di mana hamba dilahirkan. Dulu hamba masih muda saat dibawa menuju Middle-Earth oleh ayah hamba. Setelah seribu tahun di Mandos, tentunya hamba ingin kembali ke sini. Hamba tak punya rumah lain di Valinor. Kunci bengkelnya rusak, jadi hamba langsung ke sini."

Kali ini, Finarfin-lah yang kaget. "Siapa engkau dan apa hubunganmu dengan Feanor?"

"Nama hamba Celebrimbor, cucu Feanor. Ayah hamba adalah Curufin."

Kelegaan mengalir deras dari perut Finarfin seperti banjir bandang. "Saudaraku," ia memeluk cucu-keponakannya, "selamat datang kembali di rumahmu. Maafkan pamanmu ini telah mengiramu bermaksud buruk."

"Tidak apa-apa, paman," Celebrimbor melepaskan pelukannya. "Aku juga salah. Seharusnya aku datang terlebih dahulu ke istana dan meminta izin resmi dari paman untuk tinggal di sini."

"Izin?" tanya Finarfin geli. "Tidak, tidak perlu." Ia memberikan kunci rumah Feanor kepada Celebrimbor. "Tentu saja kau boleh tinggal di sini, saudaraku, tapi jangan lupa kunjungi aku dan juga nenekmu."

Setelah basa-basi singkat, Finarfin minta diri. Ia lega bukan Feanor atau Curufin yang berlidah tajam yang ditemuinya. Masih lama sekali sebelum ia bisa bertemu mereka lagi. Dengan langkah yang lebih ringan, Finarfin kembali ke istana--akhirnya merasakan kantuk membujuknya ke tempat tidur.
------------------------------------------------------------------------

kebayang gak sih prompt-nya? :writes:
next up: KTP / identity card
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: imitate/meniru
fandom: Silmarillion
chara: Feanaro, Nolofinwe



"Ai, Nolofinwe!"

Ratu Indis mengangkat tubuh putra sulungnya dari pangkuan. Mangkuk bubur yang mereka makan sudah terjungkir, isinya terciprat ke mana-mana. "Tak bisakah kau makan dengan tenang, Nolo?"

Nolofinwe menggeleng, bandel.

"Seorang pangeran tidak boleh berlaku seperti itu di meja makan. Tirulah Feanaro, kakakmu itu tidak pernah mengacak-acak bubur dengan tangan dan selalu bersikap baik di meja makan!"

Maka malam itu, ketika perjamuan diadakan untuk merayakan selesainya masa belajar Feanaro pada Aule, Nolofinwe tidak pernah melepaskan tatapannya pada Feanaro, meniru setiap gerakannya--bahkan, terlalu intens.

"Ayah," bisik Feanaro pada Raja Finwe, "apa Nolofinwe marah padaku? Sedari tadi ia terus membelalakkan matanya padaku; lihat, sampai merah begitu."

Malam itu Nolofinwe tidur dengan mata yang pedih.



next: sale/diskon
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: bebek/duck
fandom: Silmarillion
chara: Irisse, Tyelkormo



Tali busur menegang, panah melesat, unggas-unggas menjerit--sepuluh bebek di rawa beterbangan, dan kembali lagi tak lama kemudian. Sepuluh bebek sialan yang berhasil menghindari semua anak panah Irisse.

"Meleset, tuh," kata sang pemuda pirang, menyeringai lebar. "Sudahlah, panahmu barusan yang terakhir, kan? Kita makan jeruk saja malam ini."

Irisse menarik-narik kepangan rambutnya, frustrasi. "Coba saja kau yang memanah gelap-gelap begini, Tyelkormo! Bebek-bebek sialan itu terbang seperti elang-elang Manwe!"

"Aku tidak keberatan hanya makan jeruk malam ini," Tyelkormo meleletkan lidahnya, mengipasi emosi Irisse. Ia tahu gadis itu belum makan sejak pagi tadi--Irisse pergi tanpa izin dari rumah untuk memenuhi ajakannya berburu. Kedua ayah mereka tidak boleh tahu mereka berdua sering berburu bersama.

Irisse makin cemberut. Dan Tyelkormo makin tidak membantu. "Tahu tidak, Irisse?" tanyanya sambil melahap jeruk.

"Apa?" ujarnya galak.

"Kalau kau mendekati mereka sambil manyun begitu, bebek-bebek itu akan mengira kau salah satu dari mereka dan kau bisa menangkap satu dengan tangan kos--aduh!" pemuda itu berguling menghindari tinju sepupunya.

"Kau cuma bisa omong besar, Tyelko," Irisse mengibaskan rambut gelapnya yang berkilau, cuping hidungnya melebar. "Buktikan kalau kau bisa memanah bebek-bebek itu."

"Hadiahnya apa?" tanya Tyelkormo malas-malasan.

"Bebek buat makan malam, tentu saja!"

"Kan tadi kubilang aku tidak keberatan makan jeruk," balasnya santai, tepat saat perut Irisse berkeriuk keras.

"Aku yang masak!"

Tyelkormo mengibaskan tangannya malas-malasan, "masakanmu tidak lebih enak dariku."

Rasanya ada asap yang membubung dari kedua telinga Irisse. Dengan wajah merah padam dan tangan terkepal, ia berseru, "baik! Panah bebek sialanmu dan buatkan aku makan malam! Akan kupenuhi apapun yang kau inginkan!"

"Hei, hei serius nih?" Tyelkormo langsung bangkit berdiri, ekspresinya jahil. Memasang anak panah pada busur, membidik--dan sembilan bebek beterbangan ke udara. Tyelkormo langsung mengambil si bebek yang malang dan memanggangnya untuk mereka berdua.

Irisse makan dalam diam, wajahnya masih merah karena malu dan marah. Selesai makan, Tyelkormo langsung mengutarakan hadiah yang diinginkannya.

"Kudengar dari Findekano kalau kau sering menolak ajakan kencan, jadi bagaimana kalau kau kencan denganku minggu depan?"

Tyelkormo yang berharap wajah gadis itu akan memerah malu mendapati wajahnya sendiri yang memerah ketika Irisse mengerutkan alis dan bertanya,

"Memangnya ini bukan kencan, ya?"


yes, she was making a duckface
next up: porridge/bubur
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Musik/Music
Fandom: Silmarillion
Chara: Telperinquar, Makalaure



Telperinquar's POV
Tanpa adanya cahaya dari Kedua Pohon, waktu terasa seperti darah yang menggumpal dan lengket di dinding pembuluh. Tak ada hari, tak ada minggu. Hanya ada tadi, kini dan nanti--seperti yang ditunjukkan oleh jam pasir.

Atas-bawah. Naik-turun. Butiran pasir yang terjebak dalam dinding kaca, tak bisa meraih dunia dalam jangkauan pandangnya sendiri.

Dan seperti pasir, kami pun terjebak di sini. Di depan kami adalah mahabenteng Morgoth yang tak tertembus, dijaga oleh ribuan orc dan sepasukan Balrog membara. Di belakang kami adalah Samudera Besar Belegaer yang dingin, ombak-ombaknya asing bagi kami. Kami tak tahu waktu, selain dari pergerakan bintang-bintang... namun mereka pun asing bagi mata kami.

Di atas semua itu, kami telah kehilangan dua raja. Tiga, kalau kau menghitung Paman Maitimo yang nasibnya belum kami ketahui. Dan sejak tadi (entah berapa lama tadi itu) tak satupun orang melihat Paman Makalaure--yang sekarang menjadi pemimpin kami. Atau raja kami.

Sunyi. Seolah semua orang berlindung di balik kesunyian yang meski mencekik, tak ada yang berani menembusnya untk mencari udara segar. Sungguh, kalau kesunyian ini terus menghantui seluruh kemah sampai nanti, aku akan menjerit-jerit--masa bodoh kalau ayah memarahiku.

Tepat saat itu, sebuah nada membelah udara. Nada jernih harpa yang menari anggun dalam waktu yang menggumpal. Tariannya lembut, perlahan, lalu menghentak, mengusir sunyi yang mencekik mengekang leher kami. Kemudian ia berubah garang, seperti pemusik lembut yang bertransformasi menjadi prajurit ganas. Aku tak pernah tahu harpa yang anggun bisa mengeluarkan melodi semembara itu.

Saat nada itu sepenuhnya menjelma menjadi prajurit, aku menyadari beberapa orang mulai berkerumun di sekitar tenda paman-pamanku. Menerobos kerumunan, aku berhenti di pintu tenda Paman Makalaure--tempat suara itu berasal. Karena tampaknya tidak ada orang yang akan bergerak dari tempatnya, aku memberanikan diri masuk ke dalam.

"Paman?"
Jemari Paman Makalaure bergerak dalam kecepatan tinggi hingga profil lengannya nyaris mengabur bak bayangan. Ia tampak begitu tenggelam dalam musiknya--yang baru kusadari sebenarnya merupakan refleksi transformasinya: pemusik yang berubah menjadi prajurit. Aku tetap di tempatku sampai musiknya berhenti dalam sosok prajurit di atas kuda yang mendompak, mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi ke pintu mahabenteng Morgoth. Sunyi yang datang setelahnya terasa lebih menenangkan.

"Ah, halo Telperinquar," keringat menetes-netes di dahinya, dan helai-helai rambut terlepas dari kepangannya. "Bagaimana kondisi perkemahan kita?"

Mendadak aku merasa malu--baru sadar aku tadi ditugaskan untuk membantu pendirian rumah semi-permanen untuk menggantikan tenda-tenda. "Oh... sepertinya semua orang sedang beristirahat, paman," ujarku buru-buru. "Paman mau kupanggilkan penyembuh?"

"Ya," dahi Paman Makalaure berkerut menatap sepuluh jemarinya yang berdarah-darah, "dan segera, keponakan. Masih banyak hal yang harus kita kerjakan."

Aku nyaris berlari keluar dari tenda. Rasa mual dan kekaguman mulai berdansa di perutku.



next: tombak/spear
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: presentiment/firasat
fandom: Katekyo Hitman Reborn!
chara: Fon, Mammon(Viper)
warning: Fon/fem!Mammon, TYL, pre-Future Arc



"Kalau kau berniat menceramahiku lagi, Fon, menyingkirlah sebelum ada darah yang tumpah."

"Hmm..." Sang Arcobaleno Badai menghentikan langkahnya, hanya beberapa meter dari Arcobaleno Kabut yang memunggunginya, sibuk menghitung uang. "Bagaimana kau tahu ini aku?"

"Mengendap sesunyi apapun aku akan selalu tahu," Mammon menjilati jempolnya sebelum kembali menghitung lembaran hijau itu. "Aku Esper, ingat? Firasatku taj--ngapain kau!?"

Fon melompat ringan, menghilangkan jarak di antara mereka berdua kemudian melingkarkan lengannya pada sang ilusionis mungil. Uang-uang yang sedang digenggam Mammon berjatuhan karena ia kaget. Sang kempoka meletakkan kepalanya di bahu Mammon. Bau uang dan bambu bercampur jadi satu.

"Bukan cuma kau yang punya firasat tajam," bisik Fon dengan suara rendah.

Mammon sudah berniat menyerangnya, namun sesuatu di hatinya mencegah niatnya terlaksana. Ia meraih lengan Fon, menggenggam lengan bajunya dalam diam. "Aku keluar dari Varia," katanya tiba-tiba.

"Di saat begini, Mammon?"

"Mu, jangan cemas. Murid Rokudo, si kodok Fran, akan menggantikanku." Mammon menggeser posisi duduknya sehingga ia bisa menyandarkan kepalanya di dada Fon.

"Ah, sudah tahu rupanya..." pria Cina itu tersenyum dan memejamkan mata.

"Sudah lama," gumam gadis itu sambil memainkan kepangan rambut Fon. "Begitulah tak enaknya jadi esper. Kurasa... Yuni juga sudah tahu."

Nama Yuni membuat suasana di sekitar mereka menegang. Sang Arcobaleno Langit tampaknya tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah semua ini.

Fon mengendurkan pelukannya. "Aku harus pergi. Bersama-sama hanya akan memudahkan pekerjaan Byakuran."

"Aku mengerti," Mammon menegakkan diri, suaranya agak bergetar. "Kurasa kau tak akan mau rantai ini...?"

Fon menggeleng sedih. "Cepat atau lambat mereka akan menemukan kita. Kalau itu terjadi... aku akan membawa sebanyak mungkin musuh musnah bersamaku."

Gadis itu memalingkan wajahnya, "jangan bilang begitu." Ia kembali menghadap tumpukan uangnya.

"Selamat tinggal," kata Fon sebelum melesat pergi.

Mammon tidak membalasnya, hanya meneruskan menghitung uang dengan tangan yang basah.
.
.
Tak sampai seminggu kemudian, Pacifier merah dan indigo bergabung dengan koleksi Trinisette Byakuran.



kyaa~ pair favoritku~~
next up: Saturn's ring/cincin Saturnus
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Code/Kode
Fandom: Katekyo Hitman Reborn!
Chara: Hibari Kyouya, Fon
Warning: hints Fon/fem!Mammon, ProtectiveLilBro!Hibari, semacam missing scene dari fic The Dragon, The Wicked Witch and The Apathetic Toad



Seperti biasanya, selama beberapa hari terakhir ini, ketiga penghuni kediaman Fon (dia, Hibari Kyouya dan I-Pin) ditambah Mammon dan Fran sarapan bersama-sama. Kemudian dua orang terakhir itu pergi berlatih ilusi di markas Vongola, I-Pin mengerjakan PR musim panasnya dan Fon membereskan meja makan. Yang tak biasa dari rutinitas hari itu adalah keponakannya yang berdiri di mulut dapur dengan ekspresi sulit ditebak.

Fon menghela napas. Pasti ada sesuatu yang membuat Hibari-kun sebal, pikirnya. Maka ia melempar senyumnya dan bertanya, "ada apa, Hibari-kun?"

"Akhir-akhir ini kalian berdua semakin dekat."

"Eh?" Fon mengerjap bingung.

"Dia herbivora," Hibari melanjutkan, tampangnya semakin kesal. "Dan dia kalah dari Rokudo Mukuro."

"Apa maksudmu, Hibari-kun?" jantung Fon berdegup kencang begitu ia mulai menduga ke mana arah pembicaraan ini.

"Sampai aku yakin dia benar-benar karnivora sejati, paman tak boleh menemuinya lagi," kata Hibari dalam nada final. "Aku tak bisa mengizinkan paman berpasangan dengan herbivora--menodai DNA karnivora kita saja."

"Hibari-kun--tunggu!" Fon berusaha mencegahnya pergi, namun Hibari sudah lenyap dari pandangan. Sang kempoka merasakan pipinya menghangat. Ia sama sekali tak menduga tawarannya pada Mammon untuk menginap di rumahnya disalahartikan sebagai lamaran oleh keponakannya itu.

Mengambil segelas air dingin, Fon mendudukkan dirinya di kursi. Tapi, dugaan Hibari-kun memang tepat.



ngga jelas? baca aja kisah selengkapnya di akun FFn saya; tautannya ada di bawah sini~
*promosi*

next: bedsheets/seprai
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: ring/cincin
fandom: Hetalia
chara: Spain, Belgium


Klang!

Mata gadis itu terpaku pada benda berkilauan yang baru saja ia banting. Benda itu memantul tajam di lantai - meninggalkan retak di lantai - dan terus memantul... sebelum akhirnya ia tergeletak di ujung sepatu pria itu.

"Belgium..."

Gadis itu, Belgium, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak, Spain, tidak! Aku sudah dengar semuanya dari Portugal..." Belgium menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "berapa banyak rakyat Kuba yang mati demi cincin itu!?"

Spain membuka-tutup mulutnya, namun suaranya tidak keluar. El Conquistador itu tampak tak berdaya, kegarangannya yang terkenal di Dunia Baru lenyap. Mata hijaunya melirik cincin yang tadi dibanting Belgium - cincin yang tadinya melingkar di jari manis gadis itu.

"Broer Nederland benar," Belgium menyeberangi ruangan dengan langkah-langkah lebar. "Aku seharusnya tidak memercayai Rumah Habsburg."

"Tunggu...!" Spain buru-buru menyambar tangannya, namun Belgium menepis sentuhannya.

"Jangan sentuh." Pintu tertutup di belakang Belgium, seolah meresmikan perpisahannya dengan Spain.

Pemuda itu kaku di tempatnya, namun ia segera menguasai diri. Dipungutnya cincin dari lantai, ditimangnya benda itu di telapak tangan. Sinar matahari Castille membuat permukaannya berkilauan.

"Emas..."

Tangan Spain mengepal, mendekap si cincin ke dadanya. Senyuman sinting melebar di wajahnya.



wut. apa ini...

next: cocoa
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Your eyes/matamu
Fandom: APHetalia, AU - Tomorrow Never Dies RP universe
Characters: Ivan/Russia, Niklaas/Netherlands, Ada/fem!Indonesia
Other details: triple drabblish plus one not-so-drabblish, three characters, second person POV, subtle prompt, plot bunnies ftw, death maybe?
1: Ned-Rus-Nes
2: Nes-Rus-Ned




[[ 1 ]]
Kau kebingungan.
Kau tak sempat menanyakan padanya, pada wanita muda yang membukakan pintu apartemenmu, mengapa wajahnya memucat begitu ia melihat siapa yang mengetuk pintu. Namanya belum selesai diutarakan lidahmu ketika matamu dan mata sang tamu bertemu.

Banyak hal berkelebat di kepalamu: saksofonmu, dokumen berisi informasi penting tentang mafia yang belum diserahkan pada petinggi MI6, kelincimu... namun kau lebih mencemaskan kekasihmu. Kau berteriak, menyuruhnya lari, namun pria besar itu jauh lebih cepat--


-------------------------------


Ini sungguh kejutan yang menyenangkan.
Peliharaan kecilmu ternyata memang berbakat menjadi penghuni dunia hitam. Pagi ini, misalnya, ia menuntunmu ke rumah salah satu kaki tangan MI6 yang sudah lama mengganggu kinerja anak buahmu dari balik samarannya sebagai musisi. Kausapa dia dan kauusap rambutnya yang dikuncir kuda, menjanjikannya hadiah besar.

Dari ekspresinya, pria Belanda itu tak menginginkan pembicaraan. Kau pun tidak; kau hanya menginginkan solusi cepat untuk masalah ini; secepat muntahan Makarov di genggamanmu--


------------------------------


Jantungmu serasa meloncat keluar dari rengkuhan rusuk.
Kau tak tahu mengapa pria Rusia itu bisa berada di sini; kau tak pernah memberitahukannya kehidupan pribadimu. Tetapi kau sadar kemunculannya bukan sesuatu yang baik begitu bosmu menjanjikan hadiah atas hasil kerjamu. Kaulihat pistolnya meninggalkan mantel, bersamaan dengan suara teriakan kekasihmu.

Kaurasakan sesuatu berdesir melewati telingamu, lalu sisa kata-kata pria yang kausayangi itu terpotong--


-----------------------------


[[ 2 ]]
Kaulihat Niklaas merosot di dinding, merah merekah di kemejanya. Ivan tersenyum lebar, puas.
Kau menjerit.
/
Mata-mata MI6 itu takkan mengganggumu lagi. Tapi kau tak mengerti mengapa anak buahmu tampaknya tak senang akan tindakanmu.
Lengan wanita muda itu lepas dari genggamanmu.
/
Sosok sang mafia dan kekasihmu mengabur. Satu sosok mendekat, wajahnya basah. Wajah familiar yang kaunanti kemunculannya di ambang pintu setiap sore.
Samar kaudengar Ada memanggil namamu. Samar tangisnya menggema. Samar sentuhan jemarinya yang bergetar. Samar kaurasakan bibirmu dikecupnya. Samar napasmu memudar...



hyaahyaahyaa~ sorry I (kinda) killed you, Ned, but you're still my favorite <3
next prompt: coriander/ketumbar
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Kain
Fandom: Hetalia, slightly in Tomorrow Never Dies espionage RP AUniverse
Characters: siapa lagi, coba?



"Di dunia ini nggak ada yang gratis, tahu."

"Tapi seharusnya kau memberitahuku semalam. Ini namanya penipuan."

"Terus? Mau melaporkanku ke polisi? Aku hanya menawarkan tempat berteduh sementara saat kau menggigil kedinginan di trotoar. Seingatku, kau sendiri yang mengiyakan tawaranku."

"Sudah kubilang aku kehilangan dompetku. Aku tak membawa uang tunai dan semua kartuku ada di dompet."

Pria jangkung itu bersandar di pintu, jemarinya yang kurus panjang memainkan sebatang rokok yang belum dinyalakan. Matanya yang hijau cerah menatap wajah lawan bicaranya; yang lebih memilih untuk mendelik pada arakan awan kelabu di luar jendela.

"Begini saja," katanya, "bagaimana kalau kau membayarku dengan sebuah barang? Kau bisa mengambilnya lagi nanti setelah membayar harga yang kuminta."

"Aku ragu kau akan menemukan sesuatu yang berharga di tasku, kecuali ponsel - dan aku tak akan mau menyerahkannya." Meski begitu, si gadis berkulit coklat segera mengaduk isi tasnya, mencari-cari di antara catatan fisika dan bungkus permen loli. Setelah beberapa saat, ia menarik keluar gumpalan kain tebal. Sehelai syal.

"Ini bernilai lebih dari jumlah yang kauminta," ucapnya kesal saat syal itu berpindah ke tangan si pria jangkung. "Boleh buatmu, aku tak membutuhkannya."

"Ini kasmir."

"Memang. Aku pergi sekarang, kalau begitu."

"Senang berbisnis denganmu."



OTP. Awwyeaaah.

Next: subtlety/ketakkentaraan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Serpihan/pieces
Fandom: Hetaliaaaaaaaa
Characters: Netherlands/Lars, OCfemIndonesia/Nesia. NetherNesia
Warning: implied bedroom activity. 14+



"Jadi...?"

"Aku tidak bisa datang sekarang. Bosku... ada urusan mendadak. Mungkin besok atau lusa--"

Helaan napas berat. "Aku mengerti. Sampai besok, kalau begitu." Telepon ditutup.

Di Singapura, Netherlands menatap gagang telepon di genggamannya, setengah berharap suara lawan bicaranya akan kembali mengalun dari speaker. Sedetik, dua detik... sepuluh detik berlalu sebelum akhirnya ia mengembalikan gagang telepon ke tempatnya dengan keras.

Jauh, jauh di dalam lubuk hatinya, Netherlands dengan hati-hati mengembalikan sekeping bagian dari dirinya yang terlempar saat hubungan teleponnya terputus. Ia balurkan sedikit lem imajiner - berupa ungkapan maaf yang telah lama terpendam tak sempat diutarakan - dan merekatkannya dengan ratusan kepingan lain.

Puzzle itu belum lengkap dan Netherlands tak yakin apakah benda itu akan bisa kembali seperti semula. Ia bahkan ragu apakah semua kepingan yang ia miliki benar miliknya.

.

.

Hampir dua dekade yang lalu, Indonesia menghancurkan puzzle rahasianya karena emosi semata. Ia belum sempat bertatap muka lagi sejak kunjungan yang terlambat itu bertahun-tahun lalu. Setengah menyesal, setengah lega - ada banyak hal yang belum seluruhnya selesai di antara mereka dan wanita muda itu ingin sekali meluapkannya dalam satu... satu kesempatan.

Ada serpihan-serpihan yang terserak di antara mereka berdua, bercampur dan tertukar dan baik Indonesia maupun Netherlands tak bisa mengenali yang mana yang berasal dari puzzle mereka sendiri. Satu-satunya cara untuk mengenali yang mana miliknya dan miliknya hanyalah dengan bertemu langsung.

Bukan telepon. Bukan e-mail. Bukan face-to-face chat.

Untuk itulah ia memberanikan diri meminta Netherlands menemuinya di sini, tanpa sepengetahuan bos masing-masing. Betapa leganya ia ketika pria itu setuju.

.

.

Mereka menghabiskan menit-menit yang panjang membandingkan puzzle mereka. Benda itu nyaris selesai, meski tak lagi sempurna. Ada noda dan cacat yang mustahil dilewatkan mata yang awas.

"Aku yakin yang ini milikku."

"Tak mungkin--"

"Coba lihat lagi. Teksturnya seperti air mata, wanginya seperti abu yang masih hangat. Ini milikku."

"...Kau benar. Tapi aku tak bisa memberikannya padamu. Aku harus menyusun ulang puzzle-nya kalau keping ini dicabut."

"Puzzle-mu akan hancur...?"

Netherlands mengangguk.

"Kalau begitu... biarkan saja, Itu boleh untukmu."

"Lagipula, aku mengenali beberapa keping di situ..." Netherlands merentangkan jemarinya. "Yang ini bersuara seperti debur ombak di lautan dingin. Yang ini berbisik seperti desir kincir angin. Yang di sana--"

Indonesia beranjak dan mengecup pipinya. "I get it. Kulihat banyak serpihan milikku di dalam puzzle-mu. Semuanya sudah telanjur direkatkan dan aku tak ingin pekerjaan selama bertahun-tahun ini sia-sia dalam satu malam."

"Malam ini tidak sia-sia, Nesia," pria itu bangun, mengambil sehelai pakaian dari lantai dan memberikannya pada lawan bicaranya.

"Aku tahu, Lars. Aku tahu." Indonesia memakai blusnya, lalu melirik ponselnya di dekat lampu tidur. "Sebaiknya kita segera pergi, staf bosku sudah mulai panik aku tidak kunjung tiba di..." ia menghentikan kalimatnya.

Netherlands sudah pindah ke pojok ruangan, di mana ia berusaha memakai sabuknya dengan satui tangan dan memegang ponsel di tangan lainnya, berbicara cepat dalam bahasa Belanda dengan seseorang di seberang sana.

.

.

Mereka punya banyak kesempatan untuk menyapu serpihan-serpihan itu dan membuangnya ke ujung dunia. Melupakannya. Membiarkan angin dan tanah mencabik-cabiknya hingga waktu mengurai mereka jadi tak lebih dari sekedar debu yang mengotori lembaran buku tua. Meski begitu, keduanya rutin memeriksa kepingan teka-teki itu setiap saat, menyatukannya dengan perekat apapun yang mereka miliki; permintaan maaf, perasaan sesal, amarah, lara, tanya, rindu, rindu, rindu...

Mungkin perekat yang terakhir itu yang terbaik untuk menyelesaikan puzzle mereka dan menjaganya agar tak perlu hancur lagi di masa mendatang.

.

.

"Lars?"

"Mhm?"

"Itu kaus kakiku. Kembalikan."




eaaaa eaaaa eaaaaa

next: alarm
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Magma Maiden
Member Avatar
wybu hyna
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: kincir angin/windmill
Fandom: Hetaliaaaaaaaaaaaaaaaaa
Characters: Netherlands. Indonesia/Nesia. NetherNesiaaaaaaaaaaaaaaaaaa



Nesia tak pernah merasa iri pada manusia. Mereka punya hidup yang singkat, tak lebih dari satu tarikan napas baginya. Setelah mati, mereka hanya akan menjadi debu bertabur duka, meninggalkan imaji maya di benak keluarganya. Meninggalkan ilusi seolah sang mati masih berjalan di antara mereka.

Namun sewaktu Nesia menebar kelopak-kelopak bunga itu ke laut, untuk pertama kalinya ia merasa iri pada manusia.

.
.

Dengan tiadanya es di dunia, luas daratan yang bisa dihuni jadi semakin sempit. Pulau-pulau tenggelam, ribuan miliknya hilang ditelan ombak. Meski begitu, hanya sebagian wilayah Indonesia yang tak lagi bisa dihuni secara permanen. Bangsanya cepat beradaptasi dengan ketinggian permukaan laut yang baru.

Keadaan, sayangnya, tidak begitu baik baginya. Hanya dalam hitungan dekade, seluruh negeri itu benar-benar tenggelam di bawah laut. Bangsanya telah lama meninggalkan negeri itu, pindah ke tempat lain yang tak terjamah laut. Dengan cepat mereka berasimilasi ke kebudayaan lain, perlahan-lahan melupakan identitas asli mereka. Nama bangsa itu pun menjadi tak lebih dari sepotong kata di sudut pikiran ahli sejarah. Yang tersisa dari negeri itu hanyalah sebuah turbin angin, kincir angin modern yang menjulang tinggi di atas laut, berselimut lumut dan alga kehijauan.

.
.

Baginya, bagi spesiesnya, kematian adalah sesuatu yang melibatkan begitu banyak aspek: kebudayaan, bahasa, sejarah dan karya-karya suatu bangsa. Jika semua hal di atas itu musnah, maka matilah individu yang merepresentasikannya. Manusia punya banyak cara untuk mencurangi kematian, untuk membuat kehadiran mereka tersisa di dunia: gambar, video, memori pada orang-orang yang mereka cintai. Hal itulah yang membuat mereka masih terus mengingat wajah sang mati, walau mereka jauh dari nisannya.

.

Namun meski Nesia telah menghabiskan sepanjang hari di pantai menebarkan kelopak bunga ke arah kincir angin itu, ia masih tak bisa mengingat wajah Netherlands.



holy sheet I just wrote angst for my OTP and why is the man died again orz

next: complicated/rumit
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Create your own social network with a free forum.
Learn More · Register Now
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone