Cute Green Pencil
Welcome Guest [Log In] [Register]
Infantrum adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Author Forum yang didirikan oleh Arialine pada tanggal 7 September 2007. Forum ini dibuat untuk menjadi wadah bagi penulis, pembaca, dan penikmat fanfiksi Indonesia secara umum. Di sini Anda bisa berkenalan dengan berbagai author dari bermacam-macam fandom dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya tentang fanfiksi. Infantrum juga merupakan pemrakarsa Indonesian Fanfiction Awards (IFA).

Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda.

Bagi Anda yang belum menjadi member, silakan bergabung dengan kami di sini agar bisa mengakses keseluruhan forum. Kami menggunakan sistem admin approval sehingga Anda harus menunggu dulu registrasi Anda di-approve, tapi jangan khawatir, Admin selalu rajin mengecek antrean approval.

Sebelum memulai kegiatan berforum Anda, harap baca dulu peraturan Infantrum di sini.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi staff Infantrum.

Enjoy~!!

Posted Image

Username:   Password:
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 51
Drabble Berantai Keroyokan; Random/K-M/Random
Topic Started: 24 Jan 2010, 05:40 AM (48,144 Views)
Khi-Khi Kiara
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
@Phia : beuh keren-keren semua kok. Ide-idenya simpel tapi bawainnya cakep~ :happywaves:


Prompt : Pigura
Fandom : Undertale (c) Toby Fox
Warning : Canon, Headcanons, Spoilers
Character(s) : Frisk, Chara

------------------------------------------------

Sunyi mengungkung sejak pertama kali kaki-kaki kecilnya menginjak "Rumah Baru" yang kosong itu. Hampa. Dinding-dindingnya pucat. Namun di sana tersimpan banyak kenangan yang menghangatkan sekaligus mengiris batin.

Kini Frisk berdiri di dalam sebidang kamar. Kamar anak-anak. Dua ranjang. Dua boneka. Dua pasang sepatu. Secarik kertas bergambar bunga emas pada dinding di sebelah salah satu ranjang.

Frisk memegang sebingkai pigura. Diamatinya foto itu.

Foto keluarga. Ayah dan Ibu monster berdiri berdampingan dengan senyum damai. Di depan mereka, sang anak lelaki beserta saudara manusianya menampilkan senyum ceria sambil memegang rangkaian bunga emas. Wujud kebahagiaan tak terhingga.

Yang ada di dalam pigura itu sangat berbanding terbalik dengan kisah yang baru saja didengarnya.

Sang anak manusia, anak angkat yang tersayang, menderita sakit keras lalu meninggal dunia.

Sang Pangeran menyerap jiwanya yang tertinggal, menggendong mayatnya sembari menembus lapisan penghalang Bawah Tanah. Dia kembali ke istana dengan luka di sekujur tubuh, lalu mati meninggalkan abu.

Sang Raja ingin kembali memulai perang, membalas perbuatan bangsa manusia. Sang Ratu tidak setuju. Mereka cekcok, hingga Sang Ratu pun memilih pergi dari istana, menyendiri di Reruntuhan.

Sebuah keluarga yang tercerai berai.

"Kau sudah tahu apa yang terjadi padaku, 'kan, Kawan?"

Sebuah suara lagi-lagi mampir pada gendang telinganya.

"Manusia-manusia itu, mereka menghancurkan segalanya."

Frisk mulai takut.

"Tapi kau manusia yang spesial. Kau tahu itu," bisikan itu kian mengeras, "Kau tahu apa yang harus kau lakukan, benar?"

Frisk ingin menjawab, tapi tenggorokannya tercekat, serasa ada duri di dalamnya.

"Tolong," suara itu melirih, "Selamatkan kami."

Selamatkan. Tapi dengan cara apa? Mengorbankan jiwa sendiri pada Sang Raja--sehingga beliau mampu membobol sihir penghalang itu dan membebaskan umatnya? Atau, membunuh semua monster untuk melepaskan penderitaan mereka?

Frisk menolak untuk menoleh ke belakang. Sudah pasti, wujud dan wajah ruh anak manusia itu tak semanis yang ada di pigura foto.

------------------------

Next Prompt : Lonceng
Edited by Khi-Khi Kiara, 9 Jan 2017, 07:54 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Lonceng
Fandom: Omen (c) Lexie Xu
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Erika Guruh, Pak Rufus

Lonceng sekolah udah berdentang untuk yang ketiga kalinya.

Sementara aku masih terjebak di dalam si Butut II--mobilku yang berharga, pemberian pacarku si Ojek tukang pasang muka masam--yang mendadak ngadat di depan gerbang parkiran. Sial! Mana si Rufus udah nangkring di meja piket dengan wajah mesem-mesem begitu segala! Berani taruhan, guru kribo itu pasti udah menyiapkan tugas untuk kukerjakan di ruang detensi nanti.

"Kamp*et!" seruku emosi sambil keluar dari dalam si Butut II lalu membanting pintunya. Nggak lupa kukunci dong, begini-begini aku masih takut Butut II kecurian (walau aku sangsi ada pencuri yang bakal tergiur dengan mobil butut begini, sih. Bukan berarti aku bilang mobilku jelek beneran ya, sebenernya kondisi Butut II ini masih cukup oke, kok).

"Errrika! Kamu terlambat lagi!"

Cih, sial. Tahu begini aku lewat jalur belakang saja. Asal tahu saja, jalur belakang--yakni melalui pohon di belakang kamar mandi cewek--adalah jalurku untuk keluar-masuk sekolah secara ilegal. Jalan legal sih, jelas melalui gerbang depan, 'kan?

"Pak! Bapak kan, bisa liat itu mobil saya mendadak mogok di depan sekolah! Makanya ini saya tinggalin juga!"

"Ah, alasan saja kamu! Ayo ikut ke ruang detensi, sekarang!"

Sialan. Kalau saja hari ini bukan si Rufus yang bertugas membunyikan lonceng--jelas aku hapal dong, jadwal piket membunyikan loncengnya para guru--udah pasti aku bakalan selamat dari malapetaka.

Dasar Rufus.

Jangan ditiru ya, sikap si Erika :') /YHA

Next prompt: halaman (bukan buku)
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt: Halaman
Fandom: Kuroko no Basuke
Character(s): Aomine Daiki, Momoi Satsuki
Warning: ooc, typo




Termangu di depan pagar tanpa bisa masuk ke dalam rumah itu adalah hal konyol yang Aomine lakukan. Alasan satu, ini bukan rumahnya. Dua, ini rumah Satsuki.

Aomine ingin mengantarkan beberapa barang kepada Satsuki. Sudah dua hari gadis itu tidak masuk sekolah karena sakit. Sedangkan kata-kata terakhir yang Satsuki lontarkan padanya adalah penolakan.

Ya, dua hari lalu mereka baru saja beradu mulut dengan hebatnya. Sampai-sampai habis semua kata-kata terpakai oleh mereka sengketa.

Pandangan Aomine menelusuri halaman. Pintu bercat putih itu tak bergeming. Ia mereka-reka sedang apa Satsuki sekarang. Masihkah ia terbaring lemah di atas ranjangnya? Masihkah ia sakit hati terhadap Aomine?

Tak biasanya Aomine begitu gelisah. Sesekali ia mengeluarkan ponsel lalu memasukkannya kembali.

Kata-kata seolah tercekat keluar sejak saat itu. Menunggu Satsuki mau kembali bertatap muka dan membuka sendiri pintu rumahnya.

“Ya ampun, Dai-chan. Apa yang kau lakukan di situ?” Seseorang meneriaki.

Aomine menoleh hampir berjingkat.

Sang gadis yang dikhawatirkannya melambai dari ujung gang. Sorot lampu jalan menyinari kulitnya sampai terlihat berwarna pucat, kontras dengan rambut juga senyumnya yang merekah.[]





Next Prompt: RENJANA
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Renjana
Fandom: Omen (c) Lexie Xu
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Daniel Yusman

Valeria Guntur itu... berbeda.

Daniel tahu itu, dan itulah mengapa ia berhasil menyukai cewek itu. Itulah mengapa ia kini tidak lagi tebar-tebar pesona kepada seluruh cewek yang ia temui, tidak lagi pedekate kepada cewek yang senyumnya lebih manis dari gula, juga tidak lagi mengencani cewek yang matre terselubung. Bukannya Daniel trauma atau apa, hanya saja dia tahu, perasaan yang dia rasakan pada Valeria ini tidak dangkal dan membuatnya belajar setia.

Akan tetapi, Daniel juga tahu Rima Hujan itu berbeda.

Cewek ajaib ini yang justru membuatnya lebih merasa nyaman, merasa aman, dan merasa seolah seluruh dunia berada dalam genggamannya. Hanya Rima yang berhasil membuat Daniel dapat tampil apa adanya, tidak dibuat-buat--Erika juga bisa sih, tetapi kesampingkan cewek itu karena dia hanya fisiknya saja yang cewek.

Daniel tidak munafik, dia tahu Valeria lah yang dicintainya. Hatinya berkata begitu, dan Daniel, walau cowok, tentu saja juga mendengar kata hati

Hanya saja, kalau Valeria yang ia cintai, mengapa hatinya terasa sakit menerima penolakan Rima padahal hanya sebagai teman?

Sepertinya Daniel harus mempelajari isi hatinya lagi.

renjana/ren·ja·na/ n rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya)
next prompt: apresiasi
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt: Apresiasi
Fandom: Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Character(s): Aomine Daiki, Satsuki Momoi
Warning: ooc, typo




“Bagaimana Dai-chan?” tanya Satsuki menatap Aomine lekat-lekat.
Pemuda itu tak memalingkan muka. Ia balas mengintip kedua manik merah muda di depannya, sekilas menerka jawaban seperti apa yang Satsuki inginkan.

Tempo lalu Satsuki pernah membuatkannya juga bento serupa. Kali ini Satsuki berusaha lebih keras. Karakter boneka beruang dari nasi dan nori. Lalu ada sosis dan tamago juga sebagai hiasan. Benar-benar sebuah kyara-ben yang cantik.

“Ini untuk boneka beruang kemarin,” ucap Satsuki tulus.

Mengerti akan maksud Satsuki, Aomine kemudian mencomot sepotong tamago, mengunyahnya sambil berkata, “Enak.”

Sepotong apresiasi itu berharap bisa menghalau Satsuki pergi darinya. Aomine tidak berniat memakannya di depan Satsuki. Bukan, bukan tidak bermaksud menghargai. Ia hanya tidak tahu kejutan apa yang Satsuki berikan padanya.

Benar saja, beberapa detik kemudian, Aomine berjengit, menahan erat-erat bibirnya membuka.

“Kau baik-baik saja, Dai-chan?” Satsuki menoleh khawatir. Ia berbalik setelah beberapa langkah ia meninggalkan Aomine. Radarnya imajiner Satsuki bergerak-gerak peka tiap kali menyangkut teman masa kecilnya itu.

Satsuki mengernyit tidak mengerti.

Aomine hanya bisa menjawab dengan menggerak-gerakkan matanya.

Berapa sendok garam yang Satsuki tuang ke dalam telurnya?[]




Next Prompt: Bianglala
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Bianglala
Fandom: Omen Series © Lexie Xu
Warning: Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Daniel Yusman

Harus kuakui hari ini aku senang luar biasa.

Gimana nggak? Hari ini, meski dengan bahaya yang mengiming-imingi kami, aku berhasil menikmati beberapa jam pertama di karnaval bersama Rima!

Oke, meski bersama Aya, tetap aja aku bahagia bukan kepalang! Akhirnya setelah sekian lama kejar-kejaran layaknya kucing dan tikus―Rima jadi tikus, soalnya dia hobi ngumpet, tapi bukan berarti dia tikus got yang kumuh, gendut, dan menjijikan―kami bisa berduaan juga!

Sengaja kugiring cewek itu ke bianglala, supaya kami bisa kabur dari kejaran cewek-cewek gila sok populer bonus Amir dan Welly yang tadi sengaja kami tinggalkan di kafe. Habis, malas banget rasanya kalo semalaman harus bergabung dengan mereka bonus cewek-cewek itu. Ngeri, man! Apalagi ada Nikki. Nikki!

Bianglala kami berputar ke atas dan aku jelas dapat melihat seringai samar pada bibir Rima. Sial! Senyum cewek itu manis banget!

"UWAAA!!!"

Mendengar teriakan mengerikan itu, buru-buru aku meloncat turun dari bianglala kami yang tepat berada di atas. Tentunya aku gak bodoh dong, aku ayunkan badanku yang atletis ini ke arah bianglala berikutnya, terus begitu hingga aku berhasil mencapai tanah.

Sori Rim, gue harus ninggalin elo dulu...

Next prompt: Zona Waktu
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
@Reycchan: bianglala di situ maksudnya komedi putar ya? Hehe, gapapa wes. Sip d^^b




Prompt: Zona Waktu
Fandom: Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Character(s): Aomine Daiki, Momoi Satsuki
Warning: ooc, maybe au

Nada sambung tak putus-putus terdengar. Begitu terus sambung menyambung meraih kehampaan. Operator nampaknya masih tertidur. Satsuki kesepian. Ia tak perlu repot-repot menekan tombol re-dialling.

"Calling Dai-chan" sepertinya bisa menghiasi layar Satsuki selamanya. Ia bosan, jadinya ia putuskan saja. Lalu Satsuki mengintip detak bisu jam digital di sana. Sudah siang. Matahari terang-benderang. Tapi, Satsuki ingat sesuatu ia sedang di Amerika. Terbang di langit benua, air asin melatari di bawahnya. Lima hari, hanya lima hari Satsuki ikut Papa. Aomine sama sekali tidak menghubunginya. Mungkin ia sedang sibuk latihan lalu kepalanya yang penuh bola basket itu terpaku ke bumi begitu memeluk kasurnya.

Tapi Aomine juga tidak mengangkat panggilannya. Satsuki berpikir ia mungkin mendahului matahari Jepang, sedang Aomine masih bercumbu dengan malam.

Kemudian Satsuki mengubah strategi, tidak menunggu laut menjadi beku. Papa pun bilang ia boleh pulang dulu. Mobil berlari menjemputnya di bandara ke lapangan tempat nadinya berada. Satsuki bernostalgia tidak menyadari ponsel di sebelahnya menyala-nyala.

"Dai-chan is calling."

"Satsuki."

Suara seseorang yang familiar memanggil namanya. Lembut tapi anehnya Satsuki mendengarnya jelas. Ia hendak melihat pemandangan di balik kaca, saat serpihan-serpihannya berwujud di genggaman tangannya.

Aomine sedang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan seseorang. Sorot matanya sendu dengan rindu yang menggebu. Satsuki menyongsongnya, mengulurkan tangan, untuk menatap jemarinya sendiri tak kasat mata menembus entitas Aomine di depannya.

Zona waktu Satsuki di mata Aomine menipis, berkedip-kedip samar di layar kardiograf yang semakin habis.[]




Next Prompt: MERCUSUAR

Edited by Phia, 13 Jan 2017, 12:34 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@Phia: nggak kok, bianglala yang muternya ke atas itu. Di ceritanya, emang cowok itu loncat dari atas ke bawah lewat kereta-kereta(?) bianglalanya xD

Prompt: Mercusuar
Fandom: Omen Series & Johan Series © Lexie Xu
Warning: Post-Canon, OOC, typo(s).
Character(s): Nikki, Johan

Setelah perjalanan yang cukup lama dan panjang, gadis itu akhirnya berhasil tiba di tepi pantai. Pantai itu cukup sepi akibat gosip mengerikan yang tersebar dari mulut ke mulut. Gadis itu tidak takut, karena toh, dia tahu apa yang menyebabkan kejadian-kejadian mengerikan itu terjadi.

Sang gadis melangkah mendekati mercusuar yang ada di sana, mercusuar yang katanya berhantu. Sebenarnya dia heran mengapa banyak sekali gosip beredar di sekitar sini.

Pintu mercusuar dibuka dengan mudahnya. Yah, gosip tidak berdasar itu menyebabkan orang-orang ketakutan sampai tidak mau lagi menggunakan mercusuar ini. Keputusan bodoh, karena kini gadis itu dapat menggunakannya.

Ia masuk ke dalam, lalu berbelok di ujung lorong. Didapatinya seseorang duduk di pojok ruangan, diam seolah menunggu kedatangan seseorang yang lain.

"Lo terlambat lima menit."

"Sori, mobil gue sempet mogok di jalan," jawab sang gadis sambil mengangkat bahu. "Langsung aja. Gimana rencana yang lo susun?"

Seseorang yang sedang duduk itu menyunggingkan senyum tipis. Matanya berkilat di balik kacamata yang ia pakai. "Sempurna."

"Good, kapan mereka nyampe?"

"Kurang lebih satu jam lagi."

Sang gadis menyunggingkan senyum lebar yang seolah merobek wajahnya jadi dua. "Then, we should prepare our surprise now."

Next prompt: Angkatan Laut
Edited by revabhipraya, 23 Jan 2017, 01:28 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Phia
Member Avatar
Premium Member
[ *  *  *  * ]
Prompt: Angkatan Laut
Fandom: Shingeki no Kyoujin
Character(s): Eren Jeager, Mikasa Ackerman
Warning: au, ooc




Ini kesempatan terakhir bagi Eren. Tahun ini ia berusia dua puluh dua. Usia maksimal untuk mendaftar menjadi seorang taruna. Pemuda itu mengepalkan tangan, ‘Aku tidak boleh gagal lagi.’

Paman Hannes membawakan infonya saat Eren sedang berlatih di lapangan Rajawali. Sudah lama sekali Eren mengidam-idamkan menjadi seorang Angkatan Laut. Ia lalu menyelinap lewat pintu belakang berharap tidak berpapasan dengan Mikasa. Gadis itu paling getol mengendorkan semangat alih-alih menyuruhnya masuk universitas saja.

“Eren, Ibu mencarimu. Kau dari ke Pusdikpal ya?” selidik Mikasa menyebut tempat bertugas Paman Hannes. Ia berdiri di bibir pintu dengan tangan bersedekap.

Eren tidak membenci Mikasa. Gadis itu hanya memiliki penciuman yang terlalu tajam.

“Ya. Aku memang mau bertemu Ibu,” elak Eren.

“Kau mau mendaftar lagi tahun ini?”

Eren diam, melirik Mikasa yang mengikuti di belakang.

“Kalau begitu aku ikut.”

Eren tidak membenci Mikasa. Gadis itu terlalu keras kepala.

“Aku bukan bayi lagi, yang tiap hari harus kau asuh, Mikasa. Lagi pula kau ini kan masih kuliah,” Tolak Eren kesal. Ia berbalik, balas menatap mata Mikasa yang tak pernah kelihatan gentar di depan preman sekalipun.

“Aku bisa mendaftar lewat jalur profesi. Kau lupa bulan depan aku sudah wisuda?”

Mikasa tersenyum penuh kemenangan.




Next Prompt: MENUJAH (k.kerja)
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
revabhipraya
Member Avatar
Honored Member
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Prompt: Menujah
Fandom: Omen Series © Lexie Xu
Warning: Post-Canon, Spoiler, a bit gore, OOC, typo(s).
Character(s): Nikki
Spoiler: click to toggle

Next Prompt: Kontemporer
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Post your FFs here! · Next Topic »
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 51


AFFILIATES
Aussie Battle Royale RPG Love and War Image and video hosting by TinyPic The Puppet Masters Image and video hosting by TinyPic Purple Haze Sasuke and Naruto Shrine VongolaIndo Al'loggio DIGIMON PHENOMENA Naruto Nippon affliates Photobucket Photobucket Romance Dawn OTL Indo Forum Al Revis Academy Fairy Dreamland Indo_Kfics @ livejournal Winterblossom A Thousand Islands Abyss In The Secrets Forum Once Upon a Sea
Infantrum

Blue Winter created by Lydia of ZetaBoards Theme Zone