Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,117 Views)
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt :fever/demam
Fandom : SHINee (Screenplays)
Character : Kim Jonghyun
Beware : a little shounen-ai ^^


Lagi-lagi kamu melatih suaramu di dorm. Menyeimbangkan nada, menatap partitur, menggetarkan pita suara. Selalu seperti itu. Namun aku merasa ada yang ganjil—ada yang aneh dengan suaramu. Aku merasa—suara itu berbeda dari biasanya.

Noona neomu yeppeoseo namjadeuri kaman an dwo

"Akh—" selamu perlahan seraya menyentuh leher jenjangmu. Benar, kan?

"Jonghyun hyung?" sapaku perlahan dan mendekatinya yang sedang terengah-engah.

Kamu terdiam sementara, masih memandang serangkaian partitur di hadapanmu, dan mengacuhkan sapaanku. Kemudian kamu duduk dan menormalkan pernafasanmu.

Jonghyun hyung, ada apa denganmu? Tak biasanya kamu begini—kecuali ada suatu hal di dalam dirimu.

"Jonghyun hyung!" sapaku—kini lebih keras. Akhirnya kamu memandangku, menatap bola mata hitam pekatku. "Waeyo?"

Kamu menghela nafasmu lagi. Entah dari mana—aku dapat melihat kepulan nafas dari mulut maupun hidungmu. Atau jangan-jangan yang menyebabkan suaramu menjadi aneh adalah karena ini.

"Jonghyun hyung demam?" tanyaku seraya mendekatimu lebih dekat. Kemudian kurasakan panas yang bersarang di dahimu. Benar, kan? Kamu demam.

"Kamu kan ibunya, Key ah! Seharusnya kamu tahu kondisiku!" jawabmu seraya memukul dadaku perlahan.


Berakhir dengan tidak elitnya :D
Prompt : Book/Buku
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt : Sweat / Peluh
Fandom : 07-Ghost
Character : Castor, Labrador, Razette




Castor menumpahkan teh camomile-nya lagi. Beberapa suster yang berkeliaran di gereja itu terkejut. Sudah keberapa kalinya uskup dengan rambut merah menyala itu menumpahkan tehnya pada hari ini. Dan pekerjaan baru menunggu para suster untuk membersihkan sisa teh yang tumpah tersebut.

Galau menyerang. Memenuhi batin sang uskup sejak saat 'anak itu' datang. Ya, Teito Klein yang merupakan buronan pemerintah datang untuk meminta perlindungan pada gereja. Sebenarnya tidak sengaja ketika Frau, Castor, dan Labrador menemukannya terombang-ambing di pesawat ulang-aling. Maka mereka menyelamatkan bocah tersebut.

Sejak saat Teito datang segalanya berubah.

Labrador tidak lagi membuatkan teh camomile sesering dulu. Bahkan bunga berwarna lavender yang sering Labrador rawat pun, tidak pernah lagi singgah pada rambut merah Castor.

Apa ini yang dinamakan egois?

Namun sudah beberapa kali ia datang ke tempat Labrador, sekedar untuk melihat uskup dengan rambut lavender itu. Atau hanya untuk menyapa Labrador dan meminta Labrador memberikannya bunga berwarna lavender untuknya.

Segalanya ditepis Labrador dengan alasan Castor bukanlah domba yang tersesat. Teito Klein jauh lebih membutuhkannya. Setiap hari.

Peluhnya terasa berat ketika diingat lagi. Ia sudah lelah. Castor hanya ingin Labrador memperhatikannya seperti dahulu.

Castor bangkit ketika ia menyadari beberapa suster membersihkan tumpahan tehnya. Ia tersenyum datar pada suster-suster yang menyempatkan diri membersihkan semua yang kotor di lingkungan gereja.

Tubuh jangkung itu berbalik. Menuju pekarangan gereja yang penuh dengan bunga-bunga, serta satu kolam air mancur yang menjadi dominasi. Dimana seorang makhluk magis hidup di dalamnya.

Langkah Castor menyadarkan makhluk magis itu. Rambut merah yang senada dengan rambut Castor muncul terlebih dahulu.

"Pagi, Razette," sapa Castor. Makhluk magis yang berupa setengah ikan duyung dan setengah manusia itu hanya tersenyum riang. Menyapa Castor dengan nyanyian indah.

Castor masih menatap Razette dengan tatapan datar, namun seketika rautnya berubah setelah sekuntum bunga berwarna lavender tumbuh di sekeliling kolam Razette. "Labrador.." bisik Castor perlahan.

"Hn?" gumam Razette. Tentu. Makhluk magis ini tidak bisa berbicara. Hanya bisa bersenandung dengan riang ataupun sendu.

"Tidak apa-apa, Razette. Aku hanya menyadari bahwa Labrador sedikit berubah akhir-akhir ini," ujar sang uskup.

"..hnnggg..." ujar sang makhluk magis itu lagi. Ia tampak tidak mengerti dengan jawaban Castor.

Apakah peluh Castor terlalu berharga untuk diberikan? Menyadari bahwa ia sudah lelah dalam mengembalikan Labrador seperti semula.




^engga nyambung soalnya tadi saya buat untuk prompt Selfish / Egois, tapi udah keduluan. yasudahlah :D

Next Prompt : Laugh / Tertawa =)) =))
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Fireflies/Kunang-kunang.
Fandom: SHINee.
Chara: Kim Jonghyun.


Ia terbang. Ia bersinar indah. Ia melaju dengan kecepatan tetap. Ia hanya berada di malam hari, kemudian pergi saat esok tiba.

Beberapa orang memang tidak pernah percaya, bagaimana kerja kunang-kunang setiap harinya. Ia muncul dari sarangnya, terbang cepat, lalu mencari makan di padang rumput ketika matahari telah sampai di lelabuhannya.

Tampak seperti Kim Jonghyun.

Ia lelah. Benar-benar lelah, sampai-sampai ia bisa memecah asam laktat di tubuhnya. Syuting MV seharian terkadang membuatnya muak akan keadaan di sekitarnya.

"Jonghyun-hyung, tidakkah kau bisa lihat?" Sebuah suara menahan dirinya, seperti melantunkan lagu indah di telinganya.

"Ne?"

"Lihatlah di bukit sana itu!"

Seketika matanya membulat sempurna. Ribuan kunang-kunang indah menghiasi pandangannya. Sedikit membuatnya... kagum?

Ya, setidaknya dengan melihat kunang-kunang itu ia dapat sedikit ceria.




ABAL. ah sudah deh =w=

Prompt selanjutnya: Dance/Menari.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Leaf/Daun.
Fandom: no fandom, original-fiction.
Pairing/karakter: no pairing/character.


Awalnya dia adalah kabut. Yang selalu menari ringan, yang terbang ke sana kemari. Yang selalu berputar di pikiranku. Tipis saja. Tanpa ada rasa benci sama sekali. Aku menyukai kabut, tapi hanya dalam batas tipisnya, bukan kerangkanya, bukan pula putihnya. Hanya tipis kabut yang selalu beterbangan di pikiranku. Di hatiku juga.

Lalu ia berubah. Menjadi matahari. Menjadi secerah sumber cahaya itu. Dia bagai seseorang yang menjadi inspirasi, walau terkadang menyesakkan dan bodoh, ia tetap matahari.

Dan tiba-tiba ia berubah lagi. Menjadi sebuah hujan. Tanpa sadar ia turun dalam hatiku, dalam keremangan gerimis dan petir yang menghiasi langit hatiku, lalu meninggalkan sebuah jejak yang sangat membekas.

Aku benci hujan. Walau selama ini terkesan bahwa aku menyukai hujan, tapi sebenarnya aku membenci hujan. Benci ketika petir menampilkan siluetnya, benci pula ketika hujan itu mengikis tanah-tanah. Karena tanah tak bisa membuat dirinya lagi, sama seperti hatiku.

Dengan hempasan yang kuat, ia berubah untuk ketiga kalinya. Kini menjadi angin. sama seperti kabut di awal, namun lebih spesifik. Aku lebih menyukainya menjadi angin, karena angin bebas kemanapun, tidak terikat pada satu tempat dan selalu menyejukkan hati orang-orang.

Lalu dia mulai bertanya.. siapa aku.

Aku hanya daun. Lihat?

Aku hanyalah daun yang jatuh karena angin. Hampir setiap orang pernah menyayangi seseorang, dalam hal ini aku menyayangi sang angin. Lalu aku mendapat kekecewaan, yaitu diberi pengharapan yang besar tapi kemudian dijatuhkan dengan mudahnya, yang berarti sebuah kehilangan.

Perasaan itu tak bisa dipaksakan, itulah hidup. Tak selamanya jika kita menyayangi seseorang, orang itu juga harus membalas perasaan kita. Hak kita untuk menyayangi seseorang, tapi dia juga memiliki hak untuk membalas perasaan kita ataupun menolak perasaan kita.

Perasaan itu tak dapat dipaksakan. Maka aku akan selalu ingat, bahwa aku tak bisa memaksa dia untuk membalas perasaanku juga. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. ya, kan?

Daun tak pernah sekalipun membenci angin yang menjatuhkannya. Daun juga tak pernah menyalahkan angin yang menjatuhkannya.

Aku tak bisa membencinya ketika aku telah jatuh karenanya. Aku tak bisa menyalahkannya karena telah membuatku menyukainya. Dan angin itu tidak bisa menerima perasaanku. Ia telah menyukai orang lain sebelum aku mengetahui itu semua.

Padahal aku sudah mengungkapkan semua perasaanku.

Apa yang harus kulakukan sekarang adalah menerima segalanya, lalu mengikhlaskan dirinya. Mengikhlaskan dia untuk pergi begitu saja, layaknya angin.

Aku sudah mencoba. Susah, memang, tapi aku harus melakukannya. Dengan begitu.. semuanya akan baik-baik saja.

Daun. Ya, aku tak akan membenci angin yang membuatku jatuh cinta padanya. Entah sampai kapan perasaanku selalu terpaut padanya.


ma-maaf saya bikinnya orifict. m(_ _)m

next prompt: Paper/Kertas.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Soap Opera/Opera Sabun/telenovela
Fandom: The Green Hornet baru nonton tadi #dor
Character: Kato Jay Chou yang cakep banget bikin tepar oooooh~


Astaga. Sudah berapa lama Kato pindah dari Shanghai ke Los Angeles? Hm. Lebih dari sepuluh tahun sepertinya, dan terkadang ia lebih menyukai berada di L.A daripada di Shanghai. Yaaah... Shanghai kan kota orang-orang kolot yang setiap hari hanya bisa berdoa dengan dupa dan menyuruh anak-anaknya mengikuti latihan militer yang ketat.

Dan parahnya, Kato adalah satu dari puluhan juta anak-anak yang diharuskan mempelajari setiap gerakan militer. Termasuk bertarung dengan tangan kosong. Well, kejadian itu sudah lebih dari sepuluh tahun lalu. Ingat. Lebih-dari-sepuluh-tahun-lalu. Jadi, jangan bawa-bawa kehidupan itu lagi kemari.

Los Angeles merupakan kota yang nyaman, namun semenjak kematian majikannya yang lama... Kato dipekerjakan lagi oleh anak majikannya. Alhasil mereka menjadi sekumpulan berandal bernama The Green Hornet.

Oh ralat, bukan berandalan, pahlawan lebih tepatnya.

Okay, dan kini Kato masih mengadakan eksprimen mengenai mobil dari The Green Hornet yang memiliki banyak senjata. Sedangkan majikannya, Britt Reid, masih terkena sindrom Mono (sebenarnya bukan sindrom, itu adalah gas bius yang diciptakan oleh Kato sendiri, dan tak sengaja mengenai Britt).

"Nah, para pemirsa sekalian, saksikan opera yang akan dilaksanakan lima menit lagi~"

Kato menghentikan eksperimennya. Ia memandang layar televisi yang menampilkan sederet artis-artis keren (tentu saja, artis-artis tersebut adalah pemain opera yang akan berlangsung beberapa menit lagi). WTF! Apaan itu? Tiba-tiba saja dua orang dari mereka bergandengan tangan saat bermain piano bersama!

Aha! Mungkin saja ia bisa mempraktekkan adegan tersebut pada Lenore apabila mereka bertemu beberapa hari lagi. Yah, setidaknya opera sabun (benar itu kan namanya?) bisa membangkitkan inspirasi Kato saat berada di dekat Lenore.

Kato, you're lucky man!


Jay Chou cakep banget asdfjkl! dia kereeeeeeeen :love:

NEXT PROMPT: Adventure/Petualangan.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Awards/Penghargaan.
Fandom: The Green Hornet.
Chara: Britt Reid, Kato yang sekali lagi, masih bikin tepar aaaaa


Britt tahu, ketika ia memulai kebohongan ini, ia belum merencanakannya dengan matang. Karena sebenarnya, ia mengawali hal ini hanya karena ingin membalas dendam atas ketidakbaikan ayahandanya. The Green Hornet... apa-apaan itu. Itu hanyalah nama virtual yang ia berikan untuk dirinya sendiri (tentu saja, ia melakukannya untuk menyebarluaskan nama itu dibalik ketenarannya di depan layar sebagai Direktur Daily Sentinel).

Kato tahu, setelah ia bekerja sama dengan Britt sebagai pembohong publik (dalam hal ini sebagai partner dari The Green Hornet), ia akan menghadapi sejuta masyarakat yang tidak tenang akibat kelakuan mereka. Ia mendukung Britt, ia merelakan waktunya untuk membantu Britt sebagai The Green Hornet, ia juga menjadi pelayan keluarga Reid lagi.

Dan mereka sama-sama tahu, penghargaan yang pantas untuk mereka hanyalah: pahlawan berkedok penjahat.


:kiss: :kiss: :excited: aaaaaaaaaa Kato keren asdfjkl!
NEXT PROMPT: Time Capsule/Kapsul Waktu
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Alone/Sendiri.
Fandom: The Green Hornet astaga... lagi-lagi iniiii
Character: Britt Reid si manusia ganteng, tapi lebih awesome Kato aaaaa


"Yo! Yo! Wohoooo!" teriak Britt bersama seorang gadis yang berada di mobil limousine-nya ini. Mereka menonton sebuah channel televisi tentang disko dan semacamnya... yang jelas, mereka sedang menikmati dunia fana. Minuman beralkohol, wanita-wanita cantik, mobil mewah: itulah kehidupan Britt selama ini (dan tentu ayahnya membiayai segala keperluan Britt itu).

Namun para wartawan menghadang perjalanan mobil limousine milik Britt, memenuhi sebagian pintu gerbang rumah mewahnya, bahkan memaksa masuk ke halaman rumah. Lantas, Britt langsung mengganti channel televisi yang sedang ia tonton.

"James Reid meninggal dunia karena terkena overdosis sengatan lebah," salah satu wartawan di televisi itu berbicara.

"EH?" Britt terdiam. Membatu.

Ia sejenak meninggalkan seorang gadis di sampingnya, lalu berkonsentrasi dalam menyerap berita tersebut. Ayahnya? Meninggal dunia? Padahal kemarin... BARU SAJA KEMARIN, ayahnya mengomentari Britt soal kemewahan yang hanya sementara dan seharusnya Britt bersekolah dengan baik. Ia sebal: entah karena ayahnya yang terkesan selalu mengekangnya, entah karena ia belum membalas dendam tentang nasihat ayahnya, entah karena ia akan melewati masa hidupnya sendirian. Benar: SENDIRIAN.

Britt belum pernah sendirian di dunia ini. Setidaknya, walaupun James berada di kantor sepanjang hari, Britt tidak akan kesepian karena ia yakin bahwa ayah akan pulang malam nanti. Sebelum ini, sendirian adalah pantangan bagi Britt. Lalu apa? Apakah ia bisa melewati itu semua dengan baik?

Britt, selamat. Ini hal baru bagimu.


ooooh Britt kasihaaan :pout: tapi Kato cakeeeeep >_<
NEXT PROMPT: Sleepy/Mengantuk
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: toxin (atau toxic?)/racun
fandom: big time rush
chara: logan mitchell, jo taylor call me weird, but it isn't change anything. i love this pairing. ;; /////// ;; *heh*
"Tsk. Kayak racun aja."

"What?"

Pemuda dengan surai gelap itu menyeringai ganjil, sementara kedua irisnya menatap dara Taylor dengan lembut. Ya, ya, itu tidak akan mengubah apapun. Hanya saling memandang dan berinteraksi saja tidaklah cukup untuk mengatakan segalanya, Logan Mitchell, kau tahu itu. Padahal selama ini Logan tahu bahwa ia telah mengalami kejadian tak terduga dengan Camille saat perjumpaan pertamanya dengan Jo. Tapi, tampaknya, itu tidaklah berpengaruh besar bagi perilaku Logan untuk saat ini. Atau setidaknya, itulah yang Logan pikirkan—yang ia harapkan bukanlah Camille, tapi Jo. Rasa itu telah meluap, mengakibatkan sesak memenuhi dadanya.

"—nothing."

"Aku dengar apa yang kamu katakan," sang dara angkat bicara. Jemarinya menyisir perlahan surai pirang yang mulai diterbangkan angin Hotel Palm Woods, lantas bibirnya terbuka kembali, "menurutmu aku seperti racun?" Terdengar nada yang lebih tinggi dari sebelumnya, dan Logan terhenyak sejenak. Bukan murni seperti racun mematikan. Bagaimana mungkin Logan tidak memberi titel racun bagi gadis jelita tersebut bila eksistensinya semakin lama membuat kondisi persahabatannya dengan Kendall dipenuhi cemburu? Oke, Kendall tidak cemburu, ia tahu—tapi dirinyalah yang merasakan cemburu berkepanjangan. Sekali lagi ia tegaskan, bahwa yang ia inginkan memang gadis ini. Bukan gadis lain lagi.

That's enough.

"A—ahaha, jangan diambil hati, memang seperti racun kok," jeda. Tak berapa lama. Mungkin hanya satu atau dua detik yang melonggarkan perkataan Logan, "racun yang bisa membuat hidup orang sekarat, mungkin?" Dan keduanya terbahak garing.
oke, ini fail. silakan buang saya. *shot*

next prompt: escape/melarikan diri.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: fan / kipas angin
fandom: percy jackson and the olympians - greek mythology
chara: dionysus, ariadne
Tangannya gemetar, iris cokelat itu mengerjap perlahan, memandang sosok dengan muka masam di hadapannya. Ia tak pernah datang ke Perkemahan Blasteran sebelum ini, hanya memandang dari Olympus dan mengamati apa yang terjadi di bawah sana. Tapi ia harus ke mari dengan sedikit-banyak alasan. Dewi Minor sepertinya bisa datang kapanpun yang ia mau, kan? Masih dalam euforia gemetar, tangannya terangkat lembut, menjangkau surai-surai keriting yang tak terawat. Ariadne membelai rambut Dionysus.

"Mengapa kau datang ke mari?"

Suara Dionysus masih sama seperti ketika mereka berpisah beberapa tahun lalu, meski terdengar bebarengan dengan suara kipas angin di sudut ruangan. Ariadne terdiam, lidahnya kelu—tak sanggup mengatakan apapun. Padahal ia repot-repot datang ke tempat ini untuk mengatakan beberapa hal. Oh crap, betapa ia merindukan sosok Dionysus. Mulutnya terbuka,

_____________________

"Hei, Dionysus,

kalau saja aku bisa membujuk Zeus untuk mengurangi masa hukumanmu menjadi setengah, mungkin tahun ini kita sudah berada di Olympus bersama, mengerjakan tugas-tugas kedewaan bersama, dan segalanya bersama. Tidakkah menyenangkan, bagimu? Aku—aku—ingin kau kembali, secepatnya. Aku tidak suka ketika Zeus menyuruhmu untuk turun ke dunia fana cepat-cepat dan datang ke perkemahan terkutuk ini. Padahal beliau mengerti bahwa kita hanya berjumpa selama beberapa menit saja. Di sini aku cuma bisa berharap agar tahun demi tahun bergulir cepat, dan satu abad akan terasa seperti satu detik. Dan harapanku yang lain agar kau tidak lagi membenci blasteran. Mereka baik, sungguh. Jangan ingat-ingat lagi kenangan menyakitkan yang pernah kau alami.

Aku merindukanmu, karena itu aku ada di hadapanmu."

_____________________

namun tak mengucapkan kata-kata yang telah ia siapkan.

"Aku merindukanmu, kau tahu—ah, kau pasti tahu, jadi tak usah dibahas lagi," ujar Dionysus. Ariadne mengurungkan niatnya, makin membuatnya terdiam, ia tak tahu bila suaminya bisa memberikannya kalimat-kalimat romantisme seperti itu tanpa diselingi kata makian sederhana. "Jadi, kenapa kau ke sini? Zeus menyuruhmu?" Dewa Anggur itu menggamit tangan Ariadne yang masih membelai surai keritingnya, menggenggamnya erat-erat seolah berkata dia ini milikku yang berharga. Tapi, yah; apa yang kau harapkan dari tindakan Dionysus, eh?

Ariadne menggeleng. Ia merengkuh tubuh Dionysus, membawanya ke dalam dekapannya dalam satu satuan waktu. "Aku ingin menemuimu, sebentar saja kok." Dan yang kini terdengar hanyalah suara kipas angin berderak, yang mana suaranya mampu meredupkan hingar-bingar bahagia di antara kedua immortal tersebut.
promptnya nggak kerasa? biarin. lagi blending. :"| *blendingsiapa*

next prompt: KOWAWA. *HEH*
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: stepmother / ibu tiri
fandom: percy jackson and the olympians - greek mythology
chara: dionysus/ariadne (/////////) #heh
"Kau benar-benar tidak mau menemui mereka?"

Dionysus mengerutkan dahi, ia menunggu satu-satunya jawaban yang mungkin akan terlontar dari bibir istrinya sendiri, dan hal ini adalah salah satu dari ribuan hal yang paling ia kutuk sepanjang tahun. Maaf saja, Dewa Anggur sepertinya tak ada waktu untuk mengurusi hal semacam tunggu-tungguan begini, namun—ini untuk Ariadne, jadi apa boleh buat. Ia tak mungkin kan, mengatakan kata-kata kasar bagi sang istri yang telah menantinya setiap titik balik musim dingin? Kali ini saja, ia harus melakukan penantian untuk sebuah jawaban, untuk mengalah. Toh hanya Dewi Labirin tersebut yang mampu mengambil alih seluruh perhatiannya hingga saat ini; meskipun wanita mortal lain pernah menggantikan posisi Ariadne, tapi itu tak berpengaruh banyak. Bagaimanapun, di dalam relung hati Dionysus masih menyimpan Ariadne sebagai sang ratu cakrawala.

"Yah, walaupun para blasteran cilik itu tergolong nakal, tapi kalau denganmu sepertinya akan jadi penurut."

Ariadne, untuk ke sekian kalinya, menggeleng; menolak ajakan Dionysus. Sudah beberapa kali ia tampilkan kesan bahwa ia tidak mau menemui blasteran yang merupakan anak dari Dionysus bersama dengan mortal. Ia bukannya tidak suka dengan blasteran, mengingat ia pernah dicampakkan begitu saja oleh Theseus, namun sebagai seorang Dewi—tentu saja ia menyukai anak-anak kecil yang ditakdirkan sebagai seorang pahlawan itu. Para immortal selalu membutuhkan blasteran untuk menyeimbangkan alam, mencegah peperangan, serta mendamaikan setiap makhluk; begitu kata mereka-mereka. Ariadne mengembangkan senyum di cekungan wajahnya, "hmm yah, menurutku mereka akan sebal padaku."

Dionysus mengedikkan bahu, menyambar satu tangan Ariadne untuk ia genggam sendiri, "well, kenapa? Kau baik—." Ada gerakan tentatif yang dilangsungkan oleh jemari Ariadne yang masih bebas, mengunci mulut Dionysus hingga menggantungkan kalimat yang belum tentu arahnya. Untuk beberapa saat, suasana di antara mereka terkulum bisu. Ariadne terkekeh, kemudian melepaskan jemari tersebut, dan menatap masing-masing biner keunguan itu secara intens. Terkadang ia bisa menemukan kantung mata yang mulai menghitam di permukaan kulit Dionysus.

"Dengar, ya, aku adalah ibu tiri mereka—bisa dibilang begitu. Dan kalau anak-anak itu bertemu dengan ibu tirinya, mereka pasti akan bersikap tidak suka. Sudahlah, jangan lagi simpankan renjana untukku," ujar Dewi dengan surai kecokelatan tersebut. "Lagipula, kau sendiri yang salah, kenapa masih mengawini mortal." Senyumnya kini luntur.

Dionysus mengerjapkan matanya.

"Eh—itu—."

Gotcha.
super fail. \o/ #apa
lagi blending pasca role-chat. mau nggak mau bikin ginian. #curcol :"|

next prompt: Plexus / Anyaman.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
kuroliv
Member Avatar
★彡
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Politic/Politik.
Fandom: D.Gray-Man.
Chara: Noah Clan tapi cuma Road Kamelot sama Earl Millennium, sih ='))
Ruangan itu sunyi, hanya beberapa orang dengan kulit hitam dan tujuh tanda di dahi yang hadir. Selain itu? Entah. Mereka-mereka adalah Noah Clan yang berkeliling dunia dan bekerja untuk Earl Millennium, merepresentasikan segala kekuatan yang berhasil mereka dapatkan. Kata orang-orang, Noah adalah clan manusia yang paling kuat, dianugerahi kekuatan langsung dari Kami-sama, dan mampu melakukan kegiatan yang di luar batas manusia normal. Masing-masing tahu apa yang harus mereka lakukan. Earl Millennium adalah sang Adam, menjadi pusat di antara semua kegiatan Noah, membujuk manusia yang sedang berada dalam keputus-asaan untuk membuat sebuah akuma dengan kesedihan mereka. Picik, memang, menggunakan kelemahan untuk membuat senjata berupa akuma.

Mereka kembali, fellas, di bawah pimpinan seorang Adam.

Mereka, Noah Clan, ada di sekitar kalian untuk menebarkan kebencian, mencari dan memusnahkan innocence, serta menjadi mimpi terburuk abad ini.

"Kalau begitu, biarkan aku yang pertama kali tampil ya, Earl!"

Road terkekeh, kepalanya bertumpu pada kedua tangan yang dipangkukan, senyumnya timpang. Bocah perempuan dengan surai biru donker tersebut mengawang, pandangannya mengindikasikan bahwa dirinya sudah menentukan apa yang akan ia lakukan untuk menjebak para Exorcist. Dream, representasi kekuatan dari sosok Road Kamelot. Tak ada yang bisa mengalahkannya dalam ilusi dan mimpi. Tak ada, dan tak akan bisa. Bermimpi saja, sayang, karena ia yang akan membimbing para Exorcist busuk itu ke dalam dinginnya neraka. Hahaha. Politik antar Noah, adalah bagaimana cara mereka untuk mendapatkan perhatian Earl Millennium dengan cepat, dan menyuruh mereka untuk hadir ke hadapan musuh. Road Kamelot pintar, bukan?

"U-hoho. Baiklah, Road. Silakan. Kerjalah yang benar."

Ulasan kurva di wajahnya semakin melebar. Inilah dirinya, yang berhasil membujuk Earl Millennium sebagai pemimpin untuk menurunkannya terlebih dahulu. Holydamnsht. Bukankah para Exorcist dungu itu seharusnya bersembunyi dan lari ke pelukan mami secepatnya? Dasar. Stupid, stupid.
ASDKJFKLDA. MAAF NGGAK NYAMBUNG SAMA PROMPTNYA ; w ; *tenggelamin diri ke sungai*

Next Prompt: Recusant/Pemberontak.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone