Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
  • Pages:
  • 1
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,984 Views)
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Time Machine/Mesin Waktu
Fandom: Katekyou Hitman Reborn
WARNING: shounen ai
Pairing: Byakuran/Irie, Cervelo

Kalau bukan karena pertemuan dengan Shouichi yang pertama kali itu, mungkin Byakuran tak akan berpikiran untuk mencoba menguasai dunia di masa depan.

Byakuran menatap anak lelaki berambut cokelat yang tertidur pulas di sebelahnya dengan wajah damai itu sambil tersenyum. Ia menyingkirkan poni panjang dari dahi Shouichi, mengelus-elus pipinya dengan penuh sayang, dan mencium bibirnya dengan lembut.

"Nnh...," Shouichi mengerutkan dahinya sesaat, menggeliat, sebelum kemudian kembali tertidur.

Menciptakan mesin waktu... Shouchan memang jenius, pikir Byakuran, senyumnya makin lebar.

"Jadi tak sabar sampai mesinnya selesai..., ya, Shou-chan," bisik Byakuran pelan, wajahnya terlihat senang.

Lalu... rencana membawa bocah-bocah Vongola untuk merebut cincin Vongola mereka bisa segera dijalankan...

"Sampai saat itu..., mungkin kita bisa bermain-main, dulu ya..," tangan Byakuya yang tadinya mengelus-elus pipi Shouichi, perlahan-lahan turun ke bibir, dagu, lalu ke lehernya dengan gerakan sensual.

Byakuran bisa merasakan tubuh Shouichi mulai bergetar di bawah sentuhannya meskipun objek kesukaannya itu masih tetap tertidur.

"Tuan Byakuran," terdengar suara Cervelo yang mengetuk pintu kamar Byakuran, memaksa Byakuran berhenti 'bermain'.

Byakuran berdecak pelan sebelum menghela nafas panjang. Ia turun dari tempat tidur di kamar yang serba putih itu dan mengambil jubah tidurnya untuk menutupi tubuh telanjangnya.

"Masuk," kata Byakuran sembari memperbaiki kerahnya.

"Tuan, tes mesin waktu dengan kelinci percobaan sepertinya sudah berhasil," kata wanita berambut panjang itu.

"Aku akan ke sana dengan Shou-chan, nanti. Biarkan dia tidur dulu. Sudah berhari-hari dia kerja tanpa tidur," kata Byakuran sambil duduk lagi di kasurnya, mengangkat selimutnya sampai menutupi bahu Shouichi.

"Baiklah," kata Cervelo sambil mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi dulu," lalau Cervelo pun keluar dari kamar Byakuran.

"Nah... sepertinya semuanya sudah siap. Siapa yang akan kita kirim ke masa lalu?" Byakuran memandang cermin sambil tersenyum jahat.

Tanpa Byakuran sadari, Shouichi membuka mata dan menatap punggung Byakuran dengan tatapan kosong. Ia masih berpura-pura tertidur lebih lama lagi karena belum ingin menghadapi kenyataan yang kejam.

------------------------------------------------------------------------------

A/N: Gaje abis...*sweats*

Prompt selanjutnya: Con-artist/Penipu ulung
Edited by lunaryu, 28 Sep 2010, 02:29 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Bullet/Peluru
Fandom: White Collar
Warning: male x male, spoiler S01E03-Book of Hours
Pairing: Neal/Peter

Neal tidak suka senjata api.

Mulai dari bentuknya yang konyol sampai dengan pelurunya yang mematikan.

Kenapa di dunia ini harus ada benda-benda berbahaya begitu? Siapa, sih yang membuatnya? Mana pihak pemerintah memberi izin memegang benda berisi peluru mematikan begitu lagi!

Neal menghela nafas panjang. Dia betul-betul tak suka memegang senjata... dan tak suka kalau ada senjata ditodongkan padanya.

Seperti yang terjadi saat ini...

Neal melihat mulut pistol yang di arahkan ke lehernya itu dengan wajah setengah ngeri, setengah menyesal. Kalau tahu begini, dia akan menyatakan cinta dulu pada Peter. Kalau setelah ini peluru dari pistol itu menembus leher atau dadanya, Peter bakal menangis tidak, ya?

Kenapa Neal mau saja, sih... menyamar jadi pembeli dan berhadapan langsung dengan si penjahat... mana dia tidak dipersenjatai lagi? Paling tidak dia diberi 'stand-gun' kek!

Dasar Peter bodoh! Cepat datang ke sini! Kalau aku keburu mati, akan kuhantui kau seumur hidup!

Neal berusaha membujuk profesor itu untuk menurunkan senjatanya. Dasar,cantik-cantik kok berbahaya. Namun si profesor menolak.Dia bertekad untuk mengambil kitab itu dan uangnya. Artinya dia betul-betul menembak Neal! Untung Neal cepat bertindak, dan refleknya menangkis peluru yang meluncur ke arahnya itu dengan kitab di tangannya.

Wow.... Kitab itu benar-benar hebat... tidak bisa ditembus peluru!

Meski Neal jatuh terjerembab, Peter dan timnya sudah sampai di sana dan menangkap si profesor.

"Neal, kau baik-baik saja?" Peter menawarkan tangannya pada Neal, wajahnya terlihat cemas.

"Peter... aku tahu kau akan datang," kata Neal sambil tersenyum lega. Padahal barusan dia barusan akan mengutuk Peter, tapi dia lega melihat wajah Peter. Lega karena masih hidup.

"Kau hebat, Neal," kata Peter sambil menepuk bahunya dengan senyuman bangga. Wajah Neal jadi sedikit memerah.

Neal memang tidak suka pistol dan peluru... tapi kalau menghadapi itu bisa membuat Peter tersenyum bangga padanya... mungkin dia akan mencoba membiasakan diri.

Kalau dia tidak mati duluan sih...

-------------------------------------------------------------------------------

A/N: makin gaje *double sweats*

Prompt berikutnya: Federal Agent/Agen Pemerintah
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: fangirls
fandom: White Collar
pairing: Peter Burke/Neal Caffrey, Elizabeth Burke
warnings: hints male x male

Waktu pertama kali Peter mendapat kartu ulang tahun dari si pencuri benda seni dan penipu ulung legendaris Neal Caffrey, yang terlihat lebih tegang dan senang adalah Elizabeth, istrinya.

"Neal itu orangnya bagaimana?" tanya El antusias, matanya terlihat berbinar-binar, tapi Peter tak tahu kenapa dia terlihat begitu... menanti-nanti?

Bukannya normalnya seorang istri akan cemberut karena suaminya dapat kartu dari orang yang seharusnya ia tangkap dan ia masukan penjara? Neal itu kan buron. Lawan Peter. Kenapa Elizabeth terlihat begitu penasaran?

"Dia sangat licin dan pintar, tapi aku akan menangkapnya," kata Peter dengan wajah yakin.

El membuat suara aneh. Peter melihat istrinya itu dengan wajah bingung. "El? Kenapa wajahmu merah begitu?"

"Ng...," El memejamkan mata dan tubuhnya gemetaran. Suara yang ia keluarkan makin aneh saja. Apa dia sakit, ya?

"Tolong katakan kalau setidaknya wajah Neal tampan," kata El dengan suara bergetar juga.

"Uh...," Peter ragu. Kenapa El bertanya hal yang aneh begitu? "I-iya sih... sangat tampan malah. Mata biru terang, rambut gelap, wajah menawan... tubuhnya juga lumayan...."

Elizabeth mengeluarkan suara aneh lagi, seperti erangan, dan itu membuat Peter sedikit cemas karena ia mengira istrinya sedang kesakitan.

"Peter... orang yang sangat tampan itu mengirimimu kartu ucapan ulang tahun dan pesan...," kata El masih gemetaran. "Kamu tahu arti XOXO di akhir pesannya?" tanyaya kemudian.

"Uh... apa, ya?" Peter kurang mengerti simbol bahasa tulis. Ia tak pernah menggunakannya.

"Neal mengirimimu peluk dan cium, Peter. Dia pasti naksir padamu!" El hampir menjerit kegirangan dengan pikirannya itu.

"A--!?" Peter, saking kagetnya dengan kata-kata El hanya bisa melebarkan matanya dan membuka mulutnya seperti ikan. "Hah?"

"Aduh... aku tak menyangka akan menemukan hal seperti ini di kehidupan rumah tanggaku sendiri!" El masih berkata antusias, matanya makin berbinar dan wajahnya makin cerah saking bahagianya. "Peter, sayang, kau harus menceritakan semua hal tentang Neal padaku! Apa makanan dan minuman favoritnya? Kau pernah bertemu langsung dengannya kan? Ukuran tubuhnya? Bagaimana reaksinya saat melihatmu, Agen Burke?"

Pertanyaan beruntun Elizabeth membuat Peter makin pusing tujuh keliling! Selain karena bingung, ia juga mendapati kalau ia belum bisa menjawab semua pertanyaan itu. Dia harus mencari tahu lebih banyak lagi tentang Neal...

Tunggu! Bukan itu masalahnya, kan?! Kenapa Elizabeth antusias begitu gara-gara Neal mengirim peluk dan cium padaku?!

El, sayang... kenapa kau kelihatan sesenang itu?" tanya Peter dengan wajah pucat. Masa' sih... istrinya itu... jangan-jangan...!

"Kau bercanda? Tentu aku senang! Jarang-jarang aku bisa melihat 'boys love' di kehidupan nyata, Peter! Kau harus meladeni Neal!" ujar Elizabeth tegas.

Peter terjatuh dari kursinya. Tak disangka... Elizabeth, istrinya tercinta ternyata seorang 'fangirl' untuk para lelaki yang ada hati dengan lelaki lainnya.

Bukan berarti Peter merasa jijik, sih... kalau memang Neal betulan naksir, dia sangat senang. Karena artinya dia bisa menangkap ekor si penipu ulung itu dengan lebih mudah. Takutnya kalau itu hanya ada di kepala Elizabeth yang terlalu sensitif... Peter bisa makan hati kalau terlalu berharap.

"Setelah kau menangkap Neal, kau harus pertemukan aku dengannya! Aku ingin lihat wajahnya, Peter! Kalau bisa kau harus ada bersamanya waktu aku foto, ya?" El berkata lagi penuh semangat seperti anak-anak. Peter tak sampai hati berkata tidak padanya.

"Oke... kita lihat situasinya dulu, ya?" kata Peter salah tingkah.

"Kyaaa, kalian pasti bakal terlihat seksi bersama!"

Peter jadi merah padam waktu El tanpa malu-malu mengatakannya, malah semakin antusias pula diri wanita cantik itu.

Dasar... penggemar wanita memang menyusahkan... Apa El tidak tahu betapa banyak aturan yang akan dilanggar Peter untuk hal ini?

Meskipun itu istrinya sendiri, Peter harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian istrinya dari fantasi penggemar yang super tidak mungkin terjadi itu....

------------------------------------------------------------------------------

A/N: wakakak, kasihan Peter. lagi-lagi gaje *diinjek*
Oke, prompt selanjutnya: hairpin/jepit rambut
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Anaconda/Ular anakonda
Fandom: Wild Life
WARNING: hints shonen ai
Pairing: Tsukasa Ryoto/Tessho Iwashiro, Hisataka Kurachi, Mika Seno

"Dokter, ada pasien gawat!" Seno masuk ke ruang rawat divisi 2 RED dengan wajah terlihat ekstra cemas, membuat Tessho kaget.

"Seno, ada apa?" Tessho berdiri, matanya melebar dengan heran.

"Ularnya... ada anakonda yang melilit pemiliknya terlalu kencang! Kalau tidak cepat dilepas... pemiliknya bisa mati!" seru Seno panik.

"Apa!? Kalau begitu harus cepat dilepas!" Tessho memasang wajah horor dan buru-buru keluar dari ruang periksanya.

Sampai di ruang tunggu, Tessho pucat melihat si pemilik ular yang dibelit dan mukanya mulai membiru karena kekurangan oksigen.

"Hei!" Tessho buru-buru mendekat, hendak membantu melepaskan ular dari tubuh si pemilik.

"Dokter Tessho! Tunggu! Ular anakonda itu...!" Seno hendak menghentikan Tessho, tapi terlambat.

Si ular yang panjangnya bisa sampai lima meter dengan tebal bisa mencapai 30 cm itu mendesis galak dan tiba-tiba menerjang ke arah Tessho dengan gerakan sangat cepat! Tessho tak sempat bereaksi, dan hampir saja tergigit ketika sebuah tangan memukul belakang kepala ular itu.

Tessho jatuh terduduk ke belakang sambil membelalakkan mata dengan kaget menatap si ular yang mendesis kesakitan dan jatuh ke lantai... pingsan?

"Wow, hampir saja, ya, Tessho."

Suara Profesor Ryoto menyadarkan Tessho dari kekagetannya dan ia mendongak, menatap mata silver Ryoto yang terlihat sedikit cemas, dengan wajah bodoh. "Eh?"

"Kau hampir saja dimakan, Tessho," kata Hisataka dari belakangnya, menepuk punggung Tessho pelan. "Kau baik-baik saja?"

Tessho menoleh ke arah Hisataka masih dengan mata melebar. "Eh... iya..., iya," katanya sedikit salah tingkah. Hisataka membantunya berdiri.

"Dasar... Kau harus hati-hati, Tessho. Apa kau tidak tahu kalau Anakonda itu jenis ular yang agresif? Dia suka menyerang barang yang bergerak. Kau harus mendekat dengan hati-hati, atau pakai panah bius supaya dia tenang dulu sebelum kau menyentuhnya." Ryoto menyematkan kedua tangannya di bahu, menasihati juniornya yang meskipun hebat, kadang-kadang suka ceroboh.

"Uh... iya, maaf. Aku panik karena pemiliknya terlihat susah bernafas," kata Tessho, wajahnya makin salah tingkah. "Makasih sudah menolongku, Ryoto," lanjutnya sambil tersenyum kecil.

"Yah..., tak apa sih. Yang penting kau tidak jadi dimakan," kata Ryoto sambil menepuk pundak Tessho, mungkin maksudnya mau menenangkan Tessho yang tadi syok. Tapi, lalu tangannya berhenti di situ dan dia diam.

"Um... Ryoto?" Tessho melihat Ryoto dengan wajah heran.

"Kau tidak boleh lupa kalau yang boleh memakanmu cuma aku, ya?" Tanda cinta mengakhiri kalimat Ryoto dan dia tersenyum sok manis.

Tessho memucat dan mungkin kali ini wajahnya yang membiru karena tiba-tiba saja dia jadi sesak nafas dengan pernyataan Ryoto barusan...

------------------------------------------------------------------------------

A/N: saya sangat pengen lihat wajah Tessho *ngakak*
Okey, next prompt: music box/kotak musik
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Eiffel Tower/Menara Eiffel
Fandom: White Collar
Pairing: Nea/Kate, Neal/Peter
Warning: hints male x male

Neal Caffrey gemar bertualang ke berbagai negara. Maksudnya bertualang adalah mengerjakan misi pencurian dan pemalsuan benda-benda seni.

Peter mengejar Neal sampai ke Paris, Perancis. Kabarnya, terakhir Neal sedang menjalankan misi di kota itu bersama kekasihnya, Kate Moreau. Kali ini Peter akan menangkapnya.

Seperti biasa, Neal dan Peter bermain kucing-kucingan. Peter berusaha menangkap ekor Neal, tapi bocah nakal itu sama sekali tidak meninggalkan jejak yang bisa mendukung tuduhan Peter padanya. Seperti biasanya juga, Neal mengirim pesan menggoda untuk mengejek Peter dan membalas tuduhannya.

Akhirnya sampai misi Neal selesai pun, Peter belum bisa membuktikan keterlibatan Neal dalam kasus pemalsuan lukisan Monet di Louvre. Terkahir kali ia melihat Neal, ia sedang jalan-jalan di Menara Eiffel.

"Kau itu benar-benar licin seperti belut," kata Peter dengan wajah merengut sebal saat melihat Neal mengagumi keindahan malam hari dari puncak menara dengan teleskop panorama bersama seorang gadis manis berambut gelap panjang yang sangat cantik dan anggun, dengan santainya.

Tidak secantik dan seanggun Elizabeth, sih... tapi memang cantik dan masih terlihat seperti masih anak-anak dengan wajah tanpa dosa begitu. Serasi sekali dengan Neal yang terlihat lebih tampan dari biasanya.

"Wah, aku tak paham dengan maksud kata-katamu, Peter. Apa kau sedang memujiku?" tanya Neal dengan senyumnya yang menawan. Kate terkikik di sebelahnya.

Peter memincingkan mata pada Neal, lalu pada Kate. "Pacarmu, Caffrey?" tanya Peter dengan ekspresi aneh.

Neal tersenyum penuh arti. "Cemburu, Peter?" godanya balik.

Bo... bocah sombong! Peter jadi sangat kesal karena kata-kata Neal menohok sesuatu dalam diri Peter yang tadinya sama sekali tidak ia ketahui ada di sana.

"Kalau mau mengigau, lakukan sambil tidur," kata Peter dengan wajah pucat.

"Wah Neal, agen FBI favoritmu galak, deh," kata Kate sambil tertawa geli.

"Tapi dia keren, kan, Kate?" kata Neal sambil tersenyum senang.

Peter menghela nafas panjang. "Aku pasti akan menangkapmu, Neal Caffrey. Lihat saja nanti," kata Peter tegas sebelum dia membalikkan badan dan pergi, menuruni menara langit Eiffel dengan perasaan dongkol. Dia tak tahan lagi melihat Neal tersenyum penuh kemenangan dengan pacar barunya... atau pacarnya.

Dasar... kok aku jadi kesal begini setelah tahu dia punya pacar? Pikir Peter heran. Huh, Caffrey membuat Peter jadi aneh. Dia menolak. Dia pasti akan menangkap Neal setelah dia kembali ke Amerika. Pasti.

--------------------------------------------------------------------------

A/N: A... aneh... TT_TT
Next prompt: veterinarian/dokter hewan
Edited by lunaryu, 30 Sep 2010, 01:57 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: rough/kasar
fandom: White Collar
Pairing/Chara: Peter/Neal, Keller
warning: male x male

Dulu... Neal Caffrey adalah tipe penjahat yang lembut dan pintar. Artinya dia tak suka kekerasan maupun senjata. Neal lebih mengandalkan kemampuannya berpura-pura, bersilat lidah, dan berakting untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Dalam sejaran kehidupan Neal Caffrey sebagai pencuri, pemalsu, dan penipu ulung, baru kali ini dia bertemu penipu sekejam Keller. Dia bukan cuma penipu, dan pencuri, tetapi juga pembunuh yang mengandalkan segala cara,sekeji apapun itu.

Neal benci sekali padanya. Karena itu dia dekati Keller dan dia tipu si maniak itu. Rasakan! Neal berhasil membuat penjahat itu kehilangan banyak uang dan memaksanya untuk menghilang.

Sayang itu tak bisa menyingkirkan Keller selamanya. Sekarang ia kembali, dan ia mengincar Neal. Dia menculik Neal yang sedang ada di bawah pengawasan FBI lain (bukan Peter. Peter tak akan membiarkan Neal diculik dan dalam bahaya begini).

Dan si Keller itu memperlakukan Neal dengan sangat KASAR saat menyekapnya! Tidak perlu memukuli Neal sampai begitu, kan?

Neal sudah benci dia dari dulu... sekarang dia MAKIN BENCI pria itu.

Neal menghela nafas panjang dengan lemas. "Kenapa sejak bekerja dengan FBI aku jadi sering terlibat hal berbahaya begini, sih...," rasanya Neal ingin menangis.

Peter... cepat tolong aku...!--katanya dalam hati. Aku sudah meninggalkan petunjuk... lakukan sesuatu, Peter!

Meskipun nantinya Neal tak akan mengakuinya dengan mudah, dia sangat ingin lihat wajah Peter saat ini. Dia selalu tahu dan percaya kalau Peter akan datang menolongnya.

"Nah, Caffrey... waktunya kerja," kata Keller dengan seringai menyebalkan.

Neal menyipitkan matanya pada Keller dengan wajah tak senang. "Kalau minta bantuan bisa lebih sopan tidak?"

Duh, kenapa Neal suka besar mulut sih? Sekarang dia dipukul lagi, kali ini di perut, dan rasanya Neal bakal muntah.

Keller sialan...! Aku pasti akan membalasmu! Lihat saja nanti!. Neal menggertakkan giginya sambil bersumpah dalam hati.

---------------------------------------------------------------------

A/N: Aw... kasihan Neal... TT_TT
Next prompt: Lick/Menjilat *grins naughtily*
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: chemical/bahan kimia
fandom: chuck
pairing/karakter: Bryce Larkin/Chuk Bartowski
warning: hints malexmale

Bryce Larkin tidak suka bau bahan-bahan kimia. Bebauan itu sering mengingatkannya akan bau rumah sakit, atau lab penelitian senjata di markas besar CIA.

Bryce sering berada di tempat-tempat yang mengharuskannya kontak dengan bahan-bahan kimia berbaya itu sejak dia direkrut sebagai agen saat dia masih kuliah. Bukan hanya itu, dia pun kerap berhungan dengan bubuk mesiu dan bahan pembuat bom, terkadang bebauan kimia itu sering bercampur dengan bau asap dan darah, dan Bryce benar-benar tak suka itu.

Meskipun begitu, seorang agen CIA macam dia tak berhak mengeluh, atau menolak perintah hanya karena tak, dan Bryce paham betul aturannya. Namun, bukan berarti dia tidak rindu dengan bebauan alami yang ada di sekitarnya sebelum dia direkrut. Bau alami yang lembut dan menenangkan. Bau matahari dan cologne yang sering membuat Bryce bermimpi saat dirinya masih seorang mahasiswa biasa, yang suka bermain game dengan teman sekamar yang sangat ia sayangi, yang hanya khawatir tentang kenakalan dan permainan apa yang akan ia lakukan dengan Chuck esok hari.

Chuck.

Bryce sangat merindukannya. Seandainya ia memiliki kesempatan untuk bertemu lagi, ia ingin menghirup aroma keluarga yang lembut dan hangat dan selalu menyelubungi orang yang paling dia sayangi itu.

Seandainya ada kesempatan kedua... kali ini mungkin... akan ia katakan betapa ia menyayangi Chuk dan betapa menyesalnya dirinya yang harus menyakiti Chuck untuk menyelamatkannya dari perekrutan agen CIA, sambil menghirup aroma 'cinta' di antara mereka, dan bukan bebauan obat-obatan atau bahan kimia lain seperti yang mengelilingi Bryce saat ini.

"Hei, Bryce...teman?"

Bryce samar-samar mendengar suaranya di tengah-tengah bau obat yang memuakkan. "Siapa?"

Bryce tak ingin membuka mata. Kalau bisa ia ingin lebih lama lagi berada dalam mimpi, di mana dia bisa kembali ke masa-masa yang ia rindukan, bersama Chuck, dan aromanya yang lembut dan menenangkan.

----------------------------------------------------------------------

A/N: gaje nian... TT_TT
next: locked/terkunci
Edited by lunaryu, 2 Oct 2010, 02:25 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: funny/lucu
Fandom: Chuck/White Collar
Karakter: Bryce Larkin/Neal Caffrey, Chuck Bartowski, Peter Burke
Warning: AU, crossover, hints of male x male

Sesuatu yang tengah terjadi di depan mata mereka adalah mimpi.

"Astaga!" Chuck Bartowski, si 'Intersect Manusia' membelalakkan mata lebar-lebar, dagunya jatuh dan ekspresinya bak ikan yang kekeringan saking kagetnya.

"Ini bohongan, kan...?!" Peter Burke, si Agen FBI, juga hanya bisa melihat dengan mulut ternganga.

"Brycenya ada dua!!" teriak Chuck dengan ekspresi ngeri. "Klon? Bryce diklon!?" dan sepertinya dia nyaris panik.

"Aku tak tahu tipu muslihat apa yang kau pakai, Neal, tapi itu tidak lucu," Peter bingung mau menunjuk siapa di antara dua orang identik di depannya itu, bahkan baju yang mereka pakai pun sama.

Kedua orang di hadapan Chuck dan Peter terdiam beberapa saat sebelum salah satunya sepertinya tak kuat lagi menahan diri dan tertawa meski ia coba menahannya sekuat tenaga. "Aduh... perutku sakit...!" katanya dengan air mata berkumpul di pojokan kedua matanya.

"Jangan begitu, Bryce. Mereka betulan kaget, lho," kata 'cermin' di depannya dengan wajah aneh, setengah tertawa, setengah merasa kasihan melihat reaksi Chuck yang penuh horor.

"Neal?" panggil Peter tak yakin.

"Ah, itu aku, Peter," kata Neal, si cermin, sambil mengangkat tangannya.

"Hoh..., bukan Bryce, toh?" Chuck, masih sedikit panik, melihat ke arah Neal dengan wajah penasaran, dan Neal hanya bisa tertawa ringan.

Bryce masih tertawa, dan masih berusaha menghentikan... atau setidaknya menahnnya supaya tidak meledak sampai terpingkal-pingkal. "I... ini benar-benar kocak...! Aduh, coba ada kamera...! Wajah mereka lucu sekali...!"

"Bryce!" Neal mengomeli kembarannya sambil menarik lengan bajunya.

"Oke, oke..., maaf," kata Bryce sambil menggoyang-goyangkan kepalanya untuk sedikit menenangkan diri, masih sambil terkekeh pelan sih.

"Sebenarnya ada apa ini? Kok kalian...?" Chuck menunjuk Bryce, lalu ke Neal dengan wajah sangat bingung.

"Ah... kami memang klon," kata Bryce sambil tersenyum.

"Bryce!" Neal melotot ke arahnya.

"Sori... klon dari lahir maksudnya. Pembelahan zygot menjadi 2 dalam rahim itu lho?" jelas Bryce sambil meringis.

Bohlam lampu langsung menyala di kepala Peter. "Saudara kembar?" tanyanya tak percaya. Chuck melebarkan mata lagi dengan kaget.

"Yep," Neal mengangguk setuju. "Identik, jadi susah dibedakan," lanjutnya sambil menyamai ekspresi Bryce.

"Oh... jadi setengah dirimu yang kau bilang waktu itu...?" Chuck mengangguk paham sekarang seraya memandang Bryce, lalu ke Neal. "Wow..., tak kusangka ini maksudnya...."

"Maaf tidak pernah memberi tahu," kata Bryce sambil tersenyum ringan ke arah Chuck.

"Kok aku tidak tahu hal ini?" Peter terlihat kesal karena melewatkan hal sepenting ini.

"Hum... ada kalanya hal ini memang harus dirahasiakan," kata Neal sambil tersenyum kecil, sedikit merasa bersalah. "Soalnya kalau ketahuan bakal repot, sih..."

"Terlalu berbahaya yang jelas. Aku tak akan mau melukai adikku yang manis ini," kata Bryce sambil mengelus-elus pipi Neal dengan tatapan yang-bagi Peter-terlalu mesra kalau disebut sebagai tatapan saudara.

Tapi mereka kan kembar identik? Katanya ada ikatan khusus antara anak kembar yang lain daripada (saudara kandung) yang lain, jadi Peter merasa bodoh kalau merasa cemburu atau tersaingi. Lagipula orang yang dipanggil Bryce oleh Neal itu wajahnya sama dengan Neal, sama-sama sangat tampan dan menawan, dan Peter tidak bisa marah kalau lawan main Neal berwajah sama dengan Neal sendiri.

"Wow...pemandangan barusan benar-benar... WOW," Chuck kehilangan kata-kata menggambarkan perasaannya sekarang. Ia merasa sedikit cemburu, tapi juga bergairah.

"Hei, jangan menatap mereka begitu!" kata Peter ke arah Chuck yang jelas-jelas menunjukan ketertarikan pada kedua saudara kembar itu.

"Ah, maaf...! Tentu saja, kau tak mau ada yang menatap saudara Bryce dengan tatapan tak sopan. Aku tidak sengaja, sungguh," kata Chuck dengan wajah sedikit panik saat melihat Peter merengut ke arahnya.

Yah, tapi Peter paham perasaannya, sih. Siapa sih yang tidak tergoda dengan si kembar identik yang sangat menawan dan rupawan itu? Apalagi salah seorang dari si kembar berhubungan dengan Peter atau Chuck.

"Situasi ini tetap sangat menarik dan teramat lucu," kata Bryce, muai tertawa lagi saat melihat reaksi Peter yang curiga dan sepertinya cemburu pada Chuck.

"Lebih baik kita jelaskan sebelum terjadi keributan besar...," Neal ikut tertawa kecil saat Chuck terlihat sangat panik menjelaskan dirinya pada Peter.

-----------------------------------------------------------------

A/N: ma... maksa...*sweats*
Next prompt: loosing/kehilangan
Edited by lunaryu, 3 Oct 2010, 12:38 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: survive/bertahan hidup
fandom: Chuck
pair/chara: Bryce Larkin/Chuck Bartowski
warning: BL guys... precaution alert!

Chuck couldn't help widening his eyes as the sight of that man, a man who he thought already gone, dead, that he thought he would never see again, smiling small in front of him.

"B-Bryce...?" His name fell slowly from Chuck's trembling lips and tongue, and he didn't know how to react. He was too shocked for God's sake!

"Hey...," Bryce approached him closer, and put his hand on Chuck's cheek.

"H-how...? I thought...! That time...!" Chuck's speech was reduced to incoherent babbles. He still couldn't quite process this... this too shocking event. Bryce was supposed to be already dead... so what the hell happened here?

"Ssh," Bryce put his thumb on Chuck's lower lip, silencing the rambles. "It's okay, Chuck.... I am here," he said using his other hand to tuck Chuck's curl away from his face. His clear blue eyes penetrated Chuck's dark chocolate ones.

"Bryce...! How are you... how did you survi-!?"

Bryce cut Chuck's words with a surge movement from bellow and a small gentle kiss on his lips, and Chuck couldn't help but gasp in surprise. He had to close his eyes at that and Bryce deepened his kiss by putting his hand behind Chuck's neck.

"Nn~,"Chuck had to moan at the talented lips and tongue that attacked his, and he was swarmed and dizzy at the awesomeness of this situation and didn't think he could hold his breath much longer,but he didn't want to stop either.

It seemed Bryce noticed the desperation and reluctantly parted from the kiss. Both were panting and heaving and Bryce's hand was still on Chuck's neck and the other on his chest. Chuk's hands both on Bryce's waist.

"B-Bryce...?" Chuck looked at Bryce with confused, flushed face.

"I want to see you...," Bryce whispered lowly in his ear and Chuck shivered slightly at the warm breath ghosting his skin. "I want to see you so badly... that I don't want to die...," he continued lightly before biting Chuck's earlobe, earning more surprised gasps from the taller man.

"I survive... to come back to you...," Bryce pulled Chuck's body closer to him and Chuck couldn't help tightening his own hold on Bryce's body.

"God...!" and when he felt the warmth of Bryce body, the pulsating of his pulse in his neck when he went down to bite and kiss it, and the steady thumping of Bryce's heart on his own that everything sank in Chuck's head.

Bryce was alive.... He survived the last shooting.... He came home... to Chuck.

"Never ever disappear on me like that again, ever! Do you understand me, Bryce Larkin?" Chuck's voice was desperate and fevered and stern and he was sure he was about to cry on Bryce's shoulder. His hug was really tight he thought he could crush Bryce's leaner body.

"Okay... okay, Chuck...," Bryce whispered and tightened his hold on Chuck as well, and Chuck couldn't help feeling grateful that once again he could feel Bryce's vital signs on his body.

This time... Chuck vowed inside his heart, he wouldn't let go of Bryce again... ever.

---------------------------------------------------------------

A/N: Aih, manisnya mereka...
Next prompt: explosion/ledakan
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: ruby/batu rubi
fandom: Merlin
pair/chara: Arthur Pendragon/Merlin Emrys
Warning: hints male x male

Merlin stared oddly at the ruby stone on the center of Arthur's golden pendant. "Where did you get that?" The dark haired boy inquired, completely interested.

"What, this?" The blond prince looked at his chest and then at Merlin, grinning. "Gwen gave it to me," he said, looking happy.

"Gwen? Guinevere?" Merlin looked at his master's eyes in disbelief.

"What? Do you have a problem with that?" Arthur raised his eyebrow at Merlin.

"No... well...," Merlin did not continue. He kept staring at the glowing ruby, studying the stone closely with narrowed eyes that made Arthur slightly uncomfortable because of their very close proximity now.

"What is it, Merlin?" Arthur sighed, trying not to step back and looked at Merlin who almost buried his nose on Arthur's chest while looking at the stone.

"Did you ask her where she got this?" Merlin seemed oblivious to his prince's discomfort and went as far as touching the red jewel with his forefinger.

Arthur did not shiver at Merlin's touch. No, he did not.

"Why would I want to know that?"

Merlin looked up at Arthur's blue eyes and made a face as if his Prince of Camelot was an idiot. "My lord, do you have any idea how expensive this jewel is? This is a bloody ruby. Do you not find it strange that a maid like Gwen could obtain such jewel?"

Arthur scowled at Merlin. "What, you accused Gwen for stealing?"

"No, of course not. Gwen is the nicest person here in Camelot. Did she say it is from her?"

A bead of sweat broke out Arthur's cheek and he did not look at Merlin's questioning gaze.

"She did not say it was from her, did she?" Merlin straightened his body and huffed, annoyed at his prince. "Sire, this is not funny. Please do not accept anything that is easily associated with sorcery. What if this stone was cursed or being under a spell? It could be dangerous!"

"Oh please. Who wants to put me under a spell?" Arthur looked at Merlin incredulously.

"Have you already forgotten what happened to King Uther when he was enchanted by a troll? Do you want to get the same experience as him?" Merlin raised his eyebrows and smirked at Arthur and Arthur did not wince. No, he did not.

"Fine, alright," Arthur said as he took off the pendant. "Gwen said it was a gift from the neighbour kingdom princess. She insisted that I took it." He offered it to Merlin.

Merlin accepted the pendant and looked at it more closely. "The more reason you should not accept it that easily. Do you have any idea how gorgeous you are and how many girls want you to marry them someday? They could easily put a spell to enchant you to them, My lord," he continued seriously, not seeming realizing what he had said.

Arthur raised his eyebrows in a surprised look. "I am that gorgeous?" he smirked and Merlin snapped. He looked up from the jewel to Arthur with wide eyes. "I am indeed, huh?" Arthur grinned teasingly as Merlin's cheeks were turning pink.

"A-anyway, I will bring this to Gaius and let him study it first," Merlin looked away and hurriedly left the prince's chamber, but Arthur noticed that his manservant did not deny his question.

Arthur grinned happily as he caught a glimpse of Merlin shy smile as he closed the door. "And here I thought you would say I would be more handsome with aquamarine than ruby."

-------------------------------------------------------------------------------

A/N: weird... ANEH! Ih, luna nggak terbiasa pakai bahasa inggris yang kaku banget gitu! XO Tapi karena settingnya memang British jaman segitu, apa boleh buat...

Next: destiny/takdir
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: blonde/pirang
fandom: Merlin
chara/pairing: Arthur Pendragon/Merlin Emrys
warning: hints malexmale

Waktu pertama kali Merlin datang ke Kerajaan Camelot dan bertemu dengan Arthur, Merin langsung menangkap kesan bahwa pangeran itu adalah seorang bocah yang manja.

Bocah pirang yang sangat tampan dan menyebalkan bukan main.

Yang tentu saja kesan pertama itu terus terbawa meskipun sang naga sudah memberitahunya tentang takdir dan nasib yang telah menunggu Merlin dan Arthur di masa depan.

Ditakdirkan bersama bagai dua sisi koin, yang benar saja....

Namun, Merlin menemukan dirinya mengikuti langkah pangeran pirang yang teramat tampan itu dengan sendirinya meskipun dia sangat menyebalkn dan egois. Dia menemukan dirinya menyelamatkan nyawa sang pangeran berulang kali, bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk bocah pirang sialan itu.

Merlin selalu memprotes perlakuan si pangeran yang kerap tak adil dan menyebalkan meskipun dia tetap mengerjakan keinginan si pangeran, dan Arthur, pangeran Camelot bermata biru langit dan bermabut pirang bagai matahari itu, entah kenapa hanya dia yang mau mendengarkan bahkan menyelamatkan Merlin meskipun seluruh istana menentangnya.

Lama-kelamaan Merlin jadi sedikit menghormatinya... meskipun dia tetaplah seorang bocah!

Lalu saat si pangeran menyatakan kalau dia ingin Merlin selalu ada di sisinya, Merlin pikir itu karena memang begitulah adanya. Sampai Arthur menjadi raja, Merlin akan ada di sisinya, membantu dan melindunginya, sebagai pelayan pribadinya dan sebagai teman, tentunya.

Makanya dia sangat terkejut saat Arthur memegang tangannya dan menciumnya. Reaksi Merlin saat itu adalah membelalakkan mata dan menjatuhkan dagunya dengan wajah syok.

"Yang Mulia Pangeran, apa yang Anda lakukan?" tanya Merlin dengan wajah masih syok.

Arthur menatapnya dengan tatapan aneh yang lucu. "Bukannya kau sudah menyetujui hal ini?" dia tertawa melihat wajah komikal Merlin.

"Hamba tidak pernah menyangka kalau yang Yang Mulia maksud adalah yang seperti ini," kata Merlin, wajahnya sedikit memucat.

Arthur mengangkat kedua alis matanya, wajahnya tampak senang. "Kan kau sendiri yang bilang kita ditakdirkan bersama?" sekarang pangeran meringis, tatapannya menggoda, membuat Merlin malu. Wajahnya jadi memerah tak terkendali.

Dasar bocah pirang sialan! Merlin merasa diperdaya.

Meskipun Merlin tak bisa protes saat Arthur mencumbunya, bukan berarti dia bukan lagi bocah. Sampai kapanpun, bagi Merlin, Arthur tetaplah bocah yang egois dan suka seenaknya sendiri.

Ya, bocah pirang yang sangat menarik, tetapi juga sangat menyebalkan.

-----------------------------------------------------------------------

A/N: kalau dibikin di bahasa indo malah jadimakin aneh... TT_TT

Next prompt: sheet/seprai
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Science/sains/ilmu pengetahuan
Fandom: Merlin
Pairing/Chara: Arthur Pendragon/Merlin Emrys
Warning: malexmale

Arthur mengerutkan dahinya dengan wajah bingung saat melihat penyihir kerajaannya begitu seriusnya membaca buku tentang tanaman obat dan formula ramuan, sampai-sampai ia tidak sadar kalau Arthur masuk ke ruangan itu.

"Merlin?" Sang raja Albion meletakkan cawan anggurnya di meja kayu kamar tidurnya, di belakang Merlin. Suara dentingan logam cawan dan sapaan tiba-tiba darinya sedikit mengejutkan penyihir berambut hitam itu hingga ia menjatuhkan buku yang tengah dibacanya.

"Arthur? Duh, bikin kaget saja...," Merlin menoleh dengan wajah kaget, mengelus dada dan menggelengkan kepala saat melihat wajah meringis Arthur yang sepertinya sangat senang karena berhasil membuat Merlin terkejut.

"Serius sekali. Membaca buku tanaman obat dan formula ramuan?" Arthur mengangkat buku yang ada di meja baca di hadapan Merlin. "Kenapa repot-repot? Kau tinggal menggunakan sihirmu untuk hal-hal semacam ini," katanya heran.

"Arthur, sihir bukan pemecahan segala masalah. Ada kalanya ilmu pengetahuan lebih hebat daripada sihir," kata Merlin sambil menutup buku yang ada di tangannya dan mengelus sampul kulit berwarna kemerahan buku itu dengan pandangan kagum. "Hal-hal yang kupelajari dari Gaius... sihir memang bagus untuk menghadapi suatu permasalahan yang ditimbulkan oleh sihir, tapi jadi tidak berguna kalau masalah itu bisa diselesaikan dengan sains. Lagipula... hal-hal yang tercipta dari pikiran dan perasaan serta kerja keras manusia itu jauh lebih kuat dibanding shir yang lahir dari mantra dan kekuatan batin semata. Ilmu pengetahuan bisa menghasilkan sesuatu yang lebih nyata dibanding sihir," Merlin mencoba menjelaskan pentingnya sains pada sang raja.

Arthur pun tertawa. "Kau itu kalau menjelaskan selalu panjang lebar. Beri satu contoh yang membuatmu yakin kalau ilmu pengetahuan lebih hebat dari sihir?" tantangnya. Sepertinya sang baginda raja menikmati diskusi ini.

Merlin berpikir sejenak, lalau wajahnya menjadi cerah. "Sihir tak bisa menciptakan nyawa baru di dunia tanpa bayaran yang setimpal, yakni nyawa yang lain, tapi sains bisa," katanya.

Arthur memasang wajah bingung. "Bagaimana?"

"Sains mempelajari cara reproduksi, dan bisa melahirkan nyawa baru di dunia ini melalui hubungan lelaki dan wanita. Sihir tidak mempelajari hal itu," kata Merlin yakin.

Arthur terdiam beberapa saat ketika menerna penjelasan itu. Ia lalu tersenyum lembut. "Kau benar," katanya sambil duduk di meja.

Merlin memandang mata biru Arthur yang sedikit menerawang, seperti mengingat-ingat sesuatu di masa lalu. "Untuk urusan hidup dan mati, sihir terlalu merepotkan karena bayarannya sangat berat," kata sang penyihir, paham melihat ekspresi sendu Arthur. Apalagi sejarah kelahiran Arthur sangat dekat dengan hal itu.

"Karena itu... aku putuskan untuk mencari Mordred," kata Arthur kemudian. "Aku ingin dia jadi penerusku kelak."

Merlin melihat Arthur dengan wajah sedikit khawatir. "Kau yakin? Anak itu... suatu saat dia akan...kau tahu, kan? Lagipula, dia terlalu bergantung pada si--?"

Kata-kata Merlin terpotong saat Arthur menarik bagian kerah bajunya dan mencium bibirnya secara tiba-tiba. "Kau terlalu banyak bicara, Merlin," kata Arthur sambil menyeringai kecil. Wajah Merlin memerah, setengah syok, setengah malu.

"Baginda... tolong jangan tiba-tiba melakukan hal yang mengejutkan begitu," protes Merlin, sedikit kesal karena Arthur selalu bisa mengejutkannya dengan perilakunya yang tak bisa diprediksi itu. Meskipun Merlin adalah penyihir terhebat zaman itu, bukan berarti dia bisa membaca perilaku dan niat Arthur dengan pasti.

Merlin berharap suatu saat akan ada pengetahuan untuk membaca gerak-gerik dan bahasa tubuh yang bisa memprediksi apa yang seseorang pikirkan dan apa yang akan seseorang lakukan dengan tepat.

Arthur tertawa lagi melihat ekspresi malu Merlin yang sangat manis dan lucu itu. "Kau terlalu mengkhawatirkan masa depan yang belum tentu terjadi," kata Arthur sambil memeluk leher Merlin dan menyentuhkan dahinya ke dahi penyihir tersayangnya.

Merlin terdiam sesaat sebelum ia berkata lagi,"Arthur, tentang ramalan itu...."

"Aku tahu kau sudah mendengar apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kau dan aku... dan apa yang akan dilakukan Mordred, tapi kalau kau bisa mempercayai ilmu pengetahuan yang mungkin bisa mengungkuli sihir suatu hari nanti, Merlin, aku juga percaya kalau kitalah yang akan menentukan masa depan kita sendiri." Arthur menatap mata safir Merlin dengan tatapan penuh keyakinan.

Merlin tersenyum balik menatap keyakinan yang membara di mata rajanya. "Kau benar," ujar Merlin setuju.

Lalu satu hal yang sangat pasti, lebih dari sihir, lebih dari sains, adalah ikatan mereka berdua yang tak akan putus, dan kenyataan kalau mereka akan selalu bersama selamanya.

-------------------------------------------------------------------------------------

next prompt: leather/kulit
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: jump/lompat
Fandom: Chuck
Pairing: Casey-->Chuck/Bryce
Warning: hints male x male

Casey menangkap tangan Chuck ketika ia nyaris jatuh dari jendela gedung bertingkat lima itu, setelah bergelantungan dengan satu tangan selama beberapa menit akibat dibuang keluar jendela oleh penjahat yang mereka tangani kali ini.

"Chuck, buang bungkusannya dan pegang tanganku dengan tangan satunya!" teriak pria yang mirip beruang bermata biru berambut pirang gelap itu.

"Tidak bisa! Ini data yang mati-matian dijaga Bryce!" teriak Chuck keras kepala.

"Kau itu...!" Casey sudah siap-siap akan mengomel lagi ketika ia melihat seseorang di bawah sana.

"Chuck!" Orang itu meneriakkan nama Chuck dari bawah dan Chuck berusaha menoleh ke bawah.

"Jangan lihat ke bawah!" Casey melarang, tentu, karena ketinggian itu akan menakuti Chuck, tapi juga karena dia tak mau Chuck melihat orang itu lagi.

"Lho, tapi--!" Chuck hendak protes.

"Chuck!" Orang itu berteriak lagi dari bawah.

"Itu Bryce, kan?" Chuck memandang Casey dengan wajah memohon.

Casey sangat tak senang melihat eksprei memelas itu. Dia paling tak tahan melihat wajah Chuck begitu. "Iya, itu dia," katanya sambil menggertakkan gigi.

"Bryce!" panggil Chuck keras-keras.

"Aku tepat di bawahmu, Chuck! Lompatlah, akan kutangkap!"

"Jangan coba-coba!" Casey mempererat pegangannya pada tangannya. "Kau bisa mati."

Chuck terlihat kaget mendengar nada khawatir pada suara Casey, lalu dia tersenyum. "Aku percaya pada Bryce," katanya jujur dan senang.

Casey melihat seberapa Chuck menyayangi Bryce dari kepercayaannya yang membabi buta pada pria bermata biru terang dan berambut cokelat gelap lima lantai di bawah mereka itu. Ia terpaksa mengiyakan karena seberapapun ia sayang dan khawatir pada Chuck, bukan haknya memaksakan perasaan pada Intersect Manusia itu.

"Aku tidak tanggung kalau kau mati, lho," kata Casey dengan wajah sedih.

"Tidak akan mati, kok." Chuck meringis sebelum Casey melonggarkan pegangannya dan Chuck pun melompat (tepatnya sih Jatuh), dan Bryce menangkapnya dengan bantalan instan yang ia bawa.

"Kerja bagus, Chuck!" Bryce menjabat tangan Chuck dan menariknya supaya bisa berdiri.

Chuck tersenyum bahagia dan memeluk Bryce. "Tentu!"

Bryce memeluk Chuck balik dan menciumnya dengan lembut.

Casey melihat kedua orang itu dengan tatapan rindu.

----------------------------------------------------------

A/N: aiyah... gaje nian...

Next prompt: psychic/cenayang
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
prompt: stigma/noda
prompt: Merlin
pairing: Arthur Pendragon/Merlin Emrys
warning: hints male x male

Merlin tidak menyangka kalau dia akan menjadi subjek kejadian memalukan itu.

Beberapa pelayan pria meliriknya dengan tatapan aneh, dan pelayan wanita terkikik melihatnya sebelum melarikan diri.

"Ada apa ini?" tanya Merlin dengan wajah bingung.

Arthur yang ada di depannya, terus saja berjalan dalam diam. Sedikit mencurigakan memang, untuk Pangeran Bocah yang paling senang menganiaya Merlin secara verbal itu, tak berkata apa-apa. Apalagi karena sejak tadi pagi Arthur tidak menatap wajah Merlin ketika bicara, dan tidak membuat komentar yang mengejek kerja Merlin yang -menurut Arthur- tidak kompeten itu.

"Kau tahu sesuatu, Arthur?" tanya Merlin dengan sebelah alis mata terangkat.

Arthur tersentak sesaat. "Apa yang membuatmu berpikir kalau aku tahu?" tanya Pangeran Camelot itu balik. Makin mencurigakan saja.

Merlin memincingkan matanya. "Ya sudah kalau Yang Mulia tidak tahu," katanya sambil mengangkat bahu.

Merlin berpisah dari Arthur kemudian karena sang pangeran ada latihan pedang dengan para ksatrianya. Merlin kembali ke kamarnya untuk membantu Gaius dan seselesainya, dia pergi ke tempat cuci untuk mengambil baju-baju dan seprai Arthur yang sudah dicuci dan dikeringkan.

Lagi-lagi dia dilihat oleh pelayan lain. Lama-lama membuatnya kesal juga. "Ada apa sih?" Akhirnya ia tanya pada Gwen, sahabat dekatnya.

Gwen sedikit memerah. "Uh... itu, lho, waktu kau membawa turun seprai Yang Mulia Pangeran beberapa hari lalu untuk dicuci," bisik gadis pelayan itu terbata-bata.

"Ada apa dengan itu?" tanya Merlin heran.

"A-... kata pencucinya... ada noda di situ," bisik Gwen makin lirih, wajahnya makin memerah dan terlihat sangat tidak nyaman.

"Noda?" Merlin benar-benar bingung sekarang.

"Itu lho... um...," sekarang wajah Gwen sudah menyamai kepiting saus balada.

Setelah beberapa saat berpikir keras, bohlam lampu menyala di kepala Merlin. "Oh." Dia pun sadar. "Lho, tapi itu tak menjelaskan tatapan aneh para pelayan padaku. Itu kan seprai Arthur...."

"Merlin... gosipnya itu bukan hanya milik pangeran... tapi pelayannya juga...," Gwen memberi pencerahan, meskipun wajahnya (kalau bisa) makin merah saja.

Merlin melebarkan matanya dan menjatuhkan dagunya dengan wajah sangat kaget dan terlihat sangat bodoh. Saking terkejutnya ia sampai tak bisa berkata-kata. Lalu wajahnya juga meledak merah saking malunya.

Merlin disangka... dengan Arthur!?

Kok bisa ada gosip aneh menyebar begitu antara dia dengan pangeran!? Siapa sih, yang membuat gosip aneh-aneh begitu!?

Lalu ia teringat kelakuan Arthur yang seperti menghindar itu. Tiba-tiba saja dia sadar.

Dasar pangeran sialan itu--!! Dia pikir ini lucu, ya!? Awas nanti kalau ketemu!!

Merlin bisa membayangkan bagaimana Arthur sedang tertawa terpingkal-pingkal dengan lelucon bodohnya ini, dan itumembuat Merlin sangat kesal.

Meski Merlin bersumpah dalam hati dia akan menghajar Arthur, bukan berarti dia lantas bisa melaksanakannya. Arthur jauh lebih kuat (fisiknya) dibanding Merlin, dan Merlin tak bisa menggunakan sihir karena bakal dipenggal oleh Uther--Baginda Raja-- kalau sampai ketahuan.

Yah, bukan berarti Merlin akan diam saja. Nanti dia akan melakukan sesuatu untuk memberi pelajaran pangeran usil satu itu.

----------------------------------------

A/N: haduh, tambah gaje abis...
Next prompt: account/akun
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
lunaryu
Member Avatar
~LOVE Crosses Everything Including TIME~
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Sailor/Pelaut
Fandom: White Collar
Pairing/Karakter: Peter Burke/Neal Caffrey
Warning: hints male x male

"Neal?" Peter menatap penipu ulung kesayangannya dengan tatapan super heran.

"Ya, Peter?" dan leaki berambut gelap bermata biru yang sangat menawan itu hanya tersenyum sembari membalas tatapan Peter dengan penuh arti.

"Apa-apaan baju itu?" Peter menaikkan alis matanya, menggeser pandangannya ke baju putih dengan kerah segitiga bergaris putih biru yang tengah dipakai Neal.

"Eh, tidak tahu ya? Sedang ngetren di kalangan anak-anak muda, lho. Seragam pelaut ini," dan Neal pun berputar layaknya model sambil meringis senang. "Kelihatan bagus, kan?"

Peter tak tau harus bereaksi bagaimana melihat wajah cerah meriah Neal yang terlihat begitu... senang dan antusias seperti anak kecil mendapat mainan baru.

Memang Neal jadi terlihat lebih manis, sih... tapi dilihat dari sudut manapun, itu kan seragam perempuan! Apa sebaiknya tak usah diberi tahu?

Peter tersenyum. "Manis, lho," katanya canggung.

"Sungguh?" Wajah Neal sedikit memerah dan tatapan mata biru cemerlangnya berkilauan saking senangnya.

Lagian, dari mana dia dapat seragam itu, sih?

"Tapi kantor tidak memperbolehkan baju seperti itu, Neal. Jadi tolong ganti bajumu sekarang," lanjut Peter sambil kembali ke laporannya dengan wajah cuek meskipun dia masih penasaran dengan Neal dan seragam pelautnya.

Neal cemberut. "Pelit," keluhnya.

"Ya, ya, terserah kau saja. Tapi peraturan tetap peraturan," lanjut Peter masih sok cuek.

"Padahal El sudah membawa pasangan seragam pelaut ini untuk kau pakai, Peter," kata Neal lagi, dan Peter langsung jatuh dari kursinya saat mendengar itu.

Ternyata dari istriku, toh...

Tentu sambil berlinang air mata. Sudah ia duga istrinya memang sedikit maniak dengan hal-hal seperti ini...

-----------------------------------------

@aya-na: betul? Wah sama-sama kalau begitu ^_^ Btw prompt yang ini juga lucu, XDDD thanks sudah mengisukan prompt ini ya?

Next: perfume/parfum
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
Go to Next Page
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply
  • Pages:
  • 1


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone