Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,108 Views)
Fleddie Melkuli
Member Avatar


cobain ah...
ini saya posting jg di LJ: LJ-nya Fleddie

Prompt: chocolate/coklat
Fandom: Bajaj Bajuri
Characters: Bajuri, Emak, Ucup, Said dan Stella (OC)
Rate: T

-------------------------------

14 Februari. Siang.

“Juriiiii!”

Bajuri buru-buru mematikan mesin bajaj. Tanpa nada nyaring itu saja, panggilan Emak tidak bisa dibantah.

“Bang, pinjem bajai-nya sebentar buat---”

Ini lagi. Makhluk item, pengangguran, pecicilan ini selalu saja muncul di saat tidak tepat. Kalau mau jujur, tidak ada saat tepat buat kemunculan Ucup.

“Ambil, no!” sahut Bajuri cepat-cepat. Kunci bajaj dilempar begitu saja. Si kunci mendarat pasrah di telapak tangan Ucup. “Ati-ati. Awas kalo sampe---“

“Juriii! Cepetan betulin antene!”

“I—iya, Mak!” sahut Bajuri. Tubuh gempalnya terguncang-guncang seiring dia mencari tangga.
Suara mesin bajaj terdengar meninggalkan ujung gang, abai pada derita tuannya. Tapi itu tak bertahan lama.

“Bang Juri kebangetan. Giliran gue yang pinjem, bensinnya abis,” gerutu Ucup. Terpaksa dia mendorong kendaraan buatan India itu pulang ke empunya. Sembari berharap diberi ongkos untuk naik metromini, dia terus merutuk Bajuri.

Yang dirutuk sedang di atap, menggoyang-goyang antene.

“Udah Mak?”

“Belum. Malah tambah rusak!” sahut Emak nyaring.

Tambah pula kerutan di jidat Bajuri. Hampir sebanyak kerutan di jidat Ucup yang kini sudah sampai di depan rumah petak mereka.

Hampir saja satu lagi ocehan nyinyir meluncur masuk ke telinga Bajuri. Satu benda kecil di jok belakang bajaj membungkam niat Ucup itu. Entah siapa penumpang ceroboh yang meninggalkannya di sana. Dia pasti tak tahu betapa besar perubahan yang dibawa oleh benda itu hari ini, di kampung ini.

“Coklat,” bisik Ucup girang. Dielusnya kemasan bening berbentuk jantung hati dan dihiasi pita pink itu. Makanan bulat-bulat mungil mengintip malu-malu dari balik untaian pita. Romantis dan manis. Sempurna.

“Stella pasti akan menyerah pada Yusuf bin Sanusi,” pikirnya, “ditimang-timang jadi setampan Nabi Yusuf, kini malah jadi penakluk wanita.”

Senyum merekah tetap menemani bibir Ucup hingga dia melintas di depan rumah Bajuri. Sosoknya tertangkap mata tua Emak yang masih awas.

“Heh, Item. Sono ke atas, bantuin si Juri. Dari tadi mbenerin antene nggak beres-beres,” semprot Emak.

Rontok sudah bayangan Stella dikelilingi bunga-bunga mawar pink.

“Antene-nya yang rusak, Mak,” sahut Bajuri dari atap, membela diri.

“Ambil antene elu buat gantiin antene gue. Cepetan!”

“Tap—tapi Mak, entar aye gimana---“ sahut Ucup terbata-bata.

Mata melotot Emak sudah cukup jadi jawabannya.

“I—iya, Mak.”

Ucup berlari ke rumahnya.

“Iteeeem!” seru Emak gemas. Sontak langkah Ucup terhenti. “Gimane elu mau nyopot antene kalo nggak pake tangga?”

O iya. Betul juga.
Ucup balik arah, berjalan cepat menuju tangga kayu di depan rumah Bajuri.

Eh, tunggu dulu. Masa’ mengambil tangga sambil mengempit coklat? Coklat ini diapain? Dititipin Emak? Nggak mungkin. Pasti langsung habis disikat Emak.

“Cepetan! Bentar lagi filem Shahrukh Khan di tipi!” Emak terus nyerocos.

Ke rumah dulu, naruh coklat, baru ambil tangga.

“Ucuuuup!”

Ucup mati langkah.

“Cepetan, Iteeeeem!”

Tangga, rumah. Rumah, tangga, rumah. Mana dulu?

Ah, untung ada Said.

“Id!”

Yang dipanggil berhenti. Dia melongo saja ketika tangan kanannya diraih Ucup, diberi barang, dan tangan kirinya ditangkupkan di barang itu. Masih melongo juga ketika Ucup ngacir begitu saja, meninggalkan dia tanpa penjelasan.

“Cup…”

Tapi yang dipanggil sudah sibuk menggotong tangga, mencopot antene, dan melakukan semua yang diperintah Emak. Tak peduli pada dirinya yang masih dilanda ketidaktahuan.

Sampai dia membuka tangan dan melihat barang itu.

Coklat. Kemasan jantung hati. Pita pink. Hari ini 14 Februari. Hari kasih sayang.

“Jadi selama ini Ucup menyimpan rasa…”

Said tak berani meneruskan kalimat di dalam otaknya.

-------------------

ini sih bukan drabble!

A/N: maap. gaje bin abal sangat!

Prompt: Nail/Kuku
Edited by Fleddie Melkuli, 20 Feb 2010, 01:26 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Fleddie Melkuli
Member Avatar


prompt: fragmen
fandom: A Clockwork Orange
characters: Mr and Mrs. De Large
disclaimer: Anthony Burgess (original story) and Stanley Kubrick (director)


Dia melihat istrinya berdiri saja di depan kamar itu. Wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun yang pernah dikenalnya. Entah itu sedih, senang, bingung atau marah. Tidak satu pun.
"Jadi bagaimana?" tanya dia dengan suara pelan. Mungkin terlalu pelan karena istrinya tidak juga menoleh.
Dia mendekati istri yang telah dinikahinya duapuluh tahun lalu itu.
"Anak muda itu menunggu. Dia ingin jawabannya sekarang. Kalau kau tidak mau, tidak apa. Aku nanti yang akan bilang padanya."
"Menurutmu... " sang istri diam sejenak, "mengapa dia melakukan itu? Semua perbuatan keji itu?"
Sang suami menarik nafas. Ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan anak semata wayang yang telah mencoreng nama keluarga De Large itu.
"Lupakan pertanyaanku," katanya sambil mengibaskan tangan sang suami yang hendak menyentuh bahunya.
Dia berjalan melewati sang suami.
"Mau ke mana kau?"
"Menemui anak muda itu. Aku sendiri yang akan bilang padanya."
"Tunggu," dia memegang lengan istrinya, "kau mau bilang apa?"
"Menerimanya, tentu saja. Bukankah kamu sendiri yang mengusulkan itu?"
"Tapi tadi kau bilang..."
"Alex adalah anak kita. Dia akan selalu jadi anak kita. Tapi dia tidak akan pulang, kan? Berapa lama dia dihukum buat perbuatan biadabnya itu? Kalaupun dia keluar nanti, apa kita masih diberi hidup?"
"Ya mungkin kita sudah jadi sangat tua..."
Rona sedih terlihat jelas di wajah sang suami. Istrinya segera memeluk erat, menyalurkan segala hangat yang tersisa.
"Masa-masa kita bersama Alex yang kita kenal adalah fragmen masa lalu. Kini biarkan dia menuai apa yang dia tanam. Kini kita akan menjalani fragmen yang lain, karena..."
"Hidup terus berjalan," sahut sang suami. Dia tak mampu membantah. Istrinya hanya mengulang kata-kata yang diucapkannya sendiri semalam. Dan malam sebelumnya. Dan malam-malam sebelumnya, saat mereka berdua meratapi apel busuk yang kini menggerogoti nama keluarga De Large.

----
kayaknya lebih pas kalo prompt-nya apel ya? o.O
----
next prompt: apathy
Edited by Fleddie Melkuli, 17 Aug 2010, 12:03 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone