Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,972 Views)
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Pita/Ribbon
Fandom: Naruto
Character: Sakura, Ino (friendship)
Rate: K

Tangannya terulur, pita itu menari tertiup angin di sela jemarinya yang berkuku pendek. Belum ada reaksi dari anak di depannya sampai Ino berkata.

"Hei, helo... Sakura, apa yang kau lamunkan?"

"Apa maksud pita ini, Ino-chan?" sepasang mata hijau itu melebar. Bertanya-tanya, tampak bingung.

"Tentu saja ini buatmu. Agar kau tak usah menangis lagi. Agar kau tak usah memotong rambutmu dalam bentuk yang mengerikan seperti itu, oke?" Ino mengedipkan sebelah matanya. Ditautkannya pita itu ke jemari Sakura. Merah marun warnanya, tampak kontras dengan kulit Sakura yang pucat. Menyala-nyala di tengah warna yang tampak bisu di padang ini. Karena waktu itu, hanya pita itulah yang bicara. Mengenai janji di antara dua sahabat dan keinginan untuk jadi kuat.

"Jangan pernah menangis lagi. Jangan menyerah. Jadilah percaya diri dan gapai mimpimu," ditepuknya bahu Sakura. ia terkekeh sejenak sebelum berujar. "Nanti, kalau mimpimu sudah tercapai... saat itu kau boleh kembalikan pita ini."

-

Pita itu tak selalu melekat di helaian rambut merah mudanya, namun ia membawanya bersamaan dalam langkah. Di pita itulah terpatri jati dari persahabatan mereka. Memang salahnya--untuk beberapa waktu ia membiarkan pita itu teronggok begitu saja dan tak terurus. Tapi toh sekarang...

Suara ketukan di pintu dan teriakan ricuh di luar membangunkannya dari lamunan. Lekas-lekas, gadis yang kini sudah beranjak jadi remaja ini menyelesaikan sisiran rambutnya. Tangannya merogoh ke bawah laci meja rias dan meraih pita itu. Teksturnya masih selembut dulu dan begitu sarat akan kenangan.

Nanti, kalau mimpimu sudah tercapai... saat itu kau boleh kembalikan pita ini.

Sakura menarik napas. Ia keluar, menyongsong rekan setimnya yang berjumlah 5. Ya, kau tak salah baca; lima. Yamato, Kakashi, Naruto, Sai, dan seorang lagi... kalau bukan Sasuke, lantas siapa? Malam itu mereka akan merayakan reuni lagi setelah melewati huru-hara dan aral yang terlalu rumit untuk diceritakan.

"Boleh aku pergi sebentar sebelum kita ke kedai ramen?" tanya Sakura.

"Hm? Buat apa?"

"...sesuatu...!" tanpa menunggu, dia berlari ke arah lain.

-

Kini mata biru itulah yang membelalak bingung. "Apa maksud pita ini, Sakura?"

"Masa kau lupa," Sakura tersenyum. "Kau bilang aku boleh mengembalikannya begitu mimpiku tercapai."

"Dan...?" Ino mengangkat satu alis.

"Mimpiku sudah tercapai, Ino," Sakura menuding ke belokan, di mana siluet teman setimnya menunggu. "Aku ingin mereka bersama lagi dan kini sudah terpenuhi. Bukan murni kerja kerasku, tapi aku bersyukur. Dan pita ini... Sedikit banyak ia memiliki andil."

Hening sesaat.

"Kalau bukan karena kau dan kepercayaan diri yang kau selipkan di sini, pasti aku takkan pernah bisa meraih mimpiku."

Keduanya bertukar pandang, kemudian seulas senyum menghiasi masing-masing wajah jelita itu. Betapa mengejutkan bukan, kekuatan sebuah persahabatan? Dua gadis itu adalah buktinya.

-

-

modified canon. Ngawur dan ngayal abis. Dan jangan tanya di mana letak keindahannya. Ini fic gagal, uhuhuhu. Mana mungkin Sasuke bakal balik secepat itu huhuhu =.=
prompt: triangle/segitiga
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Dirty/Kotor
Fandom: Detective Conan
Karakter: Ran Mouri, Shinichi Kudo (chibi!Ran, chibi!Shinichi)

-----------------

Sore itu hanyalah sore-sore yang lain. Semua berjalan sesuai ritme dan aktivitas terlaksana rutin seperti biasa. Jalanan yang memadat dan melengang seiring dengan berjalannya waktu, kedai-kedai yang semakin meramai tatkala jarum jam merambat ke arah kanan, dan bagaimana langit menjelma ubah warnanya--menjadi oranye, dengan presensi formasi burung yang berarak mengarungi awan di atas sana.

Tak ubahnya yang terjadi di Blok 2 kota Beika, terhadap dua anak kecil kesayangan kita--yang kini sedang bertengkar. Simpel saja masalahnya. Mereka berebut hendak bermain apa. Yang satu ingin main petak umpet, sementara yang satu lagi sedang terobsesi dengan cat lukis yang baru diterimanya kemarin.

"Main cat, Shinichi, main cat! Melukis, ayolah~ Kita bisa gambar apa saja yang kita mau!" Ran berteriak; nyaris membentak.

"Tidak mau! Aku sedang ingin main petak umpet!"

"Nggak biasanya. Kau kan selalu menolak, kenapa sekarang tiba-tiba ingin?" mata Ran memicing. "Kau cuma ingin berlawanan pihak denganku. Menyebalkaaaan!"

"Ah, sembarangan saja!" Shinichi memberengut.

"Terserah. Tapi coba lihat," dengan bangga, Ran menuding ke lapangan di sisi mereka. "Gara-gara hujan lebat kemarin, terbentuk kolam lumpur di sana, padahal biasanya di sini dijadikan pang untuk bermain petak umpet. Kalau begini, mana asyik bermainnya?"

Shinichi tertegun.

"Nah, lihat?" Ran nyengir. "Ayo, kau kalah, Shinichi... Sekarang ayo main ke rumah, melukis!"

Belum sempat Ran mendengus tanda kemenangan lagi, ia merasa tubuhnya bergerak. Didorong--itu dia. Dan detik berikutnya, pandangannya menangkap bayang kolam lumpur itu lalu--BUMP!

BLUP!!

"AAAA!" Ran menjerit. Ia diceburkan Shinichi ke dalam kolam lumpur, dan sekarang seluruh pakaiannya kotor. Mukanya juga belepotan. Dengan mata berkilat marah, ia menarik Shinichi yang terbahak-bahak sambil menjauh--menarik anak lelaki itu sampai ikutan terjatuh bersama di kolam lumpur.

Tak perlu lama-lama sampai akhirnya mereka berhenti tertawa dan merengut, lalu memandang satu sama lain, dan mulai nyengir.

Sore itu mereka menemukan permainan yang lebih mengasyikkan dibanding petak umpet atau main dengan cat. Ya. Bermain dengan lumpur adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan dengan sahabatmu, di suatu sore yang kini tak menjadi begitu biasa lagi--mengingat adanya rok yang berbalur lumpur dan celana pendek yang berubah warnanya karena tersaput tanah.

...tapi hei. Yang terpenting adalah kebahagiaan, benar?

-------

Prompt: perfect/sempurna
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
sebelumnya
Spoiler: click to toggle


Prompt: Kertas/Paper
Fandom: Detective Conan
Karakter: Yusaku Kudo/Yukiko Kudo
Rate: T

----------------------

Dari deretan buku yang sudah dihasilkannya, benda-benda yang tersusun dari kertas dan bersampul tebal itu, yang menuai banyak pujian dan menghantarkannya ke spotlight dunia dan dianugerahi gelar "Worldwide Writer"--sesungguhnya Yusaku masih punya satu kelemahan. Namun kelemahan ini masihlah sebuah rahasia. Hanya dia dan Tuhan yang mengetahui, sampai pada suatu hari, istrinya menguak kelemahan itu dengan cara yang membuat sang novelis malu.

Pagi itu seperti biasa mereka bersantai di balkon apartemen mewah ini, yang terletak di pinggiran Los Angeles. Perpaduan kontras antara kota metropolitan di satu sisi, dan pemandangan yang cukup 'konservatif' dengan adanya hamparan ladang di sisi lain adalah campuran yang sempurna.

"Yusa-chan," dengan manja, Yukiko bergelayut di lengan suaminya. "Pagi ini indah sekali ya? Tak salah aku memilih apartemen dengan balkon seperti ini."

"Yah, yah, apapun katamu-lah," jawab Yusaku. Pipinya memerah karena disebut 'Yusa-chan'. Meski sudah menikah hampir 20 tahun, ia masih tetap tak terbiasa dengan kemanjaan Yukiko. Matanya terpaku lekat pada koran pagi di tangannya, mencerna barisan kata demi kata.

"Kadang-kadang aku berpikir, kau itu hebat sekali. Eh, ralat, tidak hanya kadang-kadang. Aku berpikir bahwa kau hebat setiap saat," Yukiko nyengir. Ia berpindah, kemudian duduk di sofa seberang. "Kau bisa menulis novel dalam berbagai macam genre. Night Baron dan sebagainya, dan semuanya menuai sukses."

"Kau mulai kedengaran seperti wartawan, Yukiko."

"Yah--mana bisa aku tak kagum, coba?" wanita yang masih terlihat luar biasa jelita di usianya yang hampir memasuki kepala 4 itu terkekeh. Namun sejurus kemudian ia diam. Matanya menelusur figur suami di hadapannya. "Hei, Yusaku, aku sejak dulu bertanya-tanya..."

"Hm?"

"Dari semua genre yang pernah kau coba, mereka yang kadang-kadang memasukkan unsur slice of life ... Aku belum pernah menemukan kau memportrayasikan dirimu sendiri di sana," mata Yukiko melebar.

"Hah? Maksudmu?"

"Kan banyak penulis yang menjadikan kehidupan mereka sebagai basic novel. Sepengetahuanku, kau belum pernah melakukannya," jawab Yukiko. Tangannya membentuk gestur membentang. "Aku bertanya-tanya kenapa. Kurasa asyik kalau suatu saat kau menulis kisah tentangmu, tentangku, tentang kita... Tentang Shin-chan... Tentang Ran-chan..."

Yusaku terdiam. Dia tak menyangka Yukiko akan mengetahui titik lemahnya ini. Apalagi wanita itu tampak tak rikuh menyebut tentang kita. Hah. Mungkin dirinya yang terlalu kaku, tak enak terhadap istri sendiri.

"Er--" Yusaku melipat koran pagi itu dan menghempaskannya di atas meja, kemudian menyeruput Earl Grey yang sudah dingin. Otaknya sibuk mencari alasan berkelit. "Karena menuangkan perasaan di atas secarik kertas itu susah, Yukiko."

"Kalau kau saja bisa mengulas bagaimana intrik Night Baron sampai sedemikian sempurna, kenapa tidak bisa mencantumkan kehidupanmu sendiri yang sangat membosankan dibanding petualangan tokoh-tokoh rekaanmu?" Yukiko menaikkan satu alis. "Cobalah, Yusaku, aku ingin lihat!"

"...tidak, itu hal paling sulit. Karena, uhum--" pria itu berdeham. "Menulis tentangku, tentangmu, tentang kita... Tentang cinta di antara kita... Takkan ada bahasa yang sanggup meraih keindahan dan ketulusannya. Kertas takkan jadi media yang cukup jujur untuk menampung setiap gores perasaan yang tertera."

Sekarang giliran Yukiko yang wajahnya dirambati semburat merah, sementara diam-diam Yusaku menarik napas lega. Fuh. Dengan begini Yukiko takkan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan lagi.

Ck. Jadi penulis novel itu untung juga, bisa menggombal dengan gampang, pikirnya. Walau tak berarti apa yang kukatakan itu adalah bentuk kebohongan yang sempurna...

---------------------------

Prompt: Seagreen/Hijau-laut
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Maaf/Forgive
Fandom: Detective Conan
Karakter: Hiroshi Agasa/Fusae
Rate: T

------

Dunia ini takkan pernah bisa bebas dan bersih dari intrik kejahatan. Orang-orang takkan pernah bisa tersenyum selamanya—mereka juga ‘harus’ kenal dengan airmata, luka, rasa sakit. Seperti kata-kata terkenal yang selalu bersabda bahwa kebahagiaan dan kesedihan itu berjalan selaras dengan kehidupan, kadang sangat sulit bagi kita untuk mencapai suatu kesimpulan di mana kedua belah pihak bisa hidup bahagia. Ya, seperti apa yang termaktub dalam buku-buku dongeng. Untuk bisa melupakan semua rasa perih dan gulana, kemudian tersenyum bahagia.

Pada titik tertentu, maaf adalah kata kunci untuk menempuh kebahagiaan itu. Memperbaiki apa yang salah, menyembuhkan apa yang merintih, meredam jerit tangis rasa pilu, dan mengklarifikasi semua yang keliru.

Hiroshi Agasa mengerti semua itu dengan baik. Ia memikirkannya berkali-kali; di setiap celah waktu yang dimilikinya (kalau sedang tidak berkutat dengan penemuan-penemuan, tentu saja), dengan masa lalu berenang-renang di matanya. Bayangan seorang anak perempuan berambut kuning, dengan bintik di wajahnya, dan mata biru yang begitu lebar serta cantik—bayangan itu menghipnotisnya. Dan terkadang ia menemukan dirinya tak sanggup keluar.

Maka ketika Tuhan mendamparkannya pada suatu hari, di mana bayangan itu jelma menjadi sesuatu yang riil, solid—nyata, dan ia bertemu lagi dengan gadis itu... walau sudah dalam penampilan yang berbeda, batinnya melagu dalam sunyi.

“Maafkan aku, Fusae…”

—karena sudah membuatmu menunggu berpuluh-puluh tahun.


Semuanya memang belum terkonklusi dengan baik, namun setidaknya, luka yang dulu nganga, kini sudah terekat sebagian. Ada harapan yang bersemi di sela kata maaf itu, dan seandainya Fusae mendengarnya—Agasa tahu, wanita itu pasti akan tersenyum. Cerah, ceria, dan matanya yang indah akan mengerjap bahagia.

---------

Prompt: lamella/lapis tipis
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Gaun/Dress
Fandom: Detective Conan
Characters: Ran Mouri/Shinichi Kudo
Rate: T

-----

Ran adalah gadis yang cantik. Semua orang tahu itu. Kontur mukanya seakan diciptakan untuk selalu melengkungkan senyum, sehingga seolah gadis itu selalu meradiasikan kebahagiaan. Tawanya renyah dan pandangannya selalu sejuk. Ya, Shinichi--seperti orang-orang, mengetahuinya. Hanya saja ia enggan mengatakannya pada Ran. Heh. Tidak usah ya, salah-salah Ran bisa menebak 'apa' yang sebenarnya sudah tersembunyi selama ini. Bukannya Shinichi mengira Ran tak tahu, namun ia tak merasa nyaman jika waktu terbukanya rahasia harus secepat ini.

Dalam pakaian apapun, Ran selalu tampak mempesona. Dalam setelan yang kasual, pakaian seragam, kimono gaun-gaun cantik, ataupun dalam bikini. Ehem--coret yang terakhir itu. Dalam piyama ia juga tampak cantik. Tapi ada satu gaun di mana Shinichi tak bisa mengalihkan pandanganya. Gaun yang Ran kenakan saat mereka bermain drama. Ya, gaun yang serupa gaun pengantin bergaya Victoria itu. Seakan semua aliran keindahan terpancar dari gadis itu, membuat sosoknya serupa Puteri saja. Tapi sekali lagi; Shinichi tak pernah mau mengatakan pada gadis itu. Alih-alih, ia malah mengejeknya dengan berkata bahwa kuda pun akan cantik jika mengenakan gaun. Membuat kesal Ran sampai ke ubun-ubun.

Walau ya, kelihatannya suatu hari nanti, Shinichi akhirnya pun harus mengatakan hal itu dengan juga; bahwa kau sangat cantik .

-

Agaknya 'suatu hari' itu adalah hari ini. Ketika sang detektif menginjak fase yang dibilang paling membahagiakan di siklus kehidupan manusia. Hari pernikahannya, dengan gadis yang tersebutkan tadi. Pukul 6, dan Mansion Kudo menjelma menjadi rumah yang begitu berisik dan 'hidup' dengan banyaknya orang yang bersliweran. Yukiko pergi ke sana-sini, memerintah dan meminta. Yusaku juga turut membantu. Profesor Agasa dan Grup Detektif Cilik juga turut membantu; meskipun Ai tak ikut ribut berteriak menunjuk kue pengantin setinggi tujuh tingkat. Heiji dan Kazuha; keduanya didaulat sebagai pengiring pengantin pria dan pengiring pengantin wanita--dan sudah siap dalam tuksedo serta gaun masing-masing.

Shinichi sendiri baru saja mengkomplain penata rias karena berdiri terlalu dekat, menyinggung titik nyamannya. Ia sedang merapikan dasi ketika terdengar ketukan di pintu. Shinichi menoleh, dan wajah Sonoko menyembul.

"Hei, sudah siap belum?"

"Apa-apaan kau, masuk ke kamar pengantin pria?" sebelah alisnya terangkat.

"Che. Kayak aku niat ngintip saja," cewek berambut pirang itu masuk dan menyambar lengan Shinichi, menarik pemuda itu keluar kamar.

"He--hei, apa-apaan sih--" omongannya terputus begitu pandangannya membentur sosok gadis yang berdiri di dekat tangga. Dalam balutan gaun putih bergaya Victoria yang serupa dengan gaun saat drama, dan kerudung pengantin yang sampai menyapu lantai, lalu sebuket bunga mawar di tangan bersarung tangan putih, dalam sekejap sebuah adjektiva terbentuk di kepala Shinichi. Malaikat. Ya, kata benda itu berfungsi sebagai adjektiva di sini. Ran begitu cantik, bagai malaikat.

"Lihat kan? Betapa sempurnanya ia!" Sonoko terkikik, kemudian pergi. Matanya mengedip usil ke arah pasangan yang masih malu-malu kucing itu. Wajah Ran memerah, dan beberapa helai rambut jatuh, membingkai pipinya yang merona.

"Ka--kau," jemari Shinichi bergerak membetulkan dasinya lagi. "...kau cantik."

"Terimakasih..." gadis itu menunduk semakin dalam.

Dan kebahagiaan pun mengepakkan sayapnya di perut pasangan yang baru akan menginjakkan kaki di altar itu.

------

Next prompt: watch/jam tangan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Out/Keluar
Fandom: Inuyasha
Character: Kagome Higurashi, Inuyasha, Kikyou
Rate: T

----------------

Kagome tahu, gadis itu tak benar-benar keluar. Sekalipun jasadnya sudah melebur bersama tanah, menjelma menjadi abu seiring waktu, dan kelamaan bau busuk itu tak tercium lagi--namun sosok Kikyou tak pernah benar-benar keluar dari hati Inuyasha.

Kagome sering menangkap basah Inuyasha tidur dan menggumamkan nama Kikyou dalam mimpinya. Dan terkadang, Inuyasha sampai meracau tidak jelas begitu nama itu ia ucapkan. Memang benar bahwa Kagome merasa cemburu, namun terkadang rasa cemburu itu tertutup oleh hal lain. Kenyataan pahit bahwa bagaimanapun, ia takkan pernah bisa mengisi lubang di hati Inuyasha yang ditinggalkan Kikyou.

Kikyou akan tetap abadi di sana. Menjadi penghuni tetap, yang tak pernah keluar dari hati Inuyasha.

Dan Kagome, dengan rasa putus asa yang mengental setiap waktu, menelan bulat-bulat kenyataan itu.

--------------

drabble yang bener-bener nggak penting! zzz....

Next prompt: letter/surat
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Understand/Mengerti
Fandom: Detective Conan
Character: Ai Haibara (Shiho Miyano)
Rate: T

-

Ai selalu berusaha; selalu dan selalu, untuk membantu Conan. Ke hati sosok detektif yang sudah memerangkapnya dalam euforia-euforia degup jantung yang berlebihan, jumpalitan perasaan di balik perutnya yang serupa kepak kupu-kupu, dan desiran-desiran harapan yang begitu sering menjelma jadi angin--mereka tiba, namun nanti berhembus pergi.

Kalau kau tanya alasan mengapa Ai selalu berusaha; selalu dan selalu, niscaya kau hanya akan dapat jawaban simpel ("sebab aku bersalah padanya karena APTX itu... dan sebagai partnernya, aku harus membantunya."). Tapi kalau kau cukup punya banyak kesempatan untuk menyelam ke hati terdalam sang ilmuwan, kau akan menemui jaring perasaan yang lebih kompleks di sana.

Mungkin kedengarannya memang sederhana itu, dan sungguh pun, awal mulanya juga hanyalah rasa tanggung jawab belaka karena sudah menyebabkan tubuh Shinichi Kudo mengecil menjadi Conan Edogawa. Waktulah yang bisa dituding sebagai biang dari semua ini; karena rasa cinta yang merekah di hatinya tak hanya mengirimkan perasaan bahagia. Malah, lebih sering ia berdarah dan mendaraskan airmata diam-diam.

Ai cukup mengerti dirinya untuk terus melakukan ini, meskipun semua ini hanya akan menghempaskannya pada kekecewaan tak berujung, karena satu-dua hal dalam hidup sang detektif takkan bisa tergantikan. Satu-dua hal itu, antara lain, tentu saja Sang Bidadari.

Ai mengerti, dengan sangat baik, namun ia belum juga berhenti berusaha.

"Bagaimana kalau kita mulai memecahkan kode ini dengan urutan alfabetis?"

-

Next prompt: field/lapangan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Ignorance/Ignoransi
Fandom: Detective Conan
Character: Shiho Miyano

Kau akrab dengan ignoransi.

Ketidakpedulian.

Ketidakpedulian bukanlah keinginan, bukan juga hasrat. Ketidakpedulian adalah suatu pilihan. Dan kondisilah yang memaksamu memilih.

Sebab jika kau membuka mata, meliihat ke sekelilingmu, memahami setiap denyutan bahkan dari benda-benda mati, dan jika kau turut merasa--

--tameng ketegaran yang kau bangun akan segera lantak.

Sekat yang kau gunakan untuk membatasi keangkuhanmu selama ini akan lumer. Dirimu akan berusaha menggapai dunia yang masih tersentuh sinar matahari di sana.

Padahal mereka yang kau cintai masih ada di balik sangkar pekat ini, yang memerangkap dari luar dan dalam, yang meracun lewat kata ilmiah dan menghancur lewat semburan darah.

Karena dengan ignoransimu itu, kau akan bisa mengacuhkan nurani. Nuranimu, nurani kakak perempuanmu, nurani orangtuamu--

--untuk keluar dari tempat terkutuk ini, markas Organisasi Hitam ini.

Dengan demikian kau pun menghalau segara pikiran yang sempat meletup, ignoransi kembali memeram jiwamu. Kau memejamkan mata, kemudian kembali berkutat dengan layar monitor di hadapanmu.

.

.

Next prompt: comment/komentar
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Fandom: Detective Conan/Meitantei Konan
Character: Conan Edogawa
Prompt: Caricature/Karikatur

***

Otaknya bisa jadi berkecepatan beberapa mil sekaligus dalam satu menit, tapi tangan Conan Edogawa jelas tidak memiliki kemampuan yang sama.

Dan oh--pernahkah dia mengatakannya? Dia membenci--sangat, sangat membenci, pelajaran menggambar. Yaiks. Menghabiskan waktu hanya untuk mencorat-coret kertas putih? Heh. Lebih baik membelanjakan waktu di rumah untuk membaca novel detektif terbaru itu, atau mengolah si kulit bundar. Rawwwr.

Tapi dia tak punya pilihan, bukan? Kalau dia mencoba membolos pelajaran ini, tak tahu apa yang akan terjadi dengan kepalanya nanti. Guru seni itu galak sekali! Teman-temannya sendiri sedang asyik berkutat dengan gambaran mereka. Ayumi dengan kebun bunganya, Mitsuhiko dengan gambar kudanya, Genta dengan gambar telur dadarnya, dan Haibara... Oh well. Abstrak. Yeah.

Lalu, apa yang akan dia gambar?

"Karikatur..." gumamnya. Tangannya kemudian bergerak bebas di atas kertas putih itu, menera garis demi garis. Meliukkan jemari, mencondongkan dalam sudut tertentu sampai arsiran mulai ditoreh. Oke, dia memang tak jago sama sekali dalam menggambar, tapi dia cukup sering melihat karikatur. Ilustrasi di beberapa novel. Kurang lebih dia merasa familier dan sekarang sedang menirunya.

"Waktunya habis, anak-anak!" suara guru seni yang menyebalkan itu berdering lagi, bertepatan dengan bunyi bel istirahat. Beliau berkeliling ke meja murid-muridnya, kemudian berhenti di meja Conan. "...Conan-kun?"

"Yeah?" masih tenggelam dalam aktifitasnya, bocah berkacamata itu bahkan tak peduli untuk mendongak. "Sebentar lagi, Sensei."

"Karikatur siapa itu yang kau gambar? Cantik sekali!"

Ketika teman-temannya berkerumun, penasaran ingin melihat karikatur milik Conan, bocah itu baru sadar bahwa dia sudah melukis wajah jelita milik Ran Mouri.

"Oh ya ampun, kau benar-benar love-sick, Kudo-kun," bisik Haibara di telinganya, sementara mukanya mulai dirambati semburat merah.

Benar bahwa dia tak bisa menggambar, tapi karikatur yang dilukis dengan sepenuh hati, sulit untuk tidak menyukainya, benar kan?

***

Next prompt: thumb/jempol
Edited by Evey, 7 Sep 2010, 03:52 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: kecupan/kiss
Fandom: original

Gadis itu masih terpaku di lantai undak-undakan; seolah bayang yang sengaja dirobek dari paralel lain dan karenanya tidak cocok dengan nuansa yang ada, maka matanyalah yang harus kau lihat. Matanya, dan mungkin nafasnya yang menguarkan udara lamat-lamat di antara lepitan syal. Ia sudah berdiri dalam kondisi demikian (kaku, tak bergerak, tak sanggup bergerak.) sejak dua puluh menit yang lalu; namun ia sendiri tak yakin apakah akan sanggup melepaskan. Irisnya masih berusaha menyua ranting willow yang saling berapitan, masih mencoba melihat lebih jauh daripada dahan-dahan birch yang seolah tersepuh perak, lantas berusaha keras agar cairan yang mulai menggenang di pelopak matanya tak menetas; sebab segalanya akan jadi jauh lebih sulit.

Selepas pohon-pohon yang terbisukan cerianya oleh musim dingin itu adalah pemandangan yang tak diharapkannya; yang tidak diduganya untuk dijumpai selepas sarapan pagi yang hangat dengan semangkuk oat dan cokelat mengepul. Yang--yang--

--yang bahkan tak bisa ia depiksikan dengan koheren di otaknya, karena terlalu banyak pikiran kacau berseliweran di sana.

Kau...

Kau...

Dia...

Dia...


Ada semacam deja vu yang berenang di benaknya (sekali waktu--dulu, ia-lah yang ada di posisi perempuan itu.) tapi sebatas kenangan yang tinggal menyisa repihan hati yang terluka. Ia gemetar dalam diamnya; ingin mengomando tubuhnya agar segera berbalik ke bawah relung kastil yang tentu akan menyediakan rasa aman, tapi yang didapatnya hanyalah sendi-sendi yang gemeretak, sampai-sampai ia takut apabila ia bergerak, mereka akan melihatnya.

Pemuda itu--

--dan si gadis--

(mereka menghancurkan mimpinya, harapannya, nafasnya.)

--yang masih saja terpaut dalam suatu kesatuan. Mungkin kau akan mencitrakannya dengan segala keindahan, dengan dengung romansa yang didapatkan oleh sepasang insan muda yang beruntung; tapi bagi dirinya, bagi ia yang hanya bisa menyaksikan, ciuman itu terasa pahit--

--dingin, kejam--

--menusuk--

(--membunuh.)

Sampai sini ia masih juga belum bisa bergerak.
next prompt: delusi/delusion
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Evey
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: doll/boneka
Fandom: Hunger Games Trilogy
Karakter: Katniss Everdeen

-

Lihat; lihat, ia begitu cantik. Rambutnya yang hitam jatuh halus di punggung, dan korset gaun putih itu menjaga semuanya tetap lekat di tempat. Ada korsase pula; lantas wajahnya sudah didempul sedemikian rupa sehingga kulitnya yang biasa tercemar kotor tampak bersinar. Pipinya (kini merah muda, merona); bibirnya (dalam bayang marun yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya); matanya (mereka mengiluminasikan cahaya yang berbeda, dan tampak begitu memikat), semua tampak begitu berbeda. Begitu cantik. Nyaris sempurna. Nyaris...

...seperti boneka.

"Boneka..." Katniss berbisik pada dirinya sendiri, memanggil ingatan lama soal boneka-boneka yang berjejer di toko. Soal boneka-boneka yang tak pernah dimilikinya, dan keinginan aneh yang kerap muncul. Katniss memang tak pernah memiliki boneka-boneka itu, barang-barang plastik yang dijual di kota itu--pun ia tak mau memiliki mereka; tetapi selalu ada keinginan jahat di hatinya untuk merusak semuanya. Mematahkan lengan figuran yang nyaris tanpa cela itu, memulas arang ke wajah mereka yang terpahat sempurna, menjambak helai rambut yang keemasan. Ia ingin melakukannya karena baginya, apapun yang palsu tak pernah pantas mendapatkan tempat yang layak di dunia ini. Tak pantas mendapatkan etalase kaca di mana mereka bisa tersenyum setiap saat dan menyaksikan tangan-tangan kecil berebutan menjangkau, sementara dunia luar menyediakan deretan distrik yang warganya kelaparan dan menderita.

"Boneka..." Katniss masih terus berbisik. Sekarang matanya kembali mencermati cermin di hadapannya, memeta jelas sosok jelita yang memandang balik. Mata abu-abu dengan pulasan eye-liner. Tulang pipi yang melekuk dengan cara feminin berkat sapuan blush-on. Gaya rambut yang tak pernah cocok dengan dirinya sebelumnya--tergerai jatuh, bebas begitu saja... Semua itu menggantikan keberadaan mata yang biasanya bernyalakan api, pipi yang kerap kotor karena debu dan macam-macam lagi, serta rambut kepang yang membuatnya bebas bergerak. Semua itu membuatnya merasa seperti boneka.

...seperti boneka.

Boneka Capitol; ya, boneka Capitol. Karena ia tidak bisa berbuat apa-apa atas pertunangannya dengan Peeta; atas manuver Presiden Snow yang amat halus terhadap dirinya.

Persis... seperti boneka.

-

Next prompt: string/benang
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Create your own social network with a free forum.
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone