Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,952 Views)
Farfalla
Member Avatar
<3

Prompt: Langit/Sky
Fandom: .hack
Karakter: Antares, Phyllo
Rating: K+

Dari jembatan Mac Anu, aku melihat punggung Haseo menjauh ke distrik perbelanjaan. Manerismenya dengan jelas mengindikasikan agresi dan kekesalan. Beberapa orang pemain menyingkir dari jalannya. Ketakutan sekaligus kekaguman mewarnai ekspresi mereka. Reputasi Haseo tak pelak sudah mencapai mereka.

Aku menggeleng.

Tujuh belas tahun. Ah, betapa aku bersyukur aku sudah melewati usia itu.

Tujuh belas adalah usia yang merepotkan. Tidak cukup muda agar kau bisa bertindak kekanak-kanakan dengan sadar. Tidak cukup tua untukmu memiliki pembawaan orang dewasa.

Dan dalam kasus Haseo, usia labil ditambah berbagai kejadian yang menimpanya menciptakan kemarahan konstan dalam dirinya, yang kemudian melahirkan Terror of Death, PKK legendaris yang pernah membunuh seratus pemain dalam field.

"Apa yang kau lakukan ditambah dengan apa yang dilakukan kepadamu menghasilkan dirimu."

Aku menaikkan alis, menggerakkan ujung mataku untuk menangkap seekor kucing Tu Tribe melayang-layang di sampingku.

"Ah, teman lama," aku berkata. "Kurasa maksudmu: apa yang tidak membunuhmu membuatmu lebih kuat?"

"Bodoh," Phyllo membalas tajam, namun humor terlihat jelas di matanya. "Tapi memang seharusnya aku mengharapkan kata-kata itu dari mantan Emperor."

Aku tertawa. "Pak tua, observasimu tajam seperti biasanya."

"Apalah yang bisa kau banggakan selain kebijaksanaan untuk melihat apa yang tak bisa kau lihat di usia enam puluhku ini?"

"Bijaksana? Yang benar saja? Hahaha." Aku mengayun guci arak di tanganku seiring gelak tawa menyusuriku. "Hahaha. Pak tua perlu kuingatkan siapa yang menyelamatkanmu dari doppelganger?"

Phyllo mendengus. "Kebijaksanaan tidak selalu diukur dengan otot."

"Oh ya?" aku menyeringai. "Kuharap kau masih bisa berkata seperti itu ketika berhadapan tuan doppelganger."

"Ah, Antares, aku bersyukur tiga puluh lima adalah usia yang sudah kulewati, nak," Phyllo berkata dengan nada menasehati.

Seringaiku bertambah lebar. Aku berjalan ke pinggir jembatan Mac Anu, menaruh guci arakku dan mengistirahatkan tanganku di atas reling batu. Phyllo mengikutiku, mengambil posisi khasnya di jembatan Mac Anu.

Permukaan sungai berpendar jingga, merefleksikan matahari Mac Anu yang hampir tenggelam. Langit merona dalam berbagai warna matahari penghujung hari yang paling indah. Pemandangan abadi yang tidak pernah terasa statis ini adalah keajaiban Mac Anu.

"Hei, pak tua, sudah berapa lama kau bermain The World?" Aku bertanya tanpa alasan.

"Hmm," Phyllo tampak menghitung-hitung. Pandangan matanya mengikutiku, terpatri pada panorama abadi Mac Anu. "Sekitar beberapa tahun."

"Haha. Beberapa tahun. Jangan bilang demensia sudah mulai menyerangmu hingga kau tidak bisa menghitung sudah berapa lama semenjak log in perdanamu?"

Dengusan Phyllo kembali terdengar. "Antares, berikan pak tua ini sedikit keringanan dari humor konyolmu."

"Ah, tapi aku sudah menyimpan humorku yang paling konyol untuk Haseo," aku menyanggahnya dengan seringai yang kembali terkembang.

Phyllo mendesah. "Langit Mac Anu indah sekali hari ini," katanya. Jelas ia menyerah dan memilih untuk menyetir topik.

Aku menepuk bahu Phyllo ringan. "Sedikit arak akan membantu humormu."

---

:P

Begitulah drabble gaje tanpa inti ini tanpa konklusi tanpa kesinambungan dan rushed ini terkonklusi.

Next Prompt: Keseimbangan/Balance.
Edited by Farfalla, 28 Feb 2010, 04:51 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Farfalla
Member Avatar
<3

Prompt: detak jantung
Fandom: Generation Kill
Chara: Brad Colbert

Dan ketika ia merasa lebih familiar dengan hamparan vista padang pasir tak berujung dan angin berpasir yang menusuk mata daripada kehangatan keluarganya, ia merasa bersalah. Ia merasa kotor dan tidak pantas duduk satu meja dengan keponakannya yang masih berusia dua tahun. Ia teringat akan Suhar, gadis kecil bermata jernih dengan kaki yang terinfeksi parah oleh serpihan peluru. Ia teringat akan M16-nya. Senjata yang selalu bersamanya bagaikan bagian dari tubuhnya. Ia merindukan familiaritas senjata tersebut. Menembak itu sangat mudah, semudah detakan jantung, sebuah proses yang natural baginya.

Next prompt: Stasiun terakhir
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
Learn More · Register for Free
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone