Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,866 Views)
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt : Coffin/Peti Mayat
Fandom : Detective Conan
Character : Chris Vineyard/Vermouth
.
Ratusan - bukan, ribuan orang datang ke katedral St. Petrus di New York saat itu. Mereka memakai baju serba hitam.

Alasan kenapa mereka memakai baju itu sangatlah jelas. Untuk menghadiri pemakaman Sharon Vineyard, aktris terkenal di Amerika saat itu. Terlihat wajah tenang aktris itu terbaring lemas di peti mati.

Di antara wajah yang menunjukkan simpati dan belas kasihan itu, ada satu wajah yang tidak menunjukkan rasa sedih sama sekali.

Semua wartawan yang menghadiri pemakaman itu merasa heran dengan kelakuan wanita itu. Kenapa dia tidak menitikkan air mata, di hadapan pemakaman ibunya sendiri?

Dipenuhi rasa ingin tahu, mereka mulai dengan perlahan mendekati wanita itu sambil melemparkan berbagai pertanyaan. Video perekam dan mic diarahkan ke wanita itu.

"Nona Chris, ada apa dengan sikap anda hari ini?"

"Kenapa anda bersikap biasa di hari pemakaman ibu anda?"

"Apakah hubungan anda dengan ibu anda sangat buruk?"

Chris tidak menjawab. Dia terus memandangi peti mati di depannya. Sungguh, tidak ada gunanya dia menangisi peti busuk ini. Tangisan hanya untuk orang lemah saja, yang tidak dapat melindungi dirinya sendiri.

Tersenyum, dia memalingkan muka dari peti mati itu, dan tanpa ekspresi mengucapkan kata-kata yang akan menjadi sangat terkenal di kemudian hari.

"A secret makes a woman woman"
.
Gaje ah =.=;;

Prompt selanjutnya : Blackberry Strawberry/Stroberi <---- belum pernah dipakai, kan?
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
^promptnya kejam amat sih #plak
.
Prompt : Savage/beringas
Fandom : One Piece
Character : Rob Lucci
WARNING : Bad language, violence, blood scene.
.
.
Dia adalah pembunuh berdarah dingin. Tidak ada orang lain yang sejahat dia.

Membunuh adalah hobinya, hidupnya. Tidak ada belas kasihan di dalam matanya. Yang ada hanyalah kematian.

Dalam menjalankan misi, dia tidak kenal ampun. Apapun yang menghalangi akan dia bunuh.

Ya, itulah kenyataan tentang dia.

Anggota kelompok pembunuh rahasia milik World Government.

Walaupun muda, tapi kekejamannya tidak dapat dibayangkan lagi.

.

"Kerja bagus," ucap Spandam dengan bangga dari balik denden mushi. Lucci dapat membayangkan bosnya sekarang sedang menyeruput teh di ruangannya dengan senyum lebar terpampang di wajahnya. "Sekarang bawa kemari bos sindikat itu. Usahakan jangan sampai membunuh dia, sebab dia adalah informan yang penting."

"Baik, bos," jawab Lucci singkat lalu menutup pembicaraan. Dia mengantongi Denden Musih itu di kantong bajunya dan mengangkat tubuh bos sindikat mafia yang tak berdaya di bahunya.

Belum sempat dia berjalan, tiba-tiba ada pistol yang ditembakkan ke arah kepalanya. Dengan refleks, dia menggunakan Kami-E untuk menghindar. Dengan tatapan hampa, dia berpaling ke belakang. Rupanya anak buah dari orang yang ada di bahunya saat ini.

"Takkan..hah...kubiarkan kau lari begitu saja..." ujar seorang yang memegang pistol, sekujur tubuhnya bersimbah darah. Namun ajaibnya, dia masih bisa berdiri.

Rob Lucci tidak menjawab. Anak buah itu menjadi kesal. Dia mengeluarkan pedangnya dan maju menerjang Lucci.

"Lawan aku, brengsek!" teriaknya penuh kemarahan.

Sayangnya, itu bukan pilihan tepat.

Lucci menyerang dia dengan shigan, tepat di dada kanan, sebelum dia sempat mengayunkan pedangnya. Pria itu meringis kesakitan.

"Hah...hah...kau..."

Namun Lucci menyerangnya lagi. Dia menambah luka-luka dalam di tubuh pria itu. Dia bukan menyiksa, tapi ingin mempercepat proses kematian orang itu agar tidak ada lagi pengganggu.

Berkali-kali, dia menusukkan jarinya ke tubuh pria itu. Sampai akhirnya pria itu roboh. Jarinya sendiri sudah berlumuran darah banyak.

Melihat dia sudah mati, Lucci beranjak pergi. Namun dia sedikit kaget, sedikit kagum ketika merasakan bahwa pria itu tetap berdiri. Kali ini dia menurunkan tubuh bos sindikat dari pundaknya, dan berpaling ke pria itu. Matanya menunjukkan tatapan membunuh.

"Dasar bodoh."

Dia berubah menjadi bentuk hybrid macan tutul, dan mulai menyerang pria itu secara brutal. Lolongan dan jeritan kesakitan bergema di gedung itu.
.
.
Gaje nih =.=

Next prompt : Angel/Malaikat
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt : Sky/Langit
Fandom : Digimon
Chara : Yagami Taichi. Hints of Taiora, need I say more? :D
.
.
"Kerja bagus, Taichi!" puji pelatih klub sepakbola dari pinggir lapangan. "Kau boleh istirahat kalau kau mau."

"Terima kasih, Kuwa-sensei," kata Taichi sambil menyeka peluh di wajahnya. Dia memasukkan bolanya ke dalam tas miliknya, lalu berjalan menuju tempat kosong di pinggir lapangan. Dia berbaring di atas rumput, kedua tangan di atas kepala. Mata coklatnya menatap langit biru cerah di atas.

Dia sangat menyukai langit cerah seperti ini. Menawarkan keindahan alam untuk dipandang.

'Tapi tidak ada langit yang seindah dia,' batin Taichi, mukanya merona sedikit.

Dia menggelengkan kepalanya lagi. Dia tidak ingin bayangan gadis yang telah mencuri hatinya itu terus menghantui dirinya. Dia memfokuskan pandangannya ke langit lagi.

.

Langit...

Begitu indah, begitu dekat.

Tapi sangat jauh.

Sejauh apapun kau mengulurkan tangan, kau tidak dapat meraih langit.

Yang kau bisa lakukan hanyalah memandang dan mengagumi dari kejauhan.

.

Hati Taichi terasa perih ketika memikirkan hal ini.

Langit, sama seperti dia.

Walaupun rasanya dekat, tapi sangat jauh untuk diraih.

'Kenapa... aku bodoh sekali? Aku tidak menyampaikan perasaanku sejak awal. Dan sekarang... dia sudah jauh. Yang bisa kulakukan hanyalah memandang dari kejauhan.'

Dia bangun dan beranjak pergi ke lapangan kembali. Pikirannya terus menghantui dirinya.

'Sora...'
.
.
Gaje ah.
Tapi rasanya bagus juga dibuat jadi fic.

Next prompt : Eiffel Tower/Menara Eiffel #plak
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt : Advertise/Iklan
Fandom : Supernatural
Chara : Sam, Dean Not incest! >:(
Warning : Some adult theme. No lemon or lime. Don't worry.
.
.
Sehabis mandi, Sam yang keluar dari kamar mandi mendapati kakaknya sedang mengacak-acak isi tasnya.

"Hei, kau sedang apa?" tanya Sam keheranan. Dean melirik ke arah adiknya, sebuah senyum licik mengembang di wajahnya.

"Ah, Sam. Kau tahu di mana sisa uang simpanan kita? Aku mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ada," Dean bertanya balik. Meskipun dia tahu kenapa uang mereka tidak ada lagi.

Sam memandang kakaknya dengan pandangan kesal. "Dean, apakah kau lupa, kau menghabiskan semua uangnya semalam...HANYA UNTUK MINUM BIR BUAT MENGISI MASA-MASA SEBELUM KAU- agh, aku tidak percaya dengan kau!" Dia menggarukkan kepalanya sebagai tanda kekesalan. Dean hanya tersenyum malu.

"Hei, tenanglah. Aku ada ide, bagaimana kita mengisi kekosongan uang kita saat ini." Dia meraih selembar kertas di atas meja lampu dan melemparkannya ke arah Sam. "Bacalah."

Sedikit merengut, Sam membaca kertas itu. Matanya tiba-tiba berubah menjadi horor. "De-Dean, kau serius?" tanyanya tidak percaya. Dean hanya mengangkat alis.

"Memangnya kenapa?" tanyanya dengan polos. "Hanya itu cara supaya kita bisa mendapatkan uang."

"I-iya, tapi ini..."

"Apa?"

"Ini male stripper!" Sam melempar kertas itu ke lantai dengan furious. "Kau mau kita melakukan pekerjaan ini, hah?"

"Siapa bilang kita?" Dean berkata sembari meneguk segelas air.

"Apa?" Sam tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Masa sih dia...

"Kau yang akan melakukannya," kata Dean, senyum licik di wajahnya melebar. Mata Sam melebar. Dia segera mendorong Dean ke dinding. "Kau mau aku melakukan ini? Kau kira aku ini apa?"

"Hei, tenang." Dean melepaskan tangan Sam di kerah bajunya. "Kau seharusnya beruntung. Pekerjaan ini menghasilkan banyak uang di kota ini. Plus, kau kan punya badan dan wajah bagus pemberian Tuhan, manfaatkan itu dengan baik." Dia menjauh dari adiknya dan tertawa kecil. Sam hanya menggerutu kecil.

"Kukira kau tidak percaya Tuhan?" tantangnya.

"Ah, memang." Dia berpaling ke Sam, senyumnya tambah licik saja. "Dan oh ya..."

"Apa?"

"Kalau ada hot chick yang datang, sisakan aku sedikit ya." Dan Dean menerima lemparan bantal tepat di mukanya sebagai balasan.
.
.
Next prompt : Physics/Fisika *dibata karena ngasih prompt gak jelas*
Edited by Shoo, 2 Oct 2010, 03:48 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt : Ruby/Batu Rubi
Fandom : Digimon
Chara : Taichi, Sora
Pairing : Taiora, Yakari :D *dibata*
Warning : AU, medieval
.
.
"Ke mana dia?" teriak Yagami Yuuko yang menggema di seluruh istana.

"Maafkan kami, Yang Mulia Ratu," kata pelayannya sambil membungkuk, "saat Tuan Pangeran Taichi mau pergi ke kandang kuda bersama Tuan Putri Hikari dan Tuan Yamato, kami tidak mengira bahwa mereka akan melepaskan kuda mereka dan pergi ke kota begitu saja. Maafkan kami..."

~

"Jadi, gampang eh?" tawa Yamato di atas kudanya. Mereka bertiga kini sampai di kota.

"Tidak kusangka, kita bisa kabur seperti ini, onii-chan," kata Hikari kepada kakaknya yang berada di sampingnya. Mereka berhenti di tempat jasa penitipan kuda, dan mulai memakai tudung jubah mereka untuk menyembunyikan identitas. Setelah menitipkan kuda, mereka mulai berjalan ke dalam kota. Bagi mereka, berjalan-jalan bersama rakyat biasa ini lebih menyenangkan daripada hanya berdiam diri di dalam istana.

Sepanjang perjalanan, muka Hikari terlihat gelisah, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan. Wajah Yamato juga sama, meskipun dia dapat menyembunyikan dengan baik. Taichi terkikik kecil melihat tingkah mereka. Dia tahu apa yang mereka inginkan. Dan tebakannya terbukti benar ketika Hikari mulai bersuara.

"Onii-chan, bolehkan aku pergi ke sana?" tanyanya, menunjuk ke arah kanan mereka. Taichi mengangkat alis, memasang muka penuh curiga.

"Dan bolehkan aku tahu, kenapa? Siapa yang akan menemanimu?"

"Err..." Hikari kehabisan kata-kata. Taichi melirik ke arah Yamato yang agak terkejut. Gotcha! Taichi mengedipkan mata ke sahabatnya itu, dan kemudian tidak dapat menahan diri untuk tertawa.

"Kalau kalian mau pergi berdua, bilang saja," katanya di sela tawa, membuat muka kedua yang lainnya merah. "Pergilah. Aku tidak apa-apa kok."

"Terima kasih, onii-chan!" Hikari memeluk kakaknya dengan senang dan menarik tangan Yamato, meninggalkan Taichi yang hanya geleng-geleng kepala.

~

Taichi berjalan-jalan menyusuri pasar sambil bersiul kecil. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan jeritan yang berada tidak jauh dari posisinya. Mengikuti asal suara, dia berlari ke tempat tersebut. Rupanya suara itu berasal dari seorang gadis berpakaian lusuh yang dikeliling oleh empat-lima orang pria.

"Haha, nona kecil, kau kira kau bisa kabur dari kami begitu saja?" kata seorang dengan badan kekar, suaranya sangat serak. Gadis itu mundur ketakutan dengan gugup, akibatnya dia terjatuh ke tanah karena kehilangan keseimbangan.

"Heh, bos. Jangan banyak menunggu. Cepat kita bereskan urusan ini," ujar seorang yang jangkung di sampingnya. Pria gendut itu tersenyum, menampilkan gigi-gigi buruknya.

"Baiklah. Semuanya, maju!"

Mereka maju menyerang gadis itu, tapi tiba-tiba dihalang oleh seseorang.

"Hentikan perbuatan kalian!" bentak Taichi, menghalangi para pria itu menyerang gadis lemah tadi. Pria itu mendengus kasar.

"Kau beruntung, hah, gadis muda. Kau punya penyelamat. Tapi tunggu saja, kami pasti akan membuat perhitungan denganmu." Dan dengan kata-kata itu, mereka pergi. Taichi berpaling dan membantu gadis itu berdiri.

"Tidak apa-apa, mereka sudah pergi," kata Taichi lembut, mencoba menenangkan gadis itu. Gadis itu menghadap ke Taichi, mukanya sedikit menunjukkan rasa takut.

"Terima kasih, siapapun kau..." kata gadis itu. Tapi bukan itu yang membuat Taichi terkejut. Tapi matanya...

Matanya merah cerah.

Seperti ruby.
.
.
Super gaje dan klasik banget! /dibata.

Ada yang berniat melanjutkan? :P

Next prompt : Secret/Rahasia
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Nothing/Tidak Ada
Fandom: Harry Potter
Chara: Harry, Hermione



"Jadi, kita sebenarnya apa?"

Hermione hanya menunduk, tidak berani menatap mata hijau Harry. Dia merasa sangat tertekan, juga bingung dan malu.

"Tidak ada, Harry. Kita bukan apa-apa," desahnya pelan. Harry menjadi kesal, dia memegang pundak Hermione, memaksa gadis pirang itu menatapnya.

"Tapi, Hermione," kata Harry dengan lembut, "bagaimana dengan apa yang kita lakukan selama ini? Bagaimana dengan waktu yang-"

"Cukup!" Hermione melepaskan diri dari genggaman Harry. Sekarang dia berbalik. "Sudah kubilang kita bukanlah apa-apa. Kita-kita tidak seharusnya melakukan ini. Ini salah. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama."

Harry merasa hatinya tertusuk belati tajam ketika mendengar pengakuan Hermione.

"Lagipula, bagaimana dengan mereka? Ginny? Ron? Bagaimana dengan mereka kalau mereka tahu hubungan kita? Kau mau membuat masalah jadi tambah rumit?" Kini Hermione mulai pergi meninggalkan Harry.

"Hermione..."

"Cukup. Kita bukanlah apa-apa, ingat itu." Dan Harry membiarkan Hermione pergi.



Gaje. =_=

Next : Forbidden/Terlarang
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Beast/Hewan Buas
Fandom: One Piece
Chara: Kru SH



"Sudah kubilang, tidak ya tidak!" seru Nami, icon square tanda kemarahan muncul di kepalanya. Luffy manyun mendengar perkataan navigatornya.

"Tapi, kenapa tidak? Kan lebih rame," kata Luffy. Usopp dan Chopper menggerakkan tangannya tanda tidak setuju. Zoro hanya berdiri di tempat, menonton ritual adu mulut kapten-navigator ini. Sanji berada di samping Nami, bersiap memberikan dukungan - toh dia juga memang tidak suka dengan ide Luffy kali ini, disamping memberi bantuan bagi Nami tercinta. Robin menonton dengan pandangan amusement. Brook menyeruput tehnya, dia tidak ada ide apa yang terjadi. Franky? Penemuan terbaru untuk kapal mereka dari pulau sebelumnya rupanya lebih menarik perhatiannya.

"Ramemu! Tetap saja tidak bisa! Apa kau sama sekali tidak ada otak?" Nami kali ini menarik pipi Luffy dengan sangat kesal.

"Wa-wawi....Chwoppa dwan Bruuwk juga kan-"

"Itu karena mereka kan berguna, jadi dokter dan musisi di kapal ini. Tapi dia!" Nami melepaskan pipi Luffy dan menunjuk ke objek yang menjadi bahan pertengkaran mereka. "Apa gunanya dia?"

"Dia juga berguna kok. Kalau misalnya kita ke pulau selanjutnya, dia kan bisa menjaga kapal. Iya kan, Buddy?" kata Luffy sambil mengelus kepala objek itu, yang rupanya adalah anjing herder hitam ukuran besar. Anjing itu menggoyangkan ekornya tanda senang.

Kini, kemarahan Nami sudah memuncak. Merasakan hal itu, Zoro mendekat ke Chopper dan berbisik, "Kurasa, sebentar lagi kau harus mempersiapkan peralatan P3K buat Luffy."


Gaje -___-
Next prompt: Vulnerable/Rentan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Sins/Dosa
Fandom: Digimon
Chara: Ishida Yamato


Dosa...

Apakah ini adalah dosa?


Yamato berbaring di atas tempat tidurnya, matanya terpaku di langit-langit. Dia baru saja pulang dari tengah kota bersama orang yang sangat dicintainya. Mereka menikmati sekali saat-saat berdua tadi, di tengah gemerlap kota di malam hari. Tapi, tetap saja semua kesenangan itu tidak dapat menyingkirkan perasaan gelisah yang ada di kepalanya sejak mereka pegi bersama - bukan, bahkan jauh-jauh hari saat dia menyatakan cinta kepada pacarnya itu.

'Apakah ini adalah dosa, untuk memacari dia?'

Rasa frustasi Yamato makin bertambah seiring pikiran-pikiran yang muncul di kepalanya. Dia merasa lelah, harus menyembunyikan hubungan mereka dari dunia luar. Dalam satu sisi, dia tahu, bahwa tindakannya ini adalah salah. Bukan hanya dia, tapi jikalau orang lain menemukan hal ini, pasti mereka beranggapan sama, terutama mereka. Tapi di sisi, lain, dia tidak ingin menerima hal ini. Dia adalah cintanya, dan Yamato tidak ingin melepaskan dia. Yamato juga tahu, dia menganggap bahwa dirinya adalah orang yang cocok baginya.

Ini adalah dilema yang sangat besar bagi Yamato.

Apakah memacari Yagami Hikari adalah hal terlarang baginya?

Apakah mereka berdua memang tidak dapat bersama?

Dan kalau iya, kenapa?

Jawabannya langsung muncul di kepala Yamato. Taichi dan Takeru. Taichi adalah teman terbaiknya, yang lebih mengerti tentang dirinya, si lonewolf. Walaupun sikap mereka bertolak belakang, tapi mereka adalah sahabat baik. Dan tentu saja, Taichi sangat mempercayai Yamato. Dan tindakan Yamato ini bisa merusak hubungan baik mereka. Bagaimana perasaanmu, mengetahui sahabat baikmu ternyata memacari adik perempuan yang sangat kau sayangi secara diam-diam? Tentunya rasa pengkhianatan yang muncul.

Dan Takeru... tentu saja, semua orang mengira bahwa dia dan Hikari adalah pasangan yang sangat cocok. Semua Chosen Children, bahkan orang-orang dekat mereka pun tahu. Bahkan Daisuke, yang meskipun sampai saat ini masih belum dapat menerima kecocokan ini tapi tetap mengakuinya. Yamato dulu bertekad, akan membuat Takeru bahagia, walaupun itu berarti dia harus menanggung semua akibat buruk yang mungkin datang. Tapi tindakannya ini... pasti akan menghancurkan hati Takeru. Yamato tidak sanggup melihat wajah kesedihan saudaranya ini.

Di tengah pikirannya, HP miliknya berdering. Dia meraih HP itu dan membaca layarnya. Pesan dari orang yang disayanginya.

Malam Yama, terima kasih karena tadi mengajakku ke Odaiba Land.
Aku menantikan kesempatan denganmu berikutnya ^^

Semoga bermimpi indah.


Senyum kecil menyungging bibir Yamato. Mungkin, dia masih bisa menikmati dosa ini sedikit lebih lama lagi.



Next prompt: Closed/Tertutup
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Wave/Gelombang
Fandom: Detective Conan
Chara: Haibara Ai


Gadis mungil itu melangkahkan kakinya di tumpukan pasir putih yang terhampar luas di sepanjang pantai. Rambutnya tersibak oleh angin pantai yang sepoi-sepoi, mengayun dalam keindahan alam bersama burung camar yang terbang tinggi dan gembira di atasnya. Dia membiarkan kaki kecilnya terkena air laut biru ketika dia telah tiba di titik temu daratan dan lautan. Mata birunya - yang sejernih biru lautan - memandang ke langit dengan tatapan lugu yang tak dapat ditebak.

Dia membiarkan kakinya tersiram oleh ombak air yang dingin dan sejuk. Dia menikmati sekali pemberian alam yang selalu menenangkan hatinya ini.

'Oneechan,' batinnya, 'Kalau kau ada di sini, pasti lengkaplah sudah semua yang kudapatkan ini...'

Kenangan masa lalu bersama kakak perempuannya, satu-satunya keluarga yang tersisa darinya, terputar kembali dalam otaknya. Betapa dia menimati saat-saat itu, saat di mana dia akan selalu mengeluarkan senyumnya, yang menurut kakaknya adalah senyum seorang malaikat. Hanya dia saja yang mampu membuatnya tersenyum seperti itu. Tapi, ternyata malaikat tak tersenyum padanya. Kakaknya telah pergi, ke tempat yang tidak dapat dijangkaunya dengan apapun yang ada di dunia.

Tidak, dia sudah mencoba untuk ke tempat itu, berulang kali, tapi hasilnya selalu gagal.

Semilir angin kini bertambah kuat, seolah mencoba menenangkan hati gadis kecil itu. Dia kini tersenyum kecil, tapi itu bukanlah senuym malaikat sepenuhnya; ada rasa getir di dalamnya.

'Oneechan, kadang aku berpikir, apakah kau mencoba berkomunikasi denganku lewat angin dan gelombang laut ini...'


Err, kenapa aku getol banget buat angst ya O_o
Mana angst gagal lagi -___-a

Next prompt: Cherry blossom/Sakura
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Harp/Harpa
Fandom: One Piece
Chara: Conis


Melodi indah itu terdengar lagi dari kejauhan, tepatnya dari tepi pantai yang dihampari awan putih bersih nan indah di pulau White White Sea itu. Melodi yang membawa kenikmatan dan kenyamanan di hati siapapun yang mendengarkan itu dimainkan oleh wanita berambut pirang yang sedang menatap ke laut putih di depannya. Harpa yang merupakan sumber melodi itu terletak di pangkuannya. Jemari indahnya memetik senar harpa itu dengan penuh kelembutan dan penghayatan.

Tapi, tidak seperti melodi yang dia mainkan, wajahnya menunjukkan bermacam-macam perasaan. Sedih, penasaran dan rindu. Wajahnya sesekali menunjukkan senyum cemberut yang tidak cocok sekali dengan wajah angelic-nya.

Saking terlena dengan diri sendiri, dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mendekat. Pria tua dengan kumis tebal sembari membawa weaver di sisinya mendekat ke gadis itu.

"Conis?" Pria itu memanggil gadis itu yang bernama Conis, tapi Conis sama sekali tidak bergeming. Pria itu menghela nafas. Dia memposisikan untuk duduk di sebelah Conis.

"Kau merindukan mereka?" tanyanya. Tentu mereka berdua tahu siapa yang dimaksud mereka. Orang-orang yang dulu pernah datang di negeri ini, lalu mengukir sejarah hebat dan pergi begitu saja.

Conis menghela nafas pelan. "Ayah, apa ayah kira mereka baik-baik saja?" tanyanya.

"Tentu saja. Mereka bahkan dapat melawan Enel, pasti mereka bisa bertahan," jawab ayahnya, Pagaya dengan yakin. "Kenapa kau bertanya begitu?"

"Tidak apa-apa ayah." Mata Conis kini berganti, menatap ke langit-langit. "...aku harap mereka akan kembali ke sini ayah. Aku kangen dengan mereka.""Jadi itu masalahmu?" tanya Pagaya. Conis mengangguk pelan. Pagaya berdiri di belakang anaknya, memegang pundak Conis saraya berkata, "Kita semua memang merindukan mereka, tapi untuk saat ini kita masih belum bisa bertemu. Jalan di depan kita masih ada dan banyak halangan. Bagi mereka, jalan itu adalah Grand Line. Bagi kita, yang kita hadapi adalah membangun kembali negeri ini. Tapi waktu akan terus berjalan, dan kesempatan yang ditawarkan di depan juga banyak. Jika bisa, tentu kita akan bertemu mereka lagi. Mengerti, Conis?"

Conis tidak menjawab, melainkan pundaknya bergetar. Khawatir, Pagaya menghadap anaknya lagi. "Conis?"

"...a-aku tahu itu ayah," kata Conis terbata-bata, air mata kini jatuh dari matanya. "Aku tahu, mereka pasti akan datang lagi dengan kita. Terima kasih, ayah, sudah bersama denganku tadi." Dan dia memeluk Pagaya. Dalam hati Pagaya senang, melihat putrinya yang sudah bahagia kembali.

"Kau mirip dengan ibumu, Conis," katanya pelan. Setelah berpelukan sekian lama, mereka saling melepaskan diri. Pagaya melanjutkan ke tepi pantai, tapi dia tiba-tiba berbalik dan bertanya, "Kalau boleh tahu, kenapa kau memainkan melodi itu terus?"

Conis tertawa, dan dia memainkan melodi itu dengan harpanya lagi, kali ini lebih indah.

"Ini adalah lagu tentang mereka, ayah..."



Next prompt: Silent/diam
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Pocky
Fandom: Durarara!!
Chara: Izaya, Shizuo-chan *dilempar kotak pos*


"I-ZA-YA~~~~!" Suara Shizuo menggelegar di sleuruh Ikebukuro. "Apa maumu lagi, datang ke sini?"

"Tenang, Shizu-chan," kata Izaya dengan santai. "Apa salahnya kalau aku datang?" Tidak jauh dari mereka, Tom hanya menepuk jidat. Dia dapat menduga pertengkaran yang akan muncul.

Shizuo melepaskan rokok dari mulutnya, meremukkan rokok itu dan membuangnya ke tanah - suatu kebiasaan sebelum dia menjadi berserk.

"Ck ck ck, Shizuo-chan, kenapa kau selalu merokok sih? Apa kau tau kalau itu tidak baik untuk kesehatan?"

"Haa?" Shizuo membalas dengan nada menantang.

"Coba pocky ini deh, sebagai pengganti rokok..." kata Izaya sambil menunjukkan sebatang pocky lalu pergi. Sementara itu, Shizuo hanya terdiam di tempat.

- Keesokan hari -

"I-ZA-YA~~~~!" Sebuah papan penunjuk jalan terbang begitu saja.

"Hei, Tom-san, kenapa dengan Shizuo?" tanya Simon yang kebetulan lewat.

"Ah, sepertinya dia dan Izaya bertengkar gara-gara rebutan pocky," jawab Tom sambil menepuk dahinya.


:P Gaje

Next prompt: Light/Cahaya
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Shoo
Member Avatar
Call me ojou-sama, no...call me waka!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Alphabet/Alfabet
Fandom: Digimon
Chara: Izumi Koushiro, spoiler episode 23.


"A....B....C....D...."

Di tengah dingin dan gelapnya ruangan yang menyerupai luar angkasa itu, suara-suara sayu itu terdengar dengan jelas. Pemilik suara itu tidak lain adalah bocah pendek berambut merah, Izumi Koushiro.

"E....F....G....H...."

Dia masih melakukan hal yang sama sejak tadi; menyebut alfabet dan meliukkan tubuhnya membentuk huruf yang dia sebutkan.

"I....J....K....L...."

Di sampingnya, sesosok makhluk kecil berwarna pink hanya menatap dengan tatapan hampa dan sedih. Matanya tetap terpaku ke bocah itu. Air mata berlinang di matanya, tapi dia menahan untuk tidak menjatuhkan tanda kesedihan itu.

"M....N.....O....P...."

"Koushiro-han..."

Suara itu sampai ke telinga Koushiro. Mendadak ada secuil pertanyaan, secuil keraguan yang muncul di hatinya.

"Siapa itu? Dan kenapa...."

"Q.....R....S......T......"

Dia memalingkan mukanya sedikit ke asal suara. Matanya terbelalak ketika menangkap bayangan makhluk yang sangat familiar itu. Dia tahu siapa makhluk itu, tapi otaknya tidak dapat menemukan namanya. Lidahnya ingin mengucapkan sesuatu, tapi terasa kaku dan hanya bisa mengucapkan rangkaian alfabet saja.

"U....V....W....X...."

Dia ingat. Dia ingat sekarang. Itu adalah Motimon, temannya dan partnernya. Digimon yang setia dengannya, yang selalu bersama dengan dia kapan dan di mana saja dan yang membantu dia di saat genting. Tapi kenapa...dia tampak sedih?

Kesadarannya mulai kembali sedikit. Dia menyadari ada yang aneh di tubuhnya - tidak, tepatnya ada yang aneh dengan apa yang dia lakukan saat ini.

"Y....Z."

Apa...yang telah kulakukan?



Next prompt: jealous/cemburu
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today.
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone