Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,878 Views)
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: gitar/ guitar
original

"Teng..."

mata hitamku terpaku pada kedua sosok itu.

"Teng..."

Mereka yang menari di atas lantai teras sederhana yang berbercak lumpur ini.

teng... teng teng teng

terus.

Aku meneruskan permainan gitar akustikku.

melambai alunannya meskipun aku tidak tahu...
sampai kapan aku sanggup bertahan.

teng... teng...

alunan mengalir lembut.

Kuperhatikan... tangan pria itu mulai terangkat dengan sendirinya. Tangannya yang begitu familiar...
menyelipkan dirinya pada sisi telinga wanita itu, di balik rambut hitam panjangnya.

tteng...

senyum pria itu lembut, bagaikan senyum seorang anak yang dapat menyentuh surga untuk pertama kalinya.

Senyum dan sentuhan itu untuk seseorang di sana...

Seseorang yang terlalu kukenal secara dalam.

teng...

Kulihat senyum terkejut lembut dari wanita itu saat pria itu mulai mengarahkan kepalanya pada telinga kecil wanita itu.

tanganku bergetar...
kau bisa menebak bagaimana bunyi permainanku kini.

"Maukah kau mendampingi hidupku selamanya?"
Aku bisa membaca bisikan pria itu untuk wanita itu....
Mereka kakak perempuanku... dan... dan...
seseorang yang amat begitu ingin kurengkuh.

Teng
ti. tidak.
mereka adalah kakak perempuanku dan calon... kakak iparku.

Wanita itu membalasnya dengan bibir yang bergetar.
Kulihat tatapannya kabur.
Aku yakin sekarang ini perasaannya sedang meledak-ledak seperti kejutan pesta dalam sebuah kotak kungkungan.
Karena bukan hanya gara-gara aku telah mengenal wanita itu, kakakku itu selama puluhan tahun, setiap detik napas hidupku. Visualisasi itu yang mengguncang setiap sel dalam diriku.

Teng

"hh..." lirih wanita itu menjadi suatu pertanda yang kupertanyakan. Setiap detik yang tertunda seakan mengiris kesabaranku yang sudah teramat tipis untuk mengetahui kelanjutan untaian cerita ini, sekaligus menyesakkanku dalam jerat emosi.

...

Lalu keluarlah kata ini:
"Iya..."

"Iya..." "Iya. Iya!" air mata terderai menuruni jendela penglihatan kakakku.

Aku. Aku antara mengetahui apa yang kurasakan dan tidak dapat menjelaskan semua kegilaan ini.

Kulihat kakakku menghambur pada pelukan Tony. Rasanya hangatnya terpancar ke sekeliling panggung ini.

Namun, rasa getir sialan yang bersumber dari pusat hati ini kukunci rapat.

Adegan itu begitu indah... namun juga begitu lama. Mengapa tidak ada habisnya?

'Mengapa rasa ini belum ada habisnya?' jeritku dalam hati.

Kupetik lagi gitarku seperti yang telah kulakukan dan kulakukan semenjak tadi. Namun kali ini iramanya lebih cepat. Aku tidak tahu apakah ini memang benar sambungan melodi tadii, hasil kreasiku sendiri, atau memang ini melodi lanjutannya yang kuacak menjadi lebih energik namun mematikan.

Kulihat mereka menoleh ke arahku.

Mereka setengah terbingungkan, namun tersenyum.

Senyum itu masuk kepada pandangan mataku...
juga hati ini.

Senyum itu jelas memancarkan kebahagiaan.
Senyum itu JELAS mempertanyakan, 'Apakah aku ikut bahagia', ucapan terimakasih, dan mengundangku untuk masuk ke dalam kebahagiaan mereka.

Yah. 3 orang.
Semenjak awal.

3.
Senyum.
Putih.
Tanya.
Abu-abu.
Bobrok.
Luka.

Napasku sesak. Tubuhku terasa kaku.

'Jangan menangis... jangan bobrok. jangan sekarang. Kau sudah tahu sebelumnya ini akan terjadi, kan?'


Kuberikan sesungging senyumku sebagai balasan walaupun setiap serat ototku berteriak, memerintah berlainan dari yang tampak di luar.

Aku menyadari senyumku ini lebih mirip dengan sunggingan kuda yang terlalu stress. Tapi kulihat lewat batasan mata yang lumayan kabur, mereka hanya tertawa... dan mempertanyakanku melalui bahasa tubuh, bahu mereka yang terangkat, mempertanyakan mengapa musikku berhenti secara tiba-tiba.

Mencoba untuk mendapatkan sepercik udara kewarasan di tengah tenggelamku, mulai kugerakkan jemariku.

Kusentuh senar ke tiga dari 6 baris senar-senar yang seakan sedang menertawai kemunafikanku. Bukan hanya itu, nampaknya seisi ruangan terbuka ini.

Teng...

"Temui aku di cafe Dans."

Teng...

"Kau pasti bisa kan Fay. Mohon kau bantu aku."

Teng...

"Apa?" napasku memburu.

Tteng

"Mainkan musikmu saat aku MELAMAR kakakmu."


Setetes air meluncur keluar dibalik jutaan tetes yang bersembunyi di balik pengorbanan. kuharap mereka akan mentafsirkannya sebagai tetes bahagia... walau aku sangsi mereka setidaknya memperhatikanku saat ini di tengah gerakan kabur sosok mereka yang berdansa kembali dalam harmoni.

"Siapa dia?"

Teng...

"S-sahabatku."

Teng...
"Wah. Mungkin aku juga bisa bergaul dengannya. Temanmu kan temanku juga."

tteng
"Aku... aku rasa aku suka padanya."

...

"Hei, De. Dia nembak aku kemarin. Makasih Dede udah perkenalin kakak sama dia."


Basah. pipiku basah.
Anganku tenggelam.
Cintaku membeku dalam dimensi yang tak tersentuh
Hanya rasa dan doaku yang tertuai...
dalam petikan dawai.

"Adik... karena cinta itu tulus. Makanya kakak selalu memaafkanmu ketika kamu bersikap bandel." lidah wanita itu melucutkan rasa jailnya pada seorang anak kecil berusia 7 tahun.

"Siapa yang NAKAL?" protes anak kecil itu.

"hahaha." tawa wanita itu ringan, menoel hidung si adik.


Karena aku ingin cintaku menang atas kecemburuan dan ego.
Semoga kau bahagia... Kak.

(apa kepanjangan ya?)

next prompt: Pensil warna/ colouring pencil (saya ga tau bahasa inggrisnya Xp)











Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Chain/Rantai
Fandom: original
rating: K+

Anak itu bermata hijau. Hijau sehijau dedaunan daripada pohon yang tertanam pada pekarangan mansion-nya di kala pagi tengah menyemburatkan pesonanya. Ia pendek, ia tersohor, helai rambut coklatnya meliuk dengan bebas, sementara warna kulitnya bagaikan terbuat dari melati pagi yang tersentuh keemasan madu, lagi-lagi seperti hasil yang didapat dari kebunnya.

Anak itu, yang sekarang ini tengah merunduk dan bersandar pada railing balkon kamarnya, telah meretas dari kehidupan hiruk pikuk dunia luar yang dianggapnya...

sebagai kumpulan setan.

Setra
Amber
John
Kallie

Pisau
Sayat
Merah
Hehe

Kepalanya berbunyi.

Etss...
Bisik terdengar.

Apa akan ada orang yang melihatku...?

Kau... Tracia, yang merupakan anak itu melihat sekelilingmu dengan mata separuh memicing curiga.

Itu belum seberapa, mari kukatakan yang kulihat.

Otot-ototmu seakan sedang bersenam dalam dendang yang begitu cepat.
Napasmu memekik.
Wajahmu bagaikan mayat.
Urat-uratmu seakan ingin putus.

'Sst...Diam!' pikirmu pada dirimu sendiri, Tracia.

Akar, pergi, tidak boleh, boleh, jangan begitu, mereka busuk, seret?, dosa, tenggelamkan?, hentikan pikiran bodoh!

Tracia bagaikan seorang aktris monolog yang begitu asik memainkan peran-perannya.

'Dasar kau otak kriminal!'
'Kau tidak tahu apa-apa!'
'Kau memang (tawa) Kau tidak pantas hidup...'
'Hst. Sepantasnyakah?'
'Lihatlah betapa gilanya dirimu dalam lingkungan ini.'
'Mungkin... mungkin aku tak pantas...'
'Api, pasung, jerat, hehe.'
'Palu, pedang,...' lanjut Tracia.
'Tidak! tidak boleh!' pikiranmu berbunyi lagi.
'Sampah!'
'Dulu aku tidak begini... benarkah aku sampah?'

Begitu dan begitu. Sesekali Tracia akan melihat keluar dengan mata gelisah, lalu kembali berperilaku monolog dengan begitu cantiknya layaknya aktris senior. Sesekali menyesali yang katanya bagi masyarakat kebanyakan adalah harga diri seorang manusia yang luhur yang telah luruh dan menjadi lucutan menarik bagi makhluk yang terjerat dalam dualisme.

Hei, Kau mau tahu apa yang sedang aku lihat?

Se-set sarapan pagi hangat tengah menantimu di ruang tidurmu walaupun sebelumnya kau rutin mengecap sarapan bersama keluargamu di ruang tamu.
Sepucuk surat datang dari temanmu untuk mengundangmu datang pada hari perayaan pernikahannya.
Sejuta rakyat jelata di luar sana terancam oleh bahaya kelaparan dan penyakit wabah yang tengah meradang.
Seorang Tracia tengah menyiksa dirinya sendiri ketika ia sebenarnya mampu untuk berbuat lebih.
Tracia sedang mengejar-ngejar gerbong-gerbong kereta ilusi yang selalu dan selalu melaju yang tak akan pernah habis dan membuat dirinya kian terantuk dan terjerat sesak, rantai yang tiada berujung.
Tracia melupakan kebahagiaan tak berukuran yang bisa didapatnya sekarang.


Ia lupa untuk memerhatikan detik ini. Ia lupa bahwa hidup disertai sebuah kata...
perubahan. Akan sia-sia bila seorang anak manusia berusaha menggenggam sesuatu yang selalu berubah.

Tracia, 20 tahun umur yang ditetapkan manusia.
Andai semua orang bisa mengetahui cerita ini dan meresapinya.

Ps: duh, lagi2 kepanjangan. maafin saya T.T


next prompt: fragmen
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Gadis korek api/ The little match girl
fandom: original

Aku tidak tahu apakah ini sebentuk ketangguhan atau kecongkakkan.

Begitu aku melangkah keluar daripada bobroknya mimpi indah itu, aku tidak ingin diperlakukan dengan kasihan bagaikan seorang tokoh cerita legendaris yang mendunia itu:

Si gadis korek api.

Ya, si anak yang menjual korek api di tengah hari natal yang dihujani salju lebat, sampai akhirnya meninggal.

Dari sekian banyak cerita anak dunia yang sempat dibacakan oleh ibuku untukku sewaktu aku kecil, tokoh inilah yang paling menarik perhatianku.

"Mengapa kematian gadis itu begitu tragis?" tanyaku pada ibuku dengan mata berkaca-kaca layaknya air terjun. Kira-kira 6 tahun usiaku saat itu.


Gadis korek api, sebuah cerita yang menggambarkan bagaimana getirnya kehidupan seorang anak manusia; potret yang mewakili ketidakpedulian sebagian wujud napas kehidupan dan dampaknya.

Lalu apakah pada malam ini, sebuah malam yang sebagian siluet dan rohnya digeliati oleh kebahagiaan sepasang pasangan beserta kerabat-kerabatnya, akan menjadi salah satu malam terciptanya lagi kisah si gadis korek api?


Yang jelas, aku memang sangat berempati pada tokoh mungil yang hidupnya berakhir dengan menyedihkan itu.

Tapi bagiku...

Tunanganku mendadak memilih orang lain untuk menjadi pendamping hidupnya memang adalah pengusiranku dari rumahku yang hangat.

Sikap dingin terskema di dalam ruangan megah itu yang merajut jarum-jarum abstrak dan menembus lebih dari kulitku itu memang adalah butiran-butiran salju yang begitu dingin yang membuat sukmaku bergetar.

Kenangan-kenangan yang tersisa itu dan yang kini aku takut kalau sampai aku lupakan bagiannya memang merupakan harapan terakhirku untuk dapat memutar kembali mimpi-mimpi tak ternilai nan indah, bagaikan batang korek api tersayang milik gadis korek api yang memberikannya gambaran indah, namun sekaligus sebentuk sakit dan ironi.

Apakah biru kita sama, gadis?

Pokok hidup kita memang telah terampas pergi.

Sesuatu yang begitu mendasar dan merasuk,

Sesuatu yang begitu memancingmu untuk masuk dalam layangan asa

Cinta.
Ya... cinta.

Perjuanganmu mungkin telah melayang bagaikan alur asap terakhir,

Terkubur dalam keabsahan putihnya dingin, kelamnya malam ketidakpedulian,

dan bayangan 'andai cinta'
yang terakhir....

Tapi aku...

Di bawah kota yang sama sekali tidak dituruni oleh jejak hujan maupun putih yang mencair itu,

aku berjalan tegap meskipun pelan.

Di belakang punggungku, adalah natal yang kau harapkan
Di belakang punggungku, adalah seseorang yang kuanggap indah... serat-serat dalam mimpiku.

Tapi aku tetap berjalan. Sesekali membetulkan syal biru tuaku yang melingkar di leherku.

Kisahku harus terus berlanjut. Aku tak boleh berhenti detak di sini.

next prompt: Sepatu kaca/ glass shoes (hehe)


Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Tertawa/ Laugh
Fandom: Original


Aku bingung.
Aku bingung apa yang harus kulakukan pada jam 6 menit ke-6 ini.

Yang aku tahu, jemariku kini sedang menjejak-jejak di atas keyboard komputer dengan lincahnya dengan pikiran berpergian dari jalur yang seharusnya sinkron dengan apa yang fisikku lakukan.

Jam 6 lewat 9 menit, kulirik tepi kanan layar komputerku.

Rasa ini masih menggangguku, sementara musik yang muncul dari bawah kakiku sedang berkata-kata dalam bahasa irama.

Merangkak, katanya.
Sampai kita mampu berjalan kembali.

Oke, lirik ini. Sudah berkali-kali aku menyetelnya.
Sudah berkali-kali aku mengusahakannya menjadi sesuatu yang riil.

Jam 6 lewat 11 menit,
Tanggung jawab pokok dan keinginan mendalam itu belum terharmonisasikan.
Puluhan tahun aku hidup.
Yah, kata orang, hidup harus disyukuri.

Jadi apa yang aku lakukan sekarang?
Tertawa sembari memikirkan apakah tulisan yang tengah kuketik ini bisa dikategorikan tidak jelas.

Lalu muncullah lagu familiar berjudul damai yang kuharapkan telah merasuk dalam, sehingga pada akhirnya tawa dan syukurku terus berlanjut selama napas ini masih terberkati dalam ketulusan Tuhan.

next prompt: Awal/ Start
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Wuih. seru nih promptnya.

Prompt: anesthesia/mati rasa
fandom: Hetalia


Seorang pria berjalan menyusuri jalan yang bisa dikatan sepi sekaligus ramai dengan pandangannya menyapu ke arah biru langit.

"Hah..." napasnya menghela hampir setiap kali ia melihat bendera negaranya terkibarkan.

Merah putih.

Ia tarik pandangannya dari kibaran bendera itu tak lebih dari sekian detik didasari banyak rasa yang mengganjal.

Merah, artinya berani.
Putih, artinya suci.

Indonesia melanjutkan acara jalannya dengan tangan sawo matangnya menyelip ke dalam saku celananya.

Menjadi Indonesia, bagi sebagian orang, adalah keberuntungan.
Lihat saja sejumlah lagu yang memuja-muja dirinya bak artis terkenal: Indonesia, lambang kemakmuran; Indonesia-

Hahhh. Mungkin ia sendiri selaku dirinya ingin berkata lain di balik terapungnya jati dirinya di atas lautan perduniaan dan pencerminan realita.

Menjadi Indonesia tidaklah mudah.
Dari dimulainya pertamuan Belanda pada waktu dulu sampai si telaten 'Jepang.'
Pada masa itu dan pasca 'pertamuan' mereka yang panjang itu, merah dan putih Indonesia begitu berkibar dan membuncah di dadanya.

Di gerak-geriknya, dalam hembusan napasnya, dalam mimpinya...

Udara merah-putih itu begitu kental.

Puluhan tahun berlalu, para tamu tak terundang itu akhirnya telah beranjak dari tempat ini.
Tanpa kau sangka, Indonesia, kini malah saudara-saudari sedarahmu sendiri ...

yang kurang lebih men-copy perilaku para tamu tak diundang.

Mereka mencoreng wajahmu dengan merah yang amatlah lain daripada merahmu yang terdahulu. Mereka mencuri pakaian yang tersisa dari lokermu saat kau tengah cekak. Terkadang bahkan mereka melemparimu batu yang bukanlah mainan.

Tapi itu belum seberapa ...

Yang paling parah ialah ... mereka menjeratmu dalam apatisme.

Ini yang paling menyakitkan.

Kau terjerat dalam lingkaran gelap dimana gapaian tanganmu hanya mampu menjangkau repihan-repihan teramat kecil yang tersisa dari hati.

Dan kau pun menangis ....

Jadi kau tak tahu, mengapa rasa ini di samping bergejolak juga seakan tertidur dalam lelah dan keputusasaan.

Mungkin setelah lelahmu itu ...

Kau mulai mencapai suatu titik yang bernama, 'Mati Rasa.'

Lihat saja helaan napasmu yang begitu menumpuk.

Next prompt: Aliran/Flow





Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Spekulasi
Rating: hn... M kah?
Ori

Dia selalu dan selalu berbunyi.

Ibuku selalu berbunyi dan berbunyi, entah Helen salah, entah Helen benar.

Bunyi-bunyi bagai kicauan burung namun tidak sedap.

Helen mengangkat tangannya perlahan.

Sedap-sedap setetes darah mungkin sedap.

Seringai Helen menemani siluet malam.

Darah-darah mengalir dari putih yang katanya begitu bersih.

"Hihi..." gumammu, Helen. Pelan.

Tep. Tep.
Pelan-pelan kau ayunkan tubuhmu.
Nikmat-nikmat kau hirup aroma tubuh sosok yang ada di hadapanmu.
Picing-picing sesosok berkilau tajam mengintip dari balik bahumu.

Bisik, "Lekatkan aku pada bagian yang paling kau inginkan."

Wow. Kau suka cara dia mendesis.

"AAAhhh!" jeritan malam ini begitu indah.
Matamu yang merah menangkap tirai-tirai merah yang keluar bagaikan air mancur dari sosok di hadapanmu dengan senangnya.

"Tak kusangka darah seindah itu..." desismu.
"Bagaimana, rasanya...," sosok itu menatapmu dalam horror dan luka.

"Ibu?" lanjutmu berteman dengan seringai.

1 X 4 jam, polisi datang.
1 X 24 jam, pemeriksaan adalah milikmu.
7 X 24 jam, sel adalah milikmu...

Tapi jangan salah... kepuasan yang amat ada di sana. Sel tak bisa mengungkung seorang Helen.

Namun, pada saat tak terhingga X 24 jam... kau merasa bahwa:

'Membunuh ibumu adalah hal yang menyenangkan', merupakan spekulasi yang teramat sangat salah.

Sesal yang menyusup hari demi hari itu adalah kado dengan seringai paling kejam di antara tumpukan hadiah 'spekulasi.'

Andai kau memeluk hati nuranimu pada saat itu.

Next prompt: Pasir/sand
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@^: I loved that ; )

prompt: kreatif/ creative
ori

Apa yang dibutuhkan seseorang untuk hidup?

Berton-ton beras? ok.
Mendapat respect dari orang lain? tidak salah.
Memiliki mansion yang bagi banyak orang bisa dibilang 'wah', itu juga ok.

Kau mulai bertanya-tanya pada lampu-lampu kecil yang menyala di pikiranmu, kira-kira...

apa yang kurang dari hidupmu? Kau sudah memiliki semua yang di atas, namun kau masih merasa kurang.

Layaknya seorang peneliti, Kau mulai mengais-ngais sesuatu yang kurang itu dengan gaya elegant-mu.
Layaknya seorang pemburu, matamu memercikkan semangat untuk merasakan bulu-bulu halus sampai jantung buruanmu.

Dan berdasarkan kehampaan alias yang memacumu itulah, kau mulai menjalankan kreatifitasmu.

Gila. Sangat mendebarkan.
'Kreatifitas Sempurna' labelmu pada karyamu.

Kabar demi kabar berguguran dari sumbernya, jatuh pada telapak tanganmu yang dingin.

Foto rekayasa itu sudah sampai kepada Gilang.
Gilang bertengkar dengan istrinya.
3 bulan, masih sama.
Gugatan cerai.

Bibir merahmu melekuk kepuasan.

-

"Ting" gelas-gelas alkohol itu berdenting ketika dipertemukan dalam sesi 'cheers.' Buruanmu yang kau anggap akan mulai dari sekarang dan seterusnya, sepenuhnya, mengisi kekosonganmu itulah yang menjadi rekan minummu.

Kau dapatkan dia dengan cara yang licik.

Ups. Kreatifitas, katamu.

Namun, nampaknya kau melupakan...

bahwa alam semesta dan sistemnya tidaklah kalah dalam hal kekreatifan bila disandingkan denganmu.

Suatu hari nanti, alam dengan kreasinya akan mengajarkanmu rasa yang tidak pernah kau rasakan, yang belum sempat kau pelajari, sehingga pada saatnya kau akan sadar akan perbuatan-perbuatanmu yang lalu.

Kreatif... kau memang kreatif.

Hei. Tangis seorang wanita... tengah berteriak dari bawah alas kakimu.

next prompt: Ambisi/ ambition (keinget sims 3 XD)
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Emotion
ori

Dari awal, kau sudah mengerti bingkai luar daripada kata cinta.
Dan salah satu unsurnya adalah... emosi.

Ya... karena tersentuh emosi, cinta itu hidup.

Pertama terpantik,
tergoda untuk mulai hidup,
menyala hangat-hangat kuku,

kemudian mengembang,
membakar dalam sayap hangatnya,
meradiasikan rasa yang mampu membuat hati merasakan,

kenyamanan yang begitu lembut untuk tersentuh.
Hei, ini baru kau rasakan setelah engkau melangkah masuk ke dalamnya.

Hn...

Tapi ada satu hal yang tidak kau mengerti.
Itulah yang nampaknya membuat tanganmu dingin,
dan nampak bergetar sekarang.

Dan tetes air mata itu jatuh.

Entah kenapa cintamu,
yang telah kau susun setiap keping demi kepingnya semenjak dulu dalam kasih, dan berawal dari sepercik emosi yang melambangkan cinta,
Telah berakhir oleh suatu bentuk emosi lain yang tak sepadan,

Amarah pencerminan ego.

Diawali oleh percik cinta dan mata dan rasa
Berakhir dengan tajamnya penjara ego.

Kau tidak pernah mengharapkan semuanya berakhir dengan kondisi emosi itu.

Next prompt: formality/formalitas



Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Fraud/ Penipuan
ori


Dunia ini begitu berwarna.
Dan begitu kau melirik ke arahnya, secara natural beberapa partikelnya meresap melalui indera-inderamu, meminta izin masuk melalui pintu di hatimu.

Dan menetap di sanubarimu.

Lalu yang kelam kau katakan sebagai, 'ketidaksukaanmu'
sementara yang kerlip kau berikan label berawan sebagai:

'Oh... Mimpi.'

Dan seperti anak kecil yang mengakui pahlawan pertamanya, kau mulai mencari serba-serbi mimpi itu;
memasang kasut sayap untuk mencapai singgasananya, di mana jalan menuju ke sana terbentang menanti.

Kadang kau sadar jalan itu panjang.
Kadang kau sadar kau pun seringkali terjatuh dan terluka untuk mencapainya.

Yang menjadi pertanyaanmu sendiri,
'Sampai kapan kau dapat bertahan untuk bisa mengecap kerlip itu?'

Banyak orang yang turut berada di dalam perjalananmu dengan tujuannya masing-masing.
Dan pada suatu ketika, kau memandang kumpulan orang yang telah berhasil mencapai kerlip mereka sendiri dari bawah sana, dan kau berkata:

"Mereka semua kalau tidak besar, beruntung, pasti memakai sihir. Atau memang aku... yang sial?"
Kau memain-mainkan kasut sayapmu yang semenjak bertahun-tahun kau pakai tak pernah juga kau cuci ataupun reparasi, dan mendesah:

"Aku tak bisa..."

Kalimat itu berlanjut di sisa kehidupanmu.
"Mengapa?"
"Aku tak bisa."

Entah kenapa jantungmu berdegup dan terus memukul suatu titik ketika kau mengatakan dan terus mengatakan tiga kata itu: 'Aku tak bisa.'

Apakah pada kenyataanya kau tengah menipu 'apa yang telah menjadi napasmu sendiri'?

Next prompt: Karikatur/caricature






Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Bingkai
ori

Bingkai aku dalam urapan percik segar pada perjumpaan pertama.
Bingkai aku dalam suhu nyaman pada langkah taut jejak fajar.
Bingkai aku dalam langit ke 7-mu di mana kau sisipkan imaji puasnya dirimu membayang semu.

Aku dibingkai oleh geliat yang berlari-lari, penuhmu tak juga kurengkuh.
Aku dibingkai oleh rasa yang meremas hati ketika ku tak bisa membawa kristal hasil peluh untukmu.
Aku bertanya perih ketika tajammu menembus jantungku.
Aku bertahan pada tali-temali surga-neraka antara kita.

Dan inilah...
Bingkai memanjakanku dalam drama kawan lama.
Sementara aku tak menemukan surgaku di sana.
Kau melukis aku.
Aku melukis kumpulan baut besi terangkai mensistem.

Dan kau katakan itu sekali lagi dan lagi:
kau mencintaiku.

Next prompt: amethyst
Ps: amethyst ialah semacam batu permata berwarna ungu.
Edited by Aquamarine, 19 Sep 2010, 06:06 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Aquamarine
Mau Melihat
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
The kite runner
Amir/Assef

-

Sudah lama ia tidak merasa sebahagia saat ini.

Meskipun kelopak matanya tidak sebiru dan sebengkak ini sebelumnya.
Meskipun bibirnya sebelumnya tidak pernah terbelah-belah bagai jeruk kopek nan bonyok.
Meskipun tubuhnya tidak pernah semual ini sebelumnya.

Darah mengalir dari sudut-sudut tubuhnya yang terluka.
Rasa sakit menjalar kuat pada si fisik.

Namun ia tersenyum lebar.
Jantungnya terus mendegupkan irama kehidupan yang sebelumnya nyaris mati dalam topeng hidup.
Kian mengekstasikannya dalam setiap gerak jiwa yang terwujudkan lewat setiap pukulan.

Amir begitu bahagia.

'Yak. Terus serang dia. Amir! Ini yang seharusnya kau lakukan sedari dulu.' relung jiwanya berkata lantang, menyaksikannya membakar sudut-sudut kepengecutan.

"Hassan ..." gumamnya dalam rasa manis bercampur gejolak yang tak bisa dilukiskan, berharap yang telah tiada dapat melihatnya kini.

"Watch ... me. Brother ..."

Next prompt: Sarang/ nest
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone