Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,971 Views)
Arisa Hagiwara
Member Avatar
Intermediate Member
[ *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: postpone/tunda/menunda
fandom: The Hunger Games
chara: Peeta dan Katniss >>>>.<<<<<


Sesaat setelah Peeta memintaku untuk melanjutkan aktingku demi penonton yang telah melimpah ruah di stasiun (astaga, asal kau mau mendengarkanku sekali saja, Peeta, aku tak sepenuhnya berakting!), aku meraih tangannya yang besar dan hangat, tangan yang sejak beberapa hari belakangan tak lagi asing dalam genggamanku. Dan aku tahu keputusanku tepat untuk tak lagi bersikap angkuh di hadapannya. Karena aku memang tak bisa, tidak setelah hari demi hari yang kami lewati di hutan sepi. Tidak setelah aku melihat kaki palsu yang mulai mengetuk tangga itu. Tidak setelah aku menyadari aku bisa saja kehilangan sahabat pemberi rotiku di Hunger Games.

Kami berdua turun dari kereta dengan anggun, tangan Peeta masih meraih milikku, memastikan aku tidak tergelincir. Kami disambut dengan teriakan membahana yang tak pernah kuterima sebelumnya. Sepasang kekasih yang nyaris membuat petinggi Capitol berani membayar dokter bedah plastik terbaik di Panem untuk mengubah wajah mereka karena malu kini menjelma menjadi pahlawan di Distrik 12. Sepasang kekasih, ulangku dalam hati, tidak berani menatap mata biru Peeta di sampingku.

Saat kakiku menjejak dasar tangga, aku sadar aku sudah pulang. Pulang, kata yang rela kutukar dengan semua buruanku di Hunger Games. Menginjak tanah di Distrik 12 nampaknya masih seperti mimpi bagiku. Ya, aku pasti bermimpi, karena tangan Peeta masih menyelimuti genggamanku, masih hangat, masih menenangkan.

Aku tidak mau ini semua berakhir. Aku tahu Peeta akan melepaskan tanganku setelah tak ada yang melihat, mungkin saat kami berpisah di depan pintu rumahku. Kepalaku langsung berdenyut kala kuingat bahwa aku akan menempati rumah baru sebagai hadiah kemenangan. Apakah Peeta akan tinggal satu rumah denganku? Karena pemenang Hunger Games kali ini ada dua, mungkin akan ada dua rumah berbeda yang dibangun. Tapi menurutku itu semua sama saja. Semua akan sama seperti dulu jika Peeta dan aku akhirnya menjadi dua orang yang saling mengenal tapi tak saling mengakui keberadaan satu sama lain.

Tanpa sadar, aku menggenggam tangan Peeta lebih erat sementara kami berjalan di atas karpet yang disediakan. Aku dapat menangkap raut keningnya dari ekor mataku, untuk itu aku memilih untuk menoleh dan menengadah untuk menatap langsung matanya yang tak lagi sudi menatap mataku. Iris birunya tahu bahwa aku tengah memandangnya, dan kuanggap itu sebagai tanda izin bagiku untuk berbicara.

Aku menarik napas dalam-dalam, menggenggam tangannya lebih erat, berusaha mencari ketenangan dalam kehangatan tangannya, kemudian berkata lirih, "Saat kau merasa aku harus menyudahi aktingku, janganlah tarik tanganmu. Tunda dan tunggulah sebentar. Hanya sebentar."

Kau tahu mengapa, Peeta? Karena aku sudah memilih.

.

.

next prompt: UFO (Unidentified Flying Object)/ Piring Terbang
Edited by Arisa Hagiwara, 6 Apr 2012, 10:37 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Arisa Hagiwara
Member Avatar
Intermediate Member
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Apa/What
Fandom: Partikel (Supernova Series karya Dee Lestari)
Chara: Zarah/Paul

Zarah tumbuh bersama fungi, biologi, dan ide-ide gila milik ayahnya. Zarah jatuh cinta pada singa, beruang, orangutan, yang bisa memacu adrenalinnya. Zarah tahu ada yang salah. Ia tahu dirinya tidak seperti wanita kebanyakan yang mendambakan sepatu terbaru keluaran Jean-Paul Gaultier atau berada pada urutan pembeli pertama kala Burberry mengeluarkan koleksi musim dinginnya. Ia hidup di London untuk kerja, setelah ditemukan oleh dia, jauh di pedalaman Kalimantan. Zarah rela meninggalkan segala kesederhanaan di Tanjung Puting dan terbang ke London untuk mencari ayahnya. Atau setidaknya, berusaha mencari petunjuk di mana ayahnya berada.

Awalnya, nama itu tidak begitu mengusik pikiran. Nama yang sudah terlampau sering diucapkannya dengan riang, sekadar untuk memastikan keberadaannya. Walaupun ia tahu tindakan itu tidak perlu, karena dengan tinggi nyaris dua meter, dia dengan mudah menangkap indera penglihatan Zarah.

Sampai Storm menghiasi harinya pun, Zarah tak pernah sadar. Mata itu selalu mengawasinya, seakan tahu bahwa kebahagiaan yang gadis itu alami adalah semu. Tidak nyata. Bagai bom waktu, dia tahu suatu saat Zarah akan meledak. Ia tahu, jauh sebelum Zarah menyadarinya.

Oleh karena itu, Zarah tidak bisa menyembunyikan rasa terima kasih kala dia menemukan pengirim Nikon Titanium-nya, suatu hal yang sudah ia lakukan dengan ulet oleh Storm tapi tak pernah membuahkan hasil. Sedangkan dia? Tiba-tiba menyerahkannya seperti berkata, "Kau mendapat undangan pernikahan. Mau datang?"

Tidak. Zarah tidak pernah mengerti arti tatapan itu. Bukan tatapan hangat, melainkan tatapan melindungi. Seolah Zarah adalah binatang peliharaan yang dibiarkan bebas tetapi tetap dalam pengawasan. Dia selalu siap merentangkan tangan jika gadis itu menghambur ke pelukannya, membutuhkan sosok kakak yang tidak pernah ia dapatkan. Terlebih saat Storm mengkhianatinya. Dia, bersama Zach, selalu setia mendengarkan, tanpa menginterupsi.

Ia bodoh, 'kan? Memuja Storm begitu hebat, padahal dia jauh lebih hebat. Mengagungkan kebaikan Storm karena bersedia membantu mencari pengirim Nikonnya, padahal dia membantu tanpa diminta. Selalu memuji betapa wangi dan rapinya Storm dalam setiap kesempatan, padahal dia, Zarah mengakui sendiri, adalah fotografer yang dapat dengan mudah disenangi banyak orang karena keunikannya.

Oh, Zarah. Kau memang begitu buta. Paul memelukmu di terminal, dengan kau hanya setinggi dadanya, Paul yang kau kira sudah pergi namun kembali hanya untuk melayangkan ciuman perpisahan, seakan kau tidak akan kembali. Paul yang selalu ada, baik saat kau meminta maupun tidak.

Dan jangan hiraukan gema hati itu, Zarah. Hatimu yang selalu menggaungkan pertanyaan sama, "Masih perlukan aku bertanya atas sesuatu yang sebetulnya sudah kuketahui jawabannya?"

Jangan terus bertanya "Apakah?" seperti, "Apakah aku sudah tahu jawabannya?", karena kau sudah tahu, dan pertanyaan dengan awalan "apa" hanya memiliki jawaban pendek dan kau tidak bisa mengelaborasi. Mulailah dengan "Bagaimana?". Selanjutnya, itu terserah padamu.

.

.

......failed

Next prompt: vanilla/vanila
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Arisa Hagiwara
Member Avatar
Intermediate Member
[ *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Subtlety/ketakkentaraan
Fandom: Merlin
Chara: Arthur/Freya (atau Arthur/Freya/Merlin? Terserah deh)


Arthur menendang kerikil yang menghalangi jalannya. Tidak bisa. Batu itu, sama seperti ratusan, bahkan ribuan batu lainnya di tepi danau Avalon, tidak bergeming kala beradu dengan sepatunya. Ia bisa merasakan kakinya menapak, tapi sepertinya tidak dengan kerikil-kerikil itu. Mereka seakan tidak peduli dengan kehadiran Arthur. Oh, atau lebih tepatnya, mereka tidak menyadari keberadaan raja terhebat itu.

Arthur menggeram frustasi seraya mendudukkan diri pada sebuah batu besar di pinggir danau, sementara pandangannya ia lemparkan jauh-jauh, ke seluruh penjuru. Ia tahu, ia sudah mati. Tubuhnya yang berjalan tidak lebih dari seonggok arwah. Tubuhnya yang asli terkubur di sana, puluhan meter di dasar danau, ditemani kumpulan Sidhe yang tidak pernah menjadi temannya. Ironis. Tubuhnya yang sudah tak bernyawa bersemayam di sebuah tempat yang kadang dianggap sebagai gerbang menuju keabadian. Sedangkan jiwanya berkeliaran, tanpa seorang pun menyadari.

Ia benci kenyataan ini.

"Ini tidak terlalu buruk, kan?"

Dengan cepat Arthur memutar kepalanya. Seorang gadis, entah dari mana, sudah duduk di sampingnya, di batu yang sama. Rambutnya yang ikal dan gelap menjuntai hingga punggung, membingkai wajah manisnya. Tunggu. Arthur sepertinya tahu sosok itu.

"Aku Freya, Yang Mulia," gadis itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, tanda penghormatan. "Anda pernah memburuku, bertahun-tahun yang lalu."

"Freya?" Arthur mengerutkan kening. Sedetik kemudian ia tertegun. "Kau... gadis yang dikutuk itu?"

Freya tersenyum tanpa menjawab.

Pria berambut pirang di sebelahnya kembali berkata, "Waktu itu aku melukaimu. Mengapa kau bisa ada di sini? Dan... mengapa kau bisa melihatku?"

Untuk sesaat, Freya terdiam. Ada sorot kerinduan dalam matanya. "Sama seperti Anda. Merlin membawaku ke sini, setelah aku mati."

"Merlin?"

Freya mengangguk. Ia memandang riak kecil di permukaan danau, tak jauh dari tempat mereka duduk. "Dulu, kami memang berencana pergi bersama, meninggalkan Camelot, memulai hidup baru," ia menunduk, "tapi akhirnya semua itu hanya rencana."

"Maaf," kata Arthur seketika. "Sudah terlalu banyak kesalahan yang kuperbuat selama aku hidup."

"Termasuk memercayai Merlin?"

Arthur memandang Freya. Kenangannya kembali ke tahun-tahun sebelumnya, saat sahabat terbaiknya itu masih bersamanya. Ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Merlin sempat murung beberapa hari setelah kau menghilang, yang sekarang aku tahu alasannya. Kalian saling mencintai, bukan?"

Terdengar helaan napas panjang dari Freya. Rautnya berubah murung.

Arthur memaksakan sebuah senyum untuk menenangkan gadis di sampingnya. "Dan kalau itu benar, sejauh yang kulihat, berarti hanya kau wanita yang dicintainya, selain ibunya. Dan aku membunuhmu. Aku yang pantas menerima hukumannya."

"Sudahlah," sergah Freya, kembali mengulas senyum. "Semua sudah berlalu. Anda belum menjawab pertanyaanku. Apakah Anda menyesal telah memercayai Merlin selama ini?"

"Tidak," jawab Arthur langsung, "aku tidak pernah menyesal berteman dengannya. Aku hanya menyesal karena dia terlalu tertutup. Terlalu lihai menyembunyikan kemampuannya. Terlalu baik. Dan... terlalu melindungiku, hingga mengorbankan identitasnya, kebahagiannya, cintanya. Harusnya ialah yang menyesal berteman denganku yang egois ini."

"Tidak, dia tidak menyesal."

"Maksudmu?"

Freya menyelipkan sejumput rambutnya ke belakang telinga sebelum berkata, "Merlin memang paling pandai menyimpan perasaan, tapi dia benar-benar menikmati nasibnya. Takdirnya adalah untuk melindungimu, membantumu menjadi raja yang dicintai rakyat, yang menyatukan Albion. Dia tidak pernah menyesal, walaupun takdir sebesar itu menggelayuti bahunya."

"Apakah itu benar?"

Freya mengangguk. "Merlin memang penuh rahasia, tapi dia orang terhebat yang pernah kukenal."

.

.

.

.

AAAAARGH saya udah lama banget nggak nulis fanfic~ maaf kalo jelek.
Next prompt: Soil/Tanah
Edited by Arisa Hagiwara, 5 May 2013, 02:41 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Fully Featured & Customizable Free Forums
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone