Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 3
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,870 Views)
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Nail/Kuku
Fandom:Apollo Justice: Ace Attorney
Characters: Apollo, Trucy
Rate: K+

--

Trucy memandangi cat kuku itu seakan-akan ia melihat oasis di tengah padang pasir, bagaikan sedang bertemu kembali dengan ayahnya yang sejak lama menghilang.

Entah sejak kapan, namun baru detik ini Apollo menyadari tatapan kelaparan yang Trucy luncurkan kepada Vera dan cat kukunya. Selama ini, tak pernah ada bukti-bukti yang menunjukkan keinginan Trucy akan sebuah cat kuku, atau hal-hal yang berbau feminin lainnya. Apollo malah berpikir bahwa mungkin pesulap cilik itu takkan pernah tertarik dengan hal-hal yang biasanya diinginkan remaja-remaja perempuan sepantarannya.

Tetapi, deduksi itu akhirnya dipatahkan oleh kejadian ini.

Trucy--yap, Trucy Wright yang itu--kini memandang penuh harap kepada sebuah botol cat kuku milik orang lain.

Apollo mungkin akan memaklumi bila yang kini sedang Trucy pandangi, dengan bola mata cokelat membesar dan tangan yang terkepal erat seperti itu, adalah sebuah alat sulap yang sangat mahal sehingga Mr. Wright tak bisa membelikannya. Tetapi, yang kini ia inginkan bukan hal itu. Melainkan sebuah cat kuku.

Cat kuku.

Ya, kau tak salah baca--sebuah cat kuku.

-

-

...Mungkin dunia akan kiamat besok.


-

-

"Hei, Trucy," ucap Apollo pelan, bermaksud mengalihkan tatapan Trucy dari cat kuku yang malang itu, "kau mau cat kuku seperti itu?"

Trucy menoleh, kemudian terlihat sedang berpikir sebentar. "Hmm, nggak," jawabnya pelan. Ia mulai memperhatikan kuku-kukunya, sembari melanjutkan, "Kupikir, bisa saja aku melakukan sebuah sulap dimana setelah aku meminum sebuah cat kuku, tiba-tiba, bukan kuku yang berubah warna! Tetapi--taraaa!--rambutku yang berubah!"

-

-

Hening.

Masih juga hening.

Kayaknya, cuma kamu yang mengganggap sulap semacam itu keren! Apollo menggaruk-garuk kepala seraya ia memutar bola mata, tak tahu ingin membalas apa atas ide 'brilian' asistennya itu.

"Hei, Polly! Gimana? Bukankah ini ide hebat, hm?" desak Trucy dengan nada bangga.

"...kayaknya semua orang bakalan lebih suka Ms. Underwear, deh."

"HEI! Namanya Magic Panties, Polly!"

--

ASDFGHJKL--ini juga bukan drabble. kepanjangaaaaan. T^T
m-maafkan saya, wahai starter yang bijaksana.

dan maaf atas keabalan dan betapa pointless-nya fic ini. ;_;

edit:
prompt: magic/sihir
Edited by lalaaa, 22 Feb 2010, 04:46 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Sayap/Wing
Fandom: Kino's Journey (Kino no Tabi)
Character: Kino, Hermes
Rate: K

--

Bukankah burung adalah sesuatu yang mampu untuk selalu membuat kita iri?

Itulah pertanyaan yang pernah ia ajukan, yang dibalas dengan gumaman bingung dari Hermes. Kala itu Kino hanya tersenyum, karena sebenarnya, ia sendiri pun tidak mengetahui apa jawaban yang tepat dari pertanyaan itu. Mungkin karena itu pulalah ia melakukan perjalanan ini, memasuki berbagai negara dan berkenalan dengan bermacam-macam rakyatnya yang unik, mencoba mencari jawaban yang menunggu di luar sana.

Namun sayang, pertanyaan itu tak kunjung terjawab. Padahal yang harus dilakukannya hanyalah memilih satu dari dua kata yang simpel ini: ya atau tidak.

Itu terdengar begitu mudah, bukan? Namun tidak begitu ia mencoba. Selalu ada satu atau dua indikasi yang membuatnya harus menarik kembali pilihannya. Selalu ada rintangan yang menghalang. Selalu ada kesalahan yang muncul.

Pernah di suatu negeri, penuh dengan burung-burung berterbangan dan suara kepakan sayap bergema di tiap-tiap sudut kota, ia bertemu dengan seorang nenek tua. Senyumnya merekah sewaktu Kino hendak melangkah keluar dan bermaksud melanjutkan perjalanan. Kino mengangguk sembari membalas senyum itu, dan selagi ia mendorong Hermes untuk melewati perbatasan kota, sang nenek memanggil dan melontarkan satu kalimat panjang--

"Kuharap kau akan menemukan sayapmu nanti, Kino-san."

--yang menciptakan satu tanda tanya besar di kepala Kino.

Pintu kota tertutup, dan Kino masih memasang tatapan kosong yang sama. Ekspresi tidak mengerti tak juga luntur dari wajah ovalnya.

"Hei, Kino," panggil Hermes, dan saat Kino merespon perkataannya, ia melanjutkan, "Apa maksud sayap dari yang nenek itu katakan?"

Kino menggeleng. "Aku juga tak tahu, Hermes."

Alih-alih, bukannya malah mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, perjalanannya malah menambahkan satu pertanyaan sulit lain, yang menunggu untuk diungkapkan.

--

GAJE. YEAH. saya tahu. gaje. gaje. gaje. gaje. gaje.
prompt: pita/ribbon
Edited by lalaaa, 24 Mar 2010, 08:00 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: pencil/pensil
Fandom: Ace Attorney: Phoenix Wright
Character: Maya, Pearl

--

Pensil kembali bergerak. Menorehkan kata demi kata. Berjejer rapi bagai awan yang berarak. Membentuk barisan panjang yang sejajar dan rata.

Gadis belia itu menghela napas. Menjatuhkan pensil, kemudian menggeliat. Menggerutu pelan akan cuaca cerah yang panas. Tak peduli dengan pandangan berbinar sang sepupu yang melihat.

"Mistic Maya, kau sedang membuat surat untuk Mr. Nick?" Sembari melompat, ia bertanya cepat.

Yang ditanya mengangguk. Tangan bergerak menunjuk. Di sana, hadir sebuah pensil panjang. Di tepi meja, tetap diam terlentang.

"Pensil itu sudah dikutuk, Pearly!" sembur Maya, disambut tatapan tak percaya.

Lalu, keluhan panjang terus mengalir, cepat dan lancar bagaikan air. "Aku tak bisa menulis satu pun kata yang benar! Setiap aku mau menulis, pasti di otakku selalu berpikir, 'bagaimana kalau Nick tak suka aku menulis ini?' dan kemudian, aku pasti langsung menghapusnya!"

Sang sepupu cilik kini memandang dengan tatapan berbinar. Matanya bercahaya, laksana matahari cerah yang bersinar. "Itu artinya kau jatuh cinta, Mistic Maya! Kau ingin terlihat sempurna di mata Mr. Nick!"

Kemudian, Pearl tenggelam dalam khayalan. Tentang seorang putri dan seorang pangeran tampan. Berserta Nick dan Maya, si pasangan beruntung yang bertugas sebagai sang pemeran utama. Kembali larut dalam dongeng klise yang hambar dan sama.

Mengabaikan mimpi sepupunya, Maya melangkahkan kakinya. Mencari suatu barang yang pantas untuk dipakai. Ekspresi bingung mulai terlukis di perangai. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah pulpen, tergeletak lemas di balik bantal. Ia mencoba menemukan jawaban mengapa sang pulpen berada di tempat aneh seperti itu, namun dengan tragisnya ia gagal.

Duduk kembali di depan kertas, ia merenung. Membentuk rangkaian kata yang mungkin pantas, namun selalu tak pernah rampung.

Lalu akhirnya, ia mencoba menggoreskan beberapa kata.

'Dear Nick--'

-

Dan sewaktu ia membaca ulang surat itu, dengan segera ia membatu. Ingin menghapus segalanya, namun tinta absolut pulpen menghalanginya.

Mungkin memang lebih baik bila ia menggunakan pensil. Benda itu begitu baik hati dan sangat manis. Sampai tiba saat dimana sang penulis berhasil, ia terus menerus membiarkan dirinya terkikis.

...Tidak seperti sebuah pulpen yang laknat.

--

yey! sekali lagi, muncullah sebuah karya gaje yang sok gaje dan memang sangat gaje. gaje gaje gaje gaje gaje GAJE GAJE. hidup gaje. yey! /ditendang

prompt: seven/tujuh
Edited by lalaaa, 4 Apr 2010, 07:38 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Awan/Cloud
Fandom: Summon Night: Twin Age
Character: Millisar/Reiha

--

Seolah awan mendung menghalangi.

Hanya ada ekspresi kesal yang terlukis. Bibir selalu menekuk ke bawah. Mata memicing, menatap tajam dan penuh kewaspadaan. Kaki menghentak cepat, menciptakan ketukan yang konstan. Alis saling bertemu malu di antara helai-helai rambut halus.

Seolah awan mendung menghalangi.

Tak pernah ada tawa. Selalu kata-kata kasar yang melompat dari bibir. Tangan bergerak bebas, memberi penekanan. Gigi bergemeletuk menahan murka yang meluap. Bibir mencoba mendesis bagai ular. Menyakiti hanya dengan deretan kalimat ringan.

Seolah awan mendung menghalangi.

Mereka berdua.

Bila bertemu, keduanya selalu bertengkar. Tak pernah bisa menahan emosi. Seolah hanya dengan melihat ujung hidung sang lawan, benteng pertahanan mereka runtuh menjadi debu. Membiarkan berbagai tatapan menusuk terlontar di antara keduanya. Mengabaikan nada-nada marah mengalir di udara. Menyebabkan tawa dari teman-teman yang mengelilingi, namun tak cukup kuat untuk mengetuk gendang telinga mereka.

Jikalau berjumpa, senyum tulus seakan menyembunyikan diri, mempersilakan mimik sebal menari di wajah.

Selalu, selalu terselimuti awan mendung. Menyembunyikan matahari.

-

Namun kini berbeda.

Tak ada lagi awan mendung.

Hanya ada lengkung senyum di wajah oval. Ada kehangatan di genggaman tangan mereka. Ada angkasa luas yang memayungi, berserta pita sebiru langit yang mengikat hati. Ada canda merebak di kejauhan. Ada derap langkah bahagia yang terdengar semakin samar. Ada kedamaian. Ada persahabatan. Ada euforia yang bertaburan di sekitar. Ada pula kasih sayang yang berdansa ria.

Dan kemudian, tawa pun ikut memeriahkan suasana.

--

tadinya saya pertama kali bikin buat prompt 'laugh', tapi pas udah selesai dan saya cek, ternyata udah ada yang isi. haha, saya emang kalau nulis lelet. udah lama, hasilnya pun tidak sesuai dengan waktu yang dihabiskan. beh. yah, jadilah saya edit-edit di beberapa bagian biar sesuai dengan prompt selanjutnya.

dan... hidup gaje. yey!

prompt: just/hanya
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Mawar/Rose
Fandom: Summon Night: Twin Age
Character: Millisar/Reiha

--

Merah warna bunga itu.

Mengingatkannya akan darah yang berceceran. Cairan merah kental dengan bau anyir merebak. Wangi besi yang memenuhi relung paru-paru dan membuat sesak.

Merah.

Seperti lapisan matanya. Iris yang hanya bisa menatap kesedihan dan kemuraman dan kegagalan dan kematian. Benda bundar berlapis noda yang hanya mampu melontarkan pandangan benci dan putus asa.

Ingin segera ia injak saja bunga tanpa nama ini. Begitu menyebalkan dan--

"Kenapa kamu memelototi mawar itu, Millisar?"

Suara kekanak-kanakan itu menggambarkan sang pemilik: Reiha, si perempuan cerewet yang selalu mengomelinya. Millisar tidak menoleh, mata terus terarah ke arah kumpulan bunga. "Mawar?"

"Ya. Nama bunga manis ini," balas Reiha cepat. Ia berjongkok di depan hamparan karpet merah itu dan memandangi satu persatu bunga yang ada. "Cantik sekali, bukan?"

Tidak. Ia ingin menjawab. Namun ketika ia melihat gadis berambut jingga itu mulai menyinggungkan senyum syahdu sewaktu tangan kecilnya menyentuh kelopak-kelopak lemas sang bunga, sesekali mendekatkan hidung dan mencium aroma wangi yang berterbangan di udara, Millisar kembali menutup mulut dan terdiam.

Diam, dan memandangi pemandangan cantik ciptaan Tuhan ini.

Tapi bibirnya memang tak pernah mau diajak kompromi. "Tidak. Bunga itu aneh. Seaneh dirimu, manusia menyebalkan."

"APA?"

Dan lontaran argumen bodoh mulai bertebaran, dengan bunga-bunga mawar yang bergoyang mengikuti lantunan musik sang angin sebagai latar.

--

sekali lagi, unsur gaje kembali muncul di fic ini. yey! hidup gaje! gaje gaje gaje gaje gaje. dan sekarang saya bener-bener kepincut sama topik keren satu ini.
prompt: gaje pintu/door
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Lamella/Lapisan Tipis
Fandom: Summon Night: Twin Age
Character: Millisar/Reiha

--

Selalu ada pembatas di antara mereka.

Mereka: Reiha dan Millisar.

Bila berjumpa, tak pernah ada senyum yang lahir. Hanya teriakan kesal yang perlahan muncul di dunia. Lantunan sindiran dan ejekan menyayat hati yang tak henti berkumandang. Tatapan tajam yang terus terlontar dari dua pasang bola mata jernih.

Pembatas itu terlihat sangat tebal. Tembok penghalang yang berdiri begitu gagah dan kokoh. Lapisan yang tebal dan sulit untuk ditembus. Takkan pernah hilang. Akan terus tumbuh dan bertambah semakin besar.

Setidaknya, itu menurut mereka.

-

Tapi tidak menurut yang lain.

Bagi mereka, lapisan itu begitu tipis. Saking tipisnya sampai-sampai hanya dengan satu kali sentilan, pembatas itu akan runtuh dan hilang. Sebening kaca jernih, serapuh kertas putih yang suci.

Ketika mendengar pendapat ini, Reiha tersedak oleh Banna Berry yang dimakannya dan mulai bertanya maksud dari pernyataan itu, sementara Millisar hanya merapatkan bibir dan mendengus tak mengerti.

-

Hanya butuh satu pita sebiru angkasa, dua senyum terurai, dan tiga kata terlontar dengan lembut, untuk menghancurkan lapisan tipis di antara mereka.

Semudah itu, kau tahu?

--

hidu gaje! yey! gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje. motto baru saya: gaje pangkal abal.
prompt: gaje believe/percaya
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Fireflies/Kunang-kunang
Fandom: Summon Night: Twin Age
Character: Millisar, Reiha

--

Malam hari.

Waktu dimana anak-anak kecil menutup buku mereka dan melompat ke tempat tidur. Saat dimana para ibunda mengunjungi buah hatinya dan membacakan beberapa kisah pengantar tidur. Kala dimana ayah menaruh tas kerja dan mencium kening kekasih tersayang dengan lembut.

Juga kesempatan bagi Reiha untuk mendengarkan alunan musik sang angin, diiringi oleh nyanyian merdu para serangga yang penuh dengan harmoni. Sebuah orkestra yang tercipta hanya pada saat bulan menampakkan senyum redupnya.

Sangat menawan.

-

Srak!

Kepala yang tadi bergoyang mengikuti irama, tiba-tiba menoleh. Mata cokelat membesar, penuh dengan rasa keterkejutan. Mulut terbuka, tangan terkepal, sementara angin masih saja menari di antara helai-helai rambut jingga - seolah tidak peduli dengan gangguan yang merusak permainannya.

Iris merah. Sepasang mata tajam Millisar.

Tak ada yang berbeda, tentu saja. Pemuda itu tetap menatap datar, kedua tangannya tak sedikit pun bergerak dari pinggang. Sepertinya, ia tidak berniat mengganggu. Seakan ia menunjukkan diri di balik rerumputan itu hanya untuk memberitahukan keberadaannya di sana. Reiha hendak merapatkan bibir dan kembali mengalihkan pandangan ke depan, bilamana di belakang Millisar, tidak muncul berjuta-juta cahaya kecil.

Kunang-kunang.

Sinar kecil itu terus berputar dan melayang dari balik ilalang, seolah ingin ikut meramaikan suasana malam yang damai ini. Bergerak lincah dan berdansa dengan angin yang terus berhembus, sembari menaburkan pijarnya ke sekeliling. Menghidupkan kembali malam yang kelam, menarik cahaya terang dari tempat persembunyiannya.

"Apa benda kecil bercahaya ini?" tanya Millisar tiba-tiba. Tatapan datar pun luntur dan berubah menjadi ekspresi tidak mengerti. "Apa ini sama seperti buah banna yang kemarin? Apa ini bisa dimakan?"

Hening.

Dan gelak tawa segera bergema, ikut menambah harmoni dalam pertunjukan musik malam ini.

-

Rasa kesalnya mampu hilang dalam sekejap. Tak ada pertengkaran. Tak ada teriakan kesal ataupun seringai meremehkan.

Berkat cahaya kecil ribuan kunang-kunang itu.

--

eits. maaf kepanjangan. dan maaf karena saya kayaknya monoton banget - fandom dan karakter saya nggak ganti-ganti. tapi saya emang lagi jatuh cinta banget sama mereka. karena itu biarkan saya fangirling sebentar.
dan jangan lupa motto saya: gaje pangkal abal. yey! hidup gaje!
prompt: dongeng/fairytale
Edited by lalaaa, 18 Apr 2010, 05:58 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Sirkus/Circus
Fandom: Summon Night: Twin Age
Characters: Millisar, Reiha siapa lagi coba

--

Ekspresi kaget kini tertoreh di wajah oval. Mata merah membelalak penuh keterkejutan. Sementara sang gadis yang melihat hanya bisa tersenyum simpul, mencoba menahan tawa.

"Jangan bilang ini pertama kalinya kau melihat sirkus, Millisar."

Kepala pun mulai menoleh. Senyum telah memasuki panggung pertunjukan. Pelan, pemuda itu mengangguk kaku, seolah masih terhipnotis dengan hiruk pikuk di sekitar. Bingung untuk bertindak seperti apa di tengah euforia yang bertebaran.

"Apa di duniamu dahulu tak ada hal seperti ini?"

Tak ada jawaban selama beberapa menit. Lengkung bahagia telah bersembunyi, berganti dengan kerutan samar di dahi. "...aku tak begitu ingat. Hal terakhir yang kuingat sejak datang ke dunia ini hanya--" Permata merah bagai darah mengarah ke kanvas Tuhan, memandang lukisan biru ciptaan Sang Mahakuasa penuh rindu, "--langit biru."

Reiha merapatkan bibir, bingung ingin menjawab apa. Refleks, ia meraih kedua tangan Millisar dan menggenggamnya. Erat dan hangat.

Millisar mengalihkan fokus penglihatan, dan mendapati sesuatu yang jauh, jauh lebih indah daripada sang angkasa, hadir di hadapannya.

"Tak apa. Di sini, kau akan menciptakan berbagai peristiwa baru lainnya, Millisar. Bersama Aldo, Ayn, Nassau, Ticah dan--dan aku."

Terbelalak.

Lagi-lagi, itulah yang dilakukannya. Yang berbeda hanyalah, kini ada warna lain yang ikut meramaikan suasana. Warna merah jambu, penanda cinta dan kasih sayang, yang memilih untuk bersemayam di wajah putihnya.

Perlahan, Millisar merasa Reiha menarik tangannya. Berjalan menuju sirkus, dunia yang belum pernah dikenalnya, dengan langkah ragu. Rasa bingung pun muncul. Rasa penasaran, rasa bimbang, rasa gembira--segalanya bercampur menjadi satu yang melahirkan suatu sensasi yang asing.

Seolah, untuk kali ini, ia merasa benar-benar hidup.

-

-

Ya, mulai sekarang akan banyak hal baru yang menunggu di depan. Akan banyak kenangan-kenangan yang tersimpan di dalam otak dan akan selalu menemani di tengah malam kelam. Akan banyak perasaan asing yang lamat-lamat mulai mengecup sanubarinya. Akan banyak, begitu banyak tempat dan ingatan yang ingin segera diabadikan dan disimpan dalam sebuah kotak tersembunyi.

Seperti sirkus ini, misalnya.

Dan perempuan lincah itu.

--

gaje. saya tau. yey! hidup gaje! maaf kepanjangan.
prompt: manusia/human
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Bee/Lebah
Fandom: Pokemon
Character: Brendan/May

--

Ia bagaikan sebuah bunga.

Saat pertama kali dua pasang mata bertemu (iris merah menatap tajam permata sebiru lautan), ia hanyalah sebuah tunas kecil. Begitu rapuh dan lemah. Membutuhkan uluran tangan mentari pagi dan alunan nina bobo yang sang hujan nyanyikan kala mendung menghampiri. Ia tak bisa bertahan hidup tanpa lengan-lengan kokoh para tanah yang senantiasa menemani, tak mampu mekar dengan cantiknya bila udara tak ada di sana untuk membantu.

Ibaratkanlah ia sebagai sebuah bunga.

Maka kau adalah sang lebah.

Kau membutuhkan segala hal yang ada padanya. Senyuman seindah lengkungan pelangi yang muncul setelah hujan, tawa renyah bagai bisikan-bisikan dedaunan ketika angin membelai pelan, gerakan anggun seolah meniru tarian para rerumputan di padang, dan mata jernih yang seluas angkasa, sedalam lautan, sehingga tak pernah sedikit pun kau berpikir untuk mengalihkan pandanganmu darinya.

Dan kau menghisap segala hal itu. Begitu perlahan, lamat-lamat, karena kau tak ingin menyakitinya. Kemudian kau akan menyimpannya dalam sebuah tempat yang telah kau bangun dengan susah payah. Kau simpan, dan kau jaga seakan semua itu adalah nyawamu.

Kau berharap agar suatu saat nanti, kau bisa merasakan sentuhan lembut dan ciuman kecil yang akan ia tanamkan pada dahimu. Berdoa agar ia mau melupakan semua hal tentang 'rival dan rival' ini, lalu menoleh kepadamu sembari meniupkan ciuman selamat datang.

Kau sangat menginginkannya.

-

Kini ia begitu menawan dan menarik, bagai bunga.

Sementara kau adalah lebah yang mengangguminya dari kejauhan.

--

maap gaje dan nggak nyambung sama promptnya. memang, maksa. dan teori tentang lebah dan bunga itu ngasal seratus persen. maaf kepanjangan. hidup gaje. yey!
prompt: secret/rahasia
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Blood/Darah
Fandom: Pokemon
Character: Ruby/Sapphire

--

Bila sesuatu telah tersentuh oleh jemari lentik sang darah, maka kecantikan tak lagi hadir di sana.

Darah dan kecantikan takkan bisa bergandengan dalam satu kalimat yang sama. Takkan mampu berdiri dalam satu tempat yang sama. Tak dapat bercampur aduk, kemudian menciptakan sebuah hubungan yang harmonis dan selaras.

Kedua kata itu begitu kontras. Sangat, sangat kontras.

Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk berada dalam satu tingkatan yang sama, kau tahu.

Setidaknya, begitulah menurut Ruby.

(Karena ia selalu teringat akan darah yang mengalir perlahan, sementara senyum suci mulai luntur dan menghilang. Lenyap, tergantikan oleh bulir-bulir bening airmata dan isakan kecil yang menimbulkan sesak di dada.

Karena darah telah merangkak masuk, sementara kecantikan pergi dan takkan kembali.)

-

Namun melihat Sapphire tersenyum sombong untuk merayakan kemenangan, sementara darah hadir dan melukiskan merah pada putih di badan, Brendan tidak beranggapan bahwa sosok itu sangatlah menjijikan. Di dalam otaknya, kata yang terus berputar dan tak pernah mau hilang itu bukanlah jelek atau kotor atau tidak berharga ataupun menyusahkan.

Hanya satu kata: cantik.

--

maaf kepanjangan. gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gaje gajeeeeee. hidup gaje! yey!
prompt: world/dunia
Edited by lalaaa, 22 Jun 2010, 07:53 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Glasses/Kacamata
Fandom: Pokemon
Character: Ruby/Sapphire

--

"Memangnya penglihatanmu jelek, Ruby?"

Saat itu mereka sedang berada di dalam kamar. Ruby sibuk melanjutkan sulaman yang sudah beberapa hari ini ia tekuni - enam syal yang akan ia berikan kepada pokemon-pokemon tersayangnya. Berbeda dengan Ruby yang terlihat menikmati keadaan tenang dan damai seperti ini, Sapphire malah menggeruti kebosanan. Ia menyilakan kaki di atas tempat tidur Ruby, mengerucutkan bibir dan mengerutkan keningnya, berusaha menunjukkan kebosanannya.

Dan saat itulah ia mencoba untuk memperhatikan musuh/rival/sahabatnya itu dengan lebih seksama. Semenjak petualangan mereka beberapa minggu yang lalu, ia baru menyadari bahwa Ruby memakai kacamata di saat-saat tertentu.

Karena hal inilah, pertanyaan itu terlontar.

Hal pertama yang Sapphire dapatkan adalah tatapan bingung dari Ruby.

Kemudian, lelaki itu mengangguk. "Ya. Penglihatan jauhku agak jelek. Karena itulah aku harus menggunakan kacamata ini. Kadang-kadang." Ruby terdiam sebentar, lalu ia menaruh syal setengah jadi miliknya dan menoleh ke arah Sapphire. "Kenapa? Terlihat aneh?"

Sapphire gelagapan mendengar pertanyaan itu. Jujur, kacamata itu tidak terlihat aneh. Malah cocok, sangat cocok dengan wajah serius Ruby. Hanya saja--

"Ya." Tiba-tiba saja jawaban itu terlontar. Sapphire reflek menutup mulutnya.

"Hah?"

"Ma-maksudku, erm--" Sapphire mulai menggaruk-garuk kepalanya. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah lain, tahu kalau Ruby mulai menyadari semburat merah yang perlahan muncul di wajahnya. "Yah, erm, aku--ngg, lebih suka kalau matamu tidak... ngg--dihalangi kaca seperti itu."

Ruby masih terdiam. Wajahnya tetap datar, dan Sapphire selalu kesal karena ia tidak bisa menebak pikiran lelaki itu bahkan satu kali pun.

"Mata merahmu, erm, ngg--ba-bagus." Terbata, Sapphire mengucapkannya. "Co-cocok s-seperti namamu!" Untuk kalimat terakhir itu, Sapphire refleks berteriak.

"...Bisa kau ulangi lagi?" pinta Ruby, ekspresi wajah tetap tidak berubah.

Sapphire merenggut. Ia menarik napas panjang-panjang, kemudian--

"BOLA MATAMU INDAH, COCOK DENGAN NAMAMU, BODOH!"

Kemudian, ia mendengar gelak tawa Ruby. Pemuda itu tersenyum lembut, lalu berkata, "Sebenarnya aku sudah dapat mendengarnya dari pertama. Aku hanya ingin mendengar kau mengucapkan kata-kata itu lagi."

Yang dapat Sapphire lakukan hanyalah mendengus.

"Aku membencimu."

Seringai Ruby terlihat semakin lebar. Menyebalkan. Dan tampan.

"Aku juga mencintaimu."

--

gaje sekali! dan panjang! o yeaaaaa. hidup gaje! uhuy! gaje! yehe! gaje gaje gaje! yeheeee!
prompt: moon/bulan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Field/Lapangan
Fandom: Pokemon
Character: Green

--

Kadang, ada kalanya saat di mana Green merasa bosan dengan semua ini. Ia bosan berdiam diri di dalam Gym, memandangi penantang yang selalu datang dan pergi setiap menitnya. Mereka selalu bermunculan dengan siklus yang sama: datang dengan wajah penuh senyum dan semangat yang berkobar, pulang dengan hati patah dan impian yang telah runtuh.

Karena itulah, kali ini ia berada di lapangan ini. Meninggalkan Gym dengan sebuah pesan singkat ("Tutup. Datang lagi besok.") tertempel di depan pintu kaca. Rambut cokelat bersentuhan dengan rerumputan yang bermain riang bersama angin. Matahari tampak malu untuk menampakkan diri dan bersembunyi di balik perlindungan sang awan.

Benar-benar hari yang tenang. Tanpa penantang. Tanpa tatapan kesal dan marah. Tanpa pertarungan yang sudah ia ketahui akhirnya.

"Hei!"

Green membuka mata, mencoba mencari sumber dari suara sapaan tersebut. Di kejauhan, dua anak lelaki, dengan cengiran lebar menghias wajah dan sebuah pokeball tergenggam erat di tangan. Mereka terlihat sedang bercanda dengan seru. Satu orang tertawa dan satu yang lain mengikuti. Satu orang merenggut kesal sementara satu yang lain meminta maaf. Satu orang berlari dan satu yang lain mengekor di belakang.

Dua tangan terjalin, dan senyum senang perlahan lahir ke dunia.

(Dan hal itu menimbulkan sebuah perasaan rindu.

Mengingatkannya akan seseorang, dengan mata cokelat bersinar penuh kemenangan dan ekspresi hangat yang telah lama luntur. Mengingatkannya akan sebuah pertemanan yang telah lama hilang dan senyum yang tak pernah lagi tersampaikan. Mengingatkannya akan torehan ekspresi kecewa dan awal dari hancurnya pertemanan.)

-

Di lapangan itu, Green mengangkat wajah dan menatap ke kejauhan. Melewati jutaan pepohonan yang menghalangi, menembus tumpukan bebatuan dan bulir-bulir salju yang mengendap, memasuki mulut gua yang menganga lebar berserta lorong-lorong berliku yang seakan tidak pernah berakhir.

Dan di lapangan itu, ia berharap bahwa ia tidak berada di sini. Tetapi jauh, jauh di sana. Menemui pemuda bodoh yang selama ini membiarkan hati membeku di dalam pelukan sang salju. Diam dan terus-menerus menunggu. Menunggu dan menunggu dan menunggu.

Seperti yang selama ini Green lakukan.

-

Suatu hari, ia akan mampu berdiri tegap, dan mengambil langkah pertama.

--

gaje sekali. dan panjang! yey! moto saya: hidup gaje! gaje is my life! yehe! woho! gaje!
prompt: fever/demam
Edited by lalaaa, 2 Jun 2010, 06:27 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Bread/Roti
Fandom: Pokemon
Character: Green (implied Red/Green)

--

Dahulu, sewaktu semua ini belum terjadi. Dahulu, melewati Pegunungan Silver dan Pemimpin Gym dan sang Champion tak terkalahkan. Dahulu, melompati Badge Gym dan Four Elite dan Tim Rocket. Dahulu, sebelum tali persahabatan yang terputus dan benteng permusuhan menjulang tinggi dan yang ada di sana hanyalah Red dan Green.

Hanya dua bocah (begitu inosen dan polos dan tak tahu akan keberadaan darah di luar sana).

Kini mereka sedang terduduk di sebuah lapangan. Begitu luas dan lapang dan mereka bisa berlari secepat yang mereka bisa, namun yang saat ini ingin mereka lakukan hanyalah terdiam. Duduk termenung seraya menghabiskan roti panggang yang baru saja ibu Red buatkan. Hangat dan renyah.

"Roti buatan ibumu selalu enak, Red! Renyah dan cokelatnya serasa meleleh di dalam mulut. Pokoknya, enak banget deh! Rasanya nggak pernah ada roti seenak ini!"

Dan Red, ia hanya mengangguk dan tersenyum.

-

Sekarang, kala ia telah menjadi Gym Leader dan Red telah menjadi Champion tak terkalahkan. Sekarang, melewati Gym Badge dan Four Elite dan Tim Rocket yang hanyalah serpihan kenangan busuk. Sekarang, setelah tali persahabatan yang terputus dan benteng permusuhan menjulang tinggi dan tak ada lagi Red dan Green yang dulu.

Tak ada lagi dua bocah yang bermimpi di bawah naungan langit luas.

Hanya ada Green di Viridian, dan Red di Pegunungan Silver (menunggu dan menunggu dan menunggu seseorang untuk menjatuhkannya).

Kini ia sedang terduduk di dalam Gym, memandangi para trainer yang berlalu-lalang. Menangis dan bersorak dan mengerang dan tersenyum. Kalah dan menang dan seri dan tak akan pernah menyerah. Terluka dan sembuh dan terluka lagi dan berlari keluar dengan kesal.

Perlahan, ia menggigit roti yang sedang digenggamnya.

Rasanya hambar.

-

gaje sekali! yehey! hidup gaje! hidup gaje! pilihlah jalan hidup gaje! yey! dan... kayaknya prompt ini udah pernah ditulis tapi ya tak apalah.
prompt: games/permainan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Chateau/Puri
Fandom: Fragile Dreams
Character: Seto, Crow

--

Seperti berada di dalam puri sang putri tidur.

Dipenuhi oleh semak belukar yang merobek kulit. Dikuasai dan ditundukkan oleh sang penyihir yang kejam. Dipenuhi oleh para anak buah sang penyihir yang haus akan darahmu. Dan jauh, jauh di dalam sana, tertidurlah seorang putri yang -

(dahulu melompat dan menyeringai dan mencuri kalung kesayanganmu)

- kini telah berubah menjadi dingin.

Tak ada lagi (dan memang takkan pernah ada) kehangatan yang menjalar di balik kulit pucat. Tak ada lagi seringai jahil dan nada sombong yang menari di bibir tipis. Tak ada lagi sinar nakal yang bermain di dua permata emas. Tak ada lagi tawa kemenangan yang terdengar bagai lonceng penanda pagi tiba di dalam telinga. Tak ada lagi lompatan dan putaran dan salto yang bisa ia lakukan. Tak ada lagi permainan kejar-kejaran yang dahulu pernah kalian lakukan.

Tak ada lagi Crow (dan yang tertinggal hanyalah sebuah tubuh boneka).

Kau berpikir untuk menciumnya (sama seperti yang ia lakukan kepadamu dulu). Karena ia adalah putri dan kaulah sang pangeran yang akan (harus) membangunkannya. Karena ia adalah orang yang pertama kali menarik tanganmu dan berkata bahwa kaulah sahabat terbaiknya. Karena ialah yang pertama kali (dengan kasar dan cepat dan - dan lembut) menggambarkan garis penghubung di antara kau dan dirinya, dan berkata bahwa garis itu takkan pernah terputus.

("Karena kita adalah teman, kan?")

...Seperti berada di dalam puri sang putri tidur (dengan penyihir dan monster dan semak belukar yang tajam). Dan ia adalah putri tidur (yang akan selalu tertidur dan takkan pernah terbangun lagi), sementara kau adalah sang pangeran (yang tak cukup kuat untuk menariknya keluar dari jurang kegelapan).

--

aye. saya tau kata pertama yang anda lontarkan setelah membaca drabble (kepanjangan) ini. abal dan gaje. aye, saya tau. itulah jalan hidup saya.
prompt: sun/matahari
Edited by lalaaa, 19 Jun 2010, 04:13 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lalaaa
Member Avatar
hold on;
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Grass/Rumput
Fandom: Pokemon
Character: Yellow, Red (hints of Red/Yellow)
Warning: Manga-verse

--

Yellow seperti rerumputan yang tumbuh di lapangan luas.

Ia menari dengan riang ketika angin mulai bermain dengan rambut pirangnya. Ia tersenyum dan menyapa dunia kala mentari mulai mengambil alih tahta langit. Seperti rerumputan di saat ia berinteraksi dengan alam. Begitu damai dan menenangkan hati.

Ia kecil dan rapuh. Takkan mampu bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Ingin menolong dengan segenap hati yang dimilikinya, walaupun pada akhirnya ia jualah yang harus ditolong. Dan kemudian, ia akan tersenyum secerah mentari sembari ia mengucapkan terima kasih. Seperti rumput, yang kecil dan membutuhkan perawatan, namun mampu berdansa dan menebarkan euforia.

Ia polos dan sangat, sangat muda. Begitu polos dan inosen untuk melangkah masuk ke dalam dunia yang kotor ini. Namun ia akan bertahan - seperti rumput. Ia akan jatuh dan terinjak dan kalah. Namun ia akan memiliki kekuatan untuk bangkit lagi. Ia akan bangkit dan tetap hidup.

Ia tertawa dan bergembira bersama alam. Ia kecil dan rapuh dan membutuhkan uluran tangan semua orang. Ia begitu hijau dan mudah terluka, namun ia akan tetap bertahan, dan bertahan.

Seperti rerumputan (yang hidup dengan alam dan kecil dan hijau tetapi tetap terlihat kuat).

Dan mungkin karena itulah, Red menyukainya.

(Lalu ia memeluk Saur, mengatakan betapa senang ia karena memiliki teman seperti dirinya, dan kembali melangkah pulang. Menuju rumah.)

-

"A-ah! H-hai Red! Kenapa tiba-tiba kau datang?"

"Hai, Yellow! Sepertinya Pika ingin sekali bertemu dengan ChuChu."

Satu kebohongan kecil, tak mengapa, kan?

--

gajeeee. dan maksa. nggak nyambung sama prompt. oh, whatever.
prompt: honey/madu
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Fully Featured & Customizable Free Forums
Go to Next Page
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 3


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone